Derita tak berujung Shinta (3)


laksmana_widagdo_solo

Beberapa saat kemudian, Sri Rama yang berpengetahuan luas dan berfikir global mampu menetapkan hati bahwa tidak ada yang serba “kebetulan” terjadi di dunia ini. Semua kejadian adalah atas Kehendak dan KuasaNYA, Tuhan semesta alam. Meskipun semburat kebimbangan masih tersirat di dasar hatinya, namun ditetapkan untuk menghapuskanya saat ini. Tak peduli lagi dia akan persidangan agung dengan para mentri, tak di hiraukan lagi Ki Angga yang masih duduk bersimpuh di tanah bersama istrinya yang masih tertunduk sedih, maka Sang Nata kemudian beranjak pergi menuju tempat peristirahatan di dalam istana.

Begitu punggung rajanya telah menghilang selepas pintu, tanpa dikomando geremengan laksana suara tawon keluar dari mulut para hadirin yang memenuhi ruangan yang sebelumnya sepi. Saling bisik antara mereka membicarakan peristiwa yang terjadi. Tak sedikit dari mereka asyik merangkai kalimat berdebat antar mereka dalam memperkirakan apa yang bakal terjadi kemudian. Engkel-engkelan, menang-menangan, sok-sokan merasa dirinya paling pintar menganalisa dan meramal. Bahkan kemudian ada yang nyaris baku pukul lantaran beda pendapat terhadap prediksi yang disampaikan. Lha wong ramalan kok diperebutkan kebenarannya … dasar punggawa picik tak berguna !

Lantaran asyik dengan kesibukan masing-masing mereka tidak memperhatikan saat kemudian Ki Angga beringsut menuju pintu keluar seraya menggandeng tangan istrinya. Tak ada lagi sikap membenci kepada istrinya, seakan masalah yang disampaikan kepada Sri Rama tadi telah terselesaikan dengan sendirinya. Solusinya adalah hati lega karena masalah telah disampaikan, hati senang karena gunjingannya mampu mempengaruhi jiwa rajanya. Dia yakin bahwa setelah ini maka peristiwa tadi bakal menjadi trending topic di seantero negri, bahkan lebih cepat lagi akan tersebar ke media social di dunia maya. Dan setelah melewati gapura kraton maka dengan mesra digandengnya tangan Nyi Angga untuk dibawa pulang ke rumah dengan wajah tersenyum seraya menyenandungkan langgam yang tengah hits didendangkan oleh pesinden terkenal Nyi Srintil dengan judul “Senandung Kalijodo”.

Ternyata perkataan Ki Angga tidak bisa menghilang begitu saja di pikiran Sri Rama. Meskipun hati kecilnya menyanggah kebenarannya, namun tetap saja ego selaku seorang laki-laki sekaligus sebagai suami, ditambah kedudukannya sebagai Ayodya 1 serta gelarnya sebagai titisan Wisnu dewa paling sakti di antara anak anak Bathara Guru, membuat keraguan akan kesucian Shinta istrinya muncul kembali. Perkataan Ki Angga bahwa seluruh rakyat Ayodya menyangsikan kesucian Shinta seolah menjadi legitimasi atas prasangka itu. Kembali jiwanya goyah !

Laksmana yang melihat kondisi kakaknya seperti itu, segera mendekati untuk menenangkannya. Laksmana adalah satu satunya orang yang mengerti betul Rama Wijaya. Sejak masih bocah, hingga dewasa Laksmana selalu bersama dan mengikuti kemana kakaknya berada. Bermain selalu bersama, belajar olah kejiwaan dan olah kanuraganpun dengan guru yang sama. Bahkan saat kakaknya Rama dan kakak iparnya Shinta terbuang di hutanpun, hanya Laksmanalah yang mengiringinya. Laksmanalah yang selalu menghibur Rama dikala rindu kepada istrinya yang diculik oleh Rahwanaraja. Laksmanalah yang selalu menguatkan kakaknya untuk terus berusaha merebut Shinta dari genggaman Raja Alengka itu. Suka duka Rama adalah suka dukanya juga. Tak heran Laksmana sangat detil tahu apa yang tengah terjadi dalam benak dan hati kakaknya.

“Oh … Dewata yang Agung, mengapa semua ini terjadi. Dikala hambaMu ini tengah merasakan ketenangan dan kebahagiaan, mengapa Engkau timpa dengan masalah yang sungguh pelik ini” tak kuasa derai air mata mengiringi keluh kesah Sang Raja Ayodya seraya kemudian merangkul adiknya terkasih.

“Sungguh tak aku duga bahwa diriku menjadi cacian dan bahan tertawaan seluruh rakyat yang aku pimpin. Sungguh memalukan, seorang raja memberi contoh yang tidak benar kepada rakyatnya”

Laksmana yang mendengar keluh kesah kakaknya, kemudian menghibur dan sekaligus memberikan pandangan

“Duhai Kangmas, janganlah engkau percaya sepenuhnya kepada kata-kata orang yang tidak bertanggung jawab itu”

“Tapi perkataan Ki Angga sungguh tepat, Dimas. Akupun merasa bahwa itu adalah sebuah kebenaran belaka”

“Berarti Kangmas sebelumnya masih memiliki keraguan akan kesucian Mbakyu Shinta meskipun sudah terbukti saat hukum obong itu ?”

“Sepertinya demikian, Adikku. Sungguh dua belas tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk seorang wanita dapat mempertahankan kesuciannya. Dapat aku bayangkan bahwa setiap hari dia dibujuk, dirayu dan digoda oleh Rahwana. Ibarat kata pepatah, sebuah batu karangpun lama lama akan berlubang manakala setiap detik ditimpa oleh setitik air dari atasnya. Apakah dinda Shinta masih kuat mempertahankannya ?”

“Duhai Kangmas Prabu, janganlah beribu prasangka mengangkangi pikiran Kanda. Tenangkanlah jiwa Kangmas agar dapat berfikir dengan jernih dan bijak. Dan yang mengetahui dalam hati Mbakyu Shinta tentu Kanda sendiri. Janganlah engkau diombang ambing oleh serba kekawatiran dan hal hal yang tidak pasti, sebab yang sudah pasti adalah bahwa kesucian Mbakyu telah terbukti kebenarannya karena tlah kita saksikan sendiri. Apakah kakang percaya pada gossip dan berita sampah yang keluar dari mulut busuk Ki Angga tadi ? Apakah Kangmas lebih percaya kepada kabar yang beredar dengan validitas kesahihan patut dipertanyakan daripada dengan kesetiaan Mbakyu Shinta yang telah terbukti secara empiris?”

“Tidak mungkin adikku, aku percaya apa yang dikatakan Ki Angga itu benar adanya”

Dan Laksmana sadar bahwa segala masukan dan bujukan yang disampaikan kepada kakaknya akan sia sia belaka. Dia mengerti betapa “keras kepala” kakaknya itu meskipun tutur katanya begitu lembut. Kalau sudah meyakini terhadap sesuatu hal, maka tak ada seorangpun yang mampu mengubahnya. Laksmana sudah pasrah dan tinggal menanti suatu keputusan besar yang bakal terjadi.

“Adikku Laksmana, sekarang dengar dan turuti semua perintahku !” Rama melepaskan rangkulan adiknya

“Ya Kanda”

“Sekarang juga jemputlah Mbakyumu Shinta dan kemudian bawalah dia ke tengah hutan dan tinggalkanlah dia di sana bersendirian. Biarlah alam yang akan memberikan keputusan dan keadilan”

“Tapi Kang …”

“Tidak ada tapi-tapian ! Laksanakan perintahku segera !”

Remuk redam perasaan Laksmana mendengar perintah Sang Rama. Sungguh tak difahaminya pola pikir kakaknya itu. Apakah harus begini menjalani hidup ? Selalu tercipta dilemma dan opsi yang harus dipilih agar terus hidup ? Dan tidak memilihpun adalah sebuah pilihan. Apakah mengatas namakan pendapat banyak orang adalah suatu kebenaran ? Pada kenyataannya kebenaran tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak orang yang meyakini dan mengamininya. Sri Rama terpengaruh oleh kata kata Ki Angga bahwa seluruh rakyat Ayodya mencurigai kejujuran Shinta, namun bukannya menyanggah dan membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar, malah dia memberi stempel “OK” bahwa dugaan itu memang benar adanya bukan hanya sekedar hasil rekayasa pikiran merangkai kejadian dan membuat estimasi sebab akibat secara imajiner. Dan memang tepat dugaan Laksmana akan kebimbangan yang masih mendekam di hati kakaknya Sri Rama tentang kesucian istrinya. Hal itulah yang kemudian terungkit lagi oleh “fakta” yang diungkap Ki Angga, seakan menjadi sebuah sebab untuk muncul kembali seperti pada peristiwa menjelang Shinta obong.

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s