Sang Pamomong


Punakawan

Wahyu Cakraningrat (4)

Prabawaning wahyu kang sumedya
turun ing mercapada miling-miling wonten ing angkasa
gebyar-gebyar pindha ndaru kang sumedya tumibèng bawana
timbuling prabawa dumadi gara-gara tanpa sangkan
swara kaya mecah-mecahna jagad nganti sumundhul ing kayangan Suralaya
clorooot …. gleger
warda wening sirep kocap gara-gara
swara tanpa una tanpa uni
doh lamun jinarwakna
senajan ta katon slaka, slaka cèlèng
intena, inten bumi
para putra-putra bibar saknalika
pungun-pungun tyasira Ki Lurah Semar kanthi anggana raras

Daya perbawa wahyu yang tengah bersiap
turun ke marcapada, dunia, mencari tempat bersemayam sejati
bersinar cerlang layaknya cahya bintang jatuh
munculnya perbawa menciptakan gara-gara tanpa sebab
bersuara seolah memecahkan jagat dan tembus hingga kahyangan Suralaya
meluncur .. cepat menggelegar ..
sosok tua berparas teduh hening redam gara-gara

—-

Setelah mengerti akan tugasnya dan tlah dibekali ilmu serta pitutur luhur dari ayahnya Arjuna serta para sesepuh lainnya, maka segera Abimanyu menjemput para panakawan untuk mendampinginya dalam perjalanannya menuju TKP.

Tinut repat punakawan; nenggih ingkang munggwing ngayun, wongé rèmbès mripaté, awaké lemu, lanang ora lanang, wadon dédé, nenggih Ki Lurah Nayantaka, Badranaya, Lurah Semar, ya Risang Ismaya. Aja dupèh ala wujudé, parandéné iki déwa ingkang asalira manungsa, manungsa ingkang umur déwa.

Diikuti oleh empat panakawan; yang berjalan di depan, orangnya memiliki mata yang selalu berurai airmata, badannya gemuk, lelaki bukan lelaki, perempuanpun bukan. Itulah Ki Lurah Nayantaka, Badranaya, Lurah Semar, ya Risang Ismaya. Namun dibalik buruk wujudnya, sejatinya dia adalah dewa yang berwujud manusia, manusia yang memiliki usia panjang dewata.

Semar sering juga di artikan berasal dari bahasa arab Ismar. Ismar berarti paku, sehingga dapat berfungsi sebagai pengokoh terhadap semua kebenaran yang ada atau juga sebagai penasehat dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Agama adalah pengokoh atau pedoman hidup manusia. Semar dengan demikian juga adalah simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama.

Ing wingking menika sunu, tegesé anaké Kyai Lurah Semar. Sinebat Nala Garèng, ya Cakrawangsa, Pegatwaja, Pancalpamor. Nala Garèng tegesé ati garing, wong kang atiné kemrisik, énthéngan. Cakrawangsa, cakra: gaman, wangsa: sanak piyandeling sedulur. Pegatwaja, pegat: pisah utawa tugel, waja: wesi atos; bisa ngrampungi gawé ingkang werit-werit. Pancalpamor, pancal: obahing suku, pamor: kembanging keris; tumindaké gawé anengsemaké. Nanging Nala Garèng kuwi sejatiné wong sedhengan, ora èlèk ora apik, sedheng.

Di belakang berjalan anak-anaknya. Yang sulung adalah Nala Garèng, ya Cakrawangsa, Pegatwaja, Pancalpamor. Nala Garèng mermakna hati yang kering, orang yang memiliki hati yang tidak bisa diam, slalu ringan tangan. Cakrawangsa, cakra berarti senjata, wangsa artinya keluarga sehingga Gareng adalah yang diandalkan saudara-saudaranya. Pegatwaja, pegat bermakna pisah atau patah, waja adalah besi baja sehingga Nala Gareng mampu menyelesaikan tugas seberapa sulit dan rumit. Pancalpamor, pancal: tendangan kaki, pamor: kharisma yang muncul; segala tindakannya membuat orang-orang senang. Namun sesungguhnya Nala Garèng hanyalah orang kebanyakan, tidak jelek juga tidak cakep-cakep amat, medium atau sedang sedang saja.

Nala Gareng memiliki cacat-cacat fisik di antaranya : matanya juling, hal ini mengandung makna tidak mau melihat hal-hal yang tidak baik, tangannya ceko, mempunyai maksud tidak mau mengambil atau merampas hak orang lain, berkaki pincang karena Gareng selalu penuh kewaspadaan dalam segala perilaku. Juga ada kalanya Nala Gareng sering diartikan dari adaptasi kata arab Naala Qariin. Kata ini berarti memperoleh banyak teman sehingga sesuai dengan dakwah para aulia sebagai juru dakwah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya teman (umat) agar kembali ke jalan Gusti Allah dengan sikap arif dan harapan yang baik.

Berjalan di belakangnya adalah Ki Lurah Pétruk, Kanthong Bolong, Jengglong Jaya, Dubla Jaya, Ronggung Jiwan. Sinambet Ki Lurah Bagong, ya Bawor, ya Oglug.

Petruk adalah Kanthong Bolong, memiliki saku yang selalu berlubang sehingga isinya selalu kosong, menunjukan bahwa dirinya selalu tiada lupa berderma dan membayar kewajiban zakat, bahkan jiwa raganyapun ikhlas diserahkan kepada Kehendak Gusti Allah. Dubla jaya, bermakna pintar sebab diantara saudara-saudaranya yang lain, Petruklah yang paling pandai dan pintar bicara. Bentuk badannya yang serba panjang dan tinggi melambangkan sifat dan perilaku Ma Lima. Ma Lima disini bukan perilaku negatif yang harus di hindari (madat, madon, main, minum, maling), melainkan justru sebaliknya : momong, momot, momor, mursid dan murakabi. Momong artinya pandai mengasuh, momot bermakna dapat menampung segala keluhan tuannya dan dapat menyimpan rahasia, momor artinya tidak sakit hati ketika dikritik dan tidak mudah bangga kalau disanjung, mursid bermakna pintar sebagai abdi dan mengetahui keinginan tuannya, murakabi artinya bermanfaat bagi sesama.

Petruk sering juga dimaknai sebagai adaptasi dari kata Fatruk. Kata ini merupakan kata pangkal dari sebuah petuah tasawuf yang berbunyi: Fat-ruk kulla maa siwalLaahi, yang artinya: tinggalkan semua apapun yang selain Allah. Wejangan tersebut kemudian menjadi watak para aulia dan mubaligh pada waktu itu.

Dan yang berjalan paling belakang adalah si bungsu, Bagong.

Bagong mempunyai ciri sebagaimana namanya, mempunya sisa rambut yang terdapat di belakang. Rambut ini disebut gombak atau bagong. Begitulah Bagong, mempunyai gombak atau sisa rambut yang ada di belakang. Bermata bulat besar, mulutnya dower ke depan.

Bagong bersikap kekanak-kanakan, lucu, suara besar dan serak, tindakannya seperti orang bodoh, kata-katanya menjengkelkan, tetapi selalu tepat. Bagong, berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak. Yaitu berontak terhadap kebathilan dan keangkaramurkaan.

Abimanyu dan panakawan berjalan cepat namun tetap tercipta suasana yang riang. Sesekali terdengar suara tawa di antara mereka akibat ulah dari salah seorang panakawan, namun acap terlihat serius ketika mendengar petuah yang keluar dari mulut Semar. Hingga saat malam sudah mulai menjelang dan hutan Krendhawahana tlah terlihat di depan mata, maka Abimanyu memutuskan untuk beristirahat di pinggir hutan. Gareng dengan cekatan kemudian mencari tempat yang sesuai, agak sedikit datar dan cukup luas dan membersihkannya dari ilalang dan ranting-ranting tua yang berserakan. Petrukpun dengan sigap kemudian mencari kayu-kayu untuk pembakaran, mencari sumber mata air dan buah-buah segar yang dapat di makan.

Sementara itu, Semar terlihat kelelahan sehingga mencari tempat yang baik untuk duduk bersila mengembalikan staminanya. Dan Bagong …. layaknya seorang mandor saja, berdiri dengan tangan kanan menopang di dagu, kepala manggut-manggut, mulut senyam senyum nakal, mengawasi kakak-kakaknya lagi bekerja.

Melihat yang dilakukan Bagong, maka Semar mendekat.

“Le … anakku bocah bagus Bagong, sedang apa engkau disini, lha wong kakak-kakakmu pada bekerja kok kamu malah diam saja, berdiri sambil senyam senyum sendiri ?”

“Lho … aku juga sedang bekerja kok Ma, aku sedang berfikir keras bagaimana caranya agar pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan Kang Gareng dan Kang Petruk seperti sekarang ini, dapat aku kerjakan dengan cepat melalui cara yang lebih kreatip, tidak konvensional seperti itu”

“Weleh … weleh … basa apa kuwi Le, Rama kok ora mudeng”

“Kita harus mulai berfikir global tapi smart Ma, wawasan kita harus komperhensip, kita harus punya tujuan short term dan long term sehingga arah hidup kita ini dapat kita planning dan dapat berjalan sesuai dengan track yang telah kita tentukan !”

“Halah … apa maneh kuwi Le, Rama tambah ora mudeng”

“Habis Rama sih … berfikirnya terlalu kompleks njlimet, yang simpel saja Ma”

“Lha nek ini Rama ngerti Le, kalau soal sambel kuwi …”

“Dudu sambel Ma, simpel !”

“Oh ya Rama salah ya, kalau masalah umbel itu …”

“Dudu umbel Ma, simpel ! Masak simpel dadi umbel Ma”

“He he he … maklum Le … telinga Ramamu ini sudah rabun”

“Sakngertiku kalau rabun tuh untuk mata ta Ma, bukan telinga”

“Yo wis sakkarepmu Le. Tapi tua tua begini Ramamu ini sebenarnya juga paham akan apa yang tadi engkau ungkapkan menggunakan basa Ngalengka tadi. Kuwi terlalu teoritis Le, kalau Rama lebih suka yang praktis dan yang sederhana. Seperti umbel meler saja Le … tanpa paksaan meler ke bawah dan kemudian dlewer … nah kalau di paksa di tarik ke atas jadi kurang bagus Le, menimbulkan suara yang kurang enak di dengar … mak sentrup !”

“Rama ki … kok jijay mbahas umbel meler segala”

“Lho Gong, kejadian-kejadian di alam ini oleh Gusti Allah diciptakan tidak sia-sia lho Le. Semua yang diciptakan oleh Gusti Allah di alam dunia ini, baik itu makluk hidup maupun benda mati, semua ada maksudnya, semua memiliki peranan. Seperti halnya umbel tadi, umbel terjadi sebagai proses tubuh dalam menghindari benda benda asing yang berbahaya masuk ke dalam tubuh untuk mencegah infeksi dan iritasi.”

“Masak sih Ma ?”

“Benar Le, kalau nggak percaya nanti tanya sama gurumu. Tapi yang akan Rama jelaskan sekarang ini terkait dengan ucapanmu tadi yaitu umbel dan simpel”

“Itu ada filsafahnya Ma ?”

“Jelas ada tho Le !”

“Lha pripun Ma, falsafah umbel tadi”

“Tepatnya falsafah umbel meler ndlewer”

“Lha kok mboten ditambah jadi umbel ijo meler dlewer ketewer tewer sekalian Ma”

“He he he … hush jangan jorok Le, cukup umbel meler ndlewer. Begini Le ! Kalau menurut Rama, sebenarnya apapun yang kita lakukan dan inginkan seperti apa katamu tadi : kreatip, komperhensip dan sip sip yang lain, kalau kita pelajari dan jalankan polanya simpel saja kok. Ya seperti umbel meler tadi, berjalan apa adanya, mengalir sekehendak hati, dan hasilnya jadi ndlewer”

“Dereng dong kula Ma ?”

“Polanya simpel saja, sederhana : niyat, ikhtiyar, doa dan tawakal.”

“Lha kok jadi begitu Ma ?”

“Yang kamu sebut tadi seperti tujuan short term maupun long term, kalau menggunakan falsafah umbel meler dlewer, ya akan baik-baik saja. Begini Le … satu prinsip yang harus kamu pegang teguh agar tidak salah jalan adalah bahwa manungsa itu sakderma menjalani saja, melakukan sesuai planning, menggunakan cara cara yang kreatip, namun ingat Le … bahwa manungsa tidak diberi kewenangan untuk menentukan hasil akhir. Gampangnya, kita boleh berusaha tapi segala hasil akhir itu adalah hak prerogatip dari Gusti Allah. Banyak orang yang salah jalan malah kemudian berakibat menjadi stress, karena memasuki ranah yang memang bukan wilayahnya. Wilayah manusia itu cuman melakukan niyat, ikhtiyar, doa dan tawakal berserah diri. Hasil tidak perlu dipikirkan karena sudah ada yang memikirkan”

“Maksudnya gimana Ma ?”

“Kowe Le, kalau ingin menggapai sesuatu yang harus kamu lakukan adalah pertama, tanamkanlah niyat bahwa yang kamu inginkan itu adalah sesuatu yang baik dan tidak melanggar jalan yang telah di tetapkan Gusti Allah, juga tetapkan niyat bahwa hal itu sebagai sarana untuk ibadah. Setelah niyat tlah mantab maka berikutnya adalah engkau harus melakukan ikhtiyar, engkau bisa melakukan planning, doing, checking dengan tadi tuh … kreatip, komperhensip, berfikir gombal … eh … global. Selanjutnya yang kamu lakukan adalah berdoa kepada Gusti Allah agar memberikan yang terbaik kepada kita. Dan yang terakhir adalah tawakal, berserah diri, apapun yang Allah putuskan terhadap keinginan kita, akan kita terima dengan baik.”

“Lha yang ndlewer apanya Ma”

“Hasilnya Le …. ndlewer itu ya outputnya !”

“Wah elok tenan Ma, falsafah umbel meler ndlewer … he he he”

“Lha mung sakkecekele kok Le … tapi menurut Rama yang penting kamu pegang esensinya saja. Istilah tadi … umbel meler ndlewer kuwi hanya agar kamu mengingatnya saja Gong. BIasanya kalau yang agak sedikit jorok di otakmu nyantel lama kan ?”

“Gong ! Jangan nggambleh saja. Kowe nih gimana, kakak-kakaknya lagi pada kerja, eee … kamu enak-enakan duduk malah mandori !” tiba-tiba Petruk sudah berdiri dekat Bagong

“Lho aku kan bukan nganggur tho Kang, aku lagi kerja juga, tapi kerjaku lebih intelek yaitu kerja menggunakan otak dan pikiran. Aku lagi diskusi sama Rama tentang hidup dan kehidupan yang tengah aku, engkau dan semua orang jalani di dunia ini” tak kalah Bagong

“Halah guayamu Gong. Kalau diskusi ya kan ada waktunya. Sekarang ini kan saatnya kerja fisik mempersiapkan istirahat kita nanti malam”

“Yo wis … sing enom ngalah. Apa yang dapat aku kerjakan !”

“Lha wong harusnya sudah dari tadi kok, sekarang juga sudah kelar no” kata Petruk jengkel

“Giliran aku sudah siap, kerjaan sudah selesai. Berarti bukan salahku lho Kang”

“Wis … wis … wis … sekarang duduk-duduk saja disini semuanya. Mana kakakmu Gareng ?” Semar menengahi

“Sebentar lagi tentu ke sini Ma” kata Petruk yang sudah memilih tempat untuk menempatkan pantatnya di rumput yang bersih

“Ma … aku arep takon lagi Ma”

“Arep takon apa Gong ?”

“Ngene Ma. Wahyu cakraningrat yang sedang dicari oleh nDara Abimanyu tuh kan wahyu yang bakal menurunkan raja-raja tho Ma ?”

“Iya Le !”

“Lha kalau yang menurunkan para raja, seharusnya ya keturunan raja tho. Kalau pikiran logisnya ya begitu. Aku dengar sekarang ini yang tengah memperjuangkan hal yang sama dengan nDara Abimanyu kan putra mahkota semua. nDara Lesmana Mandrakumara adalah putra mahkota Astina, begitupun nDara Samba Wisnubrata adalah putra mahkota negara Dwarawati. Jadi dengan melihat background seperti itu, apakah yang akan diperjuangkan oleh nDara Abimanyu itu tidak akan sia-sia ?”

“Wah … itu pertanyaan cerdas Gong ! Hayo kowe Petruk, bisa menjawab pertanyaan adikmu itu nggak ?”

“Ya gampang tho Ma, kedudukan semua orang di muka bumi ini sama belaka. Rama, aku, Bagong, nDara Abimanyu, nDara Samba dan nDara Lesmana itu sama-sama manusia, sama-sama titah. Derajatnya sama. Yang membedakan hanyalah kualitas dan kapabilitas dari masing-masing. Bagong-pun kalau menurut saya, juga berhak untuk mendapatkan wahyu. Tapi apakah dia mampu, ya itulah permasalahannya. Tentu diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu agar si wahyu tadi berkenan memilih kita. Seperti halnya memilih lurah misalnya, tentu yang dipilih adalah yang memiliki wawasan luas, memiliki leadership yang bagus, dikaruniai kebijaksanaan yang mumpuni, kemauan membantu dan melindungi warganya tidak hanya lamis dan tentu saja dipilih dan di dukung oleh para warga. Bukan begitu Ma ?”

“Wah … wah … anak-anakku semua cerdas dan bijak. Rama jadi seneng.”

“Tapi Ma, kembali ke wahyu cakraningrat tadi, terus apa modal ndara Abimanyu untuk nggayuh harapan memperolehnya ?” Bagong masih penasaran

“Buah masak kalau jatuh tentu tidak akan jauh dari pohonnya. Seantero dunia ini siapa yang tidak kenal nDara Permadi. Sudah dikaruniai wajah yang rupawan tidak ada bandingnya, memiliki olah krida kesaktian yang beraneka ragam dan semua adalah ajian kelas wahid, namun sangat tekun melakukan olah rasa pula, tekun melakukan hening cipta untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta alam. Begitupun nDara Abimanyu, tiada beda dengan Bapaknya. Walaupun tentu saja dalam segi kematangan masih belum sekaliber nDara Arjuna, namun pemahaman dan tekadnya untuk berusaha menjadi manusia minulya, dapat diandalkan.”

“Terus apa yang harus kita lakukan Ma ?”

“Untuk memperoleh emas murni sak tekruk tentu harus diimbangi tekad dan usaha yang keras dan tiada kenal lelah, kalau menginginkan sesuatu yang bernilai tinggi tentu saja harus diimbangi dengan niyat dan ikhtiar yang kuat dan tak kalah dan menyerah oleh badai yang menerjang menghampiri. Begitupun dalam berupaya memiliki wahyu cakraningrat ini, tentu akan banyak HTAG yang kan menghadang”

“HTAG kuwi apa tho Ma ?”

“HTAG kuwi Hambatan Tantangan Ancaman dan Gangguan. Dan tugas kita adalah mendampingi nDara agar terhindar darinya. Tugas kita adalah mengingatkan nDara Abimanyu bila dia menyimpang dari jalan lurus yang telah di gariskan. Tugas kita adalah kembali membangkitkan semangat nDara bila tengah menurun. Tugas kita kelihatannya sepele Le, namun sangat berat karena sepertinya kali ini akan banyak kejadian-kejadian yang membutuhkan konsentrasi dan kebijaksanaan dalam berfikir yang kuat. Oleh karenanya Rama minta dukungan kalian semua untuk melaksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya”

<<< ooo >>>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s