Category Archives: Ki Nartosabdho

Pagelaran Wayang oleh Ki Nartosabdho

KNS : Parikesit Grogol


wu87-01-08-parikesit-ratu-text2

Lakon ini adalah unggahan Mas Bram Palgunadi yang merupakan pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho dengan judul “Parikesit Grogol”

 Lakon ‘Parikesit Grogol’ menceritakan tentang kenaikan Parikesit sebagai raja Kerajaan Hastina-Pura, setelah kemenangan para kerabat Pandhawa dalam perang besar Barata-Yudha. Jadi cerita ini dapatlah dipandang sebagai bagian terakhir dari cerita panjang Maha-Barata yang amat sangat terkenal, dan merupakan bagian yang berperan sebagai transisi, antara ‘wayang purwa’ dan ‘wayang madya’. Continue reading KNS : Parikesit Grogol

KNS – Sawitri Satyawan


sawitri_solo

Lakon ini adalah unggahan Mas Bram Palgunadi yangmerupakan pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho dengan judul “Sawitri Satyawan”

Pagelaran wayang ini, menceritakan kisah sendu Dewi Sawitri, putri Raja Aswa-Pati, dari Kerajaan Madra. Dewi Sawitri nan cantik dan baik budi itu, ternyata belum juga mempunyai pasangan hidup. Padahal, ia sudah cukup umur. Ayahandanya, suatu ketika bertitah, supaya Dewi Sawitri pergi mencari seorang calon suami. Merasa malu atas perkataan ayahandanya, Dewi Sawitri memutuskan untuk pergi berkelana ke dalam hutan. Continue reading KNS – Sawitri Satyawan

SAAT PERTAMA KALI NONTON KI NARTO SABDHO


KNS 1

Peristiwa ini, terjadi pada tahun 1966, di kota Sala-Tiga, sekitar awal bulan Juli. Hari tepatnya saya sudah lupa, tetapi yang saya ingat adalah dalam rangka merayakan ulang tahun POLRI, dan dilakukan di halaman kantor markas kepolisian Kota Sala-Tiga. Saat itu saya masih anak-anak. Baru duduk di kelas dua, SMP. Jalan raya di dekat markas kepolisian itu, merupakan salah satu jalan raya yang secara rutin saya lewati jika saya hendak pergi ke sekolah, atau pulang dari sekolah. Saya sekolah di SMP Negeri 1, Sala-Tiga, yang lokasinya di Jl. Kartini. Sedangkan tempat tinggal saya, di Jl. Karang Gendhong, atau bagi penduduk Kota Sala-Tiga, lebih sering disebut Jl. Solo. Kalau dari arah kota ke arah selatan, pas di tanjakan pertama, di depan komplex perumahan tentara, yang oleh penduduk entah karena apa, sering disebut ‘Tangsi Bambu’. Saya dan orang-tua saya, tinggal di komplex perumahan pegawai PN Perhutani.

Siang itu, sekitar jam setengah satu, saya seperti biasa pulang sekolah melewati jalan raya di samping markas kepolisian. Di sebelah markas polisi itu, ada lapang sepak bola. Saat melewati jalan raya yang saat itu sepi, tak terlalu banyak kendaraan yang lewat, saya melihat di halaman depan kantor markas polisi itu sudah didirikan ‘tarub’, yaitu bangunan sementara, yang atapnya dari kain terpal tebal. Bangunan tarub itu berukuran besar sekali. Di depan ‘tarub’, dari kejauhan terlihat ada truk-truk besar yang parkir. Sejumlah orang terlihat sedang membongkar muatan truk-truk itu. Entah kenapa, saya tertarik untuk melihat. Karena itu, saya lalu berjalan ke arah halaman kantor markas kepolisian itu dan tidak jadi pulang. Ternyata truk-truk besar itu memuat gamelan dan kotak wayang. Beberapa orang terlihat sedang menurunkan gamelan yang kelihatan berat, dari atas bak truk. Belakangan saya baru tahu, bahwa semua gamelan, kelir wayang, dan wayang kulit yang akan digunakan untuk pagelaran wayang nanti malam, adalah milik Pak Narto Sabdho.

Di bangunan ‘tarub’ itu, terlihat sebuah ‘kelir’ (layar wayang kulit) berukuran besar dan panjang sudah dipasang, lengkap dengan ‘gedebog’-nya (batang pohon pisang), yang nantinya akan digunakan untuk menancapkan wayang. Tetapi wayang kulit-nya belum ada yang di-‘simping’. Saya, dari kejauhan melihat, panggung gamelan sudah selesai dibuat dan sudah selesai pula diberi lapisan kain terpal. Tinggal memasang tikar, sebagai alas duduk para ‘nayaga’. Masih beberapa saat, saya memperhatikan berbagai kegiatan mempersiapkan pagelaran wayang itu. Dari orang yang sedang bekerja di tarub itu, saya mendapat keterangan, bahwa dhalang yang nanti malam mau ‘manggung’ adalah Ki Narto Sabdho dari Semarang, yang saat itu sudah mulai dikenal sebagai dhalang kondang. Saat mendengar informasi itu, saya jadi tercengang. Jadi…., yang nanti malam main, adalah Pak Narto Sabdho….? Waaaa…. saya belum pernah menyaksikan pagelarannya. Selama ini, saya hanya mendengar cerita dari beberapa orang, yang menyampaikan bahwa beliau merupakan dhalang yang bagus. Selain itu, saya juga hanya mendengar pagelarannya lewat pesawat penerima radio gelombang pendek, khususnya lewat siaran RRI Semarang, di gelombang radio 75 meter. Meskipun pada saat itu sudah ada TVRI, tapi pada waktu itu tidak pernah ada programa siaran televisi yang menampilkan pagelaran Pak Narto Sabdho…

Continue reading SAAT PERTAMA KALI NONTON KI NARTO SABDHO