Wawancara eksklusif bersama Arjuna (24)


Arjuna Banowati
Sementara diluar istana, para punakawan Pamadi yang lain, Gareng, Petruk dan Bagong menunggu dengan tidak sabar. Maka ketika dilihat ayah dan bendaranya, Pamadi, nampak keluar dari pendapa, ketiganya segera menghambur kearah datangnya orang orang-orang yang ditunggu.

“Kok lama tho Rama, ngapain saja di dalam sana” kata Petruk

“Ya bertemu dengan tuan rumah Thole” Semar menjawab seraya tersenyum arif

“Trus bagaimana Rama, tentang lik sayem itu” Bagong ikutan bertanya

“Lik sayem siapa Gong ?”

“Lik sayem putri Mandaraka yang hilang itu, nDara Herawati”

“Sayembara Gong, bukan lik sayem. Sebenarnya begini, momonganmu itu disana malah disuruh jangan ikut-ikutan mencari hilangnya Erawati. Kalau mau beristri cantik pilih saja satu diatara anakku, kata Sinuwun Salya. Kamu mau pilih Surtikanti atau Banuwati silakan saja. nDara Pamadi tetap kukuh. Tapi, menurut gelagat, pasti momonganmu bakal dicegat. Lihat saja.”

“Lha itu apa. ndara, itu siapa yang datang kemari?” Tanya Petruk ketika melihat wanita cantik datang diiring para dayangnya.

Benar saja. Surtikanti bejalan mendekat kearah mereka. Skenario ayahnya telah mendorongnya menemui Pamadi. Setelah mendekat dan Surtikanti tak kunjung membuka mulut, Pamadi menanya terlebih dulu.

“Siapa nama andika, Raden Ayu?”

“Adimas walaupun baru kali ini aku kenal denganmu, anggaplah kalau aku dan kamu sudah kenal lama“ bukannya menjawab nama, malah Surtikanti mencoba langsung melakukan pendekatan.

Sejenak Pamadi diam, kemudian katanya, “Apakah saya harus berlaku bohong. Sebab pada kenyataannya baru kali ini aku mengenalmu Raden Ayu. Kecuali itu, saya adalah seorang satria yang harus selalu memegang teguh jiwa kesatrianya. Bila diketahui orang banyak aku berlaku sembrono, maka tidak urung dewata akan mengutuk perbuatanku.”

“Kata-kamu memang benar Pamadi, tapi itu hanya berlaku untuk orang lain. Tapi bagiku harusnya tidak begitu”. Surtikanti gugup, tapi kemudian ia mencoba kembali membela diri.

“Bagiku setiap pergaulan haruslah tidak membeda bedakan. Apalagi dalam pergaulannya dengan wanita. Saudara atau bukan, aku harus menjunjung drajat kaum wanita, selalu menjaga kesusilaan dan selalu menjaga keutamaannya. Kalaulah aku berani berlaku ceroboh, sembrono apalagi sampai menabrak kesusilaan, alangkah nistanya aku. Boleh dikata adalah orang yang tidak ada harganya sama sekali”.

“Apakah kamu sudah tahu siapa aku Pamadi?”

“Terlebih lagi, bagiku andika belum aku kenal. Bagiku andika mengajakku lebih dekat lagi, apakah tidak namanya membuat aku kecewa nantinya”.

“Aku putri kedua Prabu Salya, setelah kanda Herawati, namaku Surtikanti, Pamadi”

“Ya raden ayu”. Pamadi tidak berubah sikap setelah tahu dihadapannya adalah Surtikanti.

“Jangan lagi menyebutku raden ayu, sebut aku kanda saja. apalagi kita jelas hitungannya. Bila kamu dan aku hubungannya tidak jelas, dalam kebiasaannya sudah menyebutkan, bila kita duduk berdua selama setengah hari, maka rasanya sama seperti kita sudah menjadi kerabat dekat saja. Lebih dari itu, jangan berlaku sungkan terhadapku, Pamadi.” Jurus pendekatan terus Surtikanti jalankan, maka sambungnya, “Pamadi, orang tampan itu tetaplah lestari tampan bila tidak pernah membuat sakit hati wanita”.

“Kalau menurutku hal itu adalah kebalikannya. Kanda dewi, janganlah menilai orang dari ketampanan wajah. Tetapi haruslah sampai kepada ketampanan rasa. Sedangkan yang namanya ketampanan atau kecantikan rasa adalah, bila ia mampu bergaul dengan semua golongan tanpa membedakan pangkat dan derajat. Tetapi bila diukur dengan ketampanan lahiriah tidak urung akan seperti halnya burung yang tidak mampu mengepakkan sayapnya”.

Surtikanti pura-pura tidak mendengar omongan Pamadi dan ia kemudian mengganti pembicaraan. “Orang orang semua mengatakan, orang tampan kok ganjil”.

Ganjil yang dimaksud bagaimana, kanda Dewi?.

“Kainmu sudah lusuh, sabukmu sudah pudar warnanya. Sedangkan wrangka kerismu seakan tak pernah digosok. Adimas, kalau orang-orang mengetahui, bahwa adimas adalah masih kerabat Mandaraka, alangkah malunya aku. Oleh sebab itu dimas, ayolah mampir dulu ke keputrenku. Bebersihlah, dan disana akan aku suguhkan air. Walau hanya seteguk, minuman itu biarlah menjadi pelepas dahaga. Adimas juga telah aku sediakan kain pengganti walau hanya selembar, tapi kain itu adalah kain batik yang aku buat sendiri”.

“Terus terang saja kanda dewi, kalau ada seorang satria, yang berhenti melakukan darma karena dari rayuan wanita, maka hidupnya akan menjadi nista. Ya kalau kenistaan itu berlaku hanya untuk diri sendiri, kalau hal ini merambah ke seluruh keluarga, maka hal ini akan menyebabkan kesengsaraan bagi seluruh keluarga”.

“Ya benar, tapi ini beda”. Jawab Surtikanti yang sebenarnya sudah kesal dan hampir putus asa. Tetapi ia masih ingat kepada orang tuanya. Karena itu ia masih mencoba bertahan

“ Apa bedanya.”

“Aku ini kerabatmu”.

“Hal seperti tadi aku katakan, tidak memandang siapapun . . .”. Pamadi menjawab terus terang. Namun ketika melihat Surtikanti membalikkan badan, serasa ia hendak menarik ucapannya. Tapi terlanjur diam ketika kemudian Surtikanti berkata terputus-putus.

“Nista benar aku ini. Telah aku bela-belakan pasang badan soroh jiwa, hanya untuk dijenguk tempat keputrenku. Tetapi ditolaknya aku. Kau pandang aku layaknya daun kering yang sama sekali tidak punya harga . . . . ”.

Surtikanti sudah ada dalam puncak keputus asaan. Tidak ada lagi cara baginya untuk mengajak mampir Pamadi. Ia telah merasa gagal menjalankan perintah ayahandanya, menggagalkan keberangkatan Pamadi. Hatinya menangis bahkan menjerit. Namun tidak ada sepatah kalimatpun yang keluar dari mulutnya kali ini. Hanya ujud kewadagannya saja yang menandai bahwa Surtikanti begitu perih hatinya, yaitu air matanya yang butir demi butir mengalir.

Surtikanti pergi dari hadapan Permadi dengan hati perih. Ia tidak menyangka bahwa dirinya yang anak raja besar, akan mendapat penolakan dari seorang pria. Sangkaannya, bahwa sebagai anak raja besar, semua apa yang dimaui pastilah akan terlaksana. Maka rasa sakit didalam hatinya telah mulai tumbuh menjadi dendam.

Sementara itu, walaupun hanya mengerti sedikit masalah diantara mereka berdua antara Pamadi dan Surtikanti, para penakawan tidak urung ikut menangis. Mereka menyesalkan perlakuan Pamadi terhadap Surtikanti. Mereka menyesalkan tampikan dari Pamade. Tapi apakah tangisan itu tulus atas nasib buruk Surtikanti? Ternyata tidak seluruhnya. Coba dengar apa kata Gareng.

“Aduh Truk, tadi aku lihat den ayu Surtikanti sikapnya begitu lugas. Bicaranya sekalimat demi sekalimat tertata sopan dan rapi. Tapi kenapa ndara Permadi menolak undangannya untuk mampir ke keputren. Padahal Truk, sudah aku bayangkan, disana pasti setidak-tidaknya kita akan disuguhi makanan”.Gareng menelan ludah, kemudian terusnya, “Kalau ndara Permadi nggak masalah menolak undangan itu. Dia memang terbiasa laku prihatin tanpa makan minum berhari hari. Lha kalau kita?”

“Eeeh kalian pada diam kenapa !! “Semar menyela obrolan Gareng.

“Disuruh diam kalau perutnya keroncongan bagaimana bisa diam!” Gareng ngeyel

“Ya dikendalikan . . . “ sabung Semar.

“Dikendalikan cara apa. Apa aku ini kuda liar apa gimana?” Gareng tetap ngeyel

“Eeh ya ditahan gitu . . “

“Kurang berapa lama lagi aku menahan diri. Berhari hari jalan sambil menahan lapar. Ditengah hutan kemarin itu aku nyari ubi gembili buat ganjel perut, tapi begitu sulitnya”.

“Jangan diucapkan pakai kata-kata”.

“Harus dikeluarkan unek-unek itu kok. Kalau tidak, bisa jadi penyakit dalam tubuh”.

“Jangan sampai diketahui orang lain rasa laparmu”

“Kamu anggap suara-suaraku seperti suara yang nggak kepakai apa gimana?”Gareng masih tetap ngeyel. Semar akhirnya tidak lagi menyahuti kata-kata Gareng. Sekarang ia malah bertanya kepada Permadi.

“Haaa. . ini bagaimana den, kenapa akhirnya jadi membuat orang menangis. Ini bagaimana? Bagaimanapun yang terjadi, seharusnya andika mempunyai rasa kasihan. Dewi Surtikanti itu bukan seorang wanita yang remeh. Ia adalah putri Mandaraka. Andika didekati diajak akrab. Diminta untuk mampir dan mau diberi suguhan sekedarnya dan salin, berganti kain buatannya. Ditolak. Seharusnya adalah, andika mau mampir walau sebentar dan minum barang seteguk. Kalaulah saya menjadi den ayu Surtikanti, pasti saya juga akan sakit hati”.

“Aku jadi teringat waktu lalu. Aku juga pernah merasakan seperti itu.” Petruk menyela sambil meratap.

Namun Gareng yang sebal Petruk menyama-samakan dengan Pamadi berkata, “Gombal amoh kamu Truk. Kamu kok mau kau samakan dengan Raden Permadi. Apanya yang sama?”

“Aku dulu juga pernah disuruh berganti kain”. Jawab Petruk, “Tapi setelah itu, tiap bulan aku dipotong gaji”.

“Itu namanya ngebon!! Ooh memang benar gombal kamu”. Bagong nyahut.

Permadi diam membiarkan para panakwan. Sejurus kemudian setelah mereka diam, Pamadi berkata kepada Semar“Memang aku tidak tega, kakang. Tapi kakang tahu, bila aku teringat akan kewajiban, nanti pasti akan ada kesempatian lain. Yang penting kali ini kita harus keluar dari Mandaraka. Ayo kakang Semar aku bakal pergi memenuhi tugas dari uwa Prabu Salya”.

Demikianlah, maka Pamadi dan para panakawannya telah sepakat segera pergi dari wilayah kraton Mandaraka. Namun belum sampai mereka beranjak, tiba tiba mereka melihat seorang wanita berjalan tergesa-gesa datang mendekat, “Lho . . . itu siapa yang datang kemari ?!!”tanya Petruk

“Eeeh iya, itu ada wanita lagi yang datang kemari. Raden, ayolah ditemui. Tetapi ingat jangan lagi membuat sakit hati”. Sambung Semar

Memang demikian. Kali ini yang datang kembali memenuhi tugas dari ramandanya adalah Dewi Banowati. Dengan langkah ringan memikat hati, Banuwati datang seorang diri dengan wajah tengadah, mata yang berbinar dan senyum yang selalu lekat dibibirnya. Setelah ia sampai dihadapan Pamadi dan para panakawan, ia bertanya kemayu. Kali ini Semar disapa terlebih dulu.

“Yang didepan ini, aku sudah kenal. Bukannya kamu yang tadi aku lihat menghadap rama Prabu? Kakek pamong, bukankah kamu yang namanya Semar?”

“Ya, hamba yang namanya Semar.”

“Yang tiga lagi namanya siapa?” kini ketiga panakawan Pamadi disapa, tetap dengan suara kenes.

“Hamba Nala Wigareng, Pancal Pamor. Putranda dari Semar. Pangkat hamba lurah. Punya sapi tujuh dan bengkok saya luas. Motor saya baru . . . “ Gareng mengenalkan diri sambil menyombong.

“Lha kang Gareng ini malah omong yang enggak enggak”. Petruk menyela, kemudian memperkenalkan diri, “Nama saya Petruk”.

“Kalau saya Bagong”.

“Kalau aku hendak bicara dengan tuanmu, kira kira aku harus berhubungan dulu dengan siapa?” tanya Banuwati.

“Saya”. Sahut Petruk cepat.

“Petruk, yang kamu ikuti itu namanya siapa?” . banuwati pura-pura tanya nama Pamadi.

“Namanya Pamadi”. Jawab Petruk.

“Apa dia tidak bisa bicara?” tanya Banuwati.

“Yang sudah-sudah sih bisa!”, Petruk senyum menjawab dengan irama yang terseret oleh nada perkataan Banuwati.

“Omong dengan putri cantik itu harusnya yang halus”, Bagong mengingatkan Petruk.

“Tapi Gong, dianya yang mulai begitu”, Petruk tidak mau disalahkan.

“Petruk, bisanya aku bicara dengan tuanmu, itu harus dengan cara bagaimana?” Kembali Banuwati bertanya

“Ada pepatah “jer basuki mawa beya”, Jawab Petruk yang kali ini mengeluarkan ajian akal bulus. “Kalau hendak mencapai keinginan harus ditebus dengan biaya. Misalnya kalau ingin berpakaian baik harus beli lebih mahal. Kalau mau makan enak harus keluar uang lebih banyak. Jadi kalau kepengin omong-omong dengan orang seperti tuanku itu, ya harus melewati jalannya . . . . gitu”. Jurus awal sudah diterapkan. Dan sekarang Petruk mengetrapkan jurus kedua.

“Kalau saya sih tidak mengharapkan apa-apa den ayu. Beneeer, taruhan . . . . . . Kecilnya jari besarnya leher, saya tidak mengharapkan sesuatu apapun. Tapi den ayu lihat sendiri, saya punya sarung cuma satu. Sama . . . . ya itu . . . saya dari rumah itu nggak bawa bekal seperakpun”.

“Lha Petruk ternyata lebih dari minta . . . !“. Bagong yang dari tadi mendengarkan omongan Petruk, akhirnya nyeletuk.

“Petruk, kalau kamu bisa membuat aku dan bendaramu bisa saling bicara, Semua apa yang kamu minta, nanti akan aku turuti. Aku masih punya sabuk yang sudah tidak lagi dipakai oleh rama Prabu, dan sabuk itu terbuat dari kulit ular Dak Brama”. Ujar Banuwati

“Nggak usah saja, Den ayu, sabuk itu nanti malah mbakar pinggang saya. Petruk menolak dan kembali menyambung minta Banuwati menunggu sebentar. “Tunggu sebentar ya den ayu.. . . . . . . Ndara Permadi”

“Apa Petruk?” Jawab Pamade

“Anu . . . . , kali ini mau diajak mampir ya. Ini rejeki bagi raden. Dan pasti meleber pada saya juga akhirnya. Mau ya”, kata Petruk bisik-bisik.

Semar yang melihat gelagat Petruk ngomong bisik-bisik menimpali,“Eeeeh jangan omong yang enggak-enggak! Ingat, ndaramu itu sedang menjalankan tugas. Aku berani taruhan kecil jari besar leher, sebab ndara Pamadi itu biasa bertindak adil, kalau Den Ayu Surtikanti tadi ditolak, pasti yang ini juga ditolak”.

Gareng ikut bicara mengiyakan, “Pasti nggak bakalan mau”.

“Pasti mau”. Petruk kukuh. “Semua watak ndara Pamadi itu seluruhnya sudah ada digenggaman saya, kok. Aku menjadi pemomongnya sudah lama. Aku bisa melihat setiap gelagat. Sesama orang melirik, lirikan ndara Pamadi dan lirikan orang lain bisa saja berbeda. Apalagi lirikannya Kang Gareng”, sambung Petruk

“Sialan kamu Truk. Malah moyoki orang tua!! Gareng yang matanya jereng tersinggung.

“Pamadi . . . “ kali ini Banuwati langsung memanggil Pamadi. Namun Pamadi masih tetep diam.

“Ayolah ndara, mbok disahuti gitu?” Petruk mengompori

“Ya raden ayu”. Pamadi menyahut. Kali ini pandangan keduanya bentrok. Pamadi yang dari tadi duduk menghormati anak raja Mandaraka sebenarnya telah tersihir oleh tingkah laku Banowati yang sedemikian memikat. Masing masing mata yang bertaut itu telah memercikkan api asmara dan membakar hati kedua anak muda itu.

Bila Pamadi pada waktu di Mandura ia telah melihat putri Prabu Basudewa yang hitam manis dan hendak dijodohkan dengannya terlihat ayu, maka di Mandaraka ia menjumpai satu lagi putri raja yang cantik dengan tingkah laku kenesnya dan sungguh membuat hatinya runtuh.

Tapi sebenarnyalah. Kedua mata yang bertaut itu masing masing telah melontarkan panah asmara. Terkena telak ke dada masing masing insan muda itu, yang kemudian nampak pada lahiriahnya adalah senyum dibibir. Sejenak keduanya memalingkan muka, dan pipi Banowati semburat memerah.

Setelah bisa menguasai diri, Banuwati berkata kepada Petruk mengalihkan pandangan dari mata Pamadi “Petruk, aku nggak mau disebut raden ayu sama dia. Mbok panggil namaku saja”.

“Baiklah, anu . . Banowati mau pergi kemana” jawab Petruk salah mengartikan

“Eeeh gombal amoh. Yang dimaui oleh den ayu Banowati itu ndaramu, Pamadi. Bukan kamu. Malah ikut-ikutan nyebut nama”. Gareng coba memberi pengertian.

“Biar aja Ma, biar saja Petruk bertingkah, nanti modar dengan sendirinya dia”.Bagong ikut menimpali.

“Baiklah, kanda Banuwati.”

“Petruk . . . aku nggak mau disebut kanda . . . “

“Banuwati . . .” Pamadi memberanikan diri menyebut nama itu.

“Aduh Petruk . . . . “ sekarang Banuwati yang kelimpungan. Katanya kepada Petruk sekenanya, “Petruk, itu sisa makan burung boleh kamu makan . . . .” Petruk melengos jengkel.

“Pamadi, mbok kamu jangan kelewat berlaku hormat seperti itu” kata Banuwati yang sudah menguasai diri dan muncul kembali sifat-sifat asli yang selalu memandang kehidupan dengan ringan, Bertindaklah seperti halnya kamu berhadapan dengan saudara yang terpisah lama!

“Ya kanda . . . eh . . Banuwati.”

“Eeeh ndara Pamadi, jangan mau berlaku seperti itu. Salah salah malah sampean bakal dipukuli orang se Mandaraka” Semar mengingatkan Pamadi agar tidak berlaku seperti yang Banuwati inginkan.

“Petruk . . “ kembali Banuwati memanggil Petruk.

“Ya den ayuu. . “

“Nanti kalau ada demit lewat, berhentikan dia. Suruh demit itu mencekik leher Semar. Banuwati sewot. “Orang kok sukanya ngojok-ojoki. Pamadi sudah mau, malah dicegahnya. Sebaiknya kamu semua malah mendukung. Apa kamu semua mau kelaparan?”.

“Ya mau saja. Orang dari tadi juga cuma dijanji janji saja kok . . . sekalian saja lapar”. Jawab Semar.

Banuwati tidak peduli dan memanggil Pamadi “Pamadi . . “

“Apakah nanti tidak diamarahi uwa Prabu?” Pamadi masih menanyakan keraguannya.

“Tidak. Semua aturan di Mandaraka aku yang mengatur. Jangan sungkan, ayo berdiri. Jangan duduk begitu. Kainmu yang bagus itu nanti kotor kena tanah”

“Apakah tidak kualat nantinya” lagi lagi Pamadi masih merasa sungkan.

“Tidak akan! “ tukas Banuwati.

“Nanti kainmu akan aku ganti yang kotor itu. Aku sudah menyediakan tiga lembar kain batik buatanku sendiri.”

“Lah ini . . . . , kita anak Semar bakal kebagian. Satu buat aku dua buat kang Gareng dan Bagong”. Lagi lagi Petruk salah tanggap. Tapi Banuwati tidak peduli dan meneruskan kata katanya sambil melirik Petruk.

“Kamu pakai satu demi satu dalam tiga hari kamu mampir dikeputrenku. Kalau yang lain dicuci, biar yang sudah kering siap pakai, kamu kenakan”.

“Lho kalau saya dikasih apa?” Petruk masih saja tanya.

“Kamu akan aku kasih terpal”. Banuwati meledek.

Kemudian lanjutnya kepada Pamadi
“Pamadi, orang bagus seperti kamu seakan tidak hilang dari pandangan mataku walau mata ini aku pejamkan”. Banuwati maju mendekat kepada Pamade. Tangannya meraih lengan Pamadi dan berkata sambil mendekatkan wajahnya kearah Pamadi, “Alismu seperti digambar. Bibirmu seperti dicetak, sedang hidungmu seperti dibentuk. Kulitmu seperti dilabur emas dan rambutmu hitam berkilau, membuat aku begitu terpesona. Selama hidupku, aku belum pernah bertemu dengan lelaki yang tampan sepertimu”. Rayu Banowati

Pamadi tetap diam tetapi matanya lekat pada mata Banuwati. Ia telah dimabuk cinta.

“Pamadi, mampirlah dikeputrenku ya . . “

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s