Category Archives: Bram Palgunadi

Tulisan-tulisan dari pak Bram Palgunadi

KNS : Parikesit Grogol


wu87-01-08-parikesit-ratu-text2

Lakon ini adalah unggahan Mas Bram Palgunadi yang merupakan pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho dengan judul “Parikesit Grogol”

 Lakon ‘Parikesit Grogol’ menceritakan tentang kenaikan Parikesit sebagai raja Kerajaan Hastina-Pura, setelah kemenangan para kerabat Pandhawa dalam perang besar Barata-Yudha. Jadi cerita ini dapatlah dipandang sebagai bagian terakhir dari cerita panjang Maha-Barata yang amat sangat terkenal, dan merupakan bagian yang berperan sebagai transisi, antara ‘wayang purwa’ dan ‘wayang madya’. Continue reading KNS : Parikesit Grogol

KNS – Sawitri Satyawan


sawitri_solo

Lakon ini adalah unggahan Mas Bram Palgunadi yangmerupakan pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho dengan judul “Sawitri Satyawan”

Pagelaran wayang ini, menceritakan kisah sendu Dewi Sawitri, putri Raja Aswa-Pati, dari Kerajaan Madra. Dewi Sawitri nan cantik dan baik budi itu, ternyata belum juga mempunyai pasangan hidup. Padahal, ia sudah cukup umur. Ayahandanya, suatu ketika bertitah, supaya Dewi Sawitri pergi mencari seorang calon suami. Merasa malu atas perkataan ayahandanya, Dewi Sawitri memutuskan untuk pergi berkelana ke dalam hutan. Continue reading KNS – Sawitri Satyawan

SAAT PERTAMA KALI NONTON KI NARTO SABDHO


KNS 1

Peristiwa ini, terjadi pada tahun 1966, di kota Sala-Tiga, sekitar awal bulan Juli. Hari tepatnya saya sudah lupa, tetapi yang saya ingat adalah dalam rangka merayakan ulang tahun POLRI, dan dilakukan di halaman kantor markas kepolisian Kota Sala-Tiga. Saat itu saya masih anak-anak. Baru duduk di kelas dua, SMP. Jalan raya di dekat markas kepolisian itu, merupakan salah satu jalan raya yang secara rutin saya lewati jika saya hendak pergi ke sekolah, atau pulang dari sekolah. Saya sekolah di SMP Negeri 1, Sala-Tiga, yang lokasinya di Jl. Kartini. Sedangkan tempat tinggal saya, di Jl. Karang Gendhong, atau bagi penduduk Kota Sala-Tiga, lebih sering disebut Jl. Solo. Kalau dari arah kota ke arah selatan, pas di tanjakan pertama, di depan komplex perumahan tentara, yang oleh penduduk entah karena apa, sering disebut ‘Tangsi Bambu’. Saya dan orang-tua saya, tinggal di komplex perumahan pegawai PN Perhutani.

Siang itu, sekitar jam setengah satu, saya seperti biasa pulang sekolah melewati jalan raya di samping markas kepolisian. Di sebelah markas polisi itu, ada lapang sepak bola. Saat melewati jalan raya yang saat itu sepi, tak terlalu banyak kendaraan yang lewat, saya melihat di halaman depan kantor markas polisi itu sudah didirikan ‘tarub’, yaitu bangunan sementara, yang atapnya dari kain terpal tebal. Bangunan tarub itu berukuran besar sekali. Di depan ‘tarub’, dari kejauhan terlihat ada truk-truk besar yang parkir. Sejumlah orang terlihat sedang membongkar muatan truk-truk itu. Entah kenapa, saya tertarik untuk melihat. Karena itu, saya lalu berjalan ke arah halaman kantor markas kepolisian itu dan tidak jadi pulang. Ternyata truk-truk besar itu memuat gamelan dan kotak wayang. Beberapa orang terlihat sedang menurunkan gamelan yang kelihatan berat, dari atas bak truk. Belakangan saya baru tahu, bahwa semua gamelan, kelir wayang, dan wayang kulit yang akan digunakan untuk pagelaran wayang nanti malam, adalah milik Pak Narto Sabdho.

Di bangunan ‘tarub’ itu, terlihat sebuah ‘kelir’ (layar wayang kulit) berukuran besar dan panjang sudah dipasang, lengkap dengan ‘gedebog’-nya (batang pohon pisang), yang nantinya akan digunakan untuk menancapkan wayang. Tetapi wayang kulit-nya belum ada yang di-‘simping’. Saya, dari kejauhan melihat, panggung gamelan sudah selesai dibuat dan sudah selesai pula diberi lapisan kain terpal. Tinggal memasang tikar, sebagai alas duduk para ‘nayaga’. Masih beberapa saat, saya memperhatikan berbagai kegiatan mempersiapkan pagelaran wayang itu. Dari orang yang sedang bekerja di tarub itu, saya mendapat keterangan, bahwa dhalang yang nanti malam mau ‘manggung’ adalah Ki Narto Sabdho dari Semarang, yang saat itu sudah mulai dikenal sebagai dhalang kondang. Saat mendengar informasi itu, saya jadi tercengang. Jadi…., yang nanti malam main, adalah Pak Narto Sabdho….? Waaaa…. saya belum pernah menyaksikan pagelarannya. Selama ini, saya hanya mendengar cerita dari beberapa orang, yang menyampaikan bahwa beliau merupakan dhalang yang bagus. Selain itu, saya juga hanya mendengar pagelarannya lewat pesawat penerima radio gelombang pendek, khususnya lewat siaran RRI Semarang, di gelombang radio 75 meter. Meskipun pada saat itu sudah ada TVRI, tapi pada waktu itu tidak pernah ada programa siaran televisi yang menampilkan pagelaran Pak Narto Sabdho…

Continue reading SAAT PERTAMA KALI NONTON KI NARTO SABDHO

MENGENAL KEMBALI PAGELARAN WAYANG KULIT PURWA


by Bram Palgunadi on Tuesday, December 11, 2012 at 9:44am ·

Pagelaran wayang kulit purwa yang semarak dan sesekali juga mencekam, merupakan salah satu daya tarik. Tetapi pagelaran wayang kulit purwa masa sekarang, banyak yang melenceng jauh dari hakikatnya sebagai pagelaran wayang. Lalu ‘digantikan’ menjadi pagelaran lainnya, seperti campur-sari, dhang-dhutan, lawak, dan bahkan pagelaran wayangnya sendiri pelan-pelan tapi pasti, lalu berubah mengkerdil menjadi sekedar ‘pelengkap penderita’. Pagelaran wayang lalu kehilangan peran dan fungsinya sebagai media untuk merenungkan hikmah kehidupan. Seperti tampak pada gambar di atas, pagelaran wayang kulit purwa berubah menjadi ‘pagelaran pesindhen’; dan sederet pesindhen ini lalu dipajang, maaf, seperti layaknya barang dagangan.

Saat pertama kali mendengar kata ‘wayangan’ atau ‘karawitan wayangan’, kebanyakan orang berpikir, ini merupakan suatu pagelaran yang rumit, sukar, penuh ritual, mistis, dan memerlukan keterampilan dan pengalaman luar biasa untuk bisa memainkannya. Ini merupakan pandangan umum, yang lazim kita temukan pada kebanyakan orang di kalangan masyarakat awam. Benarkah demikian?

Sebagian dari pendapat ini, harus diakui saja, memang benar. Tetapi, ada sejumlah besar hal, yang mungkin saja tidak diketahui khalayak ramai, yang sebenarnya mencerminkan bahwa memainkan wayang kulit, khususnya wayang kulit purwa tidaklah seseram dan sesukar yang dibayangkan orang. Misalnya, adanya pandangan di kalangan masyarakat luas, bahwa gendhing-gendhing pengiring pagelaran wayangan, merupakan iringan yang maha sukar, dan karenanya lalu memerlukan keterampilan, kemampuan khusus, pemahaman, dan bahkan pengetahuan khusus; untuk bisa menjalankannya. Pandangan ini, tentu saja berakibat timbulnya pendapat, bahwa pagelaran wayang kulit purwa merupakan pagelaran yang maha sukar, dan karenanya lalu memerlukan ‘orang-orang pilihan dengan kemampuan dan keahlian khusus’. Pendapat inilah yang hendak ‘dibalikkan’. Karena nyatanya, sebuah pagelaran wayang kulit purwa tidaklah selalu merupakan suatu pagelaran yang maha sukar.

Jadi, pertanyaannya, sebenarnya apa saja yang merupakan ‘kebutuhan minimal’ (minimum requirement) untuk bisa melaksanakan suatu pagelaran wayang kulit purwa? Di bawah ini, dijelaskan secara singkat jawabnya. Juga termasuk berbagai renik-renik yang merupakan kekhasan pagelaran wayang kulit purwa.

Gendhing pengiring suatu pagelaran wayang kulit purwa Continue reading MENGENAL KEMBALI PAGELARAN WAYANG KULIT PURWA

KRONIK DAN INTRIK DI ANTARA BOMA NARA SURA, GATHUTKACA, DAN KRESNA….


by Bram Palgunadi on Wednesday, October 17, 2012 at 1:29pm ·

Radyan Bima-Sena, tak bisa menahan diri, karena merasa puteranya secara sengaja telah dikorbankan…..

GENDERAN LALER MENGENG INI, AKAN MENGIRINGI ANDA SAAT MEMBACA CERITA KELAM INI

Perang besar Barata-Yudha sudah mulai menggemakan genderang perangnya di medan laga Tegal Kuru-Setra. Negara-negara sekutu lawan masing-masing sudah mudah mempersiapkan diri dan mengerahkan seluruh kekuatan angkatan bersenjatanya. Bahkan, korban sudah mulai berjatuhan di pihak Kurawa maupun Pandhawa. Lamat-lamat tembang ada-ada perang Durma terdengar mengalun mengarungi angkasa medan perang, membuat suasana di medan perang Tegal Kuru-Setra semakin mencekam.

 

Ridhu mangawur-awur wurahan,

Tengaraning ajurit,

Gong maguru gangsa,

Teteg kadya butula,

Wor panjriting turanggesti,

Rekatak ingkang,

Bajra lelayu sebit……

 

Di pakuwon markas besar para kerabat Pandhawa, terjadi pertemuan serius yang amat sangat menegangkan. Persoalan serius mencuat, setelah timbul perdebatan sengit dan polemik, siapa yang akan diangkat dan ditetapkan sebagai Panglima Operasi Angkatan Bersenjata Amarta-Pura melawan Angkatan Bersenjata Hastina-Pura. Dari polling di antara para pejabat tinggi Pandhawa, ternyata terjadi perpecahan. Di kalangan kerabat Pandhawa dan sekutunya, ternyata ada dua calon kuat, yaitu Prabu Boma Nara Sura raja Negeri Traju-Trisna dan Prabu Anom Gathutkaca raja muda Negeri Pringgandani. Dua tokoh ini, sama-sama mempunyai pendukung kuat dan kesempatan untuk dipilih sebagai Panglima Operasi Angkatan Bersenjata Amarta-Pura. Celakanya, di masa lampau, kedua tokoh ini juga pernah bersitegang dan mengalami gesekan politik. Pergolakan politik yang akhirnya meluas menjadi ‘perang terbatas’ di antara keduanya, bahkan juga sempat terjadi, saat pecah peristiwa perebutan wilayah tak bertuan ‘Kikis Tunggarana’, yang lokasinya terletak tepat di wilayah perbatasan Negeri Traju-Trisna dan Negeri Pringgandani. Latar belakang masa lalu yang mencekam itu, rupanya sedikit-banyak basih terbawa sampai bertahun-tahun kemudian. Dari catatan dinas intelejen dan para pengamat militer, kedua tokoh itu memang mempunyai reputasi yang sama-sama kelam; tetapi keduanya juga mempunyai reputasi gemilang. Fakta intelejen menyatakan sebagai berikut.

 

Tentang Prabu Anom Gathutkaca Continue reading KRONIK DAN INTRIK DI ANTARA BOMA NARA SURA, GATHUTKACA, DAN KRESNA….

RIWAYAT BOMA NARA SURA DAN PARA KSATRIA YANG BERPERI-LAKU CANDHALA DAN NISTHA….


by Bram Palgunadi on Tuesday, September 4, 2012 at 10:38am ·

Sesaat setelah Raden Suteja didaulat menjadi Raja di Kerajaan Traju-Trisna, setelah menaklukkan Prabu Bomantara.

Raden Suteja atau Raden Sitija versi Yogyakarta yang gagah….

Cerita aslinya, di masa lampau (ratusan tahun yang lalu), ditulis dalam bentuk karya sastra yang berjudul ‘Kakawin Boma Kawya’. Sedang cerita gubahannya, yang jauh lebih populer di kalangan para penggemar wayang, seringkali dimainkan dalam suatu pagelaran wayang kulit purwa, memakai judul cerita (lakon) ‘Boma Gugur’, ‘Samba Juwing’, atau ‘Gojali Suta’. Cerita yang berpusat pada tokoh Boma ini, merupakan salah satu cerita wayang, yang boleh dikatakan paling banyak versinya.


Raden Suteja, setelah berhasil mengalah Prabu Bomantara, tak sadar lalu berubah peri-lakunya, karena kerasukan sukma Prabu Bomantara yang bertabiat jahat.

Meski pun demikian, setelah ditelusuri, dalam khazanah pagelaran wayang, cerita yang berpusat pada tokoh Boma ini, sebenarnya terdiri atas empat cerita berbeda (tetralogi), yaitu cerita 1) ‘Suteja Takon Bapa’, 2) ‘Rebut Kikis Tunggarana’, 3) ‘Samba Juwing’, dan 4) ‘Gojali Suta’ atau ‘Boma Gugur’. Cerita ‘Suteja Takon Bapa’ dan ‘Rebut Kikis Tunggarana’, biasanya ditampilkan dalam dua cerita yang benar-benar berbeda. Namun, dua cerita yang terakhir, yaitu cerita ‘Samba Juwing’ dan ‘Boma Gugur’, seringkali digabungkan menjadi satu cerita, meski pun sebenarnya merupakan dua cerita yang terpisah.

Boma saat masih muda dan bergelar Raden Suteja atau Raden Sitija.

Cerita ‘Suteja Takon Bapa’ secara ringkas menceritakan saat Raden Suteja (Boma saat masih muda) mempertanyakan siapakah ayahnya yang sebenarnya, dan berusaha menemukan jati dirinya. Pada episode ini, Raden Suteja diminta oleh para dewa, untuk memerangi seorang raja raksasa yang bernama Prabu Bomantara dari Kerajaan Trajutrisna. Cerita ‘Rebut Kikis Tunggarana’, menceritakan peperangan antara Bomanarakasura dengan Gathutkaca, memperebutkan wilayah tak bertuan yang disebut ‘Kikis Tunggarana’. Cerita ‘Samba Juwing’, merupakan bagian yang boleh dikatakan paling menarik dan sangat terkenal, karena menceritakan perselingkuhan Raden Samba, adik tiri Bomanarakasura, dengan Dewi Hagnyanawati, isteri Bomanarakasura; yang berakhir dengan kematian Raden Samba dan Dewi Hagnyanawati. Sedangkan cerita ‘Gojali Suta’, menceritakan peperangan besar antar saudara, yang awalnya dipicu oleh persaingan antara Gathutkaca dengan Bomanarakasura, yang diperuncing dengan peristiwa dipilihnya Gathutkaca sebagai panglima wadyabala Pandhawa dalam Perang Barata-Yudha. Pada episode ini, Bomanarakasura yang merasa lebih sakti dan merasa lebih berhak menjadi panglima perang dibanding dengan Gathutkaca, karena kecewa, akhirnya menantang semua saudara dan bahkan ayahandanya sendiri (Prabu Kresna). Episode ini, berakhir dengan kematian Bomanarakasura di tangan ayahandanya sendiri. Itulah urutan ‘riwayat’ Bomanarakasura secara ringkas, sejak muda sampai akhirnya gugur. Continue reading RIWAYAT BOMA NARA SURA DAN PARA KSATRIA YANG BERPERI-LAKU CANDHALA DAN NISTHA….

KI NARTO SABDHO MENANGIS……..


on Monday, August 6, 2012 at 9:00am ·

Ki Narto Sabdho almarhum semula adalah seorang ‘pengrawit’ (pemain musik instrumen gamelan), khususnya sebagai pemain kendhang. Lama kemudian, beliau baru ‘madeg dadi dhalang’, dan boleh dikatakan sejak itu beliau lebih dikenal sebagai dhalang dibanding dengan sebagai pemain kendhang. Tetapi jika dicermati, karya-karya beliau sebenarnya bahkan lebih banyak sebagai pengrawit, dibandingkan dengan sebagai dhalang. Misalnya, beliau sangat banyak membuat lagu dolanan, garap gendhing, dan membuat gendhing versi baru.

Mencermati apa yang pernah dilakukan Ki Narto Sabdho almarhum selama hidupnya, akan merupakan bahan renungan dan diskusi panjang-lebar yang tak habis-habisnya. Tokoh dhalang yang satu ini, faktanya memang memegang peran yang sangat dominan sebagai pemicu perubahan gaya permainan pagelararan wayang kulit versi Jawa, yang dampaknya mulai sangat terasa pengaruhnya menjelang awal tahun 1970-an. Pada masa itu, banyak pihak yang tidak saja menentang Ki Narto Sabdho, bahkan memusuhi dan berusaha menyingkirkan; karena dia dipandang ‘nerak lan ngrusak pakem’. Dalam beberapa pagelaran yang dilakukan di wilayah Surakarta dan Yogyakarta, bahkan beliau berulang kali mengalami pelecehan harkat, dihujat habis-habisan, atau dilempari saat melakukan pagelaran.

Tapi yang terjadi kemudian, adalah sebaliknya. Para gegeduk ‘pakar-pakar pakeliran wayang dan karawitan’ yang mengucilkan dan memusuhinya, ternyata malah berhadapan dengan kenyataan bahwa masyarakat luas sangat mendukung dan menyukai gaya pagelaran Ki Narto Sabdho. Bahkan, pada sekitar tahun 1971, sebagai hasil dari suatu pelaksanaan survei (dilakukan terhadap masyarakat) tentang dhalang mana yang paling disukai, beliau dinyatakan sebagai dhalang paling populer di Indonesia. Situasi inilah yang dengan segera membalikkan sejarah! Sejak itu, gaya permainan Ki Narto Sabdho melanda dan mempengaruhi gaya permainan hampir seluruh pagelaran wayang kulit yang dimainkan oleh banyak dhalang lainnya tanpa bisa dibendung lagi. Kesukaan akan permainan Ki Karto Sabdho, bahkan masih menjalar sampai sekarang, meski pun beliau sudah lama meninggal. Dengar saja secara langsung atau lewat internet (pakai ‘streaming’), bagaimana kaset-kaset pagelaran wayang dengan dhalang Ki Narto Sabdho sampai sekarang masih sering amat terdengar mengudara dan sangat dinikmati oleh banyak pendengar siaran radio.

Pada masa sekarang, para pendengar siaran radio itu berasal dari dalam dan luar negeri. Hampir setiap malam, dari berbagai stasiun pemancar radio (secara langsung atau lewat internet) kita bisa mendengar kembali bagaimana kata, kalimat, tembang, sulukan, antawacana, janturan, serta drama kehidupan yang menyentuh emosi dan perasaan; yang dibawakan oleh Ki Narto Sabdho kepada para pendengarnya (bukan lagi kepada penontonnya). Bahkan tanpa gambar video apa pun, karena di masa itu pita kaset video sangat mahal harganya, rekaman pagelaran wayang Ki Narto Sabdho pada masa itu lebih banyak dikenal lewat pita kaset (merupakan rekaman suara tanpa gambar); mendengarkan rekaman suara pagelarannya saja sudah bisa membuat pendengarnya tercekam dan terhanyut emosi serta perasaannya……

Panggilan akrab penuh kasih sayang bagi Ki Narto Sabdho di kalangan para seniman karawitan jauh sebelum masa sekitar tahun 1970-an adalah ‘Mbah Narto’. Namun, di masa itu, ada panggilan (nick name) lain bagi Ki Narto Sabdho almarhum, yang entah dari mana asalnya, yang pasti saya meyakini bukan berasal dari kalangan seniman karawitan, yaitu panggilan ‘Narto Jaran’ (jaran = kuda). Mungkin panggilan itu mungkin bermula dari kegesitan Pak Narto saat memainkan wayang; atau, gesit dan liar saat mempermainkan emosi dan perasaan penontonnya. Suatu sebutan yang agak aneh, tetapi ya itulah kenyatanya…..

Sampai sekarang menurut saya belum ada yang bisa menggantikan atau menandingi Mbah Narto dalam bidang sanggit, drama, serta permainan emosi penonton. Mbah Narto masih yang terbaik. Dulu, pada sekitar tahun 1976 (saya agak lupa tahunnya), saya pernah nonton Mbah Narto grup Condong Raos-nya memainkan lakon ‘Samba Juwing’ (juga sering disebut lakon ‘Boma Gugur’ atau ‘Gojali Suta’) di Taman Mini, yang nonton pagelarannya banyak sekali, ada barangkali sekitar 20.000 orang. Saat itu, di sejumlah adegannya, banyak sekali penonton yang terharu, tercekam, dan menangis tersedu-sedu, seakan-akan apa yang diceritakan Mbah Narto itu adalah dirinya. Hal itulah yang banyak dinyatakan oleh penonton. “Kula kok karasa yen riwayate Boma niku kados riwayat urip kula,” begitu pernyataan beberapa penonton yang saya tanya sesaat setelah pagelaran berakhir di pagi hari, masih dengan bekas-bekas sembab dan bekas linangan air-mata di sisi-sisi matanya. Dalam suatu pertemuan dengan Mbah Narto di rumahnya (pada sekitar tahun 1976), di Jl. Anggrek, Semarang; beliau bercerita bahwa lakon ‘Samba Juwing’ merupakan salah satu lakon yang paling disukainya. Karenanya, beliau seringkali membawakan cerita itu. Jauh lebih sering dari pada lakon-lakon lainnya.

Mengatur, mengendalikan, lalu  mempermainkan emosi dan perasaan penonton! Hal inilah yang sampai sekarang belum pernah saya lihat berhasil dilakukan oleh banyak dhalang masa kini (yang mana pun). Dhalang masa kini, kebanyakan hanya hura-hura, ramai, lucu (itu juga karena membawa pelawak, dhalangnya sendiri mungkin tidak terlalu lucu), banyak perangnya, banyak goyang campur-sarian-nya, banyak sindhen-nya, garap gendhingnya berpola cepat sepanjang malam (yang amat membosankan dan sangat melelahkan telinga), penuh dengan teriakan bersuara keras (saat perang), dan banyak ketidak-jelasan alur ceritanya. Kalau pun skenarionya bagus, kebanyakan tidak bisa membawa hanyut emosi dan perasaan penontonnya. Sedangkan pagelarannya sendiri seringkali tidak membuat penontonnya terbawa emosinya dan tidak membawa penontonnya memikir atau belajar sesuatu yang bersifat spiritual, sesuatu yang bersifat filosofis, atau sesuatu yang bersifat ajaran bagaimana hidup baik. Artinya, pagelaran wayang kulit purwa pada jaman sekarang, ditinjau dari segi itu, menjadi suatu pagelaran yang kering serta miskin ajaran dan tuntunan rohani.

Menurut saya, semacam ada doktrin atau anjuran, jika mau main wayang semalam suntuk, sebaiknya menerapkan hura-hura sepanjang malam, pokoknya ramai, tidak perlu lucu (kalau mau lucu ya bawa pelawak saja), sebanyak mungkin perangnya biar ramai, perbanyak goyang campur-sarian-nya biar penonton puas, banyak sindhen-nya dan hadapkan wajah mereka ke arah penonton biar wajah mereka bisa menarik perhatian penonton, buat garap gendhingnya berpola cepat sepanjang malam (meski pun kenyataannya amat membosankan dan sangat melelahkan telinga, karena grafik garapnya selalu tinggi sepanjang malam), penuhi pagelaran dengan teriakan bersuara keras (saat perang), dan biarkan saja mengorbankan banyak ketidak-jelasan alur ceritanya. Pola seperti inilah yang pada masa sekarang berkembang. Kenyataannya, pagelaran jaman sekarang lebih mengeksploitasi ‘naluri rendah manusia’, termasuk sangat mengeksploitasi hawa nafsu (maaf, ‘nafsu kebinatangan’), termasuk humor dan guyonan berbau sex, yang pada masa sekarang sangat banyak dieksploitasi untuk sekedar mengejar kesenangan ragawi penontonnya.

Pada sejumlah pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk, kenyataannya penontonlah yang mengendalikan pagelaran, dan bukannya pagelaran yang mengendalikan penonton. Di Kota Bandung suatu ketika terjadi pagelaran wayang dengan dhalang yang sebenarnya bagus permainannya. Tetapi apa yang terjadi? Pas adegan Limbukan, penonton terang-terangan meminta dhalang supaya pagelaran dihentikan saja dan digantikan dengan adegan campur-sarian. Permintaan ini, dinyatakan dalam bentuk teriakan-teriakan, yang semakin lama semakin sering, semakin keras, dan semakin gegap gempita. Peri-laku biadab seperti ini, akhirnya membuat pak dhalang menyerah. Apa yang terjadi? Pagelaran pun dihentikan, lalu diganti dengan campur-sari, yang didukung sejumlah penari yang berlenggak-lenggok dengan seronok dengan gerak tubuh sensual, sehingga semua mata lelaki penonton dengan sangat bernafsu tertuju ke bentuk tubuh sexy yang dibalut pakaian super ketat sekelompok penari campur-sari itu. Sudah barang tentu, tidak pula terlupa disajikan lagu ‘Iwak Peyek’ yang memang sedang naik daun. Rasanya, para nayaga maupun penonton, sudah tidak ada lagi yang mempersoalkan apakah lagu-lagu yang mereka mainkan itu sesuai dengan nada-nada gamelan atau tidak. Cocok atau tidak, rupanya sudah tidak termasuk ke dalam bahan pertimbangan lagi. Bagi mereka kesenangan penonton menjadi target. Perasaan gamang atau mempertimbangkan estetika nada, rupanya sudah lenyap dari otak seluruh nayaga dan penonton. Mereka tidak lagi perduli, apakah nada lagunya sesuai dengan nada-nada gamelan atau tidak.

Waktu sudah menunjukkan jam 02.00 pagi, tetapi adegan Limbukan yang sudah ‘dikudeta’ dengan adegan campur-sarian belum juga selesai. Pak dhalang sempat nyeletuk: “La kalau campur-sarian terus, lalu kapan perangnya?”  Tapi penonton rupanya tidak perduli! Lagu demi lagu diminta penonton untuk terus dimainkan, lengkap dengan lemparan ‘saweran’ berupa lemparan-lemparan lembaran uang. Jam setengah tiga pagi, dengan terpaksa pak dhalang memaksa campur-sarian dihentikan. Pagelaran wayang pun diteruskan, dengan alur cerita yang sudah terlanjur rusak, karena sebenarnya waktu sudah menunjukkan saatnya memainkan ‘pathet manyura’, padahal saat itu pathet masih belum berubah. Jam setengah tiga pagi masih main ‘pathet nem’! Brengsek dan keterlaluan!

Begitu campur-sari berhenti pada jam setengah tiga pagi, penonton lalu bergegas berbondong-bondong meninggalkan ruang pagelaran. Lebih dari tiga per empat jumlah penonton, seketika bubar dan pulang, sementara pagelaran wayang tiba-tiba saja memperpendek waktunya sehingga dalam ukuran hanya beberapa puluh menit, dua pathet dilalui tanpa makna. Dan tidak lebih dari setengah jam kemudian, seluruh pagelaran wayang kulit purwa sudah benar-benar selesai. Pagelaran wayang sudah tidak bisa dinikmati lagi. Alur ceritanya sudah benar-benar rusak berat. Pak dhalang-nya pun hanya ‘ngelus dhadha’ saja. Begitu pula saya…..

Apakah pagelaran wayang kulit purwa seperti ini yang dikehendaki? Saya suka sekali nonton wayang kulit purwa. Saya juga amat sangat suka nonton jaipongan, dangdut, kliningan Sunda, atau kendhang pencak. Begitu juga sangat suka nonton campur-sari, sendra-tari, konser musik, jazz, atau blues. Tapi kalau nonton pertunjukan wayang kulit purwa yang dikudeta dan dicampur-adukkan dengan campur-sarian setengah malam suntuk, rasanya seperti mencampurkan roti yang terkenal sangat enak, mahal, dan nomor satu; dengan baso yang gurihnya luar biasa dan juga nomor satu; dicampur dengan tembakau rokok kretek merk terkenal yang kualitas ekspor, ditambahi potongan sepatu buatan Italia yang termasuk terbaik dan kelas dunia, yang juga nomor satu; serta celana dalam wanita model mutakhir yang sangat sexy, sensual, dan nomor satu cantiknya. Seluruh benda yang semuanya dikategorikan ‘nomor satu’ ini dicampur jadi satu, dimasak, lalu dihidangkan kepada kita. Jangan lupa, semuanya berkualitas tinggi, sedang naik daun, kelas dunia, kelas atas, dan nomor satu. Bagaimana rasanya? Sumpah demi setan dan iblis! Jangankan memakannya, melihatnya saja sudah membuat muak dan muntah……..!

Lalu pak dhalang yang sebenarnya malam itu jadi komandan atau panglima tertinggi pagelaran…. Apa kehormatan, martabat, dan harga diri seorang dhalang bisa dengan mudah dibeli dan dikorbankan begitu saja demi segepok rupiah bayaran? Bukankah dhalang adalah gurunya masyarakat? Jika seorang dhalang tidak sanggup mengendalikan penonton (caranya sih terserah), atau tidak sanggup menjadi gurunya masyarakat, ya lebih baik jangan berani-berani ‘madeg dadi dhalang’. Untuk apa jadi dhalang seperti itu, kalau perannya hanya menjadi pelengkap penderita, serta menjadi fasilitator penggerak nafsu dan naluri rendah manusia….?

Cobalah renungkan dengan bening. Pagelaran wayang dan pagelaran campur-sari sebenarnya sama bagusnya. Tetapi berubah menjadi pagelaran setan dan iblis, jika dicampur menjadi satu. Kalau memang penonton hanya mau campur-sarian, ya lebih baik melakukan pagelaran campur-sari semalam suntuk. Kalau perlu dengan sederetan penari telanjang sekalian. Tapi jangan memakai pagelaran wayang kulit purwa sebagai media dan melakukan manipulasi atau kebohongan publik, seakan-akan pagelaran malam itu adalah pagelaran wayang kulit purwa yang adi luhung, padahal nyatanya hanya merupakan pagelaran campur-sari yang mengekslopitasi nafsu dan naluri rendah manusia. Sementara pagelaran wayang kulitnya hanya sebagai pembuka dan penutup semata. Menyedihkan sekali dan menunjukkan kenyataan bahwa masyarakat kita memang bukan masyarakat yang berbudaya tinggi, tetapi sebaliknya merupakan masyarakat berbudaya rendah, yang dibalut dengan kebohongan, basa-basi, seakan-akan merupakan masyarakat berbudaya tinggi dan adi luhung. Ini merupakan ciri-ciri masyarakat munafik yang umumnya hanya dikenal sebagai penghuni negara-negara ‘terbelakang’, negara-negara tak berbudaya, bahkan sebagai masyarakat negara ‘under development’ pun tidak! Menyedihkan sekali…….

Jika saja Mbah Narto masih berada di antara kita, atau jika di alam sana beliau bisa mengamati apa yang terjadi saat ini, saya yakin sekarang beliau sedang menangis, melihat gaya pagelaran wayang kulit purwa versi Jawa masa kini dan melihat ulah penonton pagelaran wayang kulit yang sama sekali tidak terkendali, dan malah berbalik mengkudeta serta mengendalikan dhalang pagelaran wayang kulit purwa, lalu mengubah pagelaran wayang kulit purwa yang edi peni dan adi luhung; menjadi sebuah pertunjukan penuh hura-hura, bergelimang nafsu, dan sama sekali tidak bermakna…..

Keluarga Ki Narto Sabdho beserta seluruh anggauta timnya, tinggal di Jl. Anggrek, dekat Simpang Lima, Kota Semarang. Pada masa jayanya, tim kesenian bentukan Ki Narto Sabdho terdiri dari dua tim kerja yang berbeda, yaitu tim yang mendukung pagelaran wayang kulit, bernama ‘Condong Raos’, dan tim yang mendukung pagelaran wayang orang ‘Ngesti Pandhawa’.

Ki Narto Sabdho almarhum, sampai akhir hayatnya, selalu membuat penontonnya terbawa emosi dan perasaannya.