KNS : Banjaran Tetuka


banjaran gathutkaca

Sumber : http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2012/08/08/banjaran-gathutkaca-ki-nartosabdo/

Satu lagi file audio wayang karya besar Ki Nartosabdo kami persembahkan untuk penikmat wayang purwa yang “pure wayang”. Lakon dalam file  ini bukan kami yang pertama mengunggah di Internet, tapi ini adalah yang sudah kesekian kalinya. Kami unggah bukan karena apa-apa, kecuali kami dititipi pesan dari yang punya koleksi kaset, bahwa ada karya beliau yang menurutnya sangat sayang kalau hanya disimpan sendiri. Kemauan bapak yang satu ini, tentu saja selaras dengan keinginan kami. Kami sendiripun sangat ingin membagi kesenangan akan kesenian wayang yang dikatakan orang sebagai seni adi luhung. Juga sembari berharap, barangkali yang kami bagikan lebih mudah didapat dengan mendonlod content dari file yang saya olah dan unggah ini.

Sekali lagi saya sampaikan, bahwa usaha menyebarkan file Ki Nartosabdo adalah semata-mata untuk memperkenalkan kepada masyarakat lintas generasi, bahwa pada saat itu, seni pertunjukan wayang adalah seperti ini. Sajian yang benar-benar berbudaya dan bersastra tinggi. Dan pasti banyak jauh berbeda dengan apa yang terlihat pada pertunjukan wayang di masa sekarang, yang saya nilai sudah disusupi pertunjukan yang bukan lagi wayang.

Sebagai gambaran, peran dalang disaat itu, dalam hal ini Ki Nartosabdo, adalah benar-benar sebagai tokoh sentral dari pertunjukan. Tidak perlu kekuatan lain disekitarnya yang diperlukan untuk mendongkrak performanya hingga penonton terpaku ditempat duduknya. Dan dengan kepiawaian beliau sendiri, ia mampu mejadikannya sebagai seorang dirigen untuk para crew, dan pengikat para penonton hingga akhir pertunjukan.

Keprihatinan banyak pihak terhadap seni Wayang saat sekarang yang sebagian besar berpendapat pertunjukan wayang sudah digunakan dengan cara diluar wayang, maka dengan langkah membagi file pagelaran wayang yang sebenarnya ini dan kemudian downloader membandingkannya dengan wayang yang ditemui pada saat sekarang, maka setidaknya didapati kesimpulan, apakah masih pantas pertunjukan wayang masa sekarang masih berlabel adi-luhung, ataukah sudah tidak ada bedanya dengan pertunjukan kontemporer lain yang sekarang tengah marak. Tetapi mendahului pendapat anda para pembaca, menurut pendapat kami, pertunjukan wayang masa sekarang pada umumnya sudah melenceng dari arti adi-luhung

Maka ada sebagian orang merindukan pagelaran berbudaya tinggi seperti pada saat itu. Kemudian muncul pendapat bahwa, bila ingin mengembalikan pertunjukan wayang kearah pertunjukan budaya wayang adalah dengan menanggap wayang dengan garap klasik. Tetapi lagi menurut saya, hal itu tidak sepenuhnya effektif. Pegelaran dengan biaya mahal pada umumnya dengan frekuensi yang sporadis tidak akan mampu mengangkat wayang yang “berbudaya dan bersastra wayang” dan kemudian berpengaruh terhadap selera jelata.

Gempuran massif wayang dengan genre campuran bermacam seni kotemporer lain yang hanya menyisakan sedikit alur cerita wayang, lebih banyak berpengaruh terhadap masyarakat penonton. Frekuensi penayangan atau pertunjukan wayang kotemporer yang sangat tinggi dibanding dengan bila kita sebagai pecinta budaya wayang menanggap-nya membuat pecinta pure wayang yang menanggap wayang klasik, bagai menabur garam dilautan. Biaya yang dirogoh dari kantong kita dengan dalam bila dihitung peluang untuk mempengaruhi masyarakat agar kembali ke seni klasik ini tidak sepadan.

Pertunjukan wayang memang bagi kebanyakan masyarakat adalah mahal. Pertunjukan wayang dengan biaya gula kopi, saya istilahkan, memang ada. Tapi ini adalah hal yang  hanya bersifat kasuistis. Untuk masyarakat umum yang tidak ada koneksi, minimal sedikit diatas sepuluh juta untuk honor dalang kampung, dan mencapai 75 juta bahkan lebih, net, untuk dalang top, kita harus merogoh kantong untuk itu.

Pun bila kita menanggap wayang secara kolektif dan menampilkan gaya klasik hanya bisa dibilang sebagai pemuas dahaga kelompok yang tidak menyentuh masyarakat luas. Kasarnya sekedar (ma’af) onani pemuas diri sendiri saja, karena pertunjukan seperti ini pasti dijauhi awam. Penikmat pure wayang pada saat ini secara feeling (IMHO, sekali lagi hanya feeling bukan data) jumlahnya minoritas dibandingkan dengan penggemar wayang jelata.

Pertanyaannya, terus bagaimana dong?! Menurut pendapat saya, bola ada dikaki pelaku seni. Seberapa kuat tekanan dari penanggap yang memaksakan pertunjukan digarap dengan seleranya, seharusnya ditanggapi dengan batasan sampai dimana seharusnya pagelaran wayang dilakukan sebagaimana mestinya pertunjukan wayang. Tidak kok para dalang menjadi ketakutan tidak lagi dapurnya berasap. Boleh memang menuruti kehendak penanggap dan itu sah-sah saja. Tapi sebagai pelaku seni, dalang seharusnya tetap berdiri pada kesejatian seorang seniman sejati yang harus tahu empan papan dan berpengaruh sebagai tuntunan. Sebagai insan seni, seharusnya mereka mampu menyampaikan misi seninya dengan kekuatan seni yang dimiliki dan membaginya dengan kompromi, sehingga tidak melenceng dari misi seni yang diembannya.

Utopis memang. Tapi bila para pelaku seni sudah berubah sifat menjadi oportunistik dan hedonis, maka seni wayang dalam hal ini disinyalir sudah ada pada waktu sandyakala yang sebenarnya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana peran kita? Bila itu ditanyakan kepada kami selaku orang biasa yang tidak mampu mempengaruhi massa dengan menangggap wayang. Apalagi dengan gaya klasik, lebih jauh lagi menanggapnya dengan frekuensi sesering mungkin, maka pengenalan seni wayang yang sesungguhnya melalui file wayang adalah dipandang sebagai perbuatan yang paling mungkin dilakukkan. Walau sebagian mengatakan illegal, menyalahi aturan hak cipta. Kecintaan terhadap kelestarian seni pertunjukan adi luhung ini mendobrak batas aturan itu. Tapi kenekatan itu ternyata banyak diamini oleh para donor koleksi barang seni itu yang dengan sukarela membeli dan membagikan koleksinya.

Peran masyarakat pencita pure wayang adalah minoritas seperti pendapat yang disebutkan diatas. Pengharap seni wayang kembali ke masa keemasan ketika sastra wayang mampu menjadi panglima pertunjukan, sekarang hanya bisa melakukan sebatas mengedukasi masyarakat luas selaku potensial penanggap.

Dengan suguhan file-file seni hebat wayang masa lalu, setidaknya ini akan mampu menggiring opini masyrakat, bahwa seni wayang memang pantas dikatakan adi-luhung. Kemudian kembali merindukan suguhan indah seperti yang didengar , sehingga mereka menjadi terbiasa kembali dengan nuansa pagelaran “wayang yang benar benar wayang”.

Juga pendapat bahwa seni wayang secara inti tetaplah sebagai seni wayang, dan sebagai plasmanya adalah kreasi kreasi yang menyertainya adalah suatu keniscayaan. Tetapi kreasi atau modifikasi yang seorang sahabat mengatakan sebagai modifikasi negatif, akan menghancurkan seni wayang itu sendiri. Inilah yang sebaiknya dihindari oleh pelaku seni, agar tidak segera kesenian ini benar-benar surup.

Bila harapan itu tidak terjadi, kegemaran kami akan wayang akan tetap tinggal sebagai saat sekarang. Bernostalgia dengan garap klasik Ki Nartosabdo yang yang bagi kami penuh dengan pesona.

Kemudian dengan berbagi file ini lagi,  adalah cara lain dari kami untuk mengungkapkan kecintaan kami terhadap wayang yang sebenarnya. Mungkin bukan cara termurah, bahkan berresiko. Tapi kami harap cara ini lebih berpeluang untuk menjadikan orang banyak menjadi tahu, kemudian cinta kepada “wayang yang sesungguhnya wayang”.

Pada Link dibawah ini adalah salah satu contoh modifikasi positif dari Ki Narto. Cerita banjaran atau riwayat seorang tokoh yang dibawakan dalam satu pagelaran semalam. Modifikasi lakon pepanggungan yang banyak diekor oleh para dalang semasa beliau masih hidup dan hingga kinipun masih dijadikan pola pagelaran. Namun sayang, saat ini cerita panjang suatu tokohpun terokupasi oleh badutan yang berpanjang-panjang, sehingga esensi dari lakon banjaran yang sebenarnya begitu panjang itu tidak tercapai.

Berikut Link Banjaran Tetuka by KNS

Banjaran Tetuka (8 File)

http://www.4shared.com/folder/F223S4-7/147.html

Banjaran Gatotkaca (16 File)

http://www.4shared.com/folder/NDuD7GU_/07_online.html

Advertisements

One thought on “KNS : Banjaran Tetuka”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s