Category Archives: Ki Timbul Hadiprayitno

Audio KTCM Mbangun Candi Sapto Renggo


Radio Suara Parangtritis RSP Jogja

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Selamat Tahun Baru 2014 semoga kita semua menjadi insan yang semakin berkualitas.

Di awal tahun 2014 ini Radio Suara Parangtritis berbagi koleksi wayang kulit. Kali ini kembali kami share untuk anda semua pecinta wayang kulit sebuah rekaman audio pentas wayang kulit dari Ki Timbul Cermo Manggolo (KTCM) dengan lakon Mbangun Candi Sapto Renggo.

Meskipun sudah diposting sebelumnya lakon ini dalam format video, kami ingin berbagi kepada anda dalam bentuk audio. Silahkan mendengarkan di sini

http://www.4shared.com/folder/kSqxj97d/KTCM_-_Mbangun_Candi_Sapto_Ren.html    (tolong dihapus bila link bisa dibuka)
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [4]


Cangik - Limbuk
Dalang Ki Timbul Hadiprayitna KMT Cermo Manggala

Baladewa :-“ Mahar yang aku sampaikan kepada Gathutkaca tadi, aku berani pastikan kalau pandhawa tidak bisa memenuhinya. Mana ada tontonan swargaloka dibawa ke bumi, mana ada kereta jatisura kuda sifat raksasa dengan kusir dewa tampan, dewa mana yang mau jadi kusir. Nah, setelah itu maka engkau bisa menerima lamaranku. Bratajaya akan aku nikahkan dengan Burisrawa, engkau hendak minta mahar apa pasti akan aku laksanakan.”

Kresna :-“ Perkenankanlah saya katakan kepada kanda. Sekarang kedudukan kanda sebagai pelamar, tetap kekuasaan Sembadra ada ditangan saya. Kanda mau melamar Sembadra silahkan, namun saya juga punya permintaan.”

Baladewa : -“ Apa permintaanmu”

Kresna :-“ Pertama akad nikah harus dilaksanakan didalam saka dhomas balekencana, iring-iringan pengantin dari Ngastina sampai ke Dwarawati harus memakai kereta jatisura jaran sifat raksasa dengan kusir dewa tampan diiringi dewa tiga puluh berwatak sembilan, diiringi bidadari, dan tontonan swargaloka kayu klepu dewandaru parijatha kencana laring manyura mungwing kanan miwah kering. Kemudian tontonan raksasa putih dengan lidah tumbuh jamur grigih dengan bersama kera putih yang bisa berbicara dan juga dapat menari dipuncak pecut penjalin tingal. Srah-srahan hewan hutan mulai dari gajah singa, harimau sampai kutu walang antaga semua dapat berbicara sepadan dengan manusia, dan waktunya tujuh hari. Kurang dari tujuh hari tidak saya terima dan lebih dari tujuh hari juga tidak sata terima. Cukup sekian kanda permintaan saya.”  Continue reading Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [4]

Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [3]


baladewa

Dalang Ki Timbul Hadiprayitna KMT Cermo Manggala

Kresna :-“Menurut saya begini kanda, pernikahan itu dianggap mudah bisa, dianggap sulit juga iya. Semua manusia di dunia ini sebenarnya cuma sekedar menjalankan apa yang sudah menjadi kehendak Tuhan, maka yang terbaik kita lakukan adalah memohon petunjukNya.”

(Suluk ada-ada pathet nem wetah)

Baladewa sru deduka, dupi mulat kang samya andon jurit, gya menyat denya sru muwus, sugal pangandikanira, ngasta trigora maha sekti, yen kadulu yayah singa anubruka.

Kandha.

Disaat mereka tengah bermusyawarah, raja Dwarawati beserta raja Mandura yang diikuti oleh segenap punggawa kerajaan Dwarawati, pembicaraan mereka terhenti sejenak disaat tiba tiba terdengar suara ramai di alun alun. Ternyata yang membuat ramai adalah datangnya satria Pringgandani Raden Gathutkaca, sebentar kemudian naik sitinggil sehingga menjadikan kaget semua yang hadir disitu. Para prajurit pun berkata, teman ada tamu .. ada tamu … tamu … tamu, beri jalan.

(Iringan playon slendro pathet nem, suwuk, dilanjutkan suluk lagon plencung jugag, slendro pathet nem, dilanjutkan dialog ).

(Suluk plencung jugag slendro pathet nem).

Gya lumarap, caraka kang nembe prapta, ong, ong, tinata trapsilanira, mungwing ngarsa srinarendra, tumanduk sangyun mangarsa, ong, tan ana kuciwa raras, hong.

Dialog.

Kresna :-“Iwang suksma ana samitaningsun hong buwana langgeng, kalau tidak salah yang baru datang ini keponakanku Rimbiatmaja.”

Gathutkaca :-“ Benar gusti.”

Kresna :-“ Belum lama engkau datang, semua dalam keadaan baik bukan.” Continue reading Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [3]

Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [2]


sembadra_solo

Dalang Ki Timbul Hadiprayitna KMT Cermo Manggala

 

Dialog.

 

Kresna : -“ Iwang suksma ana sasmitaningsun hong bawana langgeng, kanda prabu Baladewa, belum lama datang di negara Dwarawati, perkenankan saya menghaturkan sembah sujut, kanda prabu Baladewa.

 

Baladewa : -“ Jagad dewa bathara, adikku Kresna, kanda mendengar apa yang adikku ucapkan, saya terima dengan senang hati. Kan kumasukkan dalam hati semoga menjadi berkah. Berkat do’a adikku dan karunia tuhan, kedatanganku tidak ada halangan suatu apapun. Selain itu do’a kanda semoga membawa berkah buat kamu.”

 

Kresna : -“ Dengan senang hati saya menerimannya kanda, sabda kanda prabu kan kusimpan di dalam hati smoga menjadi penerang, maka dari itu silahkan kanda duduk dengan nyaman.”

 

Baladewa : -“ Baiklah adikku.”

 

Kresna : -“ Samba jangan engkau berdiam diri, sujutlah kepada pamanmu kanda prabu Baladewa.”

 

Samba : -“ Maafkan saya, paman. Perkenankanlah ananda Samba wisnubrata menghaturkan sembah sujut.”

 

Baladewa : -“ Keponakanku yang tampan Samba do’aku terimalah.”

 

Samba : -“ Terima kasih, saya simpan semoga menjadi berkah.”

 

Setyaki : -“ Kanda prabu Baladewa sayapun menghaturkan sembah sujut.”

 

Baladewa : -“ Adikku Wresniwira aku terima penghormatanmu, doaku teriring untukmu.”

 

Udawa : -“ Seribu maaf gusti, abdi kepatihan menghaturkan salam atas kedatangannya di negara Dwarawati.”

 

Baladewa : -“ Berkat do’a kakak Udawa tidak ada halangan suatu apapun.”:

 

Udawa : -“ Iya syukurlah kalau begitu.”

 

Kresna :-“ Setelah duduk dengan tenang, perkenankalah saya bertanya maksud kedatangan kanda ke Dwarawati. Nampaknya sangat penting dilihat dari kedatangan kanda yang tanpa pemberitahuan sedikitpun. Seandainya kanda memberitahukan sebelumnya, tentu saya akan menemui kanda diluar gerbang dengan naik kereta sebagai tanda hormat saya kepada kanda.”

 

Baladewa : -“ Jagad dewa bathara, aku sangat senang mempunyai adik seperti kamu. Walaupun belum terlaksana perkataan adikku, namun ketahuilah, kedatanganku tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, smoga tidak menghilangkan adat yang ada, hanya karena terburu-buru dan ingin cepat bertemu dengan adikku saja. Kalaupun demikian dianggap salah ya aku minta ma’af.”

 

Kresna :-“ Tidak mengapa kanda, karena semuanya tlah terjadi, namun seingat saya yang sudah terjadi dengan yang belum terjadi masih banyak yang belum. Maka harap diingat bahwa saya dan kanda itu adalah seorang raja, akankah kanda prabu menghilangkan tatakrama, seandainya diketahui oleh raja negara lain, bisa-bisa kanda dianggap tidak tahu tata krama.”

 

Baladewa ;-“ Jagad dewa bathara, sekali lagi aku minta ma’af adikku.”

 

Kresna :-“ Lantas ada keperluan apakah kanda terlihat terburu-buru datang ke Dwarawati.”

 

Baladewa : -“ Sebelum aku mengutarakan keperluan kedatanganku ini, perkenankan aku mempunyai permintaan. Agar lebih mudah berbicara, perkenankan aku menghilangkan tata cara antara raja Mandura dengan Dwarawati. Bukankah kita adalah saudara kandung dan akulah yang lebih tua.”

arjuna

Kresna : -“ Terserah kanda prabu saja.” Continue reading Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [2]

Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [1]


ki timbul

Dalang Ki Timbul Hadiprayitna KMT Cermo Manggala

Pementasan dimulai dengan mencabut gunungan dari tengah kelir, iringan gending Ayak-ayak lasem slendro pathet nem, dalang mengeluarkan dua keparak, dilanjutkan raja Dwarawati, Prabu Baladewa, Samba, Setyaki dan patih Udawa.

Dalang memberikan selingan sulukan kombangan.

Mangka purwakaning kanda, hamba sru marwata siwi, mring sangyaning pra rupiksa, ngaturaken carita methik, jaman purwa puniki, tan nedya mulang wuruk, hooong, mung sumangga pra rupiksa denya methik palupi, wasana mugi rahayu kang pinangya.

Iringan berubah menjadi Ayak-ayak gending Karawitan slendro pathet nem, dalam keadaan itu dalang melantunkan suluk kombangan.

Oooong, palugon lakuning lekas, lukita linuding kidung, kadung kadereng hamomong, memangun manah rahayu, hayana tan agolong, gumolong manadukara, karana karenan pangapus puspita wangsalan semon, hong.

Gending karawitan menjadi lambat, dilanjutkan memberikan deskripsi adegan secara lengkap yang lazim disebut janturan sebagai berikut.

Ya Tuhan yang menjadi sesembahan saya dan yang menguasai hidup dan mati. Supaya mempunyai perbuatan yang menyembah kepada yang membuat dunia. Oleh karena saya mengetahui besar kekuatannya yang sangat berlebih. Ditempat ini saya akan menyusun (mengringgit) dengan mengambil cerita dari buku, dengan masih bertumpu kepada kebudayaan. Dalam kesempatan ini semoga menjadi pemikiran, yang sungguh dapat menjadi contoh semua hal yang mengguntungkan kerajaan. Cerita tadi diceritakan dengan perumpamaan dan gambaran baik dan lebih bebas, karena selalu mengingat zaman dahulu (zaman sesudah kitrah dan zaman sesedah madya). Dengan memuji keturunan yang pantas disayangi supaya mengembangkan. Sekarang sudah sampai pada perkataan. Selalu dibarengi hiasan dan do’a yang bertumpuk-tumpuk. Tidak lupa saya selalu memuji kepada yang membuat terdahulu, demikian ucapan pendahuluan saya.

Tersebutlah negara mana yang akan mengawali cerita nanti, yang disebut eka adi dasa purwa. Eka artinya satu, hadi lebih, dasa sepuluh, purwa permulaan. Walaupun didunia banyak makhluk tuhan yang disangga bumi, dipayungi angkasa diapit samudra, banyak yang hanggana raras, ternyata mencari seribu tidak mendapatkan sepuluh, seratus tidak mendapatkan tiga. Sebagus-bagusnya kerajaan belum ada yang sebagus kerajaan Dwarawati, atau Dwaraka ya Dwarakesthi, ya Jenggalamanik.

Maka negara Dwarawati dipakai pembukaan cerita, sebab negara tersebut panjang punjung pasir wukir loh jinawi gemah ripah karta tur raharja. Kata panjang artinya panjang, punjung tinggi. Kalau digambarkan seberapa panjangnya kerajaan sungguh negara panjang ucapannya, lebar wilayahnya luhur kawibawannya. Pasir samodra wukir gunung, sebab tata keindahan kerajaan membelakangi samodra, diapit gunung besar, disebelah kirinya pegunungan dan pedesaan, disebelah kanannya persawahan juga didepannya pertanahan luas, loh berhasil yang ditanam, jinawi murah yang dibeli, sungguh negara Dwarawati serba murah yang dibeli, yang dijual semua laku. Juga disebut negara murah makanan, dan pakaian. Continue reading Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [1]

Ki Timbul Hadiprayitno : DORAWICARA


dorawicara copy

Werkudara ilang tak kedhepake. iki ana wong bagus, sapa?!

Kadange sinarawedi para kadang Pendhawa, Pendhita kandhang langit kemul mega mendhang kleyang kabur kanginan.  Tanpa dhangka praja, Begawan Surya nDadari, kang dadi peparabku.

Begawan Surya nDadari?!

Iya!

Yen mengkana, kowe kang nulungi para kadang Pandhawa?

Ora tedheng aling-aling kepara nyata!!

Tak jaluk Puntadewa, Janaka, Nakula, Werkudara. Kowe gawe kagol pikirku nggonku nyampurnaake kadang Pandhawa.

Tak ulungake kadang Pandhawa, manawa wis ilang nyawane Begawan Suryandadari.

Wani mungsuh aku!!

Apa abamu!!

Damu dadi awu!!!

Para rawuh. Kantun sekedhik rekaman Ki Timbul Hadiprayitno ingkang dereng dipun inggah wonten ing internet. Ingkang kula inggah ing dinten menika salah setunggal ingkang dereng nate dipun ungkap, setunggaling lampahan carangan.

Begawan Dorawicara, lampahan ingkang nyariyosaken kados pundi para Sata Kurawa anggenipun ngudi supados para Pendhawa saged sirna lan Bratayuda saged wurung. Temtunipun Negari Ngastina saged lestantun dipun kukuhi dening par kadang Kurawa.

Ing lampahan menika ugi kacariyos emenging batin Adipati Karna ingkang eweuh milih ngeboti kadang tunggal wadhah, inggih menika Kadang Pandhawa menapa ngeboti para kadang Kurawa ingkang sampun maringi kamukten.

Pejahaipun para Pandhawa ingkang badhe dipun ajab dening pendhita neneka ingkang nami Begawan Dorawicara, nuwuhaken pepunton, menawi luwung ajur badan tinimbang kadang sepetarangan dipun perjaya.

Nalika semanten raosipun Adipati Karna kados sinendhal mayang mireng menawi para Kadang Pandhawa kaalap pejahipun dening Begawan Dorawicara lajeng kengetan ugi kaliyan budi kasaenanipun raden Arjuna ingkang presasat matumpa-tumpa. Begawan Dorawicara kadlarung wuwusipun anggenipun sawenang wenang, awit dipun gega dening pra Kurawa. Muntap raosipun Dipati Karna, lajeng Adipati Karna  bandayuda mengsah Begawan Dorawicara, nanging wusanaipun Adipati Karna kasoran.

Adipati Karna kabuncang dhawah ing kisiking seganten tepi wana gung liwang-liwung nami wana Kendhalirasa. Sanget anggenipun prihatos, wusana katulungan dening ingkang rama, Bathara Surya. Prasapanipun kaliyan ingkang rama, piyambakipun nendya ngluwari para Pandhawa ingkang dipun kunjara ing Negari Ngastina.Adipati Karna lajeng dipun puja dados pendhita mudha aran Begawan Suryandadari.

Kados pundi lampahan ingkang rame menika katindakaken dening Ki Timbul Hadiprayitna? Menapa panjenengan ingkang remen kaliyan ungeling karawitan ingkang tonal balance-ipun ngedap-edabi? Mangga para kadang ingkang sampun kersa rawuh kula aturi Klik wonten tautan-tautan ing ngandhap menika:

DORAWICARA1A

DORAWICARA1B

DORAWICARA2A

DORAWICARA2B

DORAWICARA3A

DORAWICARA3B

DORAWICARA4A

DORAWICARA4B

DORAWICARA5A

DORAWICARA5B

DORAWICARA6A

DORAWICARA6B

DORAWICARA7A

DORAWICARA7B

DORAWICARA8A

DORAWICARA8B