Wawancara eksklusif bersama Arjuna (25)


Kartapiyoga Erawati

“Manakah jalannya kanda?” Kata Pamadi. Sebenarnyalah, disamping kata kata Semar yang dari awal mengingatkan agar jangan sampai menyakiti hati wanita, kali ini Pamadi telah terpikat oleh kemanjaan Banuwati.

“Kamu tidak usah mencari kanda Erawati. Kamu beristirahat dahulu. Sedikitnya enam bulan saja, ya!”. Kembali Banuwati menandaskan.

“Baiklah Banuwati”

Maka demikianlah, Pamadi telah dalam tertancap panah asmara yang telah dilepas putri Mandaraka itu. Banowati yang begitu mempesona, telah menyeret Pamadi yang telah rebah itu, ke dunia muda yang belum pernah ia tapaki.

Bujuk rayu Banuwati telah menyebabkan semua yang ada di dalam benaknya sedikit demi sedikit baur yang akhirnya kabur. Pamadi tak bisa lagi membedakan apa yang benar menurut nalar dan jiwa kesatrianya. Kesediaannya untuk pergi mencari Herawati telah luluh terkena oleh gerojok bujuk manis yang begitu menghanyutkan jiwanya.

Maka keduanya telah bergandengan tangan menuju keputren dengan mesranya, layaknya dua orang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Rasa sungkan Pamade telah hilang. Panah asmara yang sebenarnya telah menancap pada jantung keduanya, telah menjadikan mereka dua orang asmarawan sejati. Saling colek dan saling kerling. Singkatnya benteng asmara Pamadi telah runtuh luluh oleh senyum mesra Banuwati. Begitupun dengan Banuwati, telah lantak rasa kepatutan sebagai wanita lajang. Pesona Pamadi telah menyeretnya jauh dari tatanan susila.

Demikianlah, semakin dalam rasa cinta keduanya telah memabawa mereka ke wilayah yang belum seharusnya mereka masuki. Makin jauh, semakin lupa mereka, bahwa keduanya belum boleh melakukan hal yang tabu. Semalaman mereka bermesraan seperti yang dilakukan oleh penganten baru. Malam dingin keputren Banuwati telah hangat, bahkan panas oleh kobar api asmara keduanya.

Maka ketika ayam jantan telah berkokok untuk terakhir kali dipagi itu, dan ayam betina telah ribut menggugah anak-anaknya dari bawah ketiaknya, Pamadi bangun gelagapan dari tidurnya yang hanya sekejap. Dari tirai tipis jendela kamar terlihat matahari telah mengintip dari balik cakrawala. Ia telah bangun kesiangan.

Banuwati yang terbaring disampingnya terlihat pulas. Dipandangi sejenak sosok indah berkulit kuning gading, yang masih diam berselimut sutera sekenanya. Namun kini kesadaran Pamadi mulai tumbuh. Tak hendak mengusik tidur wanita cantik yang pulas dengan bibir tetap tersenyum, Pamadi bangkit pelahan. Dipandanginya sosok Banuwati. Dalam hatinya ia berjanji hendak menemuinya lagi nanti setelah usai tugas dilaksanakan. Kenangan manis malam tadi, tak urung telah membekas dalam-dalam direlung hati Pamadi.

Masih tanpa membenahi dirinya, segera dicarinya para panakawan yang sudah bangun sedari tadi sambil menghadapi minuman hangat dan beberapa potong makanan ringan.

Melihat datangnya bendaranya yang dalam keadaan tidak tertata, Petruk menyambut dengan kata-kata,” nDara, mbok rambutnya disisir dulu, masak rambutnya awut-awutan gitu Kang Gareng, mbok kerisnya itu dibetulkan.”

Gareng yang enak enakan minum, tidak mau disuruh dan menjawab sekenanya, “Biarkan saja Truk, orang dianya mau seperti itu.”

“Aeh aeh . . . . Ini gimana ndara sebaiknya. Andika yang sudah janji dengan sinuwun Prabu Salya jangan sampai mengingkari. Mari kita semua berangkat”.Semar mengingatkan.

Mereka yang belum puas wedangan dipagi itu segera bebenah. Sisa sedikit kue yang belum dimakan segera dikantongi oleh ketiga anak Semar, kemudian cepat cepat diteguknya minuman hangat yang masih tesisa. Tetapi ketika hendak keluar dari petamanan, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan datangnya Surtikanti. Pamadi kagok kepergok oleh Surtikanti yang kemudian berkata dengan muka ditekuk.

“Permadi, keterluan kamu. Kamu benar-benar telah membuat sakit hatiku. Banyak hal yang telah kamu katakan sebagai dalih untuk menampik kemauanku agar kamu mau mampir di keputrenku. Kamu bilang bahwa kamu sedang menjalankan tugas. Tapi mengapa, ketika Banuwati mengajakmu mampir, kamu hanya menurut”.

“Aku mohon maaf, kanda Surtikanti”, Sela Pamadi. Tapi Surtikanti yang telah tertumbuhi dendam, tidak peduli dan melanjutkan kata katanya.

“Aku tidak terima. Sebab kamu telah membuat sakit hatiku, semoga jagad menjadi saksi akan sumpahku terhadapmu. Pertama, semoga usahamu menemukan kanda Herawati akan gagal. Kedua seandainya nanti kamu kelaparan kamu tak akan mendapat makanan. Sedang kalau kamu kehausan, tak akan kamu temukan air”.

Setelah mengucapkan kalimat itu Surtikanti berlalu dari hadapan Pamadi yang hanya berdiri diam menunduk. Sementara panakawan terbengong-bengong mendengar sumpah-serapah Surtikanti. Setelah peristiwa cepat itu berlalu, terdengar Semar memecah kesunyian.

“A-a-a-aaaah , itu adalah buah dari perbuatan andika yang tidak adil. Yang satu disakiti hatinya, sementara yang lain diperlakukan dengan manis. Ini sudah terlanjur”. Semar akhirnya berserah diri setelah semuanya diam.

“Oooooh gimana ini Gong, apa yang akan terjadi nanti setelah kita disumpahi semacam itu?” Petruk meratap-ratap

“Lha gimana lagi” Bagong juga ikut ikutan meratap

“Kakang Semar sudah lumrah apa yang terjadi. Semua orang yang tersakiti pasti ia akan kecewa. Kalau dilayanipun kata kata kanda Surtikanti, itu bakal menjadi hambatan perjalanan. Ayolah segera kita menjalankan tugas yang telah kita sanggupi”.

Itulah kata Pamadi menentramkan hatinya sendiri. Mereka segera melanjutkan perjalanan tanpa peduli lagi dengan kata-kata Surtikanti. Namun dalam hati yang paling dalam, kata kata serapah Surtikanti telah membekas dalam pikirannya. Serapah itu telah bergayut berat membebani langkahnya.

<<< ooo >>>

Sementara itu di perkemahan para Kurawa, Raja muda Astina, Prabu Jakapitana atau Jayapitana, telah menemui Patih Sangkuni yang telah kembali dari Mandaraka. Seperti diketahui bahwa Patih Sangkuni telah melaporkan apa yang terjadi ketika mereka, para Kurawa, telah mendapatkan titik terang, akan keberadaan dewi Erawati. Ketika itu, Sangkuni juga telah mendapat restu dari Prabu Salya.

Dan sekarang para Kurawa yang telah selesai membangun pesanggrahan dengan megah. Walau perkemahan di tepi Bengawan Silugangga itu hanya bersifat sementara, tetapi kemegahan itu seakan hendak menyamai keadaan di kotaraja Astina. Banyaknya wadyabala yang melingkupi bangunan itu nampak menyebar sehingga dari ujung yang satu tidak dapat melihat ujung yang lain.

“Paman, sudah tidak sabar lagi saya mendengar kabar dari si Paman”. Kata Jakapitana, “Apakah sampeyan sudah bisa menceritakan bagaimana hasil dari si Paman yang aku utus datang ke Mandaraka? Apakah si Paman sudah menceritakan bahwa aku sudah mendapat titik terang akan hilangnya Dewi Herawati. Sebab aku sudah melihat sosok yang ditengarai sebagai mahluk yang mencuri putri Mandaraka. Dan kecurigaan itu diperkuat dengan terdengarnya rintihan seorang wanita”. Jakapitana segera menanyakan apa yang telah dijalani di Mandaraka.

“Sedemikian gembira Prabu Salya, sebab sudah ada gelagat bakal ditemukan yang telah hilang yaitu dewi Herawati”. Demikian Sangkuni mulai menceriterakan perjalanannya ke Mandarka, “Dari awal hingga akhir tak ada yang terlewat, semua sudah hamba ceritakan kepada prabu Salya”.

Dursasana yang tidak mau diam ikut-ikutan meminta keterangan dan memberikan pertanyaan kepada pamannya“Paman, kami tidak merecoki apa kata paman. Tapi sudahkah si Paman sekalian minta penjelasan, apakah benar-benar akan dijodohkan kakang Prabu Jakapitana dengan Dewi Herawati bila putrinya dapat diketemukan? Sebab yang namanya orang Man, bisa saja berubah kata-katanya sewaktu waktu. Sudah menetapkan apa belum Man, perjanjian yang telah dikatakan Man?”

“Dursasana, jangan gegabah. Semua yang aku perbuat sudah aku pikirkan. Semua yang ada dalam perjanjian sudah aku tanyakan”.jelas Sengkuni.

“Sukurlah. Sebab aku kawatir, paman itu sudah tua yang terkadang lupa dengan apa yang harus dikatakan. Jangan sampai yang kita perbuat disini akan menjadi sia-sia. Sukurlah kalau demikian Paman!” sambil terus badannya bergerak-gerak, Dursasana sementara puas dengan jawaban pamannya

Kartamarma juga minta keterangan, “Di Mandaraka sana si Paman diberi perintah apa saja”.

“Begini, bila nanti kita sudah bisa mengembalikan Dewi Erawati ke Mandaraka, maka tidaklah seketika itu juga bakal dilakukan upacara perkawinan, tapi mestinya nunggu dulu hari baik. Semua perbuatan yang terburu buru itu tidak akan baik jadinya”. Jawab Sangkuni.

Sekarang Dursasana yang selalu usil, bertanya lagi, “Upama ya Man, kalau saya yang bisa menemukan, itu bagaimana aturannya?

“Kamu harus mengalah kepada kakakmu! Anggaplah kamu mengawinkan kakakmu. Jangan dimakan sendiri”. Dengan sabar Sangkuni menjelaskan.

“Baiklah. Saya menurut saja apa kata si Paman. Semua yang aku perbuat segalanya hanya aku persembahkan untuk saudara tua” Dursasana menjawah puas. Tapi kemudian ia mengalihkan pembicaraan,.” Tapi saya heran Man, manusia lumrah itu tidak mungkin berhuni didalam bengawan. Kalau menyelam sebentar saja bagi manusia itu bakal megap-megap. Tapi itu yang saya lihat, manusia pencuri itu bisa berjalan seperti layaknya jalan diatas tanah. Ketika diterangi dengan obor, makhluk itu sirna seperti ditelan bumi. Itu hal yang saya kira sangat sulit bagi kita untuk mencari pencuri seperti itu”.

“Begini ya Dur, kamu dan saudaramu para Kurawa segeralah tata baris. Lakukan pengepungan dari sini sampai ke pinggir samudra. Supaya jangan sampai pencuri itu dapat meloloskan diri.” Sangkuni mengunci pembicaraan.

Demikianlah setelah pembicaraan yang bertele-tele usai, para Kurawa segera dikerahkan melakukan penyelaman kedasar bengawan. Segala peralatan atas air dan selam dipergunakan oleh ratusan prajurit yang menceburkan diri ke kedalaman bengawan. Seketika banyak hewan air berlompatan menghindar dari kepungan prajurit. Mereka menduga bahwa akan menjadi sasaran buruan orang orang yang menyelam kedalam bengawan.

Benarlah perkiraan Para Kurawa. Ternyata didalam bengawan terdapat sebuah negara bawah air yang bernama Tirtakadasar.

Ya, nama Negara tempat menyembunyikan Dewi Erawati adalah bernama Tirtakadasar. Dinamakan demikian, karena Negara itu ada di dasar muara bengawan Swilugangga, yang menuju ke laut lepas. Dengan demikian, Negara ini tidak mudah diketahu apalagi dikalahkan oleh musuh dari negara yang lumrahnya ada di atas tanah.

Disitulah raja bersosok raksasa yang berjuluk Prabu Kurandayaksa bertahta. Sosoknya tinggi besar. Orang-orang yang terlalu membesar-besarkankan sosoknya, mengatakan besarnya seperti anak gunung. Kulit kasar merah tembaga yang ditumbuhi rambut hampir disekujur tubuhnya kelihatan seperti pohon palem yang tumbuh pada lereng jurang. Kencangnya kulit, bagai tak akan mempan terkena bermacam senjata. Kedua matanya bersinar menyeramkan laksana matahari kembar, hidung bagaikan haluan kapal. Geliginya kelihatan bagai karang pantai yang gemerlap ditimpa sinar matahari. Sementara gigi taringnya sebesar cula badak, basah oleh air liur berbisa. Bila ia bersin suaranya bagaikan petir dan ketika bersendawa seakan bersuara bagai guntur.

Ketika itu ia sedang duduk dihadap oleh satu-satunya anak lelakinya. Bernama Kartapiyoga. Rupa Kartapiyoga tidak jauh dari orang tuanya yang serba gagah perkasa. Yang membedakan adalah Kartapiyoga berujud setengah raksasa. Kedua matanya merah dinaungi oleh helai bulu matanya sebesar lidi dan mengumpul sedemikian tebal. Demikian juga kumisnya yang tebal dan panjang. Saking panjangnya kumis dililitkan ke telinga kanan kiri. Seperti ayahnya, Kartapiyoga juga bertaring panjang, mengerikan, walau panjangnya “hanya” sebesar pisang ambon. Bila berbicara suaranya keras menakutkan siapapun yang mendengarnya.

Ketika menghadap keharibaan ayahandanya, Kartapiyoga kelihatan murung. Maka berkata Prabu Kurandayaksa memanggil anaknya agar lebih mendekat. Sembah Kartapiyoga berkali-kali kepada kaki ayahandanya, setelah itu Kartapiyoga duduk dengan muka menghujam ketanah.

“Eeeeh . . . . hong tete hyang Kala Lodra, Mas patik raja dewaku . . . Anakku Kartapiyoga!” Demikian kata Prabu Kurandayaksa menggelegar bagai hendak melongsorkan istananya.

“Daulat rama Prabu”. Jawab Kartapiyoga

“Kamu ini serba merepotkan. Lewat sebulan lalu kamu pernah bicara kepadaku, kalau kamu saat sekarang kepengin kawin. Tidak ada yang menjadi kecocokan hatimu, kecuali raja putri Mandaraka yang sulung, yaitu Dewi Herawati. Seribu cara telah kamu lakukan, untuk mendapatkan Herawati. Karena untuk melamar pasti kamu tidak akan diterima. Maka kamu bertindak melarikan Herawati dari Mandaraka dan sekarang telah kamu tempatkan disini. Sampai disitu kamu merasa puas. Tapi setelah aku perhatikan, akhir-akhir ini mukamu masih menandakan bahwa rasa kecewa masih kamu rasakan. Anakku hanya kamu seorang. Sekarang katakan, apa lagi yang kamu rasakan?!!” Kurandayaksa yang begitu sayang kepada anaknya yang hari hari terkhir seperti tidak lagi bergairah, langsung menanyakan masalahnya.

“Rama Prabu, kalaulah saya bisa menghitung, jauh sudah merasa kenyang bila dekat sudah tak lagi bisa menerima semua pemanjaan dari Rama Prabu yang sudah hamba terima. Seperti yang Rama Prabu katakan, semestinya hati ini sudah merasa puas setelah hamba mendapatakan keinginan hamba. Tapi sampai saat ini, putra paduka belumlah mendapat pelayanan dari Herawati sebagaimana layaknya pria dan wanita. Ketika hamba dekati, ia selalu memalingkan wajahnya. Dan ketika hamba menjauh, hamba lihat dari kejauhan itu, ia kelihatan tersenyum gembira”. Kartapiyoga berhenti sejenak. Diipandangnya wajah ayahnya melihat tanggapan.

Ketika tidak ada yang tersirat dari wajah ayahnya maka kemudian Kartapiyoga melanjutkan, “Tak lagi putra paduka kuat menahan hati, pada suatu saat putra paduka memaksanya untuk bicara. Pada akhirnya, ia berkata yang sebenarnya, ia bersedia meladeni hamba sampai ajal tiba, bila hamba mempunyai istri lagi yaitu kedua adiknya, Surtikanti dan Banuwati. Karena mereka telah dari masa kecil telah berjanji akan melayani pria yang sama. Begitulah rama prabu, apakah yang harus putra lakukan?” Kartapiyoga menghentikan ceritanya sambil kembali bersembah.

Sebenarnya ada sesuatu yang tidak terpikir oleh Prabu Kurandayaksa atas permintaan Erawati. Permintaan yang tidak masuk akal bahkan terkesan menyuruh agar Kartapiyoga kembali ke Mandaraka. Ternyata tidak terpikir oleh Kurandageni bahwa Erawati telah menjebak Kartapiyoga. Tidak aneh bahwa Mandaraka sedang dalam siaga penuh setelah kecurian.

Tetapi Kurandayaksa adalah raja dengan kepercayaan tinggi melebihi nalarnya. Dalam benaknya Kurandayaksa lebih percaya kepada kesaktiannya. Maka katanya kepada Kartapiyoga, “Oooh begitu kemauan Herawati. Lakukanlah Kartapiyoga!! Memang tidak gampang mendapatkan isteri cantik. Tetapi ada hal yang membuat akau heran. Lumrahnya orang itu tidak mau dimadu. Tetapi Herawati malah minta dimadu dan oleh adik-adiknya. Turuti kemauannya!!!”.

“Kapan putra paduka harus berangkat”. Tidak sabar Kartapiyoga berkata.

“Sekarang juga!! Hari ini hari baik. Berangkatlah, pasti terlaksana apa yang menjadi tindakanmu”.

Maka berangkatlah Kartapiyoga. Setelah Kartapiyoga hilang dari pandangan mata, Raja raksasa itu kemudian memanggil para punggawa yang bernama Ditya Pralebda yang termasuk prajurit andalan yang selalu mendapat kepercayaan menggelar jajahan walau hanya seorang diri. Prabu Kurandayaksa segera menyuruh Ditya Pralebda agar mendekat ketika telah terlihat naik ke pandapa.

Setelah Pralebda duduk bersimpuh dihadapan Prabu Kurandayaksa, kemudian diperintahkan agar ia segera memata-matai Kartapiyoga yang hendak kembali ke Mandaraka melarikan putri Prabu Salya yang lain, Surtikanti dan Banuwati. Setelah tata merakit barisan, maka Ditya Pralebda segera memberangkatkan pasukannya, yang walaupun serba sedikit tetapi terdiri dari para raksasa yang berilmu tinggi.

<<< ooo >>>

Kembali kepada Para Kurawa yang sedang mencari keberadaan hilangnya Herawati. Maka terlihat di muara Bengawan Swilugangga beratus ratus perahu besarta para penunggangnya yang terjun dan naik kembali ke perahunya dalam usaha mencari titik terang dimanakah sebenarnya pencuri itu berada. Suara mereka yang saling memberitahu dimana mereka berada dan teriakan perintah dari pembesar yang merancang gelar pencarian terdengar memekakkan telinga.

Tetapi sebagian dari mereka menjadi terkejut ketika mereka melajukan perahu tetapi tidak kunjung bergerak maju walaupun sudah mengerahkan segenap tenaganya. Keterkejutan mereka bertambah ketika perahu mereka malah terangkat dan muncul raksasa-raksasa yang berwajah menakutkan.

“Gila!! Ternyata ada banyak raksasa yang mencoba mengacaukan usaha para Kurawa. Heh raksasa buruk rupa, siapa kamu ini sebenarnya?” Kartamarma yang dekat dengan peristiwa itu menanyakan kepada salah satu raksasa yang diduga sebagai pemimpinnya.

“Akulah raksasa yang menguasai bengawan Swilugangga yang bisa berenang dan juga biasa dan bisa hidup didaratan. Akulah kawula dari Negara Tirtakadasar, abdi dari Prabu Kurandayaksa. Sedangkan namaku Ditya Pralebda. Namamu siapa, sebelum kamu mati hanya membawa nama saja?” Pralebda yang menjadi panglima menanyakan siapa mereka.

“Saudara muda raja Astina akulah yang bernama Kartamarma. Segeralah kamu pergi jangan menghalangi usahaku”.

“Bermula dari usahamu mengobak bengawan Swilugangga, banyak ikan dan hewan bengawan yang mati. Aku tidak terima, dan kamulah yang menjadi penukar dari makanan yang kau bunuh itu!”

“Apa maumu?!!!”. Kartamarma tidak gentar.

“Jangan sampai berlarut larut, ayo menurutlah kamu aku jadikan tawanan. Atau kamulah yang aku akan jadikan sarapan pengganti ikan ikan yang pada mati terbunuh!!”.

“Keparat!! jangan hanya bisa omong. Majulah akan aku hancurkan mayatmu!!”Kartamarma tidak sabar dan segera melabrak Ditya Pralebda.

Maka terjadi pertarungan antara prajurit Astina dengan raksasa-raksasa dari Tirtakadasar. Prajurit Astina yang menggunakan ratusan perahu, sementara para raksasa yang terbiasa hidup di air dan didarat segera terlibat dalam pertarungan sengit. Pertarungan yang tidak seimbang antara jumlah prajurit yang lebih banyak berasal dari Astina melawan prajurit Tirtakadasar yang walaupun lebih sedikit, ternyata mereka mempunyai banyak keunggulan.
Prajurit Tirtakadasar yang terbiasa bergerak diair dan di daratan ditambah dengan sosok mereka yang tinggi besar, telah merangsek prajurit Astina. Maka tidak heran bahwa banyak perahu yang bergelimpangan karam ditelan arus Bengawan Swilugangga hanyut kelaut lepas. Demikian pula dengan penunggangnya, banyak yang menjadi santapan para raseksa yang mengamuk bagaikan segerombolan buaya mendapatkan gerombolan kerbau yang menyeberang.

Namun demikian ketika Dursasana dan adik adiknya melihat kejadian ini segera terjun kedalam kancah pertempuran. Walaupun para raksasa itu berusaha keras membendung amuk dari Dursasana, Kartamarma, Jayadrata dan lainnya, tetapi mereka merasa keteteran. Ingat bahwa bukan saatnya untuk melayani amuk para Kurawa, tetapi tugas mereka adalah mengamati kemana perginya Pangeran Pati Tirtakadasar, maka mereka segera menjauhi para Kurawa. Segera Ditya Pralebda memberikan isyarat agar prajurit Tirtakadasar segera menghindari pertempuran.

Kurawa yang kemudian kehilangan lacak segera kembali ke perkemahan mereka yang kemudian disambut oleh Patih Sangkuni. Berkata Patih Sangkuni, “Kartamarma, setelah aku melihat kekalahan para raksasa, kamu bersaudara, diminta menghadap kandamu Jakapitana. Diperintahkan kepada kamu semuanya, agar tidak jauh dari perkemahan kita”. Kemudian mereka segera kembali dengan rasa kemenangan yang memenuhi dada.

<<< ooo >>>

Kita tinggalkan sejenak kebanggaan para Kurawa yang merasa telah berhasil menghalau musuh. Kita kembali bersama perginya Pamade yang belum menemukan arah pasti kemana harus pergi mencari hilangnya Erawati.

Diumpamakan bagaikan permata yang lepas dari bingkai cincinnya. Demikian adanya kepergian Pamade yang meninggalkan para saudara dan ibunya. Kesaktian dan keperwiraan Pamade ternyata telah tersebar keseantero wilayah maka tidak mengherankan bahwa pada setiap tempat, Pamade selalu dihormati oleh para penduduk yang kotanya dilalui. Tetapi sebetulnya bukan karena kesaktian dan kewibawaan seorang Pamade, melainkan karena keramahannya dalam melayani mereka yang membutuhkan tenaga dan pikirannya.

Tidak hanya orang orang yang bermukim dalam kota, demikian juga yang ada didesa, pinggir hutan puncak bukit hingga kepinggir lautan pun, bila mendengar orang yang bernama Pamadi melewati pemukiman mereka, perasaan mereka bagai tersiram sejuknya air pegunungan.

Demikian Pamadi yang telah terlanjur memenuhi janji kepada Prabu Salya, untuk mengembalikan putri sulung Prabu Salya, yaitu Dewi Herawati, telah berjalan tanpa tujuan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang selalu mengikuti langkah Pamadi, waktu itu ikut berhenti ketika Pamadi beristirahat dibawah pohon nagasari yang cabangnya menaungi pinggir telaga.

Telaga itu berair bening, diatasnya terhampar teratai merah berkelompok, menambah keindahan lingkungan telaga itu. Tengah hari itu nampak ikan yang berbaris dan berseliweran didalam beningnya air, bagaikan bintang malam yang beralih tempat. Rasa tentram sekeliling telaga telah menghilangkan rasa penat berganti dengan rasa damai dalam dada. Sejenak Pamadi melupakan beban kewajiban dan sumpah serapah Surtikanti yang seringkali terngiang ditelinganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s