Sebuah Pesta Penyambutan


duryudana

Wahyu Cakraningrat (5)

Sorot mancur mencorong
mijil saking putri winongwong,
nenggih Dèwi Banowati, musthikaning uwong.
Nyata ayu akarya lamong,
akèh priya kang kepéngin mboyong,
dadi kembang lambé pating clemong,
akèh kang gandrung kloyong-kloyong.
Lamun Sang Banowati liwat, para priya mung pating plenggong
plompang-plompong ora kuwat ndulu bundering bokong.

Dedegé ora sangkuk,
asta lir gendhéwa tinekuk,
driji kaya saya minggah saya mucuk,
padharan ora mblendhuk,
ponang pocong nyenthing munjuk,
disawang saka mburi cundhuk,
ngiringan mathuk,
ngarep metuthuk.
Bojo kaya Dèwi Banowati sewayah-wayah gathuk,
awan sayuk,
wengi njuk,
luwih-luwih yèn ta ‘bar adus ésuk.

Nyata tetungguling memanis.
Réma njanges semu wilis,
sinom lir ron pakis,
nanggal sepisan kang alis,
lathi abang lir manggis,
janggut nyathis,
pamulu hambenglé kéris.
Yèn dandan ora uwis-uwis.
Payudara lir bluluk kuning dèn prenah mrih manis,
sinangga kemben dadya munjuk sawetawis,
mula ora susah dikepeti wis ésis.

(Pocapan dicuplik dari Ki Purbo Asmoro : Makutharama)

Itulah Dewi Banuwati ! Prameswari Astina, istri satu-satunya Duryudana. Duryudana tiada pernah dan tak akan mencoba untuk mendua. Baginya, cintanya tlah berlabuh di Banuwati seorang. Apatah lagi Banuwati telah memberinya dua orang anak buah hatinya yaitu Lesmana Mandrakumara dan Lesmanawati.

Meskipun disadarinya bahwa sikap Banuwati tiada pernah secara tulus mencintainya, bahkan acap secara terang-terangan masih menunjukan cinta kasihnya pada Arjuna, namun Duryudana tidak peduli. Dia menjadi sosok yang luar biasa dalam mencintai dan mampu menerima cinta apa adanya. Kesetiaannyapun sungguh tidak masuk akal. Cinta telah mengalahkan kesombongan Duryudana. Dalam benak Duryudana, cinta adalah mencintai dan tak perlu berharap untuk dicintai.

Duryudana melangkahkan kakinya menuju kedhaton. Di pintu telah siap menjemput istrinya dan anak perempuannya tersayang. Senyum manis Dewi Banuwati, seakan menghilangkan segala pikiran sumpek yang tengah melanda dalam benaknya. Dia memang telah memerintahkan anaknya Lesmana untuk pergi berusaha mencari wahyu cakraningrat. Namun dalam hati kecilnya muncul kesangsian akan kiprah anaknya itu. Benar dia begitu menyayangi anak laki-lakinya itu, namun pikiran logisnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri anaknya itu.

“Oooo Sinuwun sudah datang, marilah saya antarkan ke dalam. Sebelumnya perkenankan saya menghaturkan pangabekti sinuwun”

“Yayi ratu, saya terima pangabektimu membuat hati ini rasa membuncah. Sebaliknya pangestuku terimalah yayi ratu”

“Dahat kapundhi éngga jimat paripih, Sinuwun.”

“Rama Prabu, saya juga menghaturkan pangabekti semoga diterima” Lesmanawatipun menghaturkan sembah

“Lesmanawati anakku wong ayu, ya, rama terima dengan senang hati, pun pangestuku engkau terima ya Nak”.

“Kapundhi éngga jimat paripih, moga mampu membuat hidupku lebih bermakna, Rama Prabu.”

“Bat tobat tobat tobat …. ada apakah kiranya Sinuwun pembicaraan di paséwakan tadi. Sepertinya ada hal yang sangat penting dibahas, bolehkan dijelaskan kepada garwa Paduka”

“Yayi Ratu, dewa bakal menurunkan wahyu keraton bernama Cakraningrat di hutan Krendhawahana. Oleh karenanya saya telah memerintahkan anakmu Lesmana pergi ke sana untuk mencoba memperolehnya”

“Aduh … sinuwun. Bukankah hutan Krendhawahana terkenal sangat angker dan membahayakan. Kok teganya Paduka memerintahkan Lesmana pergi ke sana. Bagaimana kalau seandainya dia nanti celaka”

“Hal itu sudah dipikirkan, Yayi Ratu. Oleh karenanya saya memerintahkan Kakang Narpati Ngawangga mendampinginya. Dan juga Patih Sengkuni beserta sepasukan prajurit mengiringinya”

“Apa yang harus dilakukan anakmu Lesmana di sana, Sinuwun”

“Melakukan tapa brata berharap sih Dewa untuk memberikan wahyu tersebut”

“Bukankah anakmu Lesmana tidak biasa melakukan tapa brata, apalagi dalam tempat seangker dan sesunyi itu Sinuwun”

“Mudah-mudahan dengan bantuan Kakang Narpati Ngawangga serta dukungan Patih Sengkuni, anakmu Lesmana mampu melaksanakan tugas ini dengan baik, Yayi”

“Bat tobat tobat tobat …. kalau begitu marilah kita mintakan kepada dewata saja agar yang Kanda harapkan dapat terlaksana Sinuwun.

<<< oooo >>>

pasewakan_njawi_kurawa1113

Sementara di paséban luar tengah dipersiapkan segala keperluan untuk pasukan prajurit melakukan perjalanan ke hutan Krendhawahana. Para Kurawa sibuk mempersiapkan perbekalan yang sangat banyak. Tenda-tenda untuk tidur bermalam, makanan-makanan yang mewah dan melimpah serta tiada lupa membawa perlengkapan musik yang menurut rencana akan di gunakan untuk mengusir kesepian di hutan itu.

Setelah segalanya siap, maka berangkatlah rombongan besar dari Astina menuju hutan Krendhawahana dengan dipimpin oleh Narpati Ngawangga Karna.

Dan beberapa hari kemudian …. di tepi hutan yang sepi, suasana begitu riuh rendah. Telah berkumpul sepasukan tentara mendirikan tenda-tenda untuk menginap malam itu. Puluhan, nyaris mencapai seratusan tenda telah didirikan dengan cepat. Dan hebatnya, fasilitas-fasilitas untuk makan minum dan persiapan untuk tidur, telah tersaji dengan cepat. Layaknya bukan seperti di hutan saja karena semua telah tersedia dengan lengkap. Dan di tengah-tengah sekumpulan tenda-tenda itu, terdapat satu tenda yang besar dan terkesan megah dan mewah. Ya … itulah rombongan prajurit-prajurit Astina yang mendampingi putra mahkota Lesmana Mandrakumara dalam upaya memperoleh wahyu Cakraningrat !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s