Mahabharata 29 – Duryodhana yang Haus Kekuasaan


04 Mahabharat Duryodhan_

Dritarastra tampaknya hidup tenang dan bahagia di istana Hastinapura. Tetapi, sebenarnya ia selalu memikirkan akibat dari pertentangan antara anak-anaknya dan Pandawa. Apakah Yudhistira akan selalu bisa meredakan amarah Bhima yang mudah menggelegak dengan alasan-alasan yang bisa diterimanya? Dritarastra juga cemas memikirkan kebencian Pandawa yang dipendam bagai air dalam bendungan, sewaktu-waktu bisa bobol dan mengamuk seperti air bah, menghanyutkan segala dan semua.

Kelak, jika Pandawa kembali dari pengasingan, mereka pasti telah semakin kuat dan sakti. Mereka telah menempuh bermacam-macam cobaan hidup selama tiga belas tahun mengembara. Waktu yang cukup lama untuk membuat manusia matang pengalaman. Sementara itu, Sakuni, Karna, Duhsasana dan Duryodhana hidup bergelimang kekuasaan dan menjadi lupa daratan.

Itulah yang selalu membuat hati Dritarastra risau.

Pada suatu hari, Karna dan Sakuni berkata kepada Duryodhana, “Kerajaan yang tadinya ada di tangan Yudhistira kini menjadi milik kita. Kita tidak perlu lagi iri kepadanya.”

Duryodhana menjawab, “Oh Karna, itu betul. Tetapi alangkah nikmatnya kalau aku dapat melihat penderitaan Pandawa dengan mata kepalaku sendiri. Kita hina mereka dengan memperlihatkan kesenangan dan kebahagiaan kita kepada mereka. Kita harus pergi ke hutan untuk melihat bagaimana kehidupan mereka di pembuangan.”

Sebelum menjalankan rencananya, Duryodhana sudah kesal karena yakin ayahnya pasti takkan mengijinkannya. Ia berkata lagi,

“Tapi Ayahanda pasti tidak akan mengijinkan. Ayahanda takut pada Pandawa, sebab mereka dianugerahi kesaktian oleh para dewata selama dalam pertapaan dan penyucian diri. Ayahanda pasti melarang kita pergi ke hutan untuk melihat dan mengolok-olok mereka. Ah, kesenangan ini kurang memuaskan kalau kita tak bisa melihat penderitaan Draupadi, Bhima dan Arjuna. Bukankah hidup tanpa kepuasan berarti hidup dalam siksaan? Sakuni dan engkau, Karna, harus berusaha agar Ayahanda mengijinkan kita pergi.”

Keesokan harinya Karna datang menemui Duryodhana dengan wajah berseri-seri. Katanya, “Bagaimana pendapatmu kalau kita minta ijin pergi ke Dwaitawana, ke ladang dan padang penggembalaan ternak kita? Baginda pasti tidak keberatan. Dari sana, sambil berburu, kita bisa meneruskan rencana kita.”

Duryodhana dan Sakuni langsung setuju. Mereka lalu menyuruh penjaga Dwaitawana untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Dritarastra tidak menyetujui rencana itu. Katanya, “Berburu memang baik untuk putra-putra raja. Aku pun berniat memeriksa ternak kita di sana. Tetapi karena Pandawa sedang berada dalam hutan dekat situ, aku tidak mengijinkan kalian pergi ke sana. Jika kuijinkan kalian pergi, sementara Bhima dan Arjuna ada di dekat Dwaitawana, itu sama artinya dengan membangunkan singa dari tidurnya.”

Duryodhana menjawab, “Kami tidak akan pergi dekat-dekat situ. Kami akan berhati-hati dan menghindari mereka.”

Dritarastra berkata lagi, “Betapapun hati-hatinya engkau, dekat-dekat saja sudah berbahaya. Siapa tahu, salah satu pengawalmu tersesat dan bertemu dengan Pandawa. Itu dapat menimbulkan perselisihan. Akan kukirim orang lain untuk memeriksa ternak kita. Kalian tidak boleh pergi.”

Sakuni menyela, “Tuanku, kami tahu, Yudhistira itu bijaksana dan patuh akan dharma. Ia telah bersumpah di depan para tetua dan banyak orang. Pandawa pasti patuh padanya. Putra-putra Kunti tidak akan memperlihatkan permusuhan kepada kita. Sebaliknya, jangan menghalangi keinginan Duryodhana untuk berburu setelah memeriksa ternak. Aku akan menemani dan menjaganya agar dia tidak pergi ke dekat tempat Pandawa.”

Seperti biasa, karena didesak-desak Dritarastra menyerah. Katanya, “Jika demikian, pergilah. Puaskan hatimu.”

Demikianlah Kaurawa pergi ke Dwaitawana diiringkan sepasukan pengawal. Duryodhana dan Karna sangat senang. Dengan pongah mereka berniat untuk menertawakan kesengsaraan Pandawa. Setelah memeriksa ternak, antara lain, sapi, banteng, biri-biri, dan kambing, Duryodhana dan rombongannya mengadakan pesta. Mereka bersenang-senang, menyanyi, menari, berteriak-teriak, dan bersorak-sorai. Setelah puas berpesta dan cukup beristirahat, mereka pergi berburu ke dekat hutan tempat Pandawa menjalani pengasingan. Duryodhana menyuruh para pengawal mencari tempat yang baik untuk berkemah.

duryudana

Mereka menemukan sebuah tempat yang lapang di tepi telaga. Tetapi Chitrasena, raja raksasa yang perkasa, sudah beberapa hari berkemah di situ bersama para pengawalnya. Balatentara Chitrasena menyuruh para pengawal Duryodhana mencari tempat lain. Para pengawal itu melapor kepada Duryodhana yang merasa ditantang. Ia memerintahkan balatentaranya mengusir Chitrasena dan memasang kemah Kaurawa di tempat itu. Balatentara Duryodhana kembali ke tepi telaga dan mencoba melaksanakan perintah itu. Tetapi balatentara Chitrasena telah siap melawan. Para pengawal Duryodhana kalah dan terpaksa lari terbirit-birit.

Duryodhana sangat marah mendengar kekalahan pengawalnya. Ia memerintahkan balatentaranya menyerbu. Maka terjadilah pertempuran sengit antara pengawal Duryodhana dan pengawal Chitrasena.

Raja raksasa itu tidak membiarkan pertempuran itu berlangsung lama, karena ia sangat mengenal dan menguasai wilayah itu. Segera ia memerintahkan balatentaranya menggunakan senjata-senjata sakti. Banyak pengawal Duryodhana yang tewas, sisanya lari meninggalkan kereta, kuda, dan senjata mereka. Karena lebih kuat dan berpengalaman, dalam waktu yang tidak lama pengawal Chitrasena berhasil memenangkan pertempuran; sementara Duryodhana mendapati dirinya ditawan lawan dan ditinggalkan pengawalnya. Dengan tangan dan kaki terikat ia dimasukkan ke dalam kereta Chitrasena. Sangkakala, terompet dari kerang besar, ditiup mengalun keras menandai kemenangan pihak Chitrasena.

Beberapa pengawal Duryodhana yang melarikan diri sampai ke tempat pengasingan Pandawa. Bhima senang mendengar Duryodhana kalah. Ia segera menyampaikan berita itu kepada Yudhistira. Katanya, “Pasukan raksasa telah mengalahkan Duryodhana. Aku yakin, dia sengaja datang ke sini untuk menghina dan mengejek kita. Aku pikir, ada baiknya kita bersahabat dengan Chitrasena.”

Tetapi Yudhistira menjawab, “Saudaraku tercinta, ini bukan saat yang tepat bagi kita untuk bergembira. Kaurawa adalah kerabat kita, keturunan mereka adalah keturunan kita juga. Sekarang mereka sedang mendapat malu, dan itu berarti tamparan bagi kita juga. Kita tidak boleh membiarkan penghinaan ini. Kita harus membantu saudara-saudara kita.”

Bhima tidak setuju. Ia berkata, “Mengapa kita mesti melindungi manusia durhaka dan penuh dosa yang pernah mencoba membakar kita hidup-hidup di dalam istana kayu waktu itu? Mengapa kita harus kasihan kepada orang yang pernah mencoba membunuhku dengan racun dan menenggelamkan aku di sungai? Rasa persaudaraan seperti apa yang dimiliki manusia durhaka yang telah menghina Draupadi, menyeret rambutnya dan berusaha menelanjanginya di depan orang banyak?”

Sementara mereka berdebat, terdengarlah rintihan Duryodhana. Yudhistira kasihan dan menasihati Bhima agar melupakan semua pengalaman buruk itu. Ia meminta Bhima menolong Kaurawa. Meskipun tak bisa memahami keputusan Yudhistira, Bhima dan Arjuna patuh pada perintah kakaknya. Mereka mengumpulkan para pengawal Duryodhana yang melarikan diri ke tempat pengasingan mereka lalu memimpin penyerbuan ke perkemahan balatentara raksasa itu.

Chitrasena mendengar hal itu, tetapi ia tidak ingin bertempur melawan Pandawa. Ia menawarkan perundingan. Setelah berunding akhirnya ia mau membebaskan Duryodhana dan tawanan lainnya. Chitrasena berkata bahwa ia hanya ingin memberi pelajaran pada Duryodhana yang congkak.

Kaurawa kembali ke Hastinapura. Di tengah jalan, Karna menggabungkan diri. Duryodhana sangat malu dan terhina. Ia mencurahkan perasaannya kepada saudarasaudaranya. Baginya lebih baik mati di tangan Chitrasena daripada dipermalukan seperti itu. Ingin rasanya ia berpuasa seumur hidup, sampai mati. Katanya kepada Duhsasana, “Engkau kuangkat menjadi raja sebagai penggantiku. Pimpinlah kerajaan ini. Aku tidak sanggup hidup lebih lama dan menjadi tertawaan musuh-musuh kita.”

Duhsasana terharu mendengar kata-kata kakaknya. Karna menghibur, “Tidak pantas seorang kesatria keturunan Kuru berputus asa. Apa gunanya berputus asa karena perasaan sedih dan duka? Itu hanya akan membuat musuh-musuh kita semakin senang. Lihatlah Pandawa. Mereka tidak berpuasa sampai mati, meskipun menanggung malu yang amat besar.”

Sakuni menambahkan, “Dengarkan kata-kata Karna. Mengapa engkau berpikir untuk bunuh diri padahal seluruh kerajaan, termasuk yang kita rampas dari tangan Pandawa, adalah milikmu? Berpuasa dengan niat seperti itu sama sekali tidak ada gunanya. Kalau engkau memang menyesal, lebih baik kau berdamai dengan Pandawa dan mengembalikan hak mereka atas kerajaan ini.”

Mendengar nasihat Sakuni, bukannya berterima kasih, Duryodhana justru menjadi marah. Dengan berang ia berkata, “Daripada mengembalikan kerajaan kepada Pandawa, lebih baik aku mati. Itu jauh lebih buruk daripada kekalahan dan penghinaan. Tidak, aku akan hancurkan Pandawa!”

“Kau sungguh jantan. Begitulah seharusnya sikap seorang kesatria,” kata Karna menyetujui. Kemudian ia menambahkan, “Apa masuk akal memilih mati dengan cara yang memalukan? Kau hanya dapat berbuat sesuatu jika kau masih hidup.”

Dalam perjalanan pulang, Karna menambahkan, “Aku bersumpah kepadamu, di hadapan para dewata dan roh para suci, bila tahun ketiga belas yang telah disepakati itu habis, aku akan membunuh Arjuna dalam perang besar!”

Karna mengolesi pedangnya dengan ludahnya, kemudian mengacungkan pedang itu sebagai tanda ia telah bersumpah.

Demikianlah, rasa benci semakin bertakhta di lubuk hati Kaurawa yang tak pernah merasa puas. Ibarat api dalam sekam, tak terlihat sebelumnya tahu-tahu sudah membesar, berkobar-kobar.

Ketika Duryodhana berniat melangsungkan upacara Rajasuya, para brahmana menasihatinya. Kata mereka, Duryodhana belum patut melaksanakan niatnya karena Dritarastra dan Yudhistira sebagai pewaris kerajaan Astina dan keturunan sah Kuru masih hidup. Saat itu, yang boleh dilaksanakannya adalah upacara Waishnawa.

Dengan penuh kemegahan, Duryodhana melaksanakan upacara Waishnawa. Setelah upacara selesai, banyak yang membicarakan upacara itu, yaitu yang tidak lebih dari seperenambelasnya upacara Rajasuya yang diselenggarakan Yudhistira dulu. Namun kawan-kawan Duryodhana mengatakan bahwa upacara itu menyamai kebesaran upacara-upacara yang pernah dilaksanakan oleh Yayati, Mandhata, Bharata dan lainnya.

Ya, kawan-kawan Duryodhana adalah para penjilat yang suka mencari muka, tukang puji dan tukang gunjing. Kesempatan seperti itu pasti mereka gunakan untuk menyanjung, meninabobokan, bahkan menghasut Duryodhana. Karna, misalnya, mengatakan kepada para pendukung Duryodhana bahwa upacara Rajasuya yang akan diadakan Duryodhana ditunda karena Pandawa belum dimusnahkan dan ia belum membunuh Arjuna.

Seperti biasa, Karna berkata dengan congkak, “Sebelum aku dapat membunuh Arjuna, aku bersumpah tidak akan makan daging dan minum minuman yang memabukkan; aku juga tidak akan menolak permintaan kawanku, siapa pun dia. Inilah sumpahku.”

Demikian Karna bersumpah dalam pertemuan keluarga Kaurawa. Anak-anak Dritarasta merasa beruntung karena Karna memihak mereka.

Mata-mata Pandawa melapor tentang sumpah Karna kepada Pandawa. Yudhistira menanggapi itu sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh berbahaya, karena ia tahu Karna adalah kesatria sakti yang mahir menggunakan segala macam senjata.

Pada suatu malam, Yudhistira bermimpi, semua binatang di hutan itu datang kepadanya dan memohon agar mereka dilindungi dan jika mungkin Pandawa pindah dari hutan itu. Pagi harinya, ketika terjaga, Yudhistira merasa bahwa mimpinya itu adalah firasat buruk, pertanda akan adanya bahaya. Rasa kasihnya kepada binatang-binatang hutan mendorongnya mengambil keputusan untuk meninggalkan hutan itu.

Pada suatu hari, Resi Durwasa dan seribu pengikutnya menemui Duryodhana. Duryodhana sudah mengetahui sifat Resi Durwasa yang suka menguji dan mencari-cari kesalahan orang. Duryodhana menerima rombongan tamu itu dengan sangat hati-hati. Ia sendiri yang melayani Resi Durwasa dengan ramah tamah.

Puas atas sambutan Duryodhana, Resi Durwasa mengijinkan Duryodhana meminta satu anugerah. Duryodhana tidak melewatkan kesempatan itu. Dengan pikiran agar resi itu mencari-cari kesalahan Pandawa, ia berkata,

“Bapa Resi yang kami hormati, kami merasa mendapat restu luar biasa karena kedatangan Bapa ke sini. Sambutan dan jamuan yang kami hidangkan hanya sederhana. Saudara-saudara kami, Pandawa, kini sedang mengembara di hutan. Mohon Bapa Resi meluangkan waktu untuk mengunjungi mereka dan membuat mereka senang karena merasa direstui.”

Kemudian Duryodhana mengusulkan hari untuk berkunjung ke hutan. Hari itu ditentukan setelah memperhitungkan kapan persediaan makanan Pandawa habis dan karenanya mereka pasti tak bisa menjamu Resi Durwasa dan seribu pengikutnya. Dalam keadaan demikian Pandawa akan mendapat kutuk-pastu dari sang Resi.

Resi Durwasa menjawab, “Baiklah kalau itu permintaanmu. Aku akan mengunjungi Pandawa di hutan pada hari yang telah engkau tentukan.”

Bukan main senangnya hati Duryodhana mendengar jawaban sang Resi. Pandawa pasti takkan sanggup menerima tamu sebanyak itu dengan sambutan penuh kehormatan dan hidangan mewah melimpah. Dan jika Resi Durwasa marah, ia pasti melancarkan kutuk-pastu yang mengerikan terhadap Pandawa. Demikianlah yang dibayangkan oleh Duryodhana.

Seperti diharapkan oleh Duryodhana, Resi Durwasa bersama pengikutnya pergi ke tempat Yudhistira. Sampai di sana kira-kira pada saat makan siang. Waktu itu Pandawa baru saja selesai makan. Mereka mengucapkan selamat datang kepada rombongan Resi Durwasa dengan penghormatan sepatutnya. Resi itu berkata, “Kami ingin membersihkan badan dulu di sungai. Kami akan kembali ke sini kira-kira waktu makanan telah siap. Kami sudah lapar.”

Setelah berkata demikian, Resi Durwasa pergi mandi ke sungai bersama pengikutnya.

Selama mengembara di pengasingan, secara teratur Yudhistira selalu bersamadi dan bertapa brata. Dalam samadinya, Batara Surya mengunjunginya dan menganugerahkan tempurung berisi bahan makanan sambil bersabda,

“Bahan makanan dalam tempurung ini akan cukup untuk kebutuhan kalian sehari-hari dan akan memberi kekuatan kepada kalian selama dua belas tahun dalam pengasingan. Isi tempurung ini takkan habis sebelum semua orang dan Draupadi makan.”

Dalam tradisi, tamu harus dipersilakan makan lebih dulu, lebih-lebih jika dia brahmana. Sesudah tamu, giliran tuan rumah dan yang terakhir adalah istri atau ibu anak-anak. Tetapi, ketika Resi Durwasa tiba di tempat pengasingan Pandawa, semua orang sudah selesai makan dan makanan sudah habis. Draupadi menjadi bingung sebab pengikut Resi Durwasa berjumlah seribu. Dalam keadaan demikian, Draupadi berharap Krishna datang menolongnya. Berkat kebesaran dharma, Krishna tiba-tiba muncul dan langsung berkata, “Aku sangat lapar. Bawakan makanan untukku. Sedikit tidak apa, asal ada yang bisa dimakan. Setelah itu baru kita bicara.”

Draupadi kaget, tak tahu harus berbuat apa kecuali berterus-terang bahwa makanan telah habis sama sekali. Ia mengaku sangat mengharap kedatangan Krishna untuk menolongnya menjamu Resi Durwasa dan seribu pengikutnya. Saat ini mereka sedang mandi-mandi di sungai.

Krishna tetap berkata bahwa ia lapar dan ingin makan sekadarnya. Untuk membuktikan bahwa memang sudah tidak ada makanan, Draupadi mengajak Krishna ke dapur untuk melihat sendiri. Krishna melihat ada kerak nasi dan sisa sayur lekat di dasar tempurung. Setelah Krishna makan kerak nasi dan sisa sayur itu, Draupadi berkata, “Aku malu, belum sempat membersihkan alat-alat dapur.”

Kemudian Krishna menyuruh Bhima menjemput Resi Durwasa dan mengatakan bahwa makanan telah siap. Tetapi Bhima bingung, sebab ia tahu tak ada lagi makanan untuk Resi Durwasa dan pengikutnya. Mungkin resi itu akan marah dan merasa dihina. Tetapi, Bhima selalu patuh kepada Krishna. Meskipun hatinya cemas, ia tetap pergi menjemput Resi Durwasa untuk menyampaikan pesan Krishna. Mendengar bahwa Krishna ada di situ, Resi Durwasa dan pengikutnya merasa bersyukur dan senang. Tiba-tiba saja rasa lapar mereka hilang. Selesai membersihkan badan, mereka berduyun-duyun menemui Krishna dan bersujud menyembahnya.

Berkatalah Resi Durwasa, “Kami datang kemari untuk meminta makan kepada Yudhistira. Tetapi Engkau, Yang Kami Muliakan, ada di sini dan itu menyebabkan kami tidak lapar lagi. Kami bahagia. Restui dan berkatilah kami, oh putra Basudewa!”

Mereka lalu mohon diri untuk pulang. Resi Durwasa dan pengikutnya menganggap Krishna sebagai Sang Pembimbing Yang Maha Bijaksana. Mereka bersyukur bisa bertemu denganNya dan karena itu tidak merasa lapar lagi. Itulah makna sabda Batara Surya kepada Dharmaputra, bahwa dalam keadaan apa pun dharma akan selalu bersama Yudhistira, memberi petunjuk dan menguatkan imannya dalam menghadapi penderitaan dan kesengsaraan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s