Category Archives: Critaku

Celoteh yang terkait per-wayang-an

PANCAWISAYA


 

PANAKAWAN 2

“Kakang Semar, berilah ndaramu ini ujaran-ujaran nan bijak agar tentram hati ini”

Arjuna memulai perbincangan dengan para panakwan di hutan itu sesaat setelah dia menemukan tempat yang pas untuk melakukan tapa brata.

“Eeeee … mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng . Saya memahami bagaimana sedih dan pedihnya ibunda nDara, Dewi Kunti, mengingat akan nasib anaknya nDara Werkudara. Orang tua mana sih yang tidak sayang kepada anak-anaknya ? Bahkan pabila sang anak sudah dewasa-pun kasihnya tiada akan pernah berkurang, apatah lagi luntur. Apalagi, nDara Kunti adalah ibu nDara Werkudara yang telah melahirkannya di dunia ini, maka kasih sayangnya tentu tak terbantahkan”

“Itulah kakang, hal yang menyebabkan aku sampai kesini”

“Nggih nDara, saya hanya ingin sedikit memberi sesuatu yang mungkin dapat ndara resapi, pahami dan kemudian dapat dijadikan sebagai pegangan dalam menjalani hidup di dunia ini. Orang bijak menyebutnya sebagai Pancawisaya”

“Aku ngerti Mo, apa artinya itu !” tiba-tiba Bagong memotong pembicaraan Ramanya dan ngacung tanpa diminta

“Apa yang engkau mengerti Thole, bocah bagus anakku Bagong ?” jawab Semar dengan penuh kesabaran

“Panca itu bilangan lima, wi itu dari kata wibi berarti ibu dan saya dari kata sayak, celana. Jadi maknanya adalah celananya ibu ada lima” serius Bagong menjelaskan ini bak guru sastra menjelaskan kepada murid-muridnya

“Hush … Bagong kuwi jian ngawur !” Petruk mencela penjelasan adiknya itu, kemudian melanjutkannya

“Kalau nggak ngerti itu mendingan diam atau bertanya kepada yang ngerti. Jangan asal njeplak saja, tho Gong !”

“Lha Kang Petruk apa tahu artinya itu ?” tanya Bagong lugu

“Lho … siapa yang tak kenal Petruk di dunia ini, kecuali dirimu seorang ?” seperti biasa Petruk membanggakan diri dengan membusungkan dada kerempengnya yang seperti piano

“Terus artinya apa Kang ?” “Panca itu memang benar artinya bilangan lima, wi itu berasal dari kata wibrama yang berarti bingung atau rasa marah dan saya itu ya saya, aku” jawab Petruk menggunakan aji pengawuran

“Jadi artinya apa Kang ?”

“Ya gabung sendiri ajah !”

“Punya adik-adik kok pada ngawur semua. Sudah … kita dengerin saja apa yang Ramane Semar akan sampaikan !” Gareng menengahi dengan bijaknya (tumben … biasanya juga ikut ngawur … he he he)

“He he he … anak-anakku semua mulai bicara. Rama senang sebab kalau kalian tidak mengeluarkan suara, dunia rasanya sunyi sepi. Meskipun ngawur … tapi apa yang kalian sampaikan itu ada kalanya memberi inspirasi bagi Rama untuk terus berfikir. Kali ini cukup dengarkan ya … apa yang akan Rama jelaskan kepada nDraamu Permadi !”

Kemudian Semar melanjutkan kata-katanya

“Begini nDara dan anak-anakku Gareng, Petruk dan kamu Bagong. Seperti kata Bagong tadi, Panca itu lima, wisaya bisa bermakna piranti, upaya pencarian, karêp bisa juga penghalang. Jadi landasan untuk melakukan brata itu harus mengerti terhadap penghalang yang menjerat lima perkara dan sekaligus menyiapkan piranti untuk menanggulanginya. Apa saja yang lima itu ? Pertama Rogarda yang berasal dari kata roga yang artinya sakit dan arda yang berarti hawa nêpsu, bangêt atau sangat, sehingga Rogarda adalah sakit yang menimpa tubuh. Kalau ditimpa sakit, berusahalah bersungguh-sungguh untuk mencari obat penyembuh, namun segalanya harus diterima dengan rela hati. Hindari prasangka buruk terhadap Gusti Allah yang telah menimpakan sakit karena tidak sayang kepada hambanya. Yakinkanlah dalam hati bahwa yang kita terima adalah wujud kasih sayangNya semata.”

“Kalau menurutku, penjelasan rama itu kurang lengkap !” sanggah Bagong

“Kurang apanya, Thole ?”

“Kurang sambel, Mo he he he. Begini, nDara. Disamping menerima dengan ikhlas sakit yang diterima, kemudian mencari obat untuk menyembuhkannya, ada satu hal penting yang kadang terlupakan yaitu pelajari secara ilmiah mengapa hal itu bisa terjadi terhadap kita. Mengapa Kang Petruk punya wudun, alias bisul yang matanya saja sebesar kelereng ? Karena Kang Petruk jorok ! Nggak pernah bersih-bersih badan setelah maen kemana-mana. Kotoran yang melekat dan kemudian masuk dalam tubuh kita, bisa jadi adalah sumber penyakit semisal virus atau bakteri. Sumber penyakit itu dihadang oleh prajurit-prajurit tubuh berupa darah putih sehingga terjadi pertempuran hebat. Sebagian pasukan tubuh kita tewas menjadi kusuma bangsa tubuh. Banyak mayat yang tewas dalam tugas suci itu kemudian dimakamkan di liang lahat berupa wudun itu”

Petruk yang menjadi sasaran Bagong dengan sewot menjawab

“Kalau mencari contoh itu mbok ya jangan membuka aibku tho, Gong. Sungguh gamblang apa yang engkau jelaskan tadi, tapi mbok iyao jangan sebut wudun kakangmu ini. Sebagai adik yang baik harusnya kamu membantu mem-plothot-kannya. Sudah lumayan mateng, lho”

“Dimana sih Kang ?”

“Di bokongku mburi, Gong !”

“Ra sudi aku !”

Gareng ikut nimbrung

“Lha mbok kalau ngomong itu sedikit intelek gitu tho. Masak dari sikap Rogarda kok larinya ke wudun !” ujar Gareng sengit

“He he he .. sudah ya Rama lanjutkan” tersenyum arif Semar seraya melanjutkan

“Yang kedua adalah Sangsararda berasal dari kata sangsara sehingga berarti sengsara yang menimpa tubuh. Kalau ditimpa kesengsaraan, berusahalah menahan dan berbesar hati. Yang ketiga Wirangharda, artinya wirang, malu, sakit yang menimpa hati. Kalau ditimpa sakit hati, berusahalah tata, titi, kokoh pendirian serta berhati-hati.”

“Kalau patah hati itu, apakah termasuk juga wirangharda, Mo ?” Tanya Bagong

“Bisa juga begitu, Le”

“Kalau begitu Kang Petruk juga sakit, Ma”

“Aku maneh … saya lagi ! Sebenarnya apa yang membuat kamu tuh benci sama aku tho Gong. Setiap kali hal-hal yang kurang baik kok larinya ke diriku yang menawan ini” Petruk merendah seraya meninggikan mutu

“Bukan benci, Kang Petruk, kakakku yang menawan, rendah hati, sopan santun dan rajin menabung ! Ini adalah wujud dari cinta kasih seorang adik kepada seorang kakak nan penuh kasih sayang dan bijaksana. Ini adalah perhatian tulus dan begitu dalam seorang adik kepada kakaknya seperti kisah Sukasrana dan Sumantri atau Lesmana Widagdo kepada Ramawijaya. Begitupun Bagong kepada Petruk”

“Lebay Gong !” jawab Petruk masih sengit

“Bukan lebay Kang. Kalau sekarang Kang Petruk sedang patah hati sama Soimah, tentu adikmu ini turut berduka, Kang. Bukankah engkau pernah merasakan hal serupa saat ditolak sama Limbuk, Jupe, Depe, Poniyem, Sariyem, Tukinem, Ponirah, Surti dan sepuluh yang lainnya itu ?” wajah tanpa dosa mengiringi pengungkapan fakta memalukan sekaligus memilukan Petruk, bukan Gosip !

Gareng yang mendengar, ikut terperangah dan seraya tersenyum nakal berujar

“Lho… bener itu tho Truk ! Lha kok kamu nggak pernah ngomong sama aku, kok curhatnya malah sama Bagong yang bermulut ember itu. Aduh … aduh … adiku, Di ! Sungguh malang sekali nasibmu ditolak perawan yang segitu banyaknya itu. Harus instropeksi itu Truk !”

“Instropeksi … dengkulmu. Lha wong Bagong kok dipercaya !” jawab Petruk sengit seraya melotot kepada Bagong

“Bisa diam nggak kamu Gong !”

Semar dengan tersenyum bijak menengahi “perseteruan abadi” antara anak-anaknya itu

“Sudah … sudah … Saya lanjutkan ya nDara setelah dipotong pariwara iklan yang baru saja lewat … he he he. Yang keempat adalah Cuwarda, berasal dari kata cuwa, kecewa, tidak keturutan apa yang diharap, yang dicita-citakan. Apakah semua yang kita inginkan, kita harapkan, kita cita-citakan, kita impi-impikan harus terwujud ? Kalau keadaannya begitu, sungguh akan berantakan dunia ini. Hanya Gusti Allah-lah yang tahu mana terbaik bagi kelangsungan hidup semesta ini. Gusti Allah-lah yang tahu yang terbaik bagi kita, sehingga kalaupun ada suatu keinginan kita yang tidak disetujuiNya, pada hakekatnya adalah demi kebaikan kita sendiri. Nggak mungkin Gusti Allah menyiksa, menjerumuskan manusia ciptaanNya sendiri ke dalam kenistaan, kecuali sebenarnyalah diri manusia itu sendiri yang mengantarkan ke dalam ke sengsaraan pribadi. Oleh karenanya, selalulah Eling dan Waspada !”

“Lanjut Mo !” teriak Gareng bermaksud agar mendahului Bagong untuk tidak berkomentar memotong penjelasan lebih lanjut.

“Iya, Thole. Dan yang terakhir adalah Durgarda, berasal dari kata Durga yang bermakna bêbaya, pakewuh, sungil, angkêr, gawat. Sehingga durgarda harus kita sikapi dengan usaha dan sikap percaya diri dan yakin terhadap segala kekuasaan Tuhan.”

“Terima kasih Kakang Semar atas nasehatnya. Semakin mantab aku untuk melakukan tapa brata minta petunjuk Gusti untuk menyelesaikan masalah ini” akhirnya Permadi mengakhiri diskusi tadi dan kemudian beranjak menuju tempat yang telah dibersihkan dahulu sebelumnya untuk mengheningkan cipta menghadap Sang Pencipta.

Indahnya Terang


matahari

Urip Iku Urup
Hidup itu tidak redup
ia gemilang terang benderang
laksana Batara Surya menerangi bumi
selalu memberi tak pernah meminta
dan Batara Candra memantulkan cahya di malam hari
slalu pancarkan kedamaian kepada siapa saja
bukan seperti saat kepala Kalarahu mencaplok keduanya
hingga menimbulkan kegelapan dan ketakutan
Nyala terang dalam gelap adalah berkah bagi makhluk disekelilingnya

Kata petuah agama sebaik baiknya manusia adalah
yang mampu memberi banyak manfaat kepada manusia lain
khairunnas anfa ‘uhum linnas
sehingga sudah pasti seburuk-buruk orang adalah
yang selalu menebarkan ancaman bagi masyarakat sekitarnya
keberadaannya tidak diinginkan
hadirnya menghalangi terang
kegelapan menaunginya

Urip Iku Urup
maka jadilah cahaya bagi orang orang disekitarmu

Petuah bijak Sang Pemenang

Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983. Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:

“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:

Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final,
dan ketika saya menggenggam pialanya,
saya tak pernah bertanya pada Tuhan,
“Kenapa (harus) saya?”
Jadi ketika sekarang saya sakit,
bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan,
“Kenapa (harus) saya?”

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat.
Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu
sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya,
dan memimpikan bisa terbang,
tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya
dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup.

Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan,
tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi ternyata
Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.

Jika kekuatan memang menjamin keamanan,
tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi ternata
Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal,
tentu para selebriti pasti punya kehidupan perkawinan yg terbaik.

Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (33)


BASUDEWA RAJA solo A 01

“nDara, bagaimana ceritanya tentang istri tercinta nDara Sumbadra ?”

“Wah … panjang Gong jalan ceritanya. Penuh lika likunya. Kamu tahu siapa Sumbadra itu ?”

“Lha inggih pasti tahu ta. Ndara Sumbadra itu putra putrinya Prabu Basudewa raja negri Mandura. Tapi yang saya heran, mengapa waktu kecil dulu sering disebut Rara Ireng ya, ndara ?”

“Aku sendiri dulu nggak lihat Gong, cuman katanya memang dulu tuh waktu kecilnya Sumbadra sering dipanggil Rara Ireng lantaran, katanya lho Gong, katanya dulu wis ireng … elek … bau lagi. Katanya lagi, setelah menjelang dewasa kok berangsur-angsur berubah menjadi jelita, kulitnya jadi kuning langsat, wajahnya ayu bersinar, membuat hati ini jadi terpana”

“Kalau menurut garis keturunan, nDara sebenarnya lebih muda dari nDara Sumbadra kan ?”

“Benar Gong. Ibu Kunti adalah adik dari Prabu Basudewa. Kamu tahu Gong, siapa saja putra dari pakde Basudewa ?”

“Kalau nggak salah, dengan Dewi Mahindra lahir Kakrasana, dari Dewi Badraini mempunyai anak nDara Narayana dan nDara Sumbadra, serta satu lagi Udawa. nDara Udawa itu dari siapa nggih ndara ?”

“Ini sebenarnya rahasia Gong, tapi sudah menjadi pengetahuan umum … he he he … Media gosip juga nggak berani memberitakan ini. Udawa itu, ibunya adalah Nyai Sagopi”

“Lha kok bisa begitu ndara ?”

“Nyai Sagopi itu sebenarnya cuma wiraswara kraton Mandura saja. Tapi menjadi favorit keluarga kerajaan karena suaranya sangat merdu dan menyentuh kalbu dan tariannya juga sungguh sangat indah dan menyenangkan hati bagi sesiapa yang mendengar atau melihatnya. Pun wajahnya dikaruniai keindahan ala rakyat kebanyakan. Hanya dengan busana sekedarnya saja, kecantikannya tidak terbantahkan. Hal-hal inilah yang menyebabkan Pakde terpesona dan kemudian dinikahi secara siri. He he he … tapi dasar Pakde, masih ingat juga bahwa dia juga mempunyai tiga istri yang sah, maka sewaktu sudah hamil, maka direkayasalah untuk diserahkan kepada demang Antagopa di Widarakandang.”

“Oh gitu ya nDara, terus siapa lagi istri yang satu lagi dari nDara Basudewa, kok ndak berputra?”

“Bude Maerah Gong. Sebenarnya Bude mempunyai seorang anak yang bernama Kangsa. Namun kenyataannya, Kangsa itu adalah anak dari Prabu Gorawangsa, seorang raja raksasa dari Guwabarong. Kalau dirunut jalan ceritanya, Bude Maerah nggak salah-salah amat karena diapun diperdaya oleh si Gorawangsa yang menyaru sebagai Prabu Basudewa saat sang prabu sedang berburu di hutan.”

“Terus gimana nDara ?”

“Si Gorawangsa akhirnya ketahuan juga, tapi sudah terlambat, ternyata Bude Maerah hamil. Terus dibuang ke tengah hutan dan ditolong oleh Resi Anggawangsa hingga melahirkan seorang bayi yang berwujud raksasa, yaitu Kangsa tadi”

“Ooo .. begitu ya ndara. Tentunya bakal ramai setelah itu.” Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (33)

Bima Bungkus [4]


Guru-Solo-01

Masalah yang tengah di hadapi Sang Pandu, tak luput dari perhatian penghuni kahyangan. Setiap akan atau sedang terjadi suatu peristiwa besar yang akan menimpa dunia maupun tokoh-tokoh para kekasih dewata, niscaya kahyangan bakal memberikan pertanda. Begitupun keluh kesah Sang Pandu dalam samadinya, telah menjadi berita yang menjadi perbincangan antara Bathara Guru dan Batara Narada.

Hingga saat Sang Sri Pandhudewanata datang kemudian bersimpuh di hadapan dewata, maka kelanjutan jalan hidup Sang Pandu bakal dipastikan.

Sang Hyang Guru bersabda :

30. nulya lênggah sor dhêdhampar manik | marikêlu sumungkêm ing kisma | Sang Hyang Guru andikane | kaya Si Byasasunu | prapta marêk ing ngarsa mami | baya ana karsanta | mêminta maringsun | lah ta mara wêdharêna | apa ingkang dadya wigatining kapti | Sri Dewanata nêmbah ||

31. dhuh pukulun Mahadewa Widhi | marma amba sumêngkèng kayangan | tanpa larapan sumiwèng | ngabyantara pukulun | tarlèn ingkang dados wigati | titah paduka tuwan | pun suwami ulun | nini Madrim sru lênggana | anglanggati kadya satataning swami | lumuh murwèng paprêman ||

32. darunanya Hyang Padya Bathari | yakti inggih botên kasamaran | tarlèn kawula samangke | mung minta sih pukulun | kalilana kawula ngampil | pun lêmbu Dini kênya | manawi pukulun | inggih botên amarêngna | ulun datan wangsul mring Ngastina nagri | luhung nèng Suralaya ||

33. linêbêtna nèng jroning Yahmani | tan suminggah mung sumanggèng karsa | kèndêl Sang Pandhu ature | Hyang Guru mèsêm muwus | titah ingsun Sang Byasasiwi | mêngko sira muliha | dèn anti swamimu | dene ta pamintanira | ngampil sapi Andini titihan mami | ingsun wus amarêngna ||

“Kaya Si Byasasunu, prapta marêk ing ngarsa mami, baya ana karsanta mêminta maringsun, lah ta mara wêdharêna apa ingkang dadya wigatining kapti.
Sepertinya yang datang menghadap ini adalah Byasasunu, anak dari Abiyasa. Ada keperluan apakah engkau menghadap, segeralah katakan dengan jelas apa yang menjadi kehendakmu, Pandu”

Sang Pandu menjawab dengan takzim :

“Duh pukulun Mahadewa Widhi, sebelumnya mohon pengampunan atas kedatangan hamba ke kahyangan yang tanpa dipanggil, pukulun. Sungguh, pabila hamba tidak datang kemari, tidak bakal keruwetan yang tengah melanda pikiran hamba akan segera memperoleh jalan terang. Dengan memberanikan diri, hamba menghadap untuk mohon perkenan paduka. Istri hamba, Madrim, mempunyai permintaan kepada hamba selaku suaminya untuk meminjam lembu Andini sebentar saja. Mohon pengampunan, maksud ini semata-mata adalah untuk memenuhi permintaan istri hamba dan sebagai wujud cinta kasih hamba kepadanya. Duh pukulun, belas kasihan paduka hamba pinta. Pabila pukulun tidak memenuhi permintaan hamba, maka hamba akan tetap duduk bersimpuh di hadapan paduka, hamba tidak bakal kembali ke Astina. Hambapun rela untuk dilemparkan ke neraka Yahmani sebagai ganti atas perkenan pukulun meminjamkan Lembu Andini”

Dikarenakan kusut pikiran Sang Narendra, hingga sampai tak sadar bahwa yang menjadi taruhannya adalah neraka Yahmani. Bathara Guru dan Narada pun sampai terdiam sejenak mendengar apa yang di katakan Pandudewanata. Begitu cintanyakah raja Astina itu pada istrinya Madrim sehingga mempertaruhkan permintaan untuk menaiki Lembu Andini dengan derita yang bakal disandang setelahnya di Yahmani ?

Setelah terdiam sejenak, kemudian Bathara Guru bersabda : Continue reading Bima Bungkus [4]

Bima Bungkus [3]


Guru-Solo-01

17. Dursasana anauri angling | paman arya karsane jêng rama | punika kula tan cècèg | dadak milu angrêmbug | bayi ingkang tan kaprah janmi | tan wontên parlunira | bok gih kajêngipun | pêjah nèng Krêndhawahana | binadhog ing sato wana danawa wil | minôngsa brakasakan ||

18. Arya Suman mèsêm anauri | iya bênêr kaya karêpira | ananging ramanta anggèr | adrêng ing karsanipun | angêngudi gaman kang dadi | sarana karya mêcah | bêbungkusan iku | nora kêna pinopoa | malah kinèn mangkat ing sadina iki | mulane Dursasana ||

19. payo nuli abudhal samangkin | Dursasana sarwi sinasmitan | wus tômpa ing sawadine | sangêt sukaning kalbu | pra Kurawa wus sinung wangsit | kinon nulya pradandan | tan adangu rampung | sigra budhal kêkapalan | sangkêp pêpak saupacaraning jurit | lir arsa magut yuda ||

Mendengar perintah Ramanya melalui pamannya, Dursasana menjawab :

“Man … mengapa nggak dibiarkan saja bayi itu Man. Biar saja dia mampus di alas Krendawahana dimakan binatang buas atau oleh para raksasa-raksasa penghuni di sana. Lagian apa urusan kita, kok malah di suruh membantu segala.”

Arya Suman menjawab :

“Ya itu .. sebenarnya keinginanku seperti yang engkau ucapkan tadi Dur, tapi ini adalah perintah dari Ramamu. Jadi segera engkau bawa adik-adikmu untuk menyiapkan barisan”

Maka berangkatlah para Kurawa diiringi oleh barisan prajurit satu kompi sebagai pendamping, layaknya menghadapi peperangan saja.

20. nêngna ingkang maring Gôndamayi | Sri Narendra Pandhudewanata | asangêt nandhang wirage | wit saking wangkotipun | ingkang garwa Dyah Dèwi Madrim | tan arsa cinarêman | yèn pamintanipun | nitih lêmbu Dini kênya | tan katêkan suka kongsi praptèng pati | tan arsa pinarpêkan ||

21. sri pamasa susah masmu isin | sakalarsa sumêngkèng kayangan | sowan Hyang Guru sêdyane | ngampil Andini lêmbu | sri narendra sampun ambêsmi | dupa môngka sarana | tan antara dangu | dupa wus dadya pawaka | kantar-kantar kumukus ngayuh wiyati | Sri Pandhudewanata ||

22. dyan sidhakêp umangsah samadi | samantara sarira bathara | wus sirna kamanungsane | muksa apulang kukus | sumêngkèng wyat pangawak angin | samana Suralaya | Hyang Pramèsthi Guru | nuju lênggah lawan garwa | Dèwi Uma lan Sang Hyang Kanekasiwi | Sang Hyang Guru ngandika ||

Sementara itu Sri Narendra Pandhudewanata yang tengah dilanda kekawatiran akan nasib si Bungkus, bertambah judeg, pusing tujuh keliling sebab permintaan istri keduanya, Dewi Madrim. Dewi Madrim belum mau melakukan olah krida suami istri, kecuali bila telah menaiki lembu Andini. Permintaan itu tentu saja sangat membebani pikiran Sang Pandu. Bagaimana tidak ? Lembu Andini adalah kendaraan pribadi Batara Guru.

Sang Pandu tak mampu menolak permintaan itu meskipun sangat berat dan bisa dibilang mustahil untuk dipenuhi. Namun karena kasih sayangnya begitu dalam kepada madunya Dewi Kunti itu, kata-kata sanggup telah dilontarkannya. Sabda panditha ratu, tak hendak Sang Narendra menjilat ludahnya sendiri, tak akan dia mengingkari janji yang tlah terucap. Segala daya tentu akan diupayakan. Continue reading Bima Bungkus [3]

Bima Bungkus [2]


kurawa-dan-sengkuni-serta-aswatama

Sêrat Pakêm Bima Bungkus
Mawi kasêkarakên
Karanganipun Mas Ngabèi Mangunwijaya ing Wanagiri-Surakarta

9. Dhêstharata mèsêm ngandika ris | sira karo padha katambuhan | ananing lêlakon kiye | kelokane dewa gung | sira padha nora mekani | sanadyan isi jabang | yèn dewa linuhung | anitah dibya wantala | sayêktine ya nora bêbakal kaki |balik padha rasakna ||

10. ing samêngko bayi lagi lair | pan wus nora pasah ing gêgaman | saya besuk diwasane | iku kang ingsun rêmbug | Suyudana lawan Sangkuni | sarêng sami miyarsa | sabda kang kadyèku | karone wus samya nyandhak | karsanira Dhêstharata kang piningit | wusana Arya Suman ||

Mendengar jawaban dari adik ipar dan anaknya itu, tersenyum bijak Sang Dhêstharata. Walaupun matanya tidak dapat melihat bagaimana sikap mereka, namun mata hatinya mampu “melihat” ada kehendak yang tersembunyi. Dengan pelan kemudian Dhêstharata berkata :

“Kalian berdua jangan berpura-pura. Adanya kejadian ini adalah wujud dari kekuasaan Dewata semata. Walaupun secara nalar bayi di dalam bungkus tadi, pastinya membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, dan pula seharusnya telah remuk dihujani senjata-senjata pusaka, namun kalau Dewata berkehendak maka bayi tadi bakal tetap hidup dan suatu saat pasti akan terlahir. Masih belum terlahir saja, sudah tidak mempan segala macam senjata, apalagi nanti kalau sudah dewasa. Apakah kalian tidak berfikir sampai kesitu ?”

11. matur nêmbah dhuh kangmas samangkin | kula sampun tampi ingkang dadya | karsa paduka ing mangke | amba cumadhong dhawuh | ingkang badhe ulun lampahi | Dhêstharata ngandika | ing mêngko karsèngsun | sira lan saanakira | pra Kurawa padha lungaa marsudi | gêgaman kang utama ||

12. kang akêna kinarya nglunasi | bayi ingkang maksih bêbungkusan | aywa nganti mindho gawe | lan dèn prayitnèng kewuh | sumêktaa gamaning jurit | nanging dèn bisa sasab | wis mangkata gupuh | Sangkuni matur sandika | gya manêmbah lumèngsèr mêdal ing jawi | Sang Arya Dhêstharata ||

13. lan kang putra Arya Kurupati | sakalihan wus tumamèng pura | Arya Sangkuni duk praptèng | jawi laju dhêdhawuh | anglêmpakkên pra putra sami | kinèn siyagèng yuda | tan antara sampun | ngalêmpak pêpak ing ngarsa | Dursasana kasusu nungsung pawarti | hèh paman Arya Suman ||

“Terima kasih Kangmas atas pencerahannya. Saya telah mengerti apa yang menjadi kehendak Kangmas. Saya mengharap perintah segera”

“Kalau begitu Sengkuni, kamu beserta anak-anakku para Kurawa segeralah mencari senjata yang ampuh untuk membantu menghancurkan bungkus. Bawalah prajurit kalau memang diperlukan.”

Sangkuni berkata siap dan kemudian pertemuan di Gajahoya berakhir dengan sang Arya Dhêstharata serta Arya Kurupati keluar dari pasewakan agung. Continue reading Bima Bungkus [2]

Bima Bungkus [1]


BIMA kecil
Sêrat Pakêm Bima Bungkus

Mawi kasêkarakên

Karanganipun Mas Ngabèi Mangunwijaya ing Wanagiri-Surakarta

1. Dhandhanggula

1. pindha kang wus punjuling mêmanis | dènnya paksa mangikêt gitaya | tan mèngêt yèn nguni dèrèng | srawungan wiku putus | kang pinudyèng jana pinuji | ngijèni yasa darma | myang rèh susilayu | môngka witing rasa mulya | mrih tumangkar karya arsayèng dumadi | widagdèng tatakrama ||

2. marma tangèh sotaning tyas yêkti | yèn darbea cipta kang mangkana | wit tuna maniskarèng rèh | mila paksa mangapus | murwèng gita kinor kêkawin | lênging nala tan liyan | mung mrih darsanayu | yuwanane nungswa Jawa | kang kajarwa jroning jaman purwa nguni | ing pakêm padhalangan ||

3. mrih dadia kang têpa palupi | anglêluri lêluhur ing kuna | kênia kinarya tondhe | lêlakon duk ing dangu | kang tan yogya myang kang sayogi | dadia sudarsana | laksanèng tumuwuh | kang lulus budi raharja | tinulada sayêkti antuk basuki | kang ala tinêbihna ||

Cerita ini adalah karya leluhur. Diharapkan dapat menjadi piturur luhur. Menghaluskan budi menambah kebijaksanaan. Teladan yang baik jadikan pepadhang, yang tidak baik segera tinggalkan

4. mangkya ingkang pinurwakèng ruwi | môngka jêjêr nagri Gajahoya | Arya Dhêstharata mangke | lênggah siniwèng sunu | Radên Jayapitana tuwin | Wrêsni Sang Arya Suman | mangkana winuwus | Arya Prabu Dhêstharata | tinon kadya dahat angêmu wiyadi | surêm sunaring netya ||

5. samantara angandika ririh | Arya Suman kang pinujwèng sabda | hèh Sangkuni paran mangke | mungguh ing pamikirmu | bab putrane yayi narpati | kang mêtu bêbungkusan | wus antara dangu | sinetrèng Krêndhawahana | paran lamun sira nora padha mikir | wusananing laksana ||

Jejer Gajahoya

Arya Dhêstharata tengah duduk didampingi sang anak sulung, Radên Jayapitana
Dan juga Sang Arya Suman pun menghadap
Suasana duka meliputi Arya Dhêstharata terlihat dari raup wajahnya yang suram
Suasana diam, kemudian dipecahkan oleh ucapan Arya Dhêstharata yang ditujukan kepada adik iparnya :

“He Sangkuni, bagaimana kabar terakhir yang engkau terima tentang anaknya yayi narpati yang terlahir bungkus. Bukankah sudah cukup lama, bungkus ditinggalkan di alas Krêndhawahana. Apakah engkau tidak ikut berfikir untuk membantu men-solusi masalah ini ?” Continue reading Bima Bungkus [1]