SAAT PERTAMA KALI NONTON KI NARTO SABDHO


KNS 1

Peristiwa ini, terjadi pada tahun 1966, di kota Sala-Tiga, sekitar awal bulan Juli. Hari tepatnya saya sudah lupa, tetapi yang saya ingat adalah dalam rangka merayakan ulang tahun POLRI, dan dilakukan di halaman kantor markas kepolisian Kota Sala-Tiga. Saat itu saya masih anak-anak. Baru duduk di kelas dua, SMP. Jalan raya di dekat markas kepolisian itu, merupakan salah satu jalan raya yang secara rutin saya lewati jika saya hendak pergi ke sekolah, atau pulang dari sekolah. Saya sekolah di SMP Negeri 1, Sala-Tiga, yang lokasinya di Jl. Kartini. Sedangkan tempat tinggal saya, di Jl. Karang Gendhong, atau bagi penduduk Kota Sala-Tiga, lebih sering disebut Jl. Solo. Kalau dari arah kota ke arah selatan, pas di tanjakan pertama, di depan komplex perumahan tentara, yang oleh penduduk entah karena apa, sering disebut ‘Tangsi Bambu’. Saya dan orang-tua saya, tinggal di komplex perumahan pegawai PN Perhutani.

Siang itu, sekitar jam setengah satu, saya seperti biasa pulang sekolah melewati jalan raya di samping markas kepolisian. Di sebelah markas polisi itu, ada lapang sepak bola. Saat melewati jalan raya yang saat itu sepi, tak terlalu banyak kendaraan yang lewat, saya melihat di halaman depan kantor markas polisi itu sudah didirikan ‘tarub’, yaitu bangunan sementara, yang atapnya dari kain terpal tebal. Bangunan tarub itu berukuran besar sekali. Di depan ‘tarub’, dari kejauhan terlihat ada truk-truk besar yang parkir. Sejumlah orang terlihat sedang membongkar muatan truk-truk itu. Entah kenapa, saya tertarik untuk melihat. Karena itu, saya lalu berjalan ke arah halaman kantor markas kepolisian itu dan tidak jadi pulang. Ternyata truk-truk besar itu memuat gamelan dan kotak wayang. Beberapa orang terlihat sedang menurunkan gamelan yang kelihatan berat, dari atas bak truk. Belakangan saya baru tahu, bahwa semua gamelan, kelir wayang, dan wayang kulit yang akan digunakan untuk pagelaran wayang nanti malam, adalah milik Pak Narto Sabdho.

Di bangunan ‘tarub’ itu, terlihat sebuah ‘kelir’ (layar wayang kulit) berukuran besar dan panjang sudah dipasang, lengkap dengan ‘gedebog’-nya (batang pohon pisang), yang nantinya akan digunakan untuk menancapkan wayang. Tetapi wayang kulit-nya belum ada yang di-‘simping’. Saya, dari kejauhan melihat, panggung gamelan sudah selesai dibuat dan sudah selesai pula diberi lapisan kain terpal. Tinggal memasang tikar, sebagai alas duduk para ‘nayaga’. Masih beberapa saat, saya memperhatikan berbagai kegiatan mempersiapkan pagelaran wayang itu. Dari orang yang sedang bekerja di tarub itu, saya mendapat keterangan, bahwa dhalang yang nanti malam mau ‘manggung’ adalah Ki Narto Sabdho dari Semarang, yang saat itu sudah mulai dikenal sebagai dhalang kondang. Saat mendengar informasi itu, saya jadi tercengang. Jadi…., yang nanti malam main, adalah Pak Narto Sabdho….? Waaaa…. saya belum pernah menyaksikan pagelarannya. Selama ini, saya hanya mendengar cerita dari beberapa orang, yang menyampaikan bahwa beliau merupakan dhalang yang bagus. Selain itu, saya juga hanya mendengar pagelarannya lewat pesawat penerima radio gelombang pendek, khususnya lewat siaran RRI Semarang, di gelombang radio 75 meter. Meskipun pada saat itu sudah ada TVRI, tapi pada waktu itu tidak pernah ada programa siaran televisi yang menampilkan pagelaran Pak Narto Sabdho…

Beberapa saat, saya masih berkeliling dan berkeliaran di sekitar tempat persiapan pagelaran itu, sambil menenteng tas sekolah. Saat itu, saya satu-satunya ‘anak kecil’ di situ. Beberapa orang anggauta polisi memperhatikan para pekerja yang sedang mempersiapkan penataan gamelan. Semuanya masih berantakan. Sejumlah besar tikar berukuran besar, sudah mulai digelar di atas hamparan terpal. Hari masih siang. Udara saat itu panas sekali, khas terik di bulan Juli. Matahari terasa menyengat. Di bawah naungan atap tarub besar itu, udara terasa tak terasa panas. Angin yang bertiup siang itu, membuat suasana menjadi lebih nyaman. Di luar halaman kantor markas kepolisian itu, terlihat para pedagang kaki lima mempersiapkan tenda-tenda kecil, untuk berdagang nanti malam. Semakin lama, suasananya semakin ramai saja. Dalam waktu dua jam, banyak sekali pedagang kaki lima yang mempersiapkan dagangannya di luar halaman kantor markas kepolisian itu. Saya masih berlama-lama di sana, dan merasa enggan untuk pulang. Jam besar yang terlihat dipasang di atas dinding kantor markas kepolisian, menunjuk pukul setengah tiga siang.  Pagelaran kan masih lama. Masih nanti malam. Jadi, akhirnya saya memutuskan pulang ke rumah. Saya berjalan melintasi Jalan Kotamadya, yang siang itu terasa sepi dan panas. Kota Sala-Tiga sebenarnya berada di wilayah pegunungan, pada ketinggian rata-rata sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Jadi, udara malam di kota ini relatif dingin. Malam nanti, pasti udaranya terasa dingin sekali, apalagi ini musim kemarau. Bulan Juli, tepat pada puncak kemarau, yang jelas pada malam hari nanti, pasti dingin sekali. Begitu pikir saya sambil berjalan pulang. Tak terasa saya sudah sampai di pertigaan Jalan Solo. Tinggal berjalan ke arah selatan, menyusuri Jalan Solo, lalu menanjak sejauh tiga-ratus meter, dan sampailah ke rumah.

Di rumah, segera setelah saya mengganti pakaian seragam sekolah, Ibu saya bertanya: “Engkau kelihatan tak biasa. Biasanya, engkau membiarkan diri memakai pakaian seragam sekolah selama berjam-jam setelah pulang sekolah. Sekarang, kenapa tiba-tiba engkau seperti sedang bersiap-siap mau pergi. Ada apa…?” Saya lalu menceritakan, tentang adanya pagelaran wayang nanti malam di halaman kantor markas kepolisian Salatiga. Ibu saya, sambil tersenyum berkata: “Jadi…., engkau nanti malam mau nonton….?” Saya menjawab dengan menganggukkan kepala. “Baiklah. Kalau begitu, sekarang engkau makan dulu saja yang banyak. Lalu, siapkan pakaianmu sekarang. Siapkan juga sarung batik kesukaanmu. Jangan lupa, siapkan juga ikat kepala dan syaal ya…. Nanti malam, pasti dingin sekali. Ini bulan Juli lo. Puncak kemarau. Jadi pasti dingin sekali. Coba periksa, apakah baju tebalmu sudah kering dan sudah diseterika atau belum. Nanti malam, engkau pakai celana panjang saja ya, supaya kakimu tidak kedinginan….” Siang itu, ibu saya jadi ikut sibuk. Ikut mempersiapkan segala macam keperluan yang nanti malam saya perlukan untuk acara nonton wayang kulit purwa. Tak terasa, waktu berlalu dengan cepat…..

Matahari telah menuju peraduannya. Selewat magrib, sisa-sisa berkas cahaya matahari menghasilkan tebaran warna merah di angkasa. Terlihat berkas semburat merah tua semu jingga. Angkasa tampak bagai terbakar di musim kemarau itu. Sisa-sisa panasnya, sudah lenyap. Udara sudah mulai menebarkan rasa dingin. Malam Minggu ini, saya berjalan cepat-cepat menuju tempat pagelaran. Serasa tak sabar dan ingin cepat sampai saja. Bercelana panjang tebal dengan kaos tebal dirangkap baju tebal. Saya masih melengkapi diri dengan berkalung sarung batik. Di leher, dililitkan sebuah syaal tebal pemberian ibu saya. Lalu, kepala saya tertutup ikat kepala, juga bermotif batik. Sebenarnya, kelengkapan pakaian itu, juga selalu saya pakai, jika saya berangkat berlatih menabuh gamelan ke tempat guru karawitan saya, ke desa Karang-Pete. Bedanya, kalau pergi ke tempat latihan karawitan, di desa Karang-Pete, saya melewati tempat-tempat yang gelap gulita dan melewati kuburan. Sedangkan kalau menuju tempat pagelaran wayang kulit ini, saya melewati pusat kota Sala-Tiga, yang pada saat malam hari terasa relatif ramai oleh lalu-lalang orang berjalan kaki, kendaraan, juga kendaraan tradisional ‘dokar’ yang ditarik kuda. Selain itu, suasana sepanjang perjalanan juga terang-benderang oleh cahaya lampu listrik. Tak berapa lama, saya sudah melewati Toko Tegal, sebuah toko yang menjual berbagai jenis roti. Lalu, melewati Gedung Makuta-Rama, sebuah gedung pertemuan besar milik militer di Kota Sala-Tiga, yang biasanya disewa oleh masyarakat, untuk melakukan pesta-pesta pernikahan. Sampai di situ, saya sudah mencapai setengah jarak jalan, untuk sampai ke tempat pagelaran. Saya memakai sebuah sandal kulit yang agak tebal. Meskipun saat itu musim kemarau, tapi karena saya tak memakai kaos kaki, maka saya merasa dingin juga. Berjalan ke arah utara selama beberapa waktu, lalu belok kiri masuk ke Jalan Kotamadya. Itu jalan menuju ke tempat pagelaran….

Di ujung Jalan Kotamadya, saat saya melihat ke arah kantor markas kepolisian, terlihat pemandangan yang terlihat benar-benar mencengangkan. Beberapa saat, saya terpesona oleh pemandangan yang tampak. Bangunan tarub besar itu, tampak bersinar terang dengan hiasan cahaya lampu warna-warni. Dari kejauhan, tampak cemerlang mempesona. Tampak beberapa umbul-umbul dari batang bambu panjang yang melengkung ujungnya. Pada batang bambu itu, diikatkan potongan kain warna-warni. Juga ada umbul-umbul yang dihias dengan daun janur. Pada ujung bambu yang melengkung, digantungkan sejumlah hiasan janur berbentuk bunga besar. Saat terkena angin, hiasan bunga dari janur yang berukuran cukup besar itu, bergoyang-goyang. Sejumlah umbul-umbul itu membuat suasana di sekitar tempat pagelaran menjadi sangat semarak. Pemandangannya tampak sangat berbeda dengan saat saya melihatnya tadi siang. Sepasang umbul-umbul besar berhias daun janur, diletakkan saling berhadapan, tepat di pintu masuk ke arah tarub besar. Seakan, keduanya membentuk gerbang besar selamat datang. Di seluruh bangunan tarub, dari ujung ke ujung lainnya, dari sudut yang satu ke sudut lainnya, digantungkan hiasan untiran kertas berwarna merah dan putih. Saat terkena tiupan angin, untiran pita kertas berwarna merah dan putih ini seperti bergerak-gerak dan berlari ke sana ke mari.

Panggung gamelan yang digunakan, sama sekali tidak tinggi. Hanya sekitar 20 cm kira-kira. Dibuat dari papan kayu. Diatasnya tadi siang sudah ditutup memakai kain terpal tebal. Lalu, di atasnya dihamparkan lembar-lembar tikar tebal dan luas. Di atas hamparan tikar itu diletakkan ricikan gamelan. Di bagian paling depan, tepat di depan ‘kelir wayang’ (layar wayang), ada panggung tambahan yang diletakkan di atas panggung gamelan. Juga setinggi kira-kira 20 cm. Di belakang dan di depan panggung gamelan itu, digelar terpal tebal luas sekali. Di atas hamparan terpal tebal itu, diletakkan hamparan tikar-tikar tebal, yang rupanya dipasang sedemikian rupa, sehingga membentuk pola kotak-kotak teratur. Setiap hamparan tikar besar itu, berfungsi sebagai tempat duduk bagi para penonton. Pada hamparan tikar yang paling depan, yakni yang paling dekat dengan panggung gamelan dan kelir wayang; diletakkan deretan meja -meja pendek. Bentuknya empat persegi panjang, ukurannya sekitar 40 x 120 cm. Meja-meja ini, tingginya hanya sekitar 30 cm. Bagian atas meja-meja ini, ditutup dengan taplak bermotif batik. Taplak meja ini diletakkan pada posisi diagonal, sehingga ujung-ujung taplak yang berbentuk kotak itu menjurai ke bawah. Pada setiap meja, di bagian tengahnya, diletakkan ‘seperangkat’ kelengkapan merokok yang terdiri dari satu atau dua buah asbak, beberapa buah kotak korek api batang kayu, dan sejumlah gelas minum, yang masing-masing penuh berisi campuran berbagai jenis rokok. Ada rokok sigaret keretek, rokok putih, rokok kretek yang memakai daun jagung sebagai pembungkus tembakaunya, dan tentu saja tak ketinggalan rokok ‘klembak menyan’ yang ukuran batangnya super besar; yang lebih terkenal dengan sebutan ‘rokok siong’. Begitulah penyanjian rokok pada pagelaran wayang di pedalaman. Sejumlah lampu pijar berdaya cukup besar (mungkin berdaya sekitar 75 watt atau 100 watt) digantungkan di seluruh bagian bangunan tarub besar itu. Jadilah seluruh bagian ruang dalam bangunan tarub itu terang benderang.

‘Kelir wayang’ yang berukuran extra panjang itu, pada bagian sisi kiri dan kanannya, sudah berisi pajangan ‘simpingan wayang’. Dua gunungan, sudah dipancangkan berhimpitan, tepat di tengah-tengah ‘kelir’. Bentangan simpingan wayang di sisi kiri dan kanan ‘kelir wayang’, tampak memanjang anggun sepanjang kira-kira tiga meter pada setiap sisinya. Pada ujung-ujung terjauhnya, ditancapkan wayang yang berukuran paling besar. Dua buah wayang ‘tiwikrama’ yang ukuran tingginya masing-masing sekitar semeter (mungkin lebih), dipasang tepat di kedua ujung simpingan wayang; seakan mengakhiri pandangan mata kita. Dari kejauhan, simpingan wayang itu terlihat sangat anggun. Kotak wayang, lengkap dengan ‘keprak’-nya sudah berada di tempatnya. Di sebelah kanan kotak wayang itu, terlihat ada sebuah alas duduk berbentuk seperti bantal kecil berukuran sekitar 60 x 60 cm, dengan ketebalan sekitar 6 – 8 cm. Urung bantal kecil ini berwarna merah. Sama dengan warna gamelan yang digunakan. Di sisi kanan alas duduk dhalang, diletakkan sejumlah tumpukan ‘eblek’ tempat wayang, yang dibuat dari bambu dengan kain berwarna merah sebagai penutupnya. Tepat di atas tenpat duduk ‘dhalang’, dipasang lampu berdaya besar, lengkap dengan perisai penutup dari lembar logam. Pada masa lampau, digunakan ‘blencong’, yaitu lampu obor minyak berukuran besar, yang menghasilkan nyala terang. Tapi, rupanya masa itu sudah berlalu. Jadi, ‘blencong’ lalu diganti menggunakan lampu listrik berdaya besar. Kalau melihat ukuran lampu pijarnya dan cahaya yang diihasilkan, mungkin lampu itu berdaya sekitar 200 – 300 watt. Lampu dhalang itu sudah dinyalakan. Begitu juga semua lampu penerangan di dalam bangunan tarub itu.

Jika kita melihat ke arah panggung gamelan, maka segera terlihat pada ujung sisi paling kiri panggung diletakkan ricikan kempul dan gong. Ricikan ini, amat sangat mencengangkan saya, karena selama ini saya belum pernah melihat ricikan kempul, gong suwukan, dan gong ageng; yang dipasang menggunakan empat buah ‘gayor’ berukuran besar. Padahal pada masa itu, saya termasuk sering ikut nabuh gamelan, mengiringi pagelaran wayang kulit purwa, wayang wong, atau pagelaran ‘klenengan’. Pada keempat buah gayor gong itu, dua buah gayor digunakan untuk menggantungkan seluruh ricikan kempul, gong suwukan, dan going ageng laras slendro. Lalu, dua buah gayor lainnya, digunakan untuk menggantungkan seluruh ricikan kempul, gong suwukan, dan going ageng laras pelog. Saat melihat susunan ricikan kempul, gong suwukan dan gong ageng itu, saya benar-benar terpesona. Itu belum mendengar bunyinya. Baru melihat bentuk fisiknya saja sudah mempesona dan membuat tercengang. [1] Deretan ricikan gamelan ageng, dipasang berderet rapi dari sisi kiri panggung sampai pada sisi kanan panggung. Di sisi depan ujung kiri kelir wayang, diletakkan pasangan ricikan kenong, yang ukuran fisiknya besar. Sebagai lawannya, di ujung paling kanan kelir wayang, diletakkan tiga buah ricikan gambang kayu; masing-masing berlaras slendro (menghadap ke depan), lalu gambang kayu laras pelog barang (menghadap ke arah kiri, ke arah dhalang), dan gambang kayu laras pelog bem (menghadap ke arah kanan, membelakangi posisi dhalang). Tepat di belakang tempat duduk dhalang, ditempatkan ricikian gender pambarung (gender barung) laras slendro. Di sebelah kanan dan kirinya, dalam susunan seperti huruf U, diletakkan ricikan gender pambarung laras pelog bem dan pelog barang. Di sebelah kiri ricikan gender pambarung, diletakkan pasangan gender panembung atau ‘slenthem’. Gender panembung yang berlaras slendro menghadap ke arah depan. Sedangkan gender panembung yang berlaras pelog menghadap ke arah kanan. Di sebelah kiri ricikan gender panembung, diletakkan dua pasang ricikan demung atau saron panembung berukuran besar. Posisi peletakkannya, sama dengan ricikan gender panembung. Di sebelah kanan ricikan gender pambarung, diletakkan pasangan ricikan gender penerus. Posisi peletakannya sama dengan ricikan gender barung. Pada ujung belakang sisi kanan, dipasang dua pasang ricikan bonang; masing-masing sepasang ricikan bonang pambarung berlaras slendro dan pelog, serta sepasang ricikan bonang penerus berlaras slendro dan pelog. Pada posisi agak jauh di belakang, diletakkan sejumlah ricikan saron panembung (demung), ricikian saron pambarung, ricikan saron racik wayangan, dan ricikan saron penerus (peking). Di sebelah kanan ricikan gender penerus, diletakkan ricikan rebab, lalu diikuti dengan ricikan siter.

Tepat di tengah-tengah, di belakang tempat kedudukan ricikan gender pambarung, diletakkan sejumlah kendhang. Ada sekitar sambil sampai sepuluh buah ricikan kendhang berbagai ukuran. Saat melihat jumlah kendhang yang sebegitu banyak, saya tercengang. Biasanya, jika saya ikut mengiringi pagelaran wayang kulit purwa, jumlah kendhang yang digunakan hanya sedikit. Paling banter hanya menggunakan kendhang sabet wayangan, kendhang kosek wayangan, kendhang bem (kendhang ageng), kendhang ciblon (kendhang batangan), dan kendhang kecil (kendhang ketipung). Kendhang kosek wayangan dan kendhang sabet wayangan, biasanya malah menggunakan salah satu saja. Kendhang ini, menghasilkan suara tepakan berat dan keras. Biasanya, kendhang sabet wayangan digunakan untuk adegan perang pada waktu Pathet Nem dan Pathet Manyura. Kendhang sabet wayangan, seringkali juga difungsikan sebagai kendhang kosek wayangan (dengan mengatur kembali suara yang dihasilkan). Meskipun sebenarnya tidak tepat benar, tetapi karena tempat pagelaran biasanya tidak terlampau luas, maka untuk memainkan pola kosek wayangan, biasanya digunakan kendhang sabet wayangan yang diatur kembali tingkat kekencangan lembar membrannya sedemikian rupa, sehingga menghasilkan suara yang tepat untuk permainan berpola kosek wayangan. Jadi katakanlah, untuk permainan berpola kosek wayangan dan sabetan, hanya menggunakan sebuah ricikan kendhang. Kendhang ini, biasanya diletakkan menghadap ke arah depan (ke arah kelir wayang), karena paling sering digunakan. Di sebelah kanannya, diletakkan kendhang ciblon atau kendhang batangan. Kendhang jenis ini biasanya untuk mengiringi adegan perang kembang pada Pathet Sanga, atau untuk mengiringi inggahan gendhing saat pola permainannya menggunakan pola ciblon atau rangkep. Nah, pada sisi kiri, diletakkan kendhang ageng (kendhang bem) dengan sebuah kendhang alit (kendhang ketipung) di depan kendhang ageng itu. Susunan itu, sifatnya disesuaikan dengan kebiasaan sang pemain kendhang. Ada juga yang memasang kendhang ageng, kendhang sabet, dan kendhang ketipung, semuanya bersusun ke arah depan. Lalu di sebelah kanannya dilletakkan kendhang ciblon. Ini merupakan susunan yang boleh dikatakan ‘paling konvensional’. Tapi, pada pagelaran malam itu, ada sekitar sepuluh macam kendhang yang berbeda jenis dan ukuran. Saya sama sekali tak terbayangkan, bagaimana memainkannya. Para pesindhen (waranggana), yang jumlahnya cukup banyak, ada sekitar sembilan orang, ditempatkan tepat di sebelah kanan kanan tempat kedudukan ricikan kendhang. Sedangkan di sisi kiri tempat kedudukan ricikan kendhang, ditempatkan sejumlah wiraswara. Semua pesindhen (waranggana) dan wiraswara, menghadap ke arah depan (menghadap ke arah kelir wayang), dan tidak ada satupun yang menghadap ke arah penonton. [2]

Waktu sudah menunjuk sekitar jam tujuh malam. Tamu-tamu undangan sudah mulai berdatangan. Suasana benar-benar semarak. Saya memilih duduk di atas hamparan tikar, tepat di tengah-tengah. Jadi saya bisa melihat secara jelas ke arah kelir wayang. Bentangan tikar besar itu, secara sengaja rupanya tidak diletakkan rapat, sebaliknya diletakkan dengan diberi jarak sekitar semeter dengan bentangan tikar lainnya, maka penonton bisa meletakkan sepatu atau sandalnya di luar bentangan tikar itu. Suasananya benar-benar menyenangkan. Para penonton yang sudah hadir saling bersalaman dan saling ngbrol di antara mereka. Bau asap rokok kretek khas pedalaman merebak ke mana-mana. Beberapa penonton yang duduk di atas hamparan tikar itu, ada juga yang mulai ‘ngemil’, makan makanan kecil yang dijual para penjaja di sekitar tempat pagelaran. Banyak yang sambil makan kacang tanah rebus. Suasananya benar-benar ramai dan menyenangkan. Di lapang rumput, di bagian depan halaman kantor markas kepolisian itu, sejumlah anak-anak berlarian dengan gembira, mereka sibuk bermain di dekat orang-tuanya. Sementara orang-tuanya menunggu dimulainya pagelaran wayang, sambil memperhatikan anak-anaknya. Ada sejumlah penjaja makanan kecil dan angkringan; yang menjual makanan goreng dan makanan rebus pisang, ubi jalar, ketela, goreng jagung yang lebih dikenal dengan sebutan ‘marning’. Juga ada yang menjual minuman hangat, seperti wedang sekoteng, teh hangat, juga kopi  panas. Di kejauhan, terlihat sekelompok penonton sedang menikmati makanan khas ‘bakmi Jawa’. Ini merupakan bakmi khas Jawa, yang dimasak atau digoreng memakai arang kayu.

Di dekatnya, terlihat sejumlah pedagang mainan anak-anak tradisional, sedang sibuk melayani sejumlah anak yang merengek kepada orang-tuanya, meminta untuk dibelikan mainan. Mainan anak-anak yang dijual, umumnya buatan sendiri (buatan lokal), seperti ‘othok-othok’, yaitu mainan anak yang dibuat dari silinder karton, lalu diberi lembaran kertas tipis di permukaan lubangnya. Silinder karton itu lalu diberi tangkai bambu. Di ujung tangkai bambu itu diikatkan tali kecil pendek. Pada ujung tali itu, diikatkan pemukul kecil dari potongan kayu. Saat batang pemegang diputar memakai tangan, maka pemukul di ujung tali kecil itu akan memukul membran kertas tipis dan menghasilkan bunyi tok tok tok yang keras berulang-ulang. Ada mainan kapal-kapalan, kuda-kudaan kecil, burung-burungan kecil, lalu katak, dan kura-kura yang kalau ditarik tali pengikatnya, di kura-kura kecil itu lalu bisa berlari kencang ke arah depan. Aaah… dunia anak-anak memang menyenangkan. Beberapa penjual balon gas, memajang dagangannya sambil membunyikan terompet yang dibuat dari dua buah balon kecil, dengan peluit di antara kedua balon itu. Bunyinya tot-tet-tot-tet berisik sekali. Tapi, itu semua rupanya membuat anak-anak senang. Mereka berkumpul di sekeliling penjual balon gas itu, sambil merengek kepada orang tuanya, minta dibelikan balon warna-warni itu….

Tidak ada deretan kursi atau sofa yang disediakan bagi para penonton. Semua penonton, baik pejabat tinggi negara, tingkat menengah, maupun tingkat rendahan; baik sipil, kepolisian, atau militer, dan seluruh penonton; semuanya sama-sama duduk ‘lesehan’ bersila di atas tikar tebal itu. Jam gadang yang dipasang di dinding depan bangunan kantor markas kepolisian, menunjukkan sekitar pukul setengah-tujuh malam. Tamu-tamu undangan sudah mulai berdatangan. Suasananya terasa semakin semarak. Para petugas ‘among tamu’ membimbing para tamu undangan itu menuju tempat yang sudah disediakan. Beberapa pejabat kota yang datang sebagai tamu undangan, sibuk melepas sepatu dan kaos kaki, sambil duduk di bentangan tikar. Mereka saling tersenyum dengan tamu lainnya. Kadang mereka juga bersalaman dengan para penonton yang ada di sekitar tempat duduknya. Setelah melepas sepatu dan kaos kakinya, mereka duduk bersila dengan santai dan ngobrol dengan sesama penonton lainnya. Aaah…. suasananya benar-benar hangat, penuh keakraban, semua orang terlihat sangat menikmati malam yang menyenangkan itu. Beberapa pejabat kota yang datang menonton, melingkarkan syaal tebal di lehernya, untuk menahan dingin udara malam. Para pejabat negara, tentara, polisi, pamong-praja, pegawai negeri, dan semua lapisan masyarakat; sama-sama duduk di tempat yang sama, tak ada perbedaan apapun. Semuanya duduk di atas bentangan tikar besar dengan nyaman dan santai. Semuanya saling bertemu dan saling berjabat tangan dengan hangat.

Dari kejauhan, saya melihat para nayaga mulai naik ke panggung gamelan. Mereka menempati tempat masing-masing. Sembilan pesindhen yang malam itu semuanya terlihat cantik-cantik, perlahan-lahan dengan hati-hati melangkah masuk ke dalam panggung gamelan. Begitu juga para wiraswara. Beberapa saat hanya keheningan yang tampak. Tak ada suara apapun. Lalu perlahan terdengar juru rebab membunyikan ricikan rebabnya perlahan. Terdengar ‘senggrengan’ khas suara rebab. Kemudian, terdengar permainan gendhing dimulai dengan diawali suara rebab, dan diakhiri dengan suara gong mengalun berat. Klenengan wayangan-pun dimulailah sekitar setengah tujuh malam. Semuanya terasa semarak. Suara pesindhen dan wiraswara yang melantunkan tembang merdu, seakan membawa suara dari kahyangan. Suaranya gamelan dan semuanya, benar-benar membuat saya terpesona. Memang jauh berbeda, antara menggunakan gamelan biasa, dengan menggunakan gamelan perunggu yang luar biasa ini. Gemanya, suaranya, nadanya, dan segalanya memang sangat berbeda. Saya, malam itu benar-benar menikmati suguhan permainan gendhing wayangan yang diperdengarkan dengan penuh pesona.

Dua-tiga gendhing sudah dilewati, lalu permainan dihentikan. Pembawa acara, kemudian mempersilahkan ketua panitia ulang tahun kepolisian, untuk membacakan sambutannya. Sambutan berikutnya, dilakukan oleh Komandan Polisi, yang malam itu terlihat gagah dengan pakaian dinasnya. Juga tak lupa diucapkan selamat datang kepada seluruh tamu undangan serta penonton. Meskipun malam itu kelihatannya tak ada keharusan untuk memakai pakaian seragam militer atau polisi, tetapi kelihatan cukup banyak tamu yang mengenakan pakaian seragam lembaga resmi masing-masing. Banyak juga pejabat yang datang mengenakan jas lengkap, tetapi tanpa memakai dasi. Beberapa dari mereka, terlihat memakai pakaian safari batik (saat itu belum terlalu tren memakai jas safari batik). Ada juga sejumlah pejabat yang datang menggunakan pakaian tradisional Jawa, gaya Surakarta atau Yogyakarta. Pidato sambutan, terasa hanya singkat dan seperlunya saja. Tak bertele-tele, seperti pidato-pidato pejabat negara jaman sekarang. Kurang dari setengah jam, seluruh acara sambutan sudah selesai. Seluruh penonton bertepuk tangan, saat sambutan pejabat negara terakhir diakhiri.

Tiba-tiba saja, dari tengah-tengah deretan tempat duduk para pejabat negara itu, berdiri seseorang yang menggunakan pakaian tradisional Jawa. Orangnya berbadan agak besar, memakai pakaian tradisional Jawa gaya Surakarta, lengkap dengan keris dan blangkon berwarna coklat tua. Baju beskap-nya berwarna hitam atau mungkin juga coklat tua. Dengan anggun, perlahan-lahan ia berjalan menjauhi deretan para tamu terhormat itu. Setelah sampai di depan, sekitar dua atau tiga meter di depan deretan tempat duduk pada tamu terhormat itu, ia membalikkan tubuhnya. Ia, perlahan lalu membongkokkan tubuhnya, memberikan hormatnya kepada para pejabat negara, yang duduk di depannya. Kedua belah telapak tangannya, ditangkupkan, seakan hendak menghaturkan sembah. Lalu, dengan suara berat ia memperkenalkan dirinya dengan amat sangat sopan. Kemudian, ia mengucapkan beberapa kalimat ucapan terima-kasih dalam bahasa Jawa Krama-Inggil yang amat sangat halus. Ia, juga memperkenalkan diri sebagai ‘dhalang’ yang akan membawakan cerita malam itu. Dan, sangat dengan rendah hati, serta dengan nada suara yang juga rendah, beliau memperkenalkan dirinya: “Nami kula Narto Sabdho….” (“Nama saya Narto Sabdho….”). Saat itulah saya, para tamu, dan penonton, benar-benar terpesona dan diam membisu seribu bahasa….! Semua orang seperti tersihir…! Saat itulah, saya untuk pertama kali dalam hidup saya, bertemu dan melihat Ki Narto Sabdho (dari jarak sekitar 10 meter di depan saya)….

Pertama, saya sama sekali belum pernah tahu bagaimana wajah Ki Narto Sabdho. Kedua, saya sama sekali tak menduga, bahwa beliau akan menampilkan diri dan memperkenalkan dirinya dengan cara seperti itu. Biasanya, seorang ‘dhalang’ diperkenalkan oleh pembawa acara. Begitu juga pembacaan cerita atau lakon yang akan dipagelarkan. Tetapi malam itu, Ki Narto Sabdho sendiri, yang berdiri di hadapan khalayak ramai, dan dengan suara bernada rendah, memperkenalkan diri dengan bahasa tubuh yang terasa amat sangat menghormati tamu-tamunya. Lalu, ia mulai menjelaskan ringkasan cerita, yang akan dibawakannya malam itu. Saya, saat itu benar-benar terpesona dan terdiam. Bahkan, saya benar-benar tak memperhatikan sama sekali penjelasan beliau. Saya juga sama sekali tak tahu, malam itu lakon wayangnya apa. Seluruh perhatian saya saat itu, benar-benar tertuju kepada Ki Narto Sabdho yang berdiri pada jarak sekitar hanya 10 meter di depan saya. Saya seperti tersihir…! Sambutan dan penjelasan pendek itu diakhiri dengan ucapan selamat menikmati. Lalu, beliau membungkukkan badan kepada seluruh penonton. Tiba-tiba saja, seperti semua orang lepas dari pengaruh sihir, seluruh penonton yang hadir bertepuk tangan. Itu merupakan tepuk tangan paling lama dan paling meriah, yang pernah saya saksikan selama hidup. Perlahan-lahan beliau lalu membalikkan tubuhnya, dan naik ke panggung gamelan dengan hati-hati.

Saya semula mengira, Ki Narto Sabdho akan langsung menuju ke tempat dhalang, di depan kelir wayang. Tetapi, dugaan saya ternyata salah! Beliau ternyata duduk bersila di tempat ricikan kendhang. Beberapa saat kemudian, saya lihat beliau mengatur suara kendhang dan mengatur tempat kedudukan bermacam kendhang itu. Lalu, dengan aba-aba dari beliau, permainan gendhing pun dimulai. Gegap gempita suaranya. Iramanya luar biasa dinamis dan penuh dengan hentakan. Tak ada orang yang sempat memikirkan apa yang terjadi saat itu. Saya, benar-benar terpukau. Ki Narto Sabdho benar-benar memainkan sembilan kendhang. Suara yang dihasilkan benar-benar luar biasa. Hentakannya, tepakannya, dan gemuruh suara debumnya; semuanya seperti menyihir seluruh penonton. Saya bahkan, tak pernah sempat tahu gendhing apa yang dimainkan untuk mengiringi ‘demonstrasi’ permainan sembilan kendhang itu. Terasa ada nuansa Jawa, Sunda, dan Bali; sekaligus. Lalu tiba-tiba saja permainan dihentikan seketika dalam pola berhenti gropak (berhenti tiba-tiba). Saat permainan dihentikan, seluruh penonton tiba-tiba saja berteriak keras memuji, bersuit nyaring, dan bertepuk tangan amat sangat riuh.

Dengarkanlah permainan kendhang yang dimainkan oleh Ki Narto Sabdho almarhum, dan alunan Gendhing Talu Wayangan 12 dan 13 yang berasal dari masa lampau:

http://youtu.be/F7mBTuDIJ-o
http://youtu.be/v5D9Xei0NHI

Semua penonton masih terpukau, saat tiba-tiba saja saya mendengar suara ‘senggrengan’ ricikan rebab. Ki Narto Sabdho juga masih duduk di tempat ricikan kendhang. Tiba-tiba saja, saya menyadari, bahwa Ki Narto Sabdho akan memainkan Gendhing Talu Wayangan. Itu tak biasa. Karena, biasanya yang memainkan para nayaga, dan bukan dhalang-nya. Saya juga tak terbayangkan, bagaimana nanti cara Ki Narto Sabdho akan berpindah tempat menuju  tempat kedudukan dhalang, jika beliau sendiri yang memainkan Gendhing Talu Wayangan. Sekali lagi, terdengar suara ‘senggrengan’ rebab yang menyayat. Lalu, beberapa saat kemudian, tanpa terasa kapan awal mulanya, Gendhing Talu Wayangan tiba-tiba saja sudah mengalun perlahan, penuh keanggunan, memecahkan kesunyian malam. Semua orang saat itu masih terdiam, belum bisa berkata-kata. Suara pesindhen dan para wiraswara, terdengar begitu merdu dan mengalun di kesunyian malam. Gamelan dimainkan secara halus dan penuh perasaan. Setiap kali sampai pada ujung permainan, gong ageng berbunyi anggun. Mengalun menembus relung-relung malam. Membawa mimpi-mimpi manusia ke alam nan jauh. Melupakan segala kejadian di dunia. Melupakan segala kesulitan kehidupan. Membawakan semua keindahan kehidupan. Bercerita tentang hidup kita sebagai manusia di alam nyata. Gendhing Talu Wayang mengalun mengikuti alur perjalanan waktu kehidupan manusia. Semakin lama, semakin dalam rasanya. Semakin lama, semakin membuat kita menjadi semakin sadar dan semakin tahu jalan kehidupan kita….

Sudah berlalu Gendhing Cucur Bawuk, lalu Pare-Anom, serta Ladrang Asri Katon. Lalu, perlahan pindah ke Ketawang Suksma-Ilang, yang mencekam. Seakan hendak menceritakan kepada kita, bahwa permainan kehidupan kita sudah menjelang masa akhir. Suara denting gambang kayu, sesekali terdengar menghiasi irama permainan gendhing. Alunan bilah-bilah ricikan gender pambarung, terdengar begitu merdu. Dan, saya begitu terpesona dengan permainan kendhang Ki Narto Sabdho, saat memainkan pola ‘kendhangan kosek wayangan’ yang menghentak-hentak. Lalu, sesekali terdengar suara suling, melengking menghias permainan karawitan. Semua itu, seakan membawa saya ke alam mimpi-mimpi. Di akhir permainan gendhing-gendhing itu, tiba-tiba saja irama dipercepat. Dan, tiba-tiba saja permainan lalu dipindahkan ke Ayak-ayak Talu. Bagian inilah yang saya selalu ingat, bahkan sampai sekarang. Perpindahannya selalu membuat seluruh bulu kuduk di seluruh tubuh saya lalu meremang berdiri. Suara gong suwukan yang berulang-ulang terdengar ditabuh, membuat suasana menjadi semakin mencekam. Lalu, saat gamelan mulai dipercepat dan dipindahkan ke Srepegan Manyura, beberapa lampu penerangan di dalam ruang tarub besar mulai dipadamkan satu per satu. Suasana, perlahan-lahan mulai berubah menjadi meredup. Cahaya lampu masih menyala di sebagian ruang tarub besar itu…..

Suara gamelan semakin cepat, suara kendhang menghentak-hentak keras dan cepat, lalu tiba-tiba saja gendhing pindah ke Sampak Manyura, dalam keadaan sirep dan suaranya terdengar pelan tapi cepat. [3]  Suara Sampak Manyura masih dalam keadaan ‘sirep’, saat dari kejauhan saya lihat Ki Narto Sabdho melambaikan tangan, seakan memberikan tanda kepada seseorang di antara para nayaganya. Dan, saya lihat seorang nayaga berdiri, lalu melangkah ke tempat duduk Ki Narto Sabdho. Ki Narto Sabdho perlahan lalu berdiri, sementara gamelan masih mengalunkan Sampak Manyura dalam keadaan ‘sirep’. Nayaga yang menggantikan kedudukan Ki Narto Sabdho itu, lalu duduk di tempat Ki Narto Sabdho semula duduk. Sedangkan Ki Narto Sabdho perlahan-lahan berdiri dan kemudian melangkah ke tempat duduk dhalang. Lampu-lampu di seluruh ruang dalam tarub besar itu, kecuali lampu dhalang, tiba-tiba saja dimatikan satu per satu. Suasana terasa amat sangat mencekam. Saya juga mencium bau asap kemenyan dibakar oleh seseorang. Bersama dengan berpindahnya Ki Narto Sabdho ke tempat dhalang, saya melihat ada dua orang berpakaian hitam-hitam, seperti pakaian perajurit kuno, berjalan menuju ke depan. Salah seorang dari mereka, berjalan menuju ke sebelah kiri kotak wayang dan duduk bersila di situ. Seorang lainnya, berjalan perlahan menuju sisi kanan tempat duduk dhalang, dan duduk bersila di sebelah kanan ‘eblek wayang’. Kedua orang ini, kelihatan berambut panjang. Memakai kain batik bermotif Parang-Rusak, dan memakai ikat kepala (bukan ‘blangkon’). Setelah kedua orang itu duduk bersila di tempatnya, saya melihat ada satu orang lagi, berpakaian seperti nayaga lainnya, melangkah ke depan dan duduk di belakang Ki Narto Sabdho. Sampak Manyura bertalu-talu dalam irama yang tiba-tiba menjadi cepat dan ditabuh sedemikian keras. Lalu, tiba-tiba saja permainan dihentikan, dan digantikan dengan alunan nada-nada enam, yang monoton selama beberapa saat. Dan, setelah itu, permainan dihentikan dalam irama yang lambat, diakhiri dengan bunyi gong ageng mengalun. Talu selesai….

Suasana benar-benar sunyi selama beberapa menit. Tak ada suara apapun. Lalu, tiba-tiba terdengar suara gendhog dibunyikan menghentak kotak wayang. Dhog… dhog… dhog… dhog… dhog…dhrodhog. Hening sejenak. Lalu diikuti dengan tiga kali bunyi gedhog yang lambat. Dhog…. dhog…. dhog….  Dan, Gendhing Ayak-Ayak Manyura mulai dimainkan. Anggun, lambat, dan menggema ke seluruh ruang-ruang mimpi kita. Pertanda pagelaran wayang dimulai. Menampilkan refleksi kehidupan kita. Sesekali, terdengar suara kombangan merdu Ki Narto Sabdho, menimpali suara merdu alunan gamelan. Suasana, perlahan-lahan mulai mencair. Pagelaran wayang benar-benar telah dimulai dengan adegan paling awal, yaitu Jejeran Pathet Nem. Saya semalaman benar-benar terpukau dan selama semalam suntuk itu, saya sama sekali tak memicingkan mata sama sekali. Belakangan, saya baru mengetahui, kedua orang yang duduk bersila di sebelah kiri kotak wayang, menghadap ke arah dhalang (ke arah kanan), dan seorang lagi duduk bersila di sebelah kanan eblek wayang, menghadap ke arah dhalang (ke arah kiri); sebenarnya merupakan dua orang asisten dhalang, yang berperan membantu dhalang mengambilkan wayang dari simpingan dan mengambil wayang yang dilempar dhalang saat menampilkan adegan perang. Tapi, yang lebih mencengangkan saya, dua orang yang semula saya kira pria, ternyata dua orang wanita, yang dua-duanya sama-sama cantik…! Pantas saja, rambutnya tampak terurai panjang sekali, melewati bahu…..

Pagelaran semalam suntuk itu, terasa seperti mimpi. Tak terasa, tiba-tiba saja hari sudah subuh. Dan pagelaran wayangpun usai. Saya masih terduduk di tikar besar itu, saat semua orang mulai beranjak berdiri dan bersiap-siap pulang. Dari kejauhan, saya bisa melihat matahari mulai memancarkan semburat berkas cahaya merahnya si ufuk timur. Gendhing penutup masih terdengar dimainkan para nayaga. Lampu-lampu penerangan di dalam ruang tarub besar itu, satu per satu sudah dinyalakan kembali. Gong ageng, akhirnya dibunyikan, menandakan diakhirinya seluruh pagelaran wayang kulit purwa yang amat sangat luar biasa sepanjang malam.

Pagelaran wayang itulah,yang membuat saya begitu terpesona, sehingga tak pernah lagi bisa melupakannya, karena itu merupakan satu-satunya pagelaran wayang kulit purwa, yang menurut saya paling ajaib dan paling berkesan sepanjang hidup saya. Bahkan, meskipun saya sudah menyaksikan puluhan kali pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk, tetapi saya tak pernah menyaksikan pagelaran wayang kulit purwa berlangsung seperti itu. Begitu menggetarkan. Begitu berkesan, dan tak terlupakan sepanjang hayat. Bahkan, sampai saat inipun, saya masih bisa mendengar dan masih terbayang seluruh suasana yang hadir sekian puluh tahun yang lampau, seakan-akan saya baru menonton pagelaran wayang kulit purwa itu tadi malam….

http://youtu.be/C5ROZ5seKNM

____________________________

[1]  Lama setelah peristiwa itu, yaitu pada sekitar tahun 1980-an, saat melakukan survei untuk bahan skripsi (skripsi saya berjudul “Gamelan Jawa”), saya melihat susunan ricikan kempul, gong suwukan, dan dong ageng; yang ditempatkan pada empat buah ‘gayor’ yang jauh lebih besar lagi, di Keraton Yogyakarta, saat diadakan pagelaran besar di Siti-Hinggil Keraton Yogyakarta. Jumlah ricikan gamelan yang digunakan, serta jumlah para nayaga penabuh gamelannya jauh lebih banyak. Menurut perkiraan saya waktu itu, lebih dari sepertiga luas ruang Siti-Hinggil itu digunakan untuk meletakkan seluruh ricikan gamelan. Seluruh penonton melihat dari arah belakang kelir wayang (melihat bayang-bayang wayang). Tak ada tempat yang disediakan untuk melihat dari arah depan kelir wayang.

[2] Pada suatu kesempatan, sepuluh tahun kemudian, yakni pada tahun 1976, dalam suatu pertemuan dengan Ki Narto Sabdho almarhum, di tempat tinggalnya, di Jalan Anggrek, Semarang; saya sempat menanyakan tentang penempatan pesindhen dan wiraswara. Menurut penjelasan beliau, pagelaran wayang kulit purwa bukanlah pagelaran pesindhen. Bahkan, beliau dengan tegas menyatakannya agak extrim: “Pagelaran wayang kuwi dudu pagelaran pesindhen. Uga dudu pameran pesindhen. Pesindhen lan siwaswara kuwi kudu nyengkuyung pagelaran wayang. Ora nggugu karepe dhewe. Aku, pancen duwe pesindhen ayu, swarane kung, sing malah sok diuber-uber ora mung diuber penonton, malah uga dhalange dhewe. Nanging sing baku, pagelaran iku pagelaran wayang, dudu pagelaran pesindhen….” (“Pagelaran wayang itu, bukanlah pagelaran pesindhen. Juga bukan pameran pesindhen. Pesindhen dan wiraswara, haruslah mendukung pagelaran wayang. Tidak menurut kehendak sendiri. Saya memang punya pesindhen yang cantik, swaranya bagus, yang sering malah dikejar-kejar tidak saja oleh penonton, malah juga dikejar-kejar oleh dhalang-nya sendiri. Tetapi, bagaimanapun juga, pagelaran itu pagelaran wayang, bukan pagelaran pesindhen….”). Karena itulah, pada setiap pagelaran wayang kulit purwa yang dilakukannya, Ki Narto Sabdho selalu menempatkan para pesindhen dan para wiraswara menghadap ke arah depan (ke arah kelir wayang) dan di tempatkan pada secara sangat terhormat di tengah-tengah, setara dengan kedudukan para nayaga.

[3] Perpindahan ke Sampak Manyura dalam keadaan ‘sirep’ inilah, yang membuat suasana Talu menjadi sedemikian mencekam dan sakral. Permainan inilah yang membedakan dengan perpindahan ke Sampak Manyura yang dilakukan pada jaman sekarang, yang dimainkan keras-keras, sehingga kehilangan suasana sakralnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s