Ramayana [4]


kekayi_solo

Dan saat yang dinanti-nantikan tibalah !

Seorang bayi mungil berwajah rupawan terlahir ke dunia dari perut Dewi Ragu. Bergembiralah Prabu Dasarata, berserilah Resi Wasista, Patih Tameng Gita dan para nayaka di kerajaan Ayodya, dan bersuka rialah rakyat yang mendengar berita gembira yang tlah lama dinanti-nanti. Rasanya semua orang di negri Ayodya bergembira, kecuali satu orang yang bersedih dan iri hati.

“Mudah-mudahan bayi mungil ini adalah titisan Wisnu, Resi Wasista. Sewaktu melakukan tarak brata lalu, aku memohon perkenan dewata untuk menitiskan Batara Wisnu ke jiwa anakku”

“Sepertinya yang paduka harapkan dikabulkan, sinuwun. Lihatlah betapa cemerlang wajah bayi ini memancarkan perbawa agung. Bagi sesiapa yang memandangnya, tentram damai bakal dirasakan. Pada saatnya nanti, aku mohon perkenan paduka untuk menyerahkan anak ini untuk hamba tempa menjadi satria utama”

“Dengan senang hati, resi Wasista”

“Sudahkah paduka menyiapkan nama untuk bayi lelaki tampan ini, sinuwun ?”

“Bagaimana, yayi ratu. Apakah engkau telah menyiapkan nama untuk anak kita ini ?” Prabu Dasarata mengalihkan pertanyaan kepada Dewi Ragu. Dan yang ditanya, dengan perasaan berbunga menjawab seraya tersenyum manis

“Terserah kanda Prabu saja”

“Baiklah. Karena dia terlahir dari Ragu ibunya, maka kuberi dia kuberi nama RAGAWA yang berarti Ragu Putra. Diapun ku beri nama juga RAMA”

Maka dunia menyaksikan terlahirnya Regawa atau Rama dengan suka cita. Lalu siapakah yang justru tidak merasa senang dengan kelahiran Rama ini ?

Prabu Dasarata adalah seorang yang perasa dan bijaksana. Tentu hal ini tidak luput dari perhatiannya. Maka setelah urusan terkait dengan kelahiran Regawa selesai, dia segera menghampiri istrinya Kekayi.

“Gerangan apakah yang menyebabkan dirimu bermuram durja kekasih hatiku ?”

“Kanda Prabu tidak cinta lagi kepada dinda !”

“Hal apa yang menyebabkan engkau menyimpulkan demikian Dinda. Bolehlah engkau belah dada ini, maka tak akan engkau temukan kata dusta apalagi benci, yang ada hanyalah bunga-bunga cinta semata”

“Kanda Prabu hanya perhatian kepada Kangmbok Ragu yang cantik manis dan lemah lembut itu”

“Apakah Dinda tidak merasa bahwa kecantikan Dinda Kekayi sungguh membuat iri setiap wanodya. Kalaupun seumpama bidadari dari kahyangan semisal Batari Wilutama dipersandingkan dengan Dinda, niscaya akan terlihat lebih bercahya karna kemolekannya Dinda dibanding Wilutama.”

“Tapi hamba sangat berbeda dengan Kangmbok Ragu yang lemah lembut tutur bahasanya, gemulai polah tingkahnya. Sementara Kekayi, sudah cerewet, kalau berkata-kata apa adanya. Tentu Kanda Prabu tidak menyukai hal seperti itu bukan ?”

“Kanda menikahi Dinda Kekayi bukan menikahi wataknya melainkan menikahi orangnya. Apapun kata orang tentang Dinda, cinta Kanda tak akan pernah luntur malah semakin hari semakin bertambah”

“Apakah buktinya ?”

“Kehadiran Kanda disini hendak menemui kekasih hati”

“Tidak cukup itu saja !”

“Apa yang Dinda inginkan”

“Kanda harus berjanji bahwa kelak anak yang aku lahirkan akan Kanda angkat menjadi raja pengganti Kanda”

“Menurut pranatan, ketentuan yang berlaku di dunia manapun, bukankah pengganti raja adalah putra sulung dari garwa yang paling tua, Dinda”

“Berarti Kanda tidak cinta kepadaku. Kalau begitu lebih baik hamba dikembalikan saja kepada ayah hamba”

“Sampai jaman sekarang, tidak ada sejarahnya seorang raja bercerai dengan istrinya, Dinda. Kanda tidak akan melakukan aib seperti itu, apalagi karena Kanda memang benar-benar mencintai Dinda”

“Kalau begitu kanda harus memilih”

“Baiklah kalau itu memang keinginanmu, Kanda berjanji ….”

“Jangan berjanji, bersumpah …!”

“Baiklah. Ingsun bersumpah, moga disaksikan oleh jagat seisinya bahwa kelak anak yang terlahir dari istriku Kekayi-lah yang akan menggantikanku menjadi raja Ayodya !”

Dan alam semesta mendengar sumpah Prabu Dasarata. Alam semesta merekamnya dan kelak membeberkannya sebagai sebuah sumpah yang harus dipenuhi oleh Danaraja. Sabda pandita ratu !

Dan setelah mendengar yang diinginkannya, maka senyum Kekayi merekah dan segera dia menggandeng tangan suaminya itu untuk membimbingnya masuk keperaduan

“Dinda telah menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna Kanda. Kamar ini telah Dinda hias dengan seindah mungkin. Harum bebauan yang membangkitkan hasrat tlah hamba sebarkan di segala penjuru ruangan. Tubuh Dinda, telah Dinda bersihkan dengan teliti hingga tercium wangi kesturi di setiap jengkalnya. Bukankah Kanda suka terhadap bebauan itu Kanda ?”

Maka berangkatlah sepasang suami istri tersebut mengarungi kenikmatan surga dunia. Tiga hari tiga malam tiada keluar kamar, bercanda bercumbu mesra.

Hingga beberapa minggu kemudian, Prabu Dasarata mendengar kabar yang menggembirakan dari mulut Kekayi langsung bahwa dirinya telah mengandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s