Pelajaran Dari Tokoh Mahabharata


Kunti
Kalau kita mau sedikit menelaah epik Mahabarata, maka terdapat banyak pelajaran yang dapat diambil sebagai teladan dalam menjalani hidup dan kehidupan. Dari berbagai kisah dan karakter tokoh yang terlibat di dalamnya, mengajarkan banyak hal kepada kita tentang apa yang harus atau baik dilakukan dan mana yang sebaiknya dihindari atau harus disingkirkan dalam diri kita.

Berikut disampaikan beberapa ‘Lessons To Learn’ yang dicuplik dari sekian banyak tokoh yang ada di Maharata, namun hanya disampaikan sepenggal karakter dan kisah dari tokoh yang sangat kita kenal, diantaranya :

Krishna: Menghalalkan segala cara untuk gapai kemenangan selalu berujung kepedihan

Avatar Dewa Wisnu, Krishna, menggunakan berbagai trik dan tipu muslihat untuk memenangkan perang. Kebohongan dan trik-trik penuh muslihat tadi dilakukan untuk memenangkan perang dalam mendukung Pandawa. Dalam benak mereka mungkin terpikir bahwa hal yang mereka lakukan tidak sepenuhnya salah karena digunakan untuk melawan yang salah dan dalam upaya untuk menghancurkan kebatilan. Namun harus diyakini bahwa kebohongan dimanapun dan kapanpun adalah perilaku sang pecundang, dan dipergunakan hanya dan hanya serta bila dan bila dalam kondisi yang sangat darurat (dalam ilmu logika penggunaan AND bernilai benar bila dapat dipenuhi semua persyaratan). Apakah yang direkayasa Krishna adalah lantaran pada saat Baratayuda kondisinya darurat ?

Dan akhir dari perang memang berbuah kemenangan bagi Pandawa dan kemusnahan bagi Korawa, namun Pandawa harus membayar mahal dengan ikut tewasnya semua anak-anak mereka.

Bisma: Mementingkan Diri Sendiri tidak selalu merupakan sebuah kebajikan.

Kakek Pandawa dan Kurawa adalah seorang pejuang pemberani dari keluarga kerajaan Hastinapura. Bisma sebenarnya memiliki peluang untuk menyelamatkan kerajaan dan rakyatnya. Saat ibunya menawari untuk mengambil alih kerajaan dan menikah, Bisma menolaknya dengan alasan telah terikat dengan sumpahnya. Mungkin seandainya Bisma mengingkari sumpah dan kemudian perang besar itu tidak terjadi, apakah itu lebih baik ? Jawabnya adalah segala sesuatu telah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa. Namun kalau dikejar lagi dengan pertanyaan, apakah bisa dibandingkan besarnya NILAI antara memegang teguh sumpah dengan terhindarnya perang yang menghilangkan laksaan orang-orang yang mungkin hanya terpaksa mengikuti perintah untuk berperang ?

Jawabnya …. silahkan masing-masing menjawabnya sesuai dengan sreg yang mana

Dropadi: Anda tidak bisa memiliki segalanya dalam hidup

Draupadi telah melakukan penebusan dosa dalam kehidupan sebelumnya dan kemudian meminta Dewa Siwa untuk suami yang sempurna. Sempurna sebagai seorang pejuang pemberani, moral dan wataknya baik, memiliki tubuh kuat, dan juga pria yang paling tampan di muka bumi. Dia punya apa pun yang dia inginkan namun terdapat dalam 5 suami yang berbeda. Moral dari cerita ini adalah bahwa, satu orang tidak akan dapat memiliki semua sifat-sifat kesempurnaan, setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan ….. kita tidak selalu bisa memperoleh apapun yang kita inginkan.

Abimanyu: Pengetahuan yang setengah-setengah itu berbahaya

putra Arjun, Abimanyu, hanya tahu cara memasuki gelar chakravyuh, tidak untuk keluar dari formasi itu. Namun, ia memutuskan untuk memasuki formasi perang yang sulit itu dan akhirnya kematian menjemputnya. Itu sebabnya, pengetahuan yang masih setengah-setengah, belum tuntas, akan menjadi sangat berbahaya baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Instropeksi atas kemampuan diri, teliti dan sabar adalah paduan yang baik untuk memperoleh hasil yang baik.

Kunti: Lihat sebelum Anda melompat

Ketika Arjun memenangkan Dropadi di Swayamvar dan membawanya untuk bertemu Kunti, sang ibunda sedang memasak. Kunti mengatakan dengan tanpa melihat apa yang dibawa oleh Arjun bahwa semua 5 bersaudara harus berbagi hadiah yang diperoleh. Jadi jangan pernah mengatakan atau melakukan sesuatu tanpa menganalisis implikasi dari kata-kata atau perbuatan yang kita lakukan. Kehati-hatian dalam berucap dan bertindak akan membawa kepada kebaikan.

Dhritarashtra: cinta buta itu berbahaya

Dhritarashtra, Raja Hastinapura yang buta, melakukan satu kesalahan yang fatal yaitu mencintai anak-anaknya berlebihan sehingga ia tidak pernah menegur mereka bila melakukan kesalahan. Ini adalah pelajaran bagi setiap orangtua, bahwa harus mengingatkan dan mengoreksi anak-anak kita sebelum mereka tersesat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s