Derita tak berujung Shinta (7)


rama laksmana

Seakan tiada beda jarak bagi Begawan Walmiki
kala cipta tlah disandarkan kepada Ilahi
berpasrah berserah diri
tuk membantu mengentaskan yang tersakiti
agar bersegera sadar dan percaya diri
bahwa susah sedih bak roda pedati
bahwa bahagia derita bakal silih berganti
bahwa kemuliaan niscaya terpenuhi
pabila mampu pikiran dan hati terkendali

Saat dalam samadi mata mulai terbuka
tlah nyata sosok Shinta di hadapannya
tersenyum bijak penuh kasih Sang Yoga
saksikan Sang Dewi larut dalam hening cipta

Dengan lembut Walmiki menyapa

“Anakku Shinta, bangunlah dari samadimu. Bapa kini ada dihadapanmu, Nak. Keluh kesahmu telah terdengar hingga ke Wismaloka. Maafkan perlakuan muridku kepada dirimu yang tlah bertindak tidak adil, anakku. Percayalah Tuhan pasti akan memberikan kemudahan dalam kesulitan yang engkau alami seperti saat ini. Yakinlah bahwa Tuhan bakal mengganti jiwa pasrahmu dengan ganjaran yang jauh lebih indah dari kebahagiaan yang pernah engkau rasakan di dunia ini. Bangunlah, Nak”

Shinta yang mendengar suara lembut di telinganya, perlahan membuka matanya. Terkejut dia sesaat melihat seseorang telah berada di depan duduknya. Seorang tua berpakaian brahmana memberikan senyum lembut menyapa. Wajah adem itu seketika memaksa benaknya untuk mengingat-ingat. Dan dalam hitungan mili detik tlah ditemukan nama pemilik wajah itu di memorinya.

Ya … Shinta mengingatnya bahwa setelah melangsungkan perkawinan megah di Mantili dan kemudian Rama Wijaya memboyongnya ke Ayodya, maka tempat pertama yang di singahi adalah pertapaan Wismaloka. Suaminya memperkenalkan kepada dirinya, pemilik pertapaan itu sebagai gurunya. Resi Walmiki, seorang brahmana yang begitu terkenal di seantero Ayodya dan negri-negri di sekitarnya karena kebijaksanaannya, dan dia adalah guru suaminya.

Segera Shinta merebahkan diri bersujut di kaki Begawan suci itu. Meskipun hanya sesenggukan tangis dan tiada mampu kata terucap dari mulut Dewi Sinta, namun Resi Walmiki sangat faham dengan apa yang tengah bergejolak di dada Shinta.

Segera disentuh pundak Shinta oleh Walmiki agar bangkit dari sujudnya, kemudian berkata

“Engkau tidak bersendirian lagi dalam menghadapi cobaan yang engkau alami sekarang. Hilangkanlah segala beban berat yang ada di pikiranmu. Masih ada kewajiban besar yang harus engkau sandang, yaitu melahirkan anakmu dan membesarkannya kelak. Maka marilah engkau ikut bersamaku untuk mencari tempat yang nyaman untuk engkau tinggali. Bapa akan mempersiapkannya untuk tempat tinggalmu dan anak-anakmu nanti”

Hanya anggukan yang diberikan oleh Shinta sebagai jawaban.

<<< ooo >>>

môngka kanthining tumuwuh
salami mung awas eling
eling lukitaning alam
dadi wiryaning dumadi
supadi niring sangsaya
yèku pangrêksaning urip

Oleh karenanya sebagai pegangan hidup
selamanya haruslah awas dan Ingat,
Ingat pada hukum alam
takut kepada kemuliaan makhluk hidup
agar jauh dari segala penderitaan,
itulah cara untuk menjalani hidup.

marma dèn tabêri kulup
angulah lantiping ati
rina wêngi dèn anêdya
pandak-panduking pambudi
bengkas kaardaning driya
supadya dadya utami

Oleh karenanya rajin-rajinlah anakku,
mengolah tajamnya hati (kesadaran),
siang dan malam berusaha,
mampu meningkatkan kesadaran,
menyingkirkan kekotoran batin,
agar menjadi utama.

pangasahe sêpi samun
aywa êsah ing salami
samôngsa wis kawistara
lêlandhêpe mingis-mingis
pasah wukir rêksa muka
kêkês srabedaning budi

Pengasahnya adalah saat hening,
jangan sampai tergoyahan selamanya,
jika sudah berhasil akan terlihat,
tajamnya tiada tara,
mampu menghancurkan Gunung Reksamuka
bakal hancur segala penghalang kesadaran murni.

Tersentuh hati pria itu mendendangkan lantunan tembang yang telah dihafalnya di luar kepala. Hatinya perih mengingat lagi kepada kekasih hati yang tiada lagi berada di sisinya. Seolah jiwanya telah melayang separuh. Ya … istrinya entah hilang entah mati akibat keputusan dirinya dalam menegakkan keadilan. Menegakkan keadilan ? Ataukah hanya memperturutkan ego ?

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s