Sang Pejuang 2 : Lesmana Mandrakumara


wu87-01-16-lesmana-mandrakumara-text2

Wahyu Cakraningrat (2)

Jejer negara Astina.

Negri Astina adalah negara besar, negara super power di kala itu. Negara besar dengan sejarah panjang dimulai dari Prabu Nahusa, Prabu Yayati, Prabu Kuru, Prabu Dusanta, Prabu Barata, Prabu Hasti, Prabu Puru, Prabu Pratipa, Prabu Santanu, Prabu Abiyasa, Prabu Pandudewanata hingga sekarang ini diperintah oleh putra sulung Sang Destarastra.

Sinten ta jejuluking sri nata ing Ngastina, wenang dèn-ucapna, nenggih Mahaprabu Duryudana, Kurupati, Jakapitana, Hanggendarisuta. Mila jejuluk Duryudana, ateges naléndra ingkang abot sangganing aprang. Kurupati, angratoni darahing Kuru. Jakapitana, duk nalika sang nata sinengkakaké ngaluhur jumeneng naléndra nyata maksih jejaka dèrèng nambut silaning akrami. Déné Anggendariputra, nyata sang nata putra pambayuning Kusuma Dèwi Gendari.

Siapakah gerangan raja di Astina ? Tiada lain dia bergelar Mahaprabu Duryudana, Kurupati, Jakapitana, Hanggendarisuta. Bergelar Duryudana karena dia adalah seorang nalendra yang mengedepankan peperangan dalam mencari solusi. Bergelar Kurupati lantaran dia adalah raja berdarah Kuru. Jakapitana karena saat diangkat menjadi raja dia masih muda dan belum memiliki pendamping hidup. Sedangkan Anggendariputra karena dia adalah putra dari Dewi Gendari istri dari Destarastra.

Kacarita, Prabu Duryudana kondhang ing rat naléndra bèrbudi bèrbandha, remen hanggeganjar hangulawisudha, nanging kirang marsudi rèhing tata krami. Kadang satus kang sami nyantana dèn-ugung kesenengané. Marma sagung para kadang sami kaduk adigang, adigung, miwah adiguna, ngendelaké kadanging ratu.

Diceritakan bahwa Prabu Duryudana terkenal sebagai raja yang kaya raya bergelimang harta, senang membagi ganjaran dan hadiah bagi siapa saja yang dianggapnya berjasa bagi dirinya, namun sungguh sayang perilakunya kurang baik dalam tata krama. Saudaranya kurawa yang berjumlah seratus dimanjakan dengan kemewahan dan limpahan harta benda serta dituruti segala keinginan untuk slalu bersenang-senang sehingga tidaklah heran pabila para kurawa selalu bersikap adigang, adigung dan adiguna, mengedepankan bahwa mereka adalah saudara seorang penguasa di sebuah negara besar.

Sungguh sifat dan watak yang tidak baik sikap adigang, adigung adiguna itu. Bukankah para bijak cendekia telah merangkai untaian tembang indah untuk difahami dan kemudian menjauhinya dan menghindarinya ?

Sêkar gambuh ping catur

kang cinatur polah kang kalantur

tanpa tutur katula-tula katali

kadaluwarsa katutuh

kapatuh pan dadi awon

Tembang gambuh yang keempat, yang dibicarakan adalah tingkah laku yang kebablasan dan keterlaluan, tiada berisi kebenaran terbata-bata tak berujung berpangkal, pabila sudah terlanjur siapa yang bakal disalahkan, sungguh hal itu berakibat buruk.

Aja nganti kabanjur

sabarang polah kang nora jujur

yèn kabanjur sayêkti kojur tan bêcik

bêcik ngupayaa iku

pitutur ingkang sayêktos

Jangan sampai hal itu terjadi, segala tindakan yang tidak jujur, kalau dilakukan sungguh sangat tidak baik, lebih baik kau carilah, ajaran yang sebenarnya.

Pitutur bênêr iku

sayêktine apantês tiniru

nadyan mêtu saking wong sudrapapèki

lamun bêcik gone muruk

iku pantês sira anggo

Nasihat yang benar itu, sesungguhnya yang harus ditiru, meskipun asalnya dari orang yang hina dina, pabila baik dan benar ajarannya, sungguh pantas engkau manfaatkan.

Ana pocapanipun

adiguna adigang adigung

pan adigang kidang adigung pan èsthi

adiguna ula iku

têlu pisan mati sampyoh

Ada sebuah pepatah, adiguna, adigang, adigung, adigang itu watak kijang sedangkan adigigung watak gajah, adiguna itu watak ular, ketiga-tiganya mati sampyuh, mati bersama-sama.

Si kidang umbagipun

angandêlkên kêbat lumpatipun

pan si gajah ngandêlakên gêng ainggil

ula ngandêlakên iku

mandine kalamun nyakot

Mengapa kijang dikatakan begitu, dia memamerkan larinya yang cepat laksana kilat, dan gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar, sedangkan ular yang yang menjadi andalan adalah, ampuhnya racun pabila menggigit.

Iku upamanipun

aja ngandêlakên sira iku

sutèng nata iya sapa ingkang wani

iku ambêke wong digung

ing wusana dadi asor

Itulah ibaratnya, janganlah engkau menyombongkan diri, mentang-mentang seorang raja menantang siapa yang berani, sungguh itulah perilaku orang yang adigung, pada akhirnya niscaya akan menjadi pecundang.

Adiguna puniku

ngandêlakên kapintêranipun

samubarang kabisan dipun dhèwèki

sapa pintêr kaya ingsun

tuging prana nora enjoh

Adiguna itu, mengunggulkan kepandaiannya, segala kemampuan seolah melekat pada dirinya, siapa yang pintar seperti aku begitu sumbarnya, walau sebenarnya tiada mampu berbuat apa-apa.

Ambêk adigang iku

angungasaken kasuranipun

para tantang candhala anyênyampahi

tinêmênan nora pêcus

satêmah dadi gêguyon

Sedangkan watak adigang itu, memamerkan kekuatan kesentosaannya, siapa saja ditantang seraya keluar sumpah serapah, namun sungguh tiada berdaya, akhirnya malah justru jadi bahan tertawaan.

Ing wong urip puniku

aja nganggo ambêk kang têtêlu

anganggoa rèrèh ririh ngati-ati

dèn kawangwang barang laku

dèn waskitha solahing wong

Dalam kehidupan ini, janganlah memiliki watak ketiga-tiganya, selalu kedepankanlah kesabaran, kehalusan budi dan kehati-hatian, kan terlihat dari tindak dan tingkah laku, slalu waspadalah terhadap tindakan orang lain.

Dene katêlu iku

si kidang suka ing patinipun

pan si gajah alena patinirèki

si ula ing patinipun

ngandêlkên upase mandos

Karena ketiga-tiganya itu, si kijang pada akhirnya kan mati jua, begitupun si gajah karna kekuatannya, sementara matinya ular, justru lantaran bisanya yang ampuh.

Katêlu nora patut

yèn tiniru mapan dadi luput

titikane wong anom kurang wêwadi

bungah akèh wong anggunggung

wêkasane kajalomprong

Ketiga-tiganya sungguh tak pantas, pabila ditiru diikuti kan menjadi salah, ciri-ciri ada pada anak muda kurang mampu menjaga diri, senang akan sanjungan orang banyak, akhirnya malah terjerumus.

Yèn wong anom puniku

kakehan panggunggung dadi kumprung

pêngung bingung wêkasane pan angoling

yèn dèn gunggung muncu-muncu

kaya wudun mèh macothot

Kalau anak muda itu, terlalu banyak sanjungan menjadikannya bodoh, kosong bingung hingga akhirnya terjungkal, disanjung menjadi besar kepala, mirip bisul yang nyaris pecah.

Ing wong kang padha gunggung

pan sapele iku pamrihipun

mung warêge wadhuk kalimising lathi

lan têlêsing gondhangipun

rêruba alaning uwong

Sementara orang yang sengaja menyanjung, sebenarnya sederhana maksudnya, yaitu untuk kenyangnya perut dan berminyaknya mulut, dan basahnya tenggorokan, hasil dari memanfaatkan kejelekan orang.

(Petikan dari SERAT WULANGREH karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV)

Nenggih sinten ta ingkang lenggah jajar klawan sang nata. Nenggih pujangganing kraton Begawan Durna ya Sang Kumbayana. Mabukuh marikelu munggwing ngarsa, nenggih Rekyana Patih Harya Sengkuni. Datan kantun pangéran ngiras paniti sastra, Radèn Harya Kartamarma ingkang wus sumahap munggwing ngayun. Dupi wus antara lama dènira lenggah tinangkil, sang nata sasmita mring sang rekyana patih arsa wawan pangandika.

Prabu Duryudana tengah mengadakan pembicaraan bersama patih setianya yang juga adalah pamannya sendiri, Sengkuni, pujangga kraton Pandita Dorna serta kakak iparnya Raja Ngawangga Prabu Karna, serta Kartamarma. Pembicaraan terlihat serius dimana Prabu Duryudana mengungkapkan bahwa belum lama ini memperoleh sebuah petunjuk tentang akan turunnya wahyu ke dunia dalam waktu dekat ini. Seperti biasanya, maka kemudian Duryudana meminta pendapat Pandita Dorna :

“Bagaimana pendapat Bapa tentang wangsit yang saya terima ini. Apakah nama wahyunya serta apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkannya, Bapa Dorna ?”

Dengan sigap kemudian Begawan Dorna menjawab :

“Oh, lolé-lolé, somalolé somaranté jebebeg howéloh-howéloh, wana-wana dadi alas, alas-alas dadi wana. Ooo Anak Prabu, apa yang paduka katakan itu memang benar adanya. Dewata berkehendak akan menurunkan wahyu yang bernama cakraningrat. Wahyu itu bukan sembarang wahyu karena sesiapa yang memperolehnya maka ditakdirkan anak turunnya akan menjadi raja-raja yang berkuasa secara turun temurun.

“Sik … sik … sik … Kakang Dorna ?” Sengkuni tidak sabar ikut nimbrung pembicaraan.

“Apa Di Cuni !”

“Coba sekarang jelaskan yang sejelas-jelasnya tentang bagaimana caranya memperoleh wahyu dan memeliharanya.”

Dengan gamblang kemudian Dorna menjelaskan pertanyaan Sengkuni

“Begini, kalau Di Cuni ingin tahu apa yang disebut dengan wahyu itu, tolong perhatikan dengan benar apa uraianku ini. Wahyu disini, bukan Sri Wahyuni pesinden yang kamu sir itu, atau Wahyudiono tukang kendang gamelan istana. Wahyu adalah salah satu dari kebeuntungan atau anugerah dari Yang Maha Kuasa yang memiliki dan memancarkan daya linuwih. Adapun wujud dari daya linuwih tadi dapat berupa harta benda, kekuasaan derajat ataupun pangkat. Karena wahyu itu asalnya dari Sang Pencipta Alam maka tidak akan mampu diserupakan dengan kita manusia selaku ciptaanNya. Artinya, tidak bakal bisa kita menghitung ataupun merancang agar si wahyu tadi dapat kita raih. Kemampuan kita sebatas diberi atau menerima bila kita yang dipilih, jadi sebatas hanya nglakoni saja. Itu juga yang menyebutkan orang lain karena sering diri yang kewahyon tadi justru tidak merasakannya.”

“Ooo begitu to Kakang”

“Iya Di Cuni, adapun dari mana asal wahyu tadi dapat saya jelaskan begini. Bberdasarkan ujaran dari para bijak cendekia, sebenarnya hanyalah merupakan hasil dari apa yang diperbuatnya sendiri. Hasil panen dari usahanya menanam dan memelihara, ataupun hasil dari perbuatan baiknya terhadap manusia dan alam ini. Menanam padi tentu kelak akan memanen gabah, namun boleh jadi yang memanen adalah anak cucu kita. Terus bagaimana cara menanam tadi ? Sederhana saja ! Kita harus selalu tapa brata dalam arti hidup kita dipenuhi oleh perilaku utama dilandasi niat, tekad dan hati yan bersih dan mantab untuk meraih kemuliaan hidup. Dijauhkan dari sikap sombong, iri dengki, bermewah-mewah jauh dari kesederhanaan, mengurangi keinginan-keinginan duniawi yang cenderung mementingkan kesenangan semu semata dan selalu mendekatkan diri kepada Gusti Ingkang Murbeng Dumadi. Jadi tapa brata disini artinya bukan saja mengheningkan cipta mencari tempat yang sepi untuk lebih dekat kepada Tuhannya, justru yang paling penting adalah tetap melaksanakan kewajiban selaku manusia namun hati kita selalu tertambat kepadaNya. Bukankah ada istilah tapa ngrame tho Di Cuni ?”

“Begitu ?”

“Dan karena wahyu itu merupakan wujud dari suatu kemuliaan, maka tidak heran pasti setiap orang berharap memperolehnya. Siapa sih manusia yang tidak ingin mulia hidupnya ? Namun tidak semua orang tahu akan hakekat wahyu, dan kalaupun tahu dan berkeinginan untuk memperolehnya, maka tidak semua orang akan memperolehnya. Hanya orang yang beruntung dan diterima pengabdiaannya oleh Sang Pencipta saja, yang bakal memperoleh wahyu, bakal kewahyon. Dan ingat Di Cuni, pabila dilihat secara kasat mata saja maka orang yang kewahyon sudah terlihat berbeda sikap dan wataknya. Dalam kesehariannya senantiasa prasaja, slalu temen, jauh dari watak lelamisan, menghormati siapa saja tanpa pandang bulu apakah kaum bangsawan atau rakyat biasa, hambeg susila anuraga, tiada suka terhadap perseteruan, yang dilakukan hanyalah sarwa hamemayu rahayuning kahanan sakwutuhé. Selain daripada itu, spiritualnya selalu dijaga dan dipelihara dari debu-debu yang mengotorinya sehingga dalam berfikir dan bertindak didasarkan kepada jalan yang sudah digariskan oleh Gusti Ingkang Murbeng Dumadi. Begitu Di Cuni.”

“O, o, o, ternyata sungguh susah ya orang yang kewahyon itu ?”

“Benar sulit. Tidak sembarang orang dapat melakukannya. Kalau ketrampilan semisal naik kuda, olah keprajuritan, bisa dipelajari, namun bila sampai pada kewahyon hal itu cukup sulit namun bukan berarti tidak bisa. Orang kalau sudah kewahyon, obah mamah ménggok ngemplok, seakan-akan apa-apa serba kebetulan, seolah masalah yang dihadapinya selalu saja ada solusinya dan diberi kemudahan oleh Yang Maha Kuasa”

“Heem … begitu. Terus kalau wahyu si Cakraningrat itu yang dapat meraihnya siapa saja Kakang ?”

“Siapa saja dapat kewahyon, namun menurut wangsit yang aku terima wahyu Cakraningrat ini akan manjing dalam diri seorang pemuda yang nantinya bakal menurunkan raja-raja.”

“Hemm Bapa Dorna, kalau begitu Bapa merekomendasikan siapa untuk dapat mencari wahyu ini ?” Sang Nata yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Dorna dan Sengkuni akhirnya bertanya juga.

“Oh, lolé-lolé, somalolé somaranté jebebeg howéloh-howéloh, wana-wana dadi alas, alas-alas dadi wana. Anak Prabu, dari apa yang telah Bapa jelaskan tadi maka tidak lain Bapa merekomendasikan putra mahkota Astina Lesmana Mandrakumara yang harus melaksanakan tugas ini”

“Apakah memang harus dia Bapa ?”

“Lebih baik begitu Anak Prabu. Disamping karena Lesmana masih muda teruna, harapan Bapa ini dapat dijadikan sebagai momentum untuk menunjukan kepada dunia terhadap kapasitas dan kapabilitas dari Lesmana sebagai calon pengganti anak prabu kelak”

“Benar juga saran Bapa Dorna. Pun harapan saya sebenarnya juga demikian. Kalau begitu … Kartamarma ! Tolong keponakanmu Lesmana engkau panggil menghadapku kesini !”

Dengan sigap Kartamarma kemudian memenuhi perintah kakaknya itu

“Sendika dhawuh !”

Tidak lama kemudian, dengan langkah gemulai muncullah Sang Putra Mahkota Astina di sitinggil. Terbayang kekenesan Pangeran pati dari Sarojabinangun itu ketika berjalan dengan langkah pelan dan tangan serta pinggul di goyang-goyangkan dengan kenesnya.

Lesmana Mandrakumara adalah satriya bagus kakehan cacat, satria bagus dengan terlalu banyak kekurangannya. Benar wajahnya tampan, namun tidak gagah layaknya seorang laki-laki sejati. Lesmana bertangan kwaga dan kaki kirinya apus, matane ngincer keladuk keder. Alis bengker cahyane ngembus-embus arang-arang kena cahyane srengenge. Amung mukti wibawa tuwuk mangan lan ngunjuk. Cinawisan dedolan kang kaya dolananing para wanita. Ora ngrokok, nanging nginang. Godeke pak-cip, sing tengen papak sing kiwa lincip. Brengos laler neng ngisor irung, jawese mung telung ler. Jenggot amung thukul ana samburining janggut. Ketingal kaya kekalung. Pupurane mera-mera tan prabeda kaya wanita, kethok godhek kerik alis. Bengesan mingir-mingir ngantos tekan njawi lambe. Mila saking ketebihan domble, menawi dipun celaki saya sanget.

Begitulah putra dari Penguasa Astina, Duryudana dengan sang permaisuri Dewi Banowati. Mungkin karena terlalu dimanja hingga segala keinginannya selalu dipenuhi. Apalagi di sekelilingnya dipenuhi oleh orang-orang yang serba lamis, yang berusaha menyenangkannya karena kedudukannya sebagai pangeran pati negri Astina.

Dengan gaya kemayu, Lesmana Mandrakumara kemudian menyembah menghormat ayahnya seraya berkata :

“Rama, ada apakah gerangan hingga anakmu ini disuruh kesini. Ada sesuatukah yang sangat penting ?”

Duryudana menjawab dengan tenang

“Heem … anakku bocah bagus Lesmana, sedang apakah engkau tadi sewaktu pamanmu Kartamarma membawamu kesini ?”

Dengan suara kenes Lesmana menjawab kemayu

“Rama ini gimana sih, lha wong ditanya kok malah balik nanya”

“Hush … ngger … kalau menghadap sama raja itu harus yang sopan santun, meskipun itu ramamu sendiri tapi tetap saja kamu harus menggunakan tutur kata serta bahasa yang baik dan lemah lembut. Bukannya sama paman-pamanmu engkau telah diberi pelajaran tentang hal itu ?” Sengkuni mengingatkan

Mendengar teguran Sengkuni, Lesmana bukannya surut malah membela diri

“Iya Mbah cilik Ceng, yang paman-paman ajarkan kepadaku ya seperti itu apalagi kalau paman Dursasana, lebih jos lagi”

“He he he … Di Cuni …. cucumu Lesmana memanggil kamu kok terdengar aneh ya … mbah cilik Ceng … he he he” Dorna ikut nimbrung pembicaraan

“Lha itu gara-gara Kakang Dorna juga memanggil aku Cuni, jadinya cucuku Lesmana menyingkat di depan saja jadi Ceng. Tapi ya gimana lagi, lha wong anake ratu je, kalau dimarahi malah nanti aku yang dihajar. Eeeh bocah bagus Lesmana … melanjutkan pertanyaan ramamu tadi, barusan kamu sedang apa tho sebelum datang dipanggil kesini ?”

“Lagi asyik Mbah Cilik, aku lagi asyik maen congklak sama para emban”

“Lha kok maenmu sama emban tho ngger ?”

“Lebih asyik tho Mbah Cilik, daripada disuruh latihan perang-perangan pakai pedang atau tombak, lebih menyenangkan kalau pegang selendang latihan tari gambyong”

“Halah piye tho iki …”

“Heeem anakku bocah bagus Lesmana !” akhirnya Duryudana mengambil alih pembicaraan

“Inggih Rama”

“Begini anakku … mendekatlah”

Hanjrah kang puspita rum,
Kasilir ing samirana mrik,
Sekar gadhung,
Kongas gandanya,
Mawèh raras renaning driya

“Engkau sekarang bukan bocah lagi. Usiamu sudah menapak dewasa. Sudah selayaknya engkau mulai memikirkan masa depan hidupmu dan juga kejayaan negri Astina ini. Apalagi ramamulah yang sekarang ini menjadi penguasa di negri ini. Engkau harus mulai mempersiapkan diri agar kelak bila ramamu ini sudah renta dan lengser keprabon, dapat engkau gantikan kedudukan raja di Astina ini. Bukan begitu anakku ?”

“Benar Rama, kata para emban aku adalah pangeran pati, putra mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukan rama. Terus apa hubungannya dengan rama memanggilku saat ini ?”

“Tadi sudah kami bicarakan sebelumnya dengan para sesepuh negara. Perlu engkau ketahui anakku, bahwa dewata akan menurunkan wahyu keprabon yang harus diusahakan agar kita dapat memperolehnya. Tepatnya kamu anakku Lesmana. Karena wahyu yang bernama cakraningrat itu tengah mencari tempat pada diri seorang pemuda yang kelak akan menurunkan raja-raja di tanah ini. Oleh karenanya tadi begawan Dorna menyarankan agar dirimulah yang ditunjuk untuk menggapainya”

“Wah … sungguh asyik rama kalau memang anakmu ini mampu mendapatkannya. Aku akan menjadi digdaya tapi juga pinter nari dan pinter segala hal. Tapi bagaimana caranya rama ?”

“Engkau harus melakukan tapa brata di hutan Krendhawahana, karena hanya disanalah wahyu cakraningrat dapat diperoleh”

“Waduh rama …. dari berita yang aku dengar, hutan Krendhawahana adalah hutan yang angker. Aku takut rama kalau bertapa disana. Apakah tidak bisa tapa bratanya dilakukan di istana saja rama ?”

“Mana bisa tapa brata dilakukan di istana. Engkau harus mencari tempat yang sepi sehingga dalam mengheningkan cipta berharap berkah dewata lebih mudah tercapai.”

“Tapi aku takut sendirian rama, apalagi disana tentu banyak binatang buas dan juga jin setan perayangan yang tentunya galak-galak dan menakutkan”

“Jangan kuatir ! Hal ini sudah rama pikirkan. Kakang Karna, bagaimana pendapat kakang dengan masalah ini ?” Tanya Duryudana kepada kakak iparnya, Karna

“Memang sudah saatnya ananda Lesmana diberi tanggung jawab sesuai dengan darma seorang satria” jawab Karna diplomatis

“Di hutan nanti kan sepi rama, tidak ada yang bernyanyi untukku saat aku mau bobok. Dan juga pastinya akan dingin, gelap dan nggak ada makanan-makanan enak yang siap tersaji” Lesmana masih merengek

“Jangan kuatir anakku, nanti uwakmu Karna dan Mbah cilikmu yang akan menemanimu dalam menjalankan tapa brata. Yang engkau harus lakukan sekarang adalah memantabkan niat dan segeralah berbenah untuk pergi ke hutan Krendhawahana untuk menjemput wahyu cakraningrat”

“Kalau memang begitu, aku siap rama. Kapan berangkatnya rama ?”

“Sekarang juga, jangan menunggu lama. Ramamu khawatir seandainya engkau tunda-tunda maka orang lainlah yang akan mendapatkannya. Kakang Karna ! Segeralah kakang berbenah membawa prajurit secukupnya untuk mendampingi ananda Lesmana dalam usahanya meraih wahyu cakraningrat”

“Sendika dawuh !”

Maka pasewakan agungpun segera dibubarkan.

Dan Prabu Duryudana kemudian beranjak menuju kedhaton untuk menemui istri tercinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s