Mahabharata 32 – Kedaulatan Negeri Matsya Dipertaruhkan


arjuna-in-battle-of-virataSairandri dan Pangeran Uttara

Uttara meninggalkan ibukota Negeri Matsya dengan kereta yang dikemudikan Brihannala. Ia memerintahkan sais itu memacu kuda sekencang-kencangnya ke arah balatentara Kaurawa. Jauh di kaki langit tampak sebaris titik, memanjang, melingkar-lingkar, diselimuti debu yang mengepul ke angkasa. Itu pasti pasukan Kaurawa dalam jumlah besar.

Makin dekat makin jelas sosok mereka. Mula-mula tampak kereta-kereta yang dinaiki Bhisma, Drona, Mahaguru Kripa, Duryodhana dan Karna. Melihat rombongan Kaurawa, hati Uttara tiba-tiba menjadi kecut. Dia menyuruh Brihannala melambatkan keretanya. Uttara sangat ketakutan. Mulutnya terasa kering, bulu romanya berdiri, dan keringat dingin mengucur dari dahinya. Tangan dan kakinya gemetar. Ia menutupi matanya dengan kedua tangannya dan berkata lirih kepada Brihannala, “Bagaimana mungkin aku sendirian melawan musuh sebanyak itu? Aku tidak membawa pasukan. Semua prajurit dibawa ayahku ke selatan. Tidak mungkin aku melawan kesatria-kesatria yang termasyhur ahli berperang itu. Brihannala, berbaliklah! Kita pulang.”

Brihannala menjawab, “Tuanku, engkau berangkat dengan semangat berapi-api hendak menghancurkan musuh. Permaisuri, penghuni istana dan rakyat mempercayakan nasib mereka kepadamu. Sairandri memuji-muji aku dan membuat engkau mengangkatku menjadi saismu. Kalau  kita kembali sekarang, tanpa merebut ternak kita yang dirampas musuh, kita akan ditertawakan. Aku tidak akan membelokkan kereta ini. Mari kita maju terus dan bertempur! Jangan gentar!”

Uttara berkata dengan gugup, “Aku tidak mau, aku tidak mau! Biarlah Kaurawa merampas ternak kita, biarlah perempuan-perempuan menertawakan aku, aku tidak peduli. Apa gunanya melawan musuh yang jauh lebih kuat dan lebih besar jumlahnya? Itu namanya tolol! Belokkan kereta! Kalau tidak, aku akan meloncat turun dan pulang dengan berjalan kaki.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Uttara membuang senjata-senjatanya sambil meloncat turun dari kereta. Rasa takut melihat kekuatan musuh mencekam jiwanya dan membuatnya panik. Ia lari kalang kabut, kembali ke ibu kota.

Brihannala mengejar Uttara sambil memanggil-manggil agar pangeran itu berbuat sebagai kesatria. Rambut panjang dan pakaian Brihannala melambai-lambai ditiup angin kencang. Uttara makin mempercepat larinya. Akhirnya pangeran itu terkejar juga. Uttara meminta agar Brihannala membiarkannya pulang. Continue reading Mahabharata 32 – Kedaulatan Negeri Matsya Dipertaruhkan

Advertisements

Mahabharata 31 – Hidup dalam Penyamaran


abilawa

“W ahai Brahmana yang budiman, tahun ketiga belas masa pengasingan kami telah tiba. Kini tiba waktunya untuk berpisah. Selama dua belas bulan mendatang kami harus hidup tanpa diketahui dan dikenali oleh matamata Duryodhana. Kami tidak tahu, kapan kita bisa bertemu lagi tanpa sembunyi-sembunyi dan dalam keadaan bebas dan damai. Sekarang, sebelum berpisah, kami mohon restumu. Doakan kami, semoga kami terhindar dari pengkhianatan orang-orang pengecut yang menginginkan hadiah dari Duryodhana,” kata Yudhistira kepada Resi Dhaumya yang setia menyertai Pandawa dalam pengasingan. Pangeran itu tak dapat menahan rasa harunya. Suaranya bergetar dan wajahnya sedih.

Resi Dhaumya menghibur, “Berpisah memang berat. Bahaya dan malapetaka akan bertambah banyak dan bertambah besar. Tetapi, engkau orang yang bijaksana dan terlatih, tak dapat digoyahkan atau digertak musuh. Menyamarlah! Setelah dikalahkan raksasa, Batara Indra hidup menyamar sebagai brahmana dan tinggal di Negeri Nishada tanpa diketahui atau dikenali oleh siapa pun. Setelah menjalani penyamaran dengan baik, Batara Indra dikaruniai kemampuan untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Demikian pula Batara Wishnu yang menyamar menjadi bayi Aditi untuk merampas kembali kerajaannya dari Maharaja Bali. Batara Narayana menyamar masuk ke dalam senjata Indra untuk menghancurkan Writa, raja raksasa yang kejam. Batara Wishnu pernah menyamar menjadi anak Dasaratha agar dapat memusnahkan Rahwana. “Demikianlah, banyak dewa dan kesatria agung di jaman dulu yang menyamar demi tujuan yang baik dan luhur. Engkau pun hendaknya demikian, menyamar, menghancurkan musuh-musuhmu dan memenangkan kemakmuran bagi saudara-saudara dan rakyatmu.”

Akhirnya Yudhistira berpisah dengan Resi Dhaumya. Semua pengikut Pandawa diminta kembali ke negeri masing-masing. Kemudian ia mengumpulkan saudara-saudaranya di suatu tempat tersembunyi untuk membicarakan langkah-langkah yang akan mereka tempuh. Pertemuan itu sangat rahasia, sebab jika sampai ketahuan oleh Kaurawa, mereka harus menjalani pengasingan selama dua belas tahun lagi.

Yudhistira berkata kepada Arjuna, “Dua belas tahun sudah kita jalani dengan selamat. Di tahun ketiga belas ini, kita harus hidup menyamar. Di antara kita, engkau yang punya pengalaman paling banyak dan engkau pula yang mengetahui keadaan dunia. Menurut pendapatmu, negeri manakah yang paling cocok untuk tempat tinggal kita?”

“Kakanda Raja, engkau telah direstui Batara Yama. Menurutku, tak sulit bagi kita untuk mencari tempat persembunyian. Banyak negeri yang baik untuk tempat bersembunyi, misalnya Panchala, Matsya, Salwa, Wideha, Bhalika, Dashrana, Surasena, Kalingga dan Magadha. Terserah padamu, mana yang akan dipilih. Tetapi, jika kau minta pendapatku, Matsya, negeri Raja Wirata, adalah pilihanku,” jawab Arjuna. Continue reading Mahabharata 31 – Hidup dalam Penyamaran

Mahabharata 30 – Telaga Ajaib


 Yudhistira_and_Yaksha

Tahun pengasingan yang kedua belas sudah hampir berakhir. Pandawa berunding, mencari cara untuk melewatkan tahun ketiga belas tanpa dikenali siapa pun. Ketika itu, datanglah seorang brahmana meminta bantuan mereka untuk menangkap seekor menjangan yang melarikan pedupaannya.

Demikianlah kisahnya.

Seekor menjangan datang mendekati pedupaan milik sang brahmana. Mungkin karena gatal atau mungkin karena kedinginan, ia menggosok-gosokkan badannya pada pedupaan itu. Brahmana yang melihat itu, segera menghalaunya. Menjangan itu terlonjak kaget, lalu berlari menjauh. Pedupaan itu tersangkut pada tanduknya dan terbawa lari.

“Wahai Pandawa, menjangan itu membawa lari pedupaanku. Tolonglah aku, aku tidak mampu mengejar menjangan itu,” kata brahmana itu kepada Yudhistira.

Pandawa kemudian memburu menjangan itu beramai-ramai dan mengepungnya dari berbagai arah. Tetapi, rupanya itu bukan sembarang menjangan. Ia terus berlari menjauh dan selalu berhasil lolos dari kepungan. Tanpa sadar Pandawa telah jauh masuk ke dalam hutan dan menjangan itu seakan hilang ditelan rimba raya. Pandawa yang lelah menghentikan pengejaran dan beristirahat di bawah sebatang pohon beringin hutan yang rindang.

Nakula mengeluh, “Alangkah merosotnya kekuatan kita sekarang. Menolong seorang brahmana dalam kesulitan sekecil ini saja kita tidak bisa. Bagaimana dengan kesulitan yang lebih besar?”

“Engkau benar. Ketika Draupadi dipermalukan di depan orang banyak seharusnya kita bunuh saja manusia-manusia kurang ajar itu! Tetapi… kita tidak berbuat apa-apa. Dan sekarang inilah akibatnya,” kata Bhima sambil memandang Arjuna.

Dengan sikap membenarkan, Arjuna berkata, “Ya benar, aku juga tidak berbuat apa-apa ketika dihina oleh anak sais kereta itu. Inilah upahnya sekarang!”

Yudhistira merasakan kesedihan hati saudara-saudaranya. Mereka kehilangan semangat juang mereka. Untuk melengahkan pikiran, ia berkata kepada Nakula, “Adikku, panjatlah pohon itu. Lihatlah baik-baik, barangkali di dekat-dekat sini ada sungai atau telaga. Aku haus sekali.”

Nakula naik ke pohon yang tinggi. Setelah melihat sekelilingnya, ia berteriak, “Di kejauhan kulihat ada air tergenang dan burung-burung bangau. Mungkin itu telaga!”

Yudhistira menyuruhnya turun dan pergi mengambil air. Nakula pergi dan memang menemukan sebuah telaga. Karena sangat haus, ia berpikir untuk minum dulu sebelum membawakan air untuk saudara-saudaranya. Baru saja ia hendak mencelupkan tangannya ke dalam air, tiba-tiba terdengar suara, “Janganlah engkau tergesa-gesa. Telaga ini milikku, hai anak Dewi Madri! Jawablah dulu pertanyaanku! Jika kau bisa menjawab, barulah kau boleh minum.” Continue reading Mahabharata 30 – Telaga Ajaib

Mahabharata 29 – Duryodhana yang Haus Kekuasaan


04 Mahabharat Duryodhan_

Dritarastra tampaknya hidup tenang dan bahagia di istana Hastinapura. Tetapi, sebenarnya ia selalu memikirkan akibat dari pertentangan antara anak-anaknya dan Pandawa. Apakah Yudhistira akan selalu bisa meredakan amarah Bhima yang mudah menggelegak dengan alasan-alasan yang bisa diterimanya? Dritarastra juga cemas memikirkan kebencian Pandawa yang dipendam bagai air dalam bendungan, sewaktu-waktu bisa bobol dan mengamuk seperti air bah, menghanyutkan segala dan semua.

Kelak, jika Pandawa kembali dari pengasingan, mereka pasti telah semakin kuat dan sakti. Mereka telah menempuh bermacam-macam cobaan hidup selama tiga belas tahun mengembara. Waktu yang cukup lama untuk membuat manusia matang pengalaman. Sementara itu, Sakuni, Karna, Duhsasana dan Duryodhana hidup bergelimang kekuasaan dan menjadi lupa daratan.

Itulah yang selalu membuat hati Dritarastra risau.

Pada suatu hari, Karna dan Sakuni berkata kepada Duryodhana, “Kerajaan yang tadinya ada di tangan Yudhistira kini menjadi milik kita. Kita tidak perlu lagi iri kepadanya.”

Duryodhana menjawab, “Oh Karna, itu betul. Tetapi alangkah nikmatnya kalau aku dapat melihat penderitaan Pandawa dengan mata kepalaku sendiri. Kita hina mereka dengan memperlihatkan kesenangan dan kebahagiaan kita kepada mereka. Kita harus pergi ke hutan untuk melihat bagaimana kehidupan mereka di pembuangan.”

Sebelum menjalankan rencananya, Duryodhana sudah kesal karena yakin ayahnya pasti takkan mengijinkannya. Ia berkata lagi,

“Tapi Ayahanda pasti tidak akan mengijinkan. Ayahanda takut pada Pandawa, sebab mereka dianugerahi kesaktian oleh para dewata selama dalam pertapaan dan penyucian diri. Ayahanda pasti melarang kita pergi ke hutan untuk melihat dan mengolok-olok mereka. Ah, kesenangan ini kurang memuaskan kalau kita tak bisa melihat penderitaan Draupadi, Bhima dan Arjuna. Bukankah hidup tanpa kepuasan berarti hidup dalam siksaan? Sakuni dan engkau, Karna, harus berusaha agar Ayahanda mengijinkan kita pergi.”

Keesokan harinya Karna datang menemui Duryodhana dengan wajah berseri-seri. Katanya, “Bagaimana pendapatmu kalau kita minta ijin pergi ke Dwaitawana, ke ladang dan padang penggembalaan ternak kita? Baginda pasti tidak keberatan. Dari sana, sambil berburu, kita bisa meneruskan rencana kita.” Continue reading Mahabharata 29 – Duryodhana yang Haus Kekuasaan

Mahabharat 28 – Pertemuan Dua Kesatria Perkasa


bhima and hanuman

Ketidakhadiran Arjuna di samping mereka, menyebab-kan Draupadi, Bhima dan Sahadewa sering mengeluh. Draupadi merasa bahwa hutan Kamyaka tidak menarik lagi tanpa kehadiran Arjuna, Bhima merasa tidak tenang dan Sahadewa mengusulkan agar mereka pindah ke hutan lain karena di hutan itu terlalu banyak kenangan akan Arjuna yang saat itu pergi jauh.

Yudhistira berkata kepada Dhaumnya, pendita dan penasihatnya,

“Aku utus Arjuna mendaki Gunung Himalaya, mencari senjata pamungkas yang sakti untuk menaklukkan Bhisma, Drona, Kripa dan Aswatthama. Kita tahu, para mahaguru itu pasti memihak putra-putra Dritarastra. Karna tahu rahasia semua senjata sakti dan keinginannya yang terutama adalah bertanding melawan Arjuna dan mengalahkannya. Karena itu, aku utus Arjuna menghadap Batara Indra untuk memohon senjata pamungkas darinya. Kita tahu, kesatria-kesatria Kaurawa tidak bisa ditundukkan dengan senjata biasa.”

“Arjuna telah lama pergi dan kini hutan ini terasa menjemukan. Kami ingin pergi ke hutan lain untuk menenangkan pikiran dan meredakan kegelisahan kami karena Arjuna tak kunjung pulang. Apakah Pendita dapat menyarankan, ke mana sebaiknya kita pergi?”

Resi Dhaumnya memberi gambaran tentang hutan-hutan dan tempat-tempat suci lainnya. Setelah mempersiapkan diri, Pandawa pergi ke hutan lain untuk melewatkan hari-hari yang harus mereka jalani selama masa pengasingan. Mereka mengembara, keluar-masuk hutan, menjelajahi padang-padang rumput, dan akhirnya sampai ke kaki Gunung Himalaya yang tertutup hutan lebat dengan jurang-jurang dalam dan lembah-lembah sempit.

Pada suatu hari, Draupadi terlalu letih setelah berjalan berhari-hari. Ia tak sanggup melangkahkan kaki lagi. Yudhistira yang melihatnya menyuruh Bhima, Sahadewa dan Gatotkaca, putra Bhima, untuk menemani Draupadi beristirahat di Ganggadwara. Dia sendiri akan meneruskan perjalanan bersama Resi Lomasa dan Nakula.

Bhima tidak setuju dengan usul itu karena ia sangat merindukan Arjuna. Kecuali itu, tidak dapat membiarkan Yudhistira pergi hanya bertiga, menembus hutan lebat yang dihuni raksasa, binatang buas dan makhluk-makhluk jahat lainnya. Meskipun perjalanan mereka akan semakin berat, Bhima berkata bahwa ia dan Gatotkaca masih sanggup memikul Draupadi, Nakula dan Sahadewa. Akhirnya diputuskan untuk menjelajahi hutan itu bersama-sama, apa pun yang terjadi.

Demikianlah Pandawa meneruskan perjalanan menembus hutan sampai tiba di Kulinda, di wilayah Kerajaan Subahu, di kaki Gunung Himalaya. Pandawa disambut dengan penuh penghormatan oleh Raja Subahu dan beristirahat beberapa hari di negeri itu. Kemudian mereka meneruskan perjalanan masuk ke hutan Narayansrama. Di dalam hutan itu mereka berhenti untuk beristirahat beberapa hari.

Pada suatu hari, angin bertiup kencang dari timur laut, membawa bunga-bunga, daun-daunan dan ranting-ranting kering. Tiba-tiba sekuntum kembang yang terbawa angin jatuh di pangkuan Draupadi. Bunga itu menebarkan keharuman yang lembut menawan hati.

Draupadi memanggil Bhima dan berkata, Continue reading Mahabharat 28 – Pertemuan Dua Kesatria Perkasa