KNS : Parikesit Grogol


wu87-01-08-parikesit-ratu-text2

Lakon ini adalah unggahan Mas Bram Palgunadi yang merupakan pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho dengan judul “Parikesit Grogol”

 Lakon ‘Parikesit Grogol’ menceritakan tentang kenaikan Parikesit sebagai raja Kerajaan Hastina-Pura, setelah kemenangan para kerabat Pandhawa dalam perang besar Barata-Yudha. Jadi cerita ini dapatlah dipandang sebagai bagian terakhir dari cerita panjang Maha-Barata yang amat sangat terkenal, dan merupakan bagian yang berperan sebagai transisi, antara ‘wayang purwa’ dan ‘wayang madya’.

Prabu Parikesit, menurut silsilahnya, adalah putera Radyan Abimanyu dari Dewi Utari. Tentulah dia cucu Radyan Arjuna yang terkenal itu. Prabu Parikesit masih amat sangat muda, bahkan dinyatakan masih terlampau muda, saat diangkat menjadi raja Hastina-Pura, menggantikan Prabu Darma Kusuma atau Prabu Yudhistira. Ia bergelar Prabu Kresna-Dipayana. Tetapi sebutan Prabu Parikesit, rupanya sudah terlanjur membuatnya jauh lebih terkenal.

Menarik, saat mencermati jalan ceritanya. Pada berbagai episode yang menceritakan peristiwa yang dialami para tetua (nenek-moyang) Prabu Parikesit, umumnya selalu diceritakan mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dan kesaktian saat mereka masih muda, jauh sebelum dilantik atau diangkat sebagai raja atau bangsawan. Namun, pada cerita ini, Prabu Parikesit, justru sudah diangkat sebagai raja lebih dulu, baru kemudian ia belajar berbagai hal yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan dan kesaktian. Agak aneh sebenarnya. Istilah ‘grogol’ sendiri, sebenarnya merupakan istilah yang aneh dan kurang dikenal. Tetapi, dalam bahasa Jawa, istilah ‘grogol’, ‘gerogol’, atau ‘garogol’, seringkali digunakan untuk menyebut seseorang anak muda, yang untuk pertama kali ‘belajar berburu’ hewan di hutan. Kelihatannya, penggunaan istilah ini, disesuaikan dengan riwayat Prabu Parikesit yang sesudah menjadi raja, baru memulai belajar tentang berbagai hal, termasuk berburu ilmu pengetahuan.

Apakah ini merupakan gambaran anak muda jaman sekarang, yang masih muda, tetapi seringkali sudah memegang suatu kekuasaan….? Termasuk menjadi pemimpin suatu perusahaan, lembaga, dinas, jawatan, biro, kantor, militer, kota, wilayah, pemerintahan, departemen, kementerian, atau bahkan negara; pada umur yang masih relatif muda. Jika jawabannya ‘ya’, berarti apa yang kita alami pada masa sekarang, sebenarnya sudah bisa diperkirakan (diprediksi) sejak dulu oleh nenek-moyang kita. Jika jawabannya ‘tidak’, berarti kita harus berhati-hati, sebab nenek-moyang kita sudah bisa memperkirakan akan seperti itulah peri-laku kita pada masa sekarang…..

Jangan lupa, cerita ini digambarkan sebagai terjadi pada ‘awal jaman madya’ (awal jaman tengah, menjelang jaman sekarang), atau bisa juga kita sebut sebagai ‘akhir jaman purwa’ (akhir jaman kuna, akhir jaman dulu). Karena itu, lalu digambarkan segalanya mulai berubah dan mulai berbeda dengan ‘semua yang lampau’. Dalam bentuk pagelaran wayang, lalu dinyatakan berbeda dengan segala yang diceritakan dalam ‘wayang purwa’.

Dari masa lampau, Ki Narto Sabdho almarhum, diiringi grup karawitan Condong Raos, menampilkan riwayat Parikesit dalam nuansa yang memikat dan menyentuh segala emosi pendengarnya. Bahkan, suaranya yang sangat khas, serta alunan suara ‘kombangan’, sulukan, antawacana (dialog), dan janturan (narasi) yang ditampilkan oleh Ki Narto Sabdho, seakan bisa menghidupkan seluruh pagelaran dari masa lampau ini, seakan dilakukan di depan kita, pada masa sekarang…..

KIsah yang sama pernah diunggah di sini :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s