Category Archives: Kidung Malam

Kidung Malam 93


Energi Matahari
Basukarno, sesaat setelah diwisuda menjadi seorang Adipadi (lukisan: Herjaka HS)

Energi Matahari

Di siang hari yang terik, Adipati Karno berjalan menyusuri tepi Sungai Gangga. Air sungai yang mengalir tenang mampu menampakkan wajah matahari secara utuh. Adipati Karno memilih memandangi wajah matahari tidak secara langsung, melainkan melalui gambaran yang dipantulkan oleh air sungai Gangga. Entah mengapa hal itu selalu dilakukukan oleh Adipati Karno sejak kanak-kanak hingga sekarang, saat dirinya telah diwisuda menjadi Adipati, oleh Duryudana.

Jika ditanya mengapa hal itu dilakukan, Adipati Karno tidak tahu. Hanya saja saat Karno melakukan hal itu, ada getaran energi yang mengalir di dalam tubuh. Energi yang didapat dari pantulan matahari sangat membantu saat dirinya berada pada suasana yang sedang tidak menguntungkan.

Seperti misalnya ketika masih remaja. Karno diolok-olok oleh murid-murid Sokalima saat dirinya ingin ikut bergabung belajar ilmu kepada Pandita Durna. Para murid Sokalima yang terdiri dari Kurawa dan Pandawa mengusir Karno dengan kata-kata:

“Anak kusir diusir, anak ratu dijamu”

Karno tidak menanggapi olok-olokan tersebut, ia berlari meninggalkan halaman padepokan Sokalima, bukan karena takut, tetapi agar tidak menjadi bulan-bulanan oleh mereka. Jika hatinya sedang kacau seperti itu, ada magnet yang amat kuat agar Karno mengadu kepada matahari. Namun dikarenakan matanya tidak kuat menatap secara langsung, ia menatap matahari melalui pantulan yang ada di air. Ajaibnya, pada waktu Karno melakukan hal itu, kegundahan hatinya segera sirna. Ada energi baru yang memungkinkan Karno untuk menghadapi segala olok-olok dan cercaan hidup dengan dada yang tegap dan penuh percaya diri.

Beberapa saat setelah menatap pantulan matahari, Karno pun kembali pada niat semula, yaitu belajar ilmu-ilmu tingkat tinggi di Sokalima.

Entah apa yang terjadi kemudian, senyatanya Karno dapat dengan leluasa mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Pandita Durna dari jarak jauh, tanpa diketahui oleh mereka dan tanpa olok-olok dari murid lain. Dengan penuh ketekunan, dalam beberapa waktu, Karno mengalami kemajuan yang pesat di dalam berolah senjata panah, tidak kalah jika dibandingkan dengan muri-murid Sokalima yang lain, bahkan murid-murid terbaik Sokalima, yaitu Ekalaya dan Arjuna

Adirata bapaknya dan Nyi Rada Ibunya, tidak tahu apa yang dilakukan Karno anaknya, namun kedua orang tua tersebut melihat bahwa anaknya telah tumbuh menjadi remaja yang tampan, terampil, penuh percaya diri dan yang istimewa bahwa Karno tidak pernah mengeluh dalam segala macam kesulitan hidup.

Walaupun Karno tumbuh menjadi remaja yang mempunyai kelebihan dalam segala hal, jika dibandingkan dengan remaja-remaja pada umumnya, Adirata sebagai seorang sais kereta berpandangan sederhana, bahwa Karno diharapkan dapat mewarisi dirinya sebagai sais kereta. Oleh karenanya untuk menunjang hal itu, Adirata membelikan kereta kuda kepada Karno.

Menjadi anak yang berbakti kepada orang tua memang tidak mudah. Ada hal-hal yang perlu dikorbankan sebagai tanda bakti kepada orang tua. Seperti halnya yang dialami Karno, disatu sisi ia harus menerima pemberian orang tuanya berupa kereta kuda untuk belajar menjadi sais, disisi lain Karno tidak pernah bermimpi menjadi seorang sais kereta seperti bapaknya. Oleh karenanya agar tidak mengecewakan orang tuanya, Karno selalu menyisihkan waktu untuk berlatih mengendarai kereta kuda, tetapi tidak untuk menjadi sais kereta, melainkan untuk menjadi senapati perang dikelak kemudian hari.

herjaka HS

Kidung Malam 92


Adipati Karno
jauh di luar perkemahan Tegal Kurusetra, Dewi Kunti menemui Basukarno di pinggir sungai Gangga untuk membujuknya agar mau bergabung dengan adik-adiknya Pandawa pada perang Baratayuda. (lukisan karya: Herjaka HS)

Adipati Karno

Basukarno tidak hanya menunjukkan kelasnya dalam hal ilmu berolah senjata panah, tetapi ia pun mampu menguasai dirinya dengan amat matang. Sikap Dewi Durpadi yang merendahkan dirinya di atas panggung sayembara, pada saat Basukarno berhasil menarik dengan sempurna busur pusaka Cempalaradya, serta penolakan Dewi Durpadi yang seharusnya menjadi putri boyongan setelah Basukarno berhasil membidik sasaran dengan tepat, tidak membuatnya menjadi kalap. Walaupun ada perasaan jengkel, Basukarno pemenang sayembara yang dibatalkan tanpa sebab, turun dari panggung kehormatan dengan penuh percayaan diri, tanpa sedikitpun rasa kecewa menggores di wajahnya.

Dengan tenang Basukarno meninggalkan panggung kehormatan. Ia tidak mempedulikan penolakan Dewi Durpadi. Baginya yang paling utama adalah mempertontonkan kemampuan ilmunya dihadapan orang banyak. Ia menyeberangi lautan manusia yang memenuhi alun-alun Cempalaradya waktu itu. Ribuan pasang mata mengikuti dan mengamati setiap gerak langkahnya. Demikian juga saat ketika ia meladeni Arjuna untuk beradu kebolehan ilmu memanah. Menyaksikan tingkat ilmu yang dimiliki Basukarno orang-orang dibuat penasaran, benarkah ia seorang sudra?

Biarlah semua orang menilaiku demikian, orang sudra! kelas bawah! Hal itu saya sadari bahwa aku memang seorang sudra anak sais kereta kerajaan yang bernama Adirata. Walaupun aku seorang sudra, kata mereka, aku adalah anak yang cerdas berani dan jujur. Aku tumbuh dan dibesarkan dibawah asuhan pasangan Adirata dan Nyai Rada.

Setelah menginjak dewasa, Basukarno sering berpetualang sendirian. Belajar kesana-kemari kepada orang-orang berilmu. Ketika pada suatu waktu Karna lewat di Sokalima, ada dorongan yang amat kuat untuk mencecap ilmu kepada Pandita Durna. Namun dikarenakan ia adalah seorang sudra, Basukarno tidak berani berterus terang, karena tahu akibatnya, yaitu ditolak. Oleh karenanya ia memilih belajar secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi, agar tidak diketahui oleh siapa pun.

Selain berguru kepada Pandita Durna, Basukarno juga berguru kepada Ramaparasu guru sakti yang ahli bermain senjata Kapak dan senjata panah. Seperti halnya ketika belajar di Sokalima, di hadapan Ramaparasu, Basukarno tidak mau berterus terang. ia menyamar sebagai seorang brahmana penggembara. Hal tersebut dilakukan karena Rama Parasu mempunyai dendam pribadi kepada seorang ksatria, dan tidak mau menerima murid seorang ksatria. Maka Karna menyamar menjadi seorang brahmana dan berguru kepada Rama Parasu. Dengan menyamar sebagai brahmana, Basukarno diterima menjadi murid Rama Parasu. Ilmu-ilmu yang diajarkan diserapnya dengan cepat dan tuntas.

Jika Basukarno ingin belajar ilmu setinggi mungkin, harapan Adirata sangatlah sederhana dan realistis. Ia menginginkan agar anaknya menjadi seorang sais kereta seperti dirinya. Agar harapan tersebut dapat tercapai, Adirata memberi kereta kuda kepada Basukarno, untuk belajar menjadi sais kereta. Basukarno tidak menolak pembereian ayahnya, malahan ia menggunakan kereka kuda tersebut untuk latihan perang-perangan.

Kini, ketika Basukarno telah menjelma menjadi pemuda berilmu tinggi, Sengkuni dan Duryudana telah memeluknya. Di tengah-tengah para Kurawa, Basukarno tidak lagi seorang sudra. Ia telah diangkat menjadi Adipati yang sederajat dengan para ksatria Pandawa. Adipati Karno, demikianlah nama yang pantas disandang setelah pengangkatannya.

Adipati Karno sungguh bahagia. Kebahagiaannya tidak semata-mata pengangkatan dirinya sebagai seorang adipati, melainkan dengan pengangkatan dirinya, jalan terbuka lebar untuk dapat berperang tanding melawan Arjuna, dikelak kemudian hari.

herjaka HS

Kidung malam 91


Saudara Tua

Saudara Tua

Tidak pernah dibayangkan oleh Patih Sengkuni bahwasanya Kunti dan kelima anaknya masih hidup. Lalu siapakah enam mayat yang hangus terbakar pada peristiwa Bale Sigala-gala beberapa tahun lalu?

Masih jelas dalam ingatannya waktu itu ada enam mayat hangus menjadi abu. Berdasarkan temuan itu, Patih Sengkuni mengambil kesimpulan bahwa Kunti dan kelima anak laki-lakinya yang disebut Pandawa Lima mati terbakar. Jikapun ada yang menduga bahwa mayat yang terbakar tersebut bukan mayat dari Pandawa dan kunti melainkan mayat enam orang petapa yang singgah di Bale, mereka tidak berani membuka mulut. Dengan demikian hanya ada satu berita resmi dari istana bahwa Pandawa, pewaris tahta Hastinapura telah mati. Oleh karena kematian Pandawa, maka kemudian Sengkuni berhasil membujuk Destarastra mengangkat Duryudana menjadi putera mahkota.

Namun, dengan tidak terduga-duga, Pandawa muncul di Pancalaradya sebagai pemenang sayembara. Maka terkuaklah sebuah kebenaran dan terbukalah mata rakyat Hastinapura, bahwa Pandawa masih hidup, Bahkan Bima menjadi semakin perkasa, telah berhasil melumpuhkan Gandamana sapukawat negara Pancalaradya.

Sengkuni harus segera merubah strategi dan menyusun rencana baru, untuk menyingkirkan Pandawa agar tidak mengharubiru atas pengangkatan Duryudana sebagai putera mahkota Hastinapura.

Berdasarkan catatan peristiwa yang sudah berlalu, tidaklah mungkin Sengkuni mengandalkan para Kurawa untuk menyingkirkan para Pandawa dengan menggunakan cara-cara yang seharusnya dimiliki oleh seorang ksatria. Karena dengan cara itu para Kurawa yang jumlahnya jauh lebih banyak tidak pernah menang berperang tanding melawan Pandawa. Pada hal diantara Kurawa dan Pandawa telah diajarkan ilmu-ilmu yang sama oleh Pandita Durna di padepokan Sokalima. Namun pada kenyataannya, kemampuan menyerap dan menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan berbeda jauh antara Pandawa dan Kurawa.

Jika pun nanti, untuk menyingkirkan Pandawa terpaksa menempuh jalan perang tanding, tentunya bukanlah Kurawa yang melakukan, tetapi Kurawa akan menggunakan orang lain yang dapat mengimbangi kesaktian para Pandawa.

Sengkuni telah menemukan orang yang diharapkan dapat menandingi Pandawa, yaitu pemuda rupawan yang bertemu sewaktu mengikuti sayembara di Pancalaradya. Pemuda rupawan yang kemudian diketahui bernama Basukarno tersebut telah menunjukkan kesaktiannya. Ia sesungguhnya adalah pemenang sayembara karena mampu menarik busur pusaka. Namun dikarenakan ia mengenakan pakaian golongan sudra, sang putri Dewi Durpadi yang disayembarakan menolaknya.

Tidak hanya kesaktian menarik busur pusaka, Basukarno juga menunjukkan kemahiran berolah senjata panah, ketika ia ditantang oleh brahmana muda berparas tampan. Dengan disaksikan oleh Sengkuni dan para Kurawa Basukarno memamerkan kemampuannya memanah burung sriti yang terbang diudara. Dalam sekali bidik puluhan Sriti jatuh ke tanah. Melihat hal itu hati Brahmana muda tersebut tidak mau kalah, ia kemudian menggunduli pohon angsana dengan panahnya.

Saat itu Sengkuni telah curiga bahwa brahmana muda berparas tampan tersebut adalah Arjuna yang sengaja menyamar. Oleh karenanya ia mengajak Basukarno untuk bergabung dengan para Kurawa. Karena ialah orangnya dapat menandingi Arjuna dalam berolah senjata panah.

Setelah bergabung dengan para Kurawa, bibit permusuhan dengan Arjuna yang ada di lubuk hati Basukarno dijadikan tunas yang senantiasa disiram oleh Sengkuni dan Duryudana agar tumbuh mengakar dengat kuat. Dengan demikian pada saatnya kelak Basukarno mampu membuat Arjuna dan Pandawa celaka.

Basukarno yang adalah anak angkat dari seorang sais kereta kerajaan yang bernama Adirata merasa berharga diantara para Kurawa. Oleh Duryudana Basukarno diangkat menjadi saudara tua dan diberi kedudukan Adipati. Hubungan antara Duryudana dan Basukarno dari hari ke hari semakin akrab.

herjaka HS

Kidung Malam 90


Hari Baru
Gendari mencoba meredakan kemarahan Destarastra (karya: Herjaka HS)

Hari Baru

Pagi itu hutan Kamiyaka sunggu amat cerah. Aneka burung leluasa berkejar-kejaranan. Burung Urang-urangan, burung kepodang, burung gogik, burung kutilang, dan burung slindhitan. Kicaunya lepas bebas bersautan bertumpangan. Hari baru dan hidup baru telah mulai dititi oleh pasangan yang berbahagia. Mereka bersama alam yang segar dan cerah meluapkan kegembiraannya atas perkawinan Puntadewa dan Dewi Durpadi. Beberapa orang yang masih berada di sekitar rumah kayu tempat Kunti dan Pandawa tinggal, merasakan kegembiraan itu. Mereka sengaja tinggal sampai hari ini agar mendapat kesempatan yang lebih leluasa untuk mendekat dan bertatap muka secara langsung dengan pengantin berdua.

Ekspresi wajah mereka yang polos dan tulus menggerakkan hati Puntadewa dan Dewi Durpadi untuk menghampiri orang-orang yang masih berada di tempat itu. Sapaan Puntadewa dan Dewi Durpadi memberi kelegaan, kesejukan dan kegembiraan bagi mereka. Seperti yang diharapkan dan diimpikan, mereka ingin berbicara langsung dengan pewaris Hastinapura yang selama ini telah dianggap mati terbakar pada peristiwa Bale Sigala-gala. Pada kesempatan tersebut Kunti, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa ikut mengucapkan terimakasih atas kedatangan, perhatian dan bantuan yang telah diberikan demi semaraknya upacara perkawinan antara Puntadewa dan Dewi Durpadi.

Puntadewa dan Dewi Durpadi merasakan banyak orang mencintai dirinya. Bahkan alam dan burung-burung pun juga mencintai dirinya. Mereka berdua berjanji di dalam hati untuk membalas cinta mereka. Jika pun nanti pada saatnya, kami benar-benar menjadi raja kami akan berusaha mengayomi mereka, mensejahterakan mereka dan mencintai mereka, juga mencintai alam beserta ciptaan yang lain. Aku akan menjadi raja yang memayu hayuning bawana, raja yang mampu membuat dunia menjadi indah baik dan selamat. Janji Puntadewa di dalam hati.

Mereka merasa puas dapat bertemu dan mengungkapan doa dan harapannya secara langsung kepada pengantin dan Pandawa. Sebelum matahari berada tepat di atas kepala, mereka memohon diri untuk kembali ke rumah masing-masing.

Kabar Kemenangan Bima pada sayembara di Pancalaradya dan dilanjutkan dengan perkawinan Puntadewa dan Dewi Durpadi telah sampai di tahta Hastinapura. Destarastra raja Hastina terkejut bukan kepalang ketika mendengar kabar bahwa Kunti dan Pendawa masih hidup. Ada perasaan bersalah karena ia telah membiarkan Patih Sengkuni dan Dewi Gendari mengangkat Duryudana menjadi pangeran pati untuk disiapkan menduduki tahta, menjadi raja Hastinapura. Pada hal tahta itu titipan dari Pandu adik Prabu Destarastra.

Sekali lagi, Destarastra merasa ditipu oleh Patih Sengkuni yang telah meyakinkan pada dirinya belasan tahun lalu bahwa Kunti dan Pandawa mati terbakar. Tetapi pada kenyataannya mereka masih hidup. Bahkan berhasil memenangkan sayembara yang juga diikuti oleh anak-anaknya. Itu artinya bahwa hingga saat ini anak-anaknya masih belum mampu menandingi kemampuan Pandawa.

“Tidak!!! Tidak boleh Duryudana menduduki tahta. Tahta itu milik anak-anahk Pandu” Ada gelombang kemarahan yang sengaja dibendung Destarastra.

Ketika Destarastra sulit mengedalikan amarahnya, Dewi Gendari yang piawai mendinginkan hati pasangannya segera meluncurkan kata-kata yang menyejukkan.

“Jangan cemas dan binggung Kakanda Prabu Destarastra. Memang benar tahta itu milik Pandu ketika itu. Namun sekarang Pandu telah wafat dan tahta warisan dari Ramanda Abiyasa tersebut kosong. Sehingga dengan demikian kedudukan Pandawa dan Kurawa adalah sama, yaitu cucu raja Abiyasa. Diantara para cucu Abiyasa, bukankah Duryudana merupakan cucu yang tertua? Apalagi secara lahir dan batin ia lebih siap menduduki tahta dibandingkan dengan Pandawa yang masih belia dan hidup tidak menentu di hutan. Oleh karenanya Kakanda tidak perlu merasa bersalah, dan menyalahkan aku serta Patih Sengkuni. Pengangkatan Duryudana sudah dipikirkan dengan matang.”

“Gendari! Tidak hanya soal pengangkatan Duryudana, tetapi engkau dan Patih Sengkuni telah menipu aku, dengan mengatakan dan meyakinkan bahwa Kunti dan Pandawa telah mati terbakar. Tetapi pada kenyataannya mereka masih segar bugar.“ Destarastra berdiri, kata-katanya masih menunjukan kemarahannya

Dewi Gendari ikut berdiri sembari memapah Destarastra.

“Maaf Kakanda, hidup dan mati ada ditangan Tuhan. Aku dan Patih Sengkuni pun merasa tertipu ketika mendengar kabar bahwa Kunti dan Pendawa masih hidup. Ada rasa tidak percaya sebelum membuktikan dan melihat sendiri keberadaan Pandawa. Oleh karenanya ijinkanlah Patih Sengkuni dan Kurawa datang di hutan Kamiyaka untuk membuktikan apakah benar bahwa Kunti dan Pandawa masih selamat”

“Jika benar-benar Kunti dan Pandawa masih selamat apa yang akan kalian lakukan? bagaimana jika mereka menuntut hak tahta Hastinapura?” desak Destarastra.

Gendari mengusap dada Prabu Destarastra dengan jari-jarinya yang lembut. Kemudian kepala Gendari dibenamkan ke dada Destarastra yang bidang.

“Kakanda Prabu serahkanlah perkara ini kepadaku dan Patih Sengkuni. Aku berharap agar Pandawa menyetujui pengangkatan Duryudana.”

Destarastra menghirup aroma bunga melati dirambut Gendari yang hitam lebat. Suara gemerisik rambutnya menggerakkan tangan Destarastra untuk membelainya. Kemudian bibir mereka berdua pun terdiam. Yang terjadi adalah dialog antar hati nan riuh.

Segera sesudah itu, Gendari menemui Patih Sengkuni. Rupanya pembicaraan diantara keduanya sangat rahasia. Terbukti tidak seorang pun yang diperbolehkan mendekat.

Apa yang mereka rencanakan hanya mereka berdua yang tahu. Yang pasti tentu tidak demi kebaikan Kunti dan Pandawa

herjaka HS

Kidung Malam 89


Putri Boyongan
Durpadi, berjanji akan mencintai Kakanda Puntadewa dalam keadaan sehat atau pun sakit dalam keadaan suka atau pun duka, dan dalam untung atau pun malang. (karya herjaka HS)

Putri Boyongan

Seiring dengan masa perkabungan atas kematian Gandamana, Dewi Durpadi mulai menata hati dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk meninggalkan negara Pancalaradya menjalani darma menjadi putri boyongan. Sebagai hadiah sayembara perang tanding tidak ada pilihan bagi Durpadi kecuali tunduk dan patuh kepada sang pemenang sayembara. Bima yang dalam hal ini sebagai pemenang sayembara akan mempersembahkan kemenangan ini untuk Puntadewa kakaknya. Keikutsertaan Bima dan juga Arjuna dalam sayembara di Pancalaradya tersebut tidak sekedar untuk memenangkan sayembara dan memboyong putri. Seperti niat semula yang disarankan Begawan Abiyasa bahwa hal terutama yang didapat dari kemenangan ini adalah agar rakyat mengetahui bahwa Pandawa belum sirna.

Beberapa pekan kemudian Bimasena dengan didampingi oleh Arjuna serta Begawan Abiyasa dan beberapa cantriknya datang ke Pancalaradya untuk memboyong Dewi Durpadi ke hutan Kamiyaka. Tidak ada kemewahan seperti layaknya boyongan putri raja. Yang ada adalah kebersahajaan dan kesederhanaan yang ditunjukkan oleh Begawan Abiyasa. Namun justru Prabu Durpada merasa terharu dan sekaligus gembira menyambut kedatangan Begawan Abiyasa yang dianggap sebagai tamu agung. Bagaimana tidak, Begawan Abiyasa yang adalah raja dan sekaligus pandita, mumpuni dalam berbagai ilmu, amat arif dan bijaksana berkenan rawuh di Pancalaradya. Prabu Baratwaja, orang tua angkat Prabu Durpada, pernah berguru kepada Begawan Abiyasa. Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa akhirnya Prabu Durpada dipertemukan dengan Begawan Abiyasa yang selama ini hanya mendengar ceritanya melalui Prabu Baratwaja.

Prabu Durpada merasa beruntung dan tersanjung bahwasannya Dewi Durpadi putrinya dipersunting oleh Pandawa. Dengan demikian artinya bahwa ia berbesanan dengan almarhum Prabu Pandudewanata, raja Hastinapura yang telah banyak membantu dirinya. Kejadian ini tidak lepas dari pengorbanannya seorang Gandamana. Sebagai wujud rasa syukurnya atas kedatangan Begawan Abiyasa, Prabu Durpada menyediakan beberapa kereta kencana dan pengawal untuk mengantar Dewi Durpadi ke hutan Kamiyaka, tempat Pandawa berada. Dengan membawa sisa duka yang masih singgah di hatinya karena kematian Gandamana, Dewi Durpadi naik kereta kencana meninggalkan negara Pancalaradya serta kemewahannya menerobos rimbunnya hutan Kamiyaka.

Di hutan Kamiyaka Dewi Kunthi, Puntadewa, Nakula, Sadewa dan di bantu beberapa pengikutnya mempersiapkan upacara penyambutan putri boyongan dengan amat sederhana, mengingat bahwa Kunthi dan Pandawa masih dalam masa penyamaran dan keprihatinan. Namun walaupun sangat sederhana, ada ungkapan rasa syukur nan agung dan rasa sukacita yang menggelora, bahwasanya anugerah besar telah diterimanya. Putri raja yang cantik jelita telah di karuniakan dan keberadaannya telah dimaklumkan. Pandawa telah menerima dua anugerah besar, yaitu Dewi Durpadi dan rakyat Hastinapura. Rakyat yang selama telah dibuat lupa kepada Pandawa, mendadak ingatannya dibangkitkan kembali bahwa inilah anak-anak Pandudewanata, pewaris tahta Hastinapura. Mereka tidak mati. Mereka dalam keadaan sehatwalafiat tidak kekurangan suatu apa pun.

Siang itu saat yang dinantikan tiba. Kunthi, Puntadewa, Nakula dan Sadewa serta beberapa pengikutnya terkejut. Tak disangka bahwasanya kedatangan Bima, Arjuna dan Abiyasa serta putri boyongan diantar oleh kereta kencana lengkap dengan simbol-simbol kebesaran negara Pancalaradya. Tidak hanya itu bahkan banyak orang yang dengan sukarela mengikuti iring-iringan itu hingga sampai di tempat Kunthi dan anak-anaknya berada. Mereka dengan tulus mengucapkan selamat atas keberhasilan Pandawa memenangkan sayembara dan memboyong putri Pancalaradya. Mereka menganggap bahwa iring-iringan putri boyongan ini sama halnya dengan iring-iringan calon pengantin putri yang dibawa kepada calon pengantin pria untuk dinikahkan. Seperti juga para pengiring pengantin pada umumnya, wajah mereka memancarkan kebahagiaan. Demikian pula halnya dengan para pengiring putri boyongan Dewi Durpadi. Mereka pun ingin merasakan kebahagiaan bersama-sama dengan calon pengantin berdua dan keluarga Pandawa yang berbahagia. Halaman tengah hutan yang sengaja di buat untuk keperluan tempat tinggal Kunthi dan anak-anak penuh dengan orang.

Kunthi terharu melihat semuanya itu. tak dapat ditahan air matanya menetes membasahi kedua pipi yang mulai menampakan keriputnya. Dalam sekejap tengah hutan Kamiyaka yang semula hening berubah menjadi meriah. Upacara boyongan dan dilanjutkan dengan upacara perkawinan yang semula direncanakan bersahaja menjadi berlimpah dan yang semula kelihatan sederhana berubah mulia. Kedatangan orang-orang pengiring sukarela yang jumlahnya hampir mencapai ribuan, tidak merepotkan Kunthi. Mereka membawa bekal makanan sendiri-sendiri. Bahkan ada yang dibawa khusus untuk calon pengantin.

Dewi Durpadi sebagai putri boyongan memang direncanakan menjadi calon pengantin putri bagi Puntadewa. Demikian halnya Puntadewa telah direncanakan sebagai calon pengantin pria bagi Dewi Durpadi. Keduanya telah direncanakan sejak kedatangan Begawan Abiyasa di hutan Kamiyaka. Dan sekarang tiba saatnya untuk digenapi. Rakyat mengelu-elukannya perkawinan itu. Tengah hutan Kamiyaka yang biasanya gemuruh oleh suara angin saat menerpa pepohonan besar kini bergemuruh oleh suara sorak-sorai bahagia para pengiring pengantin yang terdiri dari sebagian rakyat Pancalaradya, rakyat Hastinapura dan sekitarnya.

Puntadewa saudara sulung Pandawa, walaupun telah lama hidup jauh dari kemewahan kraton, ketika ditampilkan menjadi calon pengantin pria, aura wajahnya memancarkan praba sebagai mana keturunan raja. Sehingga dengan demikian menjadi pantaslah bersanding dengan Dewi Durpadi yang adalah putri sulung Prabu Durpada raja Pancalaradya yang sejak lahir hingga dewasa tidak pernah meninggalkan kemewahan. Kedua sejoli itu bagaikan dewa-dewi yang diutus untuk mengusir roh-roh jahat yang singgah di dalam belantara hutan Kamiyaka. Sehingga yang ada tinggalah roh-roh yang ikut mendoakan bagi keselamatan dan kelanggengan pengantin berdua.

Sorak-sorai semakin membahana. kemeriahan suasana semakin menyeruak dari hati rakyat, manakala mereka diingatkan bahwa sang pengantin merupakan calon raja Hastinapura.

Horee calon raja!

Horeee!

Hore calon permaisuri!

Horeee!

Dewi Durpadi lupa akan kesedihanya. Ia tenggelam ke dalam lautan kebahagiaan bersama Puntadewa yang berada disampingnya dan juga sekaligus berada di hatinya. Ia merasa sangat beruntung duduk di pelaminan bersanding dengan satria luhur calon raja yang tampan dan halus. Durpadi berjanji akan mencintai Puntadewa dalam keadaan sehat atau pun sakit dalam suka atau pun duka, dalam untung atau pun malang. Demikian halnya dengan Puntadewa, ia berjanji akan mencintai Durpadi hingga maut memisahkannya

Pada saat sukacitanya menjadi penuh berkelebatlah bayangan Gandamana di angannya. Dalam hati Dewi Durpadi berucap, terimakasih paman Gandamana kebahagiaanku ini adalah karena buah dari pengorbananmu. Semoga engkau bahagia di keabadian, seperti kebahagiaannku di hutan Kamiyaka, sekarang ini.

herjaka HS

Kidung Malam 88


Mereka Masih Selamat
Puntadewa meneteskan air mata haru dihadapan Arjuna (karya Herjaka HS)

Mereka Masih Selamat

Ada dua peristiwa getir yang selalu diceritakan berulang-ulang oleh Gandamana kepada orang-orang terdekatnya, yaitu fitnah Trigantalpati atau patih Sengkuni dan kepongahan Kumbayana atau Pandita Durna. Perilaku dua orang tersebut membuat Gandamana bertindak diluar batas nalar sehingga akibatnya Trigantalpati dan Kumbayana menderita cacat seumur hidup. Ada penyesalan yang mendalam bahwasannya perbuatannya yang tak terukur dengan nalar telah merugikan orang lain dan telah merugikan diri sendiri. Akibatnya Gandamana terpaksa berpisah dengan Prabu Pandudewanata, sosok yang dicintai dan dihormati, dan juga Gandamana berseteru dengan Pandita Durna, yang adalah saudara Prabu Durpada dan guru Bimasena. Kedua peristiwa itulah yang dikemudian hari senantiadsa membayangi hidupnya dan membuat hatinya serasa getir.

Ada alasan mengapa Gandamana selalu menceritakan dua peristiwa getir yang menimpa dirinya kepada orang-orang yang ada di dekatnya? Karena Gandamana beranggapan bahwa dua peristiwa getir yang dialaminya dapat menimpa siapa saja yang tidak dapat menahan diri ketika diperlakuan dengan semena-mena. Maka hendaknya hal tersebut dapat dijadikan pelajaran dan peringatan dalam menjalani sebuah kehidupan.

Dan benarlah sekarang setelah Gandamana berpulang ke alam baka, dua cerita getir tersebut masih diingat oleh orang-orang yang pernah mendengar cerita itu. Bahkan masih diingat banyak orang yang menjadi saksi hidup dalam dua peristiwa getir tersebut.

Gugurnya Gandamana di tangan brahmana perkasa yang adalah Bima menandakan bahwa sayembara perang tanding telah usai. Tidak seperti yang dirasakan terutama oleh Prabu Durpada dan Dewi Durpadi khususnya, lautan manusia di alun-alun Pancalaradya tidak menampakkan kesedihannya. Untuk sejenak perhatian mereka tidak sedang tertuju kepada gugurnya Gandamana, tetapi lebih tertuju kepada pemenang sayembara. Seorang brahmana muda gagah perkasa yang akhirnya diketahui bahwa ia adalah Bima orang nomor dua dari lima bersaudara laki-laki yang disebut dengan Pandawa. Apalagi tiidak berapa lama setelah Bima diumumkan secara resmi sebagai pemenang sayembara, Arjuna juga dengan mengenakan pakaian brahmana naik ke atas memberi selamat kepada Bima kakaknya, maka sebagian besar dari lautan manusia itu pun mulai menghubung-hubungkan antara Bima dengan brahmana tampan yang sejak awal sayembara datang bersama Bima. Maka mulailah orang-orang yang berdiri tidak jauh dari panggung mengenalnya dengan menyebut nama Arjuna, orang nomor tiga dari Pandawa yang paling tampan.

Satu, dua teriakan yang menyebut nama Bima dan Arjuna terucap, kemudian disusul oleh yang lain hingga merata di alun-alun Pancalaradya.

Horeee Bima! horeee Arjuna!

Teriakan dibarengi dengan lambaian tangan untuk mengelu-elukan Bima dan Arjuna sebagian besar dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari Hastinapura dan ditambah beberapa orang dari negara Wirata, negara Mandura dan juga negara Pancalaradya.

Sejak tragedi Bale sigala-gala, Kawula hastinapura khususnya menganggap bahwa Pandawa lima telah mati terbakar. Mereka merasa kehilangan ksatria utama anak-anak Pandudewanata yang merupakan pewaris tahta Hastinapura yang sah. Oleh karenanya dengan munculnya Bima di Pancalaradya sebagai pemenang sayembara, hati mereka melonjak gembira. Harapan mereka akan sebuah negara gemahripah lohjinawi tata titi tentrem kertaraharja yang selama ini sengaja disimpan di dalam hati, muncul dengan sendirinya ke permukaan wajah yang memancarkan keceriaan. Sinar mata mereka berbinar-binar haru menyaksikan anak-anak Pandu yang adalah pewaris tahta Hastinapura masih selamat.

Sepeninggalnya Prabu Pandu Dewanata, Destarastra yang dititipi negara Hastinapura tidak banyak berperan dalam menjalankan tata pemerintahan. Peranannya sebagai raja di Hastinapura diambil alih dan dijalankan oleh Patih Sengkuni yang bekerjasama dengan Dewi Gendari sang permaisuri raja. Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat tidak pernah sampai kepada yang ber hak menerimanya.

Dendam Gendari kepada Pandu dan nafsu berkuasa Patih Sengkuni memungkinkan kedua kakak beradik tersebut untuk bekerjasama memainkan politik yang kotor dan kejam. Tragedi Bale Sigala-gala adalah bukti bahwa mereka telah merencanakan pembunuhan anak-anak Pandu sebagai pewaris tahta Hastinapura.

Namun Patih Sengkuni, Duryudana dan para Kurawa tidak mengetahui bahwa Pandawa masih hidup. Bahkan diawal sayembara ini Patih Sengkuni tidak menduga sama sekali bahwa yang mencegat pemuda rupawan dan mengajaknya bertanding adalah Arjuna.

Dengan munculnya Pandawa sebagai pemenang di sayembara perang tanding melawan Gandamana, rakyat Hastinapura khususnya semakin meyakini bahwa Pandawa benar-benar dikasihi dewa dan pada saatnya nanti Pandawa bakal mampu membawa kedamaian, kesejahteraan dan kejayaan Hastinapura.

Atas keberhasilannya, Bima diberi hak untuk memboyong Dewi Durpadi. Namun sebelum memboyong Durpadi, Arjuna mengabarkan keberhasilan sayembara kepada kakanda Puntadewa. Air mata Puntadewa menetes melalui bola mata yang bening. Air mata keharuan. Haru dikarenakan ketulusan hati kedua adiknya yang telah mempersembahkan kemenangan sayembara kepada dirinya.

herjaka HS

Kidung Malam 87


Nilai yang ditinggalkan
Dengan hati berkeping Gandamana meninggalkan bumi Hastinapura

Nilai yang ditinggalkan

Dengan hati yang remuk berkeping Gandamana kembali ke negara aslanya yaitu Cempalaradya, ingin menumpahkan serpihan hatinya kepada sang kakak Prabu Durpada.

“Kakang Prabu aku pulang Kakang”

Prabu Durpada menyambut kepulangan Gandamana adiknya dengan penuh gembira. Adik yang mempunyai banyak pengalaman dan kesaktian itu kemudian diangkatnya menjadi orang kedua setelah raja, setingkat dengan jabatan Patih, dengan tugas pokok sebagai benteng pertahanan negara Cempalaradya.

Gandamana merasa senang dengan tugas yang diberikan kakaknya, namun hal itu bukan berarti bahwa ia dapat begitu saja melupakan masa lalunya. Masa lalu yang getir, ketika ia ditikam dari belakang oleh Trigantalpati, kawannya, sehingga ia tersingkir dari jabatan patih.

Memang Gandamana puas setelah menghajar Trigantalpati hingga menderita cacat seumur hidup, tetapi jika mengingat hal itu Gandamana menyesal amat dalam, mengapa ia tidak kuasa mengendalikan gejolak hatinya yang dibakar dendam terhadap Trigantalpati. Sehingga Gandamana mengabaikan subasita tata aturan di depan raja yang sedang bertahta. Akibatnya Gandamana tidak diperkenankan lagi menghadap raja Prabu Pandudewanata.

Hal itulah yang sungguh menyakitkan hati Gandamana. Bukan karena Ia telah kehilangan jabatan patih dan terusir dari bumi Hastinapura. Tetapi terlebih karena ia sudah tidak diperkenankan lagi menghadap Prabu Pandudewanata. Ia telah dipisahkan dengan Pandudewanata yang paling ia hormati dan sangat ia cintai.

Hari demi hari setelah ia tidak lagi mengabdi Prabu Pandudewanata di negara Hastinapura, kerinduannya akan sosok Pandu tak pernah hilang dari budi dan angannya. Ibarat seekor rusa yang mendamba air di padang tandus kerinduan Gandamana tak pernah terpuaskan. Bahkan hingga Pandu dewatanata wafat kerinduan Gandamana yang semakin bertumpuk tersebut belum pernah terpenuhi.

Selanjutnya kerinduan yang masih diangan Gandamana tersebut kerap datang dalam wujud mimpi. Mimpi bertemu denga pandu yang mendahuluinya di alam keabadian.

Puluhan tahun berlalu, Gandamana tidak pernah membayangkan bahwa pada suatu waktu di Cempalaradya akan kedatangan ke lima anak-anak Pandudewata yaitu Puntadewa, Bimasena, Arjuna dan si kembar Nakula dan Sadewa, yang mengemban tugas dari pandita Durna, untuk mendundukan Gandamana dan Prabu Durpada. Gandamana tidak sampai hati melawannya. Ada tatapan Pandu dibalik mata Puntadewa dan keempat adiknya. Bahkah saat bertemu dengan anak-anak Pandu kerinduan Gandamana terobati sudah.

Tidak hanya Gandamana, Prabu Durpada pun berhutang budi kepada Prabu Pandudewanata. Keberhasilan memenangkan sayembara dan mempersunting Dewi Gandawati dan mewarisi tahta Pancalaradya karena jasa Prabu Pandu semata. Sehingga seperti Gandamana, Prabu Durpada tidak sampai hati mengadakan perlawanan kepada anak-anak Prabu Pandudewanata.

Oleh karenanya diantara Gandamana dan Prabu Durpada sepakat untuk tidak mengadakan perlawanan kepada anak-anak Pandu. Mereka berdua menyerahkan diri tanpa syarat kepada Bimasena sebagai tawanan untuk dibawa menghadap pandita Durna di Sokalima. Sebuah pertaruhan yang memerlukan pengorbanan besar demi rasa hormat dan cintanya kepada Prabu Pandu, lewat anak-anaknya.

Kejadian selanjutnya tidak pernah diduga sebelumnya, bahwa kerelaan untuk berkorban menjadi tawanan yang diberikan Prabu Durpada dan Gandamana kepada Bima demi nama besar Prabu Pandu telah dimanfaatkan dengan baik oleh Pandita Durna yang sengaja melampiaskan dendamnya. Prabu Durpada dan Gandamana telah dinistakan dan ditelanjangi harga dirinya di padepokan Sokalima di hadapan banyak orang. Sungguh sebagai seorang ksatria dan raja Gandamana dan Prabu Durpada merasa hidupnya tidak berharga tanpa hargadiri. Sepulangnya dari Sokalima hari-hari dilaluinya dalam kesedihan dan sakit hati.

Gandamana menjadi serba salah. Maksud hati untuk berkorban demi Prabu Pandu dan sekaligus tanda sesal atas kesalahan yang telah dibuatnya terhadap Prabu Pandu, tetapi akibatnya Prabu Durpada kakaknya ikut menderita karenanya.

Selama hidupnya memang Gandamana banyak mengalami kegetiran. Bahkan hingga akhir hidupnya kegetiran itu tidak lepas dari dirinya. Namun untunglah Bimasena anak Pandudewanata menyediakan diri untuk menampung kegetiran-kegetiran hidup Gandamana beserta dengan dua aji saktinya yaitu Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa.

Gandamana telah tiada dan bersama-kegetiran-kegetirannya. Namun semangat pengabdiannya masih menyala dalan dada Bimasena. Dan itulah satu-satunya nilai yang ditinggalkan Gandamana. Nilai pengabdian yang tulus bagi kehidupan

herjaka HS