KNS : Narasoma


Narasoma-Bagaspati-Candrabirawa

Mengenang Narasoma …..
adalah belajar memahami karakter penuh warna
keras hati
kesombongan
welas asih
mencinta sepenuh hati
berbaur mencipta nuansa pelangi beraroma mewangi
pernah berperan sebagai pecundang
namun berakhir menjadi pahlawan

Belajar dari kisah Narasoma
adalah belajar tentang kehidupan
yang harus memilih
tuk menjadi pecundang atau pemenang
dan
hidup adalah PILIHAN !!!

Pagelaran wayang dengan lakon “Narasoma” bersama Ki Nartosabdho dapat dinikmati disini

http://www.4shared.com/folder/NHunR4L7/141.html

<<< ooo >>>

Dipandanginya sosok di sebelahnya yang tengah tidur dalam senyuman di pangkuannya. Begitu damai terlihat. Rona kebahagiaan terpancar dari wajah yang begitu dikenalinya inci demi inci. Wajah itu masih membuatnya bergetar saat menatapnya. Meskipun gurat garis usia tua mulai memahat wajah ayu itu, baginya sosok itu adalah satu-satunya hal terindah yang pernah dilihatnya di dunia ini. Sejuta kebahagiaan tlah dilalui bersamanya, nyaris tiada duka tersisa. Kasih sayang kepadanya tidaklah luntur dari hari ke hari, bahkan dirasakan semakin membuncah memenuhi seluruh ruang di hatinya.

Semalam, tlah ditumpahkan dengan segenap jiwa rasa cintanya melalui olah krida hubungan suami istri nan mesra. Senyum istrinya mewartakan kepuasan hatinya. Begitupun dirinya, hubungan dengan istrinya tidak hanya melibatkan fisik semata namun tautan hati dan saling pengertian, tlah menyatukan mereka dalam kasih sayang nan indah abadi.

Sebelumnya telah dibulatkan tekad bahwa esok hari kan pergi ke medan laga sebagai panglima perang dalam Baratayudha. Dan itu tak ingin diketahui oleh sosok disebelahnya kini. Hatinya terlalu rapuh pabila menyaksikan derai air mata kesedihan. Tak tega rasanya memandang wajah sedih sang permata hati. Oleh karenanya tlah direncanakannya untuk pergi secara diam-diam. Tekadnya telah utuh, tiada celah lagi untuk berubah, namun nalurinya mengatakan bahwa malam inilah saat terakhir dirinya sua dengan istrinya tercinta.

Wajah laki-laki itu tersenyum pahit. Bulir air mata mengambang di pelupuk ke dua matanya. Tak pernah dalam hidupnya sekalipun mengeluarkan air mata. Kini, tak mampu dia menahannya. Dadanya teramat sesak, hatinya teramat perih.

Kembali dibelainya wajah halus istrinya itu. Seorang istri yang begitu setia mendampinginya selama ini. Istrinya yang telah memberikannya lima orang keturunan sebagai penyambung darah. Dan saat menyentuh bibir itu, ingatannya kembali melayang pada kali pertama menyentuhnya pada malam setelah pernikahannya. Kembali di ulang kenang rangkaian episode-episode kehidupan yang tlah dilaluinya.

<< ooo >>

Jejaka muda itu adalah Narasoma. Dia adalah putra Prabu Mandrapati raja dari negara Mandaraka. Dia adalah sosok pemuda yang cerdas dan berilmu tinggi nan mumpuni. Namun sayang, sifat dan wataknya yang suka pamer serta sombong kerap diperlihatkan, walaupun rakyat Mandaraka memakluminya karena memang pada diri Narasoma banyak hal yang dapat dipamerkan termasuk juga ketampanannya. Narasoma diangkat menjadi putra mahkota dan dipersiapkan menjadi raja Negara Mandaraka kelak. Narasoma mempunyai seorang adik perempuan yang sangat disayanginya. Begitupun adiknya itu, Dewi Madrim, sangat menyayangi kakaknya dan sangat bermanja bila sua dengan kakaknya.

Cinta berawal saat pertama kali tatapan mata Narasoma saling bertumbuk dengan sinar mata Endang Pujawati. Pertemuan itu terjadi di Pertapaan Argabelah ketika dirinya tersuruk-suruk meninggalkan kerajaan Mandaraka, setelah diusir oleh ayahndanya Prabu Mandrapati. Ayahnya sangat kecewa dengan dirinya karena menolak perintah agar segera menikah. Permintaan itu disodorkan oleh ayahnya waktu itu, agar ketika ayahndanya menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada putranya, maka dirinya sudah memiliki seorang permaisuri. Namun dirinya justru mengajukan syarat bahwa dirinya harus menikah dengan wanita yang serupa persis dengan ibunya. Ayahnya yang salah memahami permintaan dirinya akhirnya mengusir dirinya hingga terlunta-lunta sampai di Pertapaan Argabelah.

Tertautnya sinar mata di pertapaan Argabelah itu telah memercikkan api dan mengobarkan asmara diantara keduanya. Maka ketika Endang Pujawati pun terbakar api itu, diseretnya sang ayah, Begawan Bagaspati, untuk menemui dirinya. Terperanjat dirinya waktu itu, ketika melihat ayah Pujawati yang ternyata berujud seorang raksasa. Dalam hati bergolak sebuah pertanyaan, benarkah Pujawati, wanita dengan sejuta pesona, berayah seorang pendeta raksasa? Tetapi pertanyaan ketidak mungkinan itu ditepisnya sendiri. Seketika akalnya berputar, bagaimana caranya memetik “bunga cempaka mulia indah nan mewangi, tetapi ditunggui oleh seekor buaya putih”. Apa kata ayahnya bila ia berbesan dengan seorang raksasa?!

“Pujawati, inikah satria yang kau katakan telah mempesonamu?” Begawan Bagaspati menanyakan kepada anaknya. Namun pertanyaan itu hanya basa basi saja. Dalam kenyataannya Begawan Bagaspati telah mengetahui apa yang sedang terjadi pada keduanya. Maka tanpa menunggu jawaban anaknya, Begawan Bagaspati menanyakan kepada Narasoma.

“Raden siapakah andika sebenarnya?” Sapa Bagaspati.

“Heh Pendeta Raksasa, siapakah namamu?”, Sifat tinggi hati Narasoma tak mau kalah.

“Ooh tidak mau mengalah rupanya satria ini. Baiklah, namaku adalah Begawan Bagaspati. Sedangkan siapakah nama andika, Raden?” Tanya Bagaspati kembali.

“Akulah anak Raja Mandaraka, Prabu Mandrapati. Namaku Narasoma” Kata Narasoma waktu itu dengan muka tengadah. Dirinya tak memungkiri bahwa dimasa muda, berwatak degsura. Namun dilain pihak Begawan Bagaspati seakan terhenyak. Mandrapati adalah salah seorang saudara seperguruannya, bertiga bersama seorang saudara seperguruan yang lain, yang bernama Begawan Bagaskara yang juga berujud seorang raksasa. Namun ia tak mengatakana sesuatau apapun. Sifat Narasoma dan alasan yang tidak bisa ia ungkapkan, menuntunnya untuk tidak mengatakan sedikitpun mengenai jati dirinya.

“Raden, perkenankan andika menyembuhkan sakit yang diderita oleh anakku ini” Bagaspati menjelaskan.

“Lho, kamu itu seorang pendita, yang pasti memiliki segala ilmu agal alus. Tidakkah kamu dapat menyembukan penyakit anakmu sendiri?”

“Tapi penyakitnya adalah penyakit asmara, Raden. Hanya seorang yang dapat menyembuhkan penyakit itu kecuali andika Raden. Bersediakah Raden mengobati anakku?” Bagaspati berterus terang dengan bahasa halus. Tanyanya mengharap.

Sepercik sinar telah menerangi akal pikiran Narasoma ketika itu. Terbuka kesempatan bagaimana cara melenyapkan duri yang menghalangi hubunganku dengan wanita yang menjadi pujaan hati.

“Baiklah, aku mempunyai syarat agar putrimu dapat sembuh dari sakit itu. Syaratnya kamu harus menjawab teka teki dariku. Sanggupkah?”

“Silakan Raden memberi teka teki kepadaku. Akan kujawab semampuku, bila aku tahu jawabannya” Begawan Bagaspati adalah seorang Pendeta yang sudah tak lagi samar dengan polah tingkah manusia. Ia adalah manusia sakti yang mengetahui setiap keadaan didepan dengan penglihatannya yang tajam berdasarkan getar isyarat dan gelagat yang ia terima. Meskipun demikian ia masih juga ingin melihat dengan seutuhnya getaran itu dengan lebih jelas. Maka ia masih tetap ingin mendengarkan langsung kata teka teki dari mulut Narasoma.

“Ini teka-teki ku, dengarkan baik baik. Suatu hari ada seekor kumbang jantan yang sedang terbang tak bertujuan. Terlihat olehnya ada setangkai bunga cempaka yang sedang mekar dengan indahnya. Penuh dengan sari madu yang membuat sang kumbang begitu terpesona dan terbitlah rasa lapar ingin menghisap sari madu itu. Namun ternyata didekat bunga mekar itu, terdapat seekor buaya putih yang sedang menunggui. Sedangkan kumbang hanya dapat menghisap sari madu bunga cempaka itu, bila buaya putih penunggu telah terbunuh”.

Sampai disini Begawan Bagaspati menarik nafas panjang. Ia sudah mengetahui maksud dari teka teki yang diberikan oleh Narasoma. Maka katanya kepada Pujawati, “Raden, tidak usah kau teruskan teka teki itu hingga selesai. Aku sudah dapat menebak teka teki itu. Pujawati, pergilah ke sanggar pamujan, siapkan segenap perangkat upacara kematian. Bentangkan selembar mori putih dan kekutug kemenyan beserta mertega sucinya. Segeralah anakku Pujawati”.

Seketika tercekat kerongkongan Pujawati. Kegelisahan telah merayapi jantungnya, namun ia masih saja meminta keterangan kepada ayahnya.

“Untuk apa dan siapa yang hendak diupacarai, Bapa?” Gemetar suara Pujawati.

“Sudahlah nanti kamu juga akan tahu sendiri. Bukankah engkau menghendaki Narasoma menjadi kekasih hatimu? Inilah syarat yang harus kamu sediakan dalam menjawab teka teki dari calon suamimu, Pangeran Pati Mandaraka, Raden Narasoma. Segeralah kamu lakukan apa permitaanku Pujawati” Dipandangnya Pujawati dengan sinar mata yang seakan menyihir Pujawati agar segera meninggalkan keduanya.

Sebagai anak yang selalu patuh, Pujawati mohon diri disertai pandangan Narasoma yang terpesona dengan tingkah dan kecantikannya. Dilain pihak Pujawati lengser dengan dihinggapi perasaan yang amat gundah.

Sepeninggal Pujawati, Begawan Bagaspati melangkah lebih dekat ke depan Narasoma. Kemudian ia mengatakan

“Raden Narasoma, calon menantuku yang bagus, aku tidak samar dengan apa yang kau maui dengan teka-teki yang kau ucapkan. Baiklah, aku akan meminta syarat bila menghendaki Pujawati sebagai istrimu”

“Katakan Begawan, tentu aku akan kabulkan semua persyaratan yang kau ajukan” Narasoma penuh percaya diri menyanggupi.

“Bila nanti kamu sudah beristrikan Pujawati, cintai dia dengan sepenuh kasih sayang. Janganlah kau perlakukan anakku dengan sia-sia, walaupun ia hanya seorang anak perempuan gunung yang jauh dari suba-sita dan kekurangan tata pergaulan kerajaan. Selanjutnya, bila nanti kamu sudah kembali ke Mandaraka, tidak urung nanti kamu akan menggantikan kedudukan ayahmu, Prabu Mandrapati. Walaupun kamu berwenang untuk mengambil selir seberapapun banyaknya, tetapi hendaknya engkau tetap setia dengan seorang Pujawati saja. Peganglah teguh janjimu bila tidak ingin menemui petaka”

“Persyaratan yang mudah. Baiklah begawan, sekarang katakan jawaban atas pertanyaan teka-teki itu” Jawab Narasoma, masih terbawa oleh pesona terhadap kecantikan seorang wanita. Maka segalanya mudah saja baginya menyangupi. Tetapi sesaat kemudian kembali Narasoma mengungkit tentang pertanyaan teka-teki yang belum terjawab. Pertanyaan yang sebenarnya mudah jawabannya bagi seorang Bagaspati.

“Jawabannya gampang gampang susah. Gampang untuk mengucapkan dengan lidah, tetapi tidak gampang menyelesaikan dengan tindakan. Begini bagus Narasoma, kumbang jantan yang kau maksud disini adalah dirimu itu. Sedangkan rasa lapar pada si kumbang dan ingin menghisap madu itu adalah, rasa asmara yang tak tertahankan. Kembang cempaka mulya disini diartikan sebagai anakku Pujawati. Tidaklah samar lagi, siapa yang kau sebut sebagai buaya putih penunggu kembang cempaka, itu adalah aku sendiri” Sejenak Begawan Bagaspati diam. Diamati raut wajah Narasoma yang tegang dan memendam gejolak pada matanya. Lanjut Begawan Bagaspati.

“Penjelasannya adalah, kamu ingin menyunting anakku Pujawati, tetapi dirimu malu mempunyai mertua semacam aku ini. Maka kamu menginginkan, agar aku disingkirkan dari madyapada ini, agar kamu tidak mendapat malu didepan orang tuamu. Itukah yang kau maksud dengan teka teki itu, raden?”

Getaran hebat menjalari seluruh jantung Narasoma. Walaupun perumpamaan itu sudah yakin akan dijawab dengan mudah oleh Begawan Bagaspati, namun tak urung ia terjerumus dalam jurang rasa salah yang teramat dalam. Setelah diredam rasa itu dengan segala kekuatannya ia menjawab dengan gemetar;

“Aduh Panembahan, benar tanpa sedikitpun yang tertinggal. Namun aku memintakan seribu maaf atas keinginanku yang sedemikian itu. Aku tidak ingkar, itulah sejatinya maksud dari teka teki itu”

Sedikitpun tak ada raut marah atau kecewa Begawan Bagaspati terbayang diwajahnya Bahkan ia mengatakan kepada Narasoma,

“Aku tidak kecewa dengan apa yang menjadi kehendakmu. Tetapi sungguhkah persyaratanku atas keinginanmu menyunting anakku dapat kau pegang teguh ?”

“Ya, aku berjanji untuk memegang teguh persyaratan yang kau minta” Serta merta Narasoma menjawab terdorong keterkejutan karena sikap Bagaspati yang dialaminya.

“Baiklah lega rasanya hati ini. Menantuku yang tampan, perkenankan aku menyebutmu menantuku sekarang. Tak ada waktu lagi kedepan aku menyebutkan kau sebagai menantuku, karena aku telah mengiklaskan jiwaku sekarang. Lekaslah agar tidak membuang waktu, segeralah cabut pusakamu, tancapkan ke dada ini”

“Maafkan aku rama Begawan, semoga semua yang aku lakukan kalis dari semua dosa dosa” Narasoma mencoba menjawab sambil tetap meredam getar di dada.

Maka keris pusaka Narasoma telah dihunus. Dipandangnya sejenak keris pusaka yang selama ini tak pernah mengecewakan dirinya. Tetapi ketika keris itu menyentuh dada Begawan Bagaspati, keris pusaka itu bagai menumbuk lembaran baja yang begitu tebal. Berdentang memercikkan api, ujung keris yang menerpa dada Begawan Bagaspati, tetapi segores lukapun tak nampak pada dada Sang Begawan. Tetapi tidak kalah kaget begawan Bagaspati dengan kegagalan yang dialami oleh Narasoma.

Dengan murka Narasoma berkata. “Heh Begawan Bagaspati, ternyata ucapanmu tidak lahir terus ke batinmu. Janjimu hanya sebatas sampai ke bibir saja, tidak terus ke hatimu. Kenapa kamu tidak juga merelakan jiwamu? Malah kamu mempertontonan kesaktianmu !”

“O o o . . . , Sabar Raden, ada suatu yang terlupa. Didalam tubuhku masih terpendam ajian yang dinamai Aji Candabhirawa. Ujudnya hanyalah manusia kerdil berwajah raksasa, tetapi bila ia dilukai oleh senjata, maka ia akan bertambah jumlahnya menjadi seratus. Bila mereka dilukai kembali, mereka akan berlipat jumlahnya menjadi seribu dan seterusnya. Ajian ini akan sekalian aku serahkan kepadamu dengan syarat kamu harus memelihara Candabirawa dengan sebaik-baiknya”

“Ya,Baklah, rama Begawan, aku akan menerima segala yang kau kehendaki. Katakan syarat itu.”

“Sebentar aku hendak semadi, untuk menyuruh Candabhirawa keluar dari dalam hatiku”

Beberapa saat Begawan Bagaspati mengatupkan tangannya, terpejam mata dalam khusuknya tepekur, menguncupkan empat panca indera, hanya indera perasa yang ia kerahkan dengan tajam. Sesaat terloncat ujud manusia kerdil dengan wajah yang menakutkan! Itulah Candabhirawa!

Mencium kaki seketika Candabhirawa dengan takzim. Kemudian ia menanyakan

“Oooh Begawan . . , ada apakah gerangan, hamba disuruh keluar dari gua garba paduka Sang Resi ?”

“Sudah sampai waktuku untuk aku pergi ke keabadian sejati. Untuk itu sudah aku sediakan sosok pengganti untuk kamu mengabdi. Lihat, siapakah yang berdiri didepanmu. Itulah sosok yang akan kau huni sebagai penerus dari kejayaan Candabhirawa”

Namun terbayang kekecewaan Candabhirawa, ketika ia melihat sosok yang dilihatnya. Sosok yang dilihatnya menyiratkan manusia yang kurang melakoni tindak prihatin. Sosok yang lebih mementingkan kesenangan pribadi belaka dan terkesan sombong. Maka dengan memelas ia mengatakan kepada Bagaspati.

“Aduh Bapa Resi, bisakah hamba ikut Bapa untuk selama lamanya? Hamba melihat hal yang berbeda dari pada yang biasanya hamba alami ketika bersama dengan kebiasaan Bapa Begawan. Yang aku lihat pada sosok itu tidaklah akan membuat aku betah tinggal pada raganya” meratap Candabirawa dikaki Sang Begawan. Begitu kecewa ia membayangkan perpisahan dengan Bagaspati.

“Raden! Raden sudah mendengar sendiri keluhan dari Candabirawa. Maka bila raden berkenan untuk diikuti oleh Candabhirawa bersama dengan kesaktiannya yang tiada tara, maka Raden harus berjanji sekali lagi untuk menyanggupi permintaan Aji Candabhirawa”

“Akan aku penuhi perminatanmu Begawan, dengan segala kemampuan yang ada padaku. Apakah permintaannya ?”

“Candabhirawa akan lapar, bila raden kenyang. Candabhirawa akan sedih bila Raden senang senang berlebihan dan segala sesuatu akan terbalik bila Raden merasakan kenikmatan yang berlebihan. Sanggupkah Raden hidup dalam suasana yang serba sederhana ?”

“Baik, aku bersedia! Hendaknya bumi dan langit menjadi saksi.” kembali Narasoma mengucap janji.

“Sekarang ulangi lagi apa yang sudah Raden lakukan tadi. Segeralah, mumpung Pujawati belum kembali”

Sinar mata Begawan Bagaspati menerobos dinding hati Narasoma yang sedang terguncang menerima peristiwa yang datang secara bertubi tubi. Maka tanpa berpikir panjang, kembali keris pusakanya dicocokkan ke dada Begawan Bagaspati. Tak ayal lagi percobaan kedua ini telah berhasil. Tembus dada raksasa Bagaspati. Darah menyembur dari luka Begawan Bagaspati, bergetar seluruh tubuh sang Begawan. Tetapi ia tewas sesaat kemudian dengan bibir tersenyum puas.

Rasa bersalah yang berusaha ia tepiskan tak segera pergi. Gemetar tangannya yang masih menggenggam kerisnya, hingga ia tidak dapat melakukan apapun. Ia masih berdiri termangu mangu, hingga ia dikejutkan dengan suara yang menyapanya.

“Narasoma menantuku, aku titipkan anakku Pujawati sesuai dengan janjimu. Hingga nanti bila perang besar tiba dan kau jumpai senapati yang berdarah putih, pada saat itulah aku hendak menjemputmu bersama sama dengan anakku Pujawati. Aku akan menunggu di alam madya, hingga waktu itu tiba”. Terkesiap Narasoma ketika terdengar suara itu.

<< < oo >>>

“Bapa Begawan. menantumu ini sungguh manusia tak kenal budi. Aku mohon maaf Bapa” Sang Prabu Salya berucap lirih agar tak mengganggu nyenyak tidur istrinya Setyawati. Namun segalanya tlah terjadi, Tuhan semesta alam tlah menentukan, pantang baginya meratapi kesusahan yang disandang. Tak akan ada kata penyesalan atas takdir yang telah terjadi.

“Bapa Begawan, aku menepati janjiku untuk mencintai anakmu Pujawati ya Setyawati dengan sepenuh hati dengan tidak menduakannya. Engkau lihat bukan Bapa ? Cintaku pada dinda Setyawati tulus lahir dari hati sanubariku” kembali lirih Salya bergumam seolah sosok mertuanya ada di depannya.

Salya semakin yakin bahwa apa yang di ucapkan mertuanya sebelum wafatnya akan segera terjadi. Besok dirinya didaulat menjadi panglima perang Kurawa. Apalagi siang tadi dirinya menerima kedatangan keponakan-keponakannya, Nakula Sadewa atau Pinten Tangsen, anak kembar dari Madrim, adiknya yang bersuami Pandu Dewanata raja Astina.

Sungguh, kedatangan Pinten Tangsen semakin meyakinkan dirinya untuk segera menjemput kemuliaan.

Siang tadi abdi istana telah menghadirkan kedua orang tamu yang sedari lepas tengah malam menunggu, kapan kiranya akan ditemui oleh tuan rumah. Prabu Salya yang masih belum beranjak dari tempat sesuci telah mengira, siapa sebenarnya yang hendak menghadap. Firasatnya mengatakan, bukan orang lain yang hendak bertemu dengannya. Maka ia masih tetap dalam busana putih yang ia kenakan ketika ia memuja Hyang Maha Agung, dan juga belum hendak beranjak dari sanggar pemujan.

Prabu Salya menarik nafas panjang ketika ia melihat dihadapannya berjalan dua sosok yang sangat ia kenal dengan baik. Dialah kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Kemenakannya yang lahir dari gua garba adik perempuannya Madrim. Adik perempuan satu satunya yang sangat ia kasihi. Seketika tangannya dilambaikan kearah kedua satria yang baru saja dipanggilnya menghadap. Sambil tetap duduk ditempat semula, tangannya mengusap usap kepala kemenakannya dengan sepenuh kasih ketika Nakula dan Sadewa bersimpuh dan menghaturkan sembah bakti kepadanya.

“Pinten, Tangsen, duduklah dekat kemari” Masih disertai senyum, Sang Uwak, ketika melepaskan elusan tangannya. Prabu Salya terbiasa memanggil kemenakannya dengan panggilan kecil, Pinten dan Tangsen, kepada Nakula dan Sadewa. Ia masih saja menganggap kemenakannya masih saja selayaknya kanak kanak, walau mereka sebetulnya sudah lepas dewasa. Panggilan itu seakan ia ucapkan sebagaimana ia dengan segenap kasih ingin menumpahkannya kepada anak yang terlahir piatu itu. Dan masih tercetak kuat dalam benaknya, betapa sejak kecil keduanya telah ditinggalkan oleh sepasang orang tuanya, sehingga tak terkira betapa kasih sang uwak tertumpah kepada kedua kemenakannya itu.

Nakula dan Sadewa beringsut sejengkal memenuhi keinginan uwaknya. Tanya seputar keselamatan masing masing telah mereka ucapkan dengan singkat, hingga kemudian Prabu Salya membuka pembicaraan ke hal selain basa basi.

“Kedatanganmu kemari, aku merasakan seperti halnya ibumu hadir dalam diri kamu berdua. Kembar, alangkah malangnya kamu berdua ditakdirkan terlahir sebagai anak piatu”. Sejenak Prabu Salya yang baru saja membuka kata, terdiam. Matanya menerawang mengingat adiknya Madrim dengan segala tingkah polahnya.

“Didunia ini, siapakah orangnya yang tidak mengenal Prabu Pandu Dewanata, ayahmu. Tidak ada seorangpun yang bisa memberikan keterangan selengkap yang aku berikan mengenai keberadaan ayahmu, kecuali keterangan itu datang dari diriku. Dulu sewaktu ibumu hamil, ia ngidam kepengin naik Lembu Andini. Padahal ia tahu, Lembu Andini itu kendaraan Hyang Guru. Itupun ia mengendarainya hanya sendirian saja”.

Yang diajak bercerita masih diam sambil sesekali mengangguk anggukkan kepalanya. Dibiarkannya uwaknya berceritera. Walaupun cerita itu sudah berkali kali ia dengar dari mulut uwaknya, Prabu Salya.

“Pinten, Tangsen, aku akan menceritakan kembali apa yang terjadi pada kedua orang tuamu. Dengarkan ya”. Prabu Salya menyambung, “Ibumu, Madrim, ternyata meniru tindakan Istri Batara Guru, yaitu Dewi Uma, yang juga ingin menaiki Lembu Andini berdua dengan Batara Guru, suaminya. Walau banyak suara sumbang ingin menggagalkan permintaan Uma atas keinginannya itu, tetapi cinta Batara Guru terhadap Dewi Uma mengalahkan keberatan parampara kahyangan Jonggiri Kaelasa”.

Cerita yang diceritakan Prabu Salya melebar, namun demikian Nakula dan Sadewa masih saja mendengarkan dengan sesekali mengangguk kecil. “Waktu demi waktu berlalu, berdua melanglang jagat menaiki lembu Andini. Tak lah aneh, bila segala keinginan Batari Uma dituruti, karena cinta mereka sebagai suami istri yang baru mereka jalani. Mereka lupa bahwa sedang berada di punggung Lembu Andini. Kekuatan asmara telah menggiring mereka melakukan olah asmara diatas punggung Lembu Andini. Hingga kemudian meneteslah kama salah, jatuh kelautan dan menjelma menjadi raksasa yang dinamai Batara Kala. Dialah putra Batara Guru dengan Dewi Uma, yang membuat jagat yang semula tentram menjadi kisruh, yang suci-bening menjadi tercemar, yang tegak menjadi berantakan”.

“Tetapi ternyata perbuatan itu telah ditiru mentah mentah oleh ayahmu, Pandu. Walau Dewa telah memberi peringatan, tetapi ayahmu telah berlaku terlalu tinggi hati, mentang-mentang ayahmu telah sangat berjasa bagi Kahyangan. Ayahmu lupa bahwa ia telah diberikan anugrah ketika ia telah berhasil menyingkirkan musuh Kahyangan, Prabu Nagapaya. Ganjaran yang telah Dewa berikan berupa Minyak Tala. Bahkan ayahmu telah berjudi dengan nasibnya, dengan menyanggupi diri untuk menjadi kerak Kawah Candradimuka. Itulah ayahmu, watak tinggi hati dan rasa cinta terhadap ibumu yang tiada terkira, membuat ia lupa segalanya”.

Walau mereka berdua telah berkali kali mendengar cerita tentang kedua orang tuanya, tetapi tidak urung Nakula dan Sadewa telah meruntuhkan air matanya. Kali ini uwaknya menceriterakan kembali peristiwa yang mengiringi riwayat kejadian atas diri mereka berdua.

“Perlukah aku ceritakan bagaimana kematian kedua orang tuamu? “ Sejenak Nakula Sadewa terdiam. Mereka teringat, kedatangan mereka sebenarnya adalah dalam tugas negara. Seperti perintah yang diberikan oleh Prabu Kresna, mereka diberikan kewajiban untuk bagaimana melululuhkan hati uwaknya, agar dalam perang di terang hari nanti, uwaknya akan merelakan hidupnya untuk kejayaan Para Pandawa. Kresna telah mengetahui, bila tidak ada usaha untuk membuat Prabu Salya merelakan kematiannya, maka para Pandawa tak akan dapat mengalahkan senapati bentukan Prabu Duryudana kali ini, yaitu Prabu Salya.

Maka Nakula dan Sadewa telah mengambil keputusan untuk mengulur perasaan Prabu Salya, agar nanti dengan gampang masuk mengutarakan maksudnya. Mereka pun menjawab, “ Uwa Prabu, kami akan mendengarkan apa yang hendak Uwa Prabu ceriterakan”

“Baiklah. Ketika kamu dikandung ibumu menjelang kelahiranmu, terjadi pemberontakan oleh sebuah negara yang ada dalam bawahan Negara Astina. Negara Pringgondani yang dipimpin oleh Prabu Trembuku hendak memisahkan diri dari kekuasaan Astina. Prabu Trembuku yang merasa sudah kuat dan mampu mengalahkan ayahmu telah dengan berani melakukan pememberontakan. Dalam perang tanding antara ayahmu dan Prabu Trembuku, ayahmu dapat mengalahkan kesaktian Prabu Trembuku yang kala itu menggunakan pusaka berujud keris yang bernama Kala Nadah. Sekali lagi kukatakan, ayahmu adalah orang yang tinggi hati. Prabu Trembuku, oleh ayahmu, sudah dianggap tak berdaya, hingga ayahmu Pandu lengah. Ketika sesumbar atas kemenangannya, ayahmu melangkah hendak berdiri diatas tubuh Kala Trembuku, sebagai tanda atas kemenangannya. Namun Trembuku ternyata masih kuat untuk menusukkan senjata keris Kala Nadah ke telapak kaki ayahmu. Berhari hari Keris Kyai Kala Nadah mengeram dikakinya. Tak ada seorangpun yang mampu mencabut keris Kala Nadah, hingga membuat kesehatan ayahmu menurun hari demi hari. Dan akhirnya, ketika kamu berdua terlahir kedunia, yang disertai kematian ibumu karena kehabisan darah, ayahmu juga ikut wafat setelah memberi nama buat kamu berdua”.

Sebentar prabu Salya membenahi tempat duduknya dan bergeser duduknya. Kemudian ia melanjutkan ceritanya. “Kegaiban terjadi, ketika kedua orang tuamu telah wafat, tiba tiba saja jasad keduanya telah hilang tak berbekas. Sudah menjadi suratan takdir bahwa kematian kedua orang tuamu adalah menuai apa apa yang mereka tanam. Janji ayahmu Pandu untuk sanggup menjadi kerak Neraka Yomani, telah berbuah. Ucapan orang tuamu ketika meminjam Lembu Andini, sanggup mukti waktu itu, dan sanggup sengsara kemudian telah menjadi kenyataan”.

“Keris perenggut nyawa ayahmu diberikan oleh pamanmu,Yamawidura, kepada Arjuna kakakmu. Sejak saat kamu berdua menghirup udara dunia, kamu sudah ada dalam asuhan ibu dari Puntadewa, Werkudara dan Arjuna, ya Kunti itulah yang memberi perlindungan atasmu sebagaimana ia memperlakukan kasihnya terhadap anak kandungnya.

Maka itu Pinten, Tangsen, perlakukan ibumu, Kunti, dengan kasih yang sepenuh hati. Perlakukan ibumu Kunti, seperti saudara saudaramu tua menyayangi ibunya”.

“Semua titah Uwa Prabu sudah hamba lakukan, sebagaimana Ibu Kunti dengan tak membeda bedakan kasihnya antara kami berdua dengan saudara saudara kami yang lahir dari rahim ibu Kunti”. Jawab Nakula dan Sadewa serentak dengan suara yang sedikit serak, ketika uwaknya menghentikan ceritanya sesaat.

“Baik”, sekali ini Prabu Salya kembali menghela nafas panjang dengan senyum puas, “Selain dari pada itu anak anakku, kamu berdua hendaklah tidak pernah menyerah dalam menjalani Perang Baratayuda ini. Tetaplah ada pada kedekatan jarakmu dengan kakakmu Puntadewa. Aku lihat kamu sekarang malah datang kehadapanku di Mandaraka. Apa yang hendak kau sampaikan Pinten, Tangsen”.

Kedua bersaudara kembar itu saling berpandangan. Keduanya merasa pintu telah terbuka. Kemudian bersepakat dengan sinar matanya, siapakah yang hendak menyampaikan hal penting sebagai utusan dari Prabu Kresna. “Siapakah diantara kami Para Pandawa yang tidak merasa khawatir, sebab kami telah mendengar bahwa terang tanah hari ini, Uwa Prabu sudah diangkat wisuda sebagai senapati perang Astina. Tak lain yang akan dihadapi adalah kami semua saudara Pandawa”.

Berdebaran dada Nakula yang hendak menyatakan inti dari maksud kedatangannya. Kembali dengan suara parau ia mengatakan, “Maka Uwa Prabu, dari pada memperpanjang cerita, yang tidak urung nanti Para Pandawa akan runtuh di medan Kuru, maka kami akan menyerahkan kematian kami sekarang juga, Uwa. Dan akan jelaslah bahwa kematian kami, kemenakan Paduka Uwa Prabu, adalah atas tangan Paduka Uwa Salya”.

Terkaget sejenak Prabu Salya mendengarkan uraian kedua kemenakannya, dengan suara meninggi ia mengatakan, “ Heh . . . apa yang kamu ucapkan? Sedari tadi aku menceriterakan bagaimana keperwiraan orang tuamu, Pandu, juga dengan segala kelemahannya. Bagaimana orang tuamu yang semua orang di jagat ini telah tahu, ternyata ia juga adalah bagaikan seekor harimau yang sangat ditakuti. Kesaktian dan kewibawaan orang tuamu ibarat bisa menunduk-runtuhkan gunung Himawan. Tetapi apa yang terjadi terhadapmu, tidaklah membekas apa yang ada pada Pandu yang melekat pada dirimu. Harimau itu ternyata hanya beranak dua ekor tikus!”

Hening melimputi suasana sanggar pamujan, dengan pikiran berputar putar pada rongga kepala ketiga manusia didalam sanggar itu. Namun sejenak kemudian dengan suara berat Salya bertanya kepada kedua kemenakannya, “Baratayuda itu sebenarnya siapa yang berperkara?”

Hampir serempak kedua satria itu menjawab, “Itu perkara hamba Para Pandawa dan Kurawa”.

“Bila benar begitu, kenapa perkara itu justru merembet kepada para pepundenmu, para orang tua-orang tua yang seharusnya kamu beri kemukten. Kamu berikan kebahagian. Malah orang tua-orang tua itu telah kamu jadikan korban. Dan bila kamu adalah manusia manusia yang berakal, tentunya kamu tidak akan menghadapku dan menyatakan minta aku bunuh disini. Itu seperti halnya kamu sudah melihat hal yang sudah pasti, sehingga kamu telah mengambil kesimpulan.” Kata Prabu Salya dengan kalimat yang bertekanan.

“Kalau kamu berdua datang bukan kepada Prabu Salya, maka tentu yang kau datangi sudah menumpahkan rasa iba. Tapi bagiku, kedatangan kamu berdua hanya merupakan gambaran dari betapa kamu berdua adalah sebenar-benarnya manusia yang berjiwa kerdil”. Ketus Prabu Salya menyambung.

“Werkudara kakakmu, adalah seorang manusia yang teguh bukan hanya tergambar dari kewadagannya, tetapi keteguhannya merasuk jauh hingga ke lubuk hati dan jiwanya yang paling dalam. Aku telah menjadi saksi, betapa dengan keteguhannya, dengan segala kekuatannya ia berenang dalam banjir darah yang ia ciptakan. Arjuna yang begitu titis dalam olah panah, sehingga sudah begitu banyak para sraya Prabu Duyudana yang tumbang oleh ketepatan olah warastra. Mereka adalah sebenar-benarnya anak Pandu Dewanata. Dan tak kalah dari orang tuanya, orang muda Pandawa seperti Abimanyu dan Gatutkaca, telah bersimbah darah, dengan gagah berani mereka telah merelakan jiwanya, gugur menjadi kusuma bangsa”.

“Lho sedangkan kamu itu apa? Datang berdua ke Mandaraka menyerahkan jiwa! Kamu takut menjalani peperangan heh?”

“Terserahlah yang Uwak katakan . . . .” Nakula menjawab dengan lesu.

“Pinten, Tangsen, bukan Prabu Salya, bila menjadi samar dengan segala ulahmu. Dari aku mendengar berita kedatanganmu, melihat sosok kamu berdua, melilhatmu mencium kaki dengan air mata yang berlinangan; aku sejatinya sudah tahu. Itu bukan gambaran sosok anak Pandu !!”

Keheningan kembali menyungkup. Hanya pandangan mata tajam Prabu Salya menghujam kearah kedua kemenakannya berganti-ganti. Namun sebentar kemudian Prabu Salya mengatakan dengan nada tinggi hal yang membuat kedua satria kembar itu terhenyak, “Kedatanganmu kemari adalah ada yang menyuruhmu, iya apa iya . . ?! “

Menohok rasa kalimat tanya yang dilontarkan Prabu Salya, tak ada kata lain, Sadewa kali ini yang menjawab setelah terbungkam beberapa saat, “Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya Uwa Prabu . . . . .”

“Tidak . . , aku tidak akan memberimu maaf. . !” Masih dengan suara tinggi Prabu Salya menjawab ketus. Ia kecewa dengan kedua kemenakannya.

“Harus bagaimana hamba berdua Uwa Prabu?” Tanya Sadewa.

“Kamu berdua harus mengaku dulu, kamu sebetulnya disuruh seseorang untuk berbuat seperti itu?” Prabu Salya masih bersikeras.

“Ini hal yang sebenar-benarnya hamba lakukan atas kemauan kami sendiri . . .” Nakula dan Sadewa masih mencoba ingkar.

“Tidak . . . . tidak mungkin!! Kenyataan yang terjadi sekarang adalah macan yang beranak tikus. Ooooh Pandu, apa yang terjadi dengan anak kembarmu. Apakah bila kamu sudah berlinangan air mata dihadapanku, maka Salya akan larut. Ketahuilah, dalam perang nanti, siapa yang menjadi musuh Duryudana, ia akan menjadi musuh Salya pula!” Prabu Salya masih mencoba mengancam

“Silakan Uwa memarahi kami berdua . . . Tetapi biar bagaimanapun, silakan uwa Prabu untuk membunuh hamba berdua, sekarang juga di Mandaraka ini”. Sadewa tetap pada pendiriannya. Bagaimanapun pembekalan dari Prabu Kresna ketika ia hendak pergi ke Mandaraka telah ia coba lakukan dengan sepenuh kekuatan untuk memenuhinya.

“Ketahuilah Pinten, Tangsen, aku masih berharap besar kepadamu berdua sepeninggal kakakmu Burisrawa dan Rukmarata. Aku masih berharap akan ada sejumput ketenteraman yang bisa kau berikan kepada uwakmu ini, sebab kamu berdua adalah masih darah dagingku sendiri”.

“Dari tata lahirku, aku ada di pihak Kurawa. Tapi tertanam dalam dalam dihati ini, Pandawa adalah kebenaran sejati dalam perang Barata ini”.

“Hmm . .” Prabu Salya menggeram menahan pepatnya rasa hati. Akhirnya dengan nada datar ia mengatakan kepada kedua kemenakannya. Kalimat yang ia reka dan akan ia katakan inilah yang seharusnya Nakula dan Sadewa katakan terus terang kepada dirinya. “Sekarang katakan kepadaku, begini, Pinten, Tangsen. Tirukan kata kataku: Uwa Prabu, bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina, kami para Pandawa minta kepada Uwa, hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawanya; Ayo katakan itu kepadaku . . . !“

Nakula dan Sadewa kembali saling pandang. Namun tak ada kata sepakat apapun yang tersimpul dari pandangan sinar mata masing masing.

Keduanya mengalihkan pandangannya ketika Prabu Salya kembali memecah kesunyian, dengan pertanyaan disertai suara yang dalam. “Kamu berdua menginginkan unggul dalam perang Baratayuda, begitu bukan? Sekarang jawablah!”

“Tidak salah apa yang uwa Prabu tanyakan” jawab Sadewa.

“Sebab itu, tirukan kata kata yang aku ucapkan tadi”. Kembali Salya memerintahkan kepada kedua kemenakannya dengan setengah memaksa.

Kedua satria kembar itu kembali saling pandang. Kali ini Nakula bertanya kepada adiknya, Sadewa. “Bagaimana adikku, apa yang harus aku lakukan?”

“Tersesrahlah kanda, saya akan duduk dibelakang kanda saja.” Jawab Sadewa lesu

Kembali Nakula bersembah dengan mengatakan, “Dosa apakah yang akan menimpa kami . . . .” Baru berapa patah kata Nakula berkata , namun dengan cepat Prabu Salya memotong ucapan yang keluar dari bibir Nakula

“Bukan!! Bukan itu yang harus kamu katakan! Tetapi katakan dan tirukan kalimat yang telah aku ucapkan tadi”.

Sinar mata memaksa dari Prabu Salya telah menghujam ke mata Nakula ketika ia memandang uwaknya. Seakan tersihir oleh sinar mata uwaknya, maka ketika Prabu Salya menuntun kalimat demi kalimat itu, Nakula menuruti kata yang terucap dari bibir Prabu Salya bagai kerbau yang tercocok hidungnya.

“Uwa Prabu . . “

“Uwa Prabu”, tiru Nakula

“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina . . . .,”

“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina,”

“Kami para Pandawa minta kepada Uwa . . . .”

“Kami para Pandawa minta kepada Uwa “

“Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa Uwa di peperangan. . . .”

Sesaat Nakula tak berkata sepatah katapun, hingga kalimat terakhir itu diulang oleh Prabu Salya. Dengan kalimat yang tersendat, akhirnya Nakula menggerakkan bibirnya, “Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa di peprangan nanti”.

Bangkit Prabu Salya begitu kemenakannya mengucapkan kalimat terakhir itu. Dirangkulnya Nakula, dielusnya kepala kemenakannya itu dengan penuh kasih. Setelah beberapa saat berlalu dengan keheningan, Prabu Salya melepas pelukan, kemudian duduk kembali. Katanya, “Kembar, itulah kalimat yang aku tunggu. Aku rela mengorbankan jiwa untuk kejayaan Para Pandawa. Dari semula aku tidak berlaku masa bodoh terhadap peristiwa yang terjadi dalam perang ini. Aku tidak samar dengan siapa sejatinya yang benar dan siapa yang salah, siapa yang jujur dan siapa yang curang. Dalam hal ini, Pandawa berhak mengadili siapa yang salah dalam perang Barata ini”. Keduanya hanya menganggukkan kepala dengan lemah.

“Begini Pinten, Tangsen, mulai saat ini, uwakmu akan turun tahta. Dengarkan kata kataku, aku akan turun tahta keprabon Mandaraka”. Nakula dan Sadewa menatap mata uwaknya dengan pandangan tidak mengerti. Sejurus kemudian Prabu Salya meneruskan, “Setelah aku, uwakmu, turun tahta, seisi Kerajaan Mandaraka dengan segenap jajahan dan bawahannya, aku akan serahkan kepada kamu berdua. Mulai saat ini, kamu berdua aku wisuda sebagai Raja-raja baru di Mandaraka. Kamu berdua akan aku beri nama Prabu Nakula dan Prabu Sadewa”.

Sejenak Nakula dan Sadewa terdiam. Dengan sang uwak mengatakan hal ini, maka jelaslah bahwa Prabu Salya tidak lagi bermain dalam tata lahir. Dengan menyerahkan Negara Mandaraka, maka sudah begitu terang benderang, kesanggupannya menyerahkan nyawa di Medan Kurusetra adalah tumbuh dan terlahir dari dalam hati yang terdalam. Maka Nakula dan Sadewa yang diberi kepercayaan hanya berkata menyanggupi “Hamba, uwa Prabu, semua yang uwa Prabu katakan akan hamba junjung tinggi”.

Kemudian Prabu Salya melanjutkan, “Kewajiban kamu berdua adalah; Nakula, kamu akan aku berikan tugas sebagai raja yang menangani urusan di dalam negara. Sedangkan Sadewa, kamu kuberikan kewajiban sebagai raja yang menangani urusan di luar negara. Yang saya maksudkan adalah, Sadewa, melakukan hubungan ketatanegaraan dengan raja raja diluar Mandaraka. Sedangkan Nakula, lakukan penggalangan dengan raja raja jajahan yang ada dalam lingkup Negara Mandaraka”.

“ Menjadi raja itu sebenarnya tidaklah mudah tetapi juga tidak sulit. Tetapi ibarat orang yang hendak bepergian, ia haruslah membawa bekal yang cukup. Bila selayaknya orang yang bepergian dengan arti yang sebenarnya, cukuplah dengan bekal uang dan barang barang tertentu. Tetapi bila berbicara mengenai bekal bagi orang yang hendak menjadi pemimpin negara, haruslah kamu berdua memiliki sedikitnya empat hal yang harus kamu berdua kuasai”.

“Uwa Prabu, kami akan mendengarkan segala petuah yang hendak paduka berikan kepada kami berdua”, keduanya mengatakan kesanggupannya.

“Pertama, pujilah Asma yang Maha Agung atas kekuasaannya terhadap alam semesta. Mengertilah, bila kamu menjumpai sesuatu yang ada, pastilah ada yang menciptakan. Pencipta itu langgeng namun yang diciptakan akan rusak atau berganti oleh berlalunya waktu. Ikuti perubahan yang terjadi dan janganlah tetap tinggal dalam sesuatu yang tidak langgeng. Bergeraklah dalam perubahan bila tidak ingin terlindas oleh perubahan itu. Maka benarlah sebagian orang mengatakan perubahan itulah, langgeng yang sebenarnya.”.

“Kedua, lakukan tata cara bersembah, menurut tata cara yang telah digariskan atas kepercayaan masing masing. Jangan pernah memaksa tata cara dan kepercayaan lain yang sudah mereka anggap benar. Tetapi tegakkan terlebih dulu tata cara bersembah yang telah menjadi kepercayaanmu itu. Dan hendaknya kamu berdua jangan mengatur segala hal mengenai kepercayaan secara resmi dalam negara. Dengan keresmian pembentukan wadah kepercayan kepada yang Maha Tunggal oleh negara, ini akan mengakibatkan kapercayan yang telah terbentuk oleh negara akan menguasai dan bertindak sewenang wenang atas kepercayaan kelompok kepercayaan kecil yang lain. Awasi saja agar kepercayaan itu tumbuh dengan kewajaran dalam jalur yang lurus, tidak saling mengalahkan atas kebenaran menurut kepercayaan masing masing. Ciptakan kebebasan terhadap setiap pribadi dalam menentukan kepercayaan yang dipilih. Katakan kepada setiap pribadi dan golongan; jangan kalimat dalam kitab suci mereka, dipahami secara sempit, hingga mereka terkungkung oleh langit yang mereka ciptakan sendiri dari ajaran yang dianut”.

“Ketiga, pahami kebenaran sejati. Jangan pernah menyalahkan kebenaran yang dianut orang lain dan jangan menyalahkan juga kebenaran yang sudah menjadi kepercayaanmu sendiri. Bila kamu senang menyalahkan kebenaran yang dianut orang lain apalagi kelewat mengatakan kepada pihak lain, bahwa kebenaran yang paling benar adalah kebenaran yang kau anut, maka mereka yang kau katai akan kembali menyalahkan kebenaran yang kau anut. Tentu kamu sudah tahu apa akibatnya”.

“Bila itu yang kau lakukan, maka kamu sudah bersifat Adigang, Adigung dan Adiguna. Sifat yang dimiliki oleh watak tiga binatang, yaitu; Adigang, sifat atau watak kijang, Adigung, watak seekor gajah dan Adiguna watak ular. Kijang yang menyombongkan dirinya dengan mengandalkan kecepatan larinya. Gajah yang mengandalkan dirimya yang paling besar dan kuat sedangkan ular yang sombong mengandalkan bisa atau racunnya yang mematikan. Bila sifat itu yang kamu majukan dalam menata negara, itu seperti halnya kamu tidak akan dapat menata negara dengan berlandaskan rasa keadilan. Kedilan yang sebenar benarnya adil dan dapat dirasakan oleh orang banyak adalah, tetaplah dalam perilaku yang berlapang dada terhadap perbedaan dan mengertilah akan rasa peri kemanusiaan”.

Nakula dan Sadewa yang mendengarkan petuah uwaknya tetap ditempat bagai terpaku pada lantai sanggar. Keduanya hanya duduk tertunduk dan mengangguk kecil bila sang uwak memandangnya meminta apakan ia memahami apa yang dikatakannya.

“Dan keempat, tetaplah selalu mencari ilmu dan pengetahuan yang selalu baru. Bisalah kamu berdua menyatukan antara ilmu dan pengetahuan. Orang yang menguasai imu itu sebenarnya bagaikan manusia yang berjalan dalam pekat malam namun diterangi dengan sinaran yang cukup terang, atau orang yang berjalan dalam licin namun ia bertongkat. Dan ilmu itu sejatinya berkuasa mengurai sesuatu barang atau keadaan yang kusut. Ilmu itu harus kamu jalankan atas landasan budi pekerti yang luhur. Orang yang berilmu dan berpengetahuan tinggi, akan menghancurkan sesamanya bila tidak berjalan diatas landasan budi pekerti yang luhur. Sebaliknya perilaku luhur budi yang didorong oleh ilmu pengetahuan akan menciptakan tata dunia yang tentram tertib dan adil ”.

Sampai disini Prabu Salya diam dan memandang kembali kedua kemenakannya. Yang dipandang hanya mengangguk tanda mengerti.

Lanjutnya“Sedikitnya empat hal inilah yang kamu harus penuhi ketika kamu menjadi raja.“Sekarang kembalilah. Kembalilah ke pesanggrahan Hupalawiya. Terang tanah yang sebentar lagi datang, aku sudah akan datang kembali ke medan Kurukasetra sebagai seorang senapati perang”.

“Baiklah Uwa Prabu, kami berdua undur diri, hendaklah kejadian nanti di Medan Kuru tidaklah menjadi timbulnya dosa baru bagi kami sendiri atau Para Saudara kami Pandawa nanti”. Serempak keduanya memohon diri setelah dianggap cukup semua peristiwa yang akan menentukan masa depan keduanya, uwaknya Prabu Salya serta saudaranya Para Pandawa.

“Ya, ya anakku, semoga semua akan berjalan baik. Puja keselamatan aku panjatkan kepada yang Maha Adil untuk kejayaan Para Pandawa”.

Undur diri Nakula dan Sahadewa dengan perasaan campur aduk. Kebesaran hati sang uwak telah mengusik ketidak tegaan kemenakannya. Terpikir bagaimana saudara saudaranya harus menyingkirkan rasa tega terhadap orang tua yang sebenarnya tidak condong dalam mengayomi Para Kurawa, walau uwaknya itu telah menyatakan kesanggupannya menyerahkan jiwa untuk kemenangan Para Pandawa.

<<< ooo >>>

Dipandanginya lagi wajah teduh istrinya tercinta yang tengah terbuai dalam alam mimpi. Entahlah apa yang tengah dimimpikan Setyawati saat itu. Mulutnya tersenyum begitu manis menghias wajah yang tak pernah lepas dari angan Salya. Wajah yang slalu dirindukan setiap detik, wajah yang menghias setiap langkah dan wajah yang slalu bersinar bak pelita yang menerangi jalan yang ditempuhnya.

Dipandangi wajah itu lagi. Wajah cantik yang begitu di kenalnya, wajah cantik yang menurutnya semakin bertambah cantik walaupun sang waktu semakin menggerogotinya mudanya. Seorang pendamping hidup sejati yang benar-benar membuatnya bahagia lahir batin menjalani kehidupan sampai dengan saat ini. Ya …. sampai dengan saat ini ! Perempuan inilah yang tlah memberinya kebahagiaan sejati, saling mencinta dan saling berbagi dalam keriaan maupun penderitaan.

Dan sebentar lagi ……

Dan sebentar lagi dirinya akan menjadi panglima perang Kurawa sesuai yang telah dijanjikannya kepada menantunya, Prabu Duryudana. Tak disangkal bahwa putusannya saat itu lebih disebabkan karena situasi yang panas akibat tewasnya Adipati Karna, suami dari anaknya Surtikanti, melawan saudara mudanya Pandawa yaitu Arjuna.

Sedari awal dia selalu tidak merasa cocok dengan menantunya itu. Sering terjadi cekcok kata kata akibat perbedaan pendapat, terutama kala berada di pasewakan agung negri Astina di hadapan Prabu Duryudana. Perbedaan pendapat dan perselisihan diantara mertua menantu tersebut terjadi karena dirinya selalu memberi saran dan pendapat agar Raja Astina segera berdamai saja dengan saudaranya Pandawa untuk mengakhiri perang besar itu. Bahkan dirinyapun pernah menawarkan mewariskan negri Mandraka kepada Duryudana agar Duryudana mengalah kepada adik-adiknya Pandawa yang memang lebih berhak untuk bertahta di Astina. Sementara menantunya keukeuh pada prinsipnya untuk mendukung penuh Duryudana dalam mempertahankan hak atas negri Astina dengan melalui perang Baratayudha.

Dan harga dirinya selaku ‘orang tua’ yang semestinya dihargai, apalagi oleh para menantunya yaitu Duryudana dan Basukarna, kembali terinjak-injak saat diminta untuk menjadi kusir kereta perang Adipati Karna. Bukan menjadi kusir kereta yang dipermasalahkannya, namun keputusan itu tidak didasarkan keikhlasan, cenderung dia merasa disudutkan sehingga dengan setengah hati kemudian dilaksanakannya.

Diingatnya kembali saat-saat itu, sesaat setelah tewasnya Durna sebagai senopati Kurawa, dipenggal kepalanya oleh Drestajumna.

<<< ooo >>>

Malam kembali jatuh. Di Pesanggrahan Bulupitu, Prabu Duryudana sangat berduka dengan apa yang terjadi pada peperangan hari tadi. Kematian demi kematian para sanak saudara bahkan gurunya, telah membuat ia merasa telah terlolosi otot dan tulang tulang dari sekujur tubuhnya. Kematian gurunya Pendita Durna-lah yang membuat serasa lumpuh. Ditambah lagi dengan kematian adiknya Dursasana yang sudah ia terima dari abdi telik sandi. Kematiannya yang diluar arena resmi sangat ia sesalkan. Ditambah lagi dengan kematiannya yang sangat menyedihkan dengan badan yang tercerai berai, membuahkan dendam kepada Werkudara.

“Rama Prabu, sekaranglah waktunya putramu untuk maju sendiri kemedan pertempuran” Duryudana tidak lagi terkendali rasa hatinya ketika orang orang terkasihnya tewas satu persatu.

“Pikirkanlah baik baik langkah yang hendak kau ambil, anak mantu Prabu”. Salya mencoba menyabarkan hati menantunya. Kemudian ia mencoba memberikan pilihan. “Barangkali dengan telah tewasnya banyak andalan pihak kita, anak Prabu mempunyai pertimbangan untuk mengakhiri saja perang ini. Dan bila anak Prabu berkenan akan tindakan ini, aku sanggup untuk menjadi perantara dalam menyampaikan pesan perdamaian kepada adik adikmu Pandawa”.

“Tidak rama Prabu, akan sia sia pengorbanan yang telah diberikan oleh para prajurit dan senapati yang telah gugur. Tidak layak putramu berdamai dengan Para Pandawa dengan landasan bangkai para prajurit dan bergelimang dengan darah para bebanten perang”. Duryudana menjawab dengan tegas. Perasaan dendam yang membara didadanya atas kematian adik terkasihnya, Dursasana, telah mendorongnya mengatakan bantahan atas pilihan tawaran dari Prabu Salya.

“Baiklah, bila demikian. Anak Prabu masih mempunyai satria agul-agul yang kiraku dapat mengatasi keadaan ini dengan memenangi perang. Disini masih berdiri kokoh seorang calon senapati yang bukan orang sembarangan. Orang itu adalah anak dewa penerang hari, yang telah kuasa memenangi pertempuran malam dengan korban yang tak terkira jumlahnya termasuk senapati muda Gatutkaca”. Tutur Salya sambil melirik mantunya yang paling ia tidak sukai dari ketiga mantu yang lain sambil tersenyum penuh arti. Senyum yang keluar bukan dari hati yang tulus. Senyum yang setengah mengejek, karena rasa yang terlanjur tidak suka terhadap mantu itu. Juga senyum sinis itu disebabkan atas hasil kemenangan yang dicapainya baru baru ini yang tidak dilakukan dengan cara kesatria, layaknya perang yang terjadi di waktu waktu sebelumnya yang terjadi diwaktu yang wajar, siang hari.

Adipati Karna yang berperasaan halus, telah tersentuh oleh perkataan mertuanya. Dalam pikirannya,ia ingin membalas apa yang sudah diperlakukan atas dirinya. Disamping itu, kematian lawannya, Gatutkaca telah berbuntut panjang. Werkudara pasti masih mendendam. Maka telah ia rancang sesuatu tindakan tertentu bila ia disetujui menjadi senapati.

Benarlah demikian, Prabu Duryudana menyetujui pilihan berikutnya yang ditawarkan oleh mertuanya itu.

“Terimakasih rama Prabu, anakmu setuju atas kehendak rama. Hanya kepada kanda Adipati, kami menyandarkan kekuatan para Kurawa dalam memenangi perang ini. Kami harap kanda Adipati dapat melaksanakan segala gelar perang yang akan terlaksana besok pagi”.

“Kehormatan yang tiada terkira yang saya cadang siang dan malam telah terucap dari sabda paduka adinda Prabu. Ada satu permintaan yang akan kami sampaikan kepada adinda Prabu, dalam perang nanti, kami pasti akan berhadapan dengan adimas Arjuna. Ini sudah menjadi takdir yang sudah terucap dari sabda Batara Narada waktu lalu, bahwa kami berdua adimas Arjuna bakal bertemu kembali dalam medan Baratayuda. Dari itu, para Pandawa akan menampilkan adimas Arjuna sebagai senapati dari pihak Hupalawiya”. Kembali Adipati Karna mengingatkan akan peristiwa masa lalu ketika anugrah Kuntawijayandanu yang hendak diberikan kepada Arjuna sebagai pemutus tali pusar Gatutkaca, telah salah diterimakan kepada Karna-Suryatmaja. Perkelahian keduanya terjadi ketika Arjuna tidak terima atas kesalahan pemberian pusaka itu, dan bahwa ia juga telah dibebani tugas oleh kakaknya, Bratasena Werkudara, untuk mendapatkan senjata yang bisa memutus tali pusar keponakannya. Pertempuran yang kemudian dipisah oleh Narada, dijanjikannya bakal terlaksana hingga salah satunya tewas pada saat Perang Baratayuda berlangsung nanti.

“Permintaan apakah yang hendak kanda sampaikan. Kalau masih dalam jangkauan kami, pasti akan kami kabulkan” Duryudana setengah menyanggupi permintaan yang hendak ia sampaikan.

“Adinda Prabu, Bila terjadi perang tanding dengan kereta perang nanti antara kami dengan dimas Arjuna, tidak urung adimas Arjuna akan dikusiri oleh Prabu Kresna. Bila ini yang terjadi, mohon kesanggupannya agar kami dikusiri juga oleh manusia yang setimbang dengan derajat Prabu Kresna”. Sejenak Karna diam, ragu dalam hati ia hendak menyampaikan maksudnya kepada adik iparnya itu.

Jeda kesunyian itu kemudian diseling dengan pertanyaan sang Prabu. “Kanda, apakah kanda hendak dikusiri oleh Kartamarma, ataukah oleh paman Harya Sangkuni? Akan kami perintahkan kapanpun, pasti keduanya dengan senang hati akan memenuhi kehendak kanda Adipati”.

Adipati Karna tersenyum hambar. Perasaan sungkan yang ia pendam sedari tadi telah ia keluarkan dan ia buang sedikit demi sedikit. Keinginan membalas perlakuan mertuanya yang selalu tidak cocok dihatinya, dalam peristiwa ini, bagaikan suatu sarana untuk melawan balik sikap mertuanya itu. Bagaimanapun permintaan seorang senapati akan dipenuhi tanpa harus tercampuri oleh urusan pribadi. Dan urusan negara ini akan dijadikan dalih dalam melawan sikap mertuanya itu. Inilah saatnya, pikir Karna.

“Adinda Prabu, bukan seorang Kartamarma atau Paman Sengkuni yang aku kehendaki. Keduanya belum setimbang dengan derajat yang disandang oleh Prabu Kresna. Satu satunya orang yang dapat menyamai derajatnya, adalah . . . Rama Prabu Salya”.

Terkejut Salya dengan permintaan yang diajukan oleh menantunya. Tidak senang ia berkata. “Ooh . . , inikah ujud bakti seorang menantu terhadap mertuanya? Aku ini dianggap apa? Derajat Prabu Kresna yang kau anggap sebagai dalih agar mertuamu ini mau kau perintahkan aku sebagai kusirmu? Sekali menjadi mantu kualat, tetap menjadi menantu kualat juga. Belum juga sembuh rasa hati atas tuduhanmu diawal perang, telah kau lukai hati ini sekali lagi dengan permintaanmu yang merendahkan derajat raja Mandaraka”. Tanpa diduga sebelumnya oleh Karna, rayuannya atas derajat yang ia lontarkan kepada mertuanya, tidak mempan mengatasi anggapan rendah seorang kusir bagi dirinya. Bahkan kembali Salya mengungkit ungkit sakit hatinya atas tuduhan menantunya diawal perang.

“Rama Prabu, bila rama tidak berkenan atas permintaan kanda Adipati, baiklah sekarang putramu sendiri yang akan maju kemedan Kurusetra. Saya relakan jiwaku demi kemenangan yang hendak aku raih. Putramu minta diri untuk berangkat malam ini juga”. Duryudana mencoba untuk menarik perhatian ayah mertuanya. Ia berharap mertuanya akan menyanggupi permintaan kakak iparnya bila ia mengancam akan bertindak sendiri.

Kembali diluar dugaan, Salya berkata sambil tertawa sumbang. “Anak mantu Duyudana, aku ini orang tua yang sudah makan asam garam kehidupan. Tidak usahlah merajuk seperti itu. Dalam pendengaranku, kata kata anakmas Duryudana tadi, bukan keluar dari lubuk hati anakmas sendiri. Tidak usahlah memaksa dengan ancaman halus seperti yang anak Prabu katakan, aku akan menuruti keinginan menantuku Awangga yang tampan itu, anak mantu yang membuat anakku Surtikanti mabuk kepayang”. Akhirnya Salya menyanggupi permintaan itu. Karna yang mendengar permintaannya dikabulkan bukannya senang, namun ia malah tersenyum kecut penuh arti.

“Terimasih rama Prabu, yang telah mengabulkan permintaan anakmu ini. Mohon perkenannya adinda Prabu Duryudana, mulai malam ini kanjeng rama ada dalam tugas sebagai kusir senapati Awangga”. Adipati Karna akhirnya mengatakan kalimat seperti itu. Telah telanjur basah ia dalam melawan rasa benci dari sang mertua, maka sekalianlah basah dengan memerintahkan peran itu dari saat ini juga.

“Baiklah anakku tampan, perintahkan kepada kusirmu tugas apa yang hendak kau perintahkan untuk mengantarmu?” Salya sudah muak dengan tingkah menantunya sekalian memanjakan semu kemauan menantunya.

“Mohon maaf rama, mohon rama menemani kami untuk kembali sejenak ke Awangga. Anakmu mantu ingin ketemu sejenak dengan putri rama, Surtikanti. Sudah lama anakmu tidak memberi kabar ataupun berita. Dan pasti ia ingin mengetahui keselamatan suaminya. Sekali lagi mohon perkenannya. Ketemu dengan istri bukanlah masalah pribadi, ini sebagian dari tugas seorang senapati. Ketemu dengan istri adalah sebagai penguat jiwa, sebagai penambah moral bagi seorang lelaki sekaligus suami dalam menjalankan tugas. Apalagi ini adalah tugas luar biasa, tugas yang taruhannya adalah nyawa”. Karna mencoba memberi penjelasan kepada mertuanya.

Namun sang mertua yang sudah pegal hatinya setengah hati menjawah. “Dalih apapun yang kamu hendak berikan kepadaku, taklah menjadi sebuah arti. Mari ikuti aku, kita segera berangkat ke Awangga”

“Anak mantu Duryudana, perkenankan kami mohon diri sejenak. Kusir ini akan mengantarkan senapati agung”. Prabu Salya meminta diri.

“Semoga keselamatan rama Prabu dan Kanda Adipati menyertai perjalanan ini nanti” demikian Duryudana mengakhiri sidang dan beranjak mengikuti Prabu Salya dan Adipati Karna sampai di gapura pesanggrahan.

Tak diceritakan bagaimana suasana ketika Adipati Karna bertemu dengan istri tercintanya, Surtikanti. Yang terjadi kemudian adalah waktu pagi yang terik, dimana pertempuran sengit berkecamuk kembali di padang Kurukasetra yang sudah berhari hari menjadi panggung ajang drama pertempuran yang mengerikan. Sisa sisa tenaga prajurit yang kini mulai jenuh dan lelah, hanya punya pilihan, segera perang selesai. Entah dirinya yang menjadi korban atau ia membunuh lawan lawannya dengan cepat.

Hawa panas menjelang penghujan menyengat menguatkan bau anyir darah dan busuk bangkai manusia dan hewan tunggangan para adipati serta segenap pembesar perang yang tak lagi sempat dirawat oleh sesama prajurit. Berserakan senjata yang bergeletakan mencuat diantara reruntuhan kereta perang, sungguh membuat meremang bulu kuduk orang orang yang bermental lemah. Belum lagi erangan para prajurit terluka menahan rasa sakit yang tak terkira, tetapi tidak kunjung ajal menjemput. Suara rintihan itu bagai nyanyian peri prayangan. Sementara burung gagak pemakan bangkai berputar kekitar diangkasa yang biru dengan gumpalan awan disana sini, menanti kapan waktunya untuk kembali berpesta pora.

Di salah satu sisi medan pertempuran, terdengar pembicaraan dua orang prajurit yang sama sama terluka, entah kepada sesama teman atau lawan. Yang mengalami luka serius menyandar pada pokok pohon kering, sementara lawan bicaranya tadi tertelungkup dengan sesekali terbatuk memuntahkan darah segar dari mulutnya.

“Sesungguhnya apakah yang kita dapat dari peperangan yang kita jalani, kisanak?

“Inilah yang kita dapat! Kebinasaan! Hukum alam telah menuliskan, keseimbangan alam telah mengharuskan manusia melakukan kekerasan, saling baku bunuh untuk kembali ke keseimbangan baru, baik itu melewati perang seperti ini, bencana alam, atau manusia dengan sadar mengerem lajunya jumlah turun. Kita ini sedang ada didalam bagian dari putaran proses itu, kisanak”.

Keduanya berbincang diantara desing anak panah dan denting senjata serta gelegarnya meriam dengan sesekali berhenti menahan rasa sakit, suara pembicaraan keduanya kadang tertelan oleh kemeretak roda kereta dan derap ladam kuda yang melintas disekitar mereka. Sementara kepulan debu dan asap sendawa mengepul menyesakkan nafas.

Diceriterakan, telah tiba saat kedua satria pilihan dari kedua pihak akan bertemu dalam pertempuran atas nama darma satria. Ketika telah terdengar aba-aba bahwa Senapati dari Pihak Wirata telah siap siaga, maka segera Adipati Karna meloncat menaiki kereta perangnya. Tetapi oleh suasana hati Prabu Salya yang masih tetap panas, ada saja masalah kecil yang menjadikannya tidak berkenan. Ketika melihat menantunya telah menaiki kereta, dan ia masih ada dibawah, kemarahannya kembali meledak. “Apakah kamu bukan manusia yang mengerti tata bagaimana menghormati orang tua, keparat! Orang tua masih dibawah, kamu sudah duduk nangkring diatas kereta!”.

Namun Adipati Karna mencoba membela diri, serba salah telah mendera hatinya dari waktu ke waktu “Mohon seribu maaf rama Prabu, maksud hamba dari semula, adalah hanya menetapi darma. Disini derajat kusir ada dibawah senapati”.

“Sudah tak terhitung berapa kali rasa sakit yang pernah melukai hatiku karena kelakuanmu. Sewaktu Prabu Kresna menjadi duta di awal perang kemarin, kamu sudah melukai hatiku dalam pasamuan agung. Belum sembuh luka itu, sekarang kamu melakukan hal yang sama, aku kamu jadikan seorang kusir. Kalau tidak sungkan dengan anak Prabu Duryudana, aku tidak sudi melihat mukamu yang membuat aku muak. Dan kamu tidak berwenang untuk memerintah aku!”. Kejengkelan Prabu Salya tidak juga reda.

“Rama, sekali lagi putra paduka mohon maaf, kami persilahkan rama Prabu untuk menaiki kereta. Ketahuilah rama, sudah ada tanda tanda dalam diri putramu, detak jantung didada ini mengisyaratkan kematian putramu sudah menjelang. Kami persilakan rama Prabu untuk mengantarkan kematianku, rama Prabu . . . . ”. Campur aduk perasaan kedua manusia menantu dan mertua itu mengawali langkahnya menuju ke palagan peperangan. Inilah titik dimana perasaan yang tidak sepenuhnya bulat telah melemahkan moral perang senapati Kurawa.

Baru saja kereta bergerak, mendadak melayang bagai awan hitam bergulung diatas palagan. Itulah Naga Raja Guwa Barong, Prabu Hardawalika. Seekor naga yang mengincar kematian Arjuna. Adipati Karna yang melihat keanehan naga mengarah ketempat ia bersiap, segera menghentikan laju geraknya dan menanyakan maksudnya “Heh kamu mahluk yang mencurigakan, siapa kamu dan apa maksudmu membuat keruh suasana peperangan!”.

“Aku penjelmaan raja raksasa dari Guwa Barong. Aku bermaksud hendak membantu kamu menandingi Arjuna”. Naga raksasa itu dengan tidak ragu mengatakan maksudnya.

Tetapi sungguh tidak disangka, jawaban yang diterima adalah bentakan yang menyuruhnya ia pergi. “ Heh naga mrayang, Arjuna adalah saudaraku. Kalaupun aku berselisih sehari tujuh kalipun, tak akan pecah persaudaraanku. Menyingkirlah atau akan aku percepat sempurnanya kematianmu!”.

“Haaah . . perbuatan yang sia sia. Ternyata aku mengatakan hal ini kepada tempat mengadu yang salah. Tetapi hal ini tidak akan menghalangiku untuk membalas kematian moyangku”. Melayang kembali Hardawalika kearah berlainan untuk mencari keberadaan Arjuna.

Kresna yang tidak pernah terhalangi kewaspadaanya sedikitpun, segera tahu apa yang ada dihadapannya, ketika awan mendung tiba tiba membayang diatasnya.

“Arjuna, diatas pertempuran itu ada seekor naga penjelmaan Prabu Hardawalika. Lepaskan panahmu, sempurnakan kematian Prabu Hardawalika”.

Tidak lagi membuang waktu, segera dipentangnya busur yang telah diisi anak panah. Melesat anak panah menempuh bayangan naga, sirna seketika ujud dari naga Hardawalika yang kembali membuat suasana palagan menjadi terang.

Syahdan, kedua Senapati dari kedua belah pihak telah sama sama bergerak mendekat. Maka suasana palagan peperangan menjadi gaduh, kemudian setelah jarak keduanya menjadi semakin dekat kejadiannya justru menjadi terbalik. Peperangan segera terhenti bagai dikomando. Suasana yang berkembang menjadikannya Arjuna termangu. Prabu Kresna yang melihat suasana hati Arjuna segera dapat menebak apa yang dipikirkannya.

“Arjuna, tatalah rasa hatimu! Hari ini sudah sampai waktumu harus meladeni tanding dengan kakakmu, Adipati Karna”.

“Kanda, bagaimankah hamba dapat melayani tanding yuda dengan kanda Adipati Karna. Suasana beginilah yang selalu mengingatkan akan Ibu Kunti” keluh Arjuna.

Kresna telah tahu apa yang melatar belakangi maksud dari keberpihakan Karna terhadap Kurawa. Hal itu telah ia dengar sendiri tatkala ia bertemu dengannya empat mata, ketika ia telah usai menjadi duta terakhir sebelum pecah perang. Semuanya bagi Kresna sudah tidak ada hal yang meragukan. Namun ia tidak mengatakan apapun tentang itu terhadap Arjuna.

“Adikku, hari ini pejamkan matamu, tutuplah telingamu. Kamu hanya wajib mengingat satu hal, darma seorang satria yang harus mengenyahkan kemurkaan. Walaupun saudaramu itu adalah salah satu saudara tuamu, tetapi ia tetaplah ada pada golongan musuh. Dan ketahuilah, bahwa majunya kakakmu Adipati Karna itu, tidak seorangpun yang ditunggu, kecuali dirimu. Dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diwajibkan untuk mengantarkan kematiannya, kecuali dirimu.

Mari aku dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan menjadi kusirmu”. Selesai berdandan busana Keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna, kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.

Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu bagai kupu kupu yang beterbangan.

Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna

“Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut dan ciumlah kakinya”.

Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya

“Baktiku kanda Adipati”, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah menghaturkan sembahnya.

“Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menangis meraung raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela bela diriku membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung!”. Karna menumpahkan isi hatinya.

“Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh kaki sudah disiapkan oleh adik adik paduka, Kanda Adipati”. Arjuna mencoba meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.

Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terrasa didalam hatinya. “ Lihat, air mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan. Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama sama dengan saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu, hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?”.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.”Tak ada seorangpun didunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna! Dan bila aku nanti mati dalam perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku memberi ketentraman batin dalam hidupnya . . . “

Serak terpatah patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati terhadap Arjuna.

Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba tiba ia berkata dengan nada tegas. “Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!”.

“Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan saudara yang lebih tua”. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.

Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama, sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang dinaikinya.

Pada suatu ketika topong kepala Adipati Karna terpental terkena panah Arjuna. Sejenak Karna meminta Prabu Salya untuk berhenti, dan berkata.

“Rama prabu, hampir saja hamba menanggung malu. Topong kepala hamba terpental oleh panah adi Arjuna”.

“Sudah aku katakan, tak hendak aku ikut campur dalam peristiwa ini. Aku hanya kusirmu. Tapi kali ini mari aku benahi rambutmu biar aku gelung”. Setengah hati Prabu Salya mendandani kembali putra menantunya.

Kembali adu ketangkasan olah warastra berlangsung. Kali ini Kunta Wijayandanu ada ditangan Karna. Waspada Prabu Salya dengan melihat senjata kedua setelah Kunta Druwasa yang telah sirna digunakan oleh Adipati Karna ketika berhadapan dengan Gatutkaca. Maka pada saat menantunya itu melepas anak panah, kendali kereta ditarik, kemudian kuda melonjak. Panah yang sejatinya akan tepat mengenai sasaran, hanya mengenai topong kepala Arjuna dan mencabik segenggam rambutnya.

“Aduh Kanda Prabu, topong hamba jatuh terkena panah kanda Adipati. Apakah ini sebagai perlambang kekalahan yang akan menimpa hamba?”. Arjuna menanyakan.

“Bukan ! Itu peristiwa biasa. Biarlah aku tambal rambutmu dengan rambutku. Sekarang aku akan menggelung rambutmu kembali”. Jawab Kresna, yang kemudian menerapkan kembali gelung rambut baru pada kepala Arjuna.

Kembali kedua putra Kunti berdandan dengan cara yang sama. Semakin bingung para yang melihat pertempuran dua satria yang hampir kembar itu. Bahkan para dewata dan segenap bidadari dan durandara, melihatnya dengan terkagum.

Adu kesaktian telah berlangsung lama, segala macam kagunan dan ilmu pengabaran telah dikeluarkan. Saling mengimbangi dan saling memunahkan kawijayan antara kesaktian mereka berdua.

Namun Arjuna masih memegang satu senjata yang belum digunakan. Itulah panah Kyai Pasupati, yang bertajam dengan bentuk bulan sabit.

“Arjuna !”, Kresna memberikan isyarat, “Sekaranglah saatnya!. Hanya sampai disini hidup kakakmu Adipati. Segera lepaskan senjatamu Pasupati untuk mengantarkan kakakmu ke alam kelanggengan!”.

Panah Pasupati telah tersandang pada busur gading Kyai Gandewa, lepas anak panah berdesing bagai tak terlihat. Walau Arjuna melepaskannya sambil memejamkan mata karena tak tega dan rasa bersalah, namun panah dengan bagian tajam yang menyerupai bulan sabit itu mengenai leher Adipati Karna. Tajamnya Kyai Pasupati tiada tara, sampai-sampai, kepala Adipati Karna dengan senyum yang masih tersungging dibibirnya tak bergeser sedikitpun dari lehernya. Jatuh terduduk jasad Adipati Karna bersandarkan kursi kereta.

<<< ooo >>>

Mengingat episode itu, Salya kembali tercenung. Seberapa besarpun rasa tidak sukanya kepada sosok menantunya Karna, namun diakuinya bahwa menantunya itu adalah seorang ksatria sejati yang teguh pendirian dan pada dasarnya justru sangat mencintai saudara sedarahnya para Pandawa namun dengan cara yang berbeda.

Kini dirinya telah siap untuk berangkat ke medan Kuru. Tak tega rasanya bakal meninggalkan sosok yang tengah tertidur disebelahnya itu. Namun tekad telah membulat di dadanya bahwa apapun yang terjadi, dia harus segera melaksanakan tugas mulia sebagai seorang senapati perang.

Dengan hati yang pepat, dikecupnya mesra kening istrinya yang tidur begitu nyenyak sedari tadi. Dan seolah mengerti bahwa dirinya dikecup sayang oleh belahan jiwanya, dalam tidurpun Setyawati semakin melebarkan senyumnya. Dan perih rasa Salyapun semakin menganga lebar, sebutir air mata bening mengambang di pelupuk matanya.

Tlah ditetapkan dalam hati untuk pergi tanpa pamit kepada istrinya itu, sebab dia sadar bahwa kalaupun dimintakan ijin untuk pergi niscaya Setyawati pasti akan memaksa untuk ikut. Dan dia tidak hendak melibatkan istrinya dalam peperangan nan kejam.

Segera dia beranjak keluar menuju kereta yang telah siap menantinya tuk meluncur ke medan Kuru tanpa menoleh sedikitpun lagi.

Dan di pagi subuh itu, kereta Salya dengan laju cepat menuju medan Kuru yang telah menantinya dalam pertempuran hidup mati !!!

Dalam perjalanan menuju padang Kuru, teringat kembali peristiwa yang membuat hatinya terluka setelah anak mantunya, Karna, tewas dalam pertempurannya melawan Arjuna, hingga kemudian dengan ‘terpaksa’ akhirnya dia bersedia menjadi panglima perang Kurawa.

<<< ooo >>>

Kidung layu layu kembali mengalun di Padang Kuru, awan mendung yang menandai pergantian musim telah menitikkan airnya walau hanya rintik rintik. Meski begitu, rintik hujan itu sudah cukup menandai kesedihan yang melingkupi Para Pandawa. Bagaimanapun Karna-Suryatmaja adalah saudara sekandung, walau ia terlahir bukan atas keinginan sang ibu. Meski demikian, ia adalah sosok yang sudah memberi warna kepada orang orang disekitarnya dan para saudara mudanya. Ia adalah sosok yang tegar dan teguh dalam memegang prisip kesetiaan kepada Negara yang telah memberinya kemuliaan hidup. Tetapi sekaligus ia tokoh yang kontroversial, sebab ia adalah tokoh yang secara tersamar menegakkan prinsip, bahwa keangkaramurkaan harus tumpas oleh laku kebajikan. Ia telah menyetujui bahwa perang Baratayuda harus terjadi, sebab dengan demikian ia telah mempercepat tumpasnya laku angkara yang disandang oleh Prabu Duryudana. Raja yang telah memberinya kemukten.

Dengan terbunuhnya Adipati Karna yang menyisakan dendam pembelaan dari Kyai Jalak yang gagal, maka secara kenyataan adalah, telah terhenti perang campuh para prajurit di arena padang Kurusetra. Dikatakan demikian karena jumlah prajurit Kurawa yang tinggal, boleh diumpamakan telah dapat dihitung dengan jari saja. Ditambah lagi kenyataan, bahwa para Kurawa seratus, yang tinggal hanya duapuluh orang termasuk Prabu Duryudana dan Kartamarma. Maka lengkaplah apa yang disebut sebagai kenyataan, bahwa perang Baratayuda sebenarnya sudah berakhir. Tetapi pengakuan terhadap kekalahan itu, belumlah terucap dari bibir Prabu Duryudana.

Sore ketika Adipati Karna telah gugur, mendung gelap yang disusul oleh rintik hujan, juga seakan mentahbiskan suasana dalam hati Panglima Tertinggi Kurawa yang juga terlimput oleh gelap. Dihadapannya Prabu Salya dengan sabar menunggu ucapan apa yang hendak terlontar dari bibir menantunya. Demikian juga Patih Harya Suman dan Raden Kartamarma, hanya tertunduk lesu. Keduanya berlaku serba canggung menyikapi keadaan dihadapannya. Keraguan akan hasrat menyampaikan usulan dan pemikiran, telah dikalahkan oleh rasa takut akan murka junjungannya.

Hal ini juga berlaku pada perasaan Aswatama yang sesungguhnya hanya berderajat rendah, hanya sebagai tuwa buru. Sebuah derajat rendah yang hanya mengurus segala keperluan para Kurawa dalam menyelenggarakan kegemaran mereka berburu dihutan. Derajat rendah itulah yang diberikan oleh penguasa Astina, ketika mendiang ayahnya diangkat menjadi guru bagi sekalian anak anak Pandawa dan Kurawa. Derajat yang sampai saat inipun masih tetap tersandang, walaupun waktu demi waktu telah berlalu. Apalagi ketika ia harus kehilangan kepercayaan dari Prabu Duryudana, pada saat ia membela pamannya Krepa. Juga tewasnya ayah tercinta yang merupakan gantungan baginya dalam mengabdi kepada Prabu Duryudana, telah lengkap meruntuhkan ketegaran dirinya terhadap penguasa tertinggi Astina. Lengkap sudah perasaan takut yang mencekam jiwanya. Padahal sesuatu yang hendak diajukan sebagai saksi mata atas suatu peristiwa di medan perang, telah mendesak kuat dalam hati untuk disampaikan. Tetapi mulutnya terkunci, tetap tak berani mengatakan sesuatu apapun. Dan iapun hanya diam tertunduk, duduk di tempat paling belakang dari pembesar yang hadir.

Dalam ketidak sabaran menunggu sabda Prabu Duryudana, akhirnya Prabu Salya berbicara. “ Anak Prabu, walaupun paduka anak Prabu tidak mengatakan dengan sepatah kata, namun saya sudah merasa, pastilah perkiraan saya benar. Pasti anak Prabu merasa kehilangan Senapati yang menjadi bebeteng negara, kakak iparmu, anak menantuku, Adipati Karna”.

Tetap bergeming Prabu Duryudana mendengarkan kata kata pemancing dari Prabu Salya, sehingga kembali ia melanjutkan.

“Menurut tata cara, seharusnya aku tetap diam menunggu. Tetapi oleh karena terdorong oleh gemuruh dalam dada, perkenankan aku mertuamu menyampaikan isi hati ini”

“Rama Prabu, itulah yang sebenarnya yang aku nanti. Besar hati anakmu tanpa dapat diumpamakan, karena sebegitu besarnya perhatian yang rama Prabu berikan terhadap putramu”. Akhirnya beberapa patah kata meluncur dari bibir Prabu Duryudana, terbawa oleh rasa penasaran, apakah yang hendak dikatakan oleh ayah mertuanya.

Mencoba tersenyum Prabu Salya. Senyum getir, karena suasana yang dihadapi tidaklah nyaman dirasakan. Tetapi ia tetap berusaha menguatkan hati Prabu Duryudana .“Kalaupun aku tidak memperhatikan anak Prabu, aku ini seakan menjadi manusia yang tidak lengkap panca indraku. Setelah saya timbang timbang, ternyata pancaindriaku masih lengkap. Oleh karena itu, aku akan menyampaikan sesuatu”.

“Waktu sepenuhnya aku serahkan kepada rama Prabu”. Duryudana kali ini mencoba pula tersenyum, walau terasa hambar.

Melihat menantunya serba kikuk, Prabu Salya tertawa. Walaupun tawa itu terdengar sumbang, namun Ia mencoba memecah kebuntuan suasana. “Terhitung selama perang berlangsung, aku baru bisa tertawa kali ini. Begitu anak Prabu mengatakan bahwa waktu telah sepenuhnya anak Prabu berikan, itu artinya anak Prabu masih mempunyai kepercayaan kepadaku”.

Prabu Salya kemudian mengangkat dan mengungkit peristiwa yang berlangsung pada masa lalu, ketika ia sedang ada pada balairung istananya di Mandaraka. Ketika itu ia sedang merembuk bagaimana ia berrencana hendak memberikan negara kepada anak turun, serta bagaimana ia menyampaikan cara dalam menata negara. Ketika itu, tiba tiba ia dikejutkan dengan kedatangan dua orang utusan yang belum dikenalnya. Ketika mereka mendekat dan memberikan surat. Ternyata mereka berdua mengundang untuk mendatangi pahargyan di suatu tempat yang merupakan pesanggrahan yang baru dibangun, pesanggrahan yang begitu indah. Disitu telah menunggu para wanita yang muda muda dan begitu cantik cantik. “Disitulah aku disuguhi makanan yang serba nikmat diiring tetabuhan dan kidung yang menyenangkan hati”. Prabu Salya meneruskan, “Tanpa ragu makanan yang serba nikmat itu aku makan dengan begitu lahapnya . Bawaannya aku belum makan ketika berangkat, maka sekejap aku telah menghabiskan sebagian besar hidangan yang telah tersaji”.

Setelah merenung sejenak, Prabu Salya menyambung, “Begitu aku sudah merasa kenyang, tiba tiba anak Prabu Duryudana datang dari belakang tanpa aku ketahui, dan memeluk aku. Sebagai orang yang mengerti akan tata krama dan balas budi dan terdorong oleh rasa puas karena semua kesenangan yang tersaji telah aku nikmati, maka ketika paduka anak Prabu meminta saya untuk bersedia berdiri di pihak anak Prabu ketika perang Baratayuda berlangsung nanti, seketika aku menyanggupi. Dan ini adalah peristiwa yang mengharuskan aku menyaksikan darah yang tertumpah. Darah yang mengalir dari tubuh tubuh anak kemenakanku sendiri”.

Suasana kembali hening ketika Prabu Salya mengakiri cerita yang berujung sesal. Kejadian awal dari mengapa ia terseret-seret dalam peristiwa besar ini. Maka ketika tak ada lagi yang membuka mulut, Prabu Duryudana memanggil Patih Harya Sangkuni.

“Paman, tinggal berapakah Kurawa sekarang?”

Geragapan Patih Sangkuni menjawab pertanyaan itu, setelah rasa terkejutnya hilang. “Kalau tidak salah hitung, tinggal duapuluh orang saja”.

“Apakah mereka menjadi ketakutan karena jumlah yang tinggal sedikit itu?”

“Sama sekali tidak, bahkan mereka mengharap, kapan gerangan hendak diperintah untuk beradu dada dengan para Pandawa”.

“Bagus! Kenapa begitu?“ Prabu Duryudana mempertegas pertanyaannya.

“Mereka itu mengingat dan merasa, bahwa hidup mereka semua adalah ada dalam perlindungan dari anak Prabu. Kenikmatan yang mereka terima selama ini, adalah berkat pemberian dari anak Prabu. Maka ketika mereka dihadapkan dalam peristiwa seperti ini, tak lain dan tak bukan, bahwa mereka telah rela menjadi tetameng, bahkan bebanten dalam membela kejayaan anak Prabu”. Jawab Sangkuni, yang adalah manusia super licik. Maka kata katanya kemudian lancar nyinyir mengalir menggelincirkan lawan bicaranya.

“Jagad dewa batara! Bila demikian, walaupun Kurawa cuma tinggal duapuluh orang, itu sudah cukup memberiku rasa besar hati. Mereka itulah manusia yang mengerti akan rasa kemanusiaan, manusia yang mengerti akan rasa kebaikan, manusia yang mengerti apa itu kewajiban. Bila demikian Paman, semua orang yang masih hidup di Astina, ternyata masih punya rasa bela negara, tanpa memandang dari mana asal muasalnya. Seumpama ada seseorang pembesar, seseorang yang menjadi sesembahan. Walaupun ia tidak dalam peperintahan negara Astina, tetapi ia memiliki kulit daging yang mukti wibawa di negara Astina ini. Hidupnya diliputi oleh segala kemewahan, dipuji puji dan diagung agungkan orang senegara. Namun ketika negara itu menjadi ajang kebrutalan musuh, menurut Paman Sangkuni bagaimana seharusnya manusia itu bersikap?”

Prabu Duryudana yang sedari kecil ada pada asuhan pamannya, sangat mengerti, umpan apakah yang tengah ia pasang. Maka semakin lancarlan kata katanya mengikuti arah pembicaraan pamannya itu.

“Wah, kalau saya . . . . ini kalau saya . . ., saya akan segera bertindak! Segera saya akan melangkah ke palagan peperangan, mengatasi musuh yang hendak berbuat semena mena atas negara ini. Ini kalau saya . . .! “ dengan jumawa Patih Harya Suman menjawab.

“Apakah ada Paman, orang yang saya telah berikan semua rasa mukti wibawa, tetapi tidak mengerti akan balas budi itu?”

“Ada saja ! itulah istri paduka sendiri, Dewi Banuwati!”

Prabu Salya yang sudah kenyang makan asam garam, sebenarnya sudah tahu apa maksud pembicaran mereka berdua. Tetapi ia masih dengan sabar dan senyum mengembang di bibir mengikuti pembicaraan mereka. Ia menjadi penasaran, sandiwara itu akan sampai mana ujungnya. Maka ia tetap terdiam ketika Prabu Duryudana kembali mengajukan pertanyaan kepada pamannya. “Apakah ada orang yang lain selain istriku?”

“Tidak, tidak ada lagi! Walaupun istri Paduka anak Prabu adalah wanita yang pada mulanya juga sudah mukti wibawa di Negara Mandaraka, tetapi ketika ia diperistri oleh paduka anak Prabu, ia telah mendapatkan jauh lebih tinggi derajat dan kemukten yang tiada taranya. Itulah, dari rasa sayang Paduka Angger Anak Prabu yang tiada terkira, sebetulnya dalam kenyataannya, negara Astina telah dipasrahkan seutuhnya kepada istri Paduka , Dewi Banuwati.”

“Itulah memang yang menjadi niat saya! Kalau demikian, yayi Banowati itu , seberapapun bobotnya harus menanggung semua baik buruk atas negara Astina ini?”.

“Tak jauhlah dari yang paduka kehendaki”.

“Tetapi paman, ia adalah seorang wanita. Apakah mungkin, wanita yang seharusnya hanya aku manjakan, bersolek, mempercantik diri, harus maju ke medan perang adu kesaktian dengan para Pendawa”.

“Lho kalau perlu memang demikian! Kalau semua para luhur sudah tidak mau tutun tangan, maka istri sendiripun harus ikut. Saya kira istri Paduka pun tidak akan rela melihat paduka kerepotan”. Sandiwara dengan dialog antar keduanya masih berlangsung, masih mengalir lancar. Dan Prabu Salya masih tetap sabar dalam duduknya.

Dan sampai disini Duryudana sedikit mentok, keteteter dengan kepiawaian pamannya mengolah kata. “Ya . . . . . tetapi . . . . . apakah ini . . . . . . , apakah aku harus menangis dihadapan istriku? Si Paman jangan menyangka aku takut akan darah, tetapi istri itu . . . yang sejatinya bukan sanak, tapi ia sudah merasakan enak, sudah aku ajak menikmati kenikmatan dan mukti wibawa. Waktu dalam keadaan enak, ia sudah merasakan kenikmatan. Tetapi ketika menemukan papa sengsara, seharusnya ia tidak menghindar dari segala kesulitan. Tetapi saya tak bisa hidup tenang tanpa dia, paman. Seumpama saya melangkah ke medan pertempuran berdua dengan istriku, Dewi Banowati, menurut si paman bagaimana?”

“Saya sangat setuju . . .sangat setuju!”

Tidak syak lagi, Prabu Salya yang mendengarkan dengan seksama dan tadinya tak hendak memotong pembicaraan mereka, sudah mengerti kemana gerangan arah pembicaraan itu. Tetapi saat ini ia menjadi gerah. Dan berkatalah Prabu Salya, setelah menarik nafas dalam dalam. Ia berusaha menekan perasaannya yang tiba tiba panas bagai terbakar bara api.

“Jagad Dewa Batara! Aku merasakan tidak ada sesuatu apapun terjadi. Tetapi kepala saya bagai terbakar panasnya bara api. Panasnya sedemikian menyengat hingga sampai ke dada ini. Di seluruh jagad ini tidak ada yang menandingi kepiawaian dari anak Prabu, apalagi bila sudah dipadukan dengan kepiawaian mengolah kata dari Patih Sengkuni. Tetapi kepintaran itu. bila sudah manunggal, dan kemudian dipakai di jalan yang tidak sesuai dalam keutamaan, bisa menjadi kabur dan ludes terbakar api. Saya mengerti. Kalau saya dibolehkan menggambarkan, anak Prabu saat ini sedang dalam posisi berpeluk tangan, tapi kelihatan olehku dari sini, Paduka anak Prabu seperti melambaikan tangannya. Melempar sesuatu kearah utara, tapi yang dikenai adalah benda yang diarah selatan, seperti halnya orang yang sedang memancing di air keruh. Yah, saya sudah tua. Tak usahlah disindir, saya ini sudah kenyang makan asam garam. Gambalangnya begini, paduka anak Prabu sekarang sedang bersedih atas gugurnya anak mantuku Adipati Karna. Paduka sebetulnya mengatakan, kenapa, orang tua yang sudah dibuat mukti wibawa karena anak nya, tetapi orang itu sekarang diam saja. Bukankah itu yang Paduka maksudkan?”

Sudah disengaja Prabu Duryudana menyindir mertuanya itu. Tetapi ia sudah kadung basah, maka walau dengan debaran dada, ia mengatakan, “Silakan bila rama Prabu mengatakan demikian. Tetapi itu memang benar!”.

“Saya sudah mengatakan tadi, apakah saya hendak mengangkat muka melihat tingginya sosok para Pandawa? Apakah saya tidak kuasa untuk merangkul betapapun besarnya ujud para Pandawa? Apakah saya harus gemetar melihat kesaktian Pandawa? Yang terlihat olehku, Pandawa itu adalah sebagai anak anak belaka. Bila aku mau, tandang para Pandawa dapat aku hentikan kurang dari setengah hari! Dalam setengah hari itu, mereka sudah pulang ke kahyangan Batara Yama. Oleh sebab itulah, saya hendak menjalankan sabda paduka dengan dua landasan. Ketika bebanten para Kurawa dimulai dari gugurnya Eyang Bisma, sampai Resi Durna, jagad sudah mengingatkan kepada paduka anak mantu, bahwa Baratayuda seharusnya dihentikanlah! Apakah sebenarnya pokok persoalannya? Siapakah sebenarnya yang menang, dan siapakah sebenarnya yang dikalahkan? Oleh sebab itu, silakan anak Prabu merasakan, betapa sengsaranya yang sudah gugur dalam perang ini. Itu yang pertama!”

“Kedua siapapun akan mengerti. Siapakan Prabu Karna itu? Adipati Karna itu manusia bukan manusia selayaknya manusia. Ia adalah anak Batara Surya yang menerangi jagat. Walaupun ini hanya cerita yang kadung dilebih lebihkan, tapi sewaktu terlahir dari goa garba Kunti, ia sudah mengenakan anting anting dan permata kawaca. Belum lagi jumlah pusakanya, kunta Druwasa, Wijayandanu, siapakah yang kuat menadahkan dadanya pada pusaka itu? Keris kyai Jalak, siapapun tak mampu menadahkan dadanya. Bahkan bila ditujukan ke gunung , gunung itu akan menjadi runtuh, dan bila dikenakan terhadap lautan, samudra itupun akan mendidih. Walau demikian, Arjuna dapat mengalahkan dengan panah bertajam bentuk bulan sabit, Kyai Pasupati. Lepasnya panah Arjuna telah membawa kematian baginya. Bila anak Prabu hanya menuruti kehendak hati, aku hanya bisa berharap, anakku Banuwati kelak tidak menjadi janda”.

Diceritakan, Aswatama yang sedari tadi menahan beban perkara yang menghimpit dadanya, lama kelamaan ia menggeser duduknya maju mendekati Prabu Duryudana. Ia seakan terpicu, ketika mendengar peristiwa tanding satria sakti linuwih itu diungkap kembali. Keberaniannya tumbuh saat ia harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Melihat gerak dan raut muka Aswatama yang mengandung sejuta keinginan untuk mengatakan susuatu, Prabu Duryudana memberikan sasmita kepadanya untuk mendekat.

“Aswatama adakah sesuatu yang hendak kamu katakan?”

“Perkenankan Paduka memberi seribu maaf, karena hamba berani beraninya memutus pembicaraan para agung”. Beriring sembah, Aswatama meminta waktu.

“Bila memang ada sesuatu yang penting untuk disampaikan, saya memberimu maaf. Silakan apa yang hendak kamu katakan?!”

Sejenak Aswatama terdiam. Bagaiamanapun ia harus menata hati untuk menyampaikan cerita yang menyangkut pembesar negara. Dalam pikirnya, sekarang atau tidak sama sekali. Dan ia telah terlanjur maju, tak ada lagi jalan kembali terbentang dihadapannya. Maka dengan tatag ia berkata, “Ketika sedang ramainya tetanding antara Sinuwun Adipati Karna dan Arjuna, mestinya Arjunalah yang mati”.

“Apa sebab kenapa kamu bicara terbalik dengan kenyataan?” terheran Prabu Duryudana mendengar kata kata Aswatama.

“Jalannya kereta yang dikendarai oleh sinuwun Adipati yang dikusiri oleh Prabu Salya, saya lihat sudah benar. Dan lepasnya panah kunta seharusnya telah pas mengenai leher Arjuna. Tetapi arah panah itu meleset, oleh sebab adanya seseorang pembesar yang telah melakukan kecurangan”

Sampai disini Prabu Duryudana sudah dapat menebak. Tetapi ia hendak mendengar sendiri, beranikah Aswatama menyampaikan dengan mulutnya sendiri. “Siapa pembesar yang melakukan itu?

“Tidak lagi hamba menutup nutupi, jalannya kereta yang seharusnya sudah benar. Namun tiba tiba kendali kekang kuda ditarik, sehingga kuda menjadi binal dan kereta menjadi oleng. Panahpun tidak mengenai leher Arjuna, hanya mengenai sejumput rambutnya saja. Maka hamba berani bicara, bahwa gugurnya gusti Adipati Karna bukan karena Arjuna, tetapi oleh pakarti Prabu Salya!”

“Iblis keparat kamu Aswatama!”

Memerah muka Prabu Salya. Tak disangka seseorang mengamati dengan sempurna perbuatannya. Hendak dikemanakan muka itu bila rahasia itu terbongkar, maka yang bisa diperbuat adalah memaki sejadi jadinya Aswatama dan bertamengkan kekuasaan anak menantunya itu.

“Heh Asatama! Kamu anak Durna kan? Kamu disini pangkatmu hanya tuwa buru. Paling tinggi tugasmua hanya memberi makan kuda kuda kendaraan para Kurawa! Tahukah kamu, bahwa derajatmu hanya dibawah celanaku yang aku pakai ini. Kamu telah melakukan kesalahan. Kesalahanmu, pertama, kamu sudah berani beraninya memotong pembicaraan para agung. Kedua kamu sudah berani mengatakan yang bukan bukan! Kamu sudah berani menuduh aku telah menyebabkan gugurnya mantuku. Dimana ada mertua yang tega terhadap anak menantu. Kemana kamu ketika gugurnya Bapakmu ketika itu? Kelihatan batang hidungmupun tidak! Kamu berniat merenggangkan hubungan antara aku dengan Prabu Duryudana, begitukah maksud dari kata katamu tadi?! Hayoh iblis, kalau kamu memang anak Durna, segera ucapkan japa mantramu, hunus kerismu Cundamanik pemberian ibumu Batari Wilutama, bidadari yang berlaku selingkuh selamanya! Dalam hitungan yang ketujuh kamu tidak berani melangkah menghadapi Prabu Salya, akan kutebas batang lehermu!”

“Aduh rama Prabu, rama kami persikan berlaku sabar! Aswatamu itu hanya berderajat rendah. Tidak sepantasnyalah rama Prabu melayani Aswatama” maka Prabu Duryudana segera menghentikan langkah Prabu Salya ketika melihat mertuanya seakan telah kehilangan pengamatan dirinya.

“Belum lega rasanya bila aku tidak memenggal kepala Aswatama”. Masih dengan kata marah Prabu Salya dalam hadangan Prabu Duryudana.

“Rama Prabu, jangankan hanya seorang Aswatama, dewapun tak akan mampu bila berhadapan dengan rama Prabu ketika sedang murka seperti itu. Mohon diingat rama Prabu, jangan mendengarkan suara orang cari muka seperti Aswatama.

Rama mesti mengingat, masih banyak kewajiban yang harus dijalankan. Mohon bersabar rama Prabu”.

“Huh Aswatama, bila tidak dalam sidang agung ini, kepalamu sudah terpisah dari tubuhmu. Jangankan kamu, bila orang tuamu masih adapun, tak akan mundur sejangkah menghadapi orang tuamu itu!” masih juga belum berhenti kemarahan Prabu Salya, bahkan ia mengungkit ungkit ayah Aswatama.

Setelah suasana terkendali, Prabu Duryudana mendekati Aswatama. Ia telah membuat keputusan dengan menimbang bobot antara kedua orang yang bersilang pendapat itu. “Aswatama, jangan membuat suasana menjadi bertambah ruwet. Aku sudah tak lagi membutuhkan kamu. Pergilah!”

“Aduh Sinuwun, bila sudah tak lagi sinuwun mendengarkan kenyataan yang terjadi di palagan peperangan, kami minta diri sinuwun”. Luka hati Aswatama kembali kambuh, bahkan sekarang semakin parah. Keputusan hari kemarin bahwa ia akan menjadi seorang oportunis sejati telah mengeras. Dirinya yang dibobot ringan oleh Prabu Duryudana, mundur dari hadapannya dengan sejuta rencana tumbuh didalam rongga kepalanya.

Dendam membara juga berkobar dalam dadanya kepada Prabu Salya, orang tua Banowati. Ia hanya bisa berkata dalam hati, jangankan kepada menantunya Prabu Salya tega, kepada mertuanya-Resi Bagaspati-pun ia sampai hati menghabisi hidupnya hanya karena perasaan malu mempunyai mertua berujud raksasa. Tapi kata katanya tersekat pada korongkongan, tak terlahirkan oleh perasaan tidak enak kepada Prabu Duryudana. Maka ia hanya dapat mendendam, kepada Banuwati-lah ia hendak lampiaskan. Dan malam dengan hujan rintik itu telah membawanya menuju taman Kadilengeng. Malam ketika melintas kutaraja Astina, ia tak menemui kesulitan apapun. Semua prajurit tunggu istana telah mengenal Aswatama dengan baik. Dan taman Kadilengeng telah ada didepan mata.

Sementara itu di balairung Bulupitu, sepeninggal Aswatama, perasaan marah dan setengah dipermalukan oleh Aswatama., masih mendekam didalam hati Prabu Salya. Hingga ia tak lagi berminat mengatakan sesuatu apapun. Suasana hening melimputi suasana sidang. Mereka yang hadir seperti terpaku ditempatnya. Hanya dalam pikiran masing masing yang berputar putar menanggapi peristiwa yang baru saja terjadi. Ketika kesunyian itu masih saja terjadi, Prabu Duryudana akhirnya berkata kepada pamannya.

“Paman Harya Sengkuni, sungguh tidak masuk akal apa yang dikatakan oleh Aswatama. Seorang ayah menegakan kematian anaknya, walau itu hanya anak menantu. Apakah ia hanya bercerita atas karangan ia sendiri? Apakah ada di dunia peristiwa semacam itu Paman?”

Patih Sengkuni kemudian mengangkat wajahnya. Dipandangi wajah Prabu Duryudana dengan perasaan ragu. Ia hendak menyelami apa sesungguhnya kehendak keponakannya dengan mengatakan demikian. Tapi ini memang menjadi watak Sengkuni, bahkan dengan nada meyakinkan ia mengipaskan kembali suasana yang sudah mengendap dengan jawabannya, “Ooooh Sinuwun, ada saja! Jangankankan mertua yang tega atas menantunya, sebaliknya menantu yang melakukan pembunuhan terhadap mertuanya juga ada. Bahkan ia telah membunuh mertuanya dengan tangannya sendiri”.

“Dimana peristiwa itu terjadi Paman? Siapakah orang yang telah tega berbuat demikian?” Prabu Duryudana kembali terbawa oleh arus pembicaraan Pamannya. Ia telah tahu apa yang dikehendaki pamannya.

Dan jawaban Patih Harya Sangkuni dengan tidak lagi ragu “Tidak jauh dari sini, bahkan . . . “

“Cukup . . . . . !” Kali ini Prabu Salya menukas dengan ketus. Bara kemarahan yang belum sempurna padam kini sudah kembali berkobar. Bahkan ia sudah tak lagi dapat mengendalikan nalarnya. Maka tak lagi ia berpikir panjang dan segera menyambung kata katanya, “Jangan lagi sandiwara seperti yang kau ucapkan tadi itu diteruskan. Aku sudah mengerti arah pembicaraan itu, Suman! Bukankah engkau hendak mengatakan bahwa pada masa lalu aku telah membunuh ayah mertuaku sendiri? Itukah yang kamu maksudkan dan kamu hubungkan dengan kematian anakku Basukarna? Sudahlah, aku ini sudah tahu arah tujuan dengan kata katamu. Kamu hendak memanasi aku kembali, agar aku mau maju ke Medan Kurukasetra ! Tanpa kamu panasi dengan kata kata itupun aku sudah mempunyai tekad, besok aku akan maju ke palagan peperangan. Lihatlah, esok anak anak Pandawa akan aku kirimkan ke alam kelanggengan. Aku ulangi, tidak perlu mamakan waktu lama, tak sampai setengah hari semua keinginanmu akan terwujud!”

“Lho Sinuwun Prabu Salya, bukan maksud kami menceritakan tentang Paduka Prabu Salya, tapi bila paduka merasakan itu, ya silakan saja” Patih Sangkuni menjawab dengan nada merendah. Tetapi dalam hatinya ia tertawa terbahak bahak, menyaksikan pancingannya berhasil diasambar sasarannya.

Sesak didalam dada Prabu Salya mendengar Patih Sangkuni yang masih saja memberi jawaban. Namun kini yang bicara adalah paman dari Prabu Duryudana. Maka ia tidak bisa gegabah menyalurkan kemarahan sebagaimana dilakukan terhadap Aswatama. Tidak hendak berlarut larut dalam kemarahan, ia menghela nafas panjang. Ia berusaha sekuat tenaga untuk memadamkan bara yang membakar hatinya. Karena ia tak lagi mau termakan provokasi Sangkuni, ia berkata kepada Prabu Duryudana dengan berusaha setenang yang ia bisa.

“Baiklah anak Prabu Duryudana, saya meminta waktu sekejap saja. Aku ingin kembali dulu menemui ibumu, Setyawati. Rasa kangenku terhadap ibumu tak lagi dapat ditahan. Mohon jangan bergerak dulu ke medan Kuru sebelum aku kembali dari Mandaraka”.

“Baiklah rama Prabu, doa kami menyertai kepulangan rama” Duryudana melepaskan kepulangan sementara Prabu Salya dengan rasa keraguan yang tetap menekan dadanya. Bahkan dalam hati kecilnya rasa frustrasi telah menuntunnya ke tindakan seorang pengecut.

“Paman Harya Sangkuni, segala merah hijaunya perang dan jalannya pertempuran aku serahkan kepada si paman untuk besok hari. Ikuti segala perintah dari Rama Prabu Salya. Besok aku tidak akan ikut campur urusan perang yang sudah aku berikan sepenuhnya kepada si paman dan rama Prabu Salya”.

Malam itu juga kereta kebesaran Prabu Salya bergerak kencang menuju ke keputren Mandaraka. Prabu Salya pulang ke Mandaraka dengan hati masgul.

Dan kedatangan Prabu Salya pada saat lepas sore itu benar benar mengejutkan Prameswari Mandaraka, Dewi Setyawati.

“Sinuwun kanda Prabu, kaget dan gembira rasa hati ini, ketika melihat Paduka Sinuwun telah berada kembali di Mandaraka. Apakan perang sudah selesai? Siapakah yang unggul dalam perang yang pasti melelahkan jiwa dan raga itu?”

“Pastilah kedatanganku membuat kamu berdua menjadi kaget. Dan perlu dinda Setyawati, bahwa perang belumlah benar benar selesai. Kedatanganku sesungguhnya hanya melepas kangen, sebab, aku merasa sudah terlalu lama, sejak pecah perang, baru kali ini aku kembali ke Mandaraka meninggalkanmu. Ketahuilah, bahwa esok hari aku akan menjadi senapati perang. Dan sebagai seorang senapati, ibaratnya adalah seperti orang yang siap bepergian. Karena rasa sayangku terhadapmu, bila aku pergi nanti, maka kita harus pergi berdua. Secara kebetulan, bahwa kita berdua adalah orang yang punya hari lahir yang sama, maka bila kita pergi, sebaiknya juga kita pergi juga bersama-sama”.

Mendengar kata kata suaminya, Dewi Setyawati nampak tertegun. Sebagai seorang wanita anak Resi Bagaspati, yang tidak lain seorang pandita yang tak diragukan kewaskitaanya, ia sudah mempunyai firasat buruk terhadap apa yang dikatakan suaminya. Ia telah merelakan anak anak lelakinya habis dalam peperangan itu, tapi kali ini, ia tidak akan lagi rela melepas suaminya menjadi bebanten perang seperti yang terjadi pada anak anaknya. Maka ia bangkit dari duduknya dan bergelayut pada selendang suaminya. Prabu Salya yang melihat tingkah istrinya itu, kemudian tersenyum kepadanya. “Apa yang menjadi kekhawatiranmu Dinda Ratu, aku akan mendengarkan apa yang menjadi isi hatimu”, kata Salya masih dengan senyumnya.

“Kanda, anak anak lelaki kita, satu demi satu sudah gugur dalam membela Negara Astina. Bahkan anak perempuan kita Surtikanti juga telah bela pati atas kematian suaminya Basukarna. Terlepas dari siapakah yang benar dalam perang itu, hamba sudah pasrah. Tapi, untuk kali ini, hamba tidak akan melepas kepergian paduka kemedan perang. Cukuplah sudah pengorbanan kita untuk mukti wibawa anak kita Banuwati. Malah bila mungkin, mintalah anak mantu kita menyudahi pertempuran, dan anak kita sekalian diminta untuk kembali ke Mandaraka. Negara Mandaraka sudah tidak lagi mempunyai Pangeran Pati, biarkan anak mantu Prabu Duryudana-lah yang sekiranya dapat kita turunkan negara ini untuknya. Dan kita sudah saatnya untuk menikmati hari tua ini di Pertapaan Argabelah dengan memasrahkan diri kepada dat yang maha kasih. Mohon maaf kanda Prabu untuk kelancangan hamba memberikan pilihan kemungkinan yang tak lagi mengorbankan seorangpun.”

Masih dengan senyumnya, Prabu Salya malah berkata memuji. Makin rapat sang istri memeluk suaminya. Prabu Salya pun membalas dengn memegang tangan istrinya “Itulah kenapa dari dulu aku menyayangimu, seorang anak gunung, yang jauh dari keramaian kota dan tata krama kerajaan. Tetapi dalam dirimu yang dikaruniai kecantikan yang sempurna, yang telah mampu merampas segenap sukmaku. Sampai sekarang walaupun engkau sudah berputra putri dewasa, kecantikan itu tidak pudar dimakan oleh waktu, malah semakin bersinar. Dan tak kalah dari yang telah aku ucapkan tadi, adalah mengenai sosok dirimu secara keseluruhan. Dasar pemikiran cemerlang yang kamu punya itu, selalu muncul setiap kali aku merasa buntu dalam menjalankan tata kenegaraan. Hingga segala pertimbangan atas buah pikiranmu selalu menuntun aku keluar dari masalah pelik. Maka, walaupun kita dikatakan tidak pernah terpisah sejengkalpun seumpamanya, dari muda hingga rambut kita sudah dua warna, tetapi ketika aku berpisah walau sekejap, rasa kangen ini selalu saja memenuhi dadaku. Dan bukan oleh karena permintaan rama Resi Bagaspati, bila aku memperistrimu aku tidak boleh menduakan dinda Setyawati. Tetapi memang tidak ada gunanya aku menduakanmu. Dari dirimu, semua rasa tentram, rasa bahagia dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, rasanya sudah dinda berikan tanpa henti hari demi hari, tahun demi tahun. Jangan lagi dipikirkan yang akan terjadi besok, lihat, malam ini suasana sangat indah! Kenapa kita tidak menikmati karunia yang telah dewata limpahkan?

Jatuh kedalam pelukan mesra, Dewi Setyawati ke dada suaminya. Sanjungan suaminya yang dikenalnya sejak lama dan selalu saja dengan nada yang romantis telah berkali-kali ia dengar. Tapi kali ini sungguh ia dibuat terbang sukmanya. Dibimbingnya sang istri ke peraduan. Sudah tidak muda lagi keduanya, tetapi kemesraan diantaranya tetap terjalin waktu demi waktu. Tidak heran, bahwa lima orang putra putri telah lahir dari buah kasih mereka. Dan nama Setyawati adalah benar-benar sebagai ujud dari nama Endang Pujawati semasa gadisnya. Mereka berdua adalah manusia manusia yang dikaruniai kasih setia yang dalam satu sama lain.

<<< ooo >>>

Namun seketika angan dan kenangan manis Salya akan istri terkasih dan saat saat romantis semalam buyar oleh suara gemuruh prajurit yang menunggu kedatangannya hingga siang hari di medan Kuru. Ya, kedatangan Salya di Tegal Kuru itu telah terlambat. Matahari di hari itu telah menuntaskan basah embun sedari lama.

Pada saat yang sama, kesiangan Sang Dewi Satyawati terbangun dari mimpi indah, ketika sinar matahari menerobos celah jendela kamarnya. Geragapan Sang Dewi membenahi pakaiannya yang kusut, menyisir rambunya dengan jari. Tatapan matanya seketika tertuju pada sepucuk surat yang tergeletak di pembaringan. Dibacanya dengan seksama surat itu yang menyatakan ia telah pergi kembali ke Kurusetra dan telah diserahkan negara Mandaraka kepada kemenakannya Nakula dan Sadewa.

Setengah teriak ia memanggil Endang Sugandini, saudara dekat putri dari Begawan Bagaskara. Endang Sugandini telah menjadi kawan setia Setyawati sejak ia dikalahkan oleh Prabu Salya dan diruwat dari ujudnya semula, raseksi bernama Tapayati, emban Prabu Kurandageni dari negara Girikedasar.

Yang dipanggil buru-buru datang. Yang dijumpainya, sedang menangis tersedu, “Sugandini, tenyata malam tadi adalah malam yang penuh kenangan. Aku sudah merasa bahwa malam tadi adalah malam terakhir bagi aku bersama kanda Prabu Salya. Sugandini aku akan pergi menyusul Kanda Prabu ke peperangan”.

“Kusumaratu, hamba tidak mau paduka pergi seorang diri. Hamba akan ikut bersama paduka kemedan Kuru”.

<<< ooo >>>

Sementara itu di Pandawa Mandala Yudha, Nakula dan Sadewa telah kembali dari Mandaraka. Telah diceritakan dengan lengkap apa yang terjadi sepanjang lepas tengah malam hingga ia tiba kembali di Pesanggrahan Hupalawiya. Setelah semuanya menjadi jelas bagi Prabu Kresna, ia membuka pembicaraan penting dengan Prabu Puntadewa.

“Sudah tiba waktu yang dijanjikan paman Prabu Salya, dinda Puntadewa!”.

“Apakah yang kanda Kresna maksudkan?” Tanya Prabu Puntadewa.

“Dinda, sudah saatnya dinda maju menjadi Senapati, menandingi senapati Kurawa, Paman Prabu Salya”.

“Kanda hamba tidak ingin lagi melihat mengalirnya darah yang tertumpah dari dada orang-orang tua kami yang hamba hormati”. Kembali Kresna melihat sifat asli dari Prabu Puntadewa.

“Tetapi ingatlah, berkali kali sudah kanda katakan, perang ini bukan lagi tempat untuk berbakti antara orang muda terhadap orang yang lebih tua, tetapi perang yang terjadi adalah perang yang berdasar atas keutamaan dan berpayungkan atas keadilan”. Jurus pertama Kresna ajukan dalam membujuk Prabu Puntadewa untuk mau maju sebagai senapati.

“Bila begitu kanda, kanda Prabu telah menentukan bahwa Uwa Prabu Salya adalah orang yang tidak berlaku adil. Dimanakah letak ketidak adilan yang terdapat pada diri Uwa Salya”. Jawab Prabu Puntadewa tenang.

“Tidakkah dinda melihat, bahwa Prabu Duryudana adalah sosok yang melakukan tindak angkara. Tetapi dinda lihat sendiri, paman Prabu Salya tetap membela tingkah pakarti yang dilakukan oleh kanda Duryudana”. Terus mendesak Kresna untuk meyakinkan Prabu Puntadewa.

“Tetapi hamba tidak bisa mengatakan bahwa Prabu Salya tidak bertindak adil. Mestinya kanda Prabu Kresna tahu, bahwa kanda Prabu Duryudana adalah salah seorang dari menantu Prabu Salya. Bila ada seorang mertua yang membela menantu, apakah ini bisa desebut salah” Prabu Puntadewa menjawab.

“Benar disatu sisi tapi tidak benar disisi yang lain. Memang benar bahwa Prabu Duryudana adalah menantu pada garis kekeluargaan. Tetapi dalam sisi kebenaran semesta, tindakan Prabu Salya adalah salah. Prabu Duryudana yang tidak bertindak dalam garis kebenaran, tidak selayaknya dibela oleh Paman Prabu Salya. Tidakkah dinda ketahui siapa yang seharusnya memiliki bumi Astina. Mestinya bukankah dinda Puntadewa?!”. Kresna masih ngotot merayu Prabu Punta.

“Tetapi kanda, saya sudah merelakan hal itu. Biarkan kanda Prabu Duryudana tetap menikmati manisnya madu yang terkulum. Perang Baratayuda dimualai bukan atas kemauan hamba, diakhiri sekarangpun juga bukan kemauan hamba”.

Krena menghela nafas panjang. Sulit sekali merasakan bagaimana ia harus menundukkan hati manusia yang begitu kukuh dalam memegang kesucian. Namun sejenak kemudian, rayuannya kembali mengalun, “Dinda, ini adalah perang Baratayuda. Yang sudah banyak memakan korban bukan saja dari prajurit kecil, tapi sudah meluas mengorbankan para orang orang tua kita dan anak anak kita yang harus kita lindungi dan orang yang seharusnya kita beri kemukten. Bila dahulu sewaktu peprangan dimulai dinda diam saja, sekarang begitu sudah banyak makan korban dengan mudahnya dinda hendak menghentikan. Mengapa pada awal pecah perang dinda diam saja”.

Masih dengan tenang Puntadewa menjawab, “Bila dulu hamba diam saja, itu tidak berarti hamba setuju. Tapi apalah saya ini, bila saudara kami yang empat sudah mempunyai kemauan yang tak dapat dihalangi, maka peristiwa yang seharusnya terjadi itu terjadilah. Biarlah semua orang didunia mengatakan, bahwa Puntadewa adalah seorang raja yang tidak teguh dalam menjalankan negara, dan tidak becus dalam memimpin adik adiknya. Hamba adalah orang yang siap untuk diberi cap sebagai raja yang pantas untuk dicela, tidak bisa dijadikan tauladan. Hamba menjadi raja bukan atas kemauan hamba, dan semua pengaturan tata negara sudah hamba berikan kepada saudara kami yang empat”.

Diam, suasana balairung kembali sunyi. Kresna setengah putus asa. Akhirnya ia berkata kepada Werkudara, “Werkudara, bisakah kamu memberi usulan bagaimana kakakmu itu bisa maju menandingi senapati Astina paman Prabu Salya?”.

“Hlaaa, jangankan aku. Yang sebagai adiknya. Kamu sendiri yang selalu menjadi tempat untuk mengurai kekusutanpun, tak lagi diturut omongannya!” . Jawaban Werkudara tidak membuat Kresna puas.

“Arjuna, kamu tentunya bisa memberikan sumbang saran?”. Pertanyaan Kresna beralih ke Arjuna.

“Aduh kanda, hamba yang sebagai saudara muda, apalah daya yang hamba miliki kanda Kresna”.

“Dimas Nakula Sadewa, bagaimana?” Kresna menanya kepada kembar dengan jawaban yang sudah ia perkirakan.

Yang disebut namanya hanya saling pandang.

“Jadi bagaimana Werkudara?” Kembali pertanyaan ditujukan kepada Werkudara.

“Baiklah, kanda Puntadewa. Bila sudah tidak ada rasa memiliki adik adikmu ini. Sekarang aku dan saudaramu yang empat akan melakukan bakar diri”.

“Silakan dinda. Tetapi setahuku, orang yang hendak bunuh diri dengan mengatakan kepada orang lain, itu biasanya perbuatan yang tidak sungguh sungguh”. Jawab Puntadewa. Kresna yang mendengar jawaban Puntadewa tersenyum kepada Werkudara penuh arti.

“Kresna, aku sudah tidak sanggup!” keluh Bima seenaknya.

Kesunyian kembali menggenang, keputus asaan Kresna membuat ia tak kuasa untuk memutar otak yang seakan kusut. Tapi tiba tiba Puntadewa berkata, “Kanda, bila hamba diminta menjadi senapati menandingi senapati dari Astina hamba sanggup, tetapi hamba harus tetap kalis dari dosa. Hamba sanggup melakukan itu bila jaminan itu ada, kanda”.

Terang pikiran Prabu Kresna seketika mendengar kalimat kalimat yang tak terduga meluncur dari bibir Prabu Puntadewa. Maka dengan sepenuh hati ia meyakinkan keinginan yang tertuang dari hati Prabu Puntadewa. “Baiklah dinda, saya pastikan dinda akan tetap suci dan tidak terlumuri dosa, bila yang memerintah paduka adalah Sang Hyang Wisnu. Lihatlah dinda, kanda akan memperlihatkan diri dalam bentuk Wisnu, dan dengarkan apa yang pukulun Sang Hyang Wisnu hendak katakan”.

Perlahan Prabu Kresna memuja semedi, dikerahkan kekuatan untuk membuka pintu batinnya dan mampu memperlihatkan kesejatian dirinya dalam rupa Batara Wisnu. Telah tercapai maksudnya, berkata ia kepada Prabu Puntadewa, “Heh titah ulun Puntadewa, hendaknya kamu segera maju ke medan perang. Tandingi kekuatan Prabu Salya dengan sarana Pusaka Jamus Kalimasadda. Lepaskan pusakamu untuk menyirnakan jasad Prabu Salya”.

Tersenyum Kresna ketika ia telah berhasil membujuk Prabu Puntadewa. Canggung gerak Prabu Puntadewa ketika menaiki kereta dengan sepasang kuda perang putih dengan didampingi oleh Nakula dan Sadewa. Sedangkan Arjuna dan Werkudara pun tidak mengambil jarak yang cukup jauh dalam menjaga keselamatan kakak sulungnya.

Sementara di padang Kurusetra, amuk Prabu Salya seakan tak terbendung. Berbagai macam senjata telah mengenai sosok Prabu Salya, namun tak satu senjata yang mampu melukai kulit Sang Senapati. Tak diketahui orang yang sedang berada di peperangan, Sukma Sang Bagaspati melayang menunggu saat yang ditunggu tunggu. “ Salya menantuku, sekarang sudah saatnya bagiku untuk menjemput kamu. Narasoma, aku tidak membenci kamu walaupun kamu telah membunuhku. Tapi kehendakku, belum akan kembali ke tepet suci bila tidak bersama dengan anak dan menantuku. Nah sekarang lah waktunya. Aku akan menyatu dalam tubuh Puntadewa. Salya tunggu kedatanganku”. Melayang sukma Bagaspati menyatu dalam diri Prabu Punta.

Ketika melihat kedatangan Puntadewa yang menaiki kereta itu, hatinya tercekat. Ia sudah merasa terdapat aura aneh yang terpancar pada diri lawannya.

Semakin dekat Prabu Puntadewa, semakin berdebar jantung Prabu Salya. Firasatnya mengatakan inilah saat yang ia janjikan. Namun kemudian Prabu Salya teringat kembali akan keberadaan ajiannya yang diturunkan oleh mertuanya, Begawan Bagaspati. Aji Candabirawa.

Sejurus kemudian dipusatkannya segenap rasa dalam pamuja, meloncat dari goa garba ujud mahluk bajang berwajah raksasa. Itulah Aji Candhabhirawa!

“Raden Narasoma, hendak menyuruh apa kepadaku, Raden?!” Tanya Candabirawa.

“Sekali lagi aku meminta kerjamu. Lihat didepanku, dialah musuhku, Prabu Puntadewa. Bunuh dia!” Tanpa membantah, Candabirawa segera berlalu dari hadapan Prabu Salya. Ia kemudian mengamuk sejadi jadinya kearah para prajurit pengawal Prabu Puntadewa. Sementara Prabu Puntadewa sendiri telah rapat dijaga oleh para prajurit dan Arjuna serta Werkudara. Terkena senjata para prajurit yang terbang bagaikan gerimis yang tercurah dari langit, Candabirawa membelah diri. Menjadi sepuluh, seratus, seribu dan tanpa hitungan lagi yang dapat terlihat. Geger para prajurit Hupalawiya lari salang tunjang melihat kejadian disekelilingnya yang begitu nggegirisi. Kresna segera bertindak menghentikan rangsekan musuh dalam ujud mahluk kerdil yang begitu menyeramkan itu. Perintah Kresna untuk bertindak tanpa melawan amukan Candabirawa disebarkan ke seluruh prajurit yang segera menyingkir.

Ketika serangan berhenti, maka para mahluk kerdil itupun ikut terhenti, saling berpandang dan termangu mangu sejenak. Sebagian lagi larut menjadi semakin sedikit. Tetapi tak lama kemudian mereka bergerak kembali kearah dimana Prabu Puntadewa berada. Ketika sudah dekat jarak antara para manusia kerdil itu, tiba-tiba gerombolan itu berhenti mendadak. Mereka kemudian saling berbisik. “Heh teman temanku semua, kita sudah memperbanyak diri. Tapi begitu aku melihat ke arah Prabu Puntadewa, kelihatan olehku disitu bersemayam sesembahanku yang lama, Begawan Bagaspati. Teman, kita telah lama merasakan lapar dan capek ikut Prabu Salya yang kurang memperhatikan kita, terbawa oleh kesenangan yang ia jalankan sehari hari. Prabu Salya kebanyakan bersuka ria dari pada melakukan olah penyucian diri. Akan lebih baik bila kita ikut kepada sesembahan kita yang lama! Mari kawan semua, kita kembali ke haribaan Begawan Bagaspati”.

Bagai arus bah mengalir, para mahluk kerdil berwajah raksasa segera larut dalam raga Prabu Puntadewa. Peristiwa ajaib yang dilihat Prabu Salya membuatnya jantung Prabu Salya semakin berdebar. Guncang moral Prabu Salya, hingga terasa menyentuh dasar jantungnya yang terdalam. Semakin yakin ia bahwa saat yang djanjikannya telah tiba.

Prabu Puntadewa telah bersiap melepaskan panah dengan pusaka Jamus Kalimasadda yang disangkutkan pada bedhor anak panah. Busur telah terpegang pada tangan kirinya dan terutama ketetapan hati telah diambil. Tak akan menjadi dosa bila Batara Wisnu yang memerintahkan membunuh musuh.

Walau Prabu Puntadewa tidak sesering para saudaranya berolah warastra, tetapi sejatinya ia adalah salah satu murid Sokalima yang tidak jauh kemampuan olah senjata panah dibanding dengan Arjuna. Sebagaimana Arjuna yang mempunyai hati lebih tegar, maka Puntadewa sejatinya adalah pemanah jitu, baik menuju sasaran diam setipis rambut maupun sasaran bergerak secepat burung sikatan. Hatinya yang suci dan cenderung peragu-lah yang membuat ia tidak seterkenal adiknya, Arjuna, dalam olah warastra.

Maka ketika anak panah meluncur dari busurnya, tidaklah ia melakukannya untuk kedua kali. Sekali ia melepaskan anak panah kearah Prabu Salya, maka menancaplah anak panah itu kedada bidang Prabu Salya. Kulit Salya yang kebal terhadap berbagai macam senjata telah terpecah, rebah Prabu Salya!!!

Sakit di dada Prabu Salya tak terasakan, hanya kepuasan hati yang terasa ketika ia telah menyender di bangkai gajah. Ia telah memenuhi janji terhadap kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Janji itu telah terlaksana dengan sempurna. Senyum lemah di bibir Prabu Salya ketika menarik nafas dan menghembuskannya untuk terakhir kalinya.

Seketika perang berhenti. Prabu Punta yang tidak lagi ingin melihat tumpahnya darah segera memberi aba aba kembali ke pakuwon, sedangkan prajurit Kurawa dengan sendirinya telah mundur mencari pembesar yang sekiranya masih bisa menaungi.

<<< ooo >>>

Senja telah menjelang usai gugurnya sang senapati utama, Prabu Salya. Layung senja terbawa awan mendung melayang menyorotkan cahaya jingga, ketika Dewi Setyawati telah sampai di medan Kurukasetra. Berdua dengan Endang Sugandini, Dewi Satyawati seakan berenang dalam genangan darah. Sebentar sebentar ia membolak balik jenazah yang terkapar, mencari cari jangan jangan jenazah itu adalah sang suami. Sementara mendung makin tebal terkadang seleret petir menyambar menerangi walau sesaat sosok demi sosok yang ia perkirakan adalah raga Prabu Salya.

Ketika untuk kesekian kali kilat menerangi medan perang itu, Dewi Setyawati tak lagi ragu terhadap sosok yang ia perkirakan sebagai jenazah suaminya. Menjerit Dewi Setyawati memanggil nama suaminya. Dipeluk sosok yang belum lagi kering darah didadanya. “Kanda Prabu, paduka telah meninggalkan hamba. Paduka gugur sebagai tawur perang ini. Walau paduka telah tidak lagi bernyawa, namun sikap tubuh dalam gugur paduka, seakan akan melambai mengajak hamba turut serta”. Sejenak Setyawati menciumi jenazah suaminya yang sudah semakin dingin. Ditetapkannya hatinya untuk menyusul kematian suami tercintanya, “ Marilah kanda, ajakan kanda untuk pergi bersama seperti yang Paduka ucapkan semalam, tak kan kuasa hamba tolak”. Segera diraih cundrik, sejenis keris kecil yang terselip di pinggang Dewi Setyawati, tewas Sang Dewi menyusul kekasih hatinya. Sementara Begawan Bagaspati dengan senyum menjemput dan menggandeng anak dan menantunya menapaki keabadian.

Endang Sugandini yang sama sama mencari jenazah Prabu Salya tak jauh dari Dewi Setyawati segera datang menghampiri, ketika mendengar jerit saudara sekaligus temannya karibnya. Melihat Prabu Salya dan Dewi Setyawati yang keduanya saling berpeluk, terpekik. Tanpa pikir panjang segera ia juga melepas cundrik yang menancap di dada Dewi Setyawati, kemudian menyusul Salya dan Setyawati.

Sepi menguak di Kurukasetra setelah peristiwa itu. Awan mendung yang menggantung telah berubah menjadi hujan yang demikian lebat. Air hujan itu seakan telah mensucikan ketiga raga manusia yang memiliki kesetiaan tanpa cela.

<<< ooo >>>

Mengenang Narasoma …..
adalah belajar memahami karakter penuh warna
keras hati
kesombongan
welas asih
mencinta sepenuh hati
berbaur mencipta nuansa pelangi beraroma mewangi
pernah berperan sebagai pecundang
namun berakhir menjadi pahlawan

Belajar dari kisah Narasoma
adalah belajar tentang kehidupan
yang harus memilih
tuk menjadi pecundang atau pemenang
dan
hidup adalah PILIHAN !!!

Tancep Kayon

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s