Derita tak berujung Shinta (5)


 shinta ramayana ballet 2

“Baiklah, adikku. Aku tidak akan bertanya kepadamu mengapa suamiku tega memerintahkan perbuatan kejam seperti ini. Aku menduga tentu ada kaitannya dengan peristiwa tahun lalu. Bukankah dia dan engkau telah menyaksikan sendiri bukti kesucianku di tengah api yang membakar jasatku ? Apakah engkau percaya itu adikku ?”

“Saya percaya seratus persen, Kanda Dewi !”

“Lalu mengapa suamiku sendiri tidak percaya ?”

“Itu semua karena mulut busuk dari Ki Angga”

“Aku tidak menyalahkan Ki Angga ataupun siapa saja yang meragukan kesucianku karena mereka tidak menyaksikan sendiri buktinya. Mereka hanya merangkai sebuah kejadian dari kabar yang diterima walau tidak tahu validitas kebenarannya. Mereka kemudian menyimpulkan rangkaian cerita berdasarkan asumsi asumsi pemikiran logis menurut mereka atau mungkin malah hanya berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya pribadi. Biarlah hal itu terjadi karena memang kapasitas dan kapabilitas pemikiran mereka hanya sampai disitu. Namun mengapa kakakmu, yang adalah seorang terpelajar, seorang raja besar, seorang satria utama bahkan menurut orang adalah titisan Dewata, mempunyai pemikiran dan pandangan yang sama dengan kaum awam ?”

“Adikmu ini telah berusaha mengingatkannya, Kanda Dewi. Namun semuanya sia sia belaka. Tentu Kanda tahu bagaimana sifat kakakku”

“Aku percaya, Laksmana. Baiklah, sebagai adik yang baik segeralah engkau tinggalkan aku di sini sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Sri Rama kepadamu”

Dengan perasaan campur aduk, Laksmana memandang sekali lagi sosok agung di depannya itu. Rasa hormat dan kagum semakin membuncah kepada istri kakaknya itu. Dewi Shinta terlihat begitu tenang, begitu tegar dan penuh keyakinan serta waskita dalam bertutur dan bersikap.

“Lalu bagaimana dengan Kanda Dewi nanti ?”

“Tidak usah cengeng ! Aku tidak bersendirian di sini, ada Tuhanku yang akan menemani dan menolongku. Cepatlah segera tuntaskan tugasmu !”

Dengan kesedihan yang masih menggumpal, Laksmana kemudian menaiki kudanya seraya mengucapkan kata perpisahan

“Tuhan akan selalu melindungimu, Kanda Dewi. Setiap saat aku akan berdoa atas keselamatan dan kebahagiaanmu. Jagalah dirimu baik baik”

Sepeninggalan Laksmana, barulah Sang Dewi menumpahkan segala beban beratnya. Air matanya mengalir deras memikirkan perlakuan suami terhadap dirinya. Namun tidak terdengar ratapan menyesali nasib buruk yang menimpa. Jiwanya telah kebal terhadap penderitaan. Nyaris sepanjang hidupnya diliputi oleh cobaan hidup yang tiada henti. Kisah hidupnya adalah kisah kesedihan dan nestapa. Mungkin hanya sepenggal episode kehidupan dimana dia merasakan bahagia seutuhnya, dia pernah rasakan.

Sore menjelang, namun di tengah hutan telah gelap gulita. Di bawah sebuah pohon yang tinggi besar dan menjulang, sosok perempuan itu bersimpuh dalam diam. Badannya diam mematung seperti tugu sinukarta. Mata indahnya terpejam, bulu matanya yang lentik terlihat basah bekas tangisan. Dadanya sesekali bergerak pelan mengikuti isak kesedihan.

Duhai … sungguh kasihan nasib putri agung ini
bersendirian dalam hutan yang sunyi
tega nian sang gurulaki
menetapkan hukuman hanya karena ego diri
mencampakkan cinta menyiksa istri sendiri
akankah alam dapat menjadi saksi
kesucian cinta dan harkat diri hakiki
duhai Sang Putri …
tetaplah bijak bestari

dhêdhêp tidhêm prabawaning ratri
sasadara wus manjêr kawuryan
tan kuciwa mêmanise
mênggêp srinatèng dalu
siniwaka sanggyaning dasih
aglar nèng cakrawala
winulat ngalangut prandene kabèh kèbêkan
saking kèhing taranggana kang sumiwi
warata tanpa sêla

Sunyi senyap sepi menhadirkan malam nan agung
Bulan tlah menampakan diri bersinar terang
Alangkah indahnya tiada mengecewakan
Terlihat gagah Sang raja diraja malam itu
menghadirkan segala cinta dan harapan terhampar di atas cakrawala
terlihat hampa tak bertepi
namun nyatanya semua tlah penuh sesak oleh bintang gemintang
nan berbinar merata sinarnya tanpa sela

Derita yang telah terjadi tak perlu disesali
menangislah tuk mengurangi beban berat diri
namun meratap tidaklah boleh harus dihindari
apalagi menyiksa diri meminta mati
hanya satu yang harus dilakoni
kepada Tuhanmu engkau berserah diri
berharap limpahan kasihNya mohon petunjuk Ilahi
niscaya ketenangan bakal dinikmati
dan semangat hidup trus terpatri
demikian yang slalu diingat Sang Dewi
petuah Sang Ayah Prabu Janaka raja Mantili

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s