Category Archives: Referensi Wayang

Derita tak berujung Shinta (3)


laksmana_widagdo_solo

Beberapa saat kemudian, Sri Rama yang berpengetahuan luas dan berfikir global mampu menetapkan hati bahwa tidak ada yang serba “kebetulan” terjadi di dunia ini. Semua kejadian adalah atas Kehendak dan KuasaNYA, Tuhan semesta alam. Meskipun semburat kebimbangan masih tersirat di dasar hatinya, namun ditetapkan untuk menghapuskanya saat ini. Tak peduli lagi dia akan persidangan agung dengan para mentri, tak di hiraukan lagi Ki Angga yang masih duduk bersimpuh di tanah bersama istrinya yang masih tertunduk sedih, maka Sang Nata kemudian beranjak pergi menuju tempat peristirahatan di dalam istana.

Begitu punggung rajanya telah menghilang selepas pintu, tanpa dikomando geremengan laksana suara tawon keluar dari mulut para hadirin yang memenuhi ruangan yang sebelumnya sepi. Saling bisik antara mereka membicarakan peristiwa yang terjadi. Tak sedikit dari mereka asyik merangkai kalimat berdebat antar mereka dalam memperkirakan apa yang bakal terjadi kemudian. Engkel-engkelan, menang-menangan, sok-sokan merasa dirinya paling pintar menganalisa dan meramal. Bahkan kemudian ada yang nyaris baku pukul lantaran beda pendapat terhadap prediksi yang disampaikan. Lha wong ramalan kok diperebutkan kebenarannya … dasar punggawa picik tak berguna !

Lantaran asyik dengan kesibukan masing-masing mereka tidak memperhatikan saat kemudian Ki Angga beringsut menuju pintu keluar seraya menggandeng tangan istrinya. Tak ada lagi sikap membenci kepada istrinya, seakan masalah yang disampaikan kepada Sri Rama tadi telah terselesaikan dengan sendirinya. Solusinya adalah hati lega karena masalah telah disampaikan, hati senang karena gunjingannya mampu mempengaruhi jiwa rajanya. Dia yakin bahwa setelah ini maka peristiwa tadi bakal menjadi trending topic di seantero negri, bahkan lebih cepat lagi akan tersebar ke media social di dunia maya. Dan setelah melewati gapura kraton maka dengan mesra digandengnya tangan Nyi Angga untuk dibawa pulang ke rumah dengan wajah tersenyum seraya menyenandungkan langgam yang tengah hits didendangkan oleh pesinden terkenal Nyi Srintil dengan judul “Senandung Kalijodo”.

Ternyata perkataan Ki Angga tidak bisa menghilang begitu saja di pikiran Sri Rama. Meskipun hati kecilnya menyanggah kebenarannya, namun tetap saja ego selaku seorang laki-laki sekaligus sebagai suami, ditambah kedudukannya sebagai Ayodya 1 serta gelarnya sebagai titisan Wisnu dewa paling sakti di antara anak anak Bathara Guru, membuat keraguan akan kesucian Shinta istrinya muncul kembali. Perkataan Ki Angga bahwa seluruh rakyat Ayodya menyangsikan kesucian Shinta seolah menjadi legitimasi atas prasangka itu. Kembali jiwanya goyah !

Laksmana yang melihat kondisi kakaknya seperti itu, segera mendekati untuk menenangkannya. Laksmana adalah satu satunya orang yang mengerti betul Rama Wijaya. Sejak masih bocah, hingga dewasa Laksmana selalu bersama dan mengikuti kemana kakaknya berada. Bermain selalu bersama, belajar olah kejiwaan dan olah kanuraganpun dengan guru yang sama. Bahkan saat kakaknya Rama dan kakak iparnya Shinta terbuang di hutanpun, hanya Laksmanalah yang mengiringinya. Laksmanalah yang selalu menghibur Rama dikala rindu kepada istrinya yang diculik oleh Rahwanaraja. Laksmanalah yang selalu menguatkan kakaknya untuk terus berusaha merebut Shinta dari genggaman Raja Alengka itu. Suka duka Rama adalah suka dukanya juga. Tak heran Laksmana sangat detil tahu apa yang tengah terjadi dalam benak dan hati kakaknya.

“Oh … Dewata yang Agung, mengapa semua ini terjadi. Dikala hambaMu ini tengah merasakan ketenangan dan kebahagiaan, mengapa Engkau timpa dengan masalah yang sungguh pelik ini” tak kuasa derai air mata mengiringi keluh kesah Sang Raja Ayodya seraya kemudian merangkul adiknya terkasih.

“Sungguh tak aku duga bahwa diriku menjadi cacian dan bahan tertawaan seluruh rakyat yang aku pimpin. Sungguh memalukan, seorang raja memberi contoh yang tidak benar kepada rakyatnya”

Laksmana yang mendengar keluh kesah kakaknya, kemudian menghibur dan sekaligus memberikan pandangan

“Duhai Kangmas, janganlah engkau percaya sepenuhnya kepada kata-kata orang yang tidak bertanggung jawab itu”

“Tapi perkataan Ki Angga sungguh tepat, Dimas. Akupun merasa bahwa itu adalah sebuah kebenaran belaka”

“Berarti Kangmas sebelumnya masih memiliki keraguan akan kesucian Mbakyu Shinta meskipun sudah terbukti saat hukum obong itu ?”

“Sepertinya demikian, Adikku. Sungguh dua belas tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk seorang wanita dapat mempertahankan kesuciannya. Dapat aku bayangkan bahwa setiap hari dia dibujuk, dirayu dan digoda oleh Rahwana. Ibarat kata pepatah, sebuah batu karangpun lama lama akan berlubang manakala setiap detik ditimpa oleh setitik air dari atasnya. Apakah dinda Shinta masih kuat mempertahankannya ?”

“Duhai Kangmas Prabu, janganlah beribu prasangka mengangkangi pikiran Kanda. Tenangkanlah jiwa Kangmas agar dapat berfikir dengan jernih dan bijak. Dan yang mengetahui dalam hati Mbakyu Shinta tentu Kanda sendiri. Janganlah engkau diombang ambing oleh serba kekawatiran dan hal hal yang tidak pasti, sebab yang sudah pasti adalah bahwa kesucian Mbakyu telah terbukti kebenarannya karena tlah kita saksikan sendiri. Apakah kakang percaya pada gossip dan berita sampah yang keluar dari mulut busuk Ki Angga tadi ? Apakah Kangmas lebih percaya kepada kabar yang beredar dengan validitas kesahihan patut dipertanyakan daripada dengan kesetiaan Mbakyu Shinta yang telah terbukti secara empiris?”

“Tidak mungkin adikku, aku percaya apa yang dikatakan Ki Angga itu benar adanya”

Dan Laksmana sadar bahwa segala masukan dan bujukan yang disampaikan kepada kakaknya akan sia sia belaka. Dia mengerti betapa “keras kepala” kakaknya itu meskipun tutur katanya begitu lembut. Kalau sudah meyakini terhadap sesuatu hal, maka tak ada seorangpun yang mampu mengubahnya. Laksmana sudah pasrah dan tinggal menanti suatu keputusan besar yang bakal terjadi.

“Adikku Laksmana, sekarang dengar dan turuti semua perintahku !” Rama melepaskan rangkulan adiknya

“Ya Kanda”

“Sekarang juga jemputlah Mbakyumu Shinta dan kemudian bawalah dia ke tengah hutan dan tinggalkanlah dia di sana bersendirian. Biarlah alam yang akan memberikan keputusan dan keadilan”

“Tapi Kang …”

“Tidak ada tapi-tapian ! Laksanakan perintahku segera !”

Remuk redam perasaan Laksmana mendengar perintah Sang Rama. Sungguh tak difahaminya pola pikir kakaknya itu. Apakah harus begini menjalani hidup ? Selalu tercipta dilemma dan opsi yang harus dipilih agar terus hidup ? Dan tidak memilihpun adalah sebuah pilihan. Apakah mengatas namakan pendapat banyak orang adalah suatu kebenaran ? Pada kenyataannya kebenaran tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak orang yang meyakini dan mengamininya. Sri Rama terpengaruh oleh kata kata Ki Angga bahwa seluruh rakyat Ayodya mencurigai kejujuran Shinta, namun bukannya menyanggah dan membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar, malah dia memberi stempel “OK” bahwa dugaan itu memang benar adanya bukan hanya sekedar hasil rekayasa pikiran merangkai kejadian dan membuat estimasi sebab akibat secara imajiner. Dan memang tepat dugaan Laksmana akan kebimbangan yang masih mendekam di hati kakaknya Sri Rama tentang kesucian istrinya. Hal itulah yang kemudian terungkit lagi oleh “fakta” yang diungkap Ki Angga, seakan menjadi sebuah sebab untuk muncul kembali seperti pada peristiwa menjelang Shinta obong.

(bersambung)

Derita tak berujung Shinta (2)


 Rama wijaya

Maka bertanyalah Raja Ayodya kepada Nyi Angga

“Jeritanmu sungguh sangat keras hingga terdengar olehku dan para mentri di dalam istana. Apa yang membuatmu menangis dan menjerit seperti itu ?”

Dengan masih sesenggukan Nyi Angga menjawab kelu

“Mohon ampun Yang Mulia, hamba meminta keadilan Paduka. Hamba diperlakukan tidak adil oleh suami sebab dicurigai bertubi tubi”

“Apa yang menyebabkan suamimu menaruh curiga ? Apakah engkau berlaku serong ?”

“Sungguh suatu hal yang sama sekali hamba tidak pernah lakukan hal itu. Jangankan melakukan, berfikir untuk serongpun tidak pernah terbersit dalam benak hamba”

“Lantas hal apa yang menyebabkan suamimu tak hilang kecurigaannya ?”

“Suatu hari hamba pergi menengok orang tua lantaran sudah rindu tlah lama tak berkunjung. Namun sungguh tak dinyana, ternyata ibu hamba yang telah renta terbujur lemah di amben karena sakit. Bapak hamba pun telah renta dan terlihat kerepotan mengurus istrinya. Oleh karenanya kemudian hamba memutuskan untuk menginap agar dapat melayani mereka supaya lekas sembuh seperti sedia kala. Rumah orang tua hamba cukup jauh dari kota dan terpencil. LIstrik belum masuk, apalagi sinyal HP atau akses internet, sehingga hamba tidak bisa menghubungi suami hamba untuk mewartakan posisi hamba”

“Apakah engkau telah minta ijin kepada suami sebelumnya ?”

“Tentu Yang Mulia, hamba minta ijin menjenguk orang tua di kampung satu hari PP. Karena tidak menyangka orang tua dalam keadaan sakit maka akhirnya hamba baru pulang ke rumah seminggu kemudian. Hamba telah menjelaskan berulang kali hal tersebut kepada suami hamba namun dia sungguh keras kepala. Tetap saja dia mengumpat dan menuduh saya berlaku serong, menyeleweng dan tidak suci lagi. Bahkah dia mengatakan dengan jumawa bahwa Ki Angga bukanlah Sri Rama, yang begitu saja menerima permaisurinya yang puluhan tahun disekap dalam sangkar emas Ngalengka diraja. Bahkan suami saya berkata bahwa seorang lelaki sejati pabila mengetahui istrinya meninggalkan rumah tanpa ijin sehari saja, maka sudah patut dijatuhi hukuman pukul kalau perlu talak tilu”

Dengan gelisah dan wajah memerah Sri Rama Bergawa memutar lehernya menuju Ki Angga berada seraya bertanya

“Benarkah apa yang dikatakan istrimu itu, Ki Angga ?”

Namun sungguh berani Ki Angga menjawab pertanyaan rajanya itu dengan jawaban yang tegas dan tanpa takut sedikitpun

“Benar Gusti. Bahkan menurut asumsi saya berdasarkan riset dan hasil diskusi berbagai kalangan di warga Ayodya, ternyata sebagian besar rakyat menyangsikan kesucian Gusti putri Shinta”

Dengan rasa penasaran dan mangkel Sri Rama menyanggahnya

“Tapi bukankah Gustimu Shinta telah dibuktikan kesuciannya lewat hukum bakar ?”

“Benar Yang Mulia, namun yang menyaksikan peristiwa itu bukankah hanya Paduka, adik Paduka Laksmana serta seekor kera putih. Mana bisa kera dipercaya. Bahkan hal tersebut telah menjadi bahan diskusi dan pergunjingan di antara rakyat Paduka”

Ucapan terakhir Ki Angga bak palu godam memukul dengan keras dada Sang Narendra. Seketika mukanya memerah menahan kesal dan amarah.

Sigra muntab lir kinetab,
duka yayah sinipi
jojo bang mawingo wengis
Netra kocak ngondar-andir
Idepnya mangala cakra
mrebabak wadananira
pindha kembang wora-wari bang

Sementara para prajurit yang berjaga di sekitar ruang sidang rasanya sudah ingin segera menyeret dan merajangnya lantaran kesal akan mulut tajam dan tak tahu dirinya Ki Angga. Namun perintah tiada kunjung datang.

Sri Rama masih duduk diam tak bergerak. Entah apa yang tengah bergejolak di dadanya. Amarah, rasa malu, ragu, sesal, penasaran, galau mengharu biru pikiran, berbaur mencipta perasaan tak menentu. Sementara seluruh peserta sidang paripurnapun tiada berani berucap walau sepatah.

Sunyi … sepi …. mencekam …

(bersambung)

Derita tak berujung Shinta (1)


rama sinta

Sejatinya hidup adalah ladang amal dan ajang cobaan
tak ada seorangpun yang terbebas lepas tangan
kekayaan dan kemiskinan
wajah buruk dan rupawan
masa muda dan tua badan
rakyat jelata dan bangsawan
semua mengalami tergantung tingkatan keimanan

Begitupun Shinta sang Jelita dari Ayodya
istri setia Sang Rama Regawa
setelah mengalami derita tersandera
puluhan tahun lamanya oleh Rahwanaraja
terkungkung dalam sangkar emas dua belas tahun lamanya
hingga kemudian suami tercinta menjemputnya
setelah membunuh Sang Dasamuka biang angkara
cobaan pun masih dialaminya
kesetiaannya diragukan gurulakinya Ramawijaya
hingga kemudian harus dibuktikan sejatinya cinta
lewat Shinta obong nan membuat sesiapa berderai air mata
lantaran merasakan derita cinta teraniaya

Namun … lantas kah kemudian bahagia selamanya mengiringi kehidupan meraka?

Tidak ! hanya sebentar dirasakan suka bahagia
harusnya memang tercipta saat bersanding dengan orang tercinta
bertabur kasih sayang berselendang nikmat membara
apalagi setelahnya terdengar kabar gembira
ya … Shinta tlah hamil muda ternyata
siapakah yang tak harap buah hati hadir di dunia ?

Sumber petaka berawal pada suatu hari
saat sidang paripurna raja dan para mentri
membahas kemakmuran rakyat dan kemulyaan negri
Ayodya diharapkan menjadi gemah ripah loh jinawi
tengah sidang berlangsung serius diliput televisi
tiba tiba terdengar jerit tangis menyayat hati
suara tangis seorang wanita di paseban jawi
beradu argumen dengan prajurit memaksakan diri
tuk menghadap Sang penguasa negri

Ternyata mereka sepasang suami istri dari desa
Ki Angga dan Nyi Angga begitu biasa disapa
Rama kemudian memperkenankan masuk istana
menemui mereka menghadap hendak tahu mengapa
begini dialog jelata dengan rajanya

(bersambung)

SEKAR MACAPAT SERAT RAMA – Yasadipura 1


Perang Besar Alengka dan Pancawati

Perang Besar Alengka dan Pancawati

Yang akan menjadi menu utama pada posting berikut adalah sebuah karya tulis sastra-bertutur, yang berujud tembang atau dalam bahasa Jawa-nya disebut sekar, Babad Ramawijaya. Penulis kisah sastra tembang ini adalah Kangjeng Sinuhun Yasadipura 1.

Aslinya penulisan ini adalah dalam huruf jawa dan sewaktu kecil penulis pernah melihat kitab ini sebab ayah kami adalah koleksi buku-buku sastra. Namun sangat disayangkan, pada kepindhahan kami sekeluarga yang terakhir kami tinggali di Purwokerto, sejumlah buku koleksi dimakan rayap. Maklum, karena tanah yang dibangun rumah di Purwokerto adalah bekas kebun bambu.

Bahagianya, kami mendapatkan kembali salah satu koleksi buku sastra yang tak ternilai harganya dalam bentuk e-book di sastra.org. Dari sinilah kemudian kami berpikir, bagaimana agar kisah heroic kepahlawanan dari epos Ramayana tidak terhenti sebagai buku bacaan. Alangkah lebih bermakna dan lestarinya, bila cerita ini dibagikan dalam bentuk tembang macapat sebagaimana diharapkan tentunya oleh penciptanya, agar karya ini bisa dinikmati utuh, dibaca dan ditembangkan serta diresapi sebagai karya seni luhur kagunan Jawa.

Mulailah kami berguru kepada beliau salah seorang pakar sastra Jawa, dan disinilah hasil akhir nyantrik. Matur nuwun kaatur dhimas Satrio Wibowo. Hasil nyantrik anyaran ini dituangkan dalam bentuk audio digital, dan kami namakan karya sastra tulis Sinuwun Yasadipura 1 ini kami ujudkan sebagai Audio-Book.

Tentu masih banyak kekurangan dari Audio-Book ini yang dimaklumi, bahwa kami sebagai penembang bukan seorang wiraswara. Bahkan jauh dari julukan itu. Namun yang kami sajikan adalah sebuah tuladha atau contoh dari sejumlah sekar utama macapat yang berjumlah sebelas pupuh. Harapan terbesar dalam menyajikan ini adalah agar generasi mendatang mengenal pupuh-pupuh sekar macapat yang sangat amat sedikit diketahui oleh bangsa Jawa sekarang ini.

(Kepenginnya saya menyewa seorang wiraswara ulung untuk menembangkan pupuh-pupuh tembang ini, tapi apa daya…….)

***

Sebaiknya kami uraikan sepengetahuan kami yang serba sedikit mengenai apa itu sekar macapat. Pertama, bahwa secara filosofis, kesebelas macam tembang, adalah secara berurutan menggambarkan bagaimana tahapan sesosok manusia dari lahir hingga meninggal dunia. Secara berurutan, judul tembang itu adalah; Maskumambang, Mijil, Kinanthi, Sinom, Asmarandana, Gambuh, Dandanggula, Durma, Pangkur dan Megatruh.

  1. Maskumambang menggambarkan bagaimana sesosok manusia yang masih mengambang dalam kandungan ibunya. Sosok manusia ini pada jamannya masih belum bisa digatra wujudnya, apakah ia lelaki atau wanita. Walau demikian, berharganya janin ini digambarkan sebegitu berharganya dimata orang tuanya yang digambarkan sebagai emas yang masih mengambang.
  2. Menggambarkan lahir atau keluarnya si jabang bayi dari kandungan ibunya. Dalam bahasa Jawa, mijil artinya keluar.
  3. Dalam bahasa Jawa, kinanthi adalah disertai dalam arti dibimbing. Gambaran ini adalah ketika anak manusia dibimbing dari bayi hingga ia mampu mandiri.
  4. Gambaran dari tahapan ketika manusia sudah ada dalam tahap kemudaan adalah sekar Sinom. Dalam kata lain ialah enom atau muda
  5. Asmarandana. Kalimat lainnya adalah asmaradhahana. Kobar gelegak dari asmara pada tahap kemudaan seorang manusia.
  6. Gambuh, dikaitkan dengan kata jumbuh atau cocok. Kecocokan jodoh antara pria dan wanita sehingga ia masuk dalam tahapan status pernikahan.
  7. Dhandhanggula atau mungkin Dandanggula lebih sreg saya mengatakannya adalah menggambarkan saat tahapan termanis dalam hidup, dimana ia menikmati kehidupan berkeluarga, dan mendapatkan puncak kesentausaan dalam hidup.
  8. Durma bisa dikatakan otak atik dari kalimat derma. Tahapan ini manusia dalam puncak kematangan psikis. Ia sudah mulai kenyang dengan pengalaman hidup dan sudah mulai juga tertata dalam materi. Saatnya ia bisa menolong sesamanya.
  9. Pangkur dihubungkan dalam kata pungkur atau lebih dalam lagi adalah mungkur atau menyingkiri hal-hal keduniawian.
  10. Megatruh, dari asal kata megat dan ruh. Gambaran dari kematian seorang manusia. Pegatnya ruh dari badan wadag

Pada kenyataannya, sebuah buku berisikan bait-bait macapat tidak selalu diawali dari Maskumambang dan diakhiri tembang Megatruh.

Kedua; konsep penyajian macapat memiliki pengertian, bahwa dalam penyajian tembang adalah; kejelasan makna syair lagu lebih diutamakan daripada keindahan lagunya.  Kata lain, bahwa dalam konteks waosan, tembang macapat disajikan dengan  lagu yang sangat sederhana, tidak banyak memasukkan luk atau cengkok, wilêt atau keselarasan, dan grêgêl atau improvisasi. Tetapi pada saat tembang macapat  disajikan bukan dalam konteks waosan atau bacaan, terdapat kelonggaran-kelonggaran, terutama dalam garap musikalnya.

Tembang macapat mempunyai aturan-aturan seperti ditentukan jumlah pada lingsa (jumlah baris), diatur jatuhnya dong ding (vocal atau huruf hidup pada akhir baris), serta jumlah suku kata yang tidak sama pada setiap barisnya. Aturan-aturan yang disebut di depan kemudian dikenal dengan istilah guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan.

Baiklah, sambil jalan, nanti kami perjelas aturan main dari kidungan Macapat. Tidak berpanjang penjelasan, mari kita nikmati langsung kidungan tembang Macapat dalam kisah Kepahlawanan dari Sang Ramawijaya.

SILAKAN KUNJUNGI SERI AUDIO BOOK YANG DIMULAI DARI SERI 1 DISINI

Bantahipun Rêsi Padya kalihan Mintaraga


mintaraga_solo3

Rêsi Padya punika malihanipun Bathara Endra, sumêdya andadar kawicaksananipun ingkang tapa wontên ing ardi Endrakila, inggih punika Sang Arjuna, tapa nama: Bagawan Mintaraga.

Kacariyos, Rêsi Padya tumurun saking kaendran, anjujug dhatêng ing guwa Endrakila. Sang Mintaraga nuju sêmadi êning. Rêsi Padya dhèhèm. Sang Mintaraga tumuntên mudhar sêmadinipun, lajêng manggihi dhatêng ingkang rawuh sampun atata lênggah.

Sang Mintaraga manambrama saha pitakèn asma, tuwin sêdya miwah pinangkanipun dhatêng ingkang rawuh.

Rêsi Padya ngakên yèn pandhita ingkang tapa sasênênging manah. Pratelanipun makatên wau nyêmoni dhatêng Sang Mintaraga, dene tiyang tapa patapanipun rinarêngga sarwa asri, sarta kadekekan dêdamêl sarwa gumêlar, punika tapanipun tiyang punapa. Sang Mintaraga inggih botên kêkilapan dhatêng pasêmon wau, nanging botên patos kagalih, amargi ewanipun ingkang rawuh punika kamanah amung tumrap ing lair, dèrèng dumugi ing kajatèn. Rêsi Padya nglajêngakên pratelanipun, saking anjajah wana tuwin ardi, lajêng sumêrêp teja manthêr, dipun purugi tejaning guwa Endrakila punika, icaling teja wontên manungsa ingkang tapa salêbêting guwa. Continue reading Bantahipun Rêsi Padya kalihan Mintaraga

eBook Semar Kuning


semar-1-s-hendrawidjaja-wu1980an-text21

Sejenak Semar menghela nafas dalam-dalam kemudian melanjutkan kata-katanya:

“Dengan berat hati kukatakan bahwa akibat perbuatanmu itu, anakmu Siti Sendarilah yang menanggung akibatnya. Benar bahwa sekarang dia telah resmi menjadi istri dari anak Arjuna, Abimanyu. Namun kehendak dewa mengatakan bahwa dari perkawinan itu, kelak anakmu tidak akan memperoleh keturunan !”

Terkejut yang hadir mendengar kata-kata terakhir Semar. Meskipun pelan disampaikan namun bak petir di siang hari bolong, seketika dengan menggelegar menyambar perasaan hati yang hadir, terutama bagi Kresna dan Arjuna. Muka Kresna tampak pucat sungguh. Didongakkan pelan wajahnya memandang Semar yang tepat berada di depannya. Namun setelah melihat wajah teduh Semar dan merasakan perbawa yang terpancar, ditundukan kembali wajahnya seraya berkata:

“Pukulun … hamba terima ketentuan dewa ini. Meskipun dengan berat hati dan dada ini rasanya sesak perih, hamba terima semua yang pukulun katakan. Aduh … anakku Siti Sendari … Siti Sendari … maafkanlah Ramamu ini yang cubluk dan tak tahu diri hingga menyebabkan engkau menderita Nak ….” begitu sedihnya Kresna hingga tak terasa tangis tlah mengambang di pelupuk matanya. Continue reading eBook Semar Kuning