Mahabharata 3 : Sumpah Bhisma


Silsilah Sentanu

Dengan hati bahagia Raja Sentanu menyambut putranya dan membawanya ke istana. Anak yang dikelilingi aura keagungan dan menunjukkan watak-watak kesatria sejati itu dinobatkannya menjadi putra mahkota. Dewabrata diangkat sebagai yuwaraja atau putra mahkota yang bertugas mendampingi Raja dalam memerintah. Dia pula yang akan mewarisi kerajaan ayahnya, kelak setelah ayahnya mengundurkan diri dengan bijaksana.

Empat tahun berlalu. Pada suatu hari, Raja Sentanu berjalan-jalan di tepi Sungai Yamuna. Tiba-tiba angin berhembus dan terciumlah olehnya keharuman yang memenuhi udara. Raja mencari sumber keharuman yang suci itu dan melihat seorang gadis cantik jelita, secantik bidadari kahyangan, duduk melamun di tepi sungai .

Sejak Dewi Gangga meninggalkannya, Raja Sentanu selalu berusaha menahan hasrat dan hawa nafsunya dan berusaha hidup dengan sepenuhnya mengutamakan kebajikan. Tetapi, kecantikan wajah dan keharuman tubuh gadis itu membuatnya lupa akan tapabrata-nya. Hatinya bergejolak, dilanda cinta asmara yang meluap-luap. Raja Sentanu meminang gadis itu agar mau menjadi permaisurinya .

Berkatalah gadis jelita itu “Paduka Raja, namaku Setyawati. Aku seorang penangkap ikan. Ayahku kepala nelayan di daerah ini. Silahkan Paduka membicarakan permintaanmu dengan ayah. Semoga dia menerima pinanganmu.” Suaranya seelok tubuhnya

Satyawati mengantarkan sang Raja ke rumah orangtuanya di kampung nelayan yang agak jauh dari tempatnya mencari ikan. Sampai di rumah, sang Raja dipersilakan untuk mengutarakan niatnya.

Ayah gadis itu memang cerdik. Ia menyembah Raja Sentanu dan berkata,

“Daulat Tuanku. Memang sudah waktunya anak hamba menikah dengan seorang lelaki, seperti gadis-gadis lain. Paduka Tuanku adalah raja yang mulia dan berkedudukan jauh di atas dia. Hamba tidak keberatan jika anak hamba Paduka persunting. Tetapi, sebelum Setyawati hamba serahkan, Paduka harus berjanji.”

Kata Raja Sentanu,

“Apa pun syarat yang kauajukan, aku akan memenuhinya.”

Kepala kampung nelayan itu memohon,

“Jika anak hamba melahirkan seorang bayi lelaki, Paduka harus menobatkannya menjadi putra mahkota dan kelak setelah Paduka mengundurkan diri, Paduka harus mewariskan kerajaan ini kepadanya.”

Meskipun sedang dimabuk asmara pada Setyawati, namun Raja Sentanu tak dapat menyanggupi persyaratan itu. Ia sadar, jika dia memenuhi persyaratan yang diajukan ayah si gadis, berarti ia harus menyingkirkan Dewabrata yang sudah dinobatkannya menjadi putra mahkota dan berhak atas takhta kerajaannya kelak. Terlalu besar yang harus ia pertaruhkan untuk mempersunting Setyawati. Sungguh tidak pantas dan memalukan, jika ia menuruti kata hatinya. Setelah bergulat dengan perasaannya, Raja Sentanu kembali ke istananya di Hastinapura. Perasaannya campur aduk, sedih karena mungkin harus menyingkirkan Dewabrata, senang karena sedang jatuh cinta. Tetapi, sang Raja menyimpan rahasianya rapat-rapat. Tak seorang pun diberi tahu akan hal itu. Raja lebih banyak mengurung diri di ruang peraduannya dan melamun. Tugas-tugas kerajaan lebih banyak dilakukan oleh Dewabrata .

Mengetahui hal itu, suatu hari Dewabrata bertanya kepada ayahnya,

“Ayahanda mempunyai segala sesuatu yang mungkin diinginkan oleh seorang manusia. Tetapi mengapa Ayahanda terlihat begitu murung? Apa sebabnya Ayahanda berduka sedemikian rupa? Wajah Paduka seakan-akan menyimpan rahasia dan menanggung beban berat.”

Ravi_Varma-Shantanu_and_Satyavati

Prabu Sentanu menjawab

“Anakku, apa yang kaukatakan itu benar. Sesungguhnya Ayahanda sedang tersiksa oleh perasaan duka dan cemas. Engkau putraku satu-satunya. Engkau selalu sibuk mengurus kerajaan dan melatih para prajurit agar mahir berperang. Hidup di dunia ini tidak pasti dan tidak kekal. Perang dan damai silih berganti tiada henti. Jika kau mati tanpa punya anak, maka garis keturunan kita akan putus,.

Sang Raja melanjutkan

“Sudah tentu seorang anak —apalagi anak tunggal— sama berharganya dengan seratus anak. Para tua-tua cendekia yang mahir akan makna kitab-kitab suci berkata, ‘Di mayapada atau di dunia ini, punya anak hanya seorang sama dengan tidak punya anak sama sekali’. Sungguh sayang jika kelangsungan hidup keluarga dan keturunan kita hanya bergantung pada seorang saja. Sebenarnya, Ayahanda memikirkan kelangsungan garis keluarga dan keturunan kita sampai beratus-ratus tahun kelak. Itulah yang membuatku gelisah dan berduka.”

Raja Sentanu berusaha keras untuk menyembunyikan isi hatinya yang sesungguhnya karena ia malu pada putranya. Dewabrata yang bijaksana dan setia kepada ayahnya menyadari hal itu. Ia tidak mau mendesak agar ayahnya mengungkapkan hal-hal yang dirahasiakannya dan menyebabkannya berlaku seperti itu, selalu murung dan gelisah.

Dewabrata kemudian bertanya kepada sais kereta ayahnya. Barulah ia tahu bahwa belum lama ini ayahnya berkenalan dengan seorang gadis cantik penangkap ikan di tepi Sungai Yamuna, bahwa ayahnya kemudian meminang gadis itu, dan bahwa ayahnya tak sanggup memenuhi syarat-syarat yang diajukan ayah si gadis .

Mendengar itu, Dewabrata memutuskan untuk menemui kepala kampung nelayan itu dan meminang putrinya atas nama ayahnya .

Kepala kampung nelayan itu berpegang teguh pada pendiriannya,

“Wahai sang Putra Mahkota, sesungguhnya anak hamba pantas menjadi permaisuri ayahanda Paduka. Karena itu, sungguh wajar jika kelak anaknya dinobatkan menjadi raja, menggantikan ayahanda Paduka. Apakah Tuanku sependapat dengan hamba? Namun Paduka telah dinobatkan menjadi putra mahkota dan dengan sendirinya kelak akan menggantikan beliau. Demi anak hamba, jangan sampai hal itu terjadi.”

Jawab Dewabrata,

“Baiklah. Tolong ingat baik-baik kata-kataku ini: Jika anakmu melahirkan seorang anak lelaki, anak itu kelak akan dinobatkan menjadi raja. Aku rela turun takhta demi keinginan ayahanda Raja Sentanu untuk melanjutkan keturunannya.”

Mendengar kata-kata Dewabrata, nelayan itu bersujud,

“Wahai Putra Mahkota yang paling bijaksana di antara semua keturunan Bharata, apa yang Tuan lakukan sungguh berani dan belum pernah dilakukan orang sebelumnya. Tuanku seorang pahlawan besar. Silakan Tuanku membawa anak hamba untuk dipersembahkan kepada ayahanda Paduka.  Hamba yakin, Tuanku pasti akan memenuhi janji. Tetapi, apa yang dapat hamba pakai sebagai pegangan yang menguatkan harapan hamba? Bagaimana putra-putra yang lahir sebagai keturunan Tuanku akan rela menyerahkan hak-hak mereka sebagai ahli waris kerajaan?  Putra-putra Tuanku pasti akan menjadi pahlawan-pahlawan besar seperti Tuanku sendiri. Tuanku pasti sulit menjelaskannya kepada mereka. Pasti sulit menghalangi keinginan mereka untuk kembali memiliki kerajaan — entah dengan kekerasan atau secara baik-baik. Inilah keraguan hati hamba yang selalu membuat hamba cemas.”

Mendengar pertanyaan yang sangat sulit dijawab itu, Dewabrata dengan penuh niat suci memutuskan untuk melepaskan diri dari segala sesuatu yang bersifat duniawi, demi ayahnya .

Kemudian ia bersumpah di hadapan ayah si gadis penangkap ikan,

“Aku berjanji tidak akan kawin. Dengan demikian, aku takkan pernah punya anak. Seluruh hidupku akan kupersembahkan untuk berbakti pada rakyat dan kerajaan dan untuk kesucian.”

Ketika Dewabrata mengucapkan sumpah sucinya, berguguranlah kembang-kembang harum suci menaburi kepalanya, sementara di angkasa bergema suara merdu, “Bhisma… bhisma… bhisma….”

Kata bhisma menyatakan bahwa seseorang telah mengucapkan sumpah yang berat dan suci dan berjanji akan benar-benar melaksanakannya. Dewabrata memenuhi syarat-syarat itu .

Demikianlah, Dewabrata putra Dewi Gangga memboyong Setyawati ke Hastinapura untuk diserahkan kepada ayahnya, Baginda Raja Sentanu .

Dari perkawinannya dengan Setyawati, Raja Sentanu mempunyai dua putra, Chitrangada dan Wichitrawirya. Chitrangada meninggal lebih dulu daripada adiknya, tanpa meninggalkan seorang putra pun; sedangkan Wichitrawirya mempunyai dua putra, yaitu Dritarastra dan Pandu dari dua permaisurinya, Ambika dan Ambalika .

Dritarastra berputra seratus orang; mereka dikenal sebagai Kaurawa. Pandu berputra lima orang, mereka termasyhur sebagai Pandawa. Adapun Bhisma, sebagai kakek-paman dan sesepuh anak-cucu Raja Sentanu, hidup sampai usia tua, disegani dan dihormati oleh seluruh sanak keluarganya. Kelak Bhisma meninggal sebagai senapati dalam perang besar Bharatayuda di padang Kurukshetra .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s