All posts by pranowobudisulistyo

Mahabharata 41 – Perang di Hari Pertama


wu87-02-02-abimanyu-text2

Genderang ditabuh bertalu-talu, trompet tanduk dan kerang ditiup menderu-deru, suaranya memenuhi angkasa. Gajah-gajah melengking dan kuda-kuda meringkik. Para prajurit bersorak-sorai, suara mereka gemuruh memenuhi angkasa. Perang sudah dimulai!

Di hari pertama, di pihak Kaurawa, Duhsasana mendapat kehormatan untuk memimpin penyerbuan, sementara di pihak Pandawa kehormatan itu diberikan kepada Bhimasena. Gemuruh pertempuran hari itu bagaikan petir menyambar-nyambar. Dari kedua pihak, ratusan anak panah dilepaskan dari busurnya, melesat ke angkasa bagai bintang berekor. Para prajurit darat saling berhadapan: panah-memanah, lempar-melempar, pancung-memancung, saling menebas dengan pedang atau menusuk dengan tombak. Korban berjatuhan di mana-mana.

Kereta Bhisma tampak maju sendirian. Dari busur kesatria tua itu anak-anak panah berlesatan bagai semburan api, menyambar dan menewaskan banyak prajurit Pandawa. Melihat itu, Abhimanyu tak bisa menahan diri lagi. Bagaikan angin dipacunya keretanya ke arah Bhisma. Di kereta Abhimanyu terpancang panji-panji berlambang pohon karnikara warna kuning emas. Sambil membiarkan keretanya melaju, Abhimanyu melepaskan panah-panahnya, puluhan jumlahnya, susul-menyusul bagai rantai api, ke arah Bhisma. Kritawarma dan Salya mencoba menolong kesatria tua itu dengan menghadang kesatria muda AbhImanyu. Kritawarma tertusuk tombak Abhimanyu satu kali, Salya lima kali, dan Bhisma sembilan kali. Leher Durmuka, sais kereta Bhisma, ditembus panah Abhimanyu yang setajam pedang. Akibatnya, kepalanya terpenggal dan jatuh terguling-guling di tanah. Satu bidikan Abhimanyu tepat mengenai busur Mahaguru Kripa. Busur itu patah jadi dua. Continue reading Mahabharata 41 – Perang di Hari Pertama

Mahabharat 40 – Saat-Saat Sebelum Perang


OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Hampir semua orang sudah siap berperang. Kedua belah pihak telah berkumpul di kubu masing-masing. Demi kehormatan dan kemuliaan perang kaum kesatria, mereka bertekad untuk memegang teguh aturan-aturan perang dalam melancarkan serangan dan gempuran terhadap lawan.

Perang di jaman itu dibatasi dengan aturan-aturan yang berbeda dengan aturan di jaman-jaman yang kemudian.

  • Menjelang matahari terbenam, perang harus dihentikan dan masing-masing pihak kembali ke kubu pertahanan untuk beristirahat. Sering terjadi, pihak-pihak yang bermusuhan berkumpul dan bergaul bebas dalam suasana persaudaraan selama matahari berada dalam peraduannya. Mereka melupakan segala peristiwa yang terjadi siang harinya. Tidak seorang pun dibenarkan mengangkat senjata atau mengepalkan tinju di malam hari .
  •  Pertarungan satu lawan satu hanya boleh dilakukan di antara dua pihak yang setara. Tidak seorang pun boleh berbuat sesuka hati di luar aturan-aturan dan norma-norma yang telah ditetapkan dalam dharma. Yang mundur atau yang terjatuh, apalagi yang menyerah, tidak boleh diserang atau dipukul lagi.
  • Seorang prajurit berkuda hanya boleh diserang oleh seorang prajurit berkuda; demikian pula prajurit berkereta dan penunggang gajah. Prajurit yang berjalan kaki hanya boleh diserang oleh lawan yang seimbang.
  •  Tidak seorang pun boleh membela kawan atau menyerang lawan yang sedang bertarung satu lawan satu.
  • Orang yang tak bersenjata tidak boleh diserang dengan senjata. Jadi, orang-orang dari kelompok bukan prajurit, misalnya pemukul genderang, peniup trompet dan barisan penolong korban perang, tidak boleh diserang.
  • Mereka yang lari menyerah ke pihak lawan tidak boleh dianiaya atau dibunuh.

Continue reading Mahabharat 40 – Saat-Saat Sebelum Perang

Mahabharata 39 – Pelantikan Mahasenapati


drestajumena_solo

Sekembalinya Krishna alias Gowinda ke Upaplawya, ia segera menemui Pandawa dan menyampaikan laporan kepada Yudhistira. Ia laporkan pertemuannya dengan tokoh-tokoh penting di Hastinapura dan pertemuannya dengan Dewi Kunti, ibu Pandawa.

“Kini tidak ada lagi harapan untuk berdamai. Duryodhana bersikeras, tetap ingin berperang melawan kita. Sekarang kita harus bersiap-siap untuk menghadapi perang besar di padang Kurukshetra!”  demikian Krishna mengakhiri laporannya.

Setelah mendengarkan laporan Krishna, Yudhistira mengajak saudara-saudaranya berunding. Mereka membagi pasukan perang Pandawa menjadi tujuh kelompok, masing-masing dipimpin seorang senapati, yaitu Drupada, Wirata, Dhristadyumna, Srikandi, Satyaki, Chekidana dan Bhimasena. Setelah itu mereka merundingkan, siapa yang pantas dipilih menjadi Senapati Agung.

Yudhistira berkata, “Kita harus memilih dan melantik satu dari tujuh panglima ini menjadi Mahasenapati atau Senapati Agung yang mampu menghadapi Bhisma dan sanggup memusnahkan musuh kita. Ia juga harus pandai memimpin balatentara kita, setiap saat dan dalam segala keadaan. Menurut kalian, siapakah yang paling pantas memikul tanggung jawab seberat itu?” kata Yudhistira sambil berpaling pada Sahadewa.

Sahadewa menanggapi, “Sebaiknya kita lantik Wirata menjadi Senapati Agung kita. Dialah yang menolong kita selama kita hidup dalam penyamaran dan berkat bantuannya hati kita tergugah untuk merebut kembali kerajaan kita.” Continue reading Mahabharata 39 – Pelantikan Mahasenapati

Mahabharata 38 – Yang Berpihak, Yang Bertentangan, dan Yang Berdamai


Balarama

Sepeninggal Krishna, Dewi Kunti merasa sangat sedih memikirkan anak-anaknya. Ia ngeri membayangkan peperangan yang akan terjadi, yang tak mungkin dielakkan lagi. Hatinya bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin aku bisa menyatakan isi hatiku kepada anak-anakku? ‘Pikullah segala penghinaan. Sebaiknya kita tidak usah meminta pembagian kerajaan dan hindari peperangan?’

“Bagaimana mungkin anak-anakku bisa menerima pikiranku yang bertentangan dengan tradisi kesatria? Tetapi sebaliknya, apa yang akan diperoleh dari saling membunuh dalam peperangan? Dan kebahagiaan seperti apa yang akan dicapai setelah musnahnya bangsa ini? Bagaimana aku harus menghadapi ini?”

Berbagai pertanyaan timbul di hati Dewi Kunti, pertanyaan tentang peperangan, kemusnahan total dan kehormatan kesatria.

“Bagaimana anak-anakku bisa mengalahkan bersatunya tiga kekuatan kesatria Bhisma, Drona dan Karna? Mereka adalah senapati-senapati perang yang belum pernah terkalahkan.

“Bila kubayangkan semua ini, hatiku terasa pedih. Aku tidak mengkhawatirkan kekuatan yang lain; hanya ketiga kesatria itu yang sanggup membuat Kaurawa menang melawan Pandawa.

“Dari ketiga kesatria itu, mungkin Mahaguru Drona tidak akan membunuh anak-anakku, bekas murid-muridnya yang dikasihinya. Kakek Bhisma tentu tidak akan sampai hati membunuh Pandawa. Tetapi, Karna adalah musuh bebuyutan Pandawa. Ia sangat ingin menyenangkan hati Duryodhana dengan membunuh anak-anakku.

“Karna sungguh tangkas berolah senjata perang, senjata apa pun. Bila kubayangkan Karna bertempur melawan anak-anakku, hatiku pedih sekali. Sepertinya sudah waktunya aku menemui Karna dan mengatakan kepadanya siapa sebenarnya dia. Kuharap, setelah tahu asal usulnya ia mau meninggalkan Duryodhana.” Continue reading Mahabharata 38 – Yang Berpihak, Yang Bertentangan, dan Yang Berdamai

Mahabharata 37 – Krishna dalam Wujud Wiswarupa


vishnu-vishwarupa

Sejak Sanjaya berangkat menuju perkemahan Pandawa di Upaplawya, Dritarastra gelisah dan cemas menantikan berita yang akan dibawa kembali oleh utusannya. Siang tak enak makan, malam tak enak tidur. Ia memanggil Widura untuk menemaninya bercakap-cakap.

Widura berkata, “Yang terbaik dan paling aman adalah mengembalikan wilayah kerajaan Pandawa seperti semula. Hanya itu yang akan membawa kebaikan dan keabadian bagi kedua belah pihak. Perlakukan Pandawa dan putra-putramu dengan kasih sayang yang sama. Dalam hal ini, cara yang benar adalah penyelesaian yang bijaksana.”

Demikianlah Widura mencoba menghibur dan memberi jalan kepada Dritarastra yang buta agar raja itu dapat bertindak tepat terhadap anak-anaknya dan kemenakannya.

Esok harinya Sanjaya telah kembali ke Hastinapura. Ia memberikan laporan panjang lebar. Sebelum menutup laporannya, ia berkata, “Yang terpenting, Duryodhana harus tahu apa yang dikatakan oleh Arjuna, yaitu:

“… Krishna dan aku akan hancurkan Duryodhana dan seluruh pengikutnya. Jangan kalian keliru tentang ini. Panah Gandiwaku sudah tidak sabar untuk dibawa bertempur. Busur panahku bergetar biarpun tidak kubidikkan. Di dalam sarungnya, anak panahku bergemerincing beradu, minta segera dilepaskan dari tali busurnya untuk menembus dada Duryodhana yang serakah dan nekat menantang aku dan Krishna. Ingat, dewa-dewa pun takkan bisa mengalahkan kami.’ Continue reading Mahabharata 37 – Krishna dalam Wujud Wiswarupa

Mahabharata 36 – Usaha Mencari Jalan Damai


bisma

Pada waktu Pendita Negeri Matsya berangkat ke Hastinapura membawa pesan perdamaian, perkemahan Pandawa di Upaplawya didatangi raja-raja yang ingin bergabung dengan mereka. Para raja itu membawa balatentara masing-masing, lengkap dengan persenjataan mereka. Keseluruhan bala tentara Pandawa berjumlah tujuh divisi, sedangkan balatentara Kaurawa berjumlah sebelas divisi. Adapun kekuatan satu divisi pada jaman itu kira-kira terdiri dari 21.870 kereta, 21.870 gajah, 65.500 kuda dan 109.350 prajurit darat yang dilengkapi dengan berbagai senjata perang.

Pendita utusan Raja Drupada tiba di istana Dritarastra dan sesuai tradisi ia diterima dengan upacara kehormatan. Setelah memperkenalkan diri, Pendita Negeri Matsya berbicara atas nama Pandawa, “Hukum bersifat abadi dan memiliki kewenangan tersendiri. Tuan-Tuan semua tahu akan hal ini. Karena itu, aku tidak perlu menjelaskan lagi.

“Dritarastra dan Pandu adalah putra Wicitrawirya. Menurut tradisi, keduanya berhak mewarisi harta peninggalan ayah mereka. Berlawanan dengan kelaziman ini, putra-putra Dritarastra menyatakan bahwa seluruh kerajaan Hastina adalah hak mereka. Putra-putra Pandu dinyatakan tidak memiliki warisan apa-apa. Menurut hukum dan undang-undang yang berlaku, hal ini tidak adil.

“Wahai keturunan bangsa Kuru yang saya muliakan, Pandawa menginginkan perdamaian. Mereka bersedia melupakan semua penderitaan yang mereka alami di pengasingan. Mereka tidak menghendaki peperangan, sebab mereka sadar peperangan tidak akan membawa kebaikan, hanya kemusnahan. Karena itu, berikanlah apa yang patut mereka miliki berdasarkan hukum dan undang-undang, sesuai dengan keadilan dan persetujuan yang telah disepakati. Hendaknya jangan Tuan-Tuan menundanya lagi.” Continue reading Mahabharata 36 – Usaha Mencari Jalan Damai

Mahabharata 35 – Duryodhana Menjebak Raja Salya


Duryodhana_pleads_with_Shalya_to_become_Karna's_charioteer

Salya, Raja Negeri Madradesa, adalah saudara Dewi Madri, ibu Nakula dan Sahadewa. Ia mendengar berita bahwa Pandawa berkemah di Upaplawya dan sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perang besar yang akan datang. Salya lalu mempersiapkan balatentaranya dalam jumlah amat besar dan mengirim mereka ke tempat berkumpulnya pasukan perang Pandawa. Konon, karena begitu banyaknya jumlah balatentara Salya, untuk beristirahat mereka membutuhkan areal yang luasnya 20 kilometer persegi.

Berita keberangkatan Salya bersama balatentaranya sampai ke telinga Duryodhana. Ia memerintahkan sejumlah perwiranya untuk menyambut Salya dan membujuknya agar mau bergabung dengan pasukan Kaurawa. Ia memerintahkan pasukannya untuk membangun berates-ratus balai peristirahatan di sepanjang jalan yang akan dilalui balatentara Salya. Balai peristirahatan itu dihias serba indah. Waktu beristirahat, balatentara Salya akan dijamu dengan aneka macam makanan dan minuman yang berlimpah dan dihibur dengan berbagai pertunjukan kesenian yang memikat.

Seluruh balatentara Salya senang dan puas menerima sambutan Duryodhana. Salya berkata kepada salah seorang perwira tinggi pasukan Duryodhana, “Aku ingin memberi hadiah kepadamu dan kepada mereka yang telah menyambut kami dengan ramah, terutama anak buahmu.

Sampaikan kepada Duryodhana bahwa aku sangat berterima kasih kepadanya.”

Perwira itu lalu menyampaikan pesan Salya kepada Duryodhana. Mendengar itu, Duryodhana yang memang menunggu-nunggu saat paling baik untuk menemui Salya, segera berangkat menemui Raja Negeri Madradesa itu. Di hadapan Salya, ia menyatakan betapa besarnya kehormatan yang diperolehnya karena Raja Salya merasa senang oleh sambutan pasukan Duryodhana. Tutur kata Duryodhana yang ramah benar-benar menyenangkan hati Salya yang sama sekali tidak punya prasangka apa pun. Ia mengira semua itu merupakan ungkapan ketulusan pihak Kaurawa. “Alangkah hormat dan baik hatinya engkau kepada kami,” kata Salya yang terbuai oleh sambutan luar biasa dan keramahan pasukan Duryodhana. Continue reading Mahabharata 35 – Duryodhana Menjebak Raja Salya