Category Archives: Banjaran Cerita Pandawa

Kisah-kisah para Pandawa
Sumber http://tembi.org

Banjaran Cerita Pandhawa (46)


sumber : http://tembi.org

Rangkuman  Ketokohan Pandhawa
Yudhisthira sedang melakukan samadi (karya herjaka HS)

Rangkuman Ketokohan Pandhawa

Judul cerita bertokoh utama Yudhisthira yaitu: Puntadewa Lair, Sayembara Gandamana atau sayembara Durpadi dan Kuntul Wilanten.

Judul cerita bertokoh utama Bima yaitu Bima Bungkus, Arimba atau Lampahan Wanamarta, Dewaruci dan Senarodra.

Judul cerita bertokoh Arjuna yaitu: Lairipun Arjuna, Partakrama, Alap-alapan Rarasati, Srikandhi Maguru Manah, Alap-alapan Ulupi, Alap-alapan Gandawati, Mintaraga, Arjuna Sendhang dan Arjuna Terus.

Judul cerita yang bertokoh Nakula atau Sadewa yaitu: Lairipun Nakula dan Sadewa, Nakula Rabi dan Sadewa Rabi.

Judul cerita yang bertokoh Pandhawa bersama yaitu: Pandhawa Apus, Pandhawa Papa, Pandhawa Gupak, Pandhawa Dulit, Pandhawa Gubah, Pandhawa Sungging, Pandhawa Dhadhu, Bale Sagala-gala, Babad Wanamarta dan Pandhawa Babad.

Tokoh Pandhawa dilibatkan dalam cerita yang mirip dengan cerita tokoh manusia, meliputi cerita kelahiran, perkawinan, kematian dan peristiwa penting yang terjadi dalam masyarakat. Masing-masing tokoh disebut dengan berbagai nama.

Yudhisthira mendapat sebutan Dharmaputra (Damarputra), Dharmaatmaja (Darmaatmaja), Dharmawangsa (Darmawangsa), Punta, Puntadewa, Dremakusuma atau Darmakusuma.

Bima mendapat sebutan Bhima (Bima), Bhimasena (Bimasena), Pawanasuta, Bayusuta, Ballawa, Jagal Bilawa, Birawa, Sena, Arya Sena, Bratasena, Wejasena, Wrekodara, Wrekudara, Werkodara, Werkudara.

Arjuna mendapat sebutan Partha (Parta), Dhananjaya (Dananjaya), Wrehannala, Palghuna (Palguna), Palgunadi, Janaka, Pamade, Kombang Ali-ali, Kalithi dan Karithi.

Nakula mendapat sebutan Tangsen dan Grantika. Sadewa mendapat sebutan Sahadewa, Tantipala dan Pinten.

Negara Yudhisthira bernama Indraprastha (Indraprasta), Ngamarta dan Cintakapura.

Tempat tinggal Bima disebut Jodhipati dan Tanggul Pamenang.

Tempat tinggal Arjuna bernama Madukara dengan taman Maduganda.

Tempat tinggal Nakula di desa Sawojajar, sedang desa tempat tinggal Sadewa bernama Bumi Ratawu.

Yudhisthira beristeri Durpadi dan beranak Pancawala. Isteri lain bernama Kuntul Wilanten, tetapi isteri telah merasuk ke tubuh Yudhisthira.

Bima beristeri Hidimbi (Arimbi), beranak Gathotkaca, beristeri Nagagini beranak Antareja, dan beristeri Urangayu beranak Antasena.

Arjuna beristeri Sumbadra, Srikandi dan Larasati (Rarasati), Ulupi, Gandawati, Dresanala, Supraba, Partawati, Srimendang dan beberapa isteri lain yang tidak disebut namanya, tetapi disebut anaknya. Anak Arjuna yang sering disebut-sebut dalam cerita yaitu: Abimanyu, Irawan, Wisanggeni, Pergiwa dan Pergiwati.

Nama-nama tokoh anak Arjuna yang lain yaitu: Bambang Srigati, Bambang Nilasuwarna, Bambang Wijanarka, Bambang Tejasuwarna, Bambang Setiwijaya, Bambang Setiwigena, Bambang Manon Manonton, Dewi Gandasasi.

Nakula beristeri Soka dan Dewi Suyati, beranak Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati.

Sadewa beristeri Padapa dan Dewarsini. Ia beranak Dewakusuma, Dewi Rayungwulan dan Bambang Sabekti.

Pandhawa terkenal sebagai tokoh sakti . yudhisthira terkenal pusakanya yang berupa pusaka Kalimasada. Bima terkenal gagah perkasa, teguh sentosa dan mempunyai gada sakti bernama Gada Rujak Polo. Kukunya yang terkenal kuat dan sangat berguna untuk membunuh musuh bernama Pancakenaka. Aji yang berkekuatan luar biasa bernama Jayasangara atau Jalasangara.

Arjuna terkenal pandai bermain panah. Panah saktinya bernama Pasupati, Aryasengkali, Sarotama dan Ardhadhali. Keris saktinya bernama Kalanadhah dan Pulanggeni.

Nakula dan Sadewa tidak banyak diceritakan kehebatannya, hanya Sadewa yang dekat dengan dewa.

Dalam akhir hidup mereka, menurut cerita Jawa kuna, hanya Yudhisthira yang suci dan tidak berdosa, maka ia naik ke surga. Sedang Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa harus masuk neraka, mereka berdosa. Mereka masuk ke surga setelah bersuci diri di sungai Gangga. Dalam cerita lakon Pandhawa Mukswa semua warga Pandhawa bisa mukswa ke surga tanpa menjalani hukuman di neraka.

R.S. Subalidinata

Banjaran Cerita Pandhawa (45)


sumber : http://tembi.org

Tokoh Nakula dan  Sadewa
Sadewa saat menyamar menjadi Tantripala (karya : herjaka HS)

Tokoh Nakula dan Sadewa

Cerita kelahiran para Pandhawa yang bersumber pada kitab Mahabharata, pada bagian yang disebut Adiparwa menyebutkan bahwa anak Pandu yang keempat, lahir dari Madri atau Madrim, bernama Nakula dan Sahadewa (Adiparwa, 1906: 122).

Nama Nakula sering menjadi Sakula (Sudamala : IV.19). Sahadewa menjadi Sadewa (Sudamala: I,99). Dalam cerita Sudamala, Uma memberi nama Sadewa menjadi Sudamala setela ia diruwat olehnya. (Sudamala: IV.72)

Ketika Pandhawa mengabdi ke Wiratha, Nakula berganti nama Grantika, sedangkan Sadewa berganti nama Tantripala (Wirataparwa , 1912: 11)

Dalam cerita Jawa baru Nakula sering disebut dengan nama Tangsen, sedangkan Sadewa dengan nama Pinten (Mayer, 1924 : 159)

Dalam cerita Sudamala, Sakula atau Nakula memperisteri Soka dan Sadewa memperisteri Padapa, setelah Sadewa menyembuhkan Tambapetra ayah dua perempuan itu (Sudamala: IV. 81).

Dalam cerita lakon Nakula Rabi, Nakula memperisteri Dewi Suyati anak Prabu Kridhakerata raja Ngawuawu Langit (Mangkunagara VII Jilid XXI. 1932: 3)

Dalam cerita Gembring Baring diceritakan Nakula beristeri Ganawati (Gembring Baring: XCVIII.20).

Dalam cerita lakon Sadewa Rabi, Sadewa memperisteri Dyah Dewarsini anak Sang Badhawangan Nala yang bertempat di Toyawangi (Mangkunagara VII Jilid XXI, 1932: 15)

Nakula dan Sadewa boleh dikata tidak banyak diangkat dalam cerita sebagai tokoh utama.. mereka berdua lebih banyak berkedudukkan sebagai tokoh penyerta yang selalu mengikuti Yudhisthira. Seolah-olah mereka menjadi ajudan raja Ngamarta.

Rangkuman mengenai ketokohan Pandhawa

Budaya pewayangan tumbuh dan berkembang di masyarakat Jawa sejak abad sepuluh, dan sekarang masih dicintai oleh masyarakat. Budaya pewayangan yang didukung oleh karyasastra tulis berkembang lewat karya sastra Jawa kuna, Jawa tengahan dan Jawa baru. Karyasastra tulis itu didukung oleh pertumbuhan dan perkembangan cerita yang bersumber pada cerita Ramayana dan Mahabarata.

Cerita yang bersumber pada kitab Mahabarata (Mahabharata) menampilkan tokoh Pandhawa dan nenek moyangnya, serta keturunannya. Cerita itu dikembangkan dengan mengangkat tokoh Pandhawa (Yudhisthira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa) dan putra-putranya. Kebanyakan cerita itu masih berpangkal pada sumber asli dan cerita baru direka menurut tujuan penciptaan masing-masing cerita.

Karyasastra Jawa kuna yang memuat cerita tokoh Pandhawa secara kelompok dan perorangan yaitu: kitab-kitab parwa, Parthayajna, Arjunawiwaha, Parthayana dan Bharatayudha. Yang berbahasa Jawa tengahan yaitu: Nawaruci dan Sudamala. Karyasastra Jawa baru yang muncul dan bersumber pada cerita lama, yaitu Mintaraga, Wiwaha Jarwa, Dewaruci, Bimasuci, Bratayudha, Partakrama, Srikandhi Maguru Manah, Bagawan Senarodra. Cerita yang didukung oleh karyasastra dalam bentuk cerita pakem balungan (kerangka cerita dan menampilkan tokoh-tokoh Pandhawa dimuat dalam Serat Padhalangan Ringgit Purwa , Serat Lampahan Ringgit Purwa dan Serat Pakem Ringgit Purwa

Tokoh-tokoh Pandhawa diangkat untuk mencipta cerita dengan menampilkan tokoh Pandhawa secara bersama dan secara perorangan, disusun dalam cerita yang melibatkan tokoh Korawa, Dwarawati, Mandura, Wiratha, raja sabrang dan Kahyangan.

R.S. Subalidinata

Banjaran Cerita Pandhawa (44)


sumber : http://tembi.org

Tokoh Arjuna
Arjuna dengan gelar Mintaraga bertapa di Gunung Indrakila ditemani oleh empat Panakawan
yaitu Semar. Gareng, Petruk dan Bagong (karya: herjaka HS)

Tokoh Arjuna (2)

Dalam cerita Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa, Arjuna kawin dengan tujuh bidadari setelah berhasil membunuh Niwatakawaca raja Himantaka (Arjunawiwaha: XXXV. 1-15). Nama bidadari itu Supraba, Palupy, Tilottama, Menaka. Ternyata disebut tujuh bidadari, tetapi hanya dikemukakan empat nama saja. Dalam Serat Mintaraga karya Sunan Paku Buwana III, bidadari yang disebut yaitu Gagarmayang, Supraba, Tilotama, Warsiki dan Warsini. Dua cerita berjudul Mintaraga (Mayer, 1924: 124) hanya disebut lima bidadari, yaitu Supraba, Wilotama, Warsiki, Surendra dan Gagarmayang.

Cerita perkawinan Arjuna dengan Srikandhi dimuat dalam buku Srikandhi Maguru Manah karangan Raden Ngabehi Sindusastra (VBG XXXIII No. 167, 1874), dan dalam bentuk cerita lakon berjudul Srikandhi Maguru Manah (Pakem Ringgit Purwa, SP 192 Ra: 62).

Arjuna juga memperisteri Dresanala dan beranak Wisanggeni (Mangkunagara VII Jilid XXVIII, 1932: 3) Arjuna dengan nama Pamade memperisteri Kencanawati dan Kencanawulan anak Prabu Sokadrema raja Sokarumembe, dalam cerita berjudul Lampahan Lobaningrat (Mayer, 1924: 249)

Dari beberapa cerita diperoleh nama-nama anak Arjuna, tetapi tidak disebut nama ibu tokoh itu atau nama isteri Arjuna yang melahirkannya. Anak Arjuna yang sering disebut-sebut yaitu:

  1. Bambang Nilasuwarna dan Endhang Nilawati, cucu Bagawan Pramanasidi dari pertapaan Gebangtinatar.
  2. Bambang Wijanarka, cucu Bagawan Partana dari Guwawarna.
  3. Bambang Tejasuwarna, cucu Bagawan Jatisupadma dari Andongraras.
  4. Bambang Manon Manonton, cucu Bagawan Sidiwacana dari pertapaan Andongpurnama
  5. Bambang Setiwijaya dan Bambang Setiwigena, cucu Bagawan Jatimulya dari pertapaan Argatilasa (Padmosukotjo, 1954: 94).

Mangkunagara IVdalam kitab Candrarini menyebut nama isteri Arjuna, yaitu Dewi Manohara, anak Bagawan Manikhara dari Wukir Tirtakawama (Mangkunagara IV, 1953: 58)

Jumlah istri Arjuna boleh dikata banyak, maka tokoh Arjuna mendapat sebutan Lelananing Jagad. Cerita itu dimuat dalam cerita berjudul Arjuna Sendhang (Mangkunagara VII Jilid XX, 1932:17) dan Arjuna Terus (Mangkunagara VII Jilid XXVII, 1932:20).

Tempat tinggal Arjuna bernama Madukara, sedangkan tamannya terkenal dengan taman Maduganda. Pada umumnya masyarakat memberi konotasi terhadap Arjuna sebagai kesatria yang ideal, terpuji, tangguh, berani berperang serta selalu menang dalam peperangan. Arjuna dikenal sebagai kesatria sakti yang kesaktiannya diperoleh karena tapanya dan didukung panah Pasupati anugerah dewa Siwah (Mintaraga, 1884: VII. 16: Arjunawiwaha : XII.1). Selain itu didukung pula oleh keris saktinya yang bernama Kalanadhah dan Pulanggeni, konon berasal dari taring Bathara Kala yang dicipta menjadi keris oleh Batara Guru. Selain Pasupati, panah Arjuna yang sakti bernama Ardhadhadhali, Sarotama dan Aryasengkali (Padmosukotjo, 1954: 91).

Dalam perang Bharatayudha Arjuna membunuh Baghadhata (Bharatayudha: XIII.16)’ Jayadrata (Bharatayudha: XVI.6), Karna (Bharatayudha: XXXI.24). Arjuna bersama Srikandhi membunuh Bhisma dengan panah saktinya (Bharatayudha: XII.4).

R.S. Subalidinata

Banjaran Cerita Pandhawa (43)


Calon Raja yang Cantik
Arjuna ditemani Gareng, Petruk dan Bagong sedang berguru (karya Herjaka HS)

Tokoh Arjuna (1)

Dalam cerita kelahiran para Pandhawa yang bersumber kitab Mahabharata, pada bagian yang disebut Adiparwa, anak Pandhu yang ketiga lahir dari Kunthi bernama Arjuna, keturunan Sang Hyang Indra (Adiparwa, 1906: 121).

Penulis cerita dalam kitab Adiparwa juga menyebut Arjuna dengan nama Partha dan Dhananjaya (Adiparwa, 1906: 200). Dalam cerita Jawa kuna lainnya, Arjuna dapat sebutan Partha (Arjunawiwaha: 1.6) dan Arya Partha (Arjunawiwaha: IV.2), Dhananjaya Bharatayudha: 1.13). ketika Pandhawa mengabdi ke negara Wiratha, Arjuna menggunakan nama Wrhannala (Wirathaparwa, 1912: 11) Nama Palguna ditemukan dalam cerita perkawinan Arjuna dengan Subhadra (Parthayana: II.I) dan cerita Arjuna bertapa di Indrakila (Arjunawiwaha: VIII.8)

Nama-nama yang digunakan dalam cerita Jawa baru, yaitu Janaka (Mayer 1924: 45); Kalithi (Mayer 1924: 136) Dhananjaya (Bhimasuci: VI.4); Pamade (Mayer 1924: 159); Palgunadi (Gembring Baring: LXXXIV. 19) Karithi (Mangkunagara VII Jilid XXIX, 1932: 3); Kombang Aliali (Mangkunagara VII Jilid IX, 1931: 3)

Arjuna bernama Partakusuma dalam cerita lakon berjudul Babad Wanamarta (Mangkunagara VII Jilid IX, 1931: 8) cerita itu berisi perkawinan Arjuna dengan Partawati anak Partakusuma raja Ringinsungsang. Setelah berhasil mengambil menantu Arjuna, raja Partakusuma bunuh diri dengan keris Arjuna yang bernama Pulanggeni, kemudian merasuk bersatu dengan Arjuna. Dalam cerita itu juga diceritakan persatuan Arjuna dengan Kombang Aliali raja Cintakapura. Oleh karena itu Arjuna mendapat sebutan Partakusuma dan Kombang Aliali.

Arjuna mendapat sebutan Karithi atau Prabu Karithi dalam cerita lakon berjudul Arjunawiwaha (Mangkunagara VII Jilid XXI, 1932: 3). Arjuna dinobatkan menjadi raja di Indraloka setelah berhasil membunuh Niwatakawaca raja Manimantaka. Mayer dalam ceritanya yang berjudul Mintaraga memberi nama Prabu Kalithi (Mayer, 1924: 136)

Arjuna bernama Arjunawibawa dalam cerita lakon berjudul Arjunawibawa (Mangkunagara VII Jilid XXI, 1932: 13). Arjuna menyamar dan menjadi raja Sriwedari supaya tidak diketahui oleh Korawa. Ketika kerajaan Wiratha yang diperintah oleh Mastwapati diserang oleh Korawa, Arjunawibawa berhasil melawan serangan Korawa.

Arjuna bernama Gendreh Kemasan dalam cerita lakon berjudul Yudanagara atau Gendreh Kemasan (Mangkunagara VII Jilid XXIX, 1932: 18). Arjuna dengan nama Gendreh Kemasan mengusir para Korawa yang akan menguasai negara Dwarawati dan Wiratha.

Arjuna bernama Palgunadi setelah jari tangannya ditambah jari Palgunadi, raja Paranggelung yang lebih mahir dalam ulah memanah. Cerita tersebut dimuat dalam lakon yang berjudul Palgunadi (Mangkunagara VI Jilid VII, 1930: 22) Dalam cerita Jawa kuna dikenal cerita Ekalawya yang belajar memanah dengan menyembah patung Drona setelah ia ditolak keinginannya untuk berguru kepada Drona (Adiparwa, 1906: 129).

Arjuna banyak beristeri. Dalam kitab Adiparwa diceritakan perkawinan Arjuna dengan Ulupy, Citragandha dan Subhadra. Cerita itu juga dimuat dalam kakawin Subhadrawiwaha atau Parthayana (Naskah Kirtya Nomor 141). Perkawinan Arjuna dengan Ulupy dimuat dalam kitab Adiparwa. Ulupy adalah anak Airawata raja negara Karawya (Adiparwa 1906: 198). Perkawinan Arjuna dengan Ulupy menghasilkan anak Irawan (Bharatayudha: XII. 17). K.G.P.A.A. Mangkunagara II menyusun perkawinan Arjuna dengan Ulupy dalam cerita lakon berjudul Alap-alapan Ulupy (Mangkunagara VII Jilid XVII, 1932: 15). Ulupi adalah anak Bagawan Kanwa, pendeta di pertapaan Yasarata.

Perkawinan Arjuna dengan Citragandha anak Maharaja Prabhakara atau Citradahana raja Manayura (Adiparwa, 1906: 199) atau Mayura (Parthayana: XVIII. 19), dianugerahi anak bernama Wabhruwahana. Bila dibandingkan dengan cerita Alap-alapan Gandawati (Mangkunagara VII Jilid XIX, 1932: 19), ternyata berbeda. Gandawati adalah anak Prabu Gandasena, raja Tasikmadu.

Cerita perkawinan Arjuna dengan Subhadra atau Sumbadra baik dalam cerita Adiparwa (Adiparwa, 1906: 202), mau pun dalam Subhadrawiwaha atau Parthayana sama. Dalam cerita Jawa baru dimuat dalam buku Partakrama karangan Sindusastra (VBG XXXIII No. 169, 1875) dan cerita lakon berjudul Partakrama

R.S. Subalidinata
Lampahan Ringgit Purwa, Naskah PB A- 44: 34

Banjaran Cerita Pandhawa (42)


Tokoh Bima

Tokoh Bima

Tokoh Pandhawa adalah salah satu kelompok tokoh cerita pewayangan yang digemari masyarakat Jawa. Lebih-lebih dalam kaitannya dengan tokoh-tokoh Korawa. Masyarakat Jawa, terutama dalang dan para penulis cerita mengangkat tokoh Pandhawa sebagai tokoh yang baik. Masing-masing tokoh mempunyai kelebihan, kehebatan yang luar biasa. Demikian hebat dan berlebihan tentang tokoh itu, sehingga kedudukan masing-masing tokoh dianggap sebagai tokoh ideal. Berikut ini beberapa pengamatan melalui beberapa sumber cerita yang melibatkan tokoh-Bima

Dalam cerita kelahiran Pandhawa yang bersumber pada kitab Mahabharata pada bagian yang disebut Adiparwa, anak Pandhu yang ke dua lahir dari Kunthi bernama Bimasena, keturunan Sang Hyang Bayu atau Sang Hyang Prabanjana (Adiparwa, 1906: 121) Dalam kitab Adiparwa itu nama Bimasena lebih banyak disebut dengan nama Bima. Dalam kitab Wirataparwa juga ada sebutan Bhimasena (Wirataparwa, 1912: 11) Dalam kitab Bharatayudha karangan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh Bima mendapat sebutan Bhima (Bharatayudha XVII. 6) Pawanasuta (Bharatayudha XVIII. 4), Wrkodara (Nawaruci, 1934: 45) Ketika Pandhawa mengabdi ke negara Wiratha, Bima berganti nama Ballawa (Wirathaparwa, 1912: 11).

Dalam cerita Jawa baru nama Bima kebanyakan mengikuti nama yang disebut dalam cerita Jawa kuna. Yaitu Bima dan Arya Bima (Bimasuci: IX. 6), Sena dan Arya Sena (Bimasuci III. 13), Wrekudara (Bimasuci: 1. 2), Raden Wrekodara (Bimasuci, 1937: 92), Pawanasuta (Bimasuci IV. 10), Werkudara dan Werkodara (Mayer, 1924: 48, 234) Nama Bratasena atau Arya Sena pemberian Bathara Narada atas perintah Bathara Guru, dan dimuat dalam cerita Bima Bungkus (Mangkunagara VII Jilid V, 1930: 24), setelah bungkus bayi dipecah oleh Gajah Sena.

Ketika Bima lahir terdengar suara dari angkasa yang menerangkan, bahwa bayi itu kelak mahasakti dan luar biasa. Sejak kanak-kanak Bima diberi makanan beracun oleh Korawa. Makanan dimakan, tetapi Bima tidak mati. (Adiparwa, 1906: 120-125)

Cerita Bima beristeri Hidimbi dimuat dalam kitab Adiparwa, kemudian beranak Gathotkaca (Adiparwa, 1906: 145) Dalam cerita Jawa baru dimuat dalam cerita lakon berjudul Lairipun Gathotkaca (Mangkunagara VII Jilid X, 1932: 19). Isteri Bima yang semula bernama Hidimbi menjadi Arimbi.

Bima juga beristeri Nagagini anak Anantaboga di pertapaan Saptapratala, kemudian beranak Antasena atau Anantasena (Mangkunagara VII Jilid X, 1932: 14) sumber lain menceritakan, pekawinan BIma dengan Nagagini anak Hyang Anantaboga melahirkan anak Antareja. Sedangkan Antasena adalah anak dari hasil perkawinan Bima dengan Dewi Urangayu (Padmosukotjo, 1954: 90)

Pada umumnya Bima atau Wrekodara dilukiskan sebagai tokoh sakti, kuat, teguh pendiriannya dan sukar ditaklukkan keinginnannya. Dalam cerita Nawaruci, Bima membunuh dua naga jantan betina di sumur Dorangga, yang kemudian naga itu berubah menjadi dewa Sarasanbaddha dan bidadari Harsanadi (Nawaruci, 1934: 28).

Selanjutnya Bima juga membunuh raksasa bernama Indrabahu di tegal Andawana. Raksasa itu ternyata dewa Indra (Nawaruci, 1934: 32). Dalam cerita Dewaruci gubahan Raden Ngabehi Yasadipura I, Bima membunuh raksasa Rukmuka dan Rukmakala yang bertempat di goa Candramuka. Setelah dibunuh dua raksasa itu menjadi dewa Indra dan dewa Bayu (Dewaruci: II. 17-21). Cerita pembunuhan dua raksasa itu sama dengan cerita Bimasuci karangan Dr.M. Prijohoetomo dalam kumpulan karangannya yang berjudul Javaansch Leesboek (Amsterdam, 1937).

Dalam cerita perang Bharatayudha, Bima membunuh Dussasana (Dursasana) dengan kukunya (Bharatayudha: XIX. 14) dan membunuh Duryodana dengan memukulkan gadanya (Bharatayudha: XL VIII. 2)

Kesaktian Bima didukung oleh senjata yang terkenal dengan nama Gada Rujak Polo dan pemilikan beberapa ilmu. Aji atau ilmunya bernama Wungkal Bener, Bandung Bandhawasa dan Jayasangara (Hardjawiraga, 1982: 173). Raden Ngabehi Yasadipura I menyebut aji terakhir itu dengan nama Jayasangsara (Dewaruci: IV. 3)

Dalam cerita Senaroda, Bima mengangkat diri menjadi bagawan bergelar Bagawan Senaroda, mengajarkan ilmu baru tentang Ilmu Kesempurnaan Sejati (Suwandi, 1923: 35)

Dalam beberapa lakon yang melibatkan tokoh Pandhawa, Bima kerap kali diangkat sebagai tokoh pemusnah musuh yang menyerang negara Ngamarta, Dwarawati dan Wiratha.

R.S. Subalidinata

Banjaran Cerita Pandhawa (41)



Puntadewa mengendarai kereta pusaka maju perang melawan Salya (karya : herjaka HS)

Persepsi Masyarakat Terhadap Tokoh Pandhawa

Tokoh Pandhawa salah satu kelompok tokoh cerita pewayangan yang digemari masyarakat Jawa. Lebih-lebih dalam kaitannya dengan tokoh-tokoh Korawa. Masyarakat Jawa, terutama dalang dan para penulis cerita mengangkat tokoh Pandhawa sebagai tokoh yang baik. Masing-masing tokoh mempunyai kelebihan, kehebatan yang luar biasa. Demikian hebat dan berlebihan tentang tokoh itu, sehingga kedudukan masing-masing tokoh dianggap sebagai tokoh ideal. Bermacam-macam tanggapan masyarakat terhadap tokoh-tokoh Pandhawa.

Berikut ini beberapa pengamatan melalui beberapa sumber cerita yang melibatkan tokoh-tokoh Pandhawa.

Tokoh Yudhisthira

Dalam cerita kelahiran para Pandhawa yang bersumber kitab Mahabharata pada bagian yang disebut Adiparwa, anak Pandhu yang pertama lahir dari Kunthi, bernama Yudhisthira adalah keturunan Dewa (Adiparwa, 1906: 120). Dalam cerita Jawa kuna Yudhisthira mendapat sebutan Dharmaputra (Bharatayudha: XIV. 3) Dharmasuta (Bharatayudha XVII. 4), Dharmaatmaja (Bharatayudha: XVII. 11) Dharmawangsa (Sudamala: IV. 101; Nawaruci, 1934: 35), Punta (Arjunapralabda: IV. 19).

Ketika Padhawa menyamar dan mengabdi ke kerajaan Wiratha, Yudhisthira mengaku bernama Kangka atau Dwijakangka (Wirataparwa, 1912: 10). Nama Dwija Kangka juga ditemukan dalam kitab Abhimanyuwiwaha (Abhimanyu wiwaha: IV.11)

Dalam cerita pewayangan Jawa baru Yudhisthira mendapat sebutan Darmaputra (Bratayuda 1954: II. 6), Punta (Mayer, 1924:31), Puntadewa (Gembring Baring: LVIII.7), Dremakusuma ( Gembring Baring XXXVI. 27), Prabu Darmakusuma ( Mangkunagara VII Jilid IX, 1932: 19)

Yudhisthira beristeri Drupadi anak Prabu Drupada raja Pancala, kemudian beranak Pancawala. Dalam kitab Adiparwa diceritakan Drupadi menjadi isteri lima anggota Pandhawa (Adiparwa, 1906: 1818), atas perintah Kunthi yang sejak mereka berlima datang memberi tahu hasil kemenangannya mengikuti sayembara. Dikira mereka menyampaikan hasil minta-minta, bukan putri Drupadi. Karena terlanjur diucapkan oleh ibunya, supaya diperuntukkan lima saudara, maka Drupadi diperisteri lima warga Pandhawa. Perkawinan Drupadi dengan Yudhisthira beranak Pratiwindya, dengan Bima beranak Sutasena, dengan Arjuna beranak Srutakarma, dengan Nakula beranak Prasani dan dengan Sadewa beranak Srutasena (Adiparwa, 1906: 205) lima anak Drupadi itu disebut Pancakumara, artinya lima anak laki-laki.

Dalam cerita Kuntul Wilanten (Mangkunagara VII Jilid IX, 1931: 25), Puntadewa kawin dengan Kuntul Wilanten anak raja Gendhing Kapitu, atas permintaan Kresna untuk syarat tolak bahaya wabah negeri Ngamarta. Kuntul Wilanten diperisteri Puntadewa (Yudhisthira ) setelah sayembara dengan mengalahkan empat putra raja Gendhing Kapitu dimenangkan oleh Pandhawa yang diwakili oleh Bima. Setelah perkawinan Kuntul Wilanten merasuk ke tubuh Yudhisthira, menyatu sejiwa raga dengan Yudhisthira.

Cerita yang mengangkat tokoh Yudhisthira atau Puntadewa pada umumnya memberi kesan sebagai tokoh baik. Dikatakan Puntadewa sebagai jelmaan dewa Darma, berdarah putih, berhati sabar dan jujur. Ia sebagai raja yang adil, berhati samodera, tidak sayang akan hidup dan rela mati, berhati suci. Ia mempunyai kesaktian yang luar biasa (Padmosukotjo, 1954: 88)

Pada umumnya orang memberi konotasi, bahwa Yudhisthira berjiwa lemah, tidak dapat berperang. Mau berperang bika didorong oleh Kresna. Mpu Panuluh dalam kakawin Bharatayudha mengatakan, Yudhisthira anak dewa Darma bersikap tenang, karena sifatnya lemah lembut dan dalam pikirannya selalu memberi maaf (Bharatayudha: XL. 10). Ketika Kresna membujuk Yudhisthira untuk berperang melawan raja Salya, mula-mula ragu-ragu, sebab raja Salya dianggap sebagai ayah sendiri. Tetapi karena raja Salya telah terlalu jauh berbuat dan melanggar aturan agama, maka Yudhisthira sanggup menahan serangan raja Salya (Bharatayudha: XLI. 5-6). Kemudian Yudhisthira mau membunuh raja Salya dengan senjata Pustaka yang bernama Kalimahosadha (Bharatayudha: XLII. 8)

Dalam cerita lakon berjudul Lampahan Sindusena (Mangkunagara VII Jilid XIV, 1932: 9) Yudhisthira menyamar menjadi seorang petapa bernama Bagawan Darmakusuma, bertempat di pertapaan Argadumilah. Ia disertai oleh penyamaran empat adiknya. Arjuna bernama Bambang Partakusuma, Nakula bernama Bambang Dewasuyasa, Sadewa bernama Bambang Tasasadewa dan Bima bernama Sindusena.

Hampir dalam setiap lakon penulis cerita mengangkat Yudhisthira sebagai raja Ngamarta yang bijaksana, sebagai anggota Padhawa tertua pengasuh adik-adiknya dengan cintakasih, serta selalu hormat dan menjaga keselamatan Kunthi, ibunya.

R.S. Subalidinata

Banjaran Cerita Pandhawa (40)



Puntadewa bersama Anjing Linggasraya menuju kemuksaan (karya: herjaka HS)

Pandhawa Muksa (2)

Sri Kresna, Kunthi, Drupadi dan para Pandhawa meneruskan perjalanan mereka. Tiba-tiba mereka melihat seorang nenek sedang menimba sumur. Setiap air yang ditimba sampai di atas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur lagi. Sri Kresna menanyainya. Nenek itu bernama Nyai Ruminta. Ia memberitahu, bahwa harta kekayaannya dimasukkan ke dalam sumur, sebab sejak perang Baratayuda akan dirampok oleh perajurit Korawa. Ia menjadi janda dan menjadi salah satu korban perang. Jika Pandhawa tidak dapat menemukan dan mengembalikan kekayaannya, pasti akan mendapat hukuman Tuhan. Sri Kresna sanggup mengembalikan harta kekayaan Nyai Ruminta. Nyai Ruminta disuruh minta bantuan orang se desa untuk mengisi sumur dengan air sampai penuh meluap-luap. Orang sedesa mengambil air dari berbagai sumur, dituangkan ke dalam sumur yang berisi harta kekayaan itu. Bersama luapan air sumur keluarlah barang-barang emas berlian dari dalam sumur. Sri Kresna minta agar harta itu untuk semua orang di desa Samahita.

Sri Kresna dan Bima melanjutkan perjalanan, mengejar perjalanan saudara-saudaranya yang telah jauh berjalan.

Perjalanan mereka tiba di tepi samodera. Sri Kresna membuang pusaka saktinya yang bernama Sekar Wijaya Mulya. Sekar Wijaya Mulya mendarat di pulau, kemudian tumbuh menjadi: (1) tempat bunga tumbuh menjadi pohon Kastuba (2) bunganya tumbuh menjadi pohon Kembang Wijaya Kusuma (3) tutupnya tumbuh menjadi empon-empon umbi-umbian. Perjalanan mereka tiba di sebuah rumah bertutup pintu di desa Padapa. Yang empunya rumah tidur di dalam. Bima dan Puntaewa mendekat, melihat orang yang telah tidak berkaku. Orang itu bernama Anggira, bekas abdi Gardhapati raja Singala. Ia korban perang Baratayuda yang masih hidup karena kebaikan seorang dukun dari desa Soka. Kunthi member aji Pameling. Drupadi memberi pusaka Sumbul Musthika yang bisa menghasilkan makan-makanan. Bima member aji Pagracut. Sri Kresna, Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa memberi doa puji keselamatan untuk Anggira.

Mereka tiba di desa Soka, bertemu dengan Kuda Prewangan. Bima tahu, bahwa Kuda Prewangan itu jelmaan Dhang Hyang Drona, Arjuna segera melepaskan panah, kuda Prewangan musnah seketika. Didengar suara Drona, mengucap terimakasih atas kebaikan para Pandhawa.

Orang-orang di desa Soka marah, para Pandhawa dikeroyok, tetapi mereka tidak mampu mengalahkan, meskipun para Pandhawa tidak melawannya. Bima menjelaskan dan minta maaf. Bima member ajaran kepada semua orang di desa Soka tentang hakikat pengabdian manusia di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Sri Kresna, Kunthi, Drupadi dan para Pandhawa selesai melakukan pemujaan berkeliling, lalu kembali ke kerajaan Ngastina. Selama dalam perjalanan Bima dan Kresna membicarakan amal bakti Dhang Hyang Drona.

Raja Parikesit dan sanak saudaranya menjemput kedatangan mereka. Bima disambut tangis oleh dua cucunya. Danurwenda dan Sasi Kirana. Bima memberi nasihat banyak tentang hakikat dan kehidupan. Bima mengharap segala sikap Pandhawa selama hidup menjadi teladan bagi mereka berdua. Bima menghadiahkan aji kepada Danurwenda. Aji itu bernama Bandung Bandawasa, Ungkal Bener dan Blabak Pangantolantol. Kemudian memberikan gada Lukitamuka dan tombak Wilugarba kepada Sasi Kirana.

Kunthi, Drupadi, Nakula, Sadewa, Arjuna, Puntadewa dan Bima muksa. Para anak cucu menyaksikan kemuksaan mereka. Kunthi berpakaian serba putih, naik ke candhi Rukmi, lalu bersamadi. Kemuksaan Kunthi ditandai oleh cahaya berbinar-binar menyambar Candhi Rukmi. Sukma dan raga Kunthi muksa.

Drupadi berpakaian serba putih, naik ke Candhi Rukmi, lalu bersamadi. Kemuksaan Drupadi ditandai oleh sinar bundar seperti matahari berlubang berseri-seri.

Nakula dan Sadewa bercuci diri di sungai Gangga, lalu mengenakan pakaian brahmana. Mereka masuk ke Candhi Sekar, bersamadi. Kemuksaan mereka ditandai oleh tiupan angin topan.

Arjuna mandi di Sendhang Pangruwatan, lalu mengenakan pakaian brahmana. Arjuna masuk ke Candhi Sekar, bersamadi. Kemuksaan Arjuna kelihatan seolah-olah Arjuna naik dalam kereta yang nampak seperti cahaya berseri-seri. Kereta cahaya ditarik oleh seratus kuda, dikemudikan dewa dan dipayungi bidadari.

Puntadewa (Darmakusuma) bersama anjing naik ke Candhi Rukmi. Anjing itu bernama Linggasraya, kemudian berubah menjadi dewa Darma setelah ia memberi tafsiran terhadap tulisan yang didapat dalam Kalimsada. Dewa Darma kembali ke kahyangan, Dewa Indra menjemput Puntadewa dengan kereta cahaya dari kahyangan. Puntadewa muksa bersama Dewa Indra.

Bima berbincang-bincang dengan Sri Kresna. Sri Kresna tidak akan muksa bersama Pandhawa sebab berbeda amal baktinya. Atas saran Bima, Sri Kresna bertapa di laut pasir, di tepi samodera. Setelah mereka selesai berbicara masalah muksa, Sri Kresna masuk dalam Candhi Rukmi, lalu pergi ke laut pasir untuk mencari kemuksaan.

Bima masuk ke Candhi Sekar, bersamadi. Kemuksaan Bima ditandai oleh suasana tenang dan sunyi.

Para pandhawa telah muksa, raja Baladewa minta agar Candhi Rukmi dan Candhi Sekar dibakar segera.

Prabu Kiswaka dan Wesi Aji datang, menyerang kerajaan Ngastina. Setyaki dan Sasi Kirana menyambut serangan musuh Prabu Kiswaka hancur dipukul Setyaki dengan gada Wesi Kuning, Wesi Aji hancur kena pukulan gada Lukitamuka.

Parikesit, Baladewa, Patih Dwara, Patih Danurwenda dan para sanak saudara berkumpul, mendoakan, arwah para Pandhawa yang telah muksa ke alam baka.

Tancep kayon.
Sumber dari: Ki Tristuti Suryaputra. Lampahan Pandhawa Muksa. Surakarta, 1988, R.S. Subalidinata