Sang Pejuang 3 : Abimanyu


wu87-02-02-abimanyu-text2

Wahyu Cakraningrat (3)

Menjalani kehidupan perkawinan laksana mengendarai bahtera mengarungi samudra lepas nan luas dan ganas. Kadang tenang menghanyutkan disertai dengan pemandangan alam nan mempesona, bertabur gemerlap bintang di malam kelam, ufuk lautan seolah menciptakan batas dengan langit disertai ronanya nan berwibawa. Namun adakalanya badai sesekali melanda disertai hujan deras serta gelegar petir menyambar membuat ciut hati. Yah … begitulah romantika kehidupan manusia. Susah senang, lara bahagia, nelangsa dan suka, datang silih berganti. Akan selalu begitu dan memang sudah ditetapkan demikian. Ibarat sebuah gelombang sinusoida, roda kehidupan berjalan bukan merupakan garis lurus, perjalanan kadang berada di bawah, acap di atas dan suatu kali niscaya berada di tengah.

Begitupun yang dialami Abimanyu dan Siti Sundari. Madu yang tlah direguk dan dinikmati manisnya disaat-saat awal perkawinan, kini mulai berubah menjadi rasa bratawali, pahit. Bulan madu adalah episode yang telah berlalu.

Memang ketulusan cinta mereka berdua tiada bercacat, namun kata orang bijak, rasa cinta bukan satu-satunya perekat dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ada faktor lain yang mampu menghadirkan kebahagiaan hidup berumah tangga, yaitu kehadiran ANAK. Seorang keturunan penerus garis darah, selalu menjadi dambaan pasangan suami istri. Tak bisa dibayangkan bagaimana keringnya sebuah rumah tanpa celoteh dan tangis si kecil.

Perkawinan yang telah dijalaninya cukup lama, tentu membuat Abimanyu bahagia karena Siti Sundari adalah pilihannya pribadi dan adalah perempuan yang dicintainya. Namun sebuah kabar yang didengarnya kemarin siang, membuatnya seakan kebahagiaan itu tercerabut dari dirinya dan bahkan berubah menjadi kesengsaraan hati. Kabar itu laksana petir di siang hari bolong yang mengejutkan dirinya hingga seolah tiada semangat lagi tersisa dalam menjalani hari-hari di Plangkawati.

Oleh karenanya kemudian dia memutuskan untuk “mengadu” kepada Dewata atas nasib yang tengah disandangnya ini. Dengan khusuk Abimanyu mengheningkan cipta di sanggar pamujan berharap dewata yang agung memberikannya secercah cahaya dan solusi jalan keluar atas masalahnya ini.

Begitupun Siti Sundari. Kabar itu sungguh membuat hatinya hancur lebur berkeping-keping, tercerai berai. Hari-hari yang tlah lalu dan dijalaninya bersama suaminya tercinta seakan menjadikan dirinya adalah wanita yang paling berbahagia di muka bumi ini. Bagaimana tidak ? Suaminya begitu sayang padanya dan memberikan kenikmatan dan kebahagiaan yang tak pernah dialami sebelumnya. Abimanyu adalah seorang satria yang sempurna. Sehat jiwa raga, gagah perkasa dan dikaruniai wajah yang luar biasa tampan. Tentu membuat iri wanita lainnya karna dia memperoleh kekasih yang begitu rupawan dan menawan.

Namun bagaimana sekarang ? Dirinya telah divonis tidak akan dapat melahirkan seorang anak, keturunan yang tentunya menjadi dambaan bagi mereka berdua. Apalah gunanya seorang perempuan yang meskipun dikaruniai kecantikan tiada tara laksana dewi kahyangan namun tidak mampu untuk melahirkan seorang anak ? Bukankah harkat seorang perempuan adalah kemampuan untuk melanjutkan trah garis keturunan suaminya ? (baca kisah Semar Kuning)

Hari-hari Siti Sundari dipenuhi oleh air mata kesedihan. Dirinya belum mampu menerima kenyataan ini. Siapa yang harus disalahkan ? Dirinya ? Ramanyakah ? Atau bahkan dewa yang bertindak tidak adil ?

Selama beberapa hari yang dilakukan hanyalah berdiam diri seraya menunggu suaminya yang tengah melakukan tapa brata di sanggar pamujan. Sedih dan sesal masih menggumpal di dadanya. Namun tidak percuma darah Dwarawati mengalir dalam dirinya, setelah sekian lama jiwanya bergolak terombang ambing, akhirnya di tetapkan niat untuk tegar dan menerima semua yang telah digariskan oleh takdir. Sikap dan watak wanodya utama slalu melekat dalam jiwanya, bahwa kewajiban seorang istri adalah mengabdi kepada suami, kepada guru laki, apapun yang bakal terjadi kelak. Di tanamkan dalam hatinya bahwa segala sesuatu yang telah ditetapkan dewata adalah yang terbaik dan harus diterima dengan jiwa pasrah, maka niscaya akan berakibat baik bagi kehidupannya.

Dalam suasana diam itu, tiba-tiba Siti Sundari dikagetkan oleh datangnya prajurit Plangkawati yang mewartakan kedatangan saudara tua suaminya yaitu Gatotkaca. Dengan cepat dimintakan agar Gatotkaca segera masuk ke dalam dan dia segera beranjak ke sanggar pamujan untuk mewartakan hal tersebut kepada suaminya.

“Kakang Gatotkaca, gerangan apakah yang membuat Kakang datang ke Plangkawati ini tanpa kabar sebelumnya ? Namun sebelumnya adimu ini menghaturkan sembah pangabekti kepada Kakang” demikian tanya yang diungkapkan oleh Abimanyu sesaat setelah menerima kedatangan Gatotkaca.

“Dengan senang hati aku terima, juga pangestuku sudilah engkau terima adikku Abimayu, dan tentu saja juga engkau Siti Sundari”

“Terima kasih Kakang” hampir bersamaan Abimanyu dan Siti Sundari menjawab

“Begini Abimanyu, kakangmu kesini diperintah oleh uwak Prabu Yudistira untuk memintamu datang ke Amarta mengahadap”

“Kira-kira ada sesuatu yang pentingkah ?”

“Sepertinya begitu. Tadi ramanya Siti Sundari, uwak Prabu Kresna datang berkunjung ke Amarta dan bersama uwak Yudistira, rama Werkudara serta bapakmu Arjuna tengah membahas sesuatu”

“Kalau begitu mari kita segera ke sana Kakang. Yayi Siti Sundari sayangku, tentu engkau telah mendengar permintaan Kakang Gatotkaca. Suamimu ini mohon ijin untuk segera ke Amarta menemui uwak Prabu Yudistira”

“Silahkan Kangmas”

“Engkau yang bersabar ya atas semua yang tengah kita alami ini”

“Mudah-mudahan Kangmas, doa dan cintamu kan selalu menguatkan hatiku”

Maka dengan tidak menunggu lama, Gatotkaca dan Abimanyu melesat menuju Amarta.

Di sitinggil kerajaan Amarta, Abimanyu melihat para sesepuh telah berkumpul tengah berdiskusi serius. Berdasarkan laporan dari prajurit jaga maka langsung Abimanyu dan Gatotkaca diperintahkan untuk menghadap.

“Masuklah engkau Abimanyu dan Gatotkaca” sabda Prabu Yudistira

“Sendika dawuh uwak Prabu. Putramu ini menghaturkan sembah kepada uwak Prabu, juga kepada Rama Prabu Kresna, uwak Werkudara serta Rama Arjuna” Abimanyu menghaturkan sembah.

“Demikian pula hamba menghaturkan sembah kepada para sesepuh” pun Gatotkaca menyampaikan hormat.

“Saya terima dengan senang hati anak-anakku. Pangestu kami para orang tua hendaknya kalian terima” jawab Yudistira.

“Terima kasih, tentu kami terima dengan senang hati dan akan kami jadikan sebagai jimat untuk menjalani kehidupan kami ini” hatur Abimanyu mewakili pula kakaknya Gatotkaca

Yudistira kemudian memulai membicarakan sebab dipanggilnya ABimanyu ke Amarta

“Tentu engkau ingin tahu mengapa dipanggil kesini bukan ?”

“Sendika dawuh uwak Prabu”

“Tadi pagi mertuamu Prabu Kresna datang dari Dwarawati khusus menyampaikan hal ini. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Koko Prabu Kresna, dewata hendak menurunkan sebuah wahyu yang bernama Cakraningrat. Wahyu ini adalah wahyu wijining ratu, wahyu pewaris raja. Sesiapa saja yang oleh dewata dipilih untuk menerimanya maka kelak dia akan menurunkan raja-raja di tanah ini. Terus terang oleh Kaka Prabu Kresna telah disampaikan bahwa kakakmu Samba telah diperintahkan pula untuk mencarinya, namun agar lebih yakin kita dapat menggapainya, maka beliau juga menyampaikan dan meminta kamu Abimanyu untuk mengikuti langkah kakakmu Samba yang telah menuju hutan Krendhawahana. Hal ini kami lakukan sebagai ikhtiar dalam menggapai tujuan. Mudah-mudahan kalau bukan kakakmu Samba maka engkaulah yang dapat memperolehnya. Kami yakin bahwa akan ada pihak lain yang mengupayakan hal serupa karena wangsit dewata ini tidaklah eksklusif untuk golongan kita saja.”

“Sendika dawuh uwak Prabu. Apa yang harus saya lakukan ?”

“Mintalah petunjuk kepada ramamu Arjuna”

Dengan pelan Abimanyu kemudian mengarahkan pandangannya kepada ayahnya seraya berkata

“Putramu mohon petunjuk Rama”

Arjuna adalah master dalam urusan wahyu. Begitu banyak wahyu dari dewata yang telah diterimanya. Dengan segudang pengalaman yang dimilikinya, Sang Parta kemudian berujar kepada anaknya tersayang

“Abimanyu anakku ! Engkau telah mulai tumbuh dewasa apalagi telah mempunyai seorang teman hidup yang setia dan mencintaimu dalam menjalani kehidupan ini. Hidup di dunia ini laksana sedang belajar dalam sebuah madrasah agung yang bernama kehidupan. Dan layaknya setiap madrasah maka akan selalu ada ujian-ujian untuk mengevaluasi seberapa dalam kita mampu menyerap nilai-nilai pembelajaran itu. Dan untuk menggapai sukses dalam meraih tujuan yang engkau inginkan, maka harus engkau ingat tiga hal. Yang pertama adalah Power of the Will, Determination, atau tekad bulat dalam diri untuk membebaskan diri dari keterikatan dunia. Mulai singkirkanlah keinginan-keinginan duniawi yang sepertinya indah dipandang mata, nikmat dirasakan, namun pada kenyataannya hanyalah fatamorgana belaka. Bukan berarti kita anti terhadap kesenangan-kesenangan duniawi, namun dalam menyikapi dan menggunakannya, haruslah sewajarnya saja. Kata orang bijak, dunia harus mampu engkau genggam dan kendalikan, jangan sampai sebaliknya, dunia yang mengendalikannmu.”

Arjuna berhenti sejenak dan memperhatikan anak kebanggaannya buah kasihnya dengan Sumbadra, Rara Ireng, yang tiada lain adalah adik dari Kresna. Abimanyu dengan penuh perhatian memperhatikan setiap kata-kata yang terucap dari ayah yang dikaguminya itu. Ayahnya adalah sosok yang layak diteladani. Walaupun ayahnya adalah panengah Pandawa dan putra seorang raja besar, namun sangat getol tapa bratanya. Tak heran pabila menjadi kekasih dewata serta sering memperoleh banyak hadiah berupa kadigdayaan dan juga para bidadari yang kemudian melahirkan anak-anak yang luar biasa. Ayahnya bukan tipe don juan ataupun playboy dalam bercinta dengan banyak perempuan. Kelembutan sikap dan watak yang smart, murni keluar dari hatinya yang bersih, tidak mengada-ada apalagi munafik. Juga dengan dibekali fisik yang nyaris sempurna bagi seorang laki-laki, dikaruniai wajah nan menawan dan tutur kata lemah lembut, siapa wanodya yang tiada kan tertarik, bahkan seorang bidadaripun ?

Tidak lama kemudian Arjuna melanjutkan wejangannya kepada anaknya Abimanyu

“Yang kedua adalah Power of Knowingness, mengembangkan keahlian dan pengetahuan. Ingat Abimanyu bahwa diperlukan kerja keras dan cerdas dalam menuntut ilmu. Juga konsistensi atau ke-istiqomah-an. Ilmu adalah wahana yang luas tanpa batas. Tak akan mampu engkau meraih semua yang engkau inginkan, namun bersikap ‘serakahlah’ engkau dalam mencari ilmu. Jangan beranggapan telah cukup dan merasa puas bila telah bisa melakukan sesuatu karena ilmu Tuhan berada di setiap sudut alam ini dan juga di setiap inci dirimu sendiri. Upaya mencari ilmu harus engkau lakukan kapan saja setiap waktu bahkan saat ajal kan menjemput. Yang ketiga adalah Power of Action, melaksanakan semuanya dengan keceriaan dan keikhlasan. Sebarlah ilmu kesiapa saja yang menginginkan. Berbagilah ! Jangan ada niat menyembunyikan ilmu hanya untuk diri sendiri. Manusia yang terbaik adalah orang yang mampu memberikan banyak manfaat kepada orang lain. Ingat Abimanyu, selalu berbuat baiklah dan selalu berbagilah dengan ilmu yang kita miliki. Dengan engkau lakukan hal itu, maka ilmumu tiada akan berkurang malah akan terus bertambah dan juga akan membuat dirimu semakin bijaksana dalam menyikapi dan menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini”

Abimanyu mengendapkan semua kata-kata ayahnya itu dalam hatinya. Tekad tuk melaksanakan semua wejangan ayahnya terkasih, tlah ditanamkan dalam hati.

“Hanya itu yang dapat ayahmu ini sampaikan, anakku. Dan segeralah engkau pergi ke hutan Krendhawahana dengan niat dan semangat yang mantab. Jangan engkau anggap mudah tugas ini karena akan banyak cobaan yang menghampirimu. Semoga engkau akan menuai sukses anakku, dan bawalah para panakawan untuk mendampingimu”

Arjuna mengakhiri wejangan kepada anak terkasihnya. Dan segera Prabu Yudistira memerintahkan

“Abimanyu, selalu ingat wejangan dari ayahmu itu dan segeralah engkau tunaikan tugas mulia ini. Dan engkau Gatotkaca, engkau tidak perlu mendampingi adikmu Abimanyu namun selalu berjaga-jagalah engkau di sekitar hutan Krendhawahana untuk mewaspadai apa yang akan terjadi nanti”

“Sendika dawuh uwak Prabu !”

Maka Abimanyu dan Gatotkaca undur dari sitinggil Amarta untuk kemudian bergegas melaksanakan tugas masing-masing.

Dan kini paling tidak sudah ada tiga pemuda yang tengah menuju ke hutan Krendhawahana untuk mencoba peruntungannya dalam menerima anugrah dewata yaitu wahyu Cakraningrat !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s