Category Archives: Rames semaR

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (32)


arjuna subadra

“Ndara Janaka, kula badhe tanglet, mau nanya nih ?”

“Ada apa Gong, tanyalah !”

“nDara menyesal nggak menjadi anak paling bontot dari ibu Kunti ?”

“Lha kok pertanyaanmu aneh tho, Gong. Oh ya .. aku tahu sekarang ! Gara-gara kamu dimarahin sama kakangmu Gareng dan Petruk kemarin tho ?”

“He he he … lha mentang-mentang jadi kakak, mereka bertindak semena-mena. Enak-enak lagi ngorok, dibangunin suruh macul. Apa nggak mangkel nDara !”

“Ya tujuan mereka kan baik, untuk membuat kamu jangan bermalas-malasan. Lagian pertanyaanmu tadi mengapa ditujukan kepadaku ?”

“Kali aja nDara Janaka mengalami hal serupa … he he he”

“Semua sudah ditakdirkan begitu Gong. Lagian jangan dikira enak jadi kakak lho Gong. Mereka harus bertanggung jawab terhadap adik-adiknya. Apalagi kalau jadi mbarep, dia adalah pengganti orang tua kalau bapak ibu kita sudah tidak ada, jadi tanggung jawabnya sangat berat. Jangan engkau melihat enak-enaknya saja menjadi seorang kakak, terus mrentah sakarepe dhewe.”

“Iya nDara, tapi bagi nDara Janaka, menjadi anak nomor tiga kan berarti tidak ada kans utuk menjadi raja tho nDara ?” Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (32)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (31)


Wisanggeni

Dalam lelapnya, sayup–sayup telinga Dewi Dresanala mendengar suara dua orang yang terdengar sedang membicarakan sesuatu. Secara samar, ia medengar namanya disebut – sebut oleh suara yang ditangkap oleh telinganya itu.

Dengan enggan, Dewi Dresanala membuka matanya yang seolah enggan untuk terbuka. Dengan gerakan malas, Dewi Dresanala mengusap kedua matanya dengan menggunakan punggung telapak tangan kanannya. Sesekali ia menarik nafas, dan mencoba untuk mengembalikan kesadaran dirinya secara perlahan. Ia mencoba untuk mengamati keadaan sekitar, tubuh Dewi Dresanala terbaring di sebuah peraduan yang tampak sangat mewah. Sebuah ranjang empuk yang terbuat dari bulu – bulung angsa, dan sebuah ranjang kayu yang penuh dengan ukiran.

Matanya menelusuri setiap sudut ruangan, ia menemukan bahwa dirinya sedang berada di dalam sebuah ruangan tertutup, sebuah kamar tidur yang cukup mewah, ia menegok ke sebelah kiri, dan mendapati sepasang daun jendela yang cukup besar sedang tertutup, tampak cahaya matahari menyusup masuk diantara daun pintu yang tertutup itu.

Bagaikan disadarkan dari mimpinya, dengan cepat Dewi Dresanala, memegang perutnya, ia meraba perutnya yang tampak buncit itu. Ia menarik nafas lega sembari mengelus perutnya yang mengandung itu, dengan gerakan perlahan, ia menggeser badannya, dan bergerak menuruni tempat peraduannya. Sebuah rasa nyeri tiba–tiba menyerang punggung Dewi Dresanala, dengan merintih tertahan Dewi Dresanala memegangi punggungnya yang berwarna kehitaman, dan lebam itu.

Sesaat dia mengurai kembali, dan mencoba untuk mengkilas balikkan asal–usul, dan penyebab punggungnya meradang itu. Dengan meneteskan air mata, Dewi Dresanala bergumam lirih, “Romo….. Maafkan Putrimu yang tidak tahu bakti ini……”

Dewi Dresanala menarik nafas panjang, lalu ia mengusap matanya yang masih basah itu. Dewi Dresanala merayap turun dari tempat peraduannya, ia merapikan rambutnya yang tergerai liar, ia menggelung, dan mengikat rambutnya dengan rapi, lalu ia bergerak mendekati daun jendela yang tertutup itu. Dengan gerakan halus, Dewi Dresanala mendorong sepasang daun jendela itu dengan lembut. Sinar matahari dengan cepat menyergap, dan memandikan tubuh Dresanala, dengan mata setengah tertutup, Dewi Dresanala tersenyum, sambil menarik nafas panjang.

Lalu ia mengamati keadaan yang tergambar di dalam bingkai jendela itu, ia melihat sebuah keindahan Marcapada yang tergambar jelas. Ia melihat seluruh pemandangan yang ada di hadapannya serba putih tertutup oleh salju tebal yang tampak bersahabat dengan sang Mentari, ia menatap ada beberapa pepohonan, dan tanaman yang mulai merekah indah di dalam gumulan sang salju, dengan tersenyum penuh kebahagiaan, Dewi Dresanala mendengar kicau burung yang tampak sangat menikmati hari yang begitu cerah itu. Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (31)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (30)


1-wisanggeni-joned-rahadian

“nDara !”

“Nun !”

“Bosan ya nDara Janaka mendengarkan saya bicara dan bertanya sudah sekian buanyaknya”

“Ya enggak tho Gong, kan saya sudah janji untuk melayani setiap pertanyaanmu, walaupun adakalanya pertanyaanmu terkesan nakal tapi saya senang kok karena saya tahu siapa itu Bagong”

“Lho … memangnya Bagong tuh siapa nDara ?”

“Bagong ya Bagong, abdiku yang tercinta dan setia, menghiburku dikala duka, laksana pelita memberiku inspirasi dan solusi”

“Wah … kepalaku kok tiba-tiba mekar dan membesar ya nDara. Juga hidungku jadi tambah mekrok”

“Asal jangan sampai mledhos saja Gong !”

“He he he … nDara Janaka ndagel ki. Masak seorang Bagong yang seperti ini, menurut pandangan nDara Janaka memiliki kedudukan yang begitu istimewa”

“Lho … nggak percaya tho kamu ?”

“Nggih … pitados … Boleh saya ungkapkan sesuatu ndara ?”

“Boleh saja, apa itu Gong ?”

“Sebenarnya ada beberapa orang yang saya kagumi dan saya ngefans berat kepada mereka, selain tentu saja kepada ndara Janaka”

“Siapa itu Gong ?”

“Sebenarnyalah saya sangat kagum kepada nDara Bima, nDara Antasena sama ndara Wisanggeni”

“Hal apa yan membuatmu begitu tersepona ?”

“Terpesona nDara. Beliau bertiga itu sungguh, menurut saya lho ndara, sungguh satria sejati. Lugu, bicara blak blakan dan bertindak apa adanya, lurus tekad dan pikiran, dan tentu saja memiliki kedigdayaan yang luar biasa”

“Lha kok kamu malah ngefans sama mereka, nggak ngefans sama si Mlenuk Metutuk sinden istana yang gandes luwes kemayu dan merak ati itu. Atau ngefans sama si Arinoah penyanyi kotaraja itu.” Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (30)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (27)


panakawanjpg

Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang melihat keadaan itu, tergopopoh-gopoh mendapatkan momongannya yang tergeletak tak berdaya. Petruk memijit mijit kaki, sedangkan Bagong mengipas-kipaskan daun waru ke tubuh Pamade. Semar yang sedikit banyak mengerti cara mengatasi masalah pengobatan sibuk memijit dan mengurut tubuh Pamade. Tak lama kemudian Pamade sadar dan membuka matanya.

Melihat momongannya membuka mata, Semar segera menghujani pertanyaan menyangkut sebab musabab peristiwa yang terjadi. “Eeh sampeyan kenapa ini? Bagaimana ini bisa terjadi? Sudah terbiasa sampeyan melawan para raksasa berapa ribu-pun tidak terjadi seperti ini. Apakah sampeyan terkena taring dari para raseksa yang menghadang tadi?”

“Kalaupun aku digigit oleh para raksasa, tidak akan terjadi, taring raksasa itu melukai kulitku”.

“Gimana tadi gus, kenapa bisa terjadi seperti itu?” Begitu juga Gareng dan Bagong ikut menambahi pertanyaan-pertanyaan konyol.

“Kakang, bagaimana aku bisa seperti ini, kakang, Aku tidak kuat bergerak, semua badanku terasa ngilu. Kepala ini terasa berdenyut dan keringat dingin mengalir disekujur tubuh ini”. Dengan masih tetap berbaring, Pamadi menijit kepalanya yang masih juga terasa berat dan pening.

“Eeeh ampuh omongan Surtikanti. Sampeyan-lah yang sebenarnya bersalah. Pada saat ndika hendak pergi waktu itu kan telah diajak mampir oleh putri putri Prabu Salya, Surtikanti dan Banuwati. Sampean tidak mau, ketika diajak oleh Sutikanti. Tetapi ketika diajak mampir oleh Banuwati, sampeyan nurut. Itulah yang membuat Surtikanti kecewa dan menyumpahi sampeyan. Kalau sampeyan lapar jangan sampai menemukan makanan, kalau kehausan jangan sampai menemukan air walau seteguk. Marilah kita berjalan lagi tinggal selangkah lagi kita bakal menemukan pedesaan. Dan disana pasti kita dapat menemukan orang yang memasak makanan. Nanti disana, saya akan mencarikan orang yang mau memberi kita makanan” Semar masih mengingatkan peristiwa tadi dihubungkan dengan kata serapah Surtikanti ketika di Mandaraka.

“Aduh kakang, aku sudah tidak kuat lagi bangun”. Pamade masih mengeluhkan apa yang dirasa. Semar berpikir sejenak, bagaimana caranya mengatasi keadaan yang terjadi tiba-tiba ini.

Sejurus kemudian dipanggilnya ketiga anaknya, “Toleee, Petruk Gareng dan Bagong, ayo kita gendong momongan kita ketempat yang teduh dibawah pohon gendayakan itu”.

  Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (27)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (26)


semar mbarang jantur

Sejuknya tempat berteduh membuat para panakawan terlena duduk terkantuk. Sementara Pamadi sendiri duduk berdiam diri. Suasana yang sepi membuat Semar membuka mulut. Ia menyanyikan pupuh Dhandanggula dengan laras pelog. Tangannya mengipas kipaskan daun waru, walau udara sebenarnya sejuk.

Kawruhana sajatining urip

Manungsa ‘ku urip aneng donya

Prasasat mung mampir ngombe,

Upama peksi mabur,

oncat saking kurunganeki,

Pundi pencokan mbenjang,

ywa kongsi kaliru

Upama wong lunga sanja,

jan sinanjan tan wurunga bakal mulih

Mulih mula mulanya.

Mengertilah sejatinya hidup

manusia hidup didunia itu

hanya seperti orang mampir minum

seumpama burung terbang,

lepas dari kurungannya

dimana ia kan bertengger nantinya, 

janganlah sampai keliru

umpama orang bepergian, bergaul,

tidak urung bakal pulang kembali,

pulang ke asal mulanya.

Demikian Semar mengakiri tembang Dhandhanggula, sambil tetap mengipas kipas badannya. Belum puas, satu bait lagi ditembangkannya masih dengan Dhandhanggula-nya

Angudhari wasitaning ati

cumanthaka aniru pujangga

dhahat mudha ing batine

nanging kedah ginunggung

datan wruh yen akeh ngesemi

ameksa angrumpaka,

basa kang kalantur

tutur kang katula tula,

ginalaten winuruk kalawan ririh

mrih padhanging sasmita. . . .

(pupuh ini menyindir para penulis yang berani beraninya menulis disini seperti layaknya seorang pujangga. Walau banyak yang hanya tersenyum melihat kecethekan tulisannya. Tapi kalau dipikir lebih baik bertindak daripada hanya berdiam diri. Bukankah saling berbagi dan mengingatkan lebih bermanfaat dalam memperluas pemahaman tentang hidup dan kehidupan. Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (26)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (29)


KARTAPIYAGA MALING

Jaladara yang tidak mau dihardik menjawab, “Ini hakku, tidak satupun orang yang akan aku serahi Erawati kecuali ayahnya sendiri, Prabu Salya” Jawab Jaladara tegas.

Aba–aba telah diteriakkan oleh Sangkuni. Para prajurit Astina bergerak serentak mengepung rapat Jaladara. Tidak tinggal diam, Jaladara mengibaskan tangannya dan beberapa pengepung telah terjerembab ketanah. Namun serangan telah bergelombang kembali mengalir. Tidak mau membuang waktu dan banyak jatuh korban, tidak lama kemudian dalam rapatnya kepungan Jaladara melompat dan meloloskan diri. Diluar lingkaran pertempuran, Jaladara memetik sekuntum bunga, kemudian dipujanya menjadi sosok Dewi Erawati.

Gembira sorak Para Kurawa telah menemukan Dewi Erawati palsu yang kemudian digendong kedalam tandu untuk dibawa ke Mandaraka. Pada saatnya nanti kegembiraan para Kurawa berubah sebaliknya ketika sampai di Mandarka, Erawati telah kembali ke ujud semula, sekuntum bunga.

<<< ooo >>>

Mendung telah tersaput angin. Cerah wajah Prabu Salya ketika menemukan kembali putri sulungnya dalam keadaan tak kurang suatu apapun. Tak lama kemudian setelah kedatangan Jaladara kembali ke Mandaraka, dipanggilnya Wasi Jaladara kehadapan Prabu Salya, “Kamu sudah membuktikan omonganmu bisa mengembalikan anakku Erawati. Dan aku juga akan membuktikan janjiku, tidak akan ingkar. Tetapi hendaknya kamu bersabar, tunggulah hari baik. Tapi lain dari itu, aku melihat ada raksasa wanita. Siapakah ia Jaladara?”. Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (29)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (28)


Kakrasana

“Terserah kanda Kakrasana saja.” Kata Pamadi dengan senyum.

Kembali kepekaan seorang wasi menjadikan Jaladara melakukan tidakan yang tidak tergesa gesa. Rancangan telah diatur didalam benaknya agar nanti peristiwa yang berakhir menjadi akhir yang bahagia. Maka kemudian kata Kakrasana, “Tapi kamu jangan bilang kepada Prabu Salya, kalau aku ini Pangeran Pati dari Mandura. Bilang saja aku pendeta muda dari Argaliman, sebut namaku Wasi Jaladara”.

Pamadi mengangguk setuju. Daripada tidak menemukan Erawati sama sekali, maka saudara misannyapun dapat menyingkirkan rasa malu atas kesanggupan yang telah ia katakan kepada orang tua Banuwati. Demikianlah maka kedua satria itu kemudian berangkat ke Mandaraka untuk meminta ijin mencari hilangnya putri sekar kedaton.

<<< ooo >>>

Wajah gembira memancar dari Prabu Salya yang telah kembali menerima kedatangan kemenakan yang ia sayangi. Tidak sabar Prabu Salya segera menanyakan ihwal kedatangannya kembali, “Pamade, bagaimana kabar dari kamu yang dulu sudah mempunyai kesanggupan untuk mencari hilangnya kakakmu Erawati?”

“Mohon maaf uwa Prabu, walau sudah hamba umpamakan seputaran wilayah Mandaraka sudah dijajaki, tetapi jejak kanda Herawati bagaikan tersaput kabut, dan hamba gagal mencarinya. Tetapi tanpa disangka hamba bertemu dengan seorang pendeta muda yang tengah bersemedi di Argaliman, beliaulah yang sanggup mengembalikan kanda Erawati”.

Kegembiraan Prabu Salya berganti sedikit kecewa. Terlihat mendung kembali meliputi air muka Prabu Salya. Harapan kelewat besar yang ia letakkan di pundak Pamadi telah runtuh oleh kata kata kepasrahan Pamadi.

Dengan sedikit acuh, Prabu Salya menanyakan siapa yang disebut oleh kemenakannya itu, “Ooh inikah orangnya? Siapakah kamu?”

“Hamba yang bernama Jaladara, asal hamba dari Pertapan Argaliman”. Jawab Jaladara yang berkata khidmat.

“Apakah kamu yang sanggup mengembalikan putriku Erawati?”. Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (28)