Ramayana [2]


Kekayi-Dasarata-Ragu-Sumitra

Sebagai keturunan langsung dari raja Ayodya, maka keterikatan dan rasa cintanya kepada tanah kelahiran yang membesarkannya, tentu tidak perlu dipertanyakan lagi keabsahannya. Apalagi Dewi Ragu pernah mengalami pahit getirnya kehidupan, saat negaranya diporak porandakan oleh bala pasukan dari negri Ngalengka dan menyaksikan bagaimana ayahnya dan mantan suaminya di bunuh secara kejam oleh Rahwanaraja. Dan pada dasarnya, Dewi Ragu memang memiliki sifat terpuji, tenang dalam pembawaan, welas asih dan cenderung lebih suka mengalah untuk menghindarkan pertikaian.

Lain halnya dengan istri Dasarata yang kedua, Dewi Kekayi. Kekayi adalah putri Prabu Kekaya, raja negara Padnapura. Menurut cerita, Dewi Kekayi sebenarnya adalah putri Prabu Samresi, raja Wangsa Hehaya yang mati terbunuh dalam pertempuran melawan Ramaparasu. Dan Dewi Kekayi yang masih bayi pada saat itu, berhasil diselamatkan oleh emban Matara dan kemudian diangkat anak oleh Prabu Kekaya.

Hingga pada suatu saat, di sebuah peperangan yang melibatkan Prabu Dasarata, Kekayi menanamkan budi kepada Raja Ayodya. Ditengah ramainya pertempuran, tak sadar salah satu roda kereta yang dibawa oleh Prabu Dasarata terlepas. Sebenarnyalah Kekayi sangat pandai dalam ilmu peperangan dan saat menghadapi saat kritis tersebut, Kekayi menyelamatkan jiwa Prabu Dasarata dengan menggunakan jarinya untuk menahan roda agar tidak terpisah dari poros kereta. Setelah perang usai dan memperoleh kemenangan, Dasarata melihat bahwa tangan Kekayi mengeluarkan darah begitu banyak. Menyaksikan pemandangan yang menyedihkan dan mengharukan itu, Dasarata diliputi oleh rasa cinta yang meluap-luap dan begitu bangga akan keberanian serta pengorbanan Kekayi, sehingga kemudian Ia berkata:

“Kekayi, engkau boleh minta dua hadiah sekarang, terserah apa saja yang engkau inginkan, dan aku akan berusaha dengan jalan apapun untuk memenuhinya”.

Dasarata tidak menentukan hadiah apa yang boleh diminta Kekayi. Dan Kekayi dengan cerdik menolak mengungkapkan pada saat itu dan mengatakan bahwa pada saatnya kelak akan menagihnya. Seorang pria mencintai kekasihnya paling banyak, mencintai istrinya paling baik, tapi mencintai ibunya paling lama (A man loves his sweetheart the most, his wife the best, but his mother the longest, Irish Proverb kata bijak dari Irlandia). Dasarata begitu tersentuh oleh pengorbanan Kekayi sehingga dengan tanpa berpikir panjang langsung menyetujuinya. (Kelak, keteledoran Dasarata inilah yang menyebabkan petaka di Ayodya)

Dan di dasar hati Kekayi, telah lama muncul keinginan atau ambisi untuk menurunkan raja-raja melalui anak turunnya. Keinginan terpendam itulah yang kemudian mempengaruhi perilakunya menjadi seorang yang angkuh dan cenderung ingin menang sendiri.

Sementara istri ketiga dari Prabu Dasarata adalah Dewi Sumitra yang dikenal pula dengan sebutan Dewi Priti. Ia putri dari Prabu Ruryana, raja negara Maespati, yang berarti adalah cucu dari Prabu Arjunawijaya atau Prabu Arjunasasra dengan permaisuri Dewi Citrawati. Dewi Sumitra berwajah sangat cantik dan memilki sifat dan perwatakan sangat setia, murah hati, baik budi, sabar, jatmika (penuh sopan santun) dan sangat berbakti.

Latar belakang ketiga istri Prabu Dasarata yang berbeda itulah yang menyebabkan kekurang harmonisan diantara mereka. Namun sebenarnyalah, perilaku Kekayi yang selalu mencurigai sikap para madunya, terutama Dewi Ragu, yang menyebabkan hubungan menjadi tidak baik. Dewi Ragu dan Dewi Sumitra sendiri, pada dasarnya tidak merasa ada persaingan diantara mereka, dan percikan-percikan api yang kemudian diketahui oleh masyarakat umum, tidak lain adalah karena perilaku Dewi Kekayi semata.

Dan di pasewakan agung itu, Prabu Dasarata kembali merenung bahwa kemungkinan hal itu terjadi adalah lantaran mereka semua belum memiliki anak yang akan dapat mengalihkan perhatian untuk menumpahkan kasih sayang kepada keturunannya. Menyadari hal ini, kembali Prabu Dasarata merenung dan merasakan kelemahan diri sebagai seorang suami yang tidak mampu memberi kebahagiaan kepada istri-istrinya. Mengingat hal ini, kemudian dia berkata kepada Begawan Wasista, resi Negara Ayodya yang selalu setia mendampinginya memberi nasehat dan solusi bagi segala permasalahan yang di hadapi

“Resi Wasista, apakah ini adalah bencana yang ditimpakan oleh dewata kepadaku dan negri Ayodya sehingga mengalami hal seperti ini ?”

“Duh Sinuwun, dewata yang agung tidak akan memberikan hal-hal yang buruk kepada kita apalagi bila kita sebagai manusia yang hidup di dunia ini selalu pasrah dan menyerahkan segala yang terjadi kepada kekuasaan Yang Maha Agung”

“Lalu apa pendapatmu terhadap permasalahan yang tengah menggelayuti Ayodya. Mendung seakan tengah menggantung di bumi Ayodya dan menimbulkan kegelapan yang mengusik ketentraman yang selama ini kami rasakan. Dapatkah engkau memberi pandangan terhadap permasalahan ini ? Pertama, ketidakharmonisan istri-istriku yang sebenarnya aku selaku pemimpin negara Ayodya merasa malu terhadap rakyat-rakyatku mengetahui bahwa mereka memperbincangkan hal ini. Dan aku selaku suami mereka seharusnyalah yang bertanggung jawab untuk mendamaikannya. Kedua, sudah beberapa tahun mereka aku nikahi tapi hingga sekarang belum ada tanda-tanda salah satu dari mereka mengandung anak-anak yang begitu aku harapkan. Resi Wasista, apa solusi yang engkau hendak sampaikan kepadaku ?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s