PANCAWISAYA


 

PANAKAWAN 2

“Kakang Semar, berilah ndaramu ini ujaran-ujaran nan bijak agar tentram hati ini”

Arjuna memulai perbincangan dengan para panakwan di hutan itu sesaat setelah dia menemukan tempat yang pas untuk melakukan tapa brata.

“Eeeee … mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng . Saya memahami bagaimana sedih dan pedihnya ibunda nDara, Dewi Kunti, mengingat akan nasib anaknya nDara Werkudara. Orang tua mana sih yang tidak sayang kepada anak-anaknya ? Bahkan pabila sang anak sudah dewasa-pun kasihnya tiada akan pernah berkurang, apatah lagi luntur. Apalagi, nDara Kunti adalah ibu nDara Werkudara yang telah melahirkannya di dunia ini, maka kasih sayangnya tentu tak terbantahkan”

“Itulah kakang, hal yang menyebabkan aku sampai kesini”

“Nggih nDara, saya hanya ingin sedikit memberi sesuatu yang mungkin dapat ndara resapi, pahami dan kemudian dapat dijadikan sebagai pegangan dalam menjalani hidup di dunia ini. Orang bijak menyebutnya sebagai Pancawisaya”

“Aku ngerti Mo, apa artinya itu !” tiba-tiba Bagong memotong pembicaraan Ramanya dan ngacung tanpa diminta

“Apa yang engkau mengerti Thole, bocah bagus anakku Bagong ?” jawab Semar dengan penuh kesabaran

“Panca itu bilangan lima, wi itu dari kata wibi berarti ibu dan saya dari kata sayak, celana. Jadi maknanya adalah celananya ibu ada lima” serius Bagong menjelaskan ini bak guru sastra menjelaskan kepada murid-muridnya

“Hush … Bagong kuwi jian ngawur !” Petruk mencela penjelasan adiknya itu, kemudian melanjutkannya

“Kalau nggak ngerti itu mendingan diam atau bertanya kepada yang ngerti. Jangan asal njeplak saja, tho Gong !”

“Lha Kang Petruk apa tahu artinya itu ?” tanya Bagong lugu

“Lho … siapa yang tak kenal Petruk di dunia ini, kecuali dirimu seorang ?” seperti biasa Petruk membanggakan diri dengan membusungkan dada kerempengnya yang seperti piano

“Terus artinya apa Kang ?” “Panca itu memang benar artinya bilangan lima, wi itu berasal dari kata wibrama yang berarti bingung atau rasa marah dan saya itu ya saya, aku” jawab Petruk menggunakan aji pengawuran

“Jadi artinya apa Kang ?”

“Ya gabung sendiri ajah !”

“Punya adik-adik kok pada ngawur semua. Sudah … kita dengerin saja apa yang Ramane Semar akan sampaikan !” Gareng menengahi dengan bijaknya (tumben … biasanya juga ikut ngawur … he he he)

“He he he … anak-anakku semua mulai bicara. Rama senang sebab kalau kalian tidak mengeluarkan suara, dunia rasanya sunyi sepi. Meskipun ngawur … tapi apa yang kalian sampaikan itu ada kalanya memberi inspirasi bagi Rama untuk terus berfikir. Kali ini cukup dengarkan ya … apa yang akan Rama jelaskan kepada nDraamu Permadi !”

Kemudian Semar melanjutkan kata-katanya

“Begini nDara dan anak-anakku Gareng, Petruk dan kamu Bagong. Seperti kata Bagong tadi, Panca itu lima, wisaya bisa bermakna piranti, upaya pencarian, karêp bisa juga penghalang. Jadi landasan untuk melakukan brata itu harus mengerti terhadap penghalang yang menjerat lima perkara dan sekaligus menyiapkan piranti untuk menanggulanginya. Apa saja yang lima itu ? Pertama Rogarda yang berasal dari kata roga yang artinya sakit dan arda yang berarti hawa nêpsu, bangêt atau sangat, sehingga Rogarda adalah sakit yang menimpa tubuh. Kalau ditimpa sakit, berusahalah bersungguh-sungguh untuk mencari obat penyembuh, namun segalanya harus diterima dengan rela hati. Hindari prasangka buruk terhadap Gusti Allah yang telah menimpakan sakit karena tidak sayang kepada hambanya. Yakinkanlah dalam hati bahwa yang kita terima adalah wujud kasih sayangNya semata.”

“Kalau menurutku, penjelasan rama itu kurang lengkap !” sanggah Bagong

“Kurang apanya, Thole ?”

“Kurang sambel, Mo he he he. Begini, nDara. Disamping menerima dengan ikhlas sakit yang diterima, kemudian mencari obat untuk menyembuhkannya, ada satu hal penting yang kadang terlupakan yaitu pelajari secara ilmiah mengapa hal itu bisa terjadi terhadap kita. Mengapa Kang Petruk punya wudun, alias bisul yang matanya saja sebesar kelereng ? Karena Kang Petruk jorok ! Nggak pernah bersih-bersih badan setelah maen kemana-mana. Kotoran yang melekat dan kemudian masuk dalam tubuh kita, bisa jadi adalah sumber penyakit semisal virus atau bakteri. Sumber penyakit itu dihadang oleh prajurit-prajurit tubuh berupa darah putih sehingga terjadi pertempuran hebat. Sebagian pasukan tubuh kita tewas menjadi kusuma bangsa tubuh. Banyak mayat yang tewas dalam tugas suci itu kemudian dimakamkan di liang lahat berupa wudun itu”

Petruk yang menjadi sasaran Bagong dengan sewot menjawab

“Kalau mencari contoh itu mbok ya jangan membuka aibku tho, Gong. Sungguh gamblang apa yang engkau jelaskan tadi, tapi mbok iyao jangan sebut wudun kakangmu ini. Sebagai adik yang baik harusnya kamu membantu mem-plothot-kannya. Sudah lumayan mateng, lho”

“Dimana sih Kang ?”

“Di bokongku mburi, Gong !”

“Ra sudi aku !”

Gareng ikut nimbrung

“Lha mbok kalau ngomong itu sedikit intelek gitu tho. Masak dari sikap Rogarda kok larinya ke wudun !” ujar Gareng sengit

“He he he .. sudah ya Rama lanjutkan” tersenyum arif Semar seraya melanjutkan

“Yang kedua adalah Sangsararda berasal dari kata sangsara sehingga berarti sengsara yang menimpa tubuh. Kalau ditimpa kesengsaraan, berusahalah menahan dan berbesar hati. Yang ketiga Wirangharda, artinya wirang, malu, sakit yang menimpa hati. Kalau ditimpa sakit hati, berusahalah tata, titi, kokoh pendirian serta berhati-hati.”

“Kalau patah hati itu, apakah termasuk juga wirangharda, Mo ?” Tanya Bagong

“Bisa juga begitu, Le”

“Kalau begitu Kang Petruk juga sakit, Ma”

“Aku maneh … saya lagi ! Sebenarnya apa yang membuat kamu tuh benci sama aku tho Gong. Setiap kali hal-hal yang kurang baik kok larinya ke diriku yang menawan ini” Petruk merendah seraya meninggikan mutu

“Bukan benci, Kang Petruk, kakakku yang menawan, rendah hati, sopan santun dan rajin menabung ! Ini adalah wujud dari cinta kasih seorang adik kepada seorang kakak nan penuh kasih sayang dan bijaksana. Ini adalah perhatian tulus dan begitu dalam seorang adik kepada kakaknya seperti kisah Sukasrana dan Sumantri atau Lesmana Widagdo kepada Ramawijaya. Begitupun Bagong kepada Petruk”

“Lebay Gong !” jawab Petruk masih sengit

“Bukan lebay Kang. Kalau sekarang Kang Petruk sedang patah hati sama Soimah, tentu adikmu ini turut berduka, Kang. Bukankah engkau pernah merasakan hal serupa saat ditolak sama Limbuk, Jupe, Depe, Poniyem, Sariyem, Tukinem, Ponirah, Surti dan sepuluh yang lainnya itu ?” wajah tanpa dosa mengiringi pengungkapan fakta memalukan sekaligus memilukan Petruk, bukan Gosip !

Gareng yang mendengar, ikut terperangah dan seraya tersenyum nakal berujar

“Lho… bener itu tho Truk ! Lha kok kamu nggak pernah ngomong sama aku, kok curhatnya malah sama Bagong yang bermulut ember itu. Aduh … aduh … adiku, Di ! Sungguh malang sekali nasibmu ditolak perawan yang segitu banyaknya itu. Harus instropeksi itu Truk !”

“Instropeksi … dengkulmu. Lha wong Bagong kok dipercaya !” jawab Petruk sengit seraya melotot kepada Bagong

“Bisa diam nggak kamu Gong !”

Semar dengan tersenyum bijak menengahi “perseteruan abadi” antara anak-anaknya itu

“Sudah … sudah … Saya lanjutkan ya nDara setelah dipotong pariwara iklan yang baru saja lewat … he he he. Yang keempat adalah Cuwarda, berasal dari kata cuwa, kecewa, tidak keturutan apa yang diharap, yang dicita-citakan. Apakah semua yang kita inginkan, kita harapkan, kita cita-citakan, kita impi-impikan harus terwujud ? Kalau keadaannya begitu, sungguh akan berantakan dunia ini. Hanya Gusti Allah-lah yang tahu mana terbaik bagi kelangsungan hidup semesta ini. Gusti Allah-lah yang tahu yang terbaik bagi kita, sehingga kalaupun ada suatu keinginan kita yang tidak disetujuiNya, pada hakekatnya adalah demi kebaikan kita sendiri. Nggak mungkin Gusti Allah menyiksa, menjerumuskan manusia ciptaanNya sendiri ke dalam kenistaan, kecuali sebenarnyalah diri manusia itu sendiri yang mengantarkan ke dalam ke sengsaraan pribadi. Oleh karenanya, selalulah Eling dan Waspada !”

“Lanjut Mo !” teriak Gareng bermaksud agar mendahului Bagong untuk tidak berkomentar memotong penjelasan lebih lanjut.

“Iya, Thole. Dan yang terakhir adalah Durgarda, berasal dari kata Durga yang bermakna bêbaya, pakewuh, sungil, angkêr, gawat. Sehingga durgarda harus kita sikapi dengan usaha dan sikap percaya diri dan yakin terhadap segala kekuasaan Tuhan.”

“Terima kasih Kakang Semar atas nasehatnya. Semakin mantab aku untuk melakukan tapa brata minta petunjuk Gusti untuk menyelesaikan masalah ini” akhirnya Permadi mengakhiri diskusi tadi dan kemudian beranjak menuju tempat yang telah dibersihkan dahulu sebelumnya untuk mengheningkan cipta menghadap Sang Pencipta.

Advertisements

One thought on “PANCAWISAYA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s