Category Archives: Ki Warseno Slenk

Ki Warseno Slenk : Antasena Takon Bapa


Oleh: MasPatikrajaDewaku (PPW – 11-01-0006)                               

Kerjasama dengan Radio Mutiara Bandung

Setidaknya ada  tiga alasan ketika pertama kali saya akan membagikan pagelaran dari dalang muda ini.

Alasan pertama adalah, dalangnya sendiri. Ki Warseno Slenk. Nama yang ngepop. Mungkin dalang dengan gelar insinyur ini mendedikasikan pagelarannya, umumnya buat anak muda. Hal ini terlihat dari nama slenk yang memang pada saat itu Group Band Slenk sedang naik daun. Juga gaya selengehan-nya pada adegan santai yang dinilai agak kebablasan waktu itu.

Sebenarnya gaya panggung yang slengehan dalam lakon ini masih pada taraf ditolerir bila dibandingkan dengan yang terjadi pada saat sekarang. Limbukan yang saat rekaman dilakukan oleh Ki Warseno Slenk (dengan gaya yang slengehannya waktu itu) masih belum nggladrah banget. Atau mungkin bisa dikatakan belum pada taraf menjadi lakon “Banjaran Limbuk dan Petruk”, yang sedang trend saat ini. Tapi dari semuanya yang telah saya amati sambil mendigitalisasi kaset analog dari dalang muda ini, sebenarnya Ki Warseno ini punya potensi besar untuk mampu mendalang secara serius, atau bergaya klasik.

Secara gaya mendalangnya, Ki Warseno ini sepertinya hendak mencari jati diri agar tidak berimpit dengan segment audience dari saudaranya yang terlebih dahulu mapan. Maka tidak heran bahwa adik dari Ki Anom Suroto ini “bermain” dalam segmentasi yang berbeda dengan sang kakak. Mungkin anggapan beliau, bila ditinjau dari segi komersial, maka keduanya tidak akan bentrok dengan “dagangan” yang segmentnya sama.  Atau dengan kata lain, masing masing mempunyai “diferensiasi” sendiri-sendiri. Sebabnya adalah, bila dicermati secara vocal, timbre suara dan gaya pedalangannya, Ki Warseno ini adalah tipikal kembaran dari sang kakak.

Satu kreasi positif Ki Warseno adalah olah karawitannya. Olah gending iringan yang menyatu dalam pagelaran-nya membanggakan. Ia berani mendobrak kebiasaan yang pakem. Misalnya jejer Astina yang umumnya dengan iringan Gending Kabor, tapi beliau mengiringi jejer itu dengan sanggit gendhing yang berbeda. Dinamis!! Dinamisnya iringan gending jejeran menggantikan suasana monoton ketika menonton/mendengarkan wayangan ini. Hal ini juga terjadi pada beberapa adegan lagi

Demikian juga dalam hal janturan. Ki Warseno tidak teguh memegang janturan (narasi) standard yang seringkali diucapkan tanpa mengenal siapa atau negara mana yang dijantur. Tetapi beliau menggambarkan dengan cakepan janturan yang berbeda antara, misalnya, jejeran Astina dengan raja yang korup dan negara yang tergolong negara gagal, dibandingkan dengan janturan untuk negara nDwarawati, yang mempunyai raja bawa leksana dan negara loh jinawi, kerta lan raharja.

Kemudian yang saya kagumi dari dalang ini, kecuali suluknya yang kung dengan cakepan yang tidak pasaran dan tidak perlu diceritakan lagi, juga sastra dalam menceritakan keberadaan seorang tokoh atau suasana dengan persajakan (jw. purwakanthi).

Dalam lakon ini banyak adegan dengan narasi persajakan. Misalnya dalam adegan Dewi Banuwati, yang diceritakan kurang lebih seperti ini:

Dewi Banuwati wis kondhang kaloka ayune sesigar jagad, gedhe dhuwur ora kliwat, pakulitan kuning tanpa cacat, yen mesem esmu angujiwat, sapa diesemi mesthi ora kuwat. Mula nadyan larang meksa diangkat, minimal kudu eketan papat  (ketoke sing iki wis ora mekakat).

Dhasar rambut ireng tanpa disemir, netra mblalak irunge mbangir. Lambe abang ginaris pinggir. Lelewani agawe gingsir, sing ora jejeg imane malah klakon bisa kenthir.

Untu cilik miji timun, janggut nyathis kaya winangun. Payudara agawe gumun, sapa nyawang meksa ngalamun, wekasane golek dhukun, karepe dimen kayungyun, jebul mung tiwas urun. Nanging banda entek wekasane turu neng setasiun, dst.

Kurang lebih seperti ini artinya:

Dewi Banuwati terkenal cantiknya setengah jagad, sosoknya sedang, kulitnya kuning tanpa cacat, kalau tersenyum agak menggoda, siapapun yang disenyumi tidak kuat. Maka walaupun mahal tetap saja “dibeli”.

Rambutnya hitam tanpa disemir, matanya berbinar hidungnya mancung. Bibirnya merah bergaris dipinggirnya. Tingkahnya membuat hati tertarik. yang tidak kuat iman bisa menjadi gila.

Gigi teratur bagai biji timun, dagu berbentuk sarang lebah. Payudara membuat orang terheran, membuat siapa yang melihat terus melamun, akhirnya mencari dukun, maksudnya biar ia jadi tertarik. Tidak taunya cuma kehilangan uang, harta habis akhirnya tidur disetasiun.

Dan masih banyak lagi.

Kedua, ini kaset adalah salah satu yang terbaik yang saya pernah temui. Terbaik disini diartikan, keseimbangan tonalnya yang hampir presisi, artinya suara instrumen mendapat porsi gain yang sepadan dalam reproduksi ketika dimainkan ulang. Sedangkan tata suara rekam stereo yang pilah, memungkinkan kita sebagai pendengar seakan masuk dalam kelompok penabuh gamelan. Ini bisa terjadi, bila kita menikmatinya pada posisi apitan speker kiri dan kanan, atau kita mendengarkan lewat headphone. Hal stereo yang pilah ini yang jarang lagi kita dapat lagi pada pagelaran wayang masa sekarang yang kebanyakan mementingkan kuantitas suara yang menggelegar tapi buruk tata suaranya. Padahal efek stereo, sebenarnya diarahkan untuk memanjakan telinga kita yang dua: kiri dan kanan, sehingga terciptanya efek ruang (z). Kondisi seperti inilah pada pagelaran akhir akhir ini menjadi terabaikan.

Yang ketiga adalah, lakon yang dipentaskan. Pada masa lalu, yang namanya Antasena tidak terceritakan dalam gagrak Surakarta. Kalau adapun, nama itu adalah nama lain dari Antareja. Sedangkan untuk gagrak Mataraman dan Banyumasan, tokoh Antasena adalah Antasena itu sendiri. Pada gagrak Mataraman dan Banyumasan, sesama anak Wrekudara ini terlahir dari ibu yang berbeda. Antasena adalah anak Dewi Urangayu, sedangkan Antareja adalah anak dari Dewi Nagagini. Lah sejak kapan, tokoh ini muncul menjadi sosok dengan kemandirian nama pada gagrak Surakarta ini? Mungkin ada yang mau sharing?

Secara cerita, lakon ini mengisahkan Putra Prabu Salya yang bernama Raden Burisrawa, yang tengah patah hati ketiga gagal mempersunting Dewi Sumbadra, idaman hatinya. Burisrawa yang pantang mundur tidak tinggal diam. Usahanya untuk kembali merebut Wara Sumbadra hampir saja tercapai ketika ia, dengan berbekal kesaktian dari Batari Durga, berhasil melarikan Wara Sumbadra. Tetapi ternyata Sumbadra dalam kekuasaan Burisrawa lebih memilih bunuh diri. Jenasah Wara Sumbadra berhasil ditemukan dan dihidupkan kembali oleh Raden Antasena yang ketika itu pertama kalinya akan menemui ayahnya. Ia berhasil menyelamatkan Dewi Wara Sumbadra

Saat ia berbincang mengenai asal-usul keduanya, Gathutkaca yang salah paham menerjang Antasena. Keduanya bertempur seru oleh karena kesaktian keduanya yang memang hebat. Keduanyapun memang belum sempat saling mengenal. Sampai akhirnya keduanya dipisahkan oleh Sumbadra.

Kalau saya perhatikan dari segi cerita, alur ini sama sekali berbeda dengan versi Banyumasan yang dalam lakon-lakon yang sering dipentaskan mengangkat tokoh Antasena sebagai role cerita. Pada cerita Antasena Takon Bapa versi Banyumasan (konversi digital lakon ini yang saya masih simpan, judulnya Antasena Takon Rama), ceritanya adalah berkisar pada hilangnya Dewi Banuwati dari Taman Kadilengeng. Durna menuduh Arjuna yang mencuri Banuwati. Walaupun perkataan Durna tidak dipercaya oleh Adipati Karna, tetapi keduanya terpergok sedang berduaan. Keduanya dipertemukan ketika Arjuna dengan tidak sengaja berhasil menemukan Banuwati yang tengah dilarikan. Lakon ini juga banyak dikenal dengan nama Gendreh Kencana. Yang versi Banyumasan oleh Ki Sugino akan saya share kemudian. (Pendhemen Dhalang Gino mesti wis padha ngenteni kiye).

Dari hal yang menarik diatas, yang saya bisa garis bawahi adalah; rekaman yang sangat bagus membungkus content lakon Antasena Takon Bapa dan digelar oleh dalang potensial dengan cita rasa tinggi.

Link unduh:

  1. 1A. http://jumbofiles.com/prgvo4rkqoxh
  2. 1B. http://jumbofiles.com/bneiipp5skzi
  3. 2A. http://jumbofiles.com/qq6thqpm11du
  4. 2B. http://jumbofiles.com/j4abr8vbdhrd
  5. 3A. http://jumbofiles.com/i4ai08lmeycb
  6. 3B. http://jumbofiles.com/n87ymv31v5ik
  7. 4A. http://jumbofiles.com/wflgb1muy156
  8. 4B. http://jumbofiles.com/elzg68qjepy1
  9. 5A. http://jumbofiles.com/vz5qt5160f3t
  10. 5B. http://jumbofiles.com/cgtzi30zs4c1
  11. 6A. http://jumbofiles.com/ldd479puma9v
  12. 6B. http://jumbofiles.com/st4ajk2vsquu
  13. 7A. http://jumbofiles.com/wlzncgf8vrms
  14. 7B. http://jumbofiles.com/1a6fxozch9ts
  15. 8A. http://jumbofiles.com/6gght0v30j1w
  16. 8B. http://jumbofiles.com/sex9k2xoyatg

________________________________________

FILE AUDIO INI DITUJUKAN UNTUK PENGUNJUNG wayangprabu.com DAN UNTUK KEPERLUAN KONSERVASI SAJA.

KI WARSENO SLANK LAKON WAHYU PULUNGGONO LENGKAP (MP3)


Kali ini saya sharing Mp3 Ki Warseno Slank Lakon Wahyu Pulunggono lengkap yang mungkin pernah beberapa bulan atau beberapa tahun yang lalu pernah di sharing oleh mas Pranowo Budi kami dari KURNIA FM mencoba mengconvertnya menjadi Mp3 lengkap dan dapat kita nikmati bersama dengan suara yang cukup baik.

SELAMAT MENIKMATI MP3NYA

by Ali Mustofa