SAAT PERTAMA KALI NONTON KI NARTO SABDHO


KNS 1

Peristiwa ini, terjadi pada tahun 1966, di kota Sala-Tiga, sekitar awal bulan Juli. Hari tepatnya saya sudah lupa, tetapi yang saya ingat adalah dalam rangka merayakan ulang tahun POLRI, dan dilakukan di halaman kantor markas kepolisian Kota Sala-Tiga. Saat itu saya masih anak-anak. Baru duduk di kelas dua, SMP. Jalan raya di dekat markas kepolisian itu, merupakan salah satu jalan raya yang secara rutin saya lewati jika saya hendak pergi ke sekolah, atau pulang dari sekolah. Saya sekolah di SMP Negeri 1, Sala-Tiga, yang lokasinya di Jl. Kartini. Sedangkan tempat tinggal saya, di Jl. Karang Gendhong, atau bagi penduduk Kota Sala-Tiga, lebih sering disebut Jl. Solo. Kalau dari arah kota ke arah selatan, pas di tanjakan pertama, di depan komplex perumahan tentara, yang oleh penduduk entah karena apa, sering disebut ‘Tangsi Bambu’. Saya dan orang-tua saya, tinggal di komplex perumahan pegawai PN Perhutani.

Siang itu, sekitar jam setengah satu, saya seperti biasa pulang sekolah melewati jalan raya di samping markas kepolisian. Di sebelah markas polisi itu, ada lapang sepak bola. Saat melewati jalan raya yang saat itu sepi, tak terlalu banyak kendaraan yang lewat, saya melihat di halaman depan kantor markas polisi itu sudah didirikan ‘tarub’, yaitu bangunan sementara, yang atapnya dari kain terpal tebal. Bangunan tarub itu berukuran besar sekali. Di depan ‘tarub’, dari kejauhan terlihat ada truk-truk besar yang parkir. Sejumlah orang terlihat sedang membongkar muatan truk-truk itu. Entah kenapa, saya tertarik untuk melihat. Karena itu, saya lalu berjalan ke arah halaman kantor markas kepolisian itu dan tidak jadi pulang. Ternyata truk-truk besar itu memuat gamelan dan kotak wayang. Beberapa orang terlihat sedang menurunkan gamelan yang kelihatan berat, dari atas bak truk. Belakangan saya baru tahu, bahwa semua gamelan, kelir wayang, dan wayang kulit yang akan digunakan untuk pagelaran wayang nanti malam, adalah milik Pak Narto Sabdho.

Di bangunan ‘tarub’ itu, terlihat sebuah ‘kelir’ (layar wayang kulit) berukuran besar dan panjang sudah dipasang, lengkap dengan ‘gedebog’-nya (batang pohon pisang), yang nantinya akan digunakan untuk menancapkan wayang. Tetapi wayang kulit-nya belum ada yang di-‘simping’. Saya, dari kejauhan melihat, panggung gamelan sudah selesai dibuat dan sudah selesai pula diberi lapisan kain terpal. Tinggal memasang tikar, sebagai alas duduk para ‘nayaga’. Masih beberapa saat, saya memperhatikan berbagai kegiatan mempersiapkan pagelaran wayang itu. Dari orang yang sedang bekerja di tarub itu, saya mendapat keterangan, bahwa dhalang yang nanti malam mau ‘manggung’ adalah Ki Narto Sabdho dari Semarang, yang saat itu sudah mulai dikenal sebagai dhalang kondang. Saat mendengar informasi itu, saya jadi tercengang. Jadi…., yang nanti malam main, adalah Pak Narto Sabdho….? Waaaa…. saya belum pernah menyaksikan pagelarannya. Selama ini, saya hanya mendengar cerita dari beberapa orang, yang menyampaikan bahwa beliau merupakan dhalang yang bagus. Selain itu, saya juga hanya mendengar pagelarannya lewat pesawat penerima radio gelombang pendek, khususnya lewat siaran RRI Semarang, di gelombang radio 75 meter. Meskipun pada saat itu sudah ada TVRI, tapi pada waktu itu tidak pernah ada programa siaran televisi yang menampilkan pagelaran Pak Narto Sabdho…

Continue reading SAAT PERTAMA KALI NONTON KI NARTO SABDHO

Mahabharata 27 – Pengembaraan di Rimba Raya


Savitri satyawan

Kaum brahmana yang dulu bersama-sama Yudhistira di Indraprastha setia menyertainya dalam pengasingan di hutan. Tidak mudah mengatur dan membiayai rombongan yang sangat besar itu. Resi Lomasa menasihati Yudhistira agar memperkecil rombongannya supaya pengembaraan lebih lancar, terutama ketika berziarah ke tempat-tempat suci di hutan.

Atas saran tersebut, Yudhistira memberi tahu pengikut-pengikutnya bahwa mereka yang tidak biasa menghadapi kesulitan dan mengikutinya hanya karena berbela rasa, sebaiknya kembali ke Negeri Astina yang diperintah Raja Dritarastra atau ke Negeri Panchala yang diperintah Raja Drupada. Selanjutnya, Yudhistira menyerahkan sepenuhnya kepada para pengikutnya cara apa yang mereka anggap paling baik dan sesuai dengan kesanggupan mereka.

Dalam pengembaraan dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya di dalam hutan, Pandawa mendengar, melihat, dan mengalami berbagai keadaan dan situasi yang membuat mereka yakin bahwa masa depan mereka akan baik.

Sebagai suri teladan, Resi Lomasa menceritakan kisah Resi Agastya kepada mereka,

“Pada suatu hari, Agastya melihat roh manusia berdiri terbalik, kepalanya di bawah dan kakinya di atas. Karena anehnya, ia bertanya kepada makhluk itu dan dijawab bahwa makhluk itu adalah nenek moyangnya sendiri yang telah meninggal dunia. Ia mengalami nasib demikian karena keturunannya tidak mau kawin dan tidak punya anak yang wajib mengadakan upacara-upacara persembahyangan untuk roh nenek moyang. Mendengar hal itu, Agastya langsung memutuskan untuk kawin.

“Terkisahlah bahwa raja Widarbha tidak punya anak. Raja itu kemudian memohon restu kepada Resi Agastya agar ia dikaruniai anak. Pada waktu memberikan restu, Agastya mengucapkan kutuk-pastu, yaitu: jika anak yang lahir perempuan, anak itu harus diserahkan kepadanya untuk dikawini.

“Ketika tiba waktunya, lahirlah seorang putri jelita yang kemudian diberi nama Dewi Lopamudra. Semakin dewasa semakin sempurnalah kecantikannya. Dewi Lopamudra termasyhur di kalangan para kesatria, tapi tidak seorang pun berani mendekatinya karena takut pada Resi Agastya.

“Pada suatu hari, Resi Agastya datang ke istana Raja Widarbha untuk menagih janjinya. Tetapi Raja Widarbha keberatan. Dia tak mau menyerahkan putrinya yang cantik itu kepada resi tua yang hidup menyendiri di dalam hutan. Raja cemas kalau-kalau kutuk-pastu sang Resi akan menjadi kenyataan. Mengetahui kecemasan dan kesedihan orangtuanya, Dewi Lopamudra justru menyatakan keinginannya untuk kawin dengan resi itu.

“Setelah disepakati, perkawinan dilangsungkan sebagaimana mestinya. Sebelum memboyong istrinya ke hutan, Resi Agastya menyuruh Dewi Lopamudra melepas semua perhiasannya dan mengganti pakaiannya yang mewah dan mahal. Istrinya harus bersedia hidup sederhana sesuai kebiasaan para resi yang tinggal dalam asrama di hutan. Dewi Lopamudra membagi-bagikan semua perhiasan dan pakaiannya kepada teman-teman dan para pelayannya, kemudian mengenakan pakaian dari kulit kayu.

Demikianlah, Resi Agastya dan Dewi Lopamudra hidup bahagia di pertapaan di hutan Ganggadwara. Mereka saling mengasihi dan selalu tampak mesra.

“Pada suatu hari, karena perasaan cintanya yang meluap-luap, Dewi Lopamudra tak bisa menahan perasaannya.

Ia meminta kepada Resi Agastya agar sekali-sekali mereka menikmati kemewahan. Continue reading Mahabharata 27 – Pengembaraan di Rimba Raya

Mahabharata 26 – Penderitaan adalah Karunia Dharma


Balarama

Balarama dan Krishna mengunjungi tempat pengasingan Pandawa di hutan rimba. Melihat penderitaan Rajadiraja Yudhistira dan saudara-saudaranya, Balarama berkata kepada Krishna,

“Wahai Krishna, agaknya kebajikan dan kejahatan membuahkan hasil berlawanan dalam hidup ini. Sebab, Duryodhana yang jahat dan durhaka kini memerintah kerajaan dan selalu mengenakan pakaian kebesaran bersulam emas; sementara Yudhistira yang suci dan bijaksana mengembara di tengah hutan, mengenakan pakaian dari kulit kayu. Melihat lenyapnya kekayaan dan kemakmuran seorang suci dan berbudi luhur bisa membuat manusia kehilangan kepercayaan kepada Dewata. Pujaan-pujaan di hadapan kita berasal dari kejahatan dan kebajikan di dunia.

“Bagaimana kelak Dritarastra mempertanggungjawabkan perbuatannya dan bagaimana ia bisa membela diri waktu berhadapan dengan Dewa Kematian ? Padahal, seluruh lembah, gunung dan bumi menangis menyaksikan nasib Pandawa yang tidak berdosa, sementara Draupadi, dengan karunia Dewa Agni, sang Dewa Api, ditakdirkan untuk hidup terlunta-lunta di dalam hutan !”

Satyaki yang ada di situ berkata,

“Wahai Balarama, kini bukan saatnya untuk bersedih hati. Apa kita harus menunggu sampai Yudhistira meminta kita untuk membantu Pandawa ? Semasa engkau, Krishna dan para kerabat lain, masih menikmati kejayaan seperti sekarang, kenapa kita biarkan Pandawa hidup tersia-sia di hutan ? Mari kita kerahkan prajurit kita dan kita gempur Duryodhana. Dengan bantuan balatentara Wrisni, kita pasti bisa menghancurkan Kaurawa. Kalau tidak, apa gunanya ada tentara? Krishna dan engkau pasti bisa melakukan ini dengan mudah. Aku ingin sekali melumpuhkan senjata Karna dan memancung lehernya. Mari kita hancurkan Duryodhana dan sekutu-sekutunya.

“Jika Pandawa ingin memegang teguh janji mereka, kita serahkan kerajaan kepada Abhimanyu dan mereka boleh tinggal dalam hutan. Hal itu baik bagi mereka dan pantas bagi kita sebagai kaum kesatria.”

Dengan saksama Krishna mendengarkan kata-kata Satyaki. Kemudian ia berkata, “Apa yang kaukatakan itu benar. Tetapi Pandawa takkan sudi menerima uluran tangan orang lain. Mereka lebih suka berusaha sendiri. Draupadi, yang terlahir berdarah pahlawan, pasti tak mau mendengarkan ini. Yudhistira pasti takkan mau meninggalkan jalan kebenaran hanya demi rasa cinta atau takut. Setelah masa pengasingan yang ditetapkan habis, para raja dari Panchala, Kekaya, Chedi dan kita semua bisa menyatukan semua bala tentara kita untuk membantu Pandawa menaklukkan musuh.”

Mendengar kata-kata Krishna, Yudhistira tersenyum tanda mengerti lalu berkata, Continue reading Mahabharata 26 – Penderitaan adalah Karunia Dharma

Saat Batara Cakraningrat mencari Kurungan Kencana


21_kayon_wahyu_tumurun

Wahyu Cakraningrat (6)

Sebelas hari sudah, hutan yang luas dan lebat itu kini ditempati sementara oleh tiga rombongan para pejuang pencari wahyu. Masing-masing tidak ingin tahu posisi pesaing, namun menurut perkiraan tidak terlalu jauh dari tempat mereka.

Dari ketiga kelompok itu, tentu rombongan dari Astinalah yang paling banyak dan semarak. Awal mulanya, Lesmana tidak mau melakukan tapa brata sesuai yang diminta ayahnya karena dengan alasan tidak biasa dan tidak kuat. Maunya ikut bersenang-senang dengan paman-paman mereka yang selalu menggelar pesta walau di tengah hutan. Dengan sabar uwaknya Karna membujuk Lesmasna untuk segera melaksanakan perintah walau berat harus dijalani untuk memperoleh kemuliaan.

“Angger Lesmana, tidak ada salahnya engkau untuk belajar menjalani tapa brata. Niscaya akan engkau temui ketenangan jiwa. Jauhkanlah sementara tubuh dan nafsumu dari memenuhi dan mengumbar kesenangan duniawi. Makan dan minum yang serba lezat dan nikmat, alunan musik yang memikat serta buaian lembut para penari yang membuatmu terlena, kalau engkau turuti terus menerus, bakal membuatmu semakin jauh tuk gapai yang engkau dan ramamu harapkan.”

“Bagaimana aku bisa menghindari sementara semua itu tersaji di depan mataku, Uwa”

“Itulah godaan yang harus engkau hadapi. Dengan niat kuat dan hati yang tawakal, maka semua yang tampak indah di mata maupun rasamu, niscaya tiada berarti apa-apa. Semua kelezatan, keindahan, kesenangan yang tersaji itu, hanyalah sementara saja bakal engkau nikmati. Tidak abadi. Hanya nafsu sesaat saja yang engkau lepaskan. Apabila engkau turuti terus menerus, maka ia akan mengekang dan mengendalikanmu. Dirimu menjadi tak berdaya. Ibarat kehausan, kemudian engkau melepas dahaga dengan minum air laut. Bukannya hilang rasa dahaga itu, malah semakin mencekikmu”

“Begitu ya, Uwa, ya”

“Iya Ngger, oleh karenanya segeralah engkau mencari tempat yang sepi agak jau dari paman-pamanmu itu, dan bersegeralah engkau melakukan tapa brata. Jangan kuatir, uwakmu ini akan mengawasimu terus menerus. Engkau tidak perlu takut”

“Baik, Wa”

Walaupun Karna tidak yakin terhadap apa yang dilakukan keponakannya itu, namun dia merasa cukup senang bahwa Lesmana kemudian menuruti perintahnya untuk melakukan tapa brata di sebuah gua kecil yang tidak terlalu jauh dari perkemahan. Karna kemudian memerintahkan para Kurawa dan prajurit yang ada untuk berjaga disekelilingnya. Continue reading Saat Batara Cakraningrat mencari Kurungan Kencana

Sebuah Pesta Penyambutan


duryudana

Wahyu Cakraningrat (5)

Sorot mancur mencorong
mijil saking putri winongwong,
nenggih Dèwi Banowati, musthikaning uwong.
Nyata ayu akarya lamong,
akèh priya kang kepéngin mboyong,
dadi kembang lambé pating clemong,
akèh kang gandrung kloyong-kloyong.
Lamun Sang Banowati liwat, para priya mung pating plenggong
plompang-plompong ora kuwat ndulu bundering bokong.

Dedegé ora sangkuk,
asta lir gendhéwa tinekuk,
driji kaya saya minggah saya mucuk,
padharan ora mblendhuk,
ponang pocong nyenthing munjuk,
disawang saka mburi cundhuk,
ngiringan mathuk,
ngarep metuthuk.
Bojo kaya Dèwi Banowati sewayah-wayah gathuk,
awan sayuk,
wengi njuk,
luwih-luwih yèn ta ‘bar adus ésuk.

Nyata tetungguling memanis.
Réma njanges semu wilis,
sinom lir ron pakis,
nanggal sepisan kang alis,
lathi abang lir manggis,
janggut nyathis,
pamulu hambenglé kéris.
Yèn dandan ora uwis-uwis.
Payudara lir bluluk kuning dèn prenah mrih manis,
sinangga kemben dadya munjuk sawetawis,
mula ora susah dikepeti wis ésis.

(Pocapan dicuplik dari Ki Purbo Asmoro : Makutharama)

Itulah Dewi Banuwati ! Prameswari Astina, istri satu-satunya Duryudana. Duryudana tiada pernah dan tak akan mencoba untuk mendua. Baginya, cintanya tlah berlabuh di Banuwati seorang. Apatah lagi Banuwati telah memberinya dua orang anak buah hatinya yaitu Lesmana Mandrakumara dan Lesmanawati. Continue reading Sebuah Pesta Penyambutan

Sang Pamomong


Punakawan

Wahyu Cakraningrat (4)

Prabawaning wahyu kang sumedya
turun ing mercapada miling-miling wonten ing angkasa
gebyar-gebyar pindha ndaru kang sumedya tumibèng bawana
timbuling prabawa dumadi gara-gara tanpa sangkan
swara kaya mecah-mecahna jagad nganti sumundhul ing kayangan Suralaya
clorooot …. gleger
warda wening sirep kocap gara-gara
swara tanpa una tanpa uni
doh lamun jinarwakna
senajan ta katon slaka, slaka cèlèng
intena, inten bumi
para putra-putra bibar saknalika
pungun-pungun tyasira Ki Lurah Semar kanthi anggana raras

Daya perbawa wahyu yang tengah bersiap
turun ke marcapada, dunia, mencari tempat bersemayam sejati
bersinar cerlang layaknya cahya bintang jatuh
munculnya perbawa menciptakan gara-gara tanpa sebab
bersuara seolah memecahkan jagat dan tembus hingga kahyangan Suralaya
meluncur .. cepat menggelegar ..
sosok tua berparas teduh hening redam gara-gara

—-

Setelah mengerti akan tugasnya dan tlah dibekali ilmu serta pitutur luhur dari ayahnya Arjuna serta para sesepuh lainnya, maka segera Abimanyu menjemput para panakawan untuk mendampinginya dalam perjalanannya menuju TKP. Continue reading Sang Pamomong

Mahabharata 25 – Arjuna dan Pasupata


Arjuna_statue

Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/ee/Arjuna_statue.JPG

Di tempat pengasingan di dalam hutan, Bhima dan Draupadi sering bercakap-cakap dengan Yudhistira. Mereka berkata bahwa amarah yang didasari kebenaran adalah benar sedangkan bersikap sabar menerima penghinaan dan pasrah menerima penderitaan bukanlah sifat kesatria sejati. Mereka berdebat sengit sambil mengutip pendapat para arif bijaksana untuk membenarkan pendapat masing-masing. Tetapi, dengan mantap Yudhistira berkata bahwa seorang kesatria haruslah teguh memegang janjinya, bahwa tahan uji adalah kebajikan paling mulia dari segala sifat manusia.

Bhima sudah tidak sabar ingin segera menyerang Duryodhana dan merebut kembali kerajaan mereka. Baginya tidak ada gunanya menjadi kesatria perkasa jika harus hidup mengembara di hutan, tanpa berperang, hanya bertapa bersama para resi dan pendita.

Bhima berkata kepada Yudhistira, “Engkau seperti mereka yang berulang-ulang melantunkan kidung suci Weda dengan suara merdu dan puas mendengar suaramu sendiri walaupun engkau tak mengerti artinya. Otakmu jadi kacau. Engkau dilahirkan sebagai kesatria, tetapi tidak berpikir dan bertindak seperti kesatria. Tingkah lakumu seperti brahmana. Seharusnya kau tahu, dalam kitab-kitab suci tertulis bahwa teguh dalam kemauan dan ulet berusaha adalah ciri-ciri kaum kesatria. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak Dritarastra berbuat curang seenaknya. Sia-sialah kelahiran seseorang sebagai kesatria jika ia tak dapat menundukkan musuh yang licik. Inilah pendapatku.”

“Bagiku, masuk neraka karena memusnahkan musuh yang jahat dan licik sama artinya dengan masuk surga. Hatimu yang lemah membuat kami panas hati. Aku dan Arjuna tidak terima. Hati kami bergejolak. Siang dan malam kami tak bisa tidur.”

Ia berhenti sebentar, menghela napas, lalu melanjutkan, “Mereka orang-orang laknat yang merampas kerajaan kita dengan licik. Kini mereka hidup bergelimang kekayaan dan pesta pora. Tapi… engkau? Lihatlah dirimu! Engkau tergolek pulas seperti ular kobra kekenyangan, tak bisa bergerak. Katamu, kita harus setia pada janji kita. Bagaimana mungkin Arjuna yang masyhur bisa hidup dengan menyamar? Mungkinkah Gunung Himalaya disembunyikan dalam segenggam rumput? Bagaimana bisa Arjuna, Nakula dan Sahadewa yang berhati singa hidup dengan sembunyi-sembunyi? Apa mungkin Draupadi yang termasyhur lewat tanpa dikenali orang? Apa pun usaha kita untuk menyamar, Kaurawa pasti bisa menemukan kita melalui mata-mata mereka. Jadi, tidak mungkin kita bisa memenuhi janji ini. Semua ini hanya alasan untuk mengusir kita selama tiga belas tahun. Kitab suci Sastra membenarkan kata-kataku, yaitu: janji berdasarkan kecurangan bukanlah janji. Engkau harus putuskan untuk menggempur musuh-musuh kita sekarang juga! Bagi kesatria, tak ada kewajiban yang lebih mulia daripada itu.”

Tak jemu-jemunya Bhima mendesak-desakkan pendapatnya. Draupadi juga sering mengingatkan Yudhistira betapa ia telah dijamah oleh tangan-tangan kotor Duryodhana, Karna dan Duhsasana. Ia juga sering mencoba memanas-manasi Yudhistira dengan mengutip nukilan-nukilan kitab-kitab suci. Continue reading Mahabharata 25 – Arjuna dan Pasupata