All posts by Prabu

Ramayana [23]


sumantri_sl

Hingga pada suatu hari, sampailah Bambang Sumantri ke negri Maespati. Tanpa menunda waktu, dia kemudian langsung menuju ke istana raja dan berkehendak menghadap Sang Prabu Harjuna Sasrabahu. Setelah diperkenankan menghadap, maka dengan sikap tunduk menghormat menghadaplah Sumantri di duli Sang raja Maespati

“Heh bocah bagus kang nembe prapta. Aja sira nganggep ingsun tumambuh, awit katemben iki ingsun nyumurupi ing sira. Saka ngendi sira lan apa mungguh wigatine dene kumawani marak seba ana ing ngarsaku”

“Sinuwun, kula wingking saking pertapan Jatisarana, atmaja Sang Resi Swandagni, nami kula Bambang Sumantri. Sewu lepat dene kula kumawantun sumalonong sowan ing ngarsanipun ingkang sinuwun. Mugi wontena suka lilaning panggalih, waleh-waleh menapa, sotaning manah kula badhe suwita, ngenger-ngiyup ing ngandhaping pepada paduka sinuwun. Senajanta kadadosna pekathik pangariting suket – pangeroking kudha, sukur bage lamun kula katampi dados tamtamaning praja” kata-kata yang keluar dari Sumantri begitu teratur, runtut dan tertata serta sesuai dengan tata susila menunjukan sebagai seorang yang berpendidikan baik.

“Sumantri, purwa madya wasana wus mboya karempit aturira. Nanging kawruhana, para pamagangan kuwi kudu kawuningan luwih dhisik dening patih wasesaning praja yaiku Patih Surata. Borong kawicaksanan tak pasrahake marang sira, Patih Surata” kemudian Sang Prabu menyerahkan urusan kepada Patih Surata, yang kemudian segera menjelaskan kepada Sumantri

“Ngger Bambang Sumantri, awit saka keparenge gusti ratumu Prabu Harjunasasra. Aku kang tinanggenah ngrampungi perkara. Ala lamun mbalekake wong kang arsa suwita ing ratu lan tulus lahir batin duwe karep utama angayahi pakaryaning praja. Sumantri, wajibe kang arsa suwita ing ratu, sira datan kena minggrang-minggring nggonira angayahi wajib nyangkul jejibahan, sira kudu manut setya tuhu miturut sapakon. Sira aja angresula menawa kajibah ing pakaryan kang abot, sabab pangresula kuwi surasane amung lumuh ingaran luput. Sira uga aja tumindak cilik anduwa, gedhene andhaga marang titahing nalendra. Lamun sira tumindak kang mangkana, bakal gedhe pidananing ratu tumrap marang sira” Sareh Patih Surata amijangake.

“Nuwun inggih gusti Patih. Sedaya atur paduka Gusti Patih, samendhang mboten wonten ingkang karempit. Sampun kula tampi jangkep lan sedaya pangandika Paduka Gusti Patih kula pundhi” Continue reading Ramayana [23]

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (30)


1-wisanggeni-joned-rahadian

“nDara !”

“Nun !”

“Bosan ya nDara Janaka mendengarkan saya bicara dan bertanya sudah sekian buanyaknya”

“Ya enggak tho Gong, kan saya sudah janji untuk melayani setiap pertanyaanmu, walaupun adakalanya pertanyaanmu terkesan nakal tapi saya senang kok karena saya tahu siapa itu Bagong”

“Lho … memangnya Bagong tuh siapa nDara ?”

“Bagong ya Bagong, abdiku yang tercinta dan setia, menghiburku dikala duka, laksana pelita memberiku inspirasi dan solusi”

“Wah … kepalaku kok tiba-tiba mekar dan membesar ya nDara. Juga hidungku jadi tambah mekrok”

“Asal jangan sampai mledhos saja Gong !”

“He he he … nDara Janaka ndagel ki. Masak seorang Bagong yang seperti ini, menurut pandangan nDara Janaka memiliki kedudukan yang begitu istimewa”

“Lho … nggak percaya tho kamu ?”

“Nggih … pitados … Boleh saya ungkapkan sesuatu ndara ?”

“Boleh saja, apa itu Gong ?”

“Sebenarnya ada beberapa orang yang saya kagumi dan saya ngefans berat kepada mereka, selain tentu saja kepada ndara Janaka”

“Siapa itu Gong ?”

“Sebenarnyalah saya sangat kagum kepada nDara Bima, nDara Antasena sama ndara Wisanggeni”

“Hal apa yan membuatmu begitu tersepona ?”

“Terpesona nDara. Beliau bertiga itu sungguh, menurut saya lho ndara, sungguh satria sejati. Lugu, bicara blak blakan dan bertindak apa adanya, lurus tekad dan pikiran, dan tentu saja memiliki kedigdayaan yang luar biasa”

“Lha kok kamu malah ngefans sama mereka, nggak ngefans sama si Mlenuk Metutuk sinden istana yang gandes luwes kemayu dan merak ati itu. Atau ngefans sama si Arinoah penyanyi kotaraja itu.” Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (30)

Video KSMS “Wahyu Sekarjagat”


Wahyu Sekar Jagat

Berikut disharing pagelaran Wayang Kulit bersama dalang Ki Sigit Manggolo Seputro dari Yogyakarta dengan mengambil lakon “Wahyu Sekar Jagat”. Pagelaran ini dilakukan Parangtritis pada tanggal 10 Mei 2012.

Part-2:

Part-3:

Part-4:

Part-5:

Part-6:

Part-7:

Part-8:

Terima kasih kami sampaikan kepada KSMS atas sharingnya.

Video KSMS “Kresna Gugah”


KSMS Kresna Gugah

Berikut disharing pagelaran Wayang Kulit bersama dalang Ki Sigit Manggolo Seputro dari Yogyakarta dengan mengambil lakon “Kresna Gugah”. Pagelaran ini dilakukan di Dukuh Karangmojo pada tanggal 2 September 2012.

Part-1:

Part-2:

Part-3:

Part-4:

Part-5:

Part-6:

Terima kasih kami sampaikan kepada KSMS atas sharingnya.

Video KSMS “Parikesit Jumeneng Ratu”


KSMS Parikesit jumeneng ratu

Berikut disharing pagelaran Wayang Kulit bersama dalang Ki Sigit Manggolo Seputro dari Yogyakarta dengan mengambil lakon “Wahyu Jatidiri – Parikesit Jumeneng Ratu”. Pagelaran ini direkam oleh TVRI Jogja produksi tahun 2012.

Part-1:

Part-2:

Part-3:

Part-4:

Terima kasih kami sampaikan kepada KSMS atas sharingnya.

Ramayana [22]


Sumantri Sukrasana bingkai

Resi Suwandagni adalah brahmana di pertapaan Argasekar. Ia adalah putra kedua dari Resi Wisanggeni (dalam Serat Ramayana dikenal dengan nama Ricika). Adapun saudara sekandung Suwandagni adalah Jamadagni, bapak dari Ramaparasu. Resi Wisanggeni merupakan putra bungsu dari dua bersaudara putra Bagawan Dewatama, yang berarti adalah cucu Dewanggana, dan kalau diurutkan silsilahnya maka akan menuju kepada Bathara Surya.

Resi Suwandagni menikah dengan Dewi Darini, seorang hapsari keturunan bathara Sambujana, putra Sang Hyang Sambo. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra masing-masing bernama Bambang Sumantri dan Bambang Sukasarana atau Sukasrana. Sebutan Bambang adalah untuk menandakan sebagai putra seorang pendeta di gunung. Namun sungguh aneh, wujud mereka berdua bak bumi dan langit. Sumantri dikaruniai perawakan yang gagah tegap perkasa dan juga wajah yang sangat rupawan, sebaliknya Sukasrana bertubuh mungil, pendek dan memiliki banyak cacat tubuh serta berwujud raksasa (sering disebut sebagai buta bajang).

Namun perbedaan itu tidak mengurangi kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Resi Suwandagni sangat sayang kepada putra-putranya. Pendidikannya diarahkan kepada hal-hal yang bersifat kesantikan, kesaktian dan menanamkan rasa kebaktian kepada umat. Olah keprajuritan sangat diutamakan, sehingga kedua putranya sangat mendalami jiwa keprajuritan dan kepahlawanan. Sikap Sumantri kepada adiknya sebenarnyalah sangat menyayanginya, namun adakalanya muncul rasa malu pabila diketahui oleh orang lain tentang keadaan adiknya. Dan hal sebaliknya dimiliki Sukasarana, dia begitu mencintai kakaknya. Cinta kepada kakaknya tak tercela. Begitu ikhlash dirinya menyayangi kakaknya, bahkan melebihi sayangnya kepada diri sendiri. Kakaknya adalah segalanya bagi dirinya.

Hingga suatu hari, merasa dirinya sudah dewasa maka Sumantri ingin meluaskan pengalaman, mengamalkan ilmu yang dipelajari dan berniat untuk mengabdi kepada raja Maespati. Hal itu disampaikan kepada ayahnya dan memperoleh persetujuan. Mengetahui rencana kakaknya, Sukasarana pun minta persetujuan ayah dan kakaknya untuk ikut serta pergi ke Maespati. Namun tentu saja Sumantri merasa keberatan karena dianggapnya akan mengganggunya diperjalanan kelak. Dibujuknya sang adik untuk tinggal saja di pertapaan Argasekar untuk menemani ayah ibunya. Walau dengan berat hati, akhirnya Sukasarana mengiyakan namun sudah ditekadkan untuk mengikuti kakaknya secara sembunyi-sembunyi. Dalam benaknya terpikir, bagaimana hidupnya tanpa sang kakak berada di dekatnya atau minimal dapat melihat keadaan sang kakak walau secara tak berterang. Alangkah tersiksanya bila hanya bersendirian. Continue reading Ramayana [22]

Ramayana [21]


rama bargawa_solo

Dilihatnya ada bekas ranting yang patah seperti terkena anak panah, dan juga tampak bekas tapak kaki yang menunjukan pernah ada orang yang lewat di situ. Sekian lama pengalamannya berkelana, menajamkan instingnya bahwa sebentar lagi akan ditemuinya seorang satria. Dirunutnya bekas tapak yang meskipun mulai samar namun masih terlihat oleh mata tajam Ramaparasu.

Dan … akhirnya Sang Ramaparasu melihat sosok seseorang yang sedang menarik busur entah apa yang hendak dipanahnya. Orang itu menghadap berlawanan arah dengannya. Diperhatikan sejenak sosok itu. Sangat terlihat kalau ahli dalam hal olah memanah. Berpakaian sangat sederhana dengan badan yang tegap dan sikap yang tenang, perasaan Ramaparasu mengatakan bahwa orang itu bukanlah penduduk biasa. Boleh jadi dia termasuk golongan satria. Seketika … Ramaparasu melompat menghadang di depan orang itu dengan menampakan wajah bengisnya.

Terkaget orang itu yang tiada lain memang Prabu Harjuna Sasrabahu. Sang Prabu yang telah meninggalkan kerajaan beberapa bulan lamanya tanpa arah jelas dan jiwa yang kosong. Keadaan kedua orang itu tiada berbeda. Hati mereka tengah galau, jiwa lagi goyah, pikiran pekat melanda. Sebenarnyalah tujuan mereka tiada beda kini. Tujuan mereka adalah mencari manusia titisan Bathara Wisnu yang bakal mengakhiri penderitaan yang dialaminya. Dua orang yang satu harap, kini saling berhadapan !

<<< ooo >>>

Diceritakan, tersenyum dalam hati Sang Prabu takala langkahnya dihadang oleh seseorang yang memiliki perawakan yang seba sembada. Dalam hatinya tidak samar lagi bahwa telah bertemu dengan apa yang menjadi harapannya.
“Heh sapa sira kang wani ngadhang lakuku?! Iblis, menungsa apa wewujudaning Dewa?” demikian Sang Prabu berkata juga bertanya

Sang Rama Parasu tidak segera menjawab, hanya bibirnya tersenyum mengikuti senyum dan gembira suasana hatinya. Dan kini keduanya saling memandang dengan tersenyum di hutan di pagi hari itu yang mentaripun tengah menampakan senyumnya.

“Mesthine sira wujuding jalma manungsa, katitik sira ora ilang kenedhepake!” akhirnya Rama Parasu menjawab.

“Mesthine sira uga sabangsaning manungsa, katitik ana wewayanganmu kang cumithak ing bantala!” Sang Prabu balik menjawab tak mau kalah.

“ Bagus! Nyata lamun kita darbe pamawas kang ora geseh!”

“Ora luput pamuwusmu!”

“Yoh, kita rerembugan kaya dene patraping satriya, aja kaya patrape brahmana kang andum wewarah. Tumuli sajarwaa, sapa sejatine jeneng sira?” dengan suara tegas dan menggelegar Rama Bargawa berkata.

“Sapa jenengmu heh jalma wanan!? Kalamun tak umpamane ingsun iki pawongan kang mardhika, iki papan dunungku. Mula sira kang luwih dhisik sajarwa sapa aranmu, kaya kalumrah patrape tetamu teka ing papan panggonanku!” begitupun Sang Harjuna Sasrabahu membalasnya dengan mantab. Continue reading Ramayana [21]