Mahabharata 2 : Dewabrata


gangga-dan-vasu

“Siapakah dirimu, wahai sang dewi, jadilah istriku.” Demikian kata Maharaja Sentanu kepada Dewi Gangga yang berdiri di hadapannya dalam wujud manusia. Raja Sentanu terpesona kepada Dewi Gangga yang berdiri dihadapannya dalam wujud manusia. Raja Sentanu terpesona pada kecantikan sang dewi yang jauh melampaui kecantikan manusia biasa.

Dengan sepenuh hati sang raja meminang sang dewi. Sang Raja berjanji akan mempersembahkan seluruh cinta, kekayaan, dan kerajaannya kepada gadis jelita itu, bahkan jiwa raganya.

Dewi Gangga kemudian menjawab

“Wahai Paduka Raja, hamba bersedia menjadi istri Paduka asalkan Paduka berjanji memenuhi syarat-syarat hamba.”

“Apakah itu?” tanya Raja Sentanu tak sabar.

“Pertama, jika hamba sudah menjadi istri Paduka, tak seorang pun, tidak juga Paduka, boleh bertanya siapa sesungguhnya hamba dan dari mana asal-usul hamba. Kedua, apa pun yang hamba lakukan — baik atau buruk, benar atau salah, wajar atau ganjil— Paduka tidak boleh menghalang-halangi. Ketiga, Tuanku tidak boleh marah kepada hamba — dengan alasan apa pun. Keempat, Paduka tidak boleh mengatakan sesuatu yang membuat perasaan hamba tidak enak.

Lanjut Dewi Gangga

“Begitu Tuanku melanggar syarat-syarat itu — walau hanya satu — hamba akan meninggalkan Tuanku saat itu juga. Apakah Tuanku setuju dan bersedia berjanji untuk tidak melanggarnya ?”

Tanpa berpikir panjang, Raja Sentanu yang sedang dimabuk asmara langsung bersumpah akan memenuhi semua syarat yang dikatakan Dewi Gangga.

Demikianlah, tanpa mengenal siapa namanya dan tanpa mengetahui dari mana asal-usulnya, Raja Sentanu mempersunting gadis jelita yang ditemukannya di tepi Sungai Gangga. Dibawanya gadis itu ke istana dan dinobatkannya menjadi permaisurinya.

Hari demi hari berlalu. Raja Sentanu semakin mencintai permaisurinya yang jelita, lebih-lebih karena selain cantik, permaisurinya itu sangat berbakti kepadanya dan halus tutur katanya. Kebahagiaan Sang Raja semakin lengkap ketika tahu permaisurinya mengandung.

Sembilan bulan mereka lewatkan dengan penuh bahagia. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan tibalah saatnya Dewi Gangga melahirkan. Sang Dewi pamit kepada suaminya, mengatakan bahwa dia akan pergi menyendiri dan melahirkan di tepi Sungai Gangga. Dia tak mau ditemani siapa pun, tidak juga sang Raja.

Maka pergilah Dewi Gangga seorang diri. Sampai di tepi sungai, dia mencari tempat yang teduh dan terlindung untuk melahirkan. Bayi yang dilahirkannya langsung dibuangnya ke sungai. Setelah membersihkan diri, sang Dewi kembali ke istana dengan wajah berseri-seri, seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Raja Sentanu menyambutnya dengan penuh harap. Hatinya bahagia akan menyambut sang bayi, buah kasihnya dengan permaisuri yang dicintainya. Tetapi, betapa kecewanya Raja melihat Dewi Gangga datang tanpa sang bayi. Perasaan Baginda campur aduk. Heran, melihat istrinya kembali tanpa sang bayi. Cemas, memikirkan nasib sang bayi. Murka, karena permaisurinya tampak tenang dan tidak merasa bersalah. Raja merasa berdosa, karena tak kuasa berbuat apa pun kecuali diam seribu bahasa. Tak berani bertanya. Tak berani melanggar sumpah yang telah diucapkannya.

Raja Sentanu, yang terlanjur mencintai dan terpesona oleh kecantikan permaisurinya, tak berani bertanya sepatah kata pun. Disambutnya sang Dewi dengan mesra, seakan-akan tak terjadi apa-apa. Mereka melanjutkan kehidupan seperti biasa.

Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Dewi Gangga kembali hamil dan ketika tiba saatnya melahirkan, sekali lagi dia mohon diri hendak menyepi di tepi Sungai Gangga. Syarat yang diajukannya tetap sama: tak seorang pun boleh mengikutinya.

Hal yang sama terulang. Sang Dewi kembali ke istana tanpa menggendong bayi. Sang Raja, dengan perasaan tertekan, menyambut istrinya seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Gangga dan bayi dewabrata

Demikianlah, kejadian itu berulang sampai tujuh kali. Tetapi, pada kehamilan yang kedelapan, Raja Sentanu tak kuasa menahan diri lagi. Sudah lama ia bertanya-tanya dalam hati, siapa dan dari mana asal perempuan kejam yang menjadi istrinya itu. Di mana semua anak yang telah dilahirkannya ? Sungguh kejam ibu yang menelantarkan bayi-bayinya. Continue reading Mahabharata 2 : Dewabrata

Mahabharata 1 : Ganapati, Sang Juru Tulis


veda-vyasa

Kisah Mahabharata ini disalin dari beberapa referensi, yaitu :

Bagian 1 : Ganapati, Sang Juru Tulis

Begawan Wiyasa (Rishi Viyasa),penulis Mahabharata, adalah anak dari Begawan Parasana (Rishi Parshar). Wiyasa juga menulis Weda.Mahabharat ditulis dalam bahasa Sansekerta dalam bentuk puisi. Ketika Wiyasa telah menyelesaikan Mahabharata, ia menyadari bahwa ia membutuhkan seorang penulis yang baik untuk mencatat uraian nya.

Melalui sebuah doa, dia bertanya kepada Dewa Brahma tentang siapakah yang akan menjadi juru tulis yang ideal untuk Mahabharata. Ini adalah sebuah epos besar dan penulisnya harus mampu menuangkan dengan baik hasil karya Wiyasa itu. Brahma kemudian menyarankan bahwa hanya Ganapati yang sanggup menjalankan pekerjaan ini. Tidak ada yang lebih hebat darinya dalam hal kecerdasan.

Setelah Dewa Brahma menghilang kemudian Wiyasa bersemedi mengundang Ganapati dan segera muncul di hadapannya. Wiyasa menyambutnya dengan hormat dan meminta bantuan Ganapati.

“Wahai Ganapati, saya akan mendiktekan kisah Mahabharata dan saya mohon Anda berkenan menuliskannya”

Ganapati menjawab

“Baiklah, aku akan melakukan apa yang engkau minta. Namun, dengan satu syarat, yaitu, penaku tidak boleh berhenti saat aku sedang menulisnya. Sehingga engkau harus mendikte tanpa jeda atau keraguan”

Wiyasa setuju dengan persyaratan Ganapati namun ia segera mengajukan syarat balasan

“Baiklah, namun Anda juga harus memahami dulu makna yang aku diktekan sebelum menulskannya”

Ganapati tersenyum dan menyetujui syarat itu.

Kemudian sang resi mulai menderaskan kisah Mahabharata dan Ganapatimenuliskannya. Sekali dua kali Wiyasa menyusun beberapa bait yang sangat kompleks sehingga memaksa Ganapati berhenti sejenak untuk berpikir dan memahami maknanya.Sehingga hal tersebut dapat memberikan Wiyasa cukup waktu untuk menyusun bait-bait berikutnya dalam benaknya. Continue reading Mahabharata 1 : Ganapati, Sang Juru Tulis

Mahabharata : Ringkasan 18 Parwa


Mahabharata 1

Nyoman S. Pendit

Ringkasan dari delapan belas buku (parwa) epos Mahabharata

Seperti telah disebutkan di atas, epos Mahabharata mengalami tambahan-tambahan dari berbagai pengarang penyair dari masa ke masa. Namun demikian, inti pokok uraiannya tidak perlu diragukan merupakan basis kenyataan-kenyataan dalam tradisi Hindu di jaman dahulu .

Epos Mahabharata dalam bentuknya yang sekarang, jika dibaca secara keseluruhan, mengandung berbagai dongeng, legenda (purana), mitos, falsafah, sejarah (itihasa), kosmologi, geografi, geneologi, dan sebagainya. Karena banyaknya tambahan di sana-sini, maka epos Mahabharata ini juga dipandang sebagai puisi berisi ajaran kebajikan yang ditulis dalam metrum India (kavya), sebagai sloka yang berisi ajaran budi pekerti (sastra), atau sebagai kitab yang berisi sejarah, ilmu pengetahuan dan ajaran lain (sruti). Ringkasnya, Mahabharata juga bisa dianggap sebagai semacam ensiklopedia .

Dalam bentuknya yang kita kenal sekarang, epos Mahabharata adalah naskah yang lebih besar dibandingkan kitab-kitab suci Weda. Menurut Prof. Heinrich Zimmer, isi Mahabharata delapan kali lebih besar daripada Odyssey and Illiad.

Berbagai manuskrip tersebar dari Timur Tengah sampai Indonesia (Bali) dalam berbagai macam bahasa, antara lain: bahasa Nepali, Maithili, Bengali, Dewanagari, Telegu, Grantha dan Malayalam .

Naskah yang lebih muda kita dapati dalam bahasa Jawa Kuno (abad X), bahasa Kashmir (abad XI) dan bahasa Persia (di masa pemerintahan Akbar).

Epos Ramayana dan Mahabharata dengan ekspresi yang lain di Indonesia ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Sebagai contoh, Ramayana dan Mahabharata secara ringkas telah disusun di Jawa Timur dalam bentuk yang disebut kakawin. Continue reading Mahabharata : Ringkasan 18 Parwa

Mahabharata : Pendahuluan


Mahabharata Cover Nyoman S Pendit

Kata Pengantar

Sudah sejak lama orang mengenal kisah Mahabharata.Para pecinta karya sastra mengenalnya dari berbagai sumber tulisan berupa naskah-naskah kuno. Dalam perjalanan panjang Mahabharata, semenjak diciptakan sekian ratus tahun yang lalu hingga kini, telah berkembang berbagai versi yang tersaji dalam bahasa yang indah dan sarat dengan ajaran moral. Mahabharata sebagai wiracarita atau cerita kepahlawanan kini dikisahkan kembali oleh Nyoman S. Pendit dengan bahasa yang sederhana, dengan harapan akan lebih bisa dinikmati oleh generasi muda. Dalam versi ini, Nyoman S. Pendit tak ingin jauh-jauh meninggalkan tanah kelahiran Mahabharata, yaitu India, sehingga penggambaran suasana India dalam epos ini terasa begitu kental. Kecuali itu, pengarang menyajikan episode-episode secara runtut, dimulai dengan munculnya tokoh Bharata sampai keturunannya yang berkembang menjadi sebuah wangsa yang besar. Dua keturunan Bharata yang termasyhur, yaitu Kaurawa dan Pandawa, akhirnya berperang dalam perang besar Bharatayudha untuk memperebutkan kekuasaan .

Mahabharata versi Nyoman S. Pendit ini disajikan dalam lima puluh lima bagian cerita dan dihiasi gambar-gambar yang menarik .

Selamat menikmati .

Pendahuluan

Dalam kesusastraan Indonesia kuna kita mengenal dua epos besar, yaitu Ramayana dan Mahabharata, yang pada awalnya ditulis dalam bahasa Sanskerta. Menurut para arif bijaksana, Ramayana dikatakan lebih tua daripada Mahabharata. Keduanya memuat uraian tentang adat istiadat, kebiasaan, dan kebudayaan manusia di jaman dahulu. Continue reading Mahabharata : Pendahuluan

Yaksha Prasna : Bijak dan Adilnya Yudistira


Yudistira

Yaksha Prasna adalah sebuh episode dalam Mahabharata yang memperlihatkan bagaimana tingkat pengetahuan dan kebijaksanaan dari sulung Pandawa.

Pada saat itu Pandawa bersama dengan Dropadi mencapai Dvaitavana setelah meninggalkan kawasan hutan Kamyaka. Mereka semua mengalami kelelahan dan kehausan yang sangat. Yudhishtira kemudian meminta Nakula memanjat pohon untuk melihat dan mencari sumber air. Menjalankan perintah kakaknya Nakula menemukan sumber air yang dimaksud kemudian meminta ijin dari kakaknya untuk mendapatkan air tersebut.

Danau yang cukup luas dengan airnya yang jernih, sangat menggoda Nakula untuk segera mengambil air dan ingin mengurangi rasa hausnya. Belum sempat air masuk mulutnya, tiba-tiba a mendengar suara:

“Jangan berani minum air danau sebelum menjawab pertanyaan saya. Jika tidak maka kesedihan akan menimpamu”

Nakula yang sudah sangat kehausan, tidak mengindahkan kata-kata itu dan langsung saja meneguknya. Begitu air telah melalui kerongkongannya, tiba-tiba Nakula terjatuh dan seketika terputus nyawanya.

Ketika Nakula tidak kembali untuk waktu yang cukup lama, Yudhishtira kemudian mengirim Sahadeva, yang juga bertemu dengan nasib yang sama tanpa mendengarkan peringatan dari Yaksha.

Kemudian Arjuna datang dan ia juga tidak peduli akan peringatan dari Yaksha sehingga begitu meminum air danau itu segera jatuh dan meninggal. Bhima pun kemudian mengalami nasib yang sama.

Yudhishtira yang khawatir akan nasib adik-adiknya yang tidak kembali dari tugas yang diberikan kemudian pergi untuk menyelidikinya. Dia telah berada di dekat danau yang indah itu dan menyaksikan semua saudara-saudaranya terbujur mati. Saat ia melihat nasib mereka, Yudistira sangat menyesalkan atas kematian adik-adiknya itu. Diperhatikannya lebih seksama, Yudistira menemukan kejanggalan atas tubuh-tubuh kaku didepannya itu. Tidak ditemui luka ditubuh mereka yang mungkin disebabkan kalau matinya karena bertarung melawan musuh yang kuat. Pun mayat adik-adiknya itu tidak ada wajah ketakutan seandainya kematian disebabkan karena ketakutan yang sangat. Yudistira mulai bertanya-tanya gerangan apa yang menjadi penyebab dari situasi yang luar biasa ini.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara

“Saya seorang Yaksha dalam bentuk sebuah danau, dan karena sayalah semua saudara-saudaramu mati. Sebelumnya saya telah meminta mereka untuk tidak minum air kolam ini tanpa menjawab pertanyaan saya. Anda akan menjadi orang kelima. Jangan berani melakukannya sebelum menjawab semua pertanyaan saya. Jawablah pertanyaanku dan setelahnya Anda dapat minum air. Yudhishtira menyanggupinya dan mengatakan kepadanya bahwa ia tidak ingin mendatangkan murka Yaksha.

Yaksha kemudian memulai melontarkan sejumlah pertanyaan kepada Yudistira

Rincian pertanyaan terdapat beberapa versi diantaranya :

http://tamilandvedas.files.wordpress.com/2014/01/analysis-of-yaksha-prasna-in-mahabharata.pdf

http://themathesontrust.org/library/33-questions
http://en.wikipedia.org/wiki/Yaksha_Prashna

Yudistira mampu menjawab semua pertanyaan dengan baik. HIngga kemudian suara gaib itu kembali menguji Sulung Pandawa itu dengan sebuah pertanyaan dan pilihan pelik

“Salah satu dari adik-adikmu akan segera kuhidupkan kembali. Siapa yang kau kehendaki dan menjadi pilihanmu, Yudhistira?”

Yudhistira terdiam. Sungguh pilihan yang sangat pelik karena mereka semua adalah adik-adik yang menjadi tanggungjawabnya serta tentu saja sangat dicintainya. Namun setelah terdiam beberapa saat dan menimbang berbagai hal, akhirnya Yudistira berkata lirih:

“Nakula”

“Nakula?” suara gaib itu heran, lanjutnya :

“Bukan Bima yang engkau pilih, saudara kandungmu yang kau sayangi yang selama ini menjadi andalanmu dengan kekuatan laksana puluhan gajah ? Atau bukan Arjuna, adik kandungmu sang pemanah piawai yang sangat engkau andalkan ?”

Dengan mantab Yudistira kemudian menjawab

“Bukan, sebab yang melindungi kita sebagai manusia adalah dharma, bukan senjata dan bukan pula kekuatan. Nakula aku pilih karena aku adalah putra Kunthi dan sudah selayaknya putra Madrim juga harus ada yang hidup seperti diriku. Menurutku, itu sebuah keadilan.”

Kata-kata terakhir Yudistira sungguh menciptakan perbawa di seluruh permukaan danau. Dan tak lama kemudian, muncullah Batara Yama di hadapan Yudhistira. Batara Yama, Dewa Maut itu dengan mesra dan penuh kebahagiaan memeluk Yudistira. Kahyangan sungguh terpesona akan kata-kata sulung Pandawa yang diucapkan tadi. Anugerah pun kemudian diturunkan, keempat mayat bersaudara itu dihidupkan kembali, tak hanya Nakula.

Pelajaran Dari Tokoh Mahabharata


Kunti
Kalau kita mau sedikit menelaah epik Mahabarata, maka terdapat banyak pelajaran yang dapat diambil sebagai teladan dalam menjalani hidup dan kehidupan. Dari berbagai kisah dan karakter tokoh yang terlibat di dalamnya, mengajarkan banyak hal kepada kita tentang apa yang harus atau baik dilakukan dan mana yang sebaiknya dihindari atau harus disingkirkan dalam diri kita.

Berikut disampaikan beberapa ‘Lessons To Learn’ yang dicuplik dari sekian banyak tokoh yang ada di Maharata, namun hanya disampaikan sepenggal karakter dan kisah dari tokoh yang sangat kita kenal, diantaranya :

Krishna: Menghalalkan segala cara untuk gapai kemenangan selalu berujung kepedihan

Avatar Dewa Wisnu, Krishna, menggunakan berbagai trik dan tipu muslihat untuk memenangkan perang. Kebohongan dan trik-trik penuh muslihat tadi dilakukan untuk memenangkan perang dalam mendukung Pandawa. Dalam benak mereka mungkin terpikir bahwa hal yang mereka lakukan tidak sepenuhnya salah karena digunakan untuk melawan yang salah dan dalam upaya untuk menghancurkan kebatilan. Namun harus diyakini bahwa kebohongan dimanapun dan kapanpun adalah perilaku sang pecundang, dan dipergunakan hanya dan hanya serta bila dan bila dalam kondisi yang sangat darurat (dalam ilmu logika penggunaan AND bernilai benar bila dapat dipenuhi semua persyaratan). Apakah yang direkayasa Krishna adalah lantaran pada saat Baratayuda kondisinya darurat ?

Dan akhir dari perang memang berbuah kemenangan bagi Pandawa dan kemusnahan bagi Korawa, namun Pandawa harus membayar mahal dengan ikut tewasnya semua anak-anak mereka.

Bisma: Mementingkan Diri Sendiri tidak selalu merupakan sebuah kebajikan.

Kakek Pandawa dan Kurawa adalah seorang pejuang pemberani dari keluarga kerajaan Hastinapura. Bisma sebenarnya memiliki peluang untuk menyelamatkan kerajaan dan rakyatnya. Saat ibunya menawari untuk mengambil alih kerajaan dan menikah, Bisma menolaknya dengan alasan telah terikat dengan sumpahnya. Mungkin seandainya Bisma mengingkari sumpah dan kemudian perang besar itu tidak terjadi, apakah itu lebih baik ? Jawabnya adalah segala sesuatu telah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa. Namun kalau dikejar lagi dengan pertanyaan, apakah bisa dibandingkan besarnya NILAI antara memegang teguh sumpah dengan terhindarnya perang yang menghilangkan laksaan orang-orang yang mungkin hanya terpaksa mengikuti perintah untuk berperang ?

Jawabnya …. silahkan masing-masing menjawabnya sesuai dengan sreg yang mana

Dropadi: Anda tidak bisa memiliki segalanya dalam hidup

Draupadi telah melakukan penebusan dosa dalam kehidupan sebelumnya dan kemudian meminta Dewa Siwa untuk suami yang sempurna. Sempurna sebagai seorang pejuang pemberani, moral dan wataknya baik, memiliki tubuh kuat, dan juga pria yang paling tampan di muka bumi. Dia punya apa pun yang dia inginkan namun terdapat dalam 5 suami yang berbeda. Moral dari cerita ini adalah bahwa, satu orang tidak akan dapat memiliki semua sifat-sifat kesempurnaan, setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan ….. kita tidak selalu bisa memperoleh apapun yang kita inginkan.

Abimanyu: Pengetahuan yang setengah-setengah itu berbahaya

putra Arjun, Abimanyu, hanya tahu cara memasuki gelar chakravyuh, tidak untuk keluar dari formasi itu. Namun, ia memutuskan untuk memasuki formasi perang yang sulit itu dan akhirnya kematian menjemputnya. Itu sebabnya, pengetahuan yang masih setengah-setengah, belum tuntas, akan menjadi sangat berbahaya baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Instropeksi atas kemampuan diri, teliti dan sabar adalah paduan yang baik untuk memperoleh hasil yang baik.

Kunti: Lihat sebelum Anda melompat

Ketika Arjun memenangkan Dropadi di Swayamvar dan membawanya untuk bertemu Kunti, sang ibunda sedang memasak. Kunti mengatakan dengan tanpa melihat apa yang dibawa oleh Arjun bahwa semua 5 bersaudara harus berbagi hadiah yang diperoleh. Jadi jangan pernah mengatakan atau melakukan sesuatu tanpa menganalisis implikasi dari kata-kata atau perbuatan yang kita lakukan. Kehati-hatian dalam berucap dan bertindak akan membawa kepada kebaikan.

Dhritarashtra: cinta buta itu berbahaya

Dhritarashtra, Raja Hastinapura yang buta, melakukan satu kesalahan yang fatal yaitu mencintai anak-anaknya berlebihan sehingga ia tidak pernah menegur mereka bila melakukan kesalahan. Ini adalah pelajaran bagi setiap orangtua, bahwa harus mengingatkan dan mengoreksi anak-anak kita sebelum mereka tersesat.

Legenda Aswatama


Aswatama india 2

Pernahkah Anda mendengar tentang pahlawan abadi dari Mahabharata yang sampai dengan saat ini masih hidup ? Lho, kok ? Tapi epik Mahabharata berisi dengan cerita-cerita dan kejadian yang penuh misteri. Setiap kisah dalam epik memiliki misteri yang melekat padanya sehingga membuatnya menjadi epik terpanjang di dunia dan menarik.

Sebagian orang menyatakan bahwa Mahabharata sebagai cerita yang sangat membingungkan. Hal ini disebabkan karena Mahabharata memiliki banyak tokoh karakter dan masing-masing karakter berhubungan antara satu dengan yang lain. Epik Mahabharat ini memiliki begitu banyak karakter legendaris seperti Pandawa, Drupadi, Kauravas dll., padahal masih banyak karakter lain yang dapat dibahas namun tidak terlalu melegenda. Salah satu karakter yang kurang dikenal tersebut adalah Aswatama.

Aswatama india
Aswatama adalah karakter dari Mahabharata yang masih diyakini hidup dan berkeliaran di Bumi hingga kini. Banyak orang telah mengaku pernah melihat pahlawan itu masih hidup. Apakah rumor ini benar atau tidak, kisah Aswatama memang layak dibaca.

Tentang Aswatama

Aswatama adalah anak Dronacharya, guru dari kedua Pandawa dan Korawa. Aswatama lahir dari hubungan antara Dronacharya dan istrinya Kripi. Sejak kelahirannya, Aswatama memiliki permata yang tertanam di dahinya. Permata itulah yang menjadi sumber dari segala kekuatannya. Aswatama tumbuh menjadi seorang pejuang pemberani yang berpengalaman baik dalam memanah maupun keterampilan perang lainnya.

Aswatama Dalam Mahabharata

Selama perang Mahabharata, Aswatama berpihak kepada Korawa bersama dengan ayahnya. Drona sangat mencintai anaknya Aswatama. Saat ia mendengar desas-desus dalam perang bahwa Aswatama telah meninggal, Dronacharya sangat terpukul dan kemudian duduk bermeditasi. Dan pada saat itulah dia dibunuh oleh Dhristadyumna.

Membalas dendam adalah hal yang kemudian dilakukan Aswatama. Aswatama kemudian membunuh semua lima anak dari Dropadi pada malam terakhir perang Mahabharata, berpikir bahwa ia telah membunuh Pandawa. Ketika ia menyadari kesalahannya, ia  kemudian mengarahkan senjata paling ampuhnya, Brahmastra, untuk membunuh Pandawa. Tapi hal itu dihentikan oleh Vyas dengan bijak untuk memintanya menarik senjata ampuhnya itu. Namun Aswatama tidak tahu bagaimana cara untuk menarik senjata kembali. Jadi, sebagai upaya terakhir, ia mengarahkan Brahmastra untuk membunuh putra Abimanyu yang belum lahir dalam rahim Uttara, dengan maksud memutus silsilah para Pandawa.

Marah oleh perilaku Aswatama itu, Krishna kemudian mengutuknya bahwa ia akan berkeliaran di bumi tiada akhir, membawa beban dosa-dosanya. Dia tidak akan pernah menerima cinta atau disambut oleh siapa saja. Krishna juga meminta dia untuk menyerahkan permata dahinya dan mengutuk bahwa sakit yang diakibatkan dari penghapusan permata itu, tidak akan pernah sembuh. Dengan demikian, Aswatama menjelajah di Bumi untuk mencari keselamatan.

x09-ashwatthama-immortal.jpg.pagespeed.ic.9fIBRk0dwq

Apakah Aswatama masih hidup ?

Beberapa orang telah mengklaim bahwa mereka pernah melihat Aswatama. Seorang dokter di Madhya Pradesh pernah menerima pasien dengan luka yang tak tersembuhkan di dahinya. Dia diberi beberapa obat-obatan untuk menyembuhkan luka tetapi tidak dapat menyembuhkan. Jadi, dokter itu dengan santai mengatakan bahwa ia kagum dengan luka yang begitu awet dan tidak dapat disembuhkan. Seperti luka yang tak tersembuhkan dari Aswatama. Mengatakan hal ini dokter itu tertawa dan kemudian berbalik kebelakang untuk mendapatkan bungkus obat itu. Ketika dokter itu kembali, pasien tadi telah lenyap.

Legenda lain tentang Aswatama, bahwa ada sebuah desa Indian dekat Burhanpur, di mana ada sebuah benteng yang disebut Asirgarh. Menurut penduduk setempat, Aswatama masih datang dan menawarkan bunga ke Lingga Shiva di benteng, setiap pagi. Beberapa orang telah mengaku melihat Aswatama berjalan dan hidup di antara suku-suku di kaki bukit Himalaya. Apakah Aswatama masih hidup atau tidak, legenda ini terus hidup hingga nanti entah kapan kan berakhir. Prajurit gagah berani dengan akhir yang tragis karena ego dan ketidaktahuannya.

Sumber :  http://www.boldsky.com/yoga-spirituality/faith-mysticism/2014/legend-of-immortal-ashwatthama-alive-039278.html