Category Archives: Cerita Wayang

PANCAWISAYA


 

PANAKAWAN 2

“Kakang Semar, berilah ndaramu ini ujaran-ujaran nan bijak agar tentram hati ini”

Arjuna memulai perbincangan dengan para panakwan di hutan itu sesaat setelah dia menemukan tempat yang pas untuk melakukan tapa brata.

“Eeeee … mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng . Saya memahami bagaimana sedih dan pedihnya ibunda nDara, Dewi Kunti, mengingat akan nasib anaknya nDara Werkudara. Orang tua mana sih yang tidak sayang kepada anak-anaknya ? Bahkan pabila sang anak sudah dewasa-pun kasihnya tiada akan pernah berkurang, apatah lagi luntur. Apalagi, nDara Kunti adalah ibu nDara Werkudara yang telah melahirkannya di dunia ini, maka kasih sayangnya tentu tak terbantahkan”

“Itulah kakang, hal yang menyebabkan aku sampai kesini”

“Nggih nDara, saya hanya ingin sedikit memberi sesuatu yang mungkin dapat ndara resapi, pahami dan kemudian dapat dijadikan sebagai pegangan dalam menjalani hidup di dunia ini. Orang bijak menyebutnya sebagai Pancawisaya”

“Aku ngerti Mo, apa artinya itu !” tiba-tiba Bagong memotong pembicaraan Ramanya dan ngacung tanpa diminta

“Apa yang engkau mengerti Thole, bocah bagus anakku Bagong ?” jawab Semar dengan penuh kesabaran

“Panca itu bilangan lima, wi itu dari kata wibi berarti ibu dan saya dari kata sayak, celana. Jadi maknanya adalah celananya ibu ada lima” serius Bagong menjelaskan ini bak guru sastra menjelaskan kepada murid-muridnya

“Hush … Bagong kuwi jian ngawur !” Petruk mencela penjelasan adiknya itu, kemudian melanjutkannya

“Kalau nggak ngerti itu mendingan diam atau bertanya kepada yang ngerti. Jangan asal njeplak saja, tho Gong !”

“Lha Kang Petruk apa tahu artinya itu ?” tanya Bagong lugu

“Lho … siapa yang tak kenal Petruk di dunia ini, kecuali dirimu seorang ?” seperti biasa Petruk membanggakan diri dengan membusungkan dada kerempengnya yang seperti piano

“Terus artinya apa Kang ?” “Panca itu memang benar artinya bilangan lima, wi itu berasal dari kata wibrama yang berarti bingung atau rasa marah dan saya itu ya saya, aku” jawab Petruk menggunakan aji pengawuran

“Jadi artinya apa Kang ?”

“Ya gabung sendiri ajah !”

“Punya adik-adik kok pada ngawur semua. Sudah … kita dengerin saja apa yang Ramane Semar akan sampaikan !” Gareng menengahi dengan bijaknya (tumben … biasanya juga ikut ngawur … he he he)

“He he he … anak-anakku semua mulai bicara. Rama senang sebab kalau kalian tidak mengeluarkan suara, dunia rasanya sunyi sepi. Meskipun ngawur … tapi apa yang kalian sampaikan itu ada kalanya memberi inspirasi bagi Rama untuk terus berfikir. Kali ini cukup dengarkan ya … apa yang akan Rama jelaskan kepada nDraamu Permadi !”

Kemudian Semar melanjutkan kata-katanya

“Begini nDara dan anak-anakku Gareng, Petruk dan kamu Bagong. Seperti kata Bagong tadi, Panca itu lima, wisaya bisa bermakna piranti, upaya pencarian, karêp bisa juga penghalang. Jadi landasan untuk melakukan brata itu harus mengerti terhadap penghalang yang menjerat lima perkara dan sekaligus menyiapkan piranti untuk menanggulanginya. Apa saja yang lima itu ? Pertama Rogarda yang berasal dari kata roga yang artinya sakit dan arda yang berarti hawa nêpsu, bangêt atau sangat, sehingga Rogarda adalah sakit yang menimpa tubuh. Kalau ditimpa sakit, berusahalah bersungguh-sungguh untuk mencari obat penyembuh, namun segalanya harus diterima dengan rela hati. Hindari prasangka buruk terhadap Gusti Allah yang telah menimpakan sakit karena tidak sayang kepada hambanya. Yakinkanlah dalam hati bahwa yang kita terima adalah wujud kasih sayangNya semata.”

“Kalau menurutku, penjelasan rama itu kurang lengkap !” sanggah Bagong

“Kurang apanya, Thole ?”

“Kurang sambel, Mo he he he. Begini, nDara. Disamping menerima dengan ikhlas sakit yang diterima, kemudian mencari obat untuk menyembuhkannya, ada satu hal penting yang kadang terlupakan yaitu pelajari secara ilmiah mengapa hal itu bisa terjadi terhadap kita. Mengapa Kang Petruk punya wudun, alias bisul yang matanya saja sebesar kelereng ? Karena Kang Petruk jorok ! Nggak pernah bersih-bersih badan setelah maen kemana-mana. Kotoran yang melekat dan kemudian masuk dalam tubuh kita, bisa jadi adalah sumber penyakit semisal virus atau bakteri. Sumber penyakit itu dihadang oleh prajurit-prajurit tubuh berupa darah putih sehingga terjadi pertempuran hebat. Sebagian pasukan tubuh kita tewas menjadi kusuma bangsa tubuh. Banyak mayat yang tewas dalam tugas suci itu kemudian dimakamkan di liang lahat berupa wudun itu”

Petruk yang menjadi sasaran Bagong dengan sewot menjawab

“Kalau mencari contoh itu mbok ya jangan membuka aibku tho, Gong. Sungguh gamblang apa yang engkau jelaskan tadi, tapi mbok iyao jangan sebut wudun kakangmu ini. Sebagai adik yang baik harusnya kamu membantu mem-plothot-kannya. Sudah lumayan mateng, lho”

“Dimana sih Kang ?”

“Di bokongku mburi, Gong !”

“Ra sudi aku !”

Gareng ikut nimbrung

“Lha mbok kalau ngomong itu sedikit intelek gitu tho. Masak dari sikap Rogarda kok larinya ke wudun !” ujar Gareng sengit

“He he he .. sudah ya Rama lanjutkan” tersenyum arif Semar seraya melanjutkan

“Yang kedua adalah Sangsararda berasal dari kata sangsara sehingga berarti sengsara yang menimpa tubuh. Kalau ditimpa kesengsaraan, berusahalah menahan dan berbesar hati. Yang ketiga Wirangharda, artinya wirang, malu, sakit yang menimpa hati. Kalau ditimpa sakit hati, berusahalah tata, titi, kokoh pendirian serta berhati-hati.”

“Kalau patah hati itu, apakah termasuk juga wirangharda, Mo ?” Tanya Bagong

“Bisa juga begitu, Le”

“Kalau begitu Kang Petruk juga sakit, Ma”

“Aku maneh … saya lagi ! Sebenarnya apa yang membuat kamu tuh benci sama aku tho Gong. Setiap kali hal-hal yang kurang baik kok larinya ke diriku yang menawan ini” Petruk merendah seraya meninggikan mutu

“Bukan benci, Kang Petruk, kakakku yang menawan, rendah hati, sopan santun dan rajin menabung ! Ini adalah wujud dari cinta kasih seorang adik kepada seorang kakak nan penuh kasih sayang dan bijaksana. Ini adalah perhatian tulus dan begitu dalam seorang adik kepada kakaknya seperti kisah Sukasrana dan Sumantri atau Lesmana Widagdo kepada Ramawijaya. Begitupun Bagong kepada Petruk”

“Lebay Gong !” jawab Petruk masih sengit

“Bukan lebay Kang. Kalau sekarang Kang Petruk sedang patah hati sama Soimah, tentu adikmu ini turut berduka, Kang. Bukankah engkau pernah merasakan hal serupa saat ditolak sama Limbuk, Jupe, Depe, Poniyem, Sariyem, Tukinem, Ponirah, Surti dan sepuluh yang lainnya itu ?” wajah tanpa dosa mengiringi pengungkapan fakta memalukan sekaligus memilukan Petruk, bukan Gosip !

Gareng yang mendengar, ikut terperangah dan seraya tersenyum nakal berujar

“Lho… bener itu tho Truk ! Lha kok kamu nggak pernah ngomong sama aku, kok curhatnya malah sama Bagong yang bermulut ember itu. Aduh … aduh … adiku, Di ! Sungguh malang sekali nasibmu ditolak perawan yang segitu banyaknya itu. Harus instropeksi itu Truk !”

“Instropeksi … dengkulmu. Lha wong Bagong kok dipercaya !” jawab Petruk sengit seraya melotot kepada Bagong

“Bisa diam nggak kamu Gong !”

Semar dengan tersenyum bijak menengahi “perseteruan abadi” antara anak-anaknya itu

“Sudah … sudah … Saya lanjutkan ya nDara setelah dipotong pariwara iklan yang baru saja lewat … he he he. Yang keempat adalah Cuwarda, berasal dari kata cuwa, kecewa, tidak keturutan apa yang diharap, yang dicita-citakan. Apakah semua yang kita inginkan, kita harapkan, kita cita-citakan, kita impi-impikan harus terwujud ? Kalau keadaannya begitu, sungguh akan berantakan dunia ini. Hanya Gusti Allah-lah yang tahu mana terbaik bagi kelangsungan hidup semesta ini. Gusti Allah-lah yang tahu yang terbaik bagi kita, sehingga kalaupun ada suatu keinginan kita yang tidak disetujuiNya, pada hakekatnya adalah demi kebaikan kita sendiri. Nggak mungkin Gusti Allah menyiksa, menjerumuskan manusia ciptaanNya sendiri ke dalam kenistaan, kecuali sebenarnyalah diri manusia itu sendiri yang mengantarkan ke dalam ke sengsaraan pribadi. Oleh karenanya, selalulah Eling dan Waspada !”

“Lanjut Mo !” teriak Gareng bermaksud agar mendahului Bagong untuk tidak berkomentar memotong penjelasan lebih lanjut.

“Iya, Thole. Dan yang terakhir adalah Durgarda, berasal dari kata Durga yang bermakna bêbaya, pakewuh, sungil, angkêr, gawat. Sehingga durgarda harus kita sikapi dengan usaha dan sikap percaya diri dan yakin terhadap segala kekuasaan Tuhan.”

“Terima kasih Kakang Semar atas nasehatnya. Semakin mantab aku untuk melakukan tapa brata minta petunjuk Gusti untuk menyelesaikan masalah ini” akhirnya Permadi mengakhiri diskusi tadi dan kemudian beranjak menuju tempat yang telah dibersihkan dahulu sebelumnya untuk mengheningkan cipta menghadap Sang Pencipta.

Indahnya Terang


matahari

Urip Iku Urup
Hidup itu tidak redup
ia gemilang terang benderang
laksana Batara Surya menerangi bumi
selalu memberi tak pernah meminta
dan Batara Candra memantulkan cahya di malam hari
slalu pancarkan kedamaian kepada siapa saja
bukan seperti saat kepala Kalarahu mencaplok keduanya
hingga menimbulkan kegelapan dan ketakutan
Nyala terang dalam gelap adalah berkah bagi makhluk disekelilingnya

Kata petuah agama sebaik baiknya manusia adalah
yang mampu memberi banyak manfaat kepada manusia lain
khairunnas anfa ‘uhum linnas
sehingga sudah pasti seburuk-buruk orang adalah
yang selalu menebarkan ancaman bagi masyarakat sekitarnya
keberadaannya tidak diinginkan
hadirnya menghalangi terang
kegelapan menaunginya

Urip Iku Urup
maka jadilah cahaya bagi orang orang disekitarmu

Petuah bijak Sang Pemenang

Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983. Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:

“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:

Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final,
dan ketika saya menggenggam pialanya,
saya tak pernah bertanya pada Tuhan,
“Kenapa (harus) saya?”
Jadi ketika sekarang saya sakit,
bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan,
“Kenapa (harus) saya?”

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat.
Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu
sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya,
dan memimpikan bisa terbang,
tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya
dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup.

Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan,
tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi ternyata
Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.

Jika kekuatan memang menjamin keamanan,
tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi ternata
Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal,
tentu para selebriti pasti punya kehidupan perkawinan yg terbaik.

Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus

Derita tak berujung Shinta (7)


rama laksmana

Seakan tiada beda jarak bagi Begawan Walmiki
kala cipta tlah disandarkan kepada Ilahi
berpasrah berserah diri
tuk membantu mengentaskan yang tersakiti
agar bersegera sadar dan percaya diri
bahwa susah sedih bak roda pedati
bahwa bahagia derita bakal silih berganti
bahwa kemuliaan niscaya terpenuhi
pabila mampu pikiran dan hati terkendali

Saat dalam samadi mata mulai terbuka
tlah nyata sosok Shinta di hadapannya
tersenyum bijak penuh kasih Sang Yoga
saksikan Sang Dewi larut dalam hening cipta

Dengan lembut Walmiki menyapa

“Anakku Shinta, bangunlah dari samadimu. Bapa kini ada dihadapanmu, Nak. Keluh kesahmu telah terdengar hingga ke Wismaloka. Maafkan perlakuan muridku kepada dirimu yang tlah bertindak tidak adil, anakku. Percayalah Tuhan pasti akan memberikan kemudahan dalam kesulitan yang engkau alami seperti saat ini. Yakinlah bahwa Tuhan bakal mengganti jiwa pasrahmu dengan ganjaran yang jauh lebih indah dari kebahagiaan yang pernah engkau rasakan di dunia ini. Bangunlah, Nak”

Shinta yang mendengar suara lembut di telinganya, perlahan membuka matanya. Terkejut dia sesaat melihat seseorang telah berada di depan duduknya. Seorang tua berpakaian brahmana memberikan senyum lembut menyapa. Wajah adem itu seketika memaksa benaknya untuk mengingat-ingat. Dan dalam hitungan mili detik tlah ditemukan nama pemilik wajah itu di memorinya.

Ya … Shinta mengingatnya bahwa setelah melangsungkan perkawinan megah di Mantili dan kemudian Rama Wijaya memboyongnya ke Ayodya, maka tempat pertama yang di singahi adalah pertapaan Wismaloka. Suaminya memperkenalkan kepada dirinya, pemilik pertapaan itu sebagai gurunya. Resi Walmiki, seorang brahmana yang begitu terkenal di seantero Ayodya dan negri-negri di sekitarnya karena kebijaksanaannya, dan dia adalah guru suaminya.

Segera Shinta merebahkan diri bersujut di kaki Begawan suci itu. Meskipun hanya sesenggukan tangis dan tiada mampu kata terucap dari mulut Dewi Sinta, namun Resi Walmiki sangat faham dengan apa yang tengah bergejolak di dada Shinta.

Segera disentuh pundak Shinta oleh Walmiki agar bangkit dari sujudnya, kemudian berkata

“Engkau tidak bersendirian lagi dalam menghadapi cobaan yang engkau alami sekarang. Hilangkanlah segala beban berat yang ada di pikiranmu. Masih ada kewajiban besar yang harus engkau sandang, yaitu melahirkan anakmu dan membesarkannya kelak. Maka marilah engkau ikut bersamaku untuk mencari tempat yang nyaman untuk engkau tinggali. Bapa akan mempersiapkannya untuk tempat tinggalmu dan anak-anakmu nanti”

Hanya anggukan yang diberikan oleh Shinta sebagai jawaban.

<<< ooo >>>

môngka kanthining tumuwuh
salami mung awas eling
eling lukitaning alam
dadi wiryaning dumadi
supadi niring sangsaya
yèku pangrêksaning urip

Oleh karenanya sebagai pegangan hidup
selamanya haruslah awas dan Ingat,
Ingat pada hukum alam
takut kepada kemuliaan makhluk hidup
agar jauh dari segala penderitaan,
itulah cara untuk menjalani hidup.

marma dèn tabêri kulup
angulah lantiping ati
rina wêngi dèn anêdya
pandak-panduking pambudi
bengkas kaardaning driya
supadya dadya utami

Oleh karenanya rajin-rajinlah anakku,
mengolah tajamnya hati (kesadaran),
siang dan malam berusaha,
mampu meningkatkan kesadaran,
menyingkirkan kekotoran batin,
agar menjadi utama.

pangasahe sêpi samun
aywa êsah ing salami
samôngsa wis kawistara
lêlandhêpe mingis-mingis
pasah wukir rêksa muka
kêkês srabedaning budi

Pengasahnya adalah saat hening,
jangan sampai tergoyahan selamanya,
jika sudah berhasil akan terlihat,
tajamnya tiada tara,
mampu menghancurkan Gunung Reksamuka
bakal hancur segala penghalang kesadaran murni.

Tersentuh hati pria itu mendendangkan lantunan tembang yang telah dihafalnya di luar kepala. Hatinya perih mengingat lagi kepada kekasih hati yang tiada lagi berada di sisinya. Seolah jiwanya telah melayang separuh. Ya … istrinya entah hilang entah mati akibat keputusan dirinya dalam menegakkan keadilan. Menegakkan keadilan ? Ataukah hanya memperturutkan ego ?

(bersambung)

Derita tak berujung Shinta (6)


shinta

Menangis sedih Rekyan Shinta mengenang ayahnya nan jauh di Mantili. Ingin rasanya saat ini duduk bersimpuh di kaki ayahnya yang sangat lembut dan bijak mengasihinya. Ingin rasanya dia merasakan damai dalam pelukan ibunya dan merasakan getar kasih sayang yang sejati kala tangan lembut sang ibu membelainya. Namun ia kemudian tersadar bahwa semua keinginan tadi hanyalah godaan agar dia terbuai dalam bayangan semu belaka. Yang dihadapinya kini adalah saat ini ! Di hutan ini ! Bersendiri dalam suasana sepi mencekam dan gelap pekat lantaran bintang gemintang dan dan Sang Chandra tertutup oleh lebatnya hutan.

Sungguh betapa berat takdir yang disandangnya, namun Sang Putri telah sadar bahwa mengenang segala keindahan yang diinginkan, saat ini adalah perbuatan yang tak berguna dan membuang-buang waktu. Yang haruslah dilakukan saat ini adalah meminta pertolongan Sang Pencipta Alam Semesta dan berharap petunjuk dan Ilham yang bakal menerangi jalan yang bakal ditempuh selanjutnya.

Maka berbenahlah Dewi Shinta menuju kepada Tuhannya. Dimeramkan matanya dan selintas seolah terdengar jelas, sosok Sang Janaka berkata kata lembut

“Petunjuk atau ilham tidak kasat mata, tidak bisa dilihat dan dirasakan oleh panca indra manusia. Ilham merupakan wujud kelimpahan rahmat dan pencerahan Tuhan kepada seseorang sehingga orang yang menerimanya dikatakan hidupnya akan sejahtera lahir dan batin. Ilham dimaknai akan mampu merubah sikap dan watak seseorang mengarah kepada kebaikan, kesuksesan, dan kemasyhuran yang berguna bagi sesama. Namun perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, perubahan tersebut merupakan hasil dari sebuah laku, sebuah olah batin. Laku batin yang dapat engkau perbuat adalah dengan bertapa, berpuasa, berpantang, mengurangi tidur, mengurangi keinginan-keinginan duniawi, melakukan perjalanan spiritual dan sebagainya. Itu semua merupakan wujud kesungguhan dari usaha manusia dalam mendapatkan apa yang diinginkan dan dicita-citakan”

Seperti didengarnya lagi

“Ketika batin seseorang tunduk dan bergerak dengan dibarengi laku, maka bakal menimbulkan energi berkekuatan magnet yang mampu menarik dan menyerap energi alam semesta. Semakin intens laku batin seseorang, maka akan semakin cepat putaran yang digerakkan hingga akan semakin kuat pula daya magnetisnya dalam menyedot energi alam semesta. Maka jalankanlah laku itu dengan engkau bertapa dan mengheningkan cipta seraya berharap berkah Tuhan dapat engkau raih”

Semakin mantab Sang Putri terbuai dalam nikmatnya bersapa dengan Yang Maha Agung. Semakin tenang jiwa dirasakan, tak ingat lagi bahwa saat itu dia tengah berada di hutan di tengah malam bersendirian. Dan kata-kata semangat dari ayahnya seperti membimbingnya semakin tunduk dan berserah

“Shinta anakku ! Menjalani hidup di dunia ini laksana tengah belajar dalam sebuah madrasah agung yang bernama kehidupan. Dan layaknya setiap madrasah maka akan selalu ada ujian-ujian untuk mengevaluasi seberapa dalam kita mampu menyerap nilai-nilai pembelajaran itu. Dan untuk menggapai sukses dalam meraih tujuan yang engkau inginkan, maka harus engkau ingat tiga hal. Yang pertama adalah Kekuatan Tekad, Determinasi untuk membebaskan diri dari keterikatan dunia. Mulai singkirkanlah keinginan-keinginan duniawi yang sepertinya indah dipandang mata, nikmat dirasakan, namun pada kenyataannya hanyalah fatamorgana belaka. Bukan berarti kita anti terhadap kesenangan-kesenangan duniawi, namun dalam menyikapi dan menggunakannya, haruslah sewajarnya saja. Kata orang bijak, dunia harus mampu engkau genggam dan kendalikan, jangan sampai sebaliknya, dunia yang mengendalikannmu.”

“Yang kedua adalah kekuatan pemahaman, mengembangkan keahlian dan pengetahuan. Ingat Shinta bahwa diperlukan kerja keras dan cerdas dalam menuntut ilmu. Juga konsistensi atau ke-istiqomah-an. Ilmu adalah wahana yang luas tanpa batas. Tak akan mampu engkau meraih semua yang engkau inginkan, namun bersikap ‘serakahlah’ engkau dalam mencari ilmu. Jangan beranggapan telah cukup dan merasa puas bila telah bisa melakukan sesuatu karena ilmu Tuhan berada di setiap sudut alam ini dan juga di setiap inci dirimu sendiri. Upaya mencari ilmu harus engkau lakukan kapan saja setiap waktu bahkan saat ajal kan menjemput. Dan yang ketiga adalah Power of Action, melaksanakan semuanya dengan keceriaan dan keikhlasan. Sebarlah ilmu kesiapa saja yang menginginkan. Berbagilah ! Jangan ada niat menyembunyikan ilmu hanya untuk diri sendiri. Manusia yang terbaik adalah orang yang mampu memberikan banyak manfaat kepada orang lain. Ingat Shinta, selalu berbuat baiklah dan selalu berbagilah dengan ilmu yang kita miliki. Dengan engkau lakukan hal itu, maka ilmumu tiada akan berkurang malah akan terus bertambah dan juga akan membuat dirimu semakin bijaksana dalam menyikapi dan menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini”

Malam semakin sepi
Shinta semakin asyik dalam samadi
tak dirasakan penderitaannya lagi
tak dipikirkan susah hati
kepada Tuhannya tlah diserahkan nasib diri
kepada Ilahi tlah dipasrahkan apa yang bakal terjadi
segala keinginan duniawi adalah nisbi
keselamatan dunia dan alam baka sudah pasti

Kepasrahan jiwa justru mencipta energi luar biasa
alam semesta meresponnya seketika
sinyal sinyal kasih sayang meyebar merata
ke segala pelosok di penjuru dunia
atas kendali Sang Penguasa Semesta
bakal tersambung kepada pemilik frekwensi yang sama

Nun di Wismaloka pertapaan Resi Walmiki
saat sang resi tengah bermeditasi
terlihat olehnya keberadaan Shinta sang dewi
tlah faham sang begawan apa yang terjadi
dipanjatkan doa kepada Suksma Sejati
tuk segera berada di dekat sang Putri

(bersambung)

Derita tak berujung Shinta (5)


 shinta ramayana ballet 2

“Baiklah, adikku. Aku tidak akan bertanya kepadamu mengapa suamiku tega memerintahkan perbuatan kejam seperti ini. Aku menduga tentu ada kaitannya dengan peristiwa tahun lalu. Bukankah dia dan engkau telah menyaksikan sendiri bukti kesucianku di tengah api yang membakar jasatku ? Apakah engkau percaya itu adikku ?”

“Saya percaya seratus persen, Kanda Dewi !”

“Lalu mengapa suamiku sendiri tidak percaya ?”

“Itu semua karena mulut busuk dari Ki Angga”

“Aku tidak menyalahkan Ki Angga ataupun siapa saja yang meragukan kesucianku karena mereka tidak menyaksikan sendiri buktinya. Mereka hanya merangkai sebuah kejadian dari kabar yang diterima walau tidak tahu validitas kebenarannya. Mereka kemudian menyimpulkan rangkaian cerita berdasarkan asumsi asumsi pemikiran logis menurut mereka atau mungkin malah hanya berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya pribadi. Biarlah hal itu terjadi karena memang kapasitas dan kapabilitas pemikiran mereka hanya sampai disitu. Namun mengapa kakakmu, yang adalah seorang terpelajar, seorang raja besar, seorang satria utama bahkan menurut orang adalah titisan Dewata, mempunyai pemikiran dan pandangan yang sama dengan kaum awam ?”

“Adikmu ini telah berusaha mengingatkannya, Kanda Dewi. Namun semuanya sia sia belaka. Tentu Kanda tahu bagaimana sifat kakakku”

“Aku percaya, Laksmana. Baiklah, sebagai adik yang baik segeralah engkau tinggalkan aku di sini sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Sri Rama kepadamu”

Dengan perasaan campur aduk, Laksmana memandang sekali lagi sosok agung di depannya itu. Rasa hormat dan kagum semakin membuncah kepada istri kakaknya itu. Dewi Shinta terlihat begitu tenang, begitu tegar dan penuh keyakinan serta waskita dalam bertutur dan bersikap.

“Lalu bagaimana dengan Kanda Dewi nanti ?”

“Tidak usah cengeng ! Aku tidak bersendirian di sini, ada Tuhanku yang akan menemani dan menolongku. Cepatlah segera tuntaskan tugasmu !”

Dengan kesedihan yang masih menggumpal, Laksmana kemudian menaiki kudanya seraya mengucapkan kata perpisahan

“Tuhan akan selalu melindungimu, Kanda Dewi. Setiap saat aku akan berdoa atas keselamatan dan kebahagiaanmu. Jagalah dirimu baik baik”

Sepeninggalan Laksmana, barulah Sang Dewi menumpahkan segala beban beratnya. Air matanya mengalir deras memikirkan perlakuan suami terhadap dirinya. Namun tidak terdengar ratapan menyesali nasib buruk yang menimpa. Jiwanya telah kebal terhadap penderitaan. Nyaris sepanjang hidupnya diliputi oleh cobaan hidup yang tiada henti. Kisah hidupnya adalah kisah kesedihan dan nestapa. Mungkin hanya sepenggal episode kehidupan dimana dia merasakan bahagia seutuhnya, dia pernah rasakan.

Sore menjelang, namun di tengah hutan telah gelap gulita. Di bawah sebuah pohon yang tinggi besar dan menjulang, sosok perempuan itu bersimpuh dalam diam. Badannya diam mematung seperti tugu sinukarta. Mata indahnya terpejam, bulu matanya yang lentik terlihat basah bekas tangisan. Dadanya sesekali bergerak pelan mengikuti isak kesedihan.

Duhai … sungguh kasihan nasib putri agung ini
bersendirian dalam hutan yang sunyi
tega nian sang gurulaki
menetapkan hukuman hanya karena ego diri
mencampakkan cinta menyiksa istri sendiri
akankah alam dapat menjadi saksi
kesucian cinta dan harkat diri hakiki
duhai Sang Putri …
tetaplah bijak bestari

dhêdhêp tidhêm prabawaning ratri
sasadara wus manjêr kawuryan
tan kuciwa mêmanise
mênggêp srinatèng dalu
siniwaka sanggyaning dasih
aglar nèng cakrawala
winulat ngalangut prandene kabèh kèbêkan
saking kèhing taranggana kang sumiwi
warata tanpa sêla

Sunyi senyap sepi menhadirkan malam nan agung
Bulan tlah menampakan diri bersinar terang
Alangkah indahnya tiada mengecewakan
Terlihat gagah Sang raja diraja malam itu
menghadirkan segala cinta dan harapan terhampar di atas cakrawala
terlihat hampa tak bertepi
namun nyatanya semua tlah penuh sesak oleh bintang gemintang
nan berbinar merata sinarnya tanpa sela

Derita yang telah terjadi tak perlu disesali
menangislah tuk mengurangi beban berat diri
namun meratap tidaklah boleh harus dihindari
apalagi menyiksa diri meminta mati
hanya satu yang harus dilakoni
kepada Tuhanmu engkau berserah diri
berharap limpahan kasihNya mohon petunjuk Ilahi
niscaya ketenangan bakal dinikmati
dan semangat hidup trus terpatri
demikian yang slalu diingat Sang Dewi
petuah Sang Ayah Prabu Janaka raja Mantili

(bersambung)

Derita tak berujung Shinta (4)


shinta ramayana ballet

“Hendak menuju kemana kita, Dimas ?” suara lembut wanita memecah keheningan hutan siang itu.

Wanita itu duduk di pelana kuda dan disampingnya seorang pria mendampingi dengan berkuda juga.

Duhai … sungguh jelita wanita berkuda itu. Wajahnya putih bersinar memancarkan perbawa keagungan laksana bathari kahyangan turun ngejawantah ke darat. Meskipun tiada senyum yang tersungging di wajahnya yang bak rembulan, namun sungguh siapapun yang memandang niscaya terpesona akan keindahannya.

Matanya memendam sebuah tanya yang sedari tadi hendak diucapkan kepada pria di sebelahnya yang mengiringinya. Sementara pria itu hanya tertunduk kelu, wajah muram menyimpan duka. Sepanjang perjalanan mulut terkunci tiada satu katapun terucap. Benar dia berjalan berkuda, namun pikirannya melayang mengembara mengenang kenang perjalanan hidup bersama wanita di sebelahnya yang tiada lain adalah kakak iparnya.

Ya … pria itu adalah Laksmana, sedangkan perempuan itu adalah Dewi Shinta istri Rama Wijaya raja Ayodya.

Ungkapan tanya lembut Shinta, seakan membangunkan Laksmana dari mimpi tak mengenakkan. Dan dengan tergagap dia menjawab

“Oh … kita telah sampai, Kanda Dewi. Marilah aku bantu mbakyu turun dari kuda itu” bergegas Laksmana meloncat dari kudanya dan segera membantu Sang Putri turun dari kudanya.

Setelah menginjak tanah maka Dewi Shintapun berjalan di tempat yang agak lapang dan kemudian tangannya ngawe ke Laksmana dengan maksud untuk berjalan mendekat.

“Sekarang engkau jelaskan dengan sedetil-detilnya mengapa aku dibawa kesini hanya olehmu. Mengapa Kanda Rama tidak ikut serta bersama kita. Jangan engkau katakan bahwa kakakmu sedang sibuk ngurus negara ataupun ada kegiatan penting yang lainnya sehingga tiada waktu untuk bersamaku. Dia telah tahu bahwa aku tengah mengandung anaknya. Tidak mungkin tega membiarkanku melakukan perjalanan jauh seperti ini. Tentu ada alasan kuat sehingga hanya menyuruh engkau saja menemaniku. Sengaja aku tidak bertanya tentang itu sepanjang perjalanan tadi karena kulihat wajahmu begitu gelap menyimpan rahasia yang sepertinya sangat membebanimu. Jujurlah, Dimas !”

Mendengar ketenangan Shinta dalam mengungkapkan isi hati, membuat hati Laksmana semakin terkoyak. Dewi Shinta telah dianggap sebagai kakaknya sendiri yang begitu dihormati dan disayangi. Tak kuasa airmata Laksmana mengalir pelan. Dipandangi sosok di depannya itu dengan penuh welas asih

Surem … surem …
surem diwangkara kingkin,
lir manusa kang layon,
denya ilang ingkang memanise,
wadananira layung,
kumel kucem rahnya maratani

Suram … sungguh suram
suram cahya sang surya bersedih
laksana manusia yang tlah mati
lantaran tlah hilang indahnya bahagia
jiwanya merana badannya layu
duka derita meyelubungi jiwa raga

“Kanda Dewi, mohon ampun atas ketidak mampuanku mempengaruhi suamimu dalam memutuskan masalah ini. Adikmu ini telah berusaha sekuat tenaga menyadarkan Kanda Rama untuk memberikan keputusan yang benar sesuai dengan hati nurani dan jiwa kemanusiaan. Namun apa daya, segala kewenangan ada dalam genggaman suamimu. Aku diperintahkan oleh Sri Rama untuk … untuk …”

Tak kuasa Laksmana melanjutkan kata-katanya, sesak dadanya menahan gejolak duka yang menguasai hatinya. Namun di pihak lain, Dewi Shinta terlihat begitu tenang menghadapi situasi seperti ini

“Berterus teranglah Adikku, kakakmu ini telah siap menerima segala yang telah menjadi ketetapan suamiku sebagai raja Ayodya. Penderitaan telah menjadi teman yang sangat akrab denganku. Ingatkah engkau, tiga belas tahun lamanya kita hidup terlunta di hutan Dandaka. Menjalani pembuangan sekian lama membuat jiwaku semakin kuat. Ditambah lagi kemudian selama dua belas tahun, aku berada dalam sangkar emas si Rahwanaraja. Jangan dikira aku hidup nikmat di sana. Taman Argasoka memang sebuah taman yang indah bak tamannya para Dewata, namun jiwaku terpidana, cintaku terkurung oleh ruang dan waktu lantaran tak bersanding dengan cinta sejatiku yaitu diri suamiku. Jangan engkau kira aku diam saja di kurungan emas itu. Setiap hari cundrik selalu menemaniku dimanapun aku berada. Hal itu aku lakukan untuk mengabarkan kepada si Keparat itu bahwa apabila dia menyentuh kulitku sedikit saja, maka cundrik segera aku hunjamkan di ulu hatiku. Dua belas tahun penuh kekawatiran, dua belas tahun tidak nyeyak tidurku, dua belas tahun jiwaku tiada pernah tenang, dan itu membuat jiwaku semakin kuat mengeras. Oleh karenanya, berterus teranglah, Adikku !”

Laksmana mendongakkan kepalanya kembali dan dengan dikuatkan hatinya maka berkatalah dia melanjutkan kalimat yang belum selesai tadi

“Aku diperintahkan oleh suamimu untuk … membuangmu di hutan ini” lirih suara Laksmana namun bagi Dewi Shinta laksana bunyi halilintar di siang hari bolong. Seketika wajahnya memucat, namun tidak lama kemudian dia telah mampu menguasai hatinya. Dihirupnya dalam dalam udara segar di hutan ini, dan kemudian dengan pelan pelan dihembuskan lewat mulut nafas hangatnya. Dilakukan hal itu tiga kali untuk menenangkan emosi dan mengatur keseimbangan jiwanya.

(bersambung)

Derita tak berujung Shinta (3)


laksmana_widagdo_solo

Beberapa saat kemudian, Sri Rama yang berpengetahuan luas dan berfikir global mampu menetapkan hati bahwa tidak ada yang serba “kebetulan” terjadi di dunia ini. Semua kejadian adalah atas Kehendak dan KuasaNYA, Tuhan semesta alam. Meskipun semburat kebimbangan masih tersirat di dasar hatinya, namun ditetapkan untuk menghapuskanya saat ini. Tak peduli lagi dia akan persidangan agung dengan para mentri, tak di hiraukan lagi Ki Angga yang masih duduk bersimpuh di tanah bersama istrinya yang masih tertunduk sedih, maka Sang Nata kemudian beranjak pergi menuju tempat peristirahatan di dalam istana.

Begitu punggung rajanya telah menghilang selepas pintu, tanpa dikomando geremengan laksana suara tawon keluar dari mulut para hadirin yang memenuhi ruangan yang sebelumnya sepi. Saling bisik antara mereka membicarakan peristiwa yang terjadi. Tak sedikit dari mereka asyik merangkai kalimat berdebat antar mereka dalam memperkirakan apa yang bakal terjadi kemudian. Engkel-engkelan, menang-menangan, sok-sokan merasa dirinya paling pintar menganalisa dan meramal. Bahkan kemudian ada yang nyaris baku pukul lantaran beda pendapat terhadap prediksi yang disampaikan. Lha wong ramalan kok diperebutkan kebenarannya … dasar punggawa picik tak berguna !

Lantaran asyik dengan kesibukan masing-masing mereka tidak memperhatikan saat kemudian Ki Angga beringsut menuju pintu keluar seraya menggandeng tangan istrinya. Tak ada lagi sikap membenci kepada istrinya, seakan masalah yang disampaikan kepada Sri Rama tadi telah terselesaikan dengan sendirinya. Solusinya adalah hati lega karena masalah telah disampaikan, hati senang karena gunjingannya mampu mempengaruhi jiwa rajanya. Dia yakin bahwa setelah ini maka peristiwa tadi bakal menjadi trending topic di seantero negri, bahkan lebih cepat lagi akan tersebar ke media social di dunia maya. Dan setelah melewati gapura kraton maka dengan mesra digandengnya tangan Nyi Angga untuk dibawa pulang ke rumah dengan wajah tersenyum seraya menyenandungkan langgam yang tengah hits didendangkan oleh pesinden terkenal Nyi Srintil dengan judul “Senandung Kalijodo”.

Ternyata perkataan Ki Angga tidak bisa menghilang begitu saja di pikiran Sri Rama. Meskipun hati kecilnya menyanggah kebenarannya, namun tetap saja ego selaku seorang laki-laki sekaligus sebagai suami, ditambah kedudukannya sebagai Ayodya 1 serta gelarnya sebagai titisan Wisnu dewa paling sakti di antara anak anak Bathara Guru, membuat keraguan akan kesucian Shinta istrinya muncul kembali. Perkataan Ki Angga bahwa seluruh rakyat Ayodya menyangsikan kesucian Shinta seolah menjadi legitimasi atas prasangka itu. Kembali jiwanya goyah !

Laksmana yang melihat kondisi kakaknya seperti itu, segera mendekati untuk menenangkannya. Laksmana adalah satu satunya orang yang mengerti betul Rama Wijaya. Sejak masih bocah, hingga dewasa Laksmana selalu bersama dan mengikuti kemana kakaknya berada. Bermain selalu bersama, belajar olah kejiwaan dan olah kanuraganpun dengan guru yang sama. Bahkan saat kakaknya Rama dan kakak iparnya Shinta terbuang di hutanpun, hanya Laksmanalah yang mengiringinya. Laksmanalah yang selalu menghibur Rama dikala rindu kepada istrinya yang diculik oleh Rahwanaraja. Laksmanalah yang selalu menguatkan kakaknya untuk terus berusaha merebut Shinta dari genggaman Raja Alengka itu. Suka duka Rama adalah suka dukanya juga. Tak heran Laksmana sangat detil tahu apa yang tengah terjadi dalam benak dan hati kakaknya.

“Oh … Dewata yang Agung, mengapa semua ini terjadi. Dikala hambaMu ini tengah merasakan ketenangan dan kebahagiaan, mengapa Engkau timpa dengan masalah yang sungguh pelik ini” tak kuasa derai air mata mengiringi keluh kesah Sang Raja Ayodya seraya kemudian merangkul adiknya terkasih.

“Sungguh tak aku duga bahwa diriku menjadi cacian dan bahan tertawaan seluruh rakyat yang aku pimpin. Sungguh memalukan, seorang raja memberi contoh yang tidak benar kepada rakyatnya”

Laksmana yang mendengar keluh kesah kakaknya, kemudian menghibur dan sekaligus memberikan pandangan

“Duhai Kangmas, janganlah engkau percaya sepenuhnya kepada kata-kata orang yang tidak bertanggung jawab itu”

“Tapi perkataan Ki Angga sungguh tepat, Dimas. Akupun merasa bahwa itu adalah sebuah kebenaran belaka”

“Berarti Kangmas sebelumnya masih memiliki keraguan akan kesucian Mbakyu Shinta meskipun sudah terbukti saat hukum obong itu ?”

“Sepertinya demikian, Adikku. Sungguh dua belas tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk seorang wanita dapat mempertahankan kesuciannya. Dapat aku bayangkan bahwa setiap hari dia dibujuk, dirayu dan digoda oleh Rahwana. Ibarat kata pepatah, sebuah batu karangpun lama lama akan berlubang manakala setiap detik ditimpa oleh setitik air dari atasnya. Apakah dinda Shinta masih kuat mempertahankannya ?”

“Duhai Kangmas Prabu, janganlah beribu prasangka mengangkangi pikiran Kanda. Tenangkanlah jiwa Kangmas agar dapat berfikir dengan jernih dan bijak. Dan yang mengetahui dalam hati Mbakyu Shinta tentu Kanda sendiri. Janganlah engkau diombang ambing oleh serba kekawatiran dan hal hal yang tidak pasti, sebab yang sudah pasti adalah bahwa kesucian Mbakyu telah terbukti kebenarannya karena tlah kita saksikan sendiri. Apakah kakang percaya pada gossip dan berita sampah yang keluar dari mulut busuk Ki Angga tadi ? Apakah Kangmas lebih percaya kepada kabar yang beredar dengan validitas kesahihan patut dipertanyakan daripada dengan kesetiaan Mbakyu Shinta yang telah terbukti secara empiris?”

“Tidak mungkin adikku, aku percaya apa yang dikatakan Ki Angga itu benar adanya”

Dan Laksmana sadar bahwa segala masukan dan bujukan yang disampaikan kepada kakaknya akan sia sia belaka. Dia mengerti betapa “keras kepala” kakaknya itu meskipun tutur katanya begitu lembut. Kalau sudah meyakini terhadap sesuatu hal, maka tak ada seorangpun yang mampu mengubahnya. Laksmana sudah pasrah dan tinggal menanti suatu keputusan besar yang bakal terjadi.

“Adikku Laksmana, sekarang dengar dan turuti semua perintahku !” Rama melepaskan rangkulan adiknya

“Ya Kanda”

“Sekarang juga jemputlah Mbakyumu Shinta dan kemudian bawalah dia ke tengah hutan dan tinggalkanlah dia di sana bersendirian. Biarlah alam yang akan memberikan keputusan dan keadilan”

“Tapi Kang …”

“Tidak ada tapi-tapian ! Laksanakan perintahku segera !”

Remuk redam perasaan Laksmana mendengar perintah Sang Rama. Sungguh tak difahaminya pola pikir kakaknya itu. Apakah harus begini menjalani hidup ? Selalu tercipta dilemma dan opsi yang harus dipilih agar terus hidup ? Dan tidak memilihpun adalah sebuah pilihan. Apakah mengatas namakan pendapat banyak orang adalah suatu kebenaran ? Pada kenyataannya kebenaran tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak orang yang meyakini dan mengamininya. Sri Rama terpengaruh oleh kata kata Ki Angga bahwa seluruh rakyat Ayodya mencurigai kejujuran Shinta, namun bukannya menyanggah dan membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar, malah dia memberi stempel “OK” bahwa dugaan itu memang benar adanya bukan hanya sekedar hasil rekayasa pikiran merangkai kejadian dan membuat estimasi sebab akibat secara imajiner. Dan memang tepat dugaan Laksmana akan kebimbangan yang masih mendekam di hati kakaknya Sri Rama tentang kesucian istrinya. Hal itulah yang kemudian terungkit lagi oleh “fakta” yang diungkap Ki Angga, seakan menjadi sebuah sebab untuk muncul kembali seperti pada peristiwa menjelang Shinta obong.

(bersambung)