Derita tak berujung Shinta (4)


shinta ramayana ballet

“Hendak menuju kemana kita, Dimas ?” suara lembut wanita memecah keheningan hutan siang itu.

Wanita itu duduk di pelana kuda dan disampingnya seorang pria mendampingi dengan berkuda juga.

Duhai … sungguh jelita wanita berkuda itu. Wajahnya putih bersinar memancarkan perbawa keagungan laksana bathari kahyangan turun ngejawantah ke darat. Meskipun tiada senyum yang tersungging di wajahnya yang bak rembulan, namun sungguh siapapun yang memandang niscaya terpesona akan keindahannya.

Matanya memendam sebuah tanya yang sedari tadi hendak diucapkan kepada pria di sebelahnya yang mengiringinya. Sementara pria itu hanya tertunduk kelu, wajah muram menyimpan duka. Sepanjang perjalanan mulut terkunci tiada satu katapun terucap. Benar dia berjalan berkuda, namun pikirannya melayang mengembara mengenang kenang perjalanan hidup bersama wanita di sebelahnya yang tiada lain adalah kakak iparnya.

Ya … pria itu adalah Laksmana, sedangkan perempuan itu adalah Dewi Shinta istri Rama Wijaya raja Ayodya.

Ungkapan tanya lembut Shinta, seakan membangunkan Laksmana dari mimpi tak mengenakkan. Dan dengan tergagap dia menjawab

“Oh … kita telah sampai, Kanda Dewi. Marilah aku bantu mbakyu turun dari kuda itu” bergegas Laksmana meloncat dari kudanya dan segera membantu Sang Putri turun dari kudanya.

Setelah menginjak tanah maka Dewi Shintapun berjalan di tempat yang agak lapang dan kemudian tangannya ngawe ke Laksmana dengan maksud untuk berjalan mendekat.

“Sekarang engkau jelaskan dengan sedetil-detilnya mengapa aku dibawa kesini hanya olehmu. Mengapa Kanda Rama tidak ikut serta bersama kita. Jangan engkau katakan bahwa kakakmu sedang sibuk ngurus negara ataupun ada kegiatan penting yang lainnya sehingga tiada waktu untuk bersamaku. Dia telah tahu bahwa aku tengah mengandung anaknya. Tidak mungkin tega membiarkanku melakukan perjalanan jauh seperti ini. Tentu ada alasan kuat sehingga hanya menyuruh engkau saja menemaniku. Sengaja aku tidak bertanya tentang itu sepanjang perjalanan tadi karena kulihat wajahmu begitu gelap menyimpan rahasia yang sepertinya sangat membebanimu. Jujurlah, Dimas !”

Mendengar ketenangan Shinta dalam mengungkapkan isi hati, membuat hati Laksmana semakin terkoyak. Dewi Shinta telah dianggap sebagai kakaknya sendiri yang begitu dihormati dan disayangi. Tak kuasa airmata Laksmana mengalir pelan. Dipandangi sosok di depannya itu dengan penuh welas asih

Surem … surem …
surem diwangkara kingkin,
lir manusa kang layon,
denya ilang ingkang memanise,
wadananira layung,
kumel kucem rahnya maratani

Suram … sungguh suram
suram cahya sang surya bersedih
laksana manusia yang tlah mati
lantaran tlah hilang indahnya bahagia
jiwanya merana badannya layu
duka derita meyelubungi jiwa raga

“Kanda Dewi, mohon ampun atas ketidak mampuanku mempengaruhi suamimu dalam memutuskan masalah ini. Adikmu ini telah berusaha sekuat tenaga menyadarkan Kanda Rama untuk memberikan keputusan yang benar sesuai dengan hati nurani dan jiwa kemanusiaan. Namun apa daya, segala kewenangan ada dalam genggaman suamimu. Aku diperintahkan oleh Sri Rama untuk … untuk …”

Tak kuasa Laksmana melanjutkan kata-katanya, sesak dadanya menahan gejolak duka yang menguasai hatinya. Namun di pihak lain, Dewi Shinta terlihat begitu tenang menghadapi situasi seperti ini

“Berterus teranglah Adikku, kakakmu ini telah siap menerima segala yang telah menjadi ketetapan suamiku sebagai raja Ayodya. Penderitaan telah menjadi teman yang sangat akrab denganku. Ingatkah engkau, tiga belas tahun lamanya kita hidup terlunta di hutan Dandaka. Menjalani pembuangan sekian lama membuat jiwaku semakin kuat. Ditambah lagi kemudian selama dua belas tahun, aku berada dalam sangkar emas si Rahwanaraja. Jangan dikira aku hidup nikmat di sana. Taman Argasoka memang sebuah taman yang indah bak tamannya para Dewata, namun jiwaku terpidana, cintaku terkurung oleh ruang dan waktu lantaran tak bersanding dengan cinta sejatiku yaitu diri suamiku. Jangan engkau kira aku diam saja di kurungan emas itu. Setiap hari cundrik selalu menemaniku dimanapun aku berada. Hal itu aku lakukan untuk mengabarkan kepada si Keparat itu bahwa apabila dia menyentuh kulitku sedikit saja, maka cundrik segera aku hunjamkan di ulu hatiku. Dua belas tahun penuh kekawatiran, dua belas tahun tidak nyeyak tidurku, dua belas tahun jiwaku tiada pernah tenang, dan itu membuat jiwaku semakin kuat mengeras. Oleh karenanya, berterus teranglah, Adikku !”

Laksmana mendongakkan kepalanya kembali dan dengan dikuatkan hatinya maka berkatalah dia melanjutkan kalimat yang belum selesai tadi

“Aku diperintahkan oleh suamimu untuk … membuangmu di hutan ini” lirih suara Laksmana namun bagi Dewi Shinta laksana bunyi halilintar di siang hari bolong. Seketika wajahnya memucat, namun tidak lama kemudian dia telah mampu menguasai hatinya. Dihirupnya dalam dalam udara segar di hutan ini, dan kemudian dengan pelan pelan dihembuskan lewat mulut nafas hangatnya. Dilakukan hal itu tiga kali untuk menenangkan emosi dan mengatur keseimbangan jiwanya.

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s