All posts by Mas Patikraja

A Happy Man with a happy family. Dad of a pairs of mature children, and one more girl in law; "yatim-piatu" foster child. One wife of course. Was born in a serenity country, Patikraja. And now live in an urban hectic city, named Bekasi.

SEKAR MACAPAT SERAT RAMA – Yasadipura 1


Perang Besar Alengka dan Pancawati

Perang Besar Alengka dan Pancawati

Yang akan menjadi menu utama pada posting berikut adalah sebuah karya tulis sastra-bertutur, yang berujud tembang atau dalam bahasa Jawa-nya disebut sekar, Babad Ramawijaya. Penulis kisah sastra tembang ini adalah Kangjeng Sinuhun Yasadipura 1.

Aslinya penulisan ini adalah dalam huruf jawa dan sewaktu kecil penulis pernah melihat kitab ini sebab ayah kami adalah koleksi buku-buku sastra. Namun sangat disayangkan, pada kepindhahan kami sekeluarga yang terakhir kami tinggali di Purwokerto, sejumlah buku koleksi dimakan rayap. Maklum, karena tanah yang dibangun rumah di Purwokerto adalah bekas kebun bambu.

Bahagianya, kami mendapatkan kembali salah satu koleksi buku sastra yang tak ternilai harganya dalam bentuk e-book di sastra.org. Dari sinilah kemudian kami berpikir, bagaimana agar kisah heroic kepahlawanan dari epos Ramayana tidak terhenti sebagai buku bacaan. Alangkah lebih bermakna dan lestarinya, bila cerita ini dibagikan dalam bentuk tembang macapat sebagaimana diharapkan tentunya oleh penciptanya, agar karya ini bisa dinikmati utuh, dibaca dan ditembangkan serta diresapi sebagai karya seni luhur kagunan Jawa.

Mulailah kami berguru kepada beliau salah seorang pakar sastra Jawa, dan disinilah hasil akhir nyantrik. Matur nuwun kaatur dhimas Satrio Wibowo. Hasil nyantrik anyaran ini dituangkan dalam bentuk audio digital, dan kami namakan karya sastra tulis Sinuwun Yasadipura 1 ini kami ujudkan sebagai Audio-Book.

Tentu masih banyak kekurangan dari Audio-Book ini yang dimaklumi, bahwa kami sebagai penembang bukan seorang wiraswara. Bahkan jauh dari julukan itu. Namun yang kami sajikan adalah sebuah tuladha atau contoh dari sejumlah sekar utama macapat yang berjumlah sebelas pupuh. Harapan terbesar dalam menyajikan ini adalah agar generasi mendatang mengenal pupuh-pupuh sekar macapat yang sangat amat sedikit diketahui oleh bangsa Jawa sekarang ini.

(Kepenginnya saya menyewa seorang wiraswara ulung untuk menembangkan pupuh-pupuh tembang ini, tapi apa daya…….)

***

Sebaiknya kami uraikan sepengetahuan kami yang serba sedikit mengenai apa itu sekar macapat. Pertama, bahwa secara filosofis, kesebelas macam tembang, adalah secara berurutan menggambarkan bagaimana tahapan sesosok manusia dari lahir hingga meninggal dunia. Secara berurutan, judul tembang itu adalah; Maskumambang, Mijil, Kinanthi, Sinom, Asmarandana, Gambuh, Dandanggula, Durma, Pangkur dan Megatruh.

  1. Maskumambang menggambarkan bagaimana sesosok manusia yang masih mengambang dalam kandungan ibunya. Sosok manusia ini pada jamannya masih belum bisa digatra wujudnya, apakah ia lelaki atau wanita. Walau demikian, berharganya janin ini digambarkan sebegitu berharganya dimata orang tuanya yang digambarkan sebagai emas yang masih mengambang.
  2. Menggambarkan lahir atau keluarnya si jabang bayi dari kandungan ibunya. Dalam bahasa Jawa, mijil artinya keluar.
  3. Dalam bahasa Jawa, kinanthi adalah disertai dalam arti dibimbing. Gambaran ini adalah ketika anak manusia dibimbing dari bayi hingga ia mampu mandiri.
  4. Gambaran dari tahapan ketika manusia sudah ada dalam tahap kemudaan adalah sekar Sinom. Dalam kata lain ialah enom atau muda
  5. Asmarandana. Kalimat lainnya adalah asmaradhahana. Kobar gelegak dari asmara pada tahap kemudaan seorang manusia.
  6. Gambuh, dikaitkan dengan kata jumbuh atau cocok. Kecocokan jodoh antara pria dan wanita sehingga ia masuk dalam tahapan status pernikahan.
  7. Dhandhanggula atau mungkin Dandanggula lebih sreg saya mengatakannya adalah menggambarkan saat tahapan termanis dalam hidup, dimana ia menikmati kehidupan berkeluarga, dan mendapatkan puncak kesentausaan dalam hidup.
  8. Durma bisa dikatakan otak atik dari kalimat derma. Tahapan ini manusia dalam puncak kematangan psikis. Ia sudah mulai kenyang dengan pengalaman hidup dan sudah mulai juga tertata dalam materi. Saatnya ia bisa menolong sesamanya.
  9. Pangkur dihubungkan dalam kata pungkur atau lebih dalam lagi adalah mungkur atau menyingkiri hal-hal keduniawian.
  10. Megatruh, dari asal kata megat dan ruh. Gambaran dari kematian seorang manusia. Pegatnya ruh dari badan wadag

Pada kenyataannya, sebuah buku berisikan bait-bait macapat tidak selalu diawali dari Maskumambang dan diakhiri tembang Megatruh.

Kedua; konsep penyajian macapat memiliki pengertian, bahwa dalam penyajian tembang adalah; kejelasan makna syair lagu lebih diutamakan daripada keindahan lagunya.  Kata lain, bahwa dalam konteks waosan, tembang macapat disajikan dengan  lagu yang sangat sederhana, tidak banyak memasukkan luk atau cengkok, wilêt atau keselarasan, dan grêgêl atau improvisasi. Tetapi pada saat tembang macapat  disajikan bukan dalam konteks waosan atau bacaan, terdapat kelonggaran-kelonggaran, terutama dalam garap musikalnya.

Tembang macapat mempunyai aturan-aturan seperti ditentukan jumlah pada lingsa (jumlah baris), diatur jatuhnya dong ding (vocal atau huruf hidup pada akhir baris), serta jumlah suku kata yang tidak sama pada setiap barisnya. Aturan-aturan yang disebut di depan kemudian dikenal dengan istilah guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan.

Baiklah, sambil jalan, nanti kami perjelas aturan main dari kidungan Macapat. Tidak berpanjang penjelasan, mari kita nikmati langsung kidungan tembang Macapat dalam kisah Kepahlawanan dari Sang Ramawijaya.

SILAKAN KUNJUNGI SERI AUDIO BOOK YANG DIMULAI DARI SERI 1 DISINI

Ki Hadi Sugito : DANAWILAPA


Kembali kami persembahkan sajian audio untuk penggemar Ki Hadi Sugito. Sajian yang kami post menjelang hari-hari mudik lebaran ini kiranya dapat menemani saat berkendara menuju kampung halaman masing masing. Atau bagi yang tinggal di perantauan semoga dapat menjadi teman dikala kesepian.

Lakon dengan judul Danawilapa ini digarap dengan ketelitian audio yang tinggi pada saat rekaman. Mudah-mudahan dapat memenuhi selera dari sisi karawitan dan tentu humor segar dari beliau yang tak pernah kering.

Selaku pribadi dan admin wayangprabu.com. kami mengucap SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1433 H. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Link unduh ada diSINI

Ki Wisnu Hadi Sugito : SEMAR MANTU


Ini adalah lakon versi lain dari cerita yang pernah diunggah sebelumnya dengan dalang dan lakon yang berbeda.

Yang dimaksud, lakon ini adalah judul lain dari lakon Wahyu Kembang Sepasang, yang pernah diunggah waktu lalu dengan dalang Ki Kuat Hadi Sasmono. Kali ini Ki Wisnu Hadi Sugito menyajikan alur lakon Wahyu Kembang Sepasang dengan nama Semar Mantu.

Lain penyaji, pasti lain rasanya. Perbedaan disana sini dalam hal nama tokoh, nama negara tentu juga alur cerita memang tidak terelakkan. Yang pasti bahwa gaya pakeliran dari dua dalang yang berbeda menghasilkan nuansa panggung yang berbeda pula, walaupun lakonnya sebagian besar adalah mirip.

Audio share dari Mas Budi Susilo ini dapat diunduh DIMARI

Ki Timbul Hadi Prayitno : SEMAR MBABAR JATIDIRI


Ini kali kesekian, Pak Sugiran Aulia membagikan pagelaran audio wayang purwa. Kali ini beliau memberikan ke saya satu set kaset berisi 8 seri pagelaran dari Ki Timbul Hadi Prayitno. Kaset seperti ini tidak ditemukan di pasaran umum, karena ini adalah pagelaran yang diselenggarakan oleh DPP Partai Golkar pada Sabtu Pon 3 Juni 1995. Menurut yang tercatat, bahwa pagelaran ini adalah dalam rangka mempringati harlah Pancasila dan menyongsong Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 50.

Karena pagelaran ini ditanggap oleh partai politik, lakon yang sejatinya merupakan babon cerita pakem, oleh Ki Timbul dimodifikasi sedemikian rupa sehingga intinya merupakan jlentreh Kyai Semar terhadap bunyi Pancasila. Wejangan ini disampaikan Ki Badranaya terhadap cucu-cucu Pandhawa, ketika Negara Yawastina dirundung perpecahan karena tindakan musuh yang melakukan adu domba.

Kaset lama ini sudah agak “owah”. Namun demikian Pagelaran Ki Timbul yang mengusung gaya tersendiri yang agak sulit ditemui di pagelaran lain dapat dikatakan masih lumayan baik.

Ki Timbul pada pagelaran ini mamainkan adegan Limbukan dan Budhalan, yang sebenarnya jarang dilakukan dalam pagelaran gagrak Mataraman. Ini mungkin dilakukan oleh ki Timbul untuk mewadahi keinginan para hadirin kader partai yang tentunya berasal dari berbagai kalangan. Namun didalam cerita budalan ini, beliau mengatakan bahwa dalam gagrak Mataram di pasinaonan juga mengajarkan hal tersebut.

Silakan bagi yang berminat untuk klik DISINI

Ki Kuat Hadi Sasmono : WAHYU KEMBANG SEPASANG


Lagi Mas Sugiran Aulia kembali misungsung Wayang Purwa gagrak Mataraman. Kepiawaiannya melobi banyak radio siaran di tlatah Gunung Kidul telah membawa Mas Sugiran ini mendapatkan banyak oleh-oleh banyak dari sana. Kali ini yang dishare oleh beliau adalah persembahan dari Ki Kuat Hadi Sasmono.

Cerita yang digelar oleh dalang dengan tarif Rp 5.5 hingga 6 juta net tanpa Bintang tamu (ketika pagelaran ini dibuat dan main lokalan Gunung Kidul) ini adalah satu dari sekian banyak lakon wahyu yang sangat banyak bertebaran diantara lakon carangan bukan wahyu yang lain. Bahkan lakon wahyu ini banyak yang “berkhasiat”  sama. Yang dibawakan oleh Ki Kuat Hadi Sasmono kebetulan adalah wahyu yang” khasiat”nyasama dengan yang baru saja dipost kemarin, yaitu wahyu Mustikajati, yang memberikan aura ketentreman.

Lakon Wahyu Kembang Sepasang ini kami tujukan untuk utamanya yang menggemari pepanggungan dengan gaya masa kini. Silakan di klik DISINI.

Ki Hadi Sugiran : WAHYU MUSTIKAJATI


           Bethari Durga (Yogya) koleksi Pak Alexz Lugiman

Setunggal malih koleksinipun Pak Sugiran Aulia ingkang kaunggah lan samangke dipun aturaken dhumateng sedaya sutresna ringgit purwa mliginipun gagrak Mataraman.

Ing pagelaran lampahan Wahyu Mustikajati utawi ugi kasebat Wahyu Ekajati, Ki Hadi Sugiran manggungaken kanthi gaya Mataraman kotemporer. Ing kalih plot adegan, inggih punika Limbukan lan Gara-gara, panjenengan sutresna campur sari lan ndangdutan kauja dening Ki Dhalang.

Mangga ingkang kersa ngundhuh file audio pagelaran Live, kula aturi klik ing MRIKI

Ki Hadi Sugito : KARNA TANDHING


Wonten  kadang kita sutresnaning Ki Hadi Sugito ingkang nyaruwe, kados pundi menawi unggahan Karna Tandhing ingkang sampun nate kapacak, nanging kirang serinipun saged dipun unggah malih kanthi jangkep.

Keleresan menika wonten ingkang taksih nyediaaken bahan audio sasampunipun bludhas bludhus ing wekdal kalawingi menika, lan saged pikantuk seri ingkang jangkep. Unggahan menika ugi kasengkuyung dening kadang kita, senajan sanes saking “mataram”, nanging piyambakipin ugi sengsem dhumateng sedaya gagrak. Sedherek kita menika ugi ndhrek udhu klungsu nyengkuyung prabeya, lan menika inggih salah satunggaling wujud nyata tresnanipun kaliyan budaya ringgit purwa.

Para rawuh ing “wayangprabu”, panjenengan ingkang sudi ngundhuh kula aturi mampir winten ing MRIKI