Wawancara eksklusif bersama Arjuna (27)


panakawanjpg

Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang melihat keadaan itu, tergopopoh-gopoh mendapatkan momongannya yang tergeletak tak berdaya. Petruk memijit mijit kaki, sedangkan Bagong mengipas-kipaskan daun waru ke tubuh Pamade. Semar yang sedikit banyak mengerti cara mengatasi masalah pengobatan sibuk memijit dan mengurut tubuh Pamade. Tak lama kemudian Pamade sadar dan membuka matanya.

Melihat momongannya membuka mata, Semar segera menghujani pertanyaan menyangkut sebab musabab peristiwa yang terjadi. “Eeh sampeyan kenapa ini? Bagaimana ini bisa terjadi? Sudah terbiasa sampeyan melawan para raksasa berapa ribu-pun tidak terjadi seperti ini. Apakah sampeyan terkena taring dari para raseksa yang menghadang tadi?”

“Kalaupun aku digigit oleh para raksasa, tidak akan terjadi, taring raksasa itu melukai kulitku”.

“Gimana tadi gus, kenapa bisa terjadi seperti itu?” Begitu juga Gareng dan Bagong ikut menambahi pertanyaan-pertanyaan konyol.

“Kakang, bagaimana aku bisa seperti ini, kakang, Aku tidak kuat bergerak, semua badanku terasa ngilu. Kepala ini terasa berdenyut dan keringat dingin mengalir disekujur tubuh ini”. Dengan masih tetap berbaring, Pamadi menijit kepalanya yang masih juga terasa berat dan pening.

“Eeeh ampuh omongan Surtikanti. Sampeyan-lah yang sebenarnya bersalah. Pada saat ndika hendak pergi waktu itu kan telah diajak mampir oleh putri putri Prabu Salya, Surtikanti dan Banuwati. Sampean tidak mau, ketika diajak oleh Sutikanti. Tetapi ketika diajak mampir oleh Banuwati, sampeyan nurut. Itulah yang membuat Surtikanti kecewa dan menyumpahi sampeyan. Kalau sampeyan lapar jangan sampai menemukan makanan, kalau kehausan jangan sampai menemukan air walau seteguk. Marilah kita berjalan lagi tinggal selangkah lagi kita bakal menemukan pedesaan. Dan disana pasti kita dapat menemukan orang yang memasak makanan. Nanti disana, saya akan mencarikan orang yang mau memberi kita makanan” Semar masih mengingatkan peristiwa tadi dihubungkan dengan kata serapah Surtikanti ketika di Mandaraka.

“Aduh kakang, aku sudah tidak kuat lagi bangun”. Pamade masih mengeluhkan apa yang dirasa. Semar berpikir sejenak, bagaimana caranya mengatasi keadaan yang terjadi tiba-tiba ini.

Sejurus kemudian dipanggilnya ketiga anaknya, “Toleee, Petruk Gareng dan Bagong, ayo kita gendong momongan kita ketempat yang teduh dibawah pohon gendayakan itu”.

 

Ketiganya kemudian menggotong tubuh momongannya yang memang sangat lemah itu.

Setelah keadaan menjadi lebih baik, Semar kemudian mengumpulkan ketiga anaknya, agar mendekat dan berrembug mencari pemecahan bagaimana jalan keluar dari persoalan itu

Tolee aku benar benar bingung merasakan keadaan momongan kita. Lho kok bisa terjadi seperti itu, kalau hanya tidak makan beberapa hari kemarin, rasanya nggak bakal seperti itu kejadiannya”.

Petruk kemudian memberikan pandangan kepada bapaknya yang sekiranya bisa dijadikan dasar pemikiran selanjutnya, “Tetapi mungkin  ini sebenarnya karena ampuhnya kata-kata orang yang dibuat kecewa”.

“Sekarang usaha kita bagaimana?” Tanya Semar, yang kemudian disambungnya. “Cara kita bagaimana supaya  kita secepatnya mendapatkan makanan?”.

“Kita masak nasi saja Ma? “Gareng mencoba mengusulkan. Kemudian ia melanjutkan idenya, ‘”Supaya kita dapat cepat dapat makanan, kita masak nasi saja. Kalau masalah lauk itu belakangan. Yang penting nasi harus ada. Kalau dalam keadaan kepepet, kecap sama bawang-pun bisa menjadi lauk yang enak”.

“Kalau gitu ayoh cepat cepat masak nasi, kamu bawa beras? “Semar cepat menjawab dengan tidak banyak pikir.

“Nggak bawa kok. Kalau ada, ya pasti kita sudah dari kemarin kita masak buat momongan kita”. Jawab Gareng kemudian

Semar diam karena jawaban Gareng yang tidak masuk akal. Kemudian dipanggilnya nama anaknya yang lain, “Petruk, bisanya kita dapat makan kita harus bagaimana?”

“Cari!’

“Dimana?”

“Ketempatnya”.

“Kamu sudah tau tempatnya?”

“Belum”. Jawab Petruk tidak memecahkan masalah. “Bagaimana kita cari makan kalau kita sendiri juga sudah kecapaian begini?!”

Sekarang dipanggilnya Bagong, walaupun Semar sudah menduga, kalau kali ini juga Bagong pasti juga jawabanya tidak akan memuaskan, “Bagong!?”

“Apa?”

“Bagaimana supaya kita dapat makan gimana Gong?”

“Nyuri!” usul Bagong dengan wajah lugunya. Lha gimana kita dapat makan kalau kita sekarang juga dalam keadaan lapar begini kok ditanyai”.

Tetapi sejurus kemudian Semar semringah. Ia telah menemukan cara bagaimana mengatasi masalah. “Gini saja, kita cari makan tapi dengan cara yang halal. Kita akan ngamen Jantur. Kamu tau apa itu Jantur?”

“Lho menghina?!’ Aku ini orang yang penuh dengan kesusasteraan. Jantur, dapat dari kata Jan dan Tur. Tukijan rumahnya di mBatur.” Petruk menjawab asal-asalan, begitu juga Gareng dan Bagong masing masing menyampaikan arti kata jantur. Semuanya ngaco.

Semar menyalahkan omongan anak-anaknya, katanya, “Oooh goblok. Jantur itu artinya cerita. Aku mau ngamen dengan bertutur cerita, dan nanti akan aku barengi dengan sulapan”.

Maka ketika mereka sudah sepakat, keempat panakawan itu segera menyiapkan perlengkapan ngamen. Berbekal arah adanya asap yang mengepul yang kelihatan dari dalam hutan, mereka berangkat kearah pedesaan yang terdekat.

Setelah sampai di pedesaan pinggir hutan, mereka mulai menggelar kemampuan mereka dengan cerita dan banyolan kadang disertai dengan nyanyian dan joged. Mereka berjalan sambil mengamen dari rumah ke rumah, dari desa ke desa,  hingga sampailah mereka di padukuhan yang bernama Widarakandang. Sebuah desa yang terhitung agak besar dan berpenduduk lebih banyak banyak. Tidak heran, karena keadaannya lebih baik dibanding desa tetangga karena kesuburan dan keasrian alamnya.

Disebuah rumah demang Widarakandang, berdiam Putri Raja Mandura bernama Dewi Bratajaya. Dialah adik dari Kakrasana atau sebagai pertapa bernama Wasi Jaladara. Tinggal pula disitu kakak Bratajaya yang lain, Narayana, putra kedua dari Prabu Basudewa. Tetapi Narayana adalah seorang yang senang berpetualang menunutut ilmu kepada orang-orang sakti, sehingga banyak waktunya yang ia habiskan diluar Widarakandang. Narayana bersahabat erat dengan anak sulung Nyi Demang yang lain, yang bernama Udawa. Narayana selalu mengajak Udawa kemana ia pergi.

Saat ini Bratajaya diperintahkan oleh ayahnya Prabu Basudewa agar bertapa ngrame. Sebuah ritual tapa yang dijalankan bukan dengan duduk tepekur, tetapi melakukan kerja bakti untuk siapapun yang membutuhkan pertolongan. Di Widarakandang itulah mereka menetap, tepatnya di kediaman keluarga Demang yang bernama Antyagopa dan istrinya yang bernama Nyai Sagopi.

Pada saat itulah Bratajaya sedang duduk bersama teman yang dianggap saudara perempuannya (yang sebenarnya adalah anak biologis dari Prabu Basudewa) yang bernama Ni Ken Larasati. Ia adalah anak dari Nyi Sagopi.

“Larasati, sudah berapa lamakah kanda Kakrasana bertapa di Argaliman, Larasati?” Kata Bratajaya yang dari tadi diam melamun.

“Sudah sekitar empat puluh hari dan empatpuluh malam putri. Hari inipun seharusnya Kakang Wasi Jaladara pulang ke Widarakandang”

“Begitu sentosanya kakang Wasi Jaladara wadag dan jiwanya. Kesentosaan jiwa dan raga Kakang Wasi Jaladara telah tertempa di Widarakandang sebagai seorang petani dan kesentausaan jiwanya  karena olah tapa di Argaliman, adalah bekal yang teramat berharga bila nanti menggantikan rama Prabu Basudewa setelah surut kelak.’”

Demikian keduanya saling berbicara mengenai keadaan kakak sulungnya dan juga dirinya yang sedang dalam perintah ramandanya, untuk menjalankan tapa ngrame. Sampai kemudian panakawan yang sedang ngamen datang di depan rumah, sambil memainkan peralatan sederhana mereka.

“Larasati, siapakah mereka yang datang itu?” Tanya Bratajaya ketika ia melihat keramaian dihalaman

“Siapa disitu? “ Larasati yang berjalan ke halaman bertanya kepada para panakawan yang cengar-cengir mendekat.

“Saya tukang ngamen”

“Amen apa?”

“Semua macam tontonan ada termasuk sulap”. Jawab Petruk

“Berapa ongkos nanggap-nya?”

“Saya yang memutuskan berapa ongkos ngamen. Anak anak itu saya yang ngatur.”  Semar maju mendekat dan menjelaskan.

“Baiklah, kalian saya tanggap”.

Maka mulailah mereka ramai menyanyi dan melagukan tembang-tembang pembuka.

Setelah itu Larasati menanyakan kemampuan lain dari para penakawan. Sekalian juga menanyakan upah untuk mbarang amen seperti yang hendak mereka tampilkan.

“Saya tidak minta upah yang mahal-mahal. Tapi omong-omong yang punya rumah ini sampeyan atau yang sedang duduk itu?”  Kata Semar meminta penjelasan.

“Yang punya rumah itu adalah Dewi Bratajaya”. Jawab Larasati sambil menunjuk ke arah Bratajaya

“Sebaiknya yang memberi perintah yang punya rumah saja”.  Semar meminta.

“Baiklah. Putri silakan memberi perintah para pengamen ini dan minta kesepakatan mengenai ongkos ngamennya”.

“Baiklah Larasati  . . . . . “ Bratajaya memutuskan,” Kalau aku ingin mendengarkan dongeng dan sulapan ongkosnya berapa?”

“Sebetulnya nggak usah pake duit saja putri, saya diberi nasi lengkap dengan lauknya saja. Lauknya apa saja, asal semuanya enak. Tempatkan semua itu di satu tampah besar. Itu sudah cukup”.

“Baiklah, Larasati, ambilkan sesajen yang ada di sanggar pamujan itu, untuk diberikan kepada para pengamen”.

Demikianlah, tontonan mulai digelar, sementara Larasati setelah menyiapkan perlengkapan ongkos kerja, yang kemudian segera menemani Bratajaya mengamati kelucuan tontonan.

Kula miwiti carita

Dongeng wantah minangka ajejampi.

Kinidung ing basa tanggung (KI)

Narbuka ing budaya (NAR)

Tata titi tatane sampun kacakup (TA)

Saboboting crita cekak (SAB)

Dadi sengsem kang mrikasani (DA)

Semar memulai unjuk kemampuan dengan sebait kidung. Disusul dengan sulapan yang konyol. Larasati yang melihat kekonyolan itu, menertawakan polah tingkah panakawan dengan sulapannya yang serba amatiran.

Ketika Semar memeragakan sulapan daun kelapa muda yang diubah menjadi seekor ular, kaget dan ketakutan Dewi Bratajaya, yang kemudian pingsan dan diangkat oleh para abdi keruang dalam. Sementara dalam kekalutan suasana itu, anak-anak Semar segera mengemasi semua makanan dan membungkus bersama sehingga menjadi satu tumpukan, malah makanan yang ada dilumuri pasir dan debu oleh Semar. Anak anaknya yang heran dengan perlakuan ayahnya bertanya-tanya, tapi Semar tidak menggubris.

Gembira Pamadi, ketika Semar beserta anak-anaknya telah sampai dihadapannya, yang kemudian bertanya, “Kamu peroleh dari mana makanan itu kakang Semar?”

“Saya dapatkan dari pedukuhan terdekat dari hutan sini. Namanya Pedukuhan Widarakandang. Disitu ada dua wanita cantik yang berdiam di kademangan. Dari situlah kami mendapatkan makanan itu”. Jawab Semar menjelaskan dengan demikian benderang

Nasi beserta lauk itu segera digelar dihadapan Pamadi. Namun begitu melihat ujud nasi yang sudah menyatu dengan lauk bahkan tercampur pasir, timbul kemarahan Pamadi. Tanpa diduga oleh para Panakawan, Pamadi segera menghunus pusaka, dan berjalan cepat malah hampir setengah berlari, mendatangi tempat yang disebutkan oleh Semar.

“Rama, bagaimana ini? Tidak urung tidakanmu mencampur nasi dengan lauk sama pasir itu bakal berakitbat pembunuhan.” Petruk bertanya setengah menyalahkan Semar.

“Coba lihat. Jawab Semar sambil memandang ketiga anak-anaknya, Tadinya momongan kita bergerakpun tidak kuasa, tetapi setelah melihat ujud nasi yang aku berikan, ternyata ia bisa berdiri bahkan berlari secepat itu. Itu artinya ia sudah tidak lagi lapar”.

“Yang sudah berhenti lapar itu nggak aku pikir, tapi kalau ada peristiwa pembunuhan bagaimana? “Tanya Petruk dengan wajah kawatir.

Tapi Semar tetap senyum saja dan menjawab enteng, “Ya biarkan saja, pasti ada yang berwajib yang menangani. Tapi daripada kita hanya menduga duga, ayo kita nyatakan apa yang terjadi di Widarakandang nanti”. Tergesa-gesa, para panakawan berlari mengikuti arah Pamade.

Maka Semar dan anak-anaknya menyusul jejak tujuan ke Widarakandang. Gareng berlari terpincang, Petruk berlari tersuruk-suruk. Sedangkan Bagong dan Semar terbirit birit membawa badannya yang kegemukan. Walau sekencang apapun Pamadi berlari, namun ia tersusul oleh para panakawan, karena jelas para panakanawan telah langsung menuju ketempat peristiwa ngamen terjadi.

Berdebaran mereka melihat peristiwa yang tejadi dihadapan mereka, Pamadi sedang menghunus pusakanya berhadapan dengan dua orang wanita, Bratajaya dan Larasati

Gemetar menahan marah, Pamadi bertanya, “Siapakah yang memberiku nasi lewat Kakang Semar Badranaya?”

“Semar Badranaya itu siapa? “Tenang Bratajaya menjawab, sementara Larasati memandang Pamadi ketakutan dibalik punggung Bratajaya.

“Pamomongku yang tadi datang ngamen kesini”. Pamadi memberi penjelasan dengan masih menahan kemarahannya. Sementara Larasari yang telah sadar dengan apa yang terjadi, berlari kedalam rumah mencari pertolongan sambil berteriak

“Terus terang saja, aku yang memberi”. Bratajaya masih bersikap tenang.

“Gegabah dengan Pamade, aku sobek perutmu”. Pamadi yang diliputi kemarahan bergerak maju. Tetapi pada saat bersamaan, keluar dari dalam rumah seorang pemuda bertubuh perkasa dengan kulit yang berwarna merah tembaga dan mempunyai sorot mata yang sangat tajam.

Dialah Wasi Jaladara, nama lain dari Raden Kakrasana, putra sulung dari Prabu Basudewa, raja di Negara Mandura. Pemuda berbadan sentosa dan berkulit bule ini baru saja pulang dari bertapa di Argaliman, memenuhi kehendak hati yang didorong oleh sifat satria pinandita dan juga direstui oleh kebijaksanaan ayahndanya di Mandura.

Kaget mendengar teriakan Larasati yang terburu-buru masuk ke dalam ruang tengah, Jaladara segera menyongsong kedatangan Larasati dengan menghujani pertanyaan seputar ketergesaannya menemui dirinya.

“Ada apa teriak teriak menggangguku, ada apa dengan adikku Rara Ireng?” Kata Jaladara menanyakan kepada Larasati perihal teriakannya, yang menyebut nama Bratajaya. Memang, Lara Ireng adalah panggilan sayang sang kakak, Jaladara, kepada adik bungsunya, Bratajaya atau Sumbadra.

Ketika Jaladara keluar, segera Bratajaya berbalik menubruk kakaknya, mengadukan perihal apa yang terjadi, “Aku dikejar kejar lelaki, kakang!”

“Keparat . . . Sudah bosen hidup rupanya orang itu. Menyingkirlah aku akan hadapi.  Kakrasana segera menyisihkan adiknya dan menghadapi orang yang disebut mengganggunya.

Tapi setelah berhadapan, kemarahan Kakrasana menjadi buyar berganti dengan rasa heran. Pamadi-lah yang tampak dengan senjata terhunus. “Heh kamu Pamadi. Aneh kalau kamu tidak kenal saudara tuamu Bratajaya. Kamu kesini mau apa?

Pamadi yang juga kaget oleh adanya Kakrasana yang dikenalnya adalah Putra Mahkota Mandura terdiam. Keheranan juga muncul oleh peristiwa yang dianggapnya aneh, hingga mempertemukan kerabat Mandura ada di sebuah kademangan kecil, Widarakandang.

Tak lama kemudian, Pamadi menceritakan apa yang telah terjadi hingga ia marah dan mendapatkan orang yang memberinya makanan yang sudah tidak layak makan.

“Benar apa yang Pamadi katakan, Rara Ireng?”

“Kakang, tanyakan ke Larasati, nasi dan lauknya itu tadinya ada di tempat sanggar sesuci Kakang Kakrasana. Semua makanan yang ada disitu semuanya enak dan pantas dimakan orang”. Bratajaya mendesak kakanya untuk menanyakan kebenaran cerita itu kepada Larasati.

Larasatipun berkata dengan sejujurnya mengenai keadaan makanan yang diberikan kepada Semar Badranaya.

“Lho, semua yang dikatakan Bratajaya makanan itu, semuanya enak. Bagaimana ini bisa terjadi?” Tanya Kakrasana.

“Aku tidak merasa memberikan makanan bercampur pasir!!. Jawab Bratajaya yang dari tadi menggelendot ditubuh kakaknya, Jaladara.

Suasana sebentar menjadi hening, karena teka teki seputar makanan yang menyebabkan Pamadi menjadi marah. Semar yang dari tadi diam, kemudian maju menjelaskan sebenarnya yang sudah terjadi, “Ya, kalau ada yang salah, saya minta maaf. Sayalah yang mencampurnya dengan pasir. Sebenarnya makanan yang berasal dari Putri Bratajaya dalam keadaan baik. Tetapi sengaja aku campur dengan pasir. Saya Cuma menyesalkan, momonganku ini tidak meniru leluhurnya dulu, Bambang Sakri, Bambang Sekutrem, Palasara hingga Panembahan Abiyasa dan kemudian Pandu Dewanata, yang bisa sebegitu lama tidak makan dan tidak kehausan walau tidak minum seteguk airpun. Tapi ini, tidak makan tiga hari kok pingsan? Bila satria yang mempunyai cita-cita, kemudian berhenti hanya karena lapar,  lha apa gunanya tapa bertahun tahun. Bila itu yang terjadi, akhirnya semuanya yang telah didapat menjadi tawar, tidak berguna”.

Pamadi merasa terpukul oleh kata-kata pemomongnya. Dipegangnya pundak Semar dan kemudian berkata dengan nada menyesal, “Kakang, semua kesalahku aku minta maaf. Kalau tidak ada kamu, entah apa yang akan terjadi terhadap aku”

Semar terdiam sejenak, kemudian sambil memandang momongannya ia berkata, “Ya sudahlah, kalau sudah merasa akan kesalahan yang sampeyan buat. Saya hanyalah menjalankan darma sebagai pemomong yang tidak sekedar momong. Harus bisa menjadi orang tua, juga harus bisa menjadi pembantu. Dan juga harus menjadi penuntun langkah. Tadi itu sampeyan telah salah dalam langkah”.

Kakrasana yang dari tadi menjadi tidak mengerti awal mulanya memandang Pamadi dengan air muka yang mengandung pertanyaan. Pamadi yang dipandanginya mengerti akan kehendak tanya yang ada di mata Kakrasana, kemudian kata Pamadi, “Baiklah kakang Kakrasana, semua kejadian tadi, sebenarnya bermula dari putus asanya pikiran ini. Oleh sebab hamba sudah menjawab kesediaan hamba kepada uwa Prabu Salya, untuk mencari hilangnya putri Erawati. Sudah sebulan lamanya hamba mencari keberadaan kanda Erawati yang hilang diculik, tetapi sampai saat ini belum terlihat tanda tanda akan keberadaannya”.

Seperti melihat kilatan ndaru kebahagiaan, Kakrasana menjadi terang pikirannya. Kepekaan hati dan pikirannya yang begitu terasah oleh olah kapanditan yang baru saja dijalaninya, telah menuntunnya kearah takdir yang akan dihadapinya dimasa mendatang. Tetapi rasa kemanusiaannya menjadikannya masih menanyakan kembali apa yang didengar adik misannya, “Nanti dulu, tadi kamu bilang mau kemana?”

“Hamba bermaksud mencari dimana hilangnya bunga kedaton Mandaraka, kanda Erawati, yang sudah sebulan ini hilang dari tempatnya”.

“Terus bagaimana kata raja Mandaraka?” Pertanyaan Kakrasana makin memburu.

“Siapa yang dapat menemukan kanda Erawati, bila ia perempuan, akan dianggap sebagai saudara sekandung. Bila yang menemukan adalah seorang pria, ia akan dikawinkan dengan kanda Erawati”.

“Umpanya, aku yang menemukan, bagaimana?!” Jaladara semakin penasaran. Nalurinya yang tajam telah meyakininya apa yang akan terjadi hubungannya dengan Putri Mandaraka yang hilang  itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s