Category Archives: Ki Sigit Ariyanto

KSR Semar mBangun Kayangan


 

Masih bersama Ki Sigit Ariyanto dan kiriman dari Mas Sutamto Totok, kali ini disharing lakon dengan judul “Semar Mbangun Kahyangan” Live sedekah bumi Desa Mojoagung, Kec. Trangkil, Kab. Pati th 2009.

Memang sudah banyak dalang yang membawakan lakon ini, karena terhitung cerita ini mungkin cukup favorit bagi para pemirsa (penanggap) dan dalang, namun tidak ada salahnya bila kita menikmatinya bersama KSR.

Sumber Gambar : http://dalangsigid.blogspot.com/p/foto2ku.html

 

Selamat menikmati

KSR Tumuruning Wiji Sejati


Kembali Pak Sutamto Totok Pati berbagi untuk kita semua. Kali ini beliau sharing pagelaran wayang bersama dalang muda dari Rembang yaitu Ki Sigit Ariyanto, S.Sn. KSR mempersembahkan lakon dengan judul “Tumuruning Wiji Sejati”

Matur nuwun Pak Totok atas sharingnya.

Selamat Menikmati

Blog Ki dalang Sigit bisa dilihat disini

Suara Muria (sumber: http://www.suaramerdeka.com)

09 Juli 2009
Ki Sigid Ariyanto

Dalang Gaul, Dapat Order dari Facebook

JIKA Anda rajin membuka facebook, cobalah cari nama Sigid Ariyanto. Ya, dalang muda ini memang online di dunia maya itu dan mempunyai blog serta website sendiri di http://www.kisigid.com.

Dalang berusia 30 tahun ini menekuni dunia pedalangan selepas lulus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta pada 2003. Beragam pengalaman dia peroleh dari pergaulannya dengan facebook. Bahkan, satu order dari Madiun pada medio Februari 2009 lalu dia peroleh dari jaringan sosial facebook.

Penyaji terbaik dan garap lakon terbaik dalam Festival Wayang Indonesia di Yogyakarta 2008 ini menuturkan, pergaulannya dengan jaringan sosial facebook menambah relasi dari dalam lingkungan pedalangan dan koreksi dari luar lingkungan pedalangan. ”Banyak koreksi dan masukan bagi saya dalam hal yang berhubungan dengan pedalangan.”

Dari rumahnya yang sederhana di Tawangsari, Rembang, bapak dua anak yang membangun sebuah pendapa khusus untuk kegiatan seni dan budaya ini mempunyai harapan wayang akan terus mengikuti zaman dan regenerasi jalan terus.

Profesional Dalang ideal zaman sekarang, menurut Ki Sigid, harus bisa tampil profesional seperti artis Ibu Kota. ”Layaknya sinetron, dalang harus punya konsultan naskah profesional, penata panggung, penata lampu, dan event organizer yang bagus agar penonton tertarik sebelum dan pada saat pergelaran,” paparnya.

Ada cerita menarik sewaktu dia ke Venesia, Italia pada 2003. Pada pergelaran singkat di kota itu, setelah bermain di hadapan pengunjung, anak-anak yang turut menyaksikan pertunjukannya, langsung minta orang tua mereka untuk membeli koleksi wayangnya.

Alhasil semua koleksi wayang milik rombongan habis terjual. Hal inilah yang membuat Ki Sigid membuat pakeliran kecil wayang kancil untuk anak-anak di pendapa depan rumahnya. Tujuannya, agar tak hanya anak-anak di luar negeri yang tertarik dengan wayang. Tetapi, anak-anak di sekitar Rembang juga tertarik untuk melestarikan wayang yang telah dijadikan sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity (Karya Agung Budaya Dunia) oleh Unesco pada 21 April 2004 itu.

Anak kecil mudah memahami wayang kancil yang bercerita tentang kehidupan binatang dan baik-buruk, selain mudah dipelajari juga menarik bagi anak-anak.
Itulah yang tergambar dari tokoh-tokoh wayang kancil berupa hewan-hewan. Anak-anak diajak mengenali membedakan hal baik dan hal buruk. Wangsit Winursito (4) siswa TK Bhayangkari Rembang merupakan putra Ki Sigid sekaligus murid yang sudah belajar wayang kancil sejak kecil.

Ki Sigid juga menuturkan, gagasan wayang kancil ini ada supaya anak tertarik pada Gatotkaca daripada Superman atau Janaka daripada Batman. Selain mengajarkan wayang bagi anak kecil, Ki Sigid yang mendirikan Sanggar Seni Cakraningrat ini juga mengajarkan tarian tradisional yang dilatih oleh istrinya, Diane Indri Hapsari (29), lulusan Seni Tari STSI Surakarta.

Dalang gaul kelahiran 8 Juni 1979 itu juga mengungkapkan keinginannya mengembangkan wayang Sandosa, wayang berbahasa Indonesia, sehingga tidak hanya dapat dinikmati masyarakat berbahasa Jawa saja. Kandungan moral dalam wayang bisa menyindir dan mengena pada semua lapisan masyarakat baik pejabat, politikus maupun masyarakat biasa. (Makhjudin Zein-69)