Wawancara eksklusif bersama Arjuna (30)


1-wisanggeni-joned-rahadian

“nDara !”

“Nun !”

“Bosan ya nDara Janaka mendengarkan saya bicara dan bertanya sudah sekian buanyaknya”

“Ya enggak tho Gong, kan saya sudah janji untuk melayani setiap pertanyaanmu, walaupun adakalanya pertanyaanmu terkesan nakal tapi saya senang kok karena saya tahu siapa itu Bagong”

“Lho … memangnya Bagong tuh siapa nDara ?”

“Bagong ya Bagong, abdiku yang tercinta dan setia, menghiburku dikala duka, laksana pelita memberiku inspirasi dan solusi”

“Wah … kepalaku kok tiba-tiba mekar dan membesar ya nDara. Juga hidungku jadi tambah mekrok”

“Asal jangan sampai mledhos saja Gong !”

“He he he … nDara Janaka ndagel ki. Masak seorang Bagong yang seperti ini, menurut pandangan nDara Janaka memiliki kedudukan yang begitu istimewa”

“Lho … nggak percaya tho kamu ?”

“Nggih … pitados … Boleh saya ungkapkan sesuatu ndara ?”

“Boleh saja, apa itu Gong ?”

“Sebenarnya ada beberapa orang yang saya kagumi dan saya ngefans berat kepada mereka, selain tentu saja kepada ndara Janaka”

“Siapa itu Gong ?”

“Sebenarnyalah saya sangat kagum kepada nDara Bima, nDara Antasena sama ndara Wisanggeni”

“Hal apa yan membuatmu begitu tersepona ?”

“Terpesona nDara. Beliau bertiga itu sungguh, menurut saya lho ndara, sungguh satria sejati. Lugu, bicara blak blakan dan bertindak apa adanya, lurus tekad dan pikiran, dan tentu saja memiliki kedigdayaan yang luar biasa”

“Lha kok kamu malah ngefans sama mereka, nggak ngefans sama si Mlenuk Metutuk sinden istana yang gandes luwes kemayu dan merak ati itu. Atau ngefans sama si Arinoah penyanyi kotaraja itu.”

“Enggak lah nDara, selera saya bisa dipertanggungjawabkan dan tentu saja intelek”

“Halah .. guayamu Gong”

“Bener nDara, terutama nDara Antasena sama nDara Wisanggeni itu lho, macho banget, lelaki banget gitu lho. Meskipun yang satu terkenal dengan sebutan mbabung, dan yang satunya dikenal dengan sebutan edan, tapi bagi saya mereka sungguh luar biasa”

“Menurutmu apa perbedaan mereka”

“Kedua-duanya sakti pilih tanding, tapi nDara Wisanggeni lebih smart dalam berfikir dan bertindak. Juga kedua-duanya sama siapa saja bicaranya ngoko, bukan begitu nDara”

“Yah … memang … Wisanggeni anakku itu memang begitu adatnya. Tapi aku bangga kok punya anak seperti dia”

“Bagaimana sih nDara kisah Wisanggeni itu ?”

“Cukup panjang Gong ceritanya”

“Bisa diceritakan nDara ?”

“Haduh … Gong … permintaanmu itu mengingatkanku pada Dresanala … Duh …”

“Memori indah nDara ?”

“Sangat indah dan romantis Gong”

“nDara Dresanala itu cuantik banget kah ?”

“Ya tentu saja lha wong Bathari kok, anake dewa”

“Gimana nDara ceritanya … ?”

“Indah … romantis … tapi kemudian berakhir dengan tragis hingga membuat hatiku menagis, meringis perih pedih tiada terperi. Tapi kalau melihat sosok Wisanggeni, semua tadi hilang berganti dengan kebanggaan seorang ayah akan putra terkasihnya”

“Bukankah Dresanala itu putranya Bathara Brahma ?”

“Iya Gong”

“Menurut berita yang saya pernah dengar, justru kakeknya itu yang berbuat tidak benar, berusaha membunuh cucunya sendiri”

“Tidak sepenuhnya benar begitu Gong. Tentu ada yang melatarbelakangi beliau mempunyai sikap seperti itu”

“Jelasnya bagaimana nDara ?”

“Yo wis … biar nggak banyak pertanyaan, tak critani tentang anakku Wisanggeni dan ibunya Dresanala”

“Siap nDara !!!”

<<< ooo >>>

Sebuah killatan Cahaya Api berkobar menghantam taman Kahyangan Daksinageni, taman Kahyangan luluh lantak, dan mengeluarkan suara menggelegar yang mengoyak keheningan Kahyangan Daksinageni. Tampak beberapa emban, dan Abdi Dalem Kahyangan Daksinageni berlarian ketakutan kesana kemari, sebuah kobaran api menyala–nyala tampak menyambar–nyambar di tengah taman Daksinageni.

Dewi Dresanala yang siang itu tampak sangat cantik dalam balutan kebaya merahnya yang panjang dipadu dengan kain batik panjang terurai berlarian kecil menuju ke arah tempat datangnya ledakkan itu terjadi. Perlahan–lahan kobaran api menunjukkan wujudnya, seolah api–api itu terbuka laksana tirai menujukkan sesosok laki–laki tua mengenakan pakaian berwarna keperakan, dan mahkota perak yang pada bagian belakangnya terdapat roda api yang selalu berputar.

Laki – laki itu memiliki jenggot, dan rambut merah yang panjang dan berkobar, kedua bola matanya berbentuk bola api yang menyala–nyala, sosok ini melangkahkan kakinya diikuti dengan kobaran–kobaran api yang tiada henti. Dewi Dresanala, tampak tersenyum menatap kehadiiran sosok ini, ia berlari kecil untuk mendekati sosok laki–laki ini.

Ia berlari menuruni tangga, menyodorkan kedua tangannya sambil berkata, “Romo Bathara….. Sugeng Rahayu Romo….”

Kedatangan Dewi Dresanala untuk menyambut kedatangan sang tamu yang tak lain dan tak bukan adalah ayahandanya seorang Dewa yang bernama Bathara Brahma, disambut dengan tamparan yang telak mengenai pipi Dewi Dresanala.

Dewi Dresanala jatuh terduduk di permukaan rerumputan taman, tampak beberapa Emban, dan Abdi Dalem terpekik kecil melihat kejadian itu.

Sambil memegangi pipinya, Dewi Dresanala terisak, dia berkata dengan lirih, “Kenapa…. Kenapa Romo menampar Dresanala Romo….”

Dengan menggeram, Bathara Brahma mendekati Dresanala, tampak kobaran api berkobar muncul dari bahunya, ia mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke arah Dresanala dan berkata, “Putri tidak tahu diuntung!!! Kau telah mencoreng wibawa, dan nama Ayahandamu Sang Penguasa Daksinageni ini!!!”

Sekali lagi sebuah tamparan mendarat di pipi Dewi Dresanala, sanggulnya terlepas, rambutnya yang hitam legam laksana mutiara hitam tergerai liar di wajahnya, dengan tetap terisak Dewi Dresanala berkata, “Apa yang telah Putrimu ini lakukan Romo, sehingga Romo memperlakukan Putrimu seperti ini…..”

Bathara Brahma menghunjamkan tinjunya ke tanah, matanya meneteskan lelehan air mata yang membasahi pipinya, “Kau telah mengotori kesucianmu Ngger….. Kau tahu bahwa kau telah dijodohkan dengan Dewasrani, Putra Kanjeng Bathara Guru…. Tapi kini Ngger…. Kesucianmu telah ternoda oleh Janaka Ngger….. Kau kini mengandung jabang bayi dari Janaka….. Kanjeng Bathara Guru mengetahui itu Ngger…..”

Bagai tersambar petir, Dewi Dresanala sangat kaget mendengar hal itu, ia tidak menyangka bahwa rahasia yang disimpannya selama ini telah diketahui oleh Bathara Guru. Memang betul ia sedang mengandung anak Arjuna, seorang anak hasil cintanya dengan Arjuna. Ia memang sengaja menyembunyikannya dari siapa pun, bahkan ia berencana untuk diam–diam pergi dari Kahyangan kelak ketika waktu persalinan tiba.

Ia juga tidak menyangka secepat ini Bathara Brahma mengetahui hal ini, mengingat Bathara Brahma jarang mengunjungi Dewi Dresanala yang selama ini banyak dipingit dalam lindungan para Emban, Abdi Dalem, dan Pagar Geni tembok api penjaga Kahyangan Daksinageni.

Dewi Dresanala menangis tersedu sedu, ia berjalan membungkuk sambil memohon ampun pada Bathara Brahma, tetapi seolah–olah mohonan ampun Dewi Dresanala semakin menambah amarah Bathara Brahma, dengan kasar Bathara Brahma menendang Dewi Dresanala bangun, dan ia berteriak dengan lantang, “Jabang bayi itu tidak boleh dilahirkan!!!! Ia harus dibunuh sebelum ia terlahir ke Tiga Dunia!!!”

Dewi Dresanala terhenyak kaget mendengar amarah Bathara Brahma, ia melangkah mundur perlahan dengan ketakutan, suaranya bergetar, dan ia berkata, “Jika Romo membunuh jabang bayi Dresanala…. Itu sama saja dengan Romo membunuh Dresanala…. Jabang bayi ini telah bersatu dalam jiwa raga Dresanala… Apapun yang terjadi Dresanala akan mempertahankan jabang bayi ini….”

Mata Bathara Brahma terbelalak, emosinya meningkat tajam, tampak kobaran api kian berkobar di sekujur tubuh Bathara Brahma, dia menggeram, dan berteriak, “Lancang!!!! Kau berani mengancam Romo mu ini hah!!!!! Kalau memang kau ingin mati bersama sang Jabang Bayi itu, maka mati saja!!!!”

Bathara Brahma mengepalkan tinjunya, lalu ia mengarahkan tinjunya ke arah tubuh Dewi Dresanala yang tampak tersenyum pasrah menerima amarah sang ayah. Sebuah gumpalan bola api berkobar–kobar melesat keluar dari kepalan tinju Bathara Brahma, bola api itu melesat lurus menghasilkan suara yang memekakkan telinga.

Beberapa Emban, dan Abdi Dalem terpekik penuh kekhawatiran menatap momongan mereka hanya pasrah menerima serangan Bathara Brahma itu. Bola api itu melesat lurus, dalam jarak beberapa langkah terjadi sebuah keajaiban, perut Dewi Dresanala mengeluarkan cahaya yang sangat terang, cahaya itu membuat tembok pertahanan di sekitar Dewi Dresanala.

Bola api itu meledak, dan tercerai berai ketika bola api itu menghantam cahaya yang ditimbulkan oleh perut Dewi Dresanala. Ledakan ajian Bathara Brahma menyebar, dan menghanguskan apapun yang ada disekitarnya, bahkan Bathara Brahma sendiri terdorong beberapa kaki ke belakang akibat letupan yang ditimbulkan oleh dua energi yang saling bertabrakan.

Dengan tidak percaya Bathara Brahma menatap ke arah Dewi Dresanala yang masih diselimuti oleh cahaya keemasan di sekujur tubuhnya. Dewi Dresanala tampak memegangi perutnya yang kian membesar dengan kedua tangannya dan berkata, “Duh…. Jabang Bayiku…. Kau melindungi Biyungmu, dan dirimu sendiri Nak…. Biyung tidak akan membiarkan kau terbunuh Nak….”

Belum selesai keterpanaan Bathara Brahma, Dewi Dresanala sambil memegangi kandungannya dengan kedua tangannya, segera berlari cepat. Ia melewati Bathara Brahma secepat angin. Dan secepat angin pula ia menghentakkan kakinya ke atas tanah, dan tubuhnya melayang menjauhi Daksinageni.

“Bocah durhaka!!!!”, teriak Bathara Brahma, dalam amarahnya Bathara Brahma kembali melancarkan ajiannya ke arah Dewi Dresanala yang melayang menjauhi Kahyangan Daksinageni.

Ajian Bathara Brahma melesat lurus, dan menghajar Dewi Dresanala yang melayang dengan telak, sekalipun tubuh Dewi Dresanala dilindungi oleh cahaya gaib, hentakan ajian Bathara Brahma dari belakang membuatnya tak sadarkan diri. Tubuh lemas Dewi Dresanala melayang jatuh dari atas Kahyangan.

Bathara Brahma menatap tubuh putri kesayangannya lemah tak berdaya meluncur turun dari Kahyangan, menangislah ia. Ia jatuh berlutut, kedua telapak tangannya ia tangkupkan di wajahnya, ia menangis tersedu – sedu, dan ia berkata dengan lirih, “Duh GUSTI…. Kenapa Ulun tega menghabisi nyawa Putri Ulun, dan cucu Ulun hanya demi mempertahankan kehormatan Ulun…..”

Tubuh lemas Dewi Dresanala terus meluncur turun dari atas Kahyangan, tiba – tiba seekor kera putih yang mengenakan busana Resi tampak melayang ringan diatas awan, dengan cepat ia menyambar tubuh Dewi Dresanala. Ia menggendong tubuh sang Dewi yang masih tak sadarkan diri itu. Ia membawa Dewi Dresanala menuju ke tempat kediamannya di pertapaan Kendalisadha.

(Ini adalah sebuah cerita wayang carangan yang saya ambil utuh dari http://janaloka.wordpress.com/)

Photo: Wawancara eksklusif bersama Arjuna (30)

“nDara !”

“Nun !”

“Bosan ya nDara Janaka mendengarkan saya bicara dan bertanya sudah sekian buanyaknya”

“Ya enggak tho Gong, kan saya sudah janji untuk melayani setiap pertanyaanmu, walaupun adakalanya pertanyaanmu terkesan nakal tapi saya senang kok karena saya tahu siapa itu Bagong”

“Lho ... memangnya Bagong tuh siapa nDara ?”

“Bagong ya Bagong, abdiku yang tercinta dan setia, menghiburku dikala duka, laksana pelita memberiku inspirasi dan solusi”

“Wah ... kepalaku kok tiba-tiba mekar dan membesar ya nDara. Juga hidungku jadi tambah mekrok”

“Asal jangan sampai mledhos saja Gong !”

“He he he ... nDara Janaka ndagel ki. Masak seorang Bagong yang seperti ini, menurut pandangan nDara Janaka memiliki kedudukan yang begitu istimewa”

“Lho ... nggak percaya tho kamu ?”

“Nggih ... pitados ... Boleh saya ungkapkan sesuatu ndara ?”

“Boleh saja, apa itu Gong ?”

“Sebenarnya ada beberapa orang yang saya kagumi dan saya ngefans berat kepada mereka, selain tentu saja kepada ndara Janaka”

“Siapa itu Gong ?”

“Sebenarnyalah saya sangat kagum kepada nDara Bima, nDara Antasena sama ndara Wisanggeni”

“Hal apa yan membuatmu begitu tersepona ?”

“Terpesona nDara. Beliau bertiga itu sungguh, menurut saya lho ndara, sungguh satria sejati. Lugu, bicara blak blakan dan bertindak apa adanya, lurus tekad dan pikiran, dan tentu saja memiliki kedigdayaan yang luar biasa”

“Lha kok kamu malah ngefans sama mereka, nggak ngefans sama si Mlenuk Metutuk sinden istana yang gandes luwes kemayu dan merak ati itu. Atau ngefans sama si Arinoah penyanyi kotaraja itu.”

“Enggak lah nDara, selera saya bisa dipertanggungjawabkan dan tentu saja intelek”

“Halah .. guayamu Gong”

“Bener nDara, terutama nDara Antasena sama nDara Wisanggeni itu lho, macho banget, lelaki banget gitu lho. Meskipun yang satu terkenal dengan sebutan mbabung, dan yang satunya dikenal dengan sebutan edan, tapi bagi saya mereka sungguh luar biasa”

“Menurutmu apa perbedaan mereka”

“Kedua-duanya sakti pilih tanding, tapi nDara Wisanggeni lebih smart dalam berfikir dan bertindak. Juga kedua-duanya sama siapa saja bicaranya ngoko, bukan begitu nDara”

“Yah ... memang ... Wisanggeni anakku itu memang begitu adatnya. Tapi aku bangga kok punya anak seperti dia”

“Bagaimana sih nDara kisah Wisanggeni itu ?”

“Cukup panjang Gong ceritanya”

“Bisa diceritakan nDara ?”

“Haduh ... Gong ... permintaanmu itu mengingatkanku pada Dresanala ... Duh ...”

“Memori indah nDara ?”

“Sangat indah dan romantis Gong”

“nDara Dresanala itu cuantik banget kah ?”

“Ya tentu saja lha wong Bathari kok, anake dewa”

“Gimana nDara ceritanya ... ?”

“Indah ... romantis ... tapi kemudian berakhir dengan tragis hingga membuat hatiku menagis, meringis perih pedih tiada terperi. Tapi kalau melihat sosok Wisanggeni, semua tadi hilang berganti dengan kebanggaan seorang ayah akan putra terkasihnya”

“Bukankah Dresanala itu putranya Bathara Brahma ?”

“Iya Gong”

“Menurut berita yang saya pernah dengar, justru kakeknya itu yang berbuat tidak benar, berusaha membunuh cucunya sendiri”

“Tidak sepenuhnya benar begitu Gong. Tentu ada yang melatarbelakangi beliau mempunyai sikap seperti itu”

“Jelasnya bagaimana nDara ?”

“Yo wis ... biar nggak banyak pertanyaan, tak critani tentang anakku Wisanggeni dan ibunya Dresanala”

“Siap nDara !!!”

<<< ooo >>>

Sebuah killatan Cahaya Api berkobar menghantam taman Kahyangan Daksinageni, taman Kahyangan luluh lantak, dan mengeluarkan suara menggelegar yang mengoyak keheningan Kahyangan Daksinageni. Tampak beberapa emban, dan Abdi Dalem Kahyangan Daksinageni berlarian ketakutan kesana kemari, sebuah kobaran api menyala–nyala tampak menyambar–nyambar di tengah taman Daksinageni.

Dewi Dresanala yang siang itu tampak sangat cantik dalam balutan kebaya merahnya yang panjang dipadu dengan kain batik panjang terurai berlarian kecil menuju ke arah tempat datangnya ledakkan itu terjadi. Perlahan–lahan kobaran api menunjukkan wujudnya, seolah api–api itu terbuka laksana tirai menujukkan sesosok laki–laki tua mengenakan pakaian berwarna keperakan, dan mahkota perak yang pada bagian belakangnya terdapat roda api yang selalu berputar.

Laki – laki itu memiliki jenggot, dan rambut merah yang panjang dan berkobar, kedua bola matanya berbentuk bola api yang menyala–nyala, sosok ini melangkahkan kakinya diikuti dengan kobaran–kobaran api yang tiada henti. Dewi Dresanala, tampak tersenyum menatap kehadiiran sosok ini, ia berlari kecil untuk mendekati sosok laki–laki ini.

Ia berlari menuruni tangga, menyodorkan kedua tangannya sambil berkata, “Romo Bathara….. Sugeng Rahayu Romo….”

Kedatangan Dewi Dresanala untuk menyambut kedatangan sang tamu yang tak lain dan tak bukan adalah ayahandanya seorang Dewa yang bernama Bathara Brahma, disambut dengan tamparan yang telak mengenai pipi Dewi Dresanala.

Dewi Dresanala jatuh terduduk di permukaan rerumputan taman, tampak beberapa Emban, dan Abdi Dalem terpekik kecil melihat kejadian itu.

Sambil memegangi pipinya, Dewi Dresanala terisak, dia berkata dengan lirih, “Kenapa…. Kenapa Romo menampar Dresanala Romo….”

Dengan menggeram, Bathara Brahma mendekati Dresanala, tampak kobaran api berkobar muncul dari bahunya, ia mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke arah Dresanala dan berkata, “Putri tidak tahu diuntung!!! Kau telah mencoreng wibawa, dan nama Ayahandamu Sang Penguasa Daksinageni ini!!!” 

Sekali lagi sebuah tamparan mendarat di pipi Dewi Dresanala, sanggulnya terlepas, rambutnya yang hitam legam laksana mutiara hitam tergerai liar di wajahnya, dengan tetap terisak Dewi Dresanala berkata, “Apa yang telah Putrimu ini lakukan Romo, sehingga Romo memperlakukan Putrimu seperti ini…..”

Bathara Brahma menghunjamkan tinjunya ke tanah, matanya meneteskan lelehan air mata yang membasahi pipinya, “Kau telah mengotori kesucianmu Ngger….. Kau tahu bahwa kau telah dijodohkan dengan Dewasrani, Putra Kanjeng Bathara Guru…. Tapi kini Ngger…. Kesucianmu telah ternoda oleh Janaka Ngger….. Kau kini mengandung jabang bayi dari Janaka….. Kanjeng Bathara Guru mengetahui itu Ngger…..”

Bagai tersambar petir, Dewi Dresanala sangat kaget mendengar hal itu, ia tidak menyangka bahwa rahasia yang disimpannya selama ini telah diketahui oleh Bathara Guru. Memang betul ia sedang mengandung anak Arjuna, seorang anak hasil cintanya dengan Arjuna. Ia memang sengaja menyembunyikannya dari siapa pun, bahkan ia berencana untuk diam–diam pergi dari Kahyangan kelak ketika waktu persalinan tiba.

Ia juga tidak menyangka secepat ini Bathara Brahma mengetahui hal ini, mengingat Bathara Brahma jarang mengunjungi Dewi Dresanala yang selama ini banyak dipingit dalam lindungan para Emban, Abdi Dalem, dan Pagar Geni tembok api penjaga Kahyangan Daksinageni.

Dewi Dresanala menangis tersedu sedu, ia berjalan membungkuk sambil memohon ampun pada Bathara Brahma, tetapi seolah–olah mohonan ampun Dewi Dresanala semakin menambah amarah Bathara Brahma, dengan kasar Bathara Brahma menendang Dewi Dresanala bangun, dan ia berteriak dengan lantang, “Jabang bayi itu tidak boleh dilahirkan!!!! Ia harus dibunuh sebelum ia terlahir ke Tiga Dunia!!!”

Dewi Dresanala terhenyak kaget mendengar amarah Bathara Brahma, ia melangkah mundur perlahan dengan ketakutan, suaranya bergetar, dan ia berkata, “Jika Romo membunuh jabang bayi Dresanala…. Itu sama saja dengan Romo membunuh Dresanala…. Jabang bayi ini telah bersatu dalam jiwa raga Dresanala… Apapun yang terjadi Dresanala akan mempertahankan jabang bayi ini….”

Mata Bathara Brahma terbelalak, emosinya meningkat tajam, tampak kobaran api kian berkobar di sekujur tubuh Bathara Brahma, dia menggeram, dan berteriak, “Lancang!!!! Kau berani mengancam Romo mu ini hah!!!!! Kalau memang kau ingin mati bersama sang Jabang Bayi itu, maka mati saja!!!!”

Bathara Brahma mengepalkan tinjunya, lalu ia mengarahkan tinjunya ke arah tubuh Dewi Dresanala yang tampak tersenyum pasrah menerima amarah sang ayah. Sebuah gumpalan bola api berkobar–kobar melesat keluar dari kepalan tinju Bathara Brahma, bola api itu melesat lurus menghasilkan suara yang memekakkan telinga.

Beberapa Emban, dan Abdi Dalem terpekik penuh kekhawatiran menatap momongan mereka hanya pasrah menerima serangan Bathara Brahma itu. Bola api itu melesat lurus, dalam jarak beberapa langkah terjadi sebuah keajaiban, perut Dewi Dresanala mengeluarkan cahaya yang sangat terang, cahaya itu membuat tembok pertahanan di sekitar Dewi Dresanala.

Bola api itu meledak, dan tercerai berai ketika bola api itu menghantam cahaya yang ditimbulkan oleh perut Dewi Dresanala. Ledakan ajian Bathara Brahma menyebar, dan menghanguskan apapun yang ada disekitarnya, bahkan Bathara Brahma sendiri terdorong beberapa kaki ke belakang akibat letupan yang ditimbulkan oleh dua energi yang saling bertabrakan.

Dengan tidak percaya Bathara Brahma menatap ke arah Dewi Dresanala yang masih diselimuti oleh cahaya keemasan di sekujur tubuhnya. Dewi Dresanala tampak memegangi perutnya yang kian membesar dengan kedua tangannya dan berkata, “Duh…. Jabang Bayiku…. Kau melindungi Biyungmu, dan dirimu sendiri Nak…. Biyung tidak akan membiarkan kau terbunuh Nak….”

Belum selesai keterpanaan Bathara Brahma, Dewi Dresanala sambil memegangi kandungannya dengan kedua tangannya, segera berlari cepat. Ia melewati Bathara Brahma secepat angin. Dan secepat angin pula ia menghentakkan kakinya ke atas tanah, dan tubuhnya melayang menjauhi Daksinageni.

“Bocah durhaka!!!!”, teriak Bathara Brahma, dalam amarahnya Bathara Brahma kembali melancarkan ajiannya ke arah Dewi Dresanala yang melayang menjauhi Kahyangan Daksinageni.

Ajian Bathara Brahma melesat lurus, dan menghajar Dewi Dresanala yang melayang dengan telak, sekalipun tubuh Dewi Dresanala dilindungi oleh cahaya gaib, hentakan ajian Bathara Brahma dari belakang membuatnya tak sadarkan diri. Tubuh lemas Dewi Dresanala melayang jatuh dari atas Kahyangan.

Bathara Brahma menatap tubuh putri kesayangannya lemah tak berdaya meluncur turun dari Kahyangan, menangislah ia. Ia jatuh berlutut, kedua telapak tangannya ia tangkupkan di wajahnya, ia menangis tersedu – sedu, dan ia berkata dengan lirih, “Duh GUSTI…. Kenapa Ulun tega menghabisi nyawa Putri Ulun, dan cucu Ulun hanya demi mempertahankan kehormatan Ulun…..”

Tubuh lemas Dewi Dresanala terus meluncur turun dari atas Kahyangan, tiba – tiba seekor kera putih yang mengenakan busana Resi tampak melayang ringan diatas awan, dengan cepat ia menyambar tubuh Dewi Dresanala. Ia menggendong tubuh sang Dewi yang masih tak sadarkan diri itu. Ia membawa Dewi Dresanala menuju ke tempat kediamannya di pertapaan Kendalisadha.

(Ini adalah sebuah cerita wayang carangan yang saya ambil utuh dari http://janaloka.wordpress.com/)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s