Category Archives: Ki Kondho Murdiyat

KI KONDHO MURDIYAT LAKON GATOTKACA MEGURU


Nah Lagi hasil dari Conversi pita kaset lama Lakon Gatotkaca Meguru yang kali ini dibawakan oleh Dalang Ki Kondho Murdiyat dalang asal Tulungagung Jawa Timur.

Berawal dari iseng iseng dan jalan jalan kebetulan menemukan seorang teman yang tidak mau disebutkan Namanya tidak jauh hanya seputaran Trenggalek – Tulungagung saja PPW jatim mendapatkan beberapa koleksi yang terbilang langka (langka tapi ada) nah salah satu dari sekian banyak rekaman Audio melalui Pita kaset dan salah satunya Lakon Gatotkaca Meguru , yang dulu telah diunggah lakon Narayana Begal Sumbangan dari Radio ADSFM Trenggalek  serta baru baru ini telah diunggah oleh saudara dan sahabatku MAS PATIKRAJADEWAKU Lakon Bondan Paksa Jandhu sumbangan dari RADIO MUTIARA Bandung Jawa Barat.

Liburan yang melelahkan karena selain capek, diguyur hujan dan was was banjir dalam perjalanan pulang, akan tetapi sungguh indah bahagia dan bangga karena tidak sia sia karena mendapatkan beberapa koleksi baik Audio maupun Video Wayang Kulit Gagrak Jawa Timuran ….hehehe.

Seorang teman yang tidak mau disebutkan namanya pun Alhamdulillah akan ikut membantu mencarikan koleksi rekaman audio dalam bentuk pita kaset tentu yang belum ada di wp. terima kasih  sadar untuk berbagi, ikhlas tanpa pamrih bagi saya teman yang istimewa, tidak mau menkritik ataupun menjelek jelekan yang lainnya, support untuk saya yang begitu berharga.

Sekali lagi maturnuwun atas semuanya, dan yang paling penting INI LHO

LINK GATOTKACA MEGURU

Salam saking PPW Jatim

Ali M

Ki Kondho Murdiyat : Bondhan Paksa Jandhu


Oleh: MasPatikrajaDewaku – PPW 11-01-0006

Kerjasama antara Radio Mutiara Bandung dengan Paguyuban Pecinta Wayang.

Pada sampul kaset Bondan Paksa Jandhu tertulis, dalang adalah Ki Kondho Murdi. Saya sampai menanyakan ke Pak Ali Mustofa, apakah beliau yang bernama Ki Kondho Murdiyat? Juga dituliskan   “Wayang Kulonan”, mungkin yang dimaksud disini adalah wayang yang hidup secara geografis di Jawa – Timur, tetapi secara gagrak pagelarannya berkiblat ke Jawa – Tengah. Dan ternyata memang benar, Ki Kondho Murdiyat ini sangat bergaya Surakarta. Bahkan terdengar kombangan suluknya sangat dekat gaya olah vocalnya dengan Ki Nartosabdo.

Ciri yang menegaskan Jawa – Timur, adalah suara keprak dan dialog slenk Madiunan, yang sesekali muncul pada dialog tokoh-tokohnya.

Cerita ini sendiri mengisahkan ketika Wrekudara diakali oleh para Kurawa, hingga disangka oleh Kurawa, bahwa Wrekudara telah tewas. Padahal Werkudara telah ditolong oleh Badawang Ananala dan dikawinkan dengan Putri Sang Hyang Baruna, yang bernama Dewi Urangayu. Dari perkawinan ini, Werkudara dikaruniai anak bernama Antasena.

Untuk menuntaskan pekerjaan membasmi Pandhawa, Kurawa memanggil Puntadewa ke Negara Astina, untuk kembali di-“apus krama”, dengan alasan Puntadewa harus datang menyaksikan Wrekudara yang akan diwisuda menjadi raja di Astina.

Adipati Karna yang diutus oleh Prabu Duryudana, mendapat tentangan dari Gathutkaca. Walau tidak mendapat restu dari uwaknya, Prabu Puntadewa, atas dukungan dari Patih Tambak Ganggeng, Gathutkaca kukuh melawan Adipati Karna. Namun demikian Prabu Puntadewa menyalahkan Gathutkaca, dan meminta Gathutkaca untuk meminta maaf. Puntadewa-pun tidak keberatan untuk pergi ke Astina, memenuhi panggilan anak uwaknya itu.

Rencana Duryudana berantakan ketika Arjuna yang diberitahu Naradda akan terjadinya masalah terhadap Puntadewa, ikut-ikutan pergi ke Astina dan mengamuk. Duryudana tidak mampu menandingi Arjuna yang dijampangi Naradda,  hingga ia memerintahkan istrinya, Banuwati, untuk memadamkan amarah Arjuna. Bahkan Duryudana memerintahkan Banuwati memberikan apa saja kemauan Arjuna.

Akhirnya Banuwati memberikan apa saja kemauan Arjuna, salah satunya adalah mendirikan Pasar Anyar. Kecuali dipertemukannya Arjuna dengan kekasih lamanya, Banuwati, lakon ini juga terdapat pertemuan dua kekasih yang juga tak pernah kesampaian bersatu, Dursilawati dan Arjuna.

Bagaimana piawainya Ki Kondho Murdiyat memainkan cerita ini? Terus siapa dan apa peran Bondhan Paksa Jandhu dalam konflik Kurawa-Pandhawa?

Kami persilakan anda mengundhuh lakon Bandhon Paksa Jandhu. Pagelaran wayang dengan Dalang dari wilayah Jawa Timur, yang dihiasi tentunya dengan gendhing-gendhing Panaragan dan Banyuwangen.

Audio ini direkam bukan di studio, melainkan pada pagelaran live hajatan. Keramaian suasana tontonan rakyat begitu riuh, terutama pada waktu awal pagelaranlah, yang menandakan keadaan rekaman tersebut. Suasana riuh yang ditingkahi suara balon mainan anak anak ini, malah membuat hidup pakeliran. Menjadikannya penulis ingat akan suasana wayangan di kampung ketika jaman semana.

Walau pagelaran live dari tempat hajatan, keseimbangan dan pemerataan tata suara masing masing instrumen gamelan tergolong baik. Demikian juga rekaman-nya yang mono tidak menjadikan suguhan ini merosot secara kualitas.

Pagelaran lakon Bondhan Paksa Jandhu ini digarap sangat klasik. Plot cerita pakeliran jangkep, lumayan masih begitu di-ugemi oleh Ki Kondho Murdiyat. Jejeran kemudian disusul dengan kedhatonan, kemudian bidhalan, kemudian jejer sabrang walau itu jejeran Amarta.

Perang gagal disambung dengan adegan kesatriyan atau alas. Disinilah letak dalamnya wayang klasik. Tanpa gara-gara, sebagaimana pagelaran wayang jaman tahun 60an. Pagelaran tanpa gara-gara juga sering kita temukan pada beberapa lakon karya Ki Nartasabdo.

Tidak ketinggalan adalah perang kembang antara Arjuna dan Cakil dengan seribu namanya. Perang kembang, yang merupakan adegan yang sering ditinggalkan oleh banyak dalang masa sekarang karena mungkin dianggap rutin, terlalu biasa dan membosankan. Padahal bila ada ditangan dalang yang mandiri, tanpa harus dibantu oleh bintang tamu, pasti bisa mengolah adegan ini sehingga bisa menjadikan lebih hidupnya pakeliran lebih dari adegan limbukan.

Adegan dengan lancar hingga babak perang brubuh, tetapi tanpa diakhiri dengan tayungan. Diakhir pagelaran terdapat pamuji, seperti yang sering saya dengar sewaktu orang menganggap wayang di jaman dahulu, dengan permohonan Ki Dhalang terhadap Tuhan, kurang lebihnya sebagai berikut : Nalika semana pagelaran kang kinarya tepa palupi lampahaning Pandhawa – Kurawa( wus meh paripurna). Sing ala katut banyu mili barat lisus. kang becik kawasa nuntun ing kasampurnaning gegayuhan. Keluwarganing praja kang marsudi mrih kasembadaning sedya kapetung kaluwarga kang kawengku ing Praja Cintakapura, keluwarganing Prabu Puntadewa kang nama xxxx (yang menanggap wayang). Kasembadaning sedya anggenipun xxxxxxx (sebab yang menanggap wayang telah meramaikan pestanya dengan wayangan) antuk pangayomaning kang murbeng gesang lantaran pagelaran wayang kang wus kaleksanan lsp . . . . Juga dipuji doakan keselamatan terhadap para penonton, dan semua crew pagelaran.

Inilah sebenarnya esensi dari wayangan dengan segala ubarampe dan uparengga yang menjadi ciri yang menyiratkan serenity padesaan Jawa, yang mindset-nya manusianya saat itu masih begitu dipenuhi oleh ajaran yang selaras dengan damainya lingkungan alam.

Link undhuh ada di:

http://jumbofiles.com/user/Samudrianto/65625/Bondhan%20Paksa%20Jandhu

KI KONDO MOERDIYAT LAKON NAYARANA BEGAL


Yang ditunggu tunggu Audio Ki Kondo Moerdiyat Dalang Kondang Asal Tulungagung Jawa Timur membawakan lakon Narayana Begal.


Berikut sekilas ringkasan cerita Narayana Begal.

Dalam pengemberaannya sebagai orang sudra Narayana menjadi Begal. Di kaki gunung Tidar Narayana bersama Rara Ireng  dan Udawa berhasil membegal para Kurawa yang sedang mencari Pusaka Kalimosodo yang akan diturunkan di puncak gunung Tidar.

Dalam perjalanan selanjutnya Narayana berhasil memperoleh aji Balasewu dari Resi Padmonobo. Narayana bertemu dengan Permadi, karena mereka belumsaling kenal maka bermaksud membegalnya namun atas perlawanan Permadi Narayana Kuwalahan, sehingga menggunakan aji Balasewu dan ditelan hidup hiduplah Permadi.

nah bagaimana kisah selanjutnya, bagaimana dan siapa yang akan menerima wahyu Kalimosodo, bagaiman kisah permadi, bagaimana pula kiash aji Balasewu….akan dapat kita nikmati dan kita dengarkan dengan mendownload seluruh Audio mp3nya disini