Category Archives: Renungan

KONTRIBUSI POSITIF VII


Kita wajib bersyukur dengan banyaknya kontribusi sehingga telah terposting begitu banyak di blog kesayangan kita wayangprabu.com ini serta dukungan dari berbagai macam Komunitas Radio seperti Radio Mutiara Bandung Jawa Barat, Radio Suara Parangtitis Yogyakarta, Radio Suara Kenanga Yogyakarta, Radio Safari Jakarta, Radio Kurniafm Trenggalek Jawa timur dan radio radio yang lain yang mungkin belum disebutkan.

live in Tumpuk Tugu Trenggalek Ki H Sukron Suwondo Nop 2011

Tak lupa juga ucapan Terima kasih kepada anggota PPW dimana saja berada yang ikut membantu baik material, Non material, dukungan moral juga sumbangan berbagai macam Audio maupun Videonya sehingga dapat menambah khasanah dan indahnya blog wayangprabu.com

Live In Surodakan Trenggalek Jawa Timur

Dari Wilayah Timur Pulau Jawa…kami PPW jatim dan Kurniafm Trenggalek berusaha memberi sebagai wujud kontribusi kami untuk slalu mendukung dan memotivasi agar wayangprabu.com menjadi lebih berwarna dengan kata lain kami (cilik sworo nanging bukti Nyoto)….yang kami artikan bahwa kami akan slalu berusaha membuktikan bahwa tidak hanya berita tapi kami juga mampu mendokumantasikan Audio dan Atau Video pagelaran atau pertunjukan wayang kulit yang ada di wilayah Jawa timur yang tentu bisa kami jangkau baik waktu dan kondisi keuangan kami.  Wujud nyata tersebut telah beberapa kami posting Audionya pagelaran wayang kulit yang berhasil kami dokumentasikan beberapa waktu yang lalu.

Suasana saat Nonton Live di Trenggalek salah satu anggota PPW jatim

Sudah Masuk redaksi PPW jatim dan belum terunggah antara lain :

1. Lakon Anoman Lair  Dalang Ki H. Sukron Suwondo Live In Tumpuk Tugu Trenggalek.

2. Lakon Gatotkaca Wisudo Dalang Ki Kondho Widodo (Sun Gondrong) live In Bendorejo Pogalan Trenggalek Jawa Timur

3. Lakon Wahyu Makhutoromo Dalang Ki Anom Suroto Live In Stadion Menak Sopal Trenggalek (Hut Kabupaten Trenggalek)

4. Lakon Wahyu Makhutoromo Dalang Ki Anom Suroto Live In Pendopo Sidoarjo Jawa Timur.

5. Lakon Wahyu Mustiko Aji Dalang Ki Eko K Presdianto Live In Karangan Trenggalek Jawa Timur

6. Lakon Wisanggeni Lahir Dalang Ki Deni SC live In Surodakan Trenggalek

7. Lakon Wirotho Parwo Dalang Ki Deni SC live in Sambirejo Trenggalek

8. Lakon Petruk dadi Ratu Dalang Ki Eko K Presdianto live In Gapensi Kab. Trenggalek.

Nah diatas data yang sudah masuk redaksi untuk proses unggah secara bertahab dan dalam proses conversasi PPW jatim yang didukung sepenuhnya oleh KURNIAFM TRENGGALEK RADIO INFORMASI DAN BUDAYA.

Selingan lawak pada saat limbukan dan goro goro (lawak Cak Supali)

Dari data diatas tentu masih banyak lagi yang akan dalam pengerjaan convert yaitu berbagai audio pita kaset wayang yang masih dalam taraf pengumpulan dan proses pengerjaan, yang tentunya nanti akan dapat dinikmati secara gratis dengan cara mendownload saja.

Dengan Slogan CILIK SWORO NANGGING BUKTI NYOTO kami PPW jatim hadir untuk memotivasi nantinya dimana tempat pertunjukan wayang kulit dan disitu ada PPW hadir akan mampu melobi untuk ikut serta mendokumentasikan Audio dan atau Videonya untuk dapat dinikmati kita semua.

Akhir kata mari Kita berkarya sebagai wujud nyata bahwa kita bisa…….

Iwak Sepat dipangan Ulo , Menawi lepat Nyuwun pangapuro

Salam saking

Ali M (PPW jatim)

Jepang yang selalu menghargai Budayanya


Dalang Jepang Matsu Moto

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan  kiriman email dan catatan di facebook dari seorang teman saya.  Saya coba shared di WP semoga berguna.

Resep Jitu mengapa orang Jepang bisa Maju…

Terima kasih buat Pak Gatot yang telah menyempatkan diri berbagi dengan kita semua, izinkan saya mengutip email beliau yang menurut saya akan sangat berguna apabila diterapkan dalam kehidupan kita (tentunya yang positif).

Kita tidak perlu malu meniru bangsa lain, dari 10 point yang ada, kalau kita simak bersama sebenarnya sudah ada dalam diri bangsa kita hanya saat ini tanpa kita sadari sedang tenggelam oleh keangkuhan dan keserakahan (kebalikan dari 10 point tersebut).

Sekali lagi terima kasih buat pak Gatot atas sharing pengetahuannya.

Berikut 10 resep maju yang patut kita contoh dari perilaku orang Jepang, dan 10 point yang sudah hilang dari bangsa ini;

1. KERJA KERAS

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).

Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi ), membuat mahasiswa nggak enak pulang duluan. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.

2. MALU

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas.

Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. HIDUP HEMAT

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Termasuk saya dulu sempat berpikir kenapa pemanas ruangan menggunakan minyak tanah yang merepotkan masih digandrungi, padahal sudah cukup dengan AC yang ada mode dingin dan panas. Alasannya ternyata satu, minyak tanah lebih murah daripada listrik. Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswa nya.

4. LOYALITAS Continue reading Jepang yang selalu menghargai Budayanya

Tapi, dimana Allah ?


Repost on Bumiprabu 2007-08-28

by Prabu

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kayakinan akan “campur tangan” Sang Khaliq kepada makhluknya mutlak diperlukan. Betapa kita manusia ini hanyalah sekedar menjalankan gerak langkah menyusuri tapak kehidupan yang semua ada dalam rengkuhan Allah. Namun seringkali kita merasa bahwa kitalah yang mampu menghidupi diri sendiri. Kesombongan akan kemampuan diri dalam berkarya, mengumpulkan harta, mengejar kemuliaan, seakan dijadikan sebagai panglima. Sikap bahwa diri pribadilah penentu keberhasilan, tanpa melibatkan Sang Penentu, seakan menjadi sikap yang memang sudah selayaknya begitu. Menepuk dada atas kemuliaan yang diperoleh, ketenaran yang didapat, telah menjadi sikap yang lumrah.

Padahal Allah-lah diatas segalanya. Ingatlah akan kisah Umar dan bocah penggembala kambing.

Ketika Umar melihat seorang anak gembala bersahaja dengan pakaian sangat sederhana sedang menggembalakan kambing yang amat banyak milik majikannya, beliau bertanya: “Nak, bolehkah aku membeli kambing yang sedang kau gembalakan itu satu ekor saja ? Si anak gembala menjawab: “Kambing ini bukan milikku melainkan milik majikanku. Aku tidak boleh menjualnya”. Umar bin Khatab membujuk: “Kambing itu amat banyak. Apakah majikanmu tahu jumlahnya? Apakah dia suka memeriksa dan menghitungnya?” Dijawab oleh anak tersebut dengan mantab: “Tidak, majikanku tidak tahu berapa ekor jumlah kambingnya. Dia tidak tahu berapa kambing yang mati dan berapa yang lahir. Dia tidak pernah memeriksa dan menghitungnya.” Umar bin Khatab terus mencoba membujuk: “Kalau begitu hilang satu ekor kambing, majikanmu tidak akan tahu. Ini uangnya, terimalah! Ambil saja buat kamu untuk membeli baju atau roti.” Anak gembala tetap tidak terbujuk dan mengabaikan uang yang disodorkan oleh Umar.

Umar bin Khatab dengan nada yang ditinggikan berkata: “Mengapa kamu ini bodoh benar! Kambing itu amat banyak. Majikan kamu tidak tahu jumlahnya. Kalau kamu jual satu, majikan kamu tidak akan tahu. Di sini juga tidak ada orang lain. Hanya ada aku dengan kamu. Tidak ada orang lain yang tahu.” Anak gembala miskin itu dengan tetap tegar menjawab: “Memang tidak ada orang disekitar sini. Tapi dimana Allah ? Allah Maha Tahu, Allah menyaksian semua yang terjadi”.

Mendengar jawaban anak gembala itu, Umar bin Khatab, Amirul Mu’minin yang gagah perkasa tersebut menangis. Dan mendekap anak gembala itu dengan penuh kasih sayang.

Atau barangkali tentu kita telah mendengar siapa Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang luar biasa. Menjadi pemimpin mukmin tidak terlalu lama, namun menciptakan perubahan yang luar biasa. Kepemimpinan dan akhlaknya telah menjadi teladan bagi kita semua hingga sekarang.

Tahukah anda bahwa beliau adalah keturunan dari berkah keyakinan terhadap Allah ? Continue reading Tapi, dimana Allah ?

Tipu Daya Iblis


Dialog dibawah ini sungguh berguna untuk mengenali tipu daya iblis dalam menjerumuskan manusia agar mengikutinya. Jalan gelap iblis tentu saja berlawanan dengan jalan terang Ilahi.

http://neesanoche.multiply.com/journal/item/12/DIALOG_NABI_MUHAMMAD_SAW_DENGAN_IBLIS_LANATULLAH_ALAIH

Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal ra dari Ibnu Abbas ra, ia berkata :

“Kami bersama Rasulullah saw berada di rumah seorang sahabat dari golongan anshar dalam sebuah jamaah. Tiba-tiba, ada yang memanggil dari luar : ” Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, karena kalian membutuhkanku. ” Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “apakah kalian tahu siapa yang menyeru itu ?” Para sahabat menjawab, “Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah saw berkata, “Dia adalah Iblis yang terkutuk – semoga laknat Allah atasnya-. Umar bin Khattab ra berkata, ” Ya Rasulullah, apakah engkau mengizinkan aku untuk membunuhnya ?” Nabi berkata pelan, “Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa dia termasuk mereka yang tertunda kematiannya sampai waktu yang ditentukan ?” Sekarang silahkan bukakan pintu untuknya, karena ia sedang diperintahkan Allah swt. Fahamilah apa yang dia ucapkan dan dengarkan apa yang akan disampaikan kepada kalian !”

Ibnu Abbas berkata : “Maka dibukalah pintu, kemudian iblis masuk ke tengah-tengah kami. Ternyata dia adalah seorang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Dagunya berjanggut sebanyak tujuh helai, rambutnya panjang seperti rambut kuda, kedua kelopak matanya memanjang (terbelah ke atas, tidak kesamping), kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi, kedua bibirnya seperti bibir macan/kerbau. Dia berkata, “Assalamu’alaika ya Muhammad. assalammu’alaikum ya jama’atul muslimin”. Nabi menjawab, “Assalamu lillah ya la’iin” (keselamatan hanya milik Allah swt, wahai mahluk yang terlaknat. Aku telah mengetahui engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu wahai iblis ?”

Iblis berkata, “Aku datang bukan karena keinginanku sendiri ya Muhammad, tetapi karena terpaksa (diperintah) . Aku didatangi oleh malaikat dan ia berkata, “Sesungguhnya Allah swt menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad saw dalam keadaan hina. Engkau harus memberitahu bagaimana tipu muslihat, godaanmu, dan rekayasamu terhadap bani adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan kepadamu. Karena jika engkau berbohong, niscaya Allah akan menjadikanmu debu yang dihempas angin dan serta azab yang amat keras akan menimpamu hingga musuh-musuhmu senang.” “Wahai Muhammad tanyakanlah padaku apa yang engkau inginkan. Tiada beban yang lebih berat bagiku daripada leganya musuh-musuhku akan musibah yang menimpa aku.”

Rasulullah saw: Siapakah orang yang paling kamu benci ?
Iblis : “Engkaulah Muhammad yang paling kubenci dan orang-orang yang mengikutimu. ” Lalu anak muda yang bertaqwa, lalu orang yang alim dan wara’ (berhati-hati dalam hal syubhat), lalu orang-orang yang menjaga diri dalam keadaan suci (terjaga wudhunya), lalu orang miskin yang sabar dan tidak berkeluh kesah, lalu orang kaya yang bersyukur, yakni yang mengambil dan meletakkan hartanya pada tempat yang halal.
Rasulullah saw: “Bagaimana keadaanmu jika umatku mengerjakan shalat?” Continue reading Tipu Daya Iblis

Say YES to GAMBARU!


Barusan saya peroleh dari milis AIRPUTIH

Say YES to GAMBARU!
By Rouli Esther Pasaribu

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan.
Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu :
motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama) ,
motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi).

Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru.

Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya…berhenti aja.
Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : “doko made mo nintai shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan)

Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter “keras” dan “mengencangkan”. Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah “mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu”
(maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya.

Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri.

Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!).

Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it’s a must!

Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi….juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia.

Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain.

Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa “dimaafkan” jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan.

Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan.

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini?

Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV.
Jadi yang ada apaan dong?

Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :

  1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada
  2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)
  3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana
  4. Tips-tips menghadapi bencana alam
  5. Nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam
  6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah Continue reading Say YES to GAMBARU!

Jalani hidup dengan senyum


Repost on Bumi Prabu 2007-08-27

By Prabu

Kelemahan ataupun kekurang fisik dan phsikis seseorang tidak seharusnya membuat orang menjadi rendah diri. Pada hakekatnya setiap manusia pasti memiliki kekurangan disamping kelebihannya. Adakalanya seseorang terlalu mengeksploitir kelemahannya sehingga seakan-akan dunia telah kiamat bagi dirinya. Tidak nampak bahwa kelemahan tersebut adalah gabungan dari kelebihan yang dipunyainya yang membentuk dia menjadi manusia seutuhnya.

Semua orang cenderung untuk selalu hidup “normal”. Melakoni hari-harinya melalui jalan yang mulus tanpa hambatan sesuai dengan segala rencana yang telah disusunnya. Siapa sih orang yang nggak ingin dalam hidupnya menjadi orang yang cukup harta, dikaruniai keluarga yang menentramkan hatinya dan diakui dalam masyarakat sekelilingnya. Harapan-harapan tersebut selalu tumbuh dan seakan menjadi tujuan hidup yang harus terpenuhi. Keinginan untuk hidup seperti itu tentu saja wajar dan memang merupakan fitrah dari makhluk yang bernama manusia. Segala aktivitas hidupnya diharapkan berjalan normal dan hidup pas-pasan itulah pedomannya (maksudnya pas butuh, pas ada).

Namun tentu saja Tuhan telah membuat skenario atas hidup manusia di dunia. Manusia di karuniai tubuh, akal pikiran dan perasaan yang dengannyalah mereka mengarungi hidup sehari-hari sampai ajal menjemput. Dan lagi masing-masing mempunyai hal yang berbeda terhadap potensi yang dimilikinya. Juga jalan tidak selalu mulus, kadang berlubang dan sering pula terhalang kerikil-kerikil dan batu-batu yang berserakan di jalan yang dilalui. Demikianlah ibarat kehidupan ini, suka duka, canda tawa dan tangis haru, sengsara bahagia, miskin kaya, adalah bagian yang selalu hadir melengkapi kiprah hidup seseorang.

Fisik cacat, semangat tetap membara

Ibarat sekolah, untuk naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi, maka dilakukan ujian. Pada saat ujian inilah nasib murid ditentukan. Tetap di kelas tersebut karena tidak lulus ujian, atau melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi karena lulus. Dan penerimaan akan hasil ujianpun beraneka ragam. Bagi yang lulus, selebrasi kelulusan ada yang berlebihan, biasa saja dan ada pula yang cukup tersenyum dan mengucapkan Alhamdulillah. Bagi yang belum lulus, ada yang histeris, menangis, meratapi nasib bahkan ada yang masih bisa tersenyum seraya mengucapkan “Insya Allah tahun depan bisa lulus”.

Gambaran itulah merupakan ragam sikap manusia dalam menghadapi suatu kejadian yang menimpanya, baik berwujud kesenangan maupun saat datangnya musibah.

Di perumahan kampung, ada seorang warga yang cukup istimewa. Dia sering dipanggil Ustadz karena mengajar anak-anak ngaji, kegiatannya sebagai anggota DKM masjid, suara tilawahnya cukup baik sehingga sering dipanggil untuk membaca Al Qur’an pada berbagai acara keagamaan dan acara selamatan. Dalam kehidupan kemasyarakatan, dia menjadi warga perumahan cukup lama, memiliki sebuah rumah mungil yang dilengkapi dengan sebuah warung sebagai tambahan penghasilan, kadang menerima perbaikan barang-barang elektronik dan tentu saja mempunyai sebuah keluarga yang harmonis.

Apa yang istimewa pada dirinya ? Anak istrinya normal fisiknya, namun dia dikaruniai bentuk badan yang tidak normal. Badannya kecil, tangan dan kakinya cacat, bengkok kecil dengan jari-jari yang tidak normal sehingga untuk berjalanpun agak kesusahan. Tapi yang dia lakukan ? Meskipun agak susah, dia selalu rajin pergi ke masjid, sering memenuhi undangan pengajian bahkan kadang naik kendaraan (meskipun harus memperoleh bantuan orang lain untuk naik ke kendaraan). Dan satu hal yang membuat saya kagum adalah beliau selalu tersenyum setiap kali bertemu dengan orang lain. Dan mengungkapkan kegembiraan dengan bercanda ringan setiap perjumpaan. Dalam perjalanan hidupnya selalu dipenuhi dengan semangat dan kegiatan yang bermanfaat. Memang saya tidak tahu bagaimana masa kecilnya dan saat menjalani remaja hingga memutuskan untuk berumah tangga.

Namun yang jelas sikap dan pandangan hidupnya penuh optimis, nyaris tidak ada keluh kesah keluar dari bibirnya. Yang selalu hadir dari mulutnya adalah kata-kata bijak penuh makna dan kata-kata memuji kebesaran Allah.

Sungguh Indah.

Hikmah Ludesnya Harta

Ada lagi satu warga yang perlu diteladani. Dahulu dia adalah pengusaha kontraktor sukses. Levelnya sudah nasional karena proyeknya sudah menasional dan kapitalnya mencapai milyaran rupiah. Pegawainya ratusan dengan proyek yang tersebar dimana-mana berukuran sedang maupun besar. Rumahnya ada di beberapa lokasi serta tanah-tanah kosong hasil dia membeli untuk berinvestasi.

Kehidupan malam akibat gaya hidup yang “menyesuaikan” dengan gaya hidup para pebisnis besar untuk menjamu sang pemberi kontrak, mengejar kontrak dengan upaya apa saja, serta penghamburan uang dalam dunia malam serta “tipu daya wanita”, adalah bagian hidupnya yang tidak terlewat. Ibaratnya percaturan bisnis adalah identik dengan dunia hiburan dan dunia malam yang penuh maksiat, serta berakhir dengan KKN.

Hingga suatu kali dia terperosok dalam kontrak besar yang membuat dia rugi besar. Harta benda habis ludes untuk menutupi segala utang akibat proyek tersebut. Yang tertinggal hanyalah istri dan anak-anaknya serta rumah kontrakan kecil. Beruntung anak dan istrinya masih menerimanya setelah sekian lama dicuekin.

Dia belajar dari musibah itu. Penyesalan hanyalah di awal, tidak berlanjut dengan sesal yang berkepanjangan dan mabuk-mabukan sebagai pelampiasan. Selanjutnya adalah perbaikan sikap dan perilaku melalui kedekatan dengan Ilahi. Meskipun mulai merangkak dari bawah lagi, namun semua dijalani dengan sikap menyerahkan semuanya kepada Allah semata. Meskipun sedikit setiap kali dia memperoleh rejeki maka langsung dipotong untuk zakat. Hal tersebut tidak dia lakukan saat jayanya.

Demikianlah, sikap kita dalam menjalani hidup adalah saat bagaimana kita menyikapi segala sesuatu yang menimpa kita. Baik atau buruk menurut persepsi kita, namun keyakinan bahwa segalanya adalah atas kehendak Allah maka senyum dan keyakinan akan selalu menghiasi langkah kita disertai dengan upaya untuk senantiasa berbuat sesuai dengan jalan Allah.

Iman laksana pohon


Nabi Muhammad pernah memperkirakan bahwa suatu saat nanti umat Islam layaknya hidangan makanan yang menarik begitu banyak mminat orang sehingga menjadi bahan rebutan. Pada saat itu jumlah umat Islam bukannya sedikit, melainkan sudah banyak. Namun jumlah yang banyak tidak menjadikan mereka sebagai kekuatan untuk bereksistensi. Malah adakalanya justru menjadi sasaran untuk ”dipermainkan” dan menjadi sasaran yang lezat untuk diperebutkan oleh golongan lain, yang mungkin lebih sedikit jumlahnya.

Iman adalah permata termahal

Sinyalemen itu akan terbukti manakala umat Islam hanya laksana buih di lautan. Begitu banyak jumlahnya namun hanya terombang-ambing oleh kemana arah arus berjalan. Tidak ada pegangan untuk menentukan arah sendiri. Karena aqidah yang kuat telah tercerabut dari mayoritas umat.

Padahal kita tahu bahwa sesuatu yang termahal, paling mahal, pada kehidupan seorang muslim adalah Iman dengan aqidah yang kuat. Karena iman adalah syarat mutlak keselamatan seorang muslim di dunia dan akherat.

Berapa banyak tersebar di Al Qur’an yang mensinyalir makna tersebut. Betapa Allah telah menjanjikan keselamatan dunia akherat bila iman menjadi panglima seorang muslim. Betapa pertolongan Allah akan senantiasa hadir bila iman terpatri erat di dada setiap muslim. Betapa akan sangat rugi orang yang mengabaikan iman, yang mencampakkan iman dari qalbunya. Karena hanya dengan imanlah dapat tersambung hubungan yang indah antara khaliq dengan makhluk.

Demi masa.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al ’Ashr : 1-3).

Apakah tidak cukup sumpah Allah menyadarkan kita semua bahwa satu-satunya jalan hidup yang harus kita tempuh adalah tetap menggenggam dengan erat keimanan kita ? Dalam perniagaan semua orang pasti berpendapat sama untuk tidak mengalami kerugian. Lha ini perniagaan dengan Allah yang mempertaruhkan seluruh hidup kita di dunia bahkan mempertaruhkan kehidupan kekal selamanya nanti di akerat. Maukah kita merugi ?

Iman laksana Pohon

Pohon adalah sumber kehidupan manusia di muka bumi. Pohon adalah paru-paru bumi, yang memberikan udara untuk kita menghirup kehidupan. Memberikan kesegaran di kala panas terik. Dan memberikan manfaat untuk manusia dari semua bagian tubuhnya. Dari rimbun dedaunan, ranting dan dahannya, aroma wangi daun dan batangnya, sampai kepada akar yang menyusup sampai dalam ke dasar bumi.

Iman adalah laksana pohon. Iman yang kuat laksana pohon yang rimbun dengan dahannya yang menjulang menembus ke langit. Serta akar-akarnya menyebar kokoh menopang tubuh dari terpaan angin kuat. Akar-akarnya mencari dan menyerap sari pati tanah untuk menghidupi dan menyuburkan pohon.

Sebuah pohon akan terus hidup apabila akar terawat dengan baik. Akar menghidupi pohon. Bagaimana jadinya bila akar tercerabut dari pohon dan meninggalkan batang dan dedaunan ? Tentu saja pohon akan menjadi layu dan akhirnya mati.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik [786] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Dan perumpamaan kalimat yang buruk [787] seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. (QS Ibrahim : 24-26)

[786] Termasuk dalam kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala Ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. kalimat tauhid seperti laa ilaa ha illallaah.

[787] Termasuk dalam kalimat yang buruk ialah kalimat kufur, syirik, segala Perkataan yang tidak benar dan perbuatan yang tidak baik.

Prabu, 2007-11-09