Pandawa Seda


Setelah menyerahkan tahta kepada Parikesit, kemudian para Pandawa mencari jalan menuju akhir hidupnya di dunia. Dengan melepaskan segala atribut keduniawiannya, meraka menyusuri jalan dan tempat yang pernah mereka lalui dahulu. Namun kini visi dan misinya telah berubah. Tidak lagi ada keinginan untuk merengkuh kekuasaan, tidak terbersit sedikitpun niat mencari senjata pamungkas untuk menumpas lawan, ataupun upaya untuk memperoleh wahyu dari Yang Kuasa sebagai jalan meraih kemenangan. Yang meraka rasakan hanyalah rasa letih dan ingin beristirahat dari hingar bingar duniawi yang semu sekaligus menghanyutkan. Yang mereka inginkan hanyalah “pulang” kembali ke kesejatian.Hingga suatu saat ketika rasa lelah dan letih menyusuri perjalanan nan jauh, tibalah mereka di kaki gunung Himalaya. Puncak gunung yang menjulang tinggi tidak menghalangi mereka untuk melanjutkan perjalanan menggapai “tingginya” ciptaan Ilahi.

Di episode inilah sangat terkenal kisah tentang Puntadewa dan anjing yang mengiringi dan sejumlah tamsil ataupun “penampakan” yang membuat Yudistira diajak untuk berfikir dan merenungi kehidupan fana dan kehidupan abadi.

Ceritakan sekilas episode itu dan berikan point-point terpenting terhadap nilai yang terkandung di dalamnya !

________________

A. Sekilas Episode Pandawa Seda.

Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Drupadi melakukan perjalanan mendaki Gunung Mahameru, guna mencapai Swargaloka, ditemani seekor anjing, yang berjalan di samping Puntadewa.
Dalam pendakian itu, satu persatu persatu menemui ajalnya, kecuali Puntadewa bersama anjingnya.
Yang mengalami kematian sebelum mencapai puncak Mahameru (dalam versi India puncak Himalaya) menandakan bahwa tubuh/badan fisiknya tidak kuat lagi, dan badan wadag itu harus ditinggalkan di dunia. Sukmanya lah yang kemudian melayang menuju Swargaloka.
Rincian sekilas dan urutan kematian Pendawa dikisahkan sebagai berikut:
1. Drupadi yang pertama menemui ajalnya. Badan wadagnya tidak dapat ikut mencapai puncak, karena semasa hidupnya, Drupadi ada rasa pilih kasih dalam menyayangi Pendawa. Yaitu, dalam hati kecilnya, Drupadi lebih menyayangi Arjuna daripada Pendawa yang lain.

2. Sadewa. Karena dalam hati kecilnya, dia merasa bahwa dia lah yang terpandai di antara saudara-saudaranya.

3. Nakula. Dia merasa yang paling cakap di antara Pandawa.

4. Arjuna. Dia merasa sombong, karena merasa yang paling piawai dalam olah kanuragan, paling pandai memanah, dan paling digandrungi wanita.

5. Bima, karena dia merasa paling kuat, paling tangguh, tidak ada yang ditakutinya.

Setelah Drupadi dan keempat saudaranya tidak bisa meneruskan perjalanan, tinggal Puntadewa, yang sering dijuluki “Si Penakut”, masih bertahan. Dia sampai di puncak, ditemani anjingnya yang setia.

Sampai di gerbang Swargaloka, dia dihadang oleh salah seorang dewa.
Terjadilah percakapan panjang lebar, yang intinya seperti berikut ini:
“Selamat datang, Puntadewa.Tinggal engkau seorang yang diberi izin memasuki alam Kahyangan bersama badan wadagmu. Silakan masuk. Tetapi, kau harus meninggalkan anjingmu, karena seekor binatang tidak boleh masuk Kahyanan.”
“Terima kasih, Pukulun. Tetapi hamba rela mati di sini saja, supaya masih tetap bisa bersama-sama saudaraku dan anjing ini, biarlah badan wadagku tetap tinggal di dunia. Hamba lebih berbahagia kala sukma hamba berkumpul kembali bersama mereka.”

Seketika itu juga anjing itu beralih rupa, kembali berujud sebagai Betara Dharma. Itu lah ujian terakhir bagi Puntadewa.
Puntadewa dipersilakan masuk, dan bersama Betara Dharma dan dewa yang menghadangnya tadi, diantar melihat keadaan Kahyangan.
Pertama yang dilihatnya adalah sukma Kurawa dan sekutu-sekutunya, sedang bersenang-senang, makan minum, dan menikmati kesenangan-kesenangan lainnya, sebagaimana biasa mereka lakukan di dunia.
Setelah itu Puntadewa dibawa ke bagian lain, tempat yang sangat panas, sangat tidak nyaman. Di sanalah Puntadewa melihat sukma Karna, dan sukma Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Drupadi. Setiap kali tempat itu didatangi Puntadewa, hawa panas berubah menjadi sejuk, nyaman.
Di bagian lainnya, Puntadewa menyaksikan sukma-sukma yang sedang disiksa. Ada yang bibirnya ditarik panjang, ada yang sedang dipukuli, dan banyak lagi lainnya.
Melihat semua itu, Puntadewa termenung. Mengapa Kurawa malah mendapat kesenangan, sedangkan Pandawa tetap menderita, seperti keadaan di dunia dulu?

Tiba lah saatnya Puntadewa sampai ke tempat yang telah disediakan baginya. Suatu tempat yang sungguh nyaman, dan berada di sana, dia senantiasa merasakan kebahagiaan.

Dan, terjadilah perubahan bagi sukma-sukma lainnya. Pandawa, Drupadi, dan sahabat-sahabatnya berpindah tempat, ikut berdiam bersama Puntadewa, menikmati kebahagiaan abadi.
Sementara itu, Kurawa dan sekutu-sekutunya, berpindah tempat ke tempat yang sangat panas, merasakan penderitaan.

B. Nilai yang terkandung.

1. Puntadewa melambangkan manusia yang nyaris sempurna. Dia langsung memasuki kebahagiaan, tanpa disiksa terlebih dulu di bagian yang sangat panas.

a. Hal itu diperolehnya karena semasa hidupnya, Puntadewa selalu berbuat baik, memberi manfaat kepada sesama. Hal tercela yang dilakukannya hanyalah ketika main dadu, mempertaruhkan negaranya dan Drupadi, dan ketika harus berbohong sedikit, berpura-pura, ketika ditanya Dorna perihal kematian Aswatama.

b. Ujian terakhir Puntadewa adalah saat dia tidak mau meninggalkan anjingnya setelah mencapai Puncak Mahameru, menjelang masuk kahyangan. Ini melambangkan semulia-mulia manusia, adalah yang memberi manfaat kepada sesama.
Ini sesuai pula dengan ajaran Islam, manusia yang paling baik adalah dia yang paling bertakwa (Quran surat 49 ayat 13).

c. Hal-hal yang diperlihatkan kepada Puntadewa di Kahyangan, mengingatkan saya kepada kisah Mi’raj Nabi Muhammad. Peristiwa-peristiwa yang dilihat Puntadewa itu merupakan metafora, “sanepa”, tentang amal perbuatan manusia di dunia, yang tidak lepas dari Hukum Sebab-Akibat. Semua amal manusia, baik atau buruk, walau pun sekecil apa pun, akan mendapatkan balasannya. Dalam ajaran Islam, disebutkan dalam Surat 99 ayat 6-8. “Amal baik dan buruk, walau pun sebesar “jarah”, akan mendapatkan balasannya. (“jarah” adalah kata Arab yang menggambarkan sesuatu yang terkecil).

2. Perlambang yang lain:

a. Kematian Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, Bima melambangkan keadaan manusia pada umumunya. Sebaik-baik manusia, masih menyimpan sifat yang kurang baik.
Sukma mereka menerima siksa dulu, sebelum menikmati kebahagiaan abadi di Surga.

b. Kesenangan Kurawa pada masa awal kehidupan mereka di Kahyangan melambangkan keterikatan manusia akan nikmat duniawi. Untuk mencapai kebahagiaan abadi, keterikatan duniawi harus dilepaskan. Keterikatan itu tidak terbatas pada harta benda saja, melainkan juga keterikatan pada jabatan, pangkat, kekuasaan, bahkan kecintaan kepada anak. Itu semua harus dilepaskan.
Ini lah makna lain dari “La illaha illAllah”, “Tiada Tuhan selain Allah”.
Janganlah kau menuhankan jabatanmu, menuhankan anak-anakmu.

C. Kesimpulan

Kisah wayang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan, membuka cakrawala kita kepada wawasan yang lebih luas. Pada hakekatnya, inti ajaran agama adalah sama.
Yang terlihat berbeda, pada dasarnya sama. Sesuai pula dengan yang telah dirintis pendahulu kita, yang tercermin pada ungkapan: “Bhinneka Tunggal Ika”, yang sesungguhnya ada lanjutannya, yang masih sering dilupakan orang, yaitu: “Tan hana dharma mangrwa”.
Bila kita masih merasa diri kita yang paling benar (dilambangkan oleh Pandawa selain Puntadewa), berarti masih ada bagian pada diri kita yang harus ditingkatkan.
—————————————————————————————

Salam,
Baskara

Photo: Setelah menyerahkan tahta kepada Parikesit, kemudian para Pandawa mencari jalan menuju akhir hidupnya di dunia. Dengan melepaskan segala atribut keduniawiannya, meraka menyusuri jalan dan tempat yang pernah mereka lalui dahulu. Namun kini visi dan misinya telah berubah. Tidak lagi ada keinginan untuk merengkuh kekuasaan, tidak terbersit sedikitpun niat mencari senjata pamungkas untuk menumpas lawan, ataupun upaya untuk memperoleh wahyu dari Yang Kuasa sebagai jalan meraih kemenangan. Yang meraka rasakan hanyalah rasa letih dan ingin beristirahat dari hingar bingar duniawi yang semu sekaligus menghanyutkan. Yang mereka inginkan hanyalah “pulang” kembali ke kesejatian.</p> <p>Hingga suatu saat ketika rasa lelah dan letih menyusuri perjalanan nan jauh, tibalah mereka di kaki gunung Himalaya. Puncak gunung yang menjulang tinggi tidak menghalangi mereka untuk melanjutkan perjalanan menggapai “tingginya” ciptaan Ilahi.</p> <p>Di episode inilah sangat terkenal kisah tentang Puntadewa dan anjing yang mengiringi dan sejumlah tamsil ataupun “penampakan” yang membuat Yudistira diajak untuk berfikir dan merenungi kehidupan fana dan kehidupan abadi.</p> <p>Ceritakan sekilas episode itu dan berikan point-point terpenting terhadap nilai yang terkandung di dalamnya !</p> <p>________________</p> <p>A. Sekilas Episode Pandawa Seda.</p> <p>Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Drupadi melakukan perjalanan mendaki Gunung Mahameru, guna mencapai Swargaloka, ditemani seekor anjing, yang berjalan di samping Puntadewa.<br /> Dalam pendakian itu, satu persatu persatu menemui ajalnya, kecuali Puntadewa bersama anjingnya.<br /> Yang mengalami kematian sebelum mencapai puncak Mahameru (dalam versi India puncak Himalaya) menandakan bahwa tubuh/badan fisiknya tidak kuat lagi, dan badan wadag itu harus ditinggalkan di dunia. Sukmanya lah yang kemudian melayang menuju Swargaloka.<br /> Rincian sekilas dan urutan kematian Pendawa dikisahkan sebagai berikut:<br /> 1. Drupadi yang pertama menemui ajalnya. Badan wadagnya tidak dapat ikut mencapai puncak, karena semasa hidupnya, Drupadi ada rasa pilih kasih dalam menyayangi Pendawa. Yaitu, dalam hati kecilnya, Drupadi lebih menyayangi Arjuna daripada Pendawa yang lain.</p> <p>2. Sadewa. Karena dalam hati kecilnya, dia merasa bahwa dia lah yang terpandai di antara saudara-saudaranya.</p> <p>3. Nakula. Dia merasa yang paling cakap di antara Pandawa.</p> <p>4. Arjuna. Dia merasa sombong, karena merasa yang paling piawai dalam olah kanuragan, paling pandai memanah, dan paling digandrungi wanita.</p> <p>5. Bima, karena dia merasa paling kuat, paling tangguh, tidak ada yang ditakutinya.</p> <p>Setelah Drupadi dan keempat saudaranya tidak bisa meneruskan perjalanan, tinggal Puntadewa, yang sering dijuluki “Si Penakut”, masih bertahan. Dia sampai di puncak, ditemani anjingnya yang setia.</p> <p>Sampai di gerbang Swargaloka, dia dihadang oleh salah seorang dewa.<br /> Terjadilah percakapan panjang lebar, yang intinya seperti berikut ini:<br /> “Selamat datang, Puntadewa.Tinggal engkau seorang yang diberi izin memasuki alam Kahyangan bersama badan wadagmu. Silakan masuk. Tetapi, kau harus meninggalkan anjingmu, karena seekor binatang tidak boleh masuk Kahyanan.”<br /> “Terima kasih, Pukulun. Tetapi hamba rela mati di sini saja, supaya masih tetap bisa bersama-sama saudaraku dan anjing ini, biarlah badan wadagku tetap tinggal di dunia. Hamba lebih berbahagia kala sukma hamba berkumpul kembali bersama mereka.”</p> <p>Seketika itu juga anjing itu beralih rupa, kembali berujud sebagai Betara Dharma. Itu lah ujian terakhir bagi Puntadewa.<br /> Puntadewa dipersilakan masuk, dan bersama Betara Dharma dan dewa yang menghadangnya tadi, diantar melihat keadaan Kahyangan.<br /> Pertama yang dilihatnya adalah sukma Kurawa dan sekutu-sekutunya, sedang bersenang-senang, makan minum, dan menikmati kesenangan-kesenangan lainnya, sebagaimana biasa mereka lakukan di dunia.<br /> Setelah itu Puntadewa dibawa ke bagian lain, tempat yang sangat panas, sangat tidak nyaman. Di sanalah Puntadewa melihat sukma Karna, dan sukma Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Drupadi. Setiap kali tempat itu didatangi Puntadewa, hawa panas berubah menjadi sejuk, nyaman.<br /> Di bagian lainnya, Puntadewa menyaksikan sukma-sukma yang sedang disiksa. Ada yang bibirnya ditarik panjang, ada yang sedang dipukuli, dan banyak lagi lainnya.<br /> Melihat semua itu, Puntadewa termenung. Mengapa Kurawa malah mendapat kesenangan, sedangkan Pandawa tetap menderita, seperti keadaan di dunia dulu?</p> <p>Tiba lah saatnya Puntadewa sampai ke tempat yang telah disediakan baginya. Suatu tempat yang sungguh nyaman, dan berada di sana, dia senantiasa merasakan kebahagiaan.</p> <p>Dan, terjadilah perubahan bagi sukma-sukma lainnya. Pandawa, Drupadi, dan sahabat-sahabatnya berpindah tempat, ikut berdiam bersama Puntadewa, menikmati kebahagiaan abadi.<br /> Sementara itu, Kurawa dan sekutu-sekutunya, berpindah tempat ke tempat yang sangat panas, merasakan penderitaan.</p> <p>B. Nilai yang terkandung.</p> <p>1. Puntadewa melambangkan manusia yang nyaris sempurna. Dia langsung memasuki kebahagiaan, tanpa disiksa terlebih dulu di bagian yang sangat panas.</p> <p>a. Hal itu diperolehnya karena semasa hidupnya, Puntadewa selalu berbuat baik, memberi manfaat kepada sesama. Hal tercela yang dilakukannya hanyalah ketika main dadu, mempertaruhkan negaranya dan Drupadi, dan ketika harus berbohong sedikit, berpura-pura, ketika ditanya Dorna perihal kematian Aswatama.</p> <p>b. Ujian terakhir Puntadewa adalah saat dia tidak mau meninggalkan anjingnya setelah mencapai Puncak Mahameru, menjelang masuk kahyangan. Ini melambangkan semulia-mulia manusia, adalah yang memberi manfaat kepada sesama.<br /> Ini sesuai pula dengan ajaran Islam, manusia yang paling baik adalah dia yang paling bertakwa (Quran surat 49 ayat 13).</p> <p>c. Hal-hal yang diperlihatkan kepada Puntadewa di Kahyangan, mengingatkan saya kepada kisah Mi’raj Nabi Muhammad. Peristiwa-peristiwa yang dilihat Puntadewa itu merupakan metafora, “sanepa”, tentang amal perbuatan manusia di dunia, yang tidak lepas dari Hukum Sebab-Akibat. Semua amal manusia, baik atau buruk, walau pun sekecil apa pun, akan mendapatkan balasannya. Dalam ajaran Islam, disebutkan dalam Surat 99 ayat 6-8. “Amal baik dan buruk, walau pun sebesar “jarah”, akan mendapatkan balasannya. (“jarah” adalah kata Arab yang menggambarkan sesuatu yang terkecil).</p> <p>2. Perlambang yang lain:</p> <p>a. Kematian Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, Bima melambangkan keadaan manusia pada umumunya. Sebaik-baik manusia, masih menyimpan sifat yang kurang baik.<br /> Sukma mereka menerima siksa dulu, sebelum menikmati kebahagiaan abadi di Surga.</p> <p>b. Kesenangan Kurawa pada masa awal kehidupan mereka di Kahyangan melambangkan keterikatan manusia akan nikmat duniawi. Untuk mencapai kebahagiaan abadi, keterikatan duniawi harus dilepaskan. Keterikatan itu tidak terbatas pada harta benda saja, melainkan juga keterikatan pada jabatan, pangkat, kekuasaan, bahkan kecintaan kepada anak. Itu semua harus dilepaskan.<br /> Ini lah makna lain dari “La illaha illAllah”, “Tiada Tuhan selain Allah”.<br /> Janganlah kau menuhankan jabatanmu, menuhankan anak-anakmu.</p> <p>C. Kesimpulan</p> <p>Kisah wayang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan, membuka cakrawala kita kepada wawasan yang lebih luas. Pada hakekatnya, inti ajaran agama adalah sama.<br /> Yang terlihat berbeda, pada dasarnya sama. Sesuai pula dengan yang telah dirintis pendahulu kita, yang tercermin pada ungkapan: “Bhinneka Tunggal Ika”, yang sesungguhnya ada lanjutannya, yang masih sering dilupakan orang, yaitu: “Tan hana dharma mangrwa”.<br /> Bila kita masih merasa diri kita yang paling benar (dilambangkan oleh Pandawa selain Puntadewa), berarti masih ada bagian pada diri kita yang harus ditingkatkan.<br /> —————————————————————————————</p> <p>Salam,<br /> Baskara
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s