Category Archives: Artikel Wayang

Mahabharata 27 – Pengembaraan di Rimba Raya


Savitri satyawan

Kaum brahmana yang dulu bersama-sama Yudhistira di Indraprastha setia menyertainya dalam pengasingan di hutan. Tidak mudah mengatur dan membiayai rombongan yang sangat besar itu. Resi Lomasa menasihati Yudhistira agar memperkecil rombongannya supaya pengembaraan lebih lancar, terutama ketika berziarah ke tempat-tempat suci di hutan.

Atas saran tersebut, Yudhistira memberi tahu pengikut-pengikutnya bahwa mereka yang tidak biasa menghadapi kesulitan dan mengikutinya hanya karena berbela rasa, sebaiknya kembali ke Negeri Astina yang diperintah Raja Dritarastra atau ke Negeri Panchala yang diperintah Raja Drupada. Selanjutnya, Yudhistira menyerahkan sepenuhnya kepada para pengikutnya cara apa yang mereka anggap paling baik dan sesuai dengan kesanggupan mereka.

Dalam pengembaraan dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya di dalam hutan, Pandawa mendengar, melihat, dan mengalami berbagai keadaan dan situasi yang membuat mereka yakin bahwa masa depan mereka akan baik.

Sebagai suri teladan, Resi Lomasa menceritakan kisah Resi Agastya kepada mereka,

“Pada suatu hari, Agastya melihat roh manusia berdiri terbalik, kepalanya di bawah dan kakinya di atas. Karena anehnya, ia bertanya kepada makhluk itu dan dijawab bahwa makhluk itu adalah nenek moyangnya sendiri yang telah meninggal dunia. Ia mengalami nasib demikian karena keturunannya tidak mau kawin dan tidak punya anak yang wajib mengadakan upacara-upacara persembahyangan untuk roh nenek moyang. Mendengar hal itu, Agastya langsung memutuskan untuk kawin.

“Terkisahlah bahwa raja Widarbha tidak punya anak. Raja itu kemudian memohon restu kepada Resi Agastya agar ia dikaruniai anak. Pada waktu memberikan restu, Agastya mengucapkan kutuk-pastu, yaitu: jika anak yang lahir perempuan, anak itu harus diserahkan kepadanya untuk dikawini.

“Ketika tiba waktunya, lahirlah seorang putri jelita yang kemudian diberi nama Dewi Lopamudra. Semakin dewasa semakin sempurnalah kecantikannya. Dewi Lopamudra termasyhur di kalangan para kesatria, tapi tidak seorang pun berani mendekatinya karena takut pada Resi Agastya.

“Pada suatu hari, Resi Agastya datang ke istana Raja Widarbha untuk menagih janjinya. Tetapi Raja Widarbha keberatan. Dia tak mau menyerahkan putrinya yang cantik itu kepada resi tua yang hidup menyendiri di dalam hutan. Raja cemas kalau-kalau kutuk-pastu sang Resi akan menjadi kenyataan. Mengetahui kecemasan dan kesedihan orangtuanya, Dewi Lopamudra justru menyatakan keinginannya untuk kawin dengan resi itu.

“Setelah disepakati, perkawinan dilangsungkan sebagaimana mestinya. Sebelum memboyong istrinya ke hutan, Resi Agastya menyuruh Dewi Lopamudra melepas semua perhiasannya dan mengganti pakaiannya yang mewah dan mahal. Istrinya harus bersedia hidup sederhana sesuai kebiasaan para resi yang tinggal dalam asrama di hutan. Dewi Lopamudra membagi-bagikan semua perhiasan dan pakaiannya kepada teman-teman dan para pelayannya, kemudian mengenakan pakaian dari kulit kayu.

Demikianlah, Resi Agastya dan Dewi Lopamudra hidup bahagia di pertapaan di hutan Ganggadwara. Mereka saling mengasihi dan selalu tampak mesra.

“Pada suatu hari, karena perasaan cintanya yang meluap-luap, Dewi Lopamudra tak bisa menahan perasaannya.

Ia meminta kepada Resi Agastya agar sekali-sekali mereka menikmati kemewahan. Continue reading Mahabharata 27 – Pengembaraan di Rimba Raya

Saat Batara Cakraningrat mencari Kurungan Kencana


21_kayon_wahyu_tumurun

Wahyu Cakraningrat (6)

Sebelas hari sudah, hutan yang luas dan lebat itu kini ditempati sementara oleh tiga rombongan para pejuang pencari wahyu. Masing-masing tidak ingin tahu posisi pesaing, namun menurut perkiraan tidak terlalu jauh dari tempat mereka.

Dari ketiga kelompok itu, tentu rombongan dari Astinalah yang paling banyak dan semarak. Awal mulanya, Lesmana tidak mau melakukan tapa brata sesuai yang diminta ayahnya karena dengan alasan tidak biasa dan tidak kuat. Maunya ikut bersenang-senang dengan paman-paman mereka yang selalu menggelar pesta walau di tengah hutan. Dengan sabar uwaknya Karna membujuk Lesmasna untuk segera melaksanakan perintah walau berat harus dijalani untuk memperoleh kemuliaan.

“Angger Lesmana, tidak ada salahnya engkau untuk belajar menjalani tapa brata. Niscaya akan engkau temui ketenangan jiwa. Jauhkanlah sementara tubuh dan nafsumu dari memenuhi dan mengumbar kesenangan duniawi. Makan dan minum yang serba lezat dan nikmat, alunan musik yang memikat serta buaian lembut para penari yang membuatmu terlena, kalau engkau turuti terus menerus, bakal membuatmu semakin jauh tuk gapai yang engkau dan ramamu harapkan.”

“Bagaimana aku bisa menghindari sementara semua itu tersaji di depan mataku, Uwa”

“Itulah godaan yang harus engkau hadapi. Dengan niat kuat dan hati yang tawakal, maka semua yang tampak indah di mata maupun rasamu, niscaya tiada berarti apa-apa. Semua kelezatan, keindahan, kesenangan yang tersaji itu, hanyalah sementara saja bakal engkau nikmati. Tidak abadi. Hanya nafsu sesaat saja yang engkau lepaskan. Apabila engkau turuti terus menerus, maka ia akan mengekang dan mengendalikanmu. Dirimu menjadi tak berdaya. Ibarat kehausan, kemudian engkau melepas dahaga dengan minum air laut. Bukannya hilang rasa dahaga itu, malah semakin mencekikmu”

“Begitu ya, Uwa, ya”

“Iya Ngger, oleh karenanya segeralah engkau mencari tempat yang sepi agak jau dari paman-pamanmu itu, dan bersegeralah engkau melakukan tapa brata. Jangan kuatir, uwakmu ini akan mengawasimu terus menerus. Engkau tidak perlu takut”

“Baik, Wa”

Walaupun Karna tidak yakin terhadap apa yang dilakukan keponakannya itu, namun dia merasa cukup senang bahwa Lesmana kemudian menuruti perintahnya untuk melakukan tapa brata di sebuah gua kecil yang tidak terlalu jauh dari perkemahan. Karna kemudian memerintahkan para Kurawa dan prajurit yang ada untuk berjaga disekelilingnya. Continue reading Saat Batara Cakraningrat mencari Kurungan Kencana

Sekilas Tentang Lakon Wayang


Pengertian lakon

Pertunjukan wayang kulit purwa, lazim disebut pakeliran. Jika orang melihat sebuah pertunjukan wayang, sebenarnya yang dilihat adalah pertunjukan lakon. Oleh karena itu, kedudukan lakon dalam pakeliran sangat penting sifatnya. Melalui garapan lakon, terungkap nilai-nilai kemanusiaan yang dapat memperkaya pengalaman kejiwaan.

Dikalangan pedalangan pengertian Lakon sangat tergantung dengan konteks pembicaraannya. Lakon dapat diartikan alur cerita, atau judul cerita, atau dapat diartikan sebagai tokoh utama dalam cerita (Kuwato dalam Murtiyoso. 2004).

Selain itu lakon merupakan salah satu kosakata bahasa Jawa, yang berasal dari kata laku yang artinya perjalanan atau cerita atau rentetan peristiwa (Murtiyoso. 2004). Jadi lakon wayang adalah perjalanan cerita wayang atau rentetan peristiwa wayang. Perjalanan cerita wayang ini berhubungan dengan tokoh-tokoh yang ditampilkan sebagai pelaku dalam pertunjukan sebuah lakon. Kemudian di dalam sebuah cerita wayang akan muncul permasalahan, konflik-konflik dan penyelesaiannya ini terbentang dari awal sampai akhir pertunjukan (jejer sampai dengan tancep kayon) dengan wujud kelompok unit-unit yang lebih kecil yang disebut adegan. Unit adegan yang satu dengan adegan yang lain, saling terkait, baik langsung maupun yang tidak langsung membentuk satu sistem yang disebut lakon.  Continue reading Sekilas Tentang Lakon Wayang

RAGAM WAYANG DI NUSANTARA


Disajikan pada acara Sarasehan dan Pergelaran Wayang Pakeliran padat dengan Lakon ‘Anoman Duta’ di Berlin, Jerman

Wayang Beber

 

 

Oleh Turita Indah Setyani 1)

 

Dalam bahasa Jawa, wayang berarti “bayangan”. Dalam bahasa Melayu disebut bayang-bayang. Dalam bahasa Aceh: bayeng. Dalam bahasa Bugis: wayang atau bayang. Dalam bahasa Bikol dikenal kata: baying artinya “barang”, yaitu “apa yang dapat dilihat dengan nyata”. Akar kata dari wayang adalah yang. Akar kata ini bervariasi dengan yung, yong, antara lain terdapat dalam kata layang – “terbang”, doyong – “miring”, tidak stabil; royong – selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain; Poyang-payingan “berjalan sempoyongan”, tidak tenang. dan sebagainya.

 

Selanjutnya diartikan sebagai “tidak stabil”, tidak pasti, tidak tenang, terbang, bergerak kian-kemari.. Jadi wayang dalam bahasa Jawa mengandung pengertian „berjalan kian-kemari, tidak tetap, sayup-sayup (bagi substansi bayang-bayang). Oleh karena boneka-boneka yang digunakan dalam pertunjukkan itu berbayang atau memberi bayang-bayang, maka dinamakan wayang. Awayang atau hawayang pada waktu itu berarti „bergaul dengan wayang, mempertunjukkan wayang.. Lama kelamaan wayang menjadi nama dari pertunjukan bayang-bayang atau pentas bayang-bayang. Jadi pengertian wayang akhrnya menyebar luas sehingga berarti “pertunjukan pentas atau pentas dalam arti umum. 2)

 

Fungsi semula pertunjukan wayang adalah sebagai upacara religius untuk pemujaan kepada nenek moyang bagi penganut kepercayaan “Hyang” yang merupakan kebudayaan Indonesia asli. Kemudian berkembang hingga digunakan sebagai media komunikasi sosial yang dapat bermanfaat bagi perkembangan masyarakat pendukungnya. Sebab lakon cerita wayang merupakan penggambaran tentang sifat dan karakter manusia di dunia yang mencerminkan sifat-sifat dan karakter manusia secara khas, sehingga banyak yang tersugesti dengan penampilan tokoh-tokohnya. Maka terjadilah pergeseran fungsi sebagai media penyebaran agama, sarana pendidikan dan ajaran-ajaran filosofi Jawa. Saat ini pergeseran fungsi semakin nyata hanya sebagai sebuah hiburan. Namun untuk masalah tersebut tidak akan dibicarakan di sini, sebab dalam makalah ini hanya akan menguraikan tentang ragam wayang yang berkembang di Nusantara atau Indonesia pada khususnya.

Di Indonesia, terutama di pulau Jawa, terdapat sekitar 40an jenis wayang, yang sebagian di antaranya sudah punah. Beberapa jenis di antaranya masih dikenal atau masih dipertunjukkan dalam pergelaran-pergelaran wayang, dan tetap mendapat dukungan masyarakat hingga kini.

 

Wayang Sadat

Continue reading RAGAM WAYANG DI NUSANTARA

Gara-gara Nonton Wayang Bung Karno Jadi Presiden


Sukarno

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/12/gara-gara-nonton-wayang-bung-karno-jadi-presiden-478845.html

Di luar takdir Tuhan, penyebab menjadi presiden bermacam-macam tergantung doa, usaha dan ihtiarnya. Merintis melalui pendidikan tinggi, mengantarkan Sukarno dan BJ Habibie menjadi orang nomor satu di Indonesia. Merintis melalui karir ketentaraan telah mengantarkan Soeharto dan SBY menjadi presiden, merintis melalui organisasi masyarakat dan politik mengantarkan Gus Dur dan Megawati ke puncak panggung kekuasaan negeri.

Karena jabatan presiden terbatas, maka terbatas pula yang bisa menjabat. Enam puluh tujuh tahun Indonesia merdeka, baru enam orang pilihan di atas yang beruntung menjadi presiden. Selalu saja ada hal-hal menarik tentang para (mantan) presiden itu yang perlu kita ketahui dan menjadi pelajaran hidup. Boleh jadi masing-masing mempunyai sumber motivasi sendiri, namun salah satunya adalah seperti judul di atas.

Membaca naskah amanat Presiden Sukarno pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Istora Bung Karno, Senayan, Jakarta, tanggal 2 Mei 1964, yang berjudul: “Bertjita-tjitalah Setinggi Bintang Dilangit”, membuat saya mengetahui latar belakang yang memotivasi Sukarno menjadi orang besar.

Dalam pidato itu, di hadapan para pemuda dan pemudi, Bung Karno menekankan agar menjadi manusia yang bercita-cita setinggi bintang di langit. Ia teringat nasihat ibunya, “Sukarno, ketahuilah, engkau itu anak fajar, putera fajar, sebab engkau dilahirkan pada waktu fajar menyingsing, fajar 6 Juni sedang merantak-rantak di sebelah timur. Lihat itu fajar. Makin lama makin terang. Engkau nanti akan melihat matahari terbit, jadilah manusia yang berarti, jadilah manusia yang bermanfaat, manusia yang pantas untuk menyambut matahari. Manusia yang pantas untuk menyambut terbitnya matahari!”

Menurut Bung Karno (melanjutkan pidatonya), tidak pantas kalau terbitnya matahari disambut oleh seorang bajingan atau manusia koruptor yang mencuri harta rakyat.

Orangtua Sukarno memberi pendidikan dan menanamkan cita-cita dalam dadanya. Manusia tidak bisa menjadi manusia yang bermanfaat kalau tidak dari mulanya bercita-cita baik. Salah satu cara bapaknya membangunkan cita-cita Sukarno kecil adalah dengan mengajak nonton pertunjukan wayang kulit.

Dalam pertunjukan wayang ada adegan-adegan (biasanya bagian pembukaan — ‘janturan’) Sang Dalang menggambarkan suatu keadaan negeri yang ideal, yaitu: besar, adil dan makmur, murah sandang, papan dan emas, terkenal/disebut di seluruh dunia, berwibawa, perdagangan tidak ada hentinya siang dan malam, aman di perjalanan, ternak-ternak kembali sendiri dari tempat ladang penggembalaan, warga negaranya tidak saling dengki dan jegal, dll. Itulah cita-cita negara ideal yang tertanam sejak kecil di dada Sukarno, sebagai cita-cita politik dan sosial.

Isi pidato Bung Karno masih relevan sampai sekarang. Motivator sekaliber Robert T Kiyosaki pun menganggap cita-cita atau ‘impian’ (menurut bahasanya) adalah sangat penting. Agar maju dan sukses seseorang harus punya impian. Toh tidak dipungut biaya untuk bermimpi. Menurutnya, ada 5 macam pemimpi dan impiannya: [1]

  1. Pemimpi yang bermimpi di masa lalu, yakni yang pencapaian terbesarnya dalam hidup terjadi di belakang mereka. Pada saat kita bicara ke depan, pemimpi ini selalu mengungkit-ungkit keberhasilannya di masa lalu yang tidak ada relevansinya. Sering kita dengar, “Dulu ketika saya yang memimpinnya . . . .” Seorang yang bermimpi tentang masa lampau adalah orang yang hidupnya sudah berakhir, orang itu perlu menciptakan impian di masa depan, supaya kembali hidup.
  2. Pemimpi yang hanya memimpikan impian kecil. Jenis pemimpi ini akan memimpikan impian-impian kecil saja, karena mereka ingin merasa yakin bahwa mereka dapat mencapainya. Masalahnya adalah meskipun mereka tahu dapat mencapainya, tetapi tidak pernah mau mencapainya. Jenis pemimpi ini lebih umum dan seringkali adalah yang paling berbahaya, mereka hidup seperti kura-kura, makan dan minum dalam ruangan yang tenang, kalau diketuk cangkangnya dan menyentuh lubangnya mereka sering menyerang dan menggigit. Pelajaran yang diperoleh adalah, biarkan kura-kura pemimpi ini bermimpi, kebanyakan tidak pergi kemana-mana.
  3. Pemimpi yang telah mencapai impian mereka dan belum menentukan impian besar, yakni seseorang yang telah mencapai impiannya (misal: menjadi dokter, pilot, dll) dan terus hidup dalam impian itu. Kebosanan biasanya tanda bahwa sudah waktunya menentukan impian baru dan petualangan baru.
  4. Pemimpi yang mempunyai impian besar, tetapi tidak punya rencana bagaimana mencapainya, akhirnya tidak mencapai apa-apa. Pemimpi ini sering berusaha mencapai impiannya sendirian, berusaha mencapai banyak tetapi kemudian berusaha melakukan sendiri. Sangat sedikit orang mencapai impian mereka sendirian. Orang ini harus tetap mempunyai impian besar, menentukan rencana dan mendapatkan tim yang akan membantu membuat impiannya menjadi kenyataan.
  5. Pemimpi yang mempunyai impian besar, mencapai impian itu dan terus mempunyai impian yang lebih besar.

Impian yang ke-5 tentunya yang dimaksudkan oleh Bung Karno. Beruntung Sukarno dan orang-orang yang diperkenalkan dengan pertunjukan wayang sejak kecil. Namun demikian, meski sudah mengenal wayang, untuk memaknainya, ternyata bisa berbeda orang per orang. Itulah sebabnya saya yakin meski seseorang mengenal wayang, belum tentu mempunyai cita-cita, apalagi cita-cita tinggi (termasuk penulisnya, hehehe…).

Saya berterima kasih kepada Bung Karno (selain sebagai proklamator dan pahlawan bangsa) atas nasihat dalam pidatonya itu yang menunjukkan bahwa wayang tidak sekedar hiburan, tetapi bisa menjadi sarana edukasi dan memberi motivasi untuk maju. Tentunya menjadi pelajaran juga kepada produsen film atau hiburan lainnya agar bisa membuat film atau pertunjukan hiburan yang bisa menumbuhkan cita-cita yang tinggi terutama kepada para generasi muda, bukan sekedar hiburan murahan apalagi merusak fisik dan mental. Melihat dampaknya, sepertinya tak ada alasan (pertunjukan) wayang akan punah atau dipunahkan. (Depok, 12 Agustus 2011)

Sumber Ilustrasi: http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Sukarno

Sumber referensi:

[1] Disadur dari buku ”Business School” karangan Robert T Kiyosaki

Nostalgia Nonton Wayang Bersama Bung Karno


Sumber

Sumber : http://bloggerpurworejo.com/2010/06/nostalgia-nonton-wayang-bersama-bung-karno/

Bung Karno Wayang

Bung Karno dengan tokoh idolanya Sang Gathutkaca di dampingi Walikota Jakarta Soediro

Kejadiannya sudah berlalu sekitar 50 tahunan, sekitar permulaan tahun ‘60-an, namun dalam ingatan saya sepertinya baru kemarin saja.Tempatnya di Istana Negara, waktunya suatu malam Minggu. Dalangnya Ki Gitosewoko, dalang kesayangan Bung Karno (BK) yang kebetulan juga berasal dari Blitar. Karawitan RRI Studio Jakarta pimpinan Pak Sukiman dengan waranggana nyi Tjondrolukito dan teamnya. Lakon, pilihan BK atas usul ki Dalang, yang penting harus ada kiprah Sang Gathutkaca, tokoh wayang idola BK. Memang ini hak dari BK karena beliau yang punya gawe, nanggap wayang, rata2 sebulan sekali di Istana Negara, dan ngundang sekitar 100-an undangan untuk menemani dan menikmati malam Minggu bersama.

Sukarno

Mas Sutomo, pejabat protokol istana yang mengatur pertunjukkan wayang bersalaman dengan Bung Karno.

Siapa yang beruntung dapat undangan? Sesungguhnya setiap orang yang berminat bisa minta Sekretariat Negara, sama sekali tidak ada kekhususan, namun karena jumlahnya terbatas biasanya lalu berlaku sistem teman “orang dalam” Sekneg, khususnya protokol istana. Yang saya tahu pasti, undangan itu diberikan secara gratis, tanpa embel2 apapun. Saya sendiri kebetulan waktu itu diperbantukan oleh Deplu ke Sekretariat Dewan Pertimbangan Agung/Sekneg, sehingga memiliki info awal bila akan ada wayangan, dan tanpa membuang waktu menghubungi teman “orang dalam” untuk memperoleh undangan.

Pukul tujuh sore para undangan sudah harus masuk Istana Negara lewat pintu belakang Jalan Segara/Veteran, cukup dengan menunjukkan kartu undangan langsung dipersilahkan masuk menuju ruang pagelaran wayang, hampir tanpa pemeriksaan keamanan. Sungguh berbeda dengan keadaan sekarang, jaman itu masih “sederhana dan aman”. Sekitar pukul setengah delapan, gamelan mulai ditabuh. Pertunjukan akan dimulai pukul delapan. Menjelang pukul delapan mulai talu, semetara ki Dalang sudah siap di tempat. Selesai talu, BK masuk ke ruang pertunjukan diiringi dua/tiga pejabat penggemar wayang dan ajudan, semua penonton berdiri, BK kasih salam dengan senyumnya yang khas kepada para penonton dan langsung duduk di tempat yang disediakan.

Demi keamanan, BK duduk di depan/terlindung oleh pilar, di kiri kanan terlihat satu dua pejabat dan teman-teman Bung Karno penggemar wayang. Suasana nampak akrab layaknya orang orang yang sedang menonton wayang, santai tanpa rasa tegang. Saya sendiri waktu itu duduk hanya beberapa meter dari BK arah samping kiri belakang, tidak terasa bahwa di dekat saya duduk orang nomer satu di Republik ini.

Dalang

Ki Gitosewoko dalang kesayangan Bung Karno

Pagelaran dimulai, penonton terbuai oleh kiprah ki Dalang , suasana tenang, tidak terdengar suara apapun antara penonton, perhatian seluruhnya kepada layar/kelir di depan sambil mengagumi keahlian dalang dalam memainkan wayang, suluk, janturan dan ontowacono dari para tokoh2 wayang. Sedikit mengenai dalang Gitosewoko. Dia memang dipilih oleh BK sebagai dalang yang “pas” sesuai dengan selera beliau, bahkan sampai di beri tempat tinggal/kamar dalam kompleks perumahan Istana Negara. Khususnya bila dia menampilkan tokoh Gathutkaca, sungguh sangat memukau, pada waktu janturan bersiap untuk terbang sampai pada klimak-nya, “jejak bantala, melesat angkoso, kebat kadiyo kilat, kesit kadiyo tathit…” diiringi dengan gending pangkur palaran dan sinden Nyi Tjondrolukito, sungguh menggetarkan perasaaan para penonton termasuk Bung Karno yang nampak sangat menikmati episode tsb. Selanjutnya saat perang kembang antara Denawa/Gathutkaca juga dengan iringan gending pangkur palaran dengan iringan suara khas Nyi Tjondrolukito “ Ampyaken kaya wong njala, krubuten kaya menjangan mati…”. Inilah nampaknya dua episode yang sangat digemari oleh BK.

Teman saya yang pinter ndalang, Mas Mulwanto dari Solo (masih ada),bekas Atase Kebudayaan di Pilipina, cerita bahkan pada waktu jadi “tahanan rumah” di Istana Bogor, ia sering diminta datang BK bersama dengan almarhum Ir. Sri Mulyono Herdalang, khusus untuk mainkan episode Gathutkaca vs Denawa diiringi oleh gending/lagu pangkur palaran. Nampaknya ini sudah menjadi “obsesi” BK… Dalam kondisi terisolasi, hiburan beliau adalah wayang dengan tokoh Gathutkaca. Saya masih menyimpan piringan hitam dari Lokananta yang berisi rekaman Gathutkaca Gandrung oleh Roesman dan Darsi, yang terkenal sebagai Gathutkaca dan Pergiwa Sri Wedari. Mereka sering diundang Bung Karno ke Istana khusus untuk menarikan tari Gathutkaca Gandrung dengan suaranya yang menggelegar . Lagi-lagi dengan pangkur palaran. Nampaknya memang tembang/lagu inilah idola Bung Karno, sampai-sampai dalam salah satu gubahan puisinya, beliau mengatakan bahwa “bila saya mendengar tembang Pangkur Palaran seakan saya juga melihat Indonesia tercinta”.

Sekitar jam sepuluh malam terdengar suara cangkir beradu, ini tandanya hidangan kopi mulai dikeluarkan, kopi pilihan Bung Karno, aromanya saja sudah cukup menggugah, rasanya sungguh nikmat ditengah suasana santai nonton wayang. Bung Karno betul-betul membaur dengan rakyatnya hampir tanpa jarak. Ketika saatnya datang adegan goro-goro suasana makin santai dan bagi yang sudah biasa nonton di Istana inilah saat yang di tunggu-tunggu. Hidangan makan malam berupa rawon kesukaan Bung Karno mulai diedarkan lengkap dengan sambelnya yang terkenal pedas merangsang. Hidangan ini langsung membangunkan mereka yang ngantuk ditambah dengan segelas teh manis panas sebagai penutup cukup untuk bekal melanjutkan nonton wayang sampai tancep kayon. Dan penonton memang baru bubar, termasuk Bung Karno, setelah tancep kayon.

Dalam perjalanan pulang, pikiran saya melayang dan teringat kembali kenangan sewaktu kecil di desa. Sebagai penggemar wayang “fanatik”, kemanapun ada wayang saya hampir tidak pernah melewatkan. Apabila penonton penuh sesak, kami anak-anak manjat pohon dan nangkring di atas sambil “nggayemi krimpying” desa Carikan, layaknya menonton dari balkon. Malam hari sehabis Maghrib kami berangkat , langsung cari tempat di sebelah ‘kothak’, walau di usir2 oleh Pak Niaga tetap bertahan dan tidak bergeming. Kesenangan yang luar biasa bila Pak Dhalang minta bantuan mengambilkan tokoh wayang dari ‘simpingan’, biasanya dengan menggunakan “gada panjang”. Sing niki napa? “ya”, kata Pak Dhalang. Sungguh merupakan kepuasan. Pagi hari setelah bubaran, cari ‘badharan gebleg’ untuk mengisi perut yang lapar. Sambil pulang sepanjang jalan “nggayemi” gebleg dingin alot, namun cukup terasa gurih juga.

Sekitar duapuluh tahunan kemudian setelah peristiwa wayangan desa itu, saya pulang nonton wayang bukan dari Ngringgit, Briyan atau Singkil, tapi dari Istana Negara bahkan nonton bersama dengan Bung Karno, tokoh yang paling saya kagumi, bukan dengan jalan kaki tapi naik mobil walaupun mobil dinas. Sungguh di luar impian dan khayalan bahwa hal itu bisa terjadi. Perjalanan hidup seseorang memang penuh misteri, namun bagi saya itulah hikmah dan nikmat kemerdekaan yang diproklamasikan Bung Karno dan tentunya tidak terlepas dari kehendak dan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa juga.

Slamet Wijadi.

Wayang Ajen


BANDUNG, KOMPAS.com–Penampilan wayang ajen pada Festival de Titeres de Canarias 2009 di Spanyol, 23 April-5 Mei, mendapatkan penghargaan untuk kategori penampilan terbaik. Kemampuan meramu pertunjukan tanpa kehilangan karakter dasar seni wayang tradisional dianggap sebagai terobosan mengesankan.

“Menurut Angel Brito, koordinator festival, wayang ajen dengan segala tampilannya mampu memuaskan penonton,” kata Wawan Gunawan, pemimpin rombongan sekaligus dalang wayang ajen di Festival de Titeres de Canarias 2009, melalui surat elektronik, Rabu (6/5).

Dalam festival ini tim wayang ajen tampil di delapan kota, yaitu Los Realejos, Guia De Isora, El Sauzal, El Rosario, Santa Cruz de La Palma, Tenerife, Gran Canaria, dan Aguimes. Selain Wawan, anggota lainnya adalah M Tavip (dalang gambar motekar), Dodong Kodir (musik daur ulang), dan Pandu Radea (penata artistik).

Menurut Wawan, penghargaan itu membuktikan wayang ajen bisa menjadi salah satu karya besar dunia internasional. Wayang ajen dianggap mampu membawakan kesenian baru tanpa melepas identitas asli sebagai bagian dari wayang golek. Hal itu bisa dilihat dari idiom gerak, gambar, dan musik yang digarap secara artistik. Bahasa Inggris dan Spanyol yang dibawakan dalam setiap pertunjukan juga bisa memudahkan penonton menikmati pertunjukan wayang ajen berlakon Rama dan Sinta ini.

“Terutama saat adegan goro-goro yang menampilkan kolaborasi Si Cepot dengan wayang matador, atau ketika Si Cepot mengaku sebagai Lionel Messi dan Raul Gonzales, pemain sepak bola klub terkenal Spanyol, Barcelona FC dan Real Madrid,” katanya.

Kemampuan personel lain juga mampu membangun penampilan wayang ajen semakin hidup. Kemampuan Dodong Kodir mengeksplorasi sampah menjadi alat musik dengan efek-efek bunyi aneh membuat penonton terperangah, contohnya ketika mendengar suara halilintar, angin, dan ombak.

Hal yang sama dilakukan M Tavip. Gambar motekar yang dibawakannya berhasil mengejawantahkan wayang ajen dalam bahasa gambar. (CHE)

Sumber :
Kompas Cetak
—————

Wayang Ajen mendapatkan pengakuan sebagai bentuk pertunjukan kesenian bagian dari warisan budaya tak benda Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Wayang ajen dianggap sebagai salah satu bentuk terobosan kreatif mengembangkan kesenian dan tradisi wayang di dunia.

”Pengakuan itu muncul karena kami tampil dalam Festival Internasional Bucheon World Intangible Cultural Heritage Expo (BICHE) di Kota Bucheon, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, 28 September-2 Oktober 2010,” ujar dalang wayang ajen, Wawan Gunawan.

Wayang ajen adalah hasil kolaborasi wayang golek, wayang kulit, wayang dari bahan fiberglass, tari, dan komposisi musik dalam sebuah pertunjukan. Dalam pementasannya, didukung juga penataan artistik panggung, keserasian tata cahaya, serta kostum harmonis.

Wawan mengatakan, BICHE 2010 merupakan ajang pertemuan budaya dan kesenian tradisi dunia yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, sekaligus guna mengenang sejarah 500 tahun Korea. Beberapa pertunjukan yang ditampilkan, antara lain, adalah tari aspara dari Kamboja, musik dan tari mariachi Latin dari Meksiko, musik dunia Rudiger dari Jerman, dan tari samba dari Brasil.

Menurut Wawan, wayang ajen mendapat kesempatan tiga kali tampil, dengan lakon ”Sinta Ilang”, ”Rahwana Gugur”, dan ”Sinta Obong” dari kisah Ramayana. Untuk memudahkan interaksi dengan penonton, pertunjukan diberi pengantar bahasa Inggris, lalu diterjemahkan dalam bahasa Korea.

”Pesan moral dan diplomasi budaya, sebagai jembatan persahabatan antarbangsa melalui pertunjukan kesenian, merupakan upaya jitu. Semua anggota tim yang berjumlah 10 orang bahkan sempat menyanyikan lagu Korea, ’Arirang’,” ujarnya.

Manajer Wayang Golek Ajen Dini Irma Damayanthi menjelaskan, pertunjukan di Bucheon kali ini hanya tiga kali. Meskipun tidak seperti saat pertunjukan di beberapa kota di Spanyol dan Republik Ceko yang pernah dilakukan, pihaknya puas karena mendapatkan pengakuan dunia.

”Sambutannya sangat meriah. Apalagi, kami juga menyertakan penampilan wayang tavip karya Mohammad Tavip. Wayang hasil daur ulang beragam materi yang sudah tidak terpakai ini mampu memperkaya kekuatan estetika pertunjukan,” ujar Dini.

info lebih lanjut Wayang Ajen

Sumber: Kompas