Category Archives: Tips Trik

Duabelas Jurus Rumus Tabuhan Gender Barung


http://www.facebook.com/note.php?note_id=187510884608501

Untuk sahabat-sahabat saya,

Sesuai permintaan sejumlah sahabat, untuk menyampaikan keduabelas rumus (kunci) yang dipakai untuk menabuh gender barung, maka di bawah ini saya tuliskan keduabelas rumus itu. Mudah-mudahan keduabelas rumus yang sangat sederhana ini, bisa ‘menghidupkan’ kembali rasa ingin tahu dan keinginan anda semua untuk menabuh gender barung secara sangat mudah. Seperti pernah saya ungkapkan, sebenarnya jika diajarkan dan diperagakan dalam kedudukan saling bertemu, maka seluruh materi ini akan sangat mudah dipahami, dan dipastikan seseorang yang belum pernah menabuh gender barung sekalipun, akan bisa mengiringi semua jenis gendhing, hanya dalam waktu belajar selama satu jam saja. Tetapi jika dalam bentuk tulisan seperti ini, ada kemungkinan rumus yang sangat sederhana ini, akan terlihat rumit dan mungkin juga berubah menjadi relatif sulit dipahami maksudnya. Apalagi jika sudah dalam bentuk gabungan sejumlah rumus. Untuk itu, saya mohon maaf jika telah menyulitkan anda semua, hanya karena saya tidak bisa bertemu anda secara langsung.

Pedoman

Guna memudahkan pemahaman, sebagai awal harap diperhatikan beberapa pedoman sebagai berikut.

1) Pembunyian dan pengembangan tabuhan nada pada gender barung, didasarkan kepada pengembangan atau penjabaran referensi nada balungan. Kecepatan penjabaran atau penurunan referensi nada balungan menjadi suatu susunan tabuhan gender barung  yang terdiri dari suatu susunan nada-nada tertentu, akan menjadi dasar bagi pembentukan suatu ‘cengkok’ (melody arangement). Dalam kasus ini, keterampilan dan kecepatan gerak tangan (skill) dalam menjabarkan referensi nada balungan menjadi suatu susunan tabuhan nada gender barung, kreatifitas dalam menyusun nada-nada tabuhan gender secara cepat, serta kehalusan rasa saat melakukan pemilihan dan penyusunan nada-nada gender barung; pada tingkat selanjutnya, akan menghasilkan susunan melodi nada yang estetis; yang merupakan suatu susunan suatu nada-nada melodi atau ‘cengkok’yang indah dan enak didengar telinga.

2) Tangan kiri digunakan untuk menabuh/membunyikan nada yang lebih rendah. Tangan kanan, digunakan untuk menabuh/membunyikan nada tinggi.

3) Untuk tabuhan gender barung berpola ‘gembyang’ dan ‘kempyung’, referensi nada balungan, berada pada tabuhan nada gender yang dibunyikan memakai tangan kiri.

4) Untuk tabuhan gender barung berpola ‘gembyang’ dan’ kempyung’, 1 referensi nada balungan, dijabarkan atau diturunkan menjadi 4 tabuhan nada gender barung. Pada pengembangan tabuhan gender yang bersifat ‘tingkat lanjutan’, yakni ke arah pembentukan ‘cengkok’ (melody arangement), 1 referensi nada balungan bisa dijabarkan atau diturunkan menjadi  8 tabuhan nada gender, 16 tabuhan nada gender, dan seterusnya. Jadi penjabaran atau penurunan tabuhan nada gender pada dasarnya merupakan kelipatan 2, yaitu 4, 8, 16, 32, dan seterusnya.[1]

Continue reading Duabelas Jurus Rumus Tabuhan Gender Barung

Berburu Siaran Wayang di Ban Radio Medium Wave


http://www.facebook.com/note.php?note_id=188204371205819

Pada gambar ini, tampak sebuah antena lingkar berukuran agak besar, dipasang di atas atap ‘shelter’ yang berisi peralatan penerima radio. Seluruh peralatan elektronika dan kelengkapannya ini, diletakkan di bak belakang truk militer. Ini merupakan peralatan radio versi militer mutakhir, buatan setelah tahun 2000, dan saat ini dipakai oleh Angkatan Bersenjata Jerman.
_____________________

Beberapa sahabat saya mengeluhkan pesawat penerima radionya yang bisa bekerja di ban radio gelombang tengah (medium wave, MW), ternyata hanya menghasilkan penangkapan beberapa stasiun pemancar radio brodkas lokal. Itupun masih sangat terganggu oleh timbulnya suara kerotokan yang sangat hebat pada waktu-waktu tertentu. Sejak beberapa tahun yang lampau, saya sudah melakukan berbagai eksperimen tentang bagaimana caranya menangkap pancaran siaran radio jarak jauh, khususnya di ban radio gelombang tengah (0,5 – 1,6 MHz). Beberapa jenis antena, telah saya rancang, dibuat, dan dicoba unjuk-kerjanya. Sebagian besar pengetahuan saya tentang antena yang bisa dipakai untuk melakukan penerimaan pancaran sinyal radio di ban gelombang tengah jarak jauh ini, didapat dari dua buah buku kuno berbahasa Belanda, yaitu buku ‘Het Niuewe Hanboek der Radiotechniek’ dan buku ‘Lange en Korte Golf’, keduanya terbitan sekitar tahun 1930-an.

Dari berbagai jenis antena yang telah dicoba, saya sangat tertarik pada sebuah antena kuno, yang dulu lazim dipakai untuk menerima pancaran siaran radio jarak jauh pada berbagai stasiun radio di Eropa, pada sekitar tahun 1930-an. Yaitu ‘antena lingkar’, yang dalam bahasa Belanda disebut ‘raam antenne’. Sedangkan dalam bahasa Inggris, lazim disebut ‘loop antenna’. Sampai saat ini, ada cukup banyak antena jenis ini. Tetapi, yang paling mudah dibuat dan cukup bagus unjuk-kerjanya, adalah jenis antena lingkar yang terbuka konstruksinya (tanpa pelindung terhadap gangguan elektro-statis). Antena jenis ini, bisa dibangun memakai kerangka kayu berbentuk seperti salib atau wajik, dengan sebuah kumparan resonator yang frekuensi kerjanya ditala memakai sebuah kapasitor variabel (varco), sebuah kumparan kopling link yang besar-kecilnya nilai kopling bisa diatur memakai sebuah kapasitor variabel, serta sebuah saklar putar ganda tiga sampai enam posisi, yang dipakai untuk memilih wilayah frekuensi kerja.

Salah satu hal yang harus dijadikan pegangan saat hendak merancang dan membuat antena lingkar, adalah bahwa ukuran fisik bidang yang berisi kumparan resonansi antena ini, justru harus sekecil mungkin, dibandingkan dengan panjang gelombang yang diterima. Dalam hal ini, rekomendasi untuk ukuran fisik bidang yang berisi kumparan resonansi antena lingkar adalah jangan lebih besar dari 0,1 lambda (0,1 panjang gelombang). Bahkan sejumlah rekomendasi menyatakan, bahwa sebaiknya ukuran fisiknya jangan lebih dari 0,04 – 0,0 5 lambda. Semakin kecil bidang yang berisi kumparan resonansi akan menghasilkan pola terima berbentuk angka delapan yang ditidurkan (eight pattern) yang sempurna. Sebaliknya, semakin besar ukurn fisik bidang yang berisi kumparan resonansi, akan menghasilkan pola terima berbentuk angka delapan yang ditidurkan (eight pattern) yang semakin tidak sempurna. Kesempurnaan pola terima, akan sangat berpengaruh pada kemampuan antena lingkar dalam menghilangkan gangguan sinyal radio lain, yang tidak dikehendaki, dan berada pada sudut 90 derajat (tegak lurus) terhadap bidang kumparan resonansi antena.

Sebagai informasi, panjang gelombang pada frekuensi terrendah ban radio MW (0,5 MHz) adalah 300/0,5 = 600 m. Sedangkan panjang gelombang pada frekuensi tertinggi ban radio MW (1,6 MHz) adalah 300/1,6 = 187,5 m. Karena sasaran kita hendak berburu sinyal radio yang wilayah frekuensinya di antara 0,5 MHz sampai sekitar 1,6 MHz, maka ukuran fisik bidang kumparan resonator antena lingkar, seharusnya diperhitungkan terhadap frekuensi yang tertinggi yang hendak diterima, yaitu 1,6 MHz. Artinya, ukuran fisik bidang kumparan resonator maksimum adalah 0,1 x (300/1,6) = 0,1 x 187,5 = 18,75 m (meter!). Sedangkan rekomendasi lain, menyatakan bahwa ukuran fisik bidang kumparan resonator antena lingkar sebaiknya tidak lebih dari 0,04 – 0,05 lambda. Artinya, ukuran fisik bidang kumparan resonator antena lingkar adalah 0,04 x (300/1,6) = 0,04 x 187,5 = 7,5 m. Atau, berdasar perhitungan lain, adalah 0,05 x (300/1,6) = 0,05 x 187,5 = 9,375 m.

Berdasar ketiga perhitungan tersebut, kita mendapatkan tiga angka patokan yang berbeda. Angka patokan pertama, menyatakan bahwa ukuran fisik kumparan resonator antena lingkar tidak boleh lebih dari 18,7 meter. Angka patokan kedua, menyatakan bahwa ukuran fisik kumparan resonator antena lingkar tidak boleh lebih dari 7,5 meter. Sedangkan angka patokan ketiga, menyatakan bahwa ukuran fisik kumparan resonator antena lingkar tidak boleh lebih dari 9,375 meter. Dari ketiga angka patokan ini, kita akan memakai angka patokan yang terkecil, yaitu angka patokan kedua, yang besarnya 7,5 meter. Jangan lupa, angka patokan ini menyatakan secara sangat jelas, bahwa jika kita hendak memperoleh unjuk-kerja antena lingkar yang bagus, maka ‘ukuran fisik bidang kumparan resonator antena lingkar tidak boleh lebih dari 7,5 meter’. Artinya, semakin kecil ukuran fisik bidang kumparan resonator antena lingkar, akan semakin bagus unjuk-kerjanya!

Pernyataan ini, justru sangat berlawanan dengan beberapa hal yang akan saya kemukakan di bawah ini. Dan, kita harus membuat keputusan tentang hal ini.

  • Jika ditinjau dari segi pola terima yang dihasilkan, semakin kecil ukuran fisik bidang kumparan resonator antena lingkar, akan semakin bagus unjuk-kerjanya! Sebaliknya semakin besar ukuran fisik bidang kumparan resonator antena lingkar, akan semakin buruk unjuk-kerjanya. Continue reading Berburu Siaran Wayang di Ban Radio Medium Wave

Berburu Siaran Wayang di Ban Radio FM 88 -108 MHz


http://www.facebook.com/note.php?note_id=187893821236874

Pada gambar ini, diperlihatkan detail pembuatan antena ‘Slim JIM’ yang unik dan unjuk-kerjanya sangat bagus.
___________________

Beberapa sahabat saya mengatakan bahwa pesawat penerima radionya yang bekerja di ban radio frekuensi 88 – 108 MHz (lebih dikenal sebagai ‘ban radio FM’), ternyata hanya menangkap pancaran siaran radio yang berasal dari sejumlah stasiun pemancar radio brodkas lokal. Sedangkan menurut informasi dari sejumlah sahabat, beberapa stasiun pemancar radio brodkas tertentu, yang beroperasi di ban radio frekuensi 88 – 108 MHz dan berasal dari kota lain, diketahui sering menyiarkan programa wayang kulit, klenengan nyamleng, atau campur-sari. Seringkali muncul pertanyaan, bagaimana caranya supaya bisa menangkap pancaran siaran radio FM yang berasal dari kota-kota lain?

Melalui artikel ini, saya akan berbagi pengetahuan dan pengalaman saya, dalam membuat antena dan melakukan sejumlah percobaan penerimaan pancaran siaran radio dari jarak jauh. Mudah-mudahan, bacaan ini berguna. Sekurang-kurangnya, seperti itulah harapan saya. Sebagai catatan, tulisan artikel ini, dipicu oleh tulisan sahabat saya Maspatikrajadewaku, beberapa waktu yang lalu, yang menuliskan keluhan dan ‘curhat’-nya tentang kondisi programa acara penyiaran pagelaran wayang di sejumlah stasiun pemancar radio brodkas FM.

Dari sejumlah eksperimen yang telah saya lakukan, menangkap pancaran siaran radio dari jarak jauh, khususnya di ban radio frekuensi sangat tinggi (di atas frekuensi 30 MHz), bisa dilakukan dengan cara memasang antena yang relatif bagus unjuk-kerjanya, dan memang dirancang untuk menghasilkan kemampuan menangkap pancaran siaran radio dari jarak yang sangat jauh. Dalam hal ini, ada beberapa jenis antena, yang bisa dipertimbangkan pemakaiannya.

Bukannya saya bermaksud membicarakan hal-hal yang bersifat teknis dan teoretis, tetapi beberapa hal di bawah ini, sebaiknya diketahui.

  • Jenis antena, jika memungkinkan, sebaiknya dipilih yang bisa menghasilkan ‘penguatan’ (gain) yang relatif tinggi. Sebagai pegangan, antena yang menghasilkan penguatan lebih tinggi, akan berdampak menambah derajat kepekaan penerimaan. Namun, penambahan derajat penguatan atau penambahan kepekaan, juga bisa berarti juga semakin besarnya kemungkinan terjadinya gangguan interferensi. Demikian pula berlaku sebaliknya. Acuan untuk mengukur tinggi-rendahnya penguatan suatu antena, lazimnya dilakukan berdasar dua acuan, yaitu acuan teoretis dan acuan terhadap antena dua arah (dipole antenna). Acuan yang didasarkan kepada perhitungan teoretis, lazim disebut ‘acuan isotropis’, biasanya dinyatakan dalam bentuk angka, dengan satuan ukur ‘dBi’ mengikuti di belakangnya (maksudnya, menyatakan sekian ‘desibel di atas isotropik’). Acuan yang didasarkan kepada hasil pengukuran nyata, yakni dengan cara membandingkannya terhadap suatu antena acuan berupa antena dua kutub (dipole antenna), biasanya dinyatakan dalam bentuk angka, dengan satuan ukur ‘dBD’ mengikuti di belakangnya (maksudnya, menyatakan sekian ‘desibel di atas antena diplole’). Di antara kedua jenis pernyataan besarnya penguatan (gain) ini, yang paling realistis adalah yang memakai acuan ‘dBD’. Sebagai catatan, antena dua kutub (dipole antenna) dinyatakan mempunyai besar penguatan sebesar 0 dBD (artinya, tidak mempunyai penguatan, atau penguatannya sebesar 0 dB).
  • Menambah dan menyusun sejumlah antena yang sama dalam susunan yang tertentu, termasuk jarak dan letak antar antenanya, bisa berdampak menambah besar penguatan (gain) yang dihasilkan. Teknik ini, dikenal dengan sebutan ‘susunan antena’ (antenna array). Secara umum, melipat-gandakan jumlah antena yang disusun menjadi dua kali dari jumlah semula, akan menaikkan penguatan (gain) antena sebesar +3 dB. Sebagai contoh, suatu antena yang dinyatakan mempunyai besar penguatan sebesar +1,9 dBD, jika disusun atas dua antena yang sama, akan menghasilkan penguatan sebesar 1,9 + 3 = 4,9 dBD (bukan dilipat-gandakan menjadi dua kali!). Jika susunannya dilakukan memakai empat buah antena yang sama, maka akan dihasilkan penguatan sebesar 1,9 + 3 + 3 = 7,9 dBD. Sebagai catatan, dalam hal penerimaan level kekuatan pancaran sinyal radio, kenaikan sebesar +6 dB kira-kira setara dengan kenaikan level kekuatan penerimaan sebesar 2 kali level semula. Sedangkan kenaikan sebesar +12 dB kira-kira setara dengan kenaikan level kekuatan penerimaan sebesar 4 kali level semula. Demikian seterusnya. Continue reading Berburu Siaran Wayang di Ban Radio FM 88 -108 MHz

Sekilas Mengenai Proses Konvert Audio Analog ke Digital MP3


By MasPatikrajaDewaku

Telah selesai 10 set kaset audio wayangan dari Mas Tohirin yang dititipkan ke saya untuk di-conversi ke bentuk suara digital. Ini adalah pengalaman saya yang pertama mengkonversi penuh suatu bentuk kaset wayang yang akhirnya dapat dinikmati oleh para sutresna wayangprabu.com

Dibalik pengalaman mengerjakan pakaryan yang memerlukan kesabaran itu, saya telah menemukan beberapa trik yang bisa saya bagikan kepada sutresna wayang prabu lainnya. Satu dua kadang PPW telah secara pribadi menanyakan ke saya mengenai pengalaman ini. Tetapi baiknya melalui forum ini kami bagikan ke semua pengunjung blog . Barangkali tulisan cerita pengalaman yang masih serba sedikit ini ada manfaatnya

Perangkat keras (hardware) yang diperlukan adalah sebagai berikut:

  1. Unit pemutar kaset atau pemutar sumber audio yang lain.
  2. Personal Computer (PC).
  3. Headphone/ earphone sebagai monitor.
  4. Kabel Stereo beserta jack Din Standar Stereo (3.5mm/2.4mm tergantung jack phone).

Sedangkan software yang diperlukan adalah:

  1. Sonic Foundry Soundforge 6.0, Sony Soundforge 9.0. atau software convert yang sejenis.

Perangkat Keras (Hardware)

1.  Unit pemutar kaset atau pemutar audio lain

Kualitas unit pemutar audio adalah hal yang sangat menentukan mutu audio conversi!

Jangan menggunakan Pemutar Kaset yang mempunyai mutu rendah. Sebaiknya menggunakan Pemutar Kaset yang bermerek. Bila mungkin menggunakan Pemutar Kaset yang berfitur audio prosessor seperti fitur spatial, atau equalizer semacam Jazz, Rock, Classic atau setting sejenisnya, misalnya setting ekualiser yang individual. Bagus lagi bila mempunyai pengatur balans. Perlunya untuk merestorasi mutu audio kaset yang sudah “drop”.

Untuk mengetahui adakah Pemutar Kaset mempunyai distorsi yang cukup kecil, masukkan headphone ke terminal headphone out, tanpa ada input yang dimainkan, putar volume secukupnya, kemudian periksa apakah ada dengung, desis atau cacat/distorsi suara lain yang berlebihan.

Bila terjadi dengung atau desis, sisihkan saja peralatan itu dan ganti dengan yang berkualitas lebih baik. Eman eman hasil konvertnya nanti.

2. Personal Computer (PC)

Setidaknya Pentium 4. dan sebaiknya mempunyai memory cukupan, karena file MP3 adalah file yang besar. Mempunyai audio input stereo yang ditandai dengan jack audio input yang biasanya berwarna biru muda. Kemudian harus mempunyai output audio sebagai monitor hasil input dari pemutar kaset sewaktu proses konvert berlangsung.

Continue reading Sekilas Mengenai Proses Konvert Audio Analog ke Digital MP3

Rahasia Nabuh Gender Barung


by Bram Palgunadi on Monday, December 20, 2010 at 2:16am

Sumber : http://ki-demang.com/

Mas Nur dan para kadang kinasih,

Menjawab pertanyaan Mas Nur, selama ini, saya memang meluangkan waktu dan menyempatkan diri sesekali mengajar sejumlah mahasiswa/i ITB nabuh gender barung di unit kegiatan mahasiswa PSTK-ITB. Mereka tidak saya ajari nabuh gender barung gaya ‘cengkok jadi’ (melodi), tetapi yang saya ajarkan adalah ‘rumus menabuh gender barung’. Rumusnya (saya seringkali menyebutnya sebagai ‘kunci’), hanya ada 12 macam tabuhan, yaitu:

  • 1)  Tabuhan gender gembyang mbukak
  • 2)  Tabuhan gender gembyang nutup
  • 3)  Tabuhan gender gembyang minggah
  • 4)  Tabuhan gender gembyang mandhap
  • 5)  Tabuhan gender kempyung mbukak
  • 6)  Tabuhan gender kempyung nutup
  • 7)  Tabuhan gender kempyung minggah
  • 8)  Tabuhan gender kempyung mandhap
  • 9)  Tabuhan gender gantungan gembyang
  • 10) Tabuhan gender gantungan kempyung
  • 11) Tabuhan gender mipil
  • 12) Tabuhan gender imbal (untuk lancaran, srepegan, palaran)

Di luar keduabelas rumus di atas, ada tiga rumus lain, yang secara khusus dipakai untuk mengiringi suluk (pedhalangan) wayang, yaitu:

  • 13) Tabuhan gender pathetan
  • 14) Tabuhan gender ada-ada
  • 15) Tabuhan gender grambyangan

Ini ada cerita tentang bagaimana ‘rahasia rumus nabuh gender’ itu didapatkan. Ini benar-benar merupakan peristiwa yang terjadi (true story), jadi bukan sekedar cerita semata-mata.

Pada sekitar tahun 1965 – 1968, sewaktu saya tinggal di Kota Salatiga, saat saya pertama kali belajar nabuh gender barung, tidak tepat seperti rumusan di atas, melainkan dalam bentuk yang sudah menjadi susunan nada melodi. Susunan nada melodi ini oleh guru saya almarhum ditulis di atas secarik kertas, sebagai tabuhan gender barung untuk mengiringi Gendhing Ladrang Wilujeng dan Ladrang Asmarandana. Waktu itu, saya benar-benar tidak tahu bahwa yang ditulis guru saya itu sebenarnya adalah rumus yang diturunkan dan dituliskan sesuai dengan notasi gendhing. Baru setelah saya tinggal di Bandung selama beberapa tahun, yaitu menjelang tahun 1980-an, saya akhirnya memahami ‘rumus’ yang diajarkan guru saya itu. Hal itu, sebenarnya dipicu adanya peristiwa pertemuan saya dengan seorang ‘kakak seperguruan’ (persis seperti di cerita silat Cina saja) yang juga tinggal di Bandung. Beliau namanya Pak Ali. Pada suatu ketika, kakak seperguruan saya nabuh gamelan di PSTK-ITB bersama sejumlah anggauta grup karawitannya. Tiba-tiba saya mendengar suara susunan nada melodi yang dihasilkan oleh tabuhan gender kakak seperguruan saya (saat itu, saya belum sadar bahwa itu kakak seperguruan saya), kok sangat mirib (kalau tidak boleh dikatakan sama persis) dengan susunan nada melodi yang biasa saya mainkan. Saya tercengang, karena hampir seluruh susunan nada melodinya benar-benar sama seperti yang saya mainkan.

Segera setelah latihan selesai, sebelum beliau pulang, saya lalu mengajukan sejumlah pertanyaan kepada beliau. Pada awalnya saya bertanya kepada beliau, dulu belajar nabuh gender di mana. Jawabnya: “Saya belajar dari seseorang yang tinggal di Kota Amba-Rawa”. Lalu saya bertanya lagi: “Sebelum tinggal dan belajar di Kota Amba-Rawa apa pernah tinggal di tempat lain?” Beliau menjawab: “Sebelumnya, saya tinggal di Kota Salatiga”. Saat itulah, saya tanyakan secara langsung siapa gurunya sewaktu di Salatiga. Jawabnya: “Pak Harjo Prewita dari Desa Karang Pete”. Nah, yang beliau sebut itu adalah nama guru saya, yang mengajari saya karawitan dan pedhalangan.

Sejak peristiwa itulah, saya baru menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh pada susunan nada melodi yang dulu diberikan kepada saya oleh guru saya. Ada suatu pola tertentu, yang kelihatan sangat konsisten dalam cara penyusunannya. Namun, saat itu saya sama sekali tidak mengerti bagaimana polanya dan apalagi rumusnya. Sebenarnya saya juga sempat membicarakan tentang hal ini dengan kakak seperguruan saya. Sayangnya, karena kesibukan masing-masing, pertemuan itu tidak bisa terlampau sering dilakukan dan hanya bisa dilaksanakan sesekali saja. Sehingga akhirnya saya memutuskan untuk memikirkannya sendiri. Saya memerlukan waktu sekitar dua tahun (masih di sekitar tahun 1980-an) untuk berusaha menguraikan rahasia yang dikandung dalam tulisan notasi susunan nada melodi yang diberikan oleh guru saya. Sebagai gambaran, notasi yang saya terima dari guru saya, sudah berbentuk sangat mirip cengkok, karena disusun dan dituliskan secara khusus untuk memainkan Gendhing Ladrang Wilujeng dan Ladran Asmarandana.

Continue reading Rahasia Nabuh Gender Barung

Tips Dowload 4Shared tanpa menunggu


Anda merasa bosan karena menunggu countdown 4Shared setiap kali download file audio atau video ?

Tidak perlu menunggu karena ada trik yang cukup jitu untuk mengakali 4Shared yang memberi waktu cukup lama untuk bisa download setiap kali kita akan DL secara berulang. Apalagi bila filenya berukuran cukup besar maka waktu countdown yang diberikan oleh 4Shared menjadi cukup lama.

Cara itu adalah menggunakan Add Ons NetVideoHunter di browser Mozilla Firefox.

Syarat pertama yang harus Anda penuhi adalah HARUS menggunakan browser Mozilla Firefox.

Free !!! Download disini

Bila belum mempunyainya maka silahkan DL dan install di komputer Anda.

Kemudian tambahkan Add Ons “VideoNetHunter” dengan cara menginstallkannya di Firefox Anda. Silahkan DL disini.

Bila Add Ons tadi sudah terinstall dengan benar maka akan muncul ICON di kanan bawah browser seperti pada gambar yang dilingkar.

Continue reading Tips Dowload 4Shared tanpa menunggu

Tips 4Shared


Karena saya menggunakan 4shared.com untuk berbagi dalam blog ini, maka sekilas akan saya berikan tips dalam membuat account 4shared dan berbagi file-file atau folder yang telah di unggah.

4shared adalah penyimpanan file gratis dimana untuk account free diberikan masing-masing 10 GB space. Kalau saya mempunyai 13 account berarti kalau penuh, size file-file yang telah saya simpan di 4shared sejumlah 130 GB. 1 account free saya bahkan telah diberi bonus tambahan 5 GB sehingga menjadi 15 GB, mungkin dengan alasan karena sudah cukup lama di create dan traffic yang lalu lalang di account cukup besar.

OK, gambar dibawah adalah tampilan awal saat masuk http://4shared.com

Gb. 1

Bila belum mempunyai account, maka langkah pertama adalah mendaftarkan diri. Caranya sangat mudah karena yang dibutuhkan hanya email dan password. Klik tombol “DAFTAR” maka akan tampil gambar seperti di bawah ini. Kemudian silahkan isikan email dan password Anda di kolom yang telah disediakan. Email harus benar karena 4shared akan mengirimkan konfirmasi ke alamat email tadi dan segala aktifitas di account yang kita buat akan dikirimkan ke email kita. Setelah lengkap maka tinggal diklik tombol “DAFTAR”.

Gb. 2

Bila semua isian memenuhi persyaratan (email belum pernah dipakai untuk account 4shared dan kolom “sandi” dan “konfirmasi sandi” isinya sama), maka kemudian kita akan memperoleh konfirmasi melalui allert box “Pendaftaran telah Selesai”. Sekarang kita telah memiliki account 4shared. Lihat Gambar di bawah.

Gb. 3

Lihat gambar 1 paling atas, untuk memastikan bahwa kita sudah memiliki account, maka pada saat masuk pada tampilan awal 4shared silahkan klik tombol “LOGIN” disebelah kanan atas. Maka akan tampil form seperti di bawah ini. Isi “User Name or email” dan “Sandi” sesuai dengan yang telah kita create sebelumnya. Continue reading Tips 4Shared