KNS : Sumantri Ngenger


Sebenarnya koleksi ini sejak awal blog ini dibuat sudah disharing. Namun dahulu hanya dishare begitu saja tanpa penjelasan dan review serta narasi jalannya cerita. Lumayan … MasPatikRaja sudah menuliskan cerita ini secara lengkap, jadi saya tinggal mencaploknya saja he he he … Nuwun sewu KangMas … saya menyampaikan tulisan ini sebagai narasi untuk Unggahan “Sumantri Ngenger” by KNS ini dan juga mewartakan kepada para pembaca bahwa ada blog yang sangat bagus untuk selalu di ikuti milik MasPatikRajaDewaku.

Untuk mengunduh file audionya, silahkan di download dari laman-nya MasPatikRaja atau versi lainnya dapat diunduh disini : http://www.4shared.com/folder/Cto-rpgL/21_online.html

Matur Nuwun nggih … :D

Sumantri Ngenger
http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2012/12/18/sumantri-ngenger-1-ki-nartosabdo/

Baya ta maduretna kang pinusthika /pinasthi dadi kusuma pepujanku/ kekuwungira kang weh rudating driya/ driya matrenyuh/ tistis linobong branta/

Demikian suluk pathet nem ngelik pembuka dari lakon Sumantri Ngenger yang kami unggah. Jelas ini bukan permulaan jejeran di Negara Maespati. Ini adalah kaset kedua dari delapan kaset audio sumbangan dari seorang teman. Kaset pertama yang diubek kesana kemari ternyata tidak ketemu. Jadilah kaset ke 2 ini sebagai permulaan dari persembahan Sumantri Ngenger yang dipanggungkan oleh Ki Nartosabdo, yang kali ini kami unggah.

Tapi jangan kawatir, kaset kedua adalah pas menjadi permulaan ketika Sumantri menghadap keharibaan Sri Arjuna Sasrabahu. Satu lagi yang perlu kami sampaikan kepada anda para rawuh, bahwa lakon Sumantri Ngenger yang kami persembahkan ini adalah sanggit berbeda dari yang sudah pernah dimuat di “wayangprabu”.

Versi pertama sudah seringkali saya dengar dan bahkan sudah apal diluar kepala adegan demi adegan, kalimat demi kalimat. Karena lakon ini suatu saat pernah kami tanam di ponsel, dan seringkali sebagai teman ketika menunggu boarding ketika jalan keluar kota.

Ketika suatu saat seorang teman tersebut memberikan kaset lakon Sumantri Ngenger, niat saya yang utama, tadinya, adalah mengulang convert, karena yang versi terdahulu beraura mono. Namun ketika dikerjakan konvertnya, wah . . . Stereo!!!

Pemisahan kanal kiri dan kanan sangat terasa, membuat antusiasme mengkonvert tambah berkobar. Sayang waktu untuk mengunggah dan menulis bumbu lakon terkendala. Baru kali ini kami persembahkan kepada para rawuh, dan itupun hanya awalnya saja. Jangan khawatir, semua audio analog sudah selesai kami pindahkan ke kode biner.

Serupa tapi tak sama. Demikian kesimpulan ketika mendengarkan dialog jejeran di Maespati. Perbincangan yang cair diantara ketiga paraga, Prabu Arjuna Sasrabahu, Patih Surata dan Bambang Sumantri, tidak jauh seperti unggahan yang terdahulu. Tetapi kesan santai ketika Patih Surata yang menjadi pintu masuk kearah hadapan Prabu Arjuna Sasrabahu, ternyata dalam mewawancari Sumantri lebih nyaman dinikmati dibanding dengan yang versi terdahulu. Ini perasaan saya.

Hal yang sama dalam kesimpulan dialog diantara dua sanggit Sumantri Ngenger, adalah ketika Bambang Sumantri dengan sikap cumanthaka (jumawa) mengecilkan kesaktian dari yang hendak disuwitani, dengan kalimat : Sanget sanget ing atur panyuwun kula, mbok inggiha paduka sampun ngantos tindak ing negari Magada. Sampun ngantos kesesa ing penggalih nandhingi kridhaning para narendra manca negari. Inggih menawi paduka menang . . .

Dhodogan sasmita iringan gendhing ririh menjadi latar belakang narasi ketika Prabu Arjuna Sasrabahu merasa terpukul dadanya karena ucapan Sumantri yang secara lahir menyayangi Rajanya, tetapi secara kebatinan, ia telah mengecilkan kemampuan rajanya. Prabu Arjuna Sasrabahu turun dari tahtanya dan berjalan membelakangi kedua yang menghadap.

Kalimat diatas itulah yang membawa Bambang Sumantri terusir dari hadapan Prabu Harjuna Sasrabahu. Namun demikian, bawaannya Prabu Arjuna Sasrabahu sudah “jatuh cinta” kepada rupa dan tingkah serta aura Bambang Sumantri, maka patih Surata telah diperintahkan untuk menyusul Bambang Sumantri.

Namun kemudian, Sumantri direlakan pergi ke Magada, dengan syarat ia mau mengenakan busana yang diberikan. Bukan apa apa, sebagai duta Maespati,tidaklah Bambang Sumantri pantas mengenakan pakaian yang dinilai oleh Prabu Arjuna Sasrabahu berkelas bagai pakaian strata Sudra.

Patih Surata awalnya memarahi Sumantri seraya menakut-nakuti. Pada adegan Patih Surata dengan Bambang Sumantri yang intinya memberikan tugas; Pertama membubarkan kepungan para raja yang ada di Magada, dan keduanya memboyong Dewi Citrawati. Itulah kata Patih Surata menyambung titah gustinya, hal itulah yang bisa menebus kesalahan ketika Sumantri terpeleset kata.

Hanya sekilas adegan pagelaran njawi yang tidak umum ini. Namun dari dialog diantara keduanya terdengar wajar tetapi tetap saja mempesona, membuat kita seperti terbawa pada adegan diantara Patih Surata dengan Bambang Sumantri tersebut. Silakan disimak

Babak kedua dari lakon ini dimulai dengan bendrongan. Adalah ketika Raja Pudhak Setegal , Prabu Malaya Denta, juga salah satu menghendaki Dewi Citrawati. Adegan sabrangan yang kelihatannya merupakan adegan carangan, bagaimanapun tetap enak dinikmati dengan geculan Togog, mBilung dan Gustinya. Dan anda yang kangen dengan Uler Kambang, disini anda bisa menikmati.

http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2012/12/21/sumantri-ngenger-2-ki-nartosabdo/

Bagian ketiga dari delapan babakan chapter dimulai ketika sisa ujung dari Uler Kambang yang merupakan adegan Prabu Malaya Dhenta, raja Pudhak Setegal, yang tengah gandrung kapirangu alias tergila gila dengan sosok Dewi Citrawati terdengar. Dialog ketiga tokoh yang tertancap pada pakeliran walau tidak tervisualisasi, tetap saja menimbulkan keasyikan pada rongga imaginasi. mBilung dengan bahasa Indonesia yang separo-separo mengingatkan ketika tahun-tahun itu atau sebelumnya ketika banyak diantara orang Jawa yang masih belum “wasis” menggunakan bahasa Indonesia menjadi gambaran jaman tersebut.

Togog sang konsultan ditanya, bagaimana baiknya agar raja Pudhak Setegal dapat mempersunting Dewi Citrawati. Menurut Togog; wanita itu kalau diimingi harta, pasti menurut. Tetapi pertanyaan itu dibantahnya sediri oleh Malaya Dhenta. Menurutnya, syarat agar disenangi wanita adalah kulina, atau terbiasa. Kedua tenaga dan ketiganya barulah harta. Kedua terakhir dirinya merasa mampu, namun perkara kulina, Malaya Dhenta minta agar Togog membantu untuk dekat dengan Citrawati.

Singkat kata Prabu Malayadhenta berangkat ke Magada agar tidak ketinggalan dengan raja seribu Negara yang mempunyai hasrat yang sama.

***

Ridhu mawur mangawur-awur wurahan/tengaraning ajurit/ gong maguru gangsa teteg kadya butula/wor panjriting turangga-hesti/ rekatak ingkang/ dwaja lelayu sebit/.

Demikian pembuka perang gagal ketika Patih Pudhak Setegal, Patih Suwenda bentrok dngn Patih Maespati, Patih Surata. Begini sesumbar dari kedua tokoh antara lain:

SW: Padha semisiha saka dalan kene, bakal kanggo liwat gustiku Prabu Malaya Dhenta.
SR: Mbuh ora idhep iki dalane wong akeh.
SW: Wani kowe tak coba?!!
SR: Ngajak apa?!!
SW: Alus wani?!!
SR: Wani!!
SW: Kasar wani?!!
SR: Mapan gaweyanku!!
SW: Bagus !! Dak rangkul githokmu, dak tatapke wit gurdha, pecah sirahmu!!.
SR: Durung nganti kowe ngrangkul,dhadhamu wis kena ing pusakaku, keparat!!

Silakan dinikmati babak ini yang dengan disisipi palaran, hingga usai perang pada menit 20an. Kemudian babak sanga dimulai dengan pathetan. Sulukan ini dilagukan dengan sederhana, tapi dengan gaya apapun sanggit suluk pathet sanga ini, tetaplah sem bila dilagukan oleh Sang Maestro.

Sasmita gendhing Onang-onang mengantarkan kita menikmati jejeran di Jatisarana atau juga disebut juga pertapaan Anggrastina. Mohon maaf, bila suluk usai gending ini agak kasar terdengar. Keteledoran dalam memantau peak amplitude-lah yang membuat kemerduan Ki Narto agak terganggu.

Seperti yang terjadi pada lakon-lakon berisi Panakawan Protaginis yang dipentaskan beliau. Baik yang diseling dengan gara-gara atau langsung adegan pertapaan, sisipan pernahing unggah-ungguhing basa selalu diajarkan kepada kita para pemerhati kesusasteraan, Coba diperhatikan.

http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2012/12/24/sumantri-ngenger-3-ki-nartosabdo/

Kaset ketiga ini adalah yang paling susah tangguh-nya ketika dkonversi audionya ke digital. Tadinya diperkirakan inputnya overdrive. Tetapi bagaimanapun level diatur, tetap saja suara tidak mulus. Disimpulkan bahwa kasetnya telah terdegradasi. Sekali lagi, mohon maaf juga kali ini untuk kualitas convert-nya.

Dikisahkan bahwa Sumantri telah menghadap kepada Prabu Harjuna Sasrabahu, dan mengatakannnya hal tersebut kepada ayahnya. Ia telah menyatakan kesanggupan untuk suwita kepada rajanya, walau seandainya jabatan yang diperloleh-pun hanya sebagai seorang pekathik pangeroking kudhapun, ia bersedia. Sukur kalau ia diterima sebagai prajurit.

Namun kesalahan ucap telah menjadikannya terusir dari hadapan rajanya. Walau kemudian kesalahan itu telah dimaafkan, tetapi tugas berat telah diletakkan diatas pundaknya. Seketika itu, Sumantri teringat, bahwa ia belum menghadap ayahandanya untuk meminta restu atas tindakannya. Demikian jalan cerita yang telah ia alami, demikian pungkas cerita ketika pergi ke Maespati kepada ayahndanya.

Seperti lumrahnya plot dalam pedhalangan gagrak Surakarta, dimana saat blok adegan bambangan, dalam hal ini Bambang Sumantri . Orang muda yang digambarkan sedang giatnya ngangsu kawruh, maka nasehat seorang guru yang digambarkan disini sebagai sosok Begawan Swandagni, menasihati murid sekaligus anak didiknya dengan nasihat untuk bekal langkah menghadapi kerasnya tantangan riil dunia.

Bila diterjemahkan secara bebas, mungkin inilah kata bijak sang guru ketika ia menasihati anak muridnya.

Walaupun kamu dekat dengan orang besar, tetapi hendaklah tidak menjadikanmu besar kepala. Ingatlah, segala apapun yang menjadi kehendak diri, syaratnya hanyalah kamu haru berlaku mantap dan disiplin. Bila para pembesar dan para suci mencari pengikut, mereka akan dijajagi terlebih dulu siapa, seberapa takaran keluhuran jiwanya, dan siapa yang pantas mengabdi kepada Negara. Terlebih lagi ia akan mencari siapa pribadi terpilih itu yang nantinya bakal pantas diteladani.

Maka nasihatku kali ini adalah, berangkatlah ke Magada. Hanya hal yang harus kamu ingat, manusia itu pada dasarnya memiliki nafsu menguasai terhadap segala apapun. Manusia itu selalu punya nafsu besar untuk memiliki apapun. Maka harusnya tidak sekalipun kamu ingin memiliki yang bukan milikmu, walaupun itu telah jelas nampak didepan mata.

Sifat tidak sabar dan kurang perhitungan, tidak seyogyanya kamu lakkukan dalam tata pergaulan di masyarakat. Haruslah kamu memegang teguh ajaran tridarma ; tiga kewajiban. Tiga kewajiban yang secara laku harus dijalankan seperti ini:

  1. Bila merasa ikut memiliki, wajib ikut menjaganya dengan teguh. Haruslah bersikap mulat sarira hangrasa wani. Artinya berani melakukan mawas-diri. Jangan gampang menyalahkan orang lain dan merasa hanya diri dan kelompoknya sendiri yang paling benar.
  2. Haruslah engkau melakukan hal yang empat; selalu mengagungkan tuhanmu. Kedua,selalu menjalankan laku panembah. Dan ketiganya, ucapkan delapan perkara yang semua berarti benar. Dan yang terakhir, tetaplah selalu tekun dalam belajar. Sebab ilmu itu bila diupamakan, bila kita berjalan melintas dalam gelap, akan menjadi penerang. Bila menapak dalam licinnya jalan bisa menjadi tongkat penyangga dan begitu seterusnya.
  3. Dan terakhir, tetaplah eling dan waspada.

Begitulah nasihat sang guru menjadi bekal penyempurna untuk mengarungi hidup bagi orang muda yang hendak turun gunung. Bambangan yang sebagai sanepan anak muda ketika ia ia telah tamat dalam menuntut ilmu dan hendak terjun ke masyarakat.

Lelungsen tak bebakali, pangestuku marang kowe; hayu-hayu rahayu niskala, demikian ucap restu terakhir disertai sendon 9. pengiring bedholan Bambang Sumantri dari hadapan ayahndanya:

Palugon laguning lekas /lukita linuding kidung/kadung kadereng amomong memangun manah rahayu/.

Setelah Bambang Sumantri lengser, adegan penawakawan dan cantrik dengan segala gerr yang diciptakan oleh kedua pihak menguasai panggung, hingga menjelang akhir dari 60 menit ketiga unggahan Sumantri Ngenger ini.

Dimulai ketika Semar dengan euphimisme bahasa yang dirakit memet, ketika ia minta sangu. Diiringi awalan Mijil barang miring lagon dari Ki Lurah Semar, kemudian diteruskan dengan Witing Klapa. Ini kata Semar dengan segala putar-puter kata yang ujungnya minta bekal uang.

Bahwa dijalan banyak peristiwa dapat ditemui. Ada pedagang, pasar juga ada. Jangan dianggap pasar kalau tidak ada yang beli. Disana aku hendak menggenapi apa itu yang namanya pasar dengan menjadi pembeli. Tapi kantong ini kosong. Begitu awal pembukaan yang njlimet Semar ketika minta dibekali, yang berakhir kosong.

Tidak dapat sangu juga dari cantrik, Semar undur diri dengan menembang Pucung, bersambung dengan Rujak Jeruk. Tinggallah Gareng yang juga dengan kalilmat berbelit belit juga minta sangu, namun salah terap. Setelah undurnya Sang Begawan, kemudian tinggallah cantrik dengan anak-anak Semar dengan segala polah lucunya.

http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2013/07/19/sumantri-ngenger-iv-ki-nartosabdo/

Mari kita lanjutkan kembali nikmatnya sajian Ki Narto dalam melakonkan Sumantri Ngenger yang sudah lama tertunda. Kenapa? Akun saya yang memuat banyak unggahan di mediafire tidak lagi bisa diakses, karena password lama kurang banyak hurufnya. Celakanya, e-mail yang untuk login menggunakan e-mail kantor lama yang sudah berubah servernya. Terpaksa unggahan diulang lagi L. Ada yang bisa kasih solusi?

Adegan di Pertapan Jatisarana berlangsung cepat. Bandelnya Sukasrana yang tidak mempan oleh berbagai nasihat Bapaknya, diceritakan hanya sebentar. Sukasarana menampik nasihat Resi Swandagni dan pergi tanpa bisa ditahan lagi. Begitu lepas dari hadapan ayahnya, kesaktian Sukasarana mampu melacak arah perginya Sumantri. Tersusul oleh adiknya, kebohongan yang akhirnya keluar dari mulut Sumantri. Kebohongan yang diucapkan Sumantri, bahwa ia pergi hanya mencarikan mainan untuk dirinya yang berupa anak kijang, tidak dipercaya begitu saja oleh Sukasarana.

Disini humor segar yang mengolok kata-kata pelo dari Sukasarana oleh para penakawan, meningkahi adegan. Ke”peloan” Sukasarana dipancing penakawan hingga Sukasarana keluar normalnya. Sumantri kemudian mengeluarkan jurus bohongnya yang lain. Ia melela adiknya denga Sinom Parijotho, dengan arti maksud lagu kurang-lebihnya; bahwa setelah buntu akal budi karena menahan rasa ragu, maka berganti menjadi keberanian dalam hatinya. Walau ia berlaku acuh, namun dalam hatinya begitu khidmad dalam meminta maaf dari yang kuasa. Hingga akhirnya dapat menyingkirkan kemurkaan musuh.

Demikan menghanyutkan alunan Sinom Parijotho ditelinga Sukasarana. Terlelap Sukasarana yang kemudian ditinggal diam-diam oleh Sumantri dan para panakawan. Walau diganggu oleh tingkah Bagong yang berbuat sembrono, Sukasarana tetap tertidur hingga beberapa saat. Sadar dirinya telah ditinggal oleh kakaknya ketika Sukasarana terbangun, ia bergegas menyusul Sumantri yang diperkirakan olehnya, bahwa tak akan berhasil cita-cita Sumantri bila tidak dibantu olehnya.

****

Perang Kembang. Ketika Raden Sumantri telah menyasar ke tengah hutan. Begini kurang lebih ketika Ki Nartasabdo menggambarkan situasi ketika mengiringi kemunculan barisan raksasa dari Ngawu-awu langit:

Saya manengah tindaknya Bambang Sumantri, tan nyipta pringga bayaning margi. Tan ketang durgama ing hawan. Geger buron wana warak, andaka, sima, ajag, lutung. Menawa bisa tata jalma, teka mangkana pangucape: “ heh batur, padha miyak- suminggaha, katitik sumlamar gandane kang lenga jayeng katon. Kae dudu wong ala-ala, kae trahing kusuma rembesing madu, tedhaking atapa, turunne kang andana warih. Aja ta amung kegepok salirane, senajan kapidak wayangane gedhe walate. Heh kanca, mire . . . mire . . . . mire . . . . .”. Sak . . sak. . . . gropak-gedebug sakala pindha sinapon.

Sinigeg kang lumaksana, madyaning wana ana barisaning denawa saka Negara Ngawu-awu langit. Wantuning raksasa mambu gandaning kang lenga Jayengkaton. mBoten saranta jumendhul saking grumbul, nyampe panging kekayon, pating gropak pating jletot swarane.

Bila diterjemahkan dengan bebas, mungkin begini bunyinya: Makin ketengah hutan Bambang Sumantri melangkah, tidak mempedulikan bahaya yang mengadang jalan. Juga tidak menghitung adanya jebakan di didepannya. Geger hewan hutan seperti badak, banteng, singa, ajag, lutung. Upama mereka bisa berbicara, mungkin begini kata-katanya: “heh teman semua, mari kita menyingkir, kerena tercium harum bau minyak Jayengkaton. Itu (pertanda) bukan manusia sembarang, tetapi dia adalah keturunan orang terhormat. Jangankan tersentuh tubuhnya, walau kita terinjak bayangannya-pun akan besar bahayanya. Teman, menyingkirlah . . . . .”. Sak . . . . sak . . . gropak-gedebuk, seketika tempat itu bersih bagai tersapu.

Kita tinggalkan yang sedang berjalan, ditengah hutan berbaris para raksasa dari Negara Ngawu-awu langit. Watak dari para raksasa yang membaui harum minyak Jayengkaton. Mereka tidak sabar muncul dari balik semak, menyambar dahan pepohonan dengan disertai suara yang berderak.

Tentu kemudian para raksasa bisa ditaklukkan. Dan pada seri ini, cerita ditutup dengan adegan di Negara Magada. Ketika itu Prabu Citragada sedang duduk di singgahsana, dihadap oleh putri Sang Prabu, Dewi Citrawati. Dibelakang Citrawati, adalah adiknya yang bernama Raden Citrasena.

Bayangan bayem mbayeyet agung ngrembuyung/ruwe-ruwe ring rawan kara taru turi/ karandhan kundhang/kedhondhong ndhendheng kasandhing/ kumedhungan kudhi/thenguk-thenguk manguk . . . demikian suluk yang mengawali adegan antawacana antara bapak anak di Magada, sekaligus mengakhiri babakan seri 4. Sendhon yang penuh irama pengulangan bunyi pada akhiran kata, yang jarang dikeluarkan oleh Ki Nartosabdo pada banyak lakon yang dipentaskannya.

http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2013/07/24/sumantri-ngenger-6-ki-nartosabdo/

Prabu Citradarma yang masgul karena rakyatnya yang sejumlah selawe kethi dan membutuhkan ketentraman, keraharjaan, kebahagiaan dan tercukupi sandang pangannya telah terusik. Sedangkan hasrat rakyat Magada akan hal itu saat ini sedang teruji oleh suasana genting Negara. Semua masalah sebenarnya akan terselesaikan oleh ucapan seorang saja. Ucapan sekar kedhaton Dewi Citrawati. Dewi Citrawati yang mendengar ucapan ayahandanya akan empat harapan rakyat Magada meminta penjelasan lebih lanjut, mengapa hal yang demikian bisa terjadi dan apa hubungannya dengan dirinya. Walau ia sudah menebak, kemana arah penjelasan dari ayahandanya.

Dijelaskan oleh ayahnya, bahwa pada saat ini Magada telah didatangi oleh para raja dari banyak negara. Dan mereka berkehendak sama. Mereka ingin menjadikan sekar kedhaton, Citrawati, sebagai istri. Dari kebandelan Citrawati yang masih menampik keinginan dari banyak pendatang yang tunggal keinginannya, membuat ibundanya selalu menitikkan air mata yang tak lagi bisa dibendung, bila melihat gawatnya negara.

Citrawati diminta tolong oleh ayahndanya agar ia dapat mengentaskan kecemasan rakyatnya serta meredakan kesedihan ibundanya. Prabu Citradarma mendesak, agar Citrawati dengan segera memilih salah satu dari raja pendatang yang menginginkannya sebagai istri. Dijelaskan oleh Sang Prabu, demikian gemuruh suara dari para raja pendatang, dan macam ragam ucapan para raja tersebut. Ada yang berani mati serah jiwa. Sementara ada raja yang mengerahkan wadya bala ataupun mempertaruhkan negaranya demi untuk mendapatkan cinta Citrawati.

Pada kenyataannya adalah suatu kebanggan, bahwa Citrawati adalah putri raja yang diperebutkan oleh para raja. Itu sama halnya, bahwa ia telah meninggikan derajat raja serta negara. Namun pada saat yang sama, demikian besar harapan ayahnda, agar Citrawati jangan berulah untuk menampik dan hendaknya menerima salah satu dari mereka demi keselamatan negara dan rakyatnya.

“Rama, dosa apakah yang hamba terima jika menolak kehendak dari ayahnda yang merupakan pengayoman hamba. Bahkan hamba sudah anggap paduka sebagai dewa sesembahan. Tetapi ketahuilah rama, apakah suatu kewajaran bila hamba menikah oleh keterpaksaan. Keterpaksaan dalam perjodohan menurut kebiasaan yang sudah berlangsun, sering kali hanya berlangsung sesaat saja. . . “ demikian sebagian dari pembelaan Citrawati.

Alasan yang dikemukakan oleh Citrawati dimengerti. Prabu Citradarma mengusap dadanya. Dalam hatinya yang kemudian terlahir dalam ucapan, ia mengeluhkan beratnya menjadi seorang ayah dari seorang putri yang sedang menapaki kedewasaannya.

Kata Sang Prabu, ketika putrinya masih ujud bayi, setiap kali ia terbangun dimalam hari oleh rewelnya anak, ia dengan senang hati merawat, bahkan digendongnya putrinya dengan tumpahan kasih sayang. Saking bangga serta sayangnya, dibuainya putrinya dengan kain sutra. Tetapi ketika sudah dewasa, kejadiannya bisa dikatakan melenceng dari harapan yang diangankan semula. Mrucut saka ngembanan, luput saka kudangan.

Ia mengeluhkan, bagaimana sulitnya ia kini ketika hendak memulai dasar rembugan, bahwa pada kenyataannya, semua yang dikatakan putrinya adalah suatu kebenaran. Sarambut ora luput, satengu ora kleru. Tetapi Sang Prabu akhirnya mengingatkan, bahwa manusia adalah diwajibkan ihtiar dan berusaha, agar semua yang dijumpai nanti adalah berujud kebahagiaan dan kemuliaan.

Namun lain halnya, Prabu Citradarma sangat sangat mengkhawatirkan, bagaimana rusaknya negara Magada bila Citrawati tetap kukuh menolak keinginan ayahnya dan hanya menuruti ketetapan hatinya. Yang diketahui oleh Citrasena yang akhirnya berkata jujur, bahwa kakaknya, Citrawati masih merasa berhutang budi kepada kedua orang tuanya. Citrawati belum merasa imbang dalam memberikan balasan kasih sayang kepada kedua orang tuanya, namun ia harus berpisah karena menikah dan dibawa suami ke tempat jauh.

Ungkapan Citrasena melapangkan jalan apa yang harusnya ditempuh dalam mengatasi keruwetan ini. Nasihat yang menjelaskan arti dari kasih sayang orang tua dalam membesarkan anak-anaknya membuat Citrawati menjadi lebih paham. Dikatakan, bahwa kasih orang tua kepada anaknya adalah terbatas dalam suatu kurun waktu. Bila nanti ia sudah bersuami atau beristri, hendaknya cinta itu dibagi menjadi dua. Pertama adalah kasih kepada orang tua, dan kedua dalam hal ini kepada suami.

Bila kedua hal tersebut sudah dapat diterapkan, maka hal ini akan menjadi ibarat tetunggalan antara lahir dan batin. Batin berbakti kepada orang tua, lahir melayani suami. Inilah tempat yang sebenarnya tepat dilakukan oleh seorang anak dalam melakukan bakti kepada kedua orang tuanya.

Begitu gamblang, dalam, penuh makna serta jelas nasihat Ki Nartosabdo melalui adegan di Puraya-gung Negara Magada. Nasihat lawas yang sampai saat ini masih update, utamanya bagi orang tua yang mempunyai putri yang sedang beranjak dewasa. Suatu contoh yang mengena kepada kita, utamanya saya sendiri yang mempunyai masalah yang sama dalam menghadapi anak wanita yang beranjak dewasa. Bagi para orang tua yang mempunyai hanya anak perempun yang masih kecil, waspadalah!

**

Ayak-ayak manyura diiring kombangan Ki Nartosabdo dengan cakepan selaras gending, kawuryan kang gaduh mayang mekar, nyirik nyongklang kudanya den candhet miring. Kombangan mengiringi suasana puraya-gung keperbawaan oleh putrinya yang masih belum mengucapkan kesanggupannya memilih salah satu pelamar, walau satu kalimatpun. Maka Citrawati hanya sedhakep tertunduk. Dan adiknya, Raden Citrasena yang hanya tertegun bingung, macam-macam yang berkecamuk pikiran memenuhi benaknya. Ia setuju dengan gagasan orang tuanya, bahwa bila tak ada satupun pelamar yang dipilih, tidak urung Magada akan menjadi lautan api.

Keindahan rangkaian kalimat yang terucap dari narasi suasana senyap di pisowanan Magada hingga kedatangan Sumantri, tidak dapat tertandingi pesonanya. Malah bila terjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, narasi akan kehilangan keindahannya: Dhedhep tidem swasana jro puraya-gung Negara Magada. Kaperbawan legeging penggalih Sang Nata ingkang dereng rumaos lega awit sangking wangkoting putra Dewi Citrawati, senadyan saklimah kewala dereng wonten narendra ingkang minongka pepilihane. Mula anggung tumungkul pasemone Dewi Citrawati saraya sedhakep kang asta.

Amung Raden Citrasena ingkang anggung bingung bilulungan, waneh waneh kang ginagas. Cundhuk lang pangandikane ingkang rama, yen tan ana sawiji kang pinilih, tan wurunga ing Magada cinadhang dadi karang-abang.

Wauta, geder kang samya jejagi ing reregol, mulat ana satriya bagus anganthi repat panakawan catur. Gya linarapake minggah ing pendhapi ageng, repepeh-repepeh kaya sata mriyembada.

**

Status sebagai sekar kedhaton membuat Citarawati kesulitan menjaga kesusilaan sehingga sikapnya menjadi serba gelisah dengan kedatangan pria yang membuat hatinya terpaut. Namun Bambang Sumantri mengaku, bahwa ia yang berpangkat jajar, adalah hanya sebagai utusan Prabu Harjuna Sasrabahu yang hendak meminang Sekar Kedhaton, Dewi Citrawati.

Setelah menyatakan maksud kedatangannya kepada Prabu Citradarma, Sumantri diperbolehkan lengser dari puraya-gung untuk sementara. Ketika Bambang Sumantri sudah keluar dari puraya-gung untuk menantikan keputusan, Citrasena yang juga telah condong menerima lamaran untuk kakandanya, kemudian mendongengkan sekilas siapa Sri Harjuna Sasrabahu sebagai titis Wisnu. Tujuannya tentu saja agar bagaimana Citrawati menerima lamaran dari utusan seorang Bambang Sumantri untuk rajanya. Dikatakan, bahwa bila kakaknya menerima lamarannya, tidak hanya Citrawati seorang yang nantinya memperoleh kehormatan menjadi istri titis Wisnu. Rasa bahagia juga akan dinikmati oleh seluruh rakyat Magada.

Bersedia secara bagaimana Citrawati menerima salah satu calon suami, tetapi secara berkebalikan ia masih tetap teguh menolak kemauan ayah dan saudaranya? Juga dikatakan bahwa ia rela mati walau sejumlah dewa turun melamar, sebab dalam hatinya masih belum trep dalam melayani pria.

Dalam babak ini anda akan dibawa pesona suatu sanggit antawecana hebat. Inilah salah satu macam kekuatan sanggit berliku yang terkadang sangat sulit dilacak sampai dimana ujung dari dialog dalam suatu plot jejeran yang dilakonkan oleh Sang Maestro.

http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2013/11/13/sumantri-ngenger-vi-tancep-kayon-ki-nartosabdo/

Sumantri: Adhiku dhi, Sukasarana

Sukasarana: Aku elu ya akang?!

Sumantri: Ya . . . pun Kakang ora bakal cidra kabeh kang wus tak ucapake bakal dadi kasunyatan. Kae rungokna Sukasarana, ana tetabuhan umyung. Tengara bendhe munya mangungkung, minangka pertandha, kanjeng Sri Narendra bakal tedhak ing taman Sriwedari. Kowe umpetan luwih dhisik, wong bagus . .
Sukasarana: Emoh . . aku kepengin weruh retune kok. Aku kepengin weruh retune, aku emoh alih –alih ya akang . . . aku engko yen ditakoni ratumu, andakna aku batulmu, ning aku elu. Kang . . .

Petruk: mBok niku ditampa ah, mesakke. Sing menehi syarat kok mboten ditampa niku kepripun

Sumantri: Sukasarana, ora gampang suwita ing ratu. Ya dene yen ketampa. Yen ora, ora wurung aku keluputan. Kowe baliya disik marang pertapan wong bagus. Aja dadi muringingpun kakang kowe baliya dhisik, wong bagus . . . .

Iringan Tlutur mungel lajeng kasirep ririh nyarengi adegan Sumantri njempalani ingkang rayi kados ing ngandhap.

Sukasarana: Kang . . . . aku emoh keri, aku melu kowe, Kang.

Sumantri: Aja gawe wiranging pun kakang, kowe semingkira dhisik. Sukasarana . . . apa klakon aku mara tangan

Petruk: nDara ah, eling . . .

Bagong: nDaraaa eliiing.

Petruk : Niku adhimu melu lara lapa ora jeneng . . . .

Sukasrana: Adhuh mati aku kang . . .

Sumantri: Aja kebacut kowe lara, kowe baliya dhisik, wong bagus

Sukasarana: Emoh akang, aku kok kongkon ngidul ya ngidul. Ngalorl ya ngalol, bareng klakon aku dikon minggat, aku emoh pisah karo kowe . . . . .

Petruk: nDara ampun plak-plek

Bagong: nDara Sumantri wong bagus kok mentalan huuu . . .

Sukasarana: Aduh mati aku kang . . .

Kocap kacarita nalika semana, saya caket swantening tetabuhan umyung. Tandha tedhaking Sang Nata marang taman Sriwedari. Wauta, saya kisruh penggalihe Bambang Sumantri. Padha sakala rekatak musthi warastra angembat langkap, ing pengangkah kinarya angagar-agari bambang Sukasarana. Noleh nganan-ngering, ngarsa miwah ing pungkur, miyarsa tetabuhan kang umyung. Anggrahita Bambang Sukasarana, lamun Sang Raka rumaos lingsem dipun dhereki. Padha sanalika ponang warastra sinaut pribadi dening bambang Sukasarana. Suduk salira lampus dhiri . . . . . .

****

Itulah yang tergambar pada Lakon Sumantri Ngenger versi lain dari Pagelaran yan dilakonkan oleh Ki Nartosabdo. Akhir yang tragis dari suatu pengabdian seorang adik terhadap kakaknya, namun dibalas dengan kematian hanya karena gengsi.

Versi yang controversial. Karena terbanyak dari yang dilakonkan baik dalam wayang kulit maupun wayang wong yang pernah saya dengar maupun lihat, bahwa Sukasarana terkena oleh panah Sumantri atas ketidak sengajaan. Keringat Sumantri yang membasahi tangannya karena kegugupan mendengar suara bendhe pertanda kedatangan rajanya, membuat licin pegangan gendewa, yang akhirnya panah meluncur mengenai Sang Sukasarana.

Namun pada pagelaran ini, ceritanya lain. Merasa dirinya memang menjadi duri dalam daging, Sukasarana mengalah demi kemukten kakaknya. Sebuah akhir pengabdian yang berujung sama tragisnya seperti pada versi lain. Pada pagelaran lainpun, Ki Narto pernah melakonkan dengan versi, bahwa kelalaian Sumantri telah menyebabkan panah tidak sengaja menghajar tubuh Sukasarana.

Nah, kali ini lakon tetap sama Sumantri Ngenger, namun diupamakan makanan, maka kali ini, lakon diolah dengan bumbu yang berbeda.

Rasanya? Kalau kokinya Ki Nartasabdo, apapun yang dihidangkan, pasti citarasa tetaplah tinggi.

Bagi yang sudah duluan nyicipi, enak to? Dan yang belum silakan dicicipi:

 

Advertisements

2 thoughts on “KNS : Sumantri Ngenger”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s