Category Archives: Ki Sugi Hadi Karsono

Koleksi MP3 Wayang (10 Lakon)


Berikut koleksi IndonesiaWayang dari beberapa dalang yang kami peroleh dari kiriman mas Durahman Kedu Gantiwarno Klaten

  1. KI KASIDI – WAHYU MUSTIKA AJI – LIVE KAPATIHAN
  2. Ki Mas Riyo Purwohartono – PENDHAWA KRIDHA
  3. Ki MR Basuki Dwijo HS – Laire Setyaka
  4. KI R. Lurah SUGI CERMOSARJONO – Kresno Kembar
  5. Ki Radyo Harsono – WAHYU MAKUTHOROMO
  6. KI Sigit Manggala Saputra – WAHYU KATENTREMAN – ( Live Jetak 2, 12 10 2013
  7. Ki Sudiyono – WAHYU SETYA WACANA – Turi (Live Kaweden 18 Juli 2009)
  8. Ki Sudiyono – GATHUTKACA WINISUDA – Turi 1(Live Ngrenak Sidomoyo Godean)
  9. KI SUGI – WAHYU WIDAYAT
  10. Ki Sugi Hadi Karsono – KUNTI BUJA KRAMA
Advertisements

Ki Sugi Hadi Karsono – Sadewo Kromo


cover sadewo kromo

Ass. wrb wb.

Kabar gembira bagi pecinta wayang kulit gagrag Ngayogyakarta utamanya untuk dalang-dalang yang sudah sangat senior, kali ini kami memiliki  Koleksi terbaru yang sangat ditunggu-tunggu. Lakon Sadewo Kromo bersama dalang Ki Sugi Hadi Karsono dari Bantul Yogyakarta.

Koleksi yang kami maksud adalah berupa satu seri Kaset Wayang Kulit lakon tersebut sebanyak 8 biji dengan kondisi yang masih lumayan layak didengar. Meski dari segi fisik kaset masih lumayan bagus, namun ternyata setelah coba diputar, beberapa buah di antaranya ‘meloncat’. Usut punya usut ternyata pita kasetnya pernah putus kemudian disambung. Di bagian lain ada yang pita kasetnya terkilir, bahkan terbalik sehingga menimbulkan suara yang tidak bisa dimengerti oleh bahasa manusia.

Perlu ekstra hati-hati untuk bisa kembali mendapatkan suara yang bersih dari kaset-kaset ini. Dari Pengamatan telinga awam saya, nampak sekali pentas ki Dalang dipenuhi oleh penonton hingga detik terakhir pagelaran. Disela-sela suluk beliau sesekali terdengar suara pedagang kaki lima dan penjual terompet balon dan bisik-bisik wiyaga dan riuh rendah penonton.

Satu demi satu akan coba kami convert dan mudah-mudahan segera bisa kami sajikan untuk anda pecinta wayang kulit agar juga bisa merasakan bagaimana sesungguhnya kondisi kaset yang kami peroleh, dan tentu saja bisa mendengarkan suara ‘gandem’nya Ki Sugi Hadi Karsono.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Selamat Menikmati

Radio Suara Parangtritis

RKi Sugi Hadi Karsono : ebut Palenggahan Senapati


(Kerjasama atara PPW dengan Radio Mutiara AM Bandung)

Oleh: MasPatikrajaDewaku. (PPW No 11-01–0006)

Ketika pertama kali saya mendengarkan janturan pambuka lakon ini, kesan pertama adalah apakah ada kesalahan “speed reel drive motor” pada pemutar kaset. Terdengar suara sedikit memiliki effect “wow”. Tetapi setelah dipaksakan untuk meneruskan permainan, kelihatan bahwa suara gamelan dan waranggana serta penggerong tidak terdistorsi oleh sebab “speed motor cassette” yang “under drive”. Tapi kita lupakan dulu masalah teknis-ini .

Lakon Rebut Kancing Senapati ini juga yang membuat saya penasaran dengan cover cassetnya. Di-cover cassette terpampang tampang Raden Jaya Anggada. Kesan saya adalah, lakon ini mungkin merupakan salah satu segment dari cerita Ramayana. Mungkin cerita lain dari Anggada Duta yang mengisahkan rebutan tugas untuk memata-matai kondisi Dewi Sinta sewaktu dalam sekapan Rahwana.

Baru setelah jejeran berlangsung, terbuka tabir lakon ini. Bahwa lakon Rebut Kancing Senapati, adalah lakon yang berkaitan dengan Lakon Baratayuda. Tepatnya ketika Prabu Boma Nara Kasura meminta menggantikan Peran Gathutkaca dalam jabatannya sebagai senapati dalam Baratayuda.

Syahdan, Batara Kresna naik ke Kahyangan Kandhawaru Binangun dengan badan wadag. Keperluannya adalah meminta kepada penguasa Kahyangan Jonggring Salaka untuk menggeser jejeri palenggahan Senapati pada perang Baratayuda nanti, dari Raden Gatutkaca ke putra nDwarawati yaitu Boma Nara Kasura.

Sebagaimana lakon carangan, cerita semacan ini kadang agak tumpang tindih timingnya. Artinya skema perang Baratayuda yang digambar coretannya ketika lakon Kresna Gugah, pada lakon ini sudah di-wedhar oleh Batara Guru kepada Sri Kresna. Padahal pada Kresna Gugah, skenario itu baru berlangsung penulisannya oleh Batara Panyarikan yang dituntun oleh Batara Guru dan Batara Naradda dengan debat seru. Sampai-sampai ketika penulisan perang antara Antareja dan Prabu Baladewa akhirnya dibatalkan oleh iguh pertikel Prabu Kresna, sehingga “duel” keduanya tidak pernah terjadi.

Begitu cintanya Prabu Kresna kepada kakandanya, Prabu Baladewa, sehingga ia rela menyerahkan Kembang Wijaya Kusuma yang merupakan penguripannya wong sabumi kepada penguasa kahyangan, sebagai barter antara nyawa sang kakak dengan pusaka yang tidak ada duanya.

Nah, kembali ke cerita ini, jauh hari sebelum Baratayuda itu terjadi, Kresna sudah memperoleh gambaran lengkap babak demi babak cerita urutan Baratayuda. Hal inilah yang kemudian menjadikan Kresna masuk kedalam penyusunan skenario Baratayuda ini dengan mengajukan anaknya, Raden Sitija alias Boma Nara Kasura. Usulan Kresna adalah Sitija menjadi senapati menggantikan peran Gatutkaca. Alasan yang dikemukakan oleh Kresna adalah bahwa dirinya adalah merupakan botoh para Pendawa, sehingga punya hak pula ikut menentukan jalannya perang. Tetapi dibalik itu, Kresna juga mempunyai pamrih untuk mencarikan kemukten bagi anaknya itu.

Cerita pergeseran posisi ini tidak berakhir sampai disini, Gatutkaca yang telah disihkan dari jabatannya, juga hendak disingkirkan dari dunia, alias hendak dibunuh. Para dewa yang dikumpulkan di Repat Kepanasan oleh Batara Narada, semuanya menolak tugas itu dengan bermacam alasan konyol, yang membuat adegan pagelaran njawi menjadi “ger-geran”. Usulan dari Batara Panyarikan, adalah, yang menyuruh, dalam hal ini adalah Batara Narada, harus ikut dalam tugas mencari Gatutkaca. Dengan berat hati permintaan Panyarikan terhadap Batara Narada akhirnya dipenuhi

Dilain pihak,  kedekatan Gatutkaca dengan Sang Paman, Raden Nakula/Sedewa, menjadikannya mengadukan firasat berupa impian yang menggambarkan bahwa Kesatrian Pringgandani terbanjri air bah.

Sang paman tidak ragu bahwa sejatinya sang keponakan akan menghadapi hal yang sulit, sehingga dimintanya Gatutkaca sementara tinggal dahulu di Sawojajar. Celakanya, dewa segera mengetahui bahwa Gatutkaca telah berada di Sawojajar. Lebih celaka lagi, yang menemui para dewa adalah putra Nakula, yaitu Pramusinta. Nah, anak yang masih kelewat muda ini begitu lugu, disamping tidak mengerti unggah ungguh, Pramusinta adalah begitu jujurnya. Pada saat ditanya dimanakah Gatutkaca, maka ia mengatakan bawa saat ini Gatutkaca sedang disembunyikan ayahnya. Sanggit yang menggambarkan keluguan Pramusinta membuat yang mendengar tersenyum! Bagaimana para Dewa dalam menyirnakan Raden Gathutkaca?

Beralih kepada lambang Kancingan senapati. Adalah Gamparan Kencana dan Topeng Prunggu. Dan Gamparan Kencana inilah yang saat itu dititpkan oleh Gatutkaca di Wukir Retawu, ditempat eyangnya Resi Wiyasa. Nah kedua wujud pusaka itulah yang juga menjadi simbol dari kemuliaan itulah, yang kemudian menjadi buruan dari Raden Sitija yang disengkuyung oleh Prabu Nagaraja.

Surya Lelana, jejadian dari Prabu Kresna, kemudian Prabu Nagaraja sesinglon, juga menjadi satria bagus bernama Naga Pertala, menunjangnya secara langsung usaha perebutan kekuasaan dan benda pusaka itu. Dalam hal ini Sencaki tidak setuju dalam hati. Tetapi dalam hal ini Sencaki sudah berjanji pada diri sendiri untuk menggagalkan usaha dari Raden Sitija.

Cerita berlangsung rumit ketika beberapa tokoh selain dari golongan hitam seperti Prabu Nagaraja yang disebutkan tadi, juga tutun gunungnya Resi Seta untuk mebantu munah satru sekti yang hendak maeka Raden Gatutkaca.

Kembali ke  urutan bagaimana Jitapsara yang dibuat menjelang Baratayuda. Karena ini merupakan lakon modifikasi sebagaimana beberapa kejanggalan urutan cerita yang juga pernah saya baca sekilas pada  ajang pirembugan anggota PPW. Maka bila diurut timing-nya , misalnya kapan waktunya antara kecilnya Abimanyu dihubungkan dengan masa hidup Samba atau Raden Setija ini agak membingungkan.

Kenapa? Karena menurut cerita ini, Abimanyu menjelang Baratayuda sudah dewasa. Sedangkan Boma masih hidup. Padahal dalam cerita Cipataning yang merupakan kelanjutan Samba Juwing, Boma (dan juga Samba) sudah tewas. Itu terjadi sewaktu Abimanyu masih balita.

Mari kita lupakan saja urutan tersebut. Kita nikmati saja bagaimana kiprah Ki Sugi Hadi Karsana, dalang dengan vokal yang jernih, dalam menjejak keprak. Silakan untuk mengunduh audionya pada link dibawah ini:

  1. 1A: http://jumbofiles.com/9jq1wwq3ex6u
  2. 1B: http://jumbofiles.com/5c1khv901ndo
  3. 2A: http://jumbofiles.com/wkt0hcov4y9x
  4. 2B: http://jumbofiles.com/kmr9fs9poehh
  5. 3A: http://jumbofiles.com/grkt2g15idsf
  6. 3B: http://jumbofiles.com/4756x4hpamnk
  7. 4A:  http://jumbofiles.com/90h93mrd9sz0
  8. 4B: http://jumbofiles.com/m494ycn3sgfy
  9. 5A: http://jumbofiles.com/w2us0rzdl2cu
  10. 5B: http://jumbofiles.com/qk70shqqvqd4
  11. 6A: http://jumbofiles.com/x388sv9getkv
  12. 6B: http://jumbofiles.com/hnh8541n34fi
  13. 7A: http://jumbofiles.com/60xqimvvgjwf
  14. 7B: http://jumbofiles.com/8pxr90dmcy54
  15. 8A: http://jumbofiles.com/n285k5fnq0ty
  16. 8B: http://jumbofiles.com/7dx6nhksufgk

Ki Sugi Hadi Karsono, “Ciptarasa takon Bapa”


Berikut sharing dari Mas Darmanto, saya cuplik utuh dari Milis PPW :

Assalamu ‘alaikum wr.wb. Kepada Mas Prabu dan pengelola PPW. Saya Darmanto dari Radio Suara Parangtritis AM 828 Jogjakarta di Jl. Parangtritis km.22 Bantul Jogja, bahwa seperti pernah saya janjikan dulu, bersama ini saya kirimkan Persembahan Lakon Ciptoroso Takon Bopo dari Dalang kenamaan Bantul selain KTCM yaitu alm. Ki Sugi Hadi Karsono alamat Beji Sumberagung Jetis Bantul.

Memang tidak banyak rekaman dari beliau (kabarnya dulu beliau kurang begitu suka bila direkam). Semoga bermanfaat.

Menyusul nanti juga akan saya kirim beberapa lakon dari dalang lain yang di sini belum ada, misalnya dari KTCM dan Hadi Sugito. Di bawah ini kode URL untuk lakon Ciptoroso Takon Bopo :

Maaf aku tulis di sini, soalnya coment di blog kok agak susah
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.