Ramayana [3]


ragu_solo
“Duh Sinuwun Prabu, para leluhur, para brahmana, para cerdik cendekia telah lama mengungkapkan ujaran bijak yang tertuang dalam kitab-kitab sastra, agar selalu berharap dan berserah terhadap yang kita terima. Pabila rusak dan kotornya tembok, dapat kita perbaiki dengan menambal dan mengecetnya kembali hingga menjadi kokoh dan indah dipandang, rusaknya penyangga rumah tempat tinggal, dapat kita perbaiki dan bangun kembali dengan menggunakan kayu jati berkualitas tinggi sehingga mampu kokoh berdiri berabad lamanya, namun pabila tergerus dan runtuhnya kewibawaan diri, hanya mampu dibangun dan dibangkitkan kembali melalui tarak brata. Sukur seandainya Sinuwun berkesempatan, maka laksanakanlah triratya. Selama tiga hari tiga malam, harus disingkirkan kobar nafsu dari panca indra. Hindarkan kesegaran toya (air), jangan sampai terkena panas karena dayanya agni (api), jangan sampai terhembus nyaman diri karena dayanya maruta (angin). Singkatnya Sinuwun tidak diperkenankan untuk tidur, makan dan minum serta keluar dari sanggar sembahyang. Dan pada saat-saat itulah, heningkan cipta dan bererahlah kepada Sang Penguasa Alam serta memohon kehendakNya untuk dapat memenuhi keinginan Sinuwun melalui petunjuk yang diberikan. Mudah-mudahan apa yang Sinuwun Prabu harapkan yaitu segera memperoleh anak keturunan dapat segera terlaksana”

“Ee … Jagat wasesaning Batara ! Terbuka rasa hatiku. He … Patih Tameng Gita !”

“Daulat Tuanku”

“Mulai saat ini, aku perintahkan engkau menjaga kraton ini agar dalam keadaan diam. Pabila ada tamu yang berkehendak menemuiku, dipersilahkan untuk menundanya lain waktu. Pabila ada yang berkehendak memaksa memasuki istana ini, aku berikan kewenangan di pundakmu. Dan upayakan agar di dekat sanggar sembahyang ini terbebas dari gangguan baik suara ataupun hal lain yang dapat mengganggu tarak brataku. Apa bila hal itu masih terjadi sedangkan aku belum menyelesaikan selama tiga hari tiga malam, jiwamu menjadi taruhannya”

“Sendika dawuh Sinuwun !”

Maka berkemaslah Prabu Dasarata untuk melaksanakan apa yang tadi telah disarankan oleh Begawan Wasista. Dimasukinya sanggar sembahyang dengan kemantaban niat dan keyakinan hati untuk berusaha memperoleh petunjuk Yang Maha Kuasa. Di pasrahkan jiwa dan raga untuk berharap kemurahan Sang Pencipta. Selama tiga hari tiga malam, mata hatinya hanya tertuju kepada satu tekad saja. Di hilangkan rasa rindu kepada istri-istrinya, terhadap senyum manis Dewi Ragu, kenes manja Kekayi dan cantik manisnya Sumitra. Dibuang jauh-jauh hasrat ingin bercumbu rayu dengan mereka, mereguk kenikmatan bercinta, bermesra seraya berbagi rasa. Pun di buang sejenak pikiran untuk mengelola negara, menghidupi rakyat dalam kemakmuran, menegakkan hukum terhadap para pecundang, dan segala upaya untuk juga kejayaan negara.

Dilupakan rasa perih ulu hati karena perut tiada diisi, dinyalangkan matanya meskipun dalam gelap, di paksakan kesadarannya meskipun lelah dan kantuk berupaya menghampiri. Semua tekad dikumpulkannya demi tujuan utama untuk kemuliaan diri, keluarga dan negaranya.

Perjuangan tiada kenal lelah Prabu Dasarata akhirnya usai sudah. Genap tiga hari tiga malam menyepi diri dalam sanggar sembahyang, dirasakannya hatinya rasa tenang dan tentram. Dirasakannya Sang Penguasa Alam telah mendengar semua permohonannya, hingga apa yang kini dipandangnya nampak lebih indah.

Sesaat kemudian ada hasrat yang mendorongnya untuk segera menemui istrinya yang pertama, Dewi Ragu. Dewi Ragu yang melihat kedatangan suami dan junjungannya segera menyambut dengan tergopoh-gopoh namun terbayang kebahagiaan di wajah ayunya :

“Aduh … Sinuwun Prabu mengapa datang tiada menyampaikan warta terlebih dahulu. Yang hamba dengar, kakanda sedang melaksanakan tarak brata selama tiga hari tiga malam dan sepertinya kakanda telah menyelesaikannya.

“Benar Nimas Ratu”

“Pasuryan, wajah kakanda nampak lebih bersinar sehingga membuat nampak semakin gagah menawan saja Kakanda. Hati Dinda menjadi tak karuan rasanya”

“Mungkin ini adalah petunjuk dari Sang Maha Agung yang tlah diberikan kepada Kanda hingga kakiku rasanya berjalan sendiri menuju kesini. Adakah engkau akan menerima diriku ini Dinda ?”

“Mana pernah hamba menolak kehendak Kanda. Rasa cinta yang tertanam dalam hati ini tlah mengakar menghunjam dalam dan tlah memenuhi hati Dinda, sedikitpun tiada tersisa untuk yang lain. Tak melihat Kanda Prabu hanya beberapa hari saja, rasanya rindu ini tlah menggumpal tak tertahan. Betapa tersiksanya Kanda ! Namun, tadi, saat melihat Kanda Prabu datang, lepas sudah rindu menyiksa berganti dengan bahagia tiada terkira”

“Begitupun diriku Dinda Ratu. Apakah engkau telah persiapkan bahtera penuh keindahan yang menuju puncak kenikmatan dan kebahagiaan kita ?”

Dan dengan tersenyum malu dan manja kemudian Dewi Ragu menggandeng tangan kekasih hatinya itu ke dalam guna “andum katresnan”

Hari demi hari berlari, waktu demi waktu memburu dan akhirnya berita gembira muncul dari mulut Sang Permaisuri Dewi Ragu bahwa dirinya telah hamil. Betapa gembiranya hati Prabu Danaraja mendengar berita itu. Segera dirinya bergegas menuju sanggar sembahyang untuk menyampaikan terima kasihnya kepada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s