KNS : Lakon Banjaran (New)


Saya mencoba menyusun ulang koleksi-koleksi dari para dalang yang sudah ada di blog ini dengan tujuan agar lebih tertata dan menarik. Memang akan memakan waktu cukup lama untuk menyusun ulang lagi karena harus mereview setiap lakon serta menuangkannya dalam narasi yang berkesinambungan dengan lakon-lakon lain.

Tapi nggak ada salahnya kalau kita mulai. Bagi yang berkenan dapat juga membantu untuk menyusun ulang lakon-lakon yang ada disertai dengan narasi tentang jalan cerita, kualitas rekaman, hal-hal yang menarik di lakon tersebut serta nilai yang dapat diambil.

Banjaran Bisma

Prabu Pratipa adalah ayah dari Prabu Santanu . Suatu saat di tengah semedi muncul wanodya berada di dekatnya dan ternyata adalah seorang hapsari bernama Dewi Gangga yang ingin menjadi istri Prabu Pratipa. Prabu Pratipa menolak dengan halus namun berjanji bahwa suatu saat Dewi Gangga akan diambil mantu. Hingga akhirnya saat Prabu Santanu tengah menyusuri sungai Gangga, dia bertemu dengan Dewi Gangga dan akhirnya kemudian menjadi permaisuri kerajaan Astina.

Namun sudah cukup lama usia pernikahan, Dewi Gangga belum mau di sentuh oleh Prabu Sentanu sehingga membuat Prabu Sentanu sedih dan menumpahkannya kepada Patih Mandrawa. Hingga setelah dibujuk dengan berbagai rayuan, akhirnya Dewi Gangga mau melaksanakan kewajiban sebagai istri dengan meminta syarat yang harus dipenuhi oleh suaminya.

Dengan bahasa yang sangat indah, KNS menceritakan bujuk rayu seorang suami yang begitu dirundung cinta dan ingin bercumbu dengan istrinya sendiri.

Syaratnya adalah Prabu Sentanu tidak boleh bertanya atau melarang bila saat Dewi Gangga melahirkan putranya maka akan di buangnya. Meskipun sangat berat akhirnya Prabu Santanu menyetujuinya.

Benar saja, saat lahir anak yang bertama, Dewi Gangga langsung membuangnya ke sungai. Prabu Santanu tidak bisa berbuat apa-apa.

Hingga anak yang ke-9 lahirlah seorang anak laki-laki yang cemerlang, tampan dan terlihat agung. Meskipun mengingkari janjinya, akhirnya tak tahan Prabu Santanu kemudian melarang istrinya untuk membuang ke sungai saat Dewi Gangga meminta untuk segera dibuang.

Akhirnya sesuai dengan perjanjian sebelumnya, Dewi Gangga kembali ke kahyangan dengan meninggalkan bayi yang kemudian diberi nama Dewabrata, Raden Ganggaya, Raden Cahnawisuta.

Ikuti kisah menarik Dewabrata, masa kecil, dewasa, kisah kasih dengan Dewi Amba yang terhalang sumpah wadat Dewabrata.

Hingga saat perang Baratayudha, saat tidak mau tidak Bisma harus membela Kurawa dan kemudian menemui ajal ditangan cucu-cucunya Pandawa, Bisma memilih mati sebagai seorang ksatria dengan meminum darah para satria yang gugur di peperangan dan tidur di dipan susunan anak panah dan tombak.

Sungguh indah kisah Bisma ini dibawakan oleh KNS. Selamat menikmati

Banjaran Karna

Perjalanan hidup seorang anak Kunthi, saudara tua dari para Pandawa. Dari saat muncul ke dunia yang tidak diharapkan, kemudian dibuang ke sungai layaknya sampah menjijikan dan tiada berguna hanya karena menghindari aib negara Mandura. Pilihan berat bagi Kunthi memang, antara pisah dengan anaknya dan pertaruhan besar untuk mempertahankan kehormatan ayahnya.

Akhirnya atas upaya Resi Druwasa, bayi merah tanpa dosa tersebut dilarung ke sungai Gangga dengan diberi nama Raden Karna Basusena (sena=anak, basu=matahari, karna=sorot).

Masa remaja dilalui bersama “orang tua angkat” yang menemukannya di sungai, hingga akhirnya ditampung dan dimulyakan oleh Duryudana yang bersaing dengan pandawa saat menerima pengajaran dari Begawan Dorna.

Hingga saat perang Baratayudha pecah, Karna tetap bersikukuh untuk tetap mengabdi untuk membalas budi terhadap Duryudana. Meskipun sudah beberapa duta telah memberi nasehat, bahkan ibundanya Kunthi yang menangis mengharap untuk berkumpul kembali dengan saudara-saudaranya Pandawa.

Segmen ini begitu menyentuh, satu pilihan harus ditetapkan dari alternatif yang sama-sama pahit. Bertanding dengan saudara kandung sendiri, Arjuna, atau mengingkari jiwa ksatria.

Dan pilihan itulah yang mengantarkannya menemui ajal sebagai seorang senopati ditangan adiknya sendiri.

Banyak nilai yang dapat kita manfaatkan dari kisah perjalanan hidup Karna Basusena ini dan selamat menikmati.

Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima)

Banjaran Bima

Satria nomor dua Pandawa yang menjadi benteng pelindung saudara-saudaranya dan ibunya dari berbagai kesengsaraan dan perlakuan menyakitkan dari kurawa.

Lahir secara aneh dibelit bungkus (bimo bungkus) dan kemudian menjadi begitu perkasa dan memiliki banyak kesaktian tiada tara, itulah Bima.

Perjalanan hidup seorang satria utama nan perkasa hingga di akhir cerita akhirnya menuntaskan hidup Duryudana dalam akhir-akhir perang Baratayudha.

Banjaran Arjuna I

Menceritakan perjalanan Arjuna dari kelahirannya sampai bertemu dengan calon istrinya “Wara Sumbadra”

Banjaran Arjuna II

Diawali dengan nelangsa Kunthi yang merasa kasihan atas nasib Arjuna yang ternyata untuk melamar Wara Sumbadra diminta untuk memenuhi persyaratan yang sangat berat oleh Prabu Baladewa dan Prabu Kresna, kakak-kakak Wara Sumbadra. Namun dengan bijak Resi Abiyasa memberikan petunjuk dan solusi untuk segera memenuhi permintaan itu.

Cerita diakhiri dengan kisah pertempuran di Baratayudha saat melawan saudara tuanya, Karna (lakon Karna Tanding)

Versi Lain unggahan dapat diunduh disini : http://www.4shared.com/folder/kYdUXSc9/06_online.html

Banjaran Gatotkaca

Gatotkaca adalah sosok yang luar biasa. Dari saat lahir, putra Bima dengan Arimibi ini, mengalami peristiwa yang luar biasa di kahyangan sehingga memperoleh kesaktian yang tiada tara.

Perjalanan hidup Gatotkaca penuh liku jalan satria. Hingga kemudian menemui ajal sebagai pahlawan dalam perang Baratyudha sebagai senapati perang ditangan Senapati Kurawa, Karna Basusena.

Adegan saat-saat pralaya Gatotkaca sangat indah diceritakan oleh KNS di akhir-akhir cerita.

Versi unggahan lain, dapat diunduh disini : KNS : Banjaran Tetuka

Banjaran Druna

Tokoh yang menarik. Sebagai guru dari Pandawa dan Kurawa, keilmuan dan kedigdayaan Durna tidak diragukan. Namun di sepanjang kisah perjalanan hidup Pandawa Kurawa, sering Durna diidentikan sebagai “pemihak” Kurawa yang membabi buta. Terkenal sebagai pandita yang licik menggunakan segala tipu daya dan kelicikan untuk memenuhi permintaan Duryudana dalam mengenyahkan Pandawa.

Namun bagaimanapun Durna adalah seorang guru besar bagi Astina, bagi Pandawa dan Kurawa. Seorang guru yang sungguh dihormati oleh para Pandawa sekalipun. Hingga setelah berakhir perang Baratayudha, saat para Kurawa, Karna dan Durna telah gugur dan Pandawa memenangkan perang besar itu, tetap menyisakan kepedihan yang dalam. Dan saat Pandawa, Kresna, Baladewa segera mengakhiri kehidupan di dunia, dalam perjalanannya menemukan arwah Pandita Durna dalam wujud seekor kuda. Disinilah kebijaksanaan seorang Bima yang merasa berhutang budi terhadap Gurunya sehingga kemudian membantu melepaskan suksma Durna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s