Ramayana [1]


Silsilah Lokapala

Mendung di bumi Ayodya

Ada sebuah istana bagaikan surga, dipenuhi oleh orang-orang bijak serta luhur perbuatan, di Ayodhya-lah yang cukup terkenal di dunia, itulah istana Sri Baginda Prabu Dasarata

Keindahan surga benar-benar terkalahkan, oleh puri Ayodhya yang tiada bandingannya, di sana selalu dalam keadaan aman sentosa, pada waktu musim hujan maupun pada musim kemarau

Berbagai batu-batuan mulia, emas perak beserta permata terdapat di sana, itu laksana gigi keraton Ayodhya yang putih, seolah-olah tersenyum, surga dapat dikalahkannya

Ada sebuah balai yang bertahtakan permata, dikelilingi oleh taman yang sangat menakjubkan, tempat para gadis-gadis bercengkerama, bagai bidadari di gunung Mahameru (Himalaya)

Permata manik-manik tak terbilang banyaknya, semua berkilauan terletak pada balai peninjauan, seperti sungai Gangga dari gunung Himawan, kelihatan berkilauan dan sungguh menakjubkan

Ada seorang Raja besar, dengarkanlah. Terkenal di dunia, musuh baginda semua tunduk. Cukup mahir akan segala filsafat agama, Prabu Dasarata gelar Sri Baginda, tiada bandingannya

Beliau ayah Sang Triwikrama, maksudnya ayah Bhatara Wisnu yang sedang menjelma akan menyelamatkan dunia seluruhnya. Demikian tujuan Sang Hyang Wisnu menjelma menjadi manusia.

(Dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana)

Dan pada saat itu memang negri Ayodya sangat terkenal sebagai negara besar yang dikagumi dan dihormati oleh kawan dan disegani oleh lawan. Rakyatnya hidup aman, tentram dan makmur dibawah pemerintahan rajanya, Prabu Dasarata.

(Tak heran dalam sebuah versi tentang asal-usul pemberian nama kota Yogyakarta, bila pendirinya yaitu Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwana I memberi nama kerajaan dengan kata Yodya dengan harapan agar Yodya menjadi aman dan tentram yang kemudian di tambahkan dengan kata “karta” yang berarti makmur. Kemudian ditambahkan pula dengan “Hadiningrat” dan seiring dengan berjalan dengan waktu hingga sekarang terkenal dengan sebutan Yogyakarta Hadingingrat)

Namun saat ini Ayodya tengah di selimuti oleh mendung. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Sang Raja, Prabu Dasarata. Telah menjadi rahasia umum, bahkan telah menjadi pembicaraan rakyat luas bahwa telah terjadi ketidak harmonisan di dalam istana kerajaan. Dan Prabu Dasarata-pun menyadari hal tersebut.

Dan untuk memastikannya saat di pasewakan agung yang dihadiri oleh para pejabat negara Ayodya, ketika hal itu ditanyakan kepada Patih Tameng Gita, tanpa tedeng aling aling, Sang Patih mengungkapkan hal tersebut dengan gamblang bahwa rakyat melihat sesuatu yang kurang baik terhadap hubungan antara tiga orang permaisuri Sang Raja. Hubungan yang kurang harmonis antara ketiganya terlihat sangat kentara. Apakah ada persaingan antara ketiga istri Prabu Dasarata ini ?

Seperti diketahui, bahwa Prabu Dasarata mempunyai tiga orang istri yaitu Dewi Ragu, Dewi Kekayi dan Dewi Sumitra.

Dewi Ragu (pedalangan Jawa) dikenal pula dengan sebutan Kusalya atau Dewi Sukasalya (Pustaka Raja). Ia putra Prabu Banaputra, raja negara Ayodya dengan permaisuri Dewi Barawati, putri Prabu Banawa. Dewi Kusalya berwajah sangat cantik, anggun penampilannya dan diyakini sebagai titisan Bathari Sri Widowati.

Saat berusia remaja, Dewi Kusalya menderita penyakit lumpuh yang tak tersembuhkan oleh para tabib. Prabu Banaraja akhirnya mengeluarkan sayembara, barang siapa yang dapat menyembuhkan penyakit Dewi Kusalya dialah yang akan menjadi jodohnya. Penyakit Dewi Kusalya akhirnya dapat disembuhkan oleh Resi Rawatmaja, brahmana dari pertapaan Puncakmolah yang memiliki Cupu Astagina beriisi air mujarab Mayamahadi pemberian Sanghyang Narada. Secara garis keturunan, Resi Rawatmeja terhitung masih paman sendiri.

Peristiwa tersebut membangkitkan amarah Prabu Dasamuka raja negara Alengka yang langsung menyerang Ayodya, membunuh Prabu Banaputra. Prabu Dasamuka juga mengejar Dewi Kusalya ke pertapaan Puncakmolah dan membunuh Resi Rawatmaja. Dewi Kusalya yang berhasil meloloskan diri akhirnya sampai ke pertapaan Yogisrama, di hutan Dandaka meminta pertolongan Resi Yogiswara. Di pertapaan Yogisrama itulah Dewi Kusalya bertemu dengan Dasarata, calon suaminya yang telah ditetapkan oleh Dewa.

Dewi Kusalya kemudian dinikahkan dengan Dasarata oleh Resi Yogiswara. Setelah itu mereka kembali ke negara Ayodya untuk membangun negara itu dari puing-puing kehancuran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s