Wawancara eksklusif bersama Arjuna (23)


Rukmarata

Di dalam hati Prabu Salya berdesakan perasaan antara nurani bersih – rasa kepatutan – dan hasrat untuk mendapatkan sesuatu. Apapun cara itu, bagi Salya, yang penting terlaksana. Kedua rasa yang saling bertentangan itu bergulung campur aduk, hingga sekian lama Prabu Salya hanya duduk tegak bagai arca yang terhiasi busana. Setelah menarik nafas panjang, dan menetapan hati, berkata Prabu Salya kepada putranya.

“Putraku Rukmarata !!”

“Daulat Rama Prabu”. Jawab Rukmarata yang sedari tadi menunduk diam menunggu perintah dari ramandanya.

“Semoga dewata memberikan ijin dan meluluskan apa yang menjadi kemauan Pamadi. Selama aku melihat kemenakanku, Permadi, berdesakan rasa dalam dadaku. Alangkah gembira rasa hati ini, pasti juga termasuk hati ibumu, bila kita bisa mendapatkan menantu Permadi, anak Pandu. Itu yang pertama. Kedua, bila dilihat dari kenyataan bahwa dia bisa menjadikan kraton Mandaraka lebih indah, lagi pula menurut hitungan, Pamadi itu adalah salah satu satria yang terbiasa melakukan darma tanpa pamrih. Ketiga, adalah kita ini bisa diibaratkan berusaha hendak mengumpulkan daging yang terpisah dan menautkan tulang yang renggang. Oleh sebab itu ada suatu cara yang bakal aku lakukan. Heh Rukmarata!”

“Daulat Rama Prabu, hamba akan setuju saja dengan pendapat Rama Prabu apapun itu. Putra juga berharap, semoga kehendak Rama Prabu dapat terlaksana”.

Rukmarata telah paham apa yang menjadi jalan pikiran ramandanya. Dan benarlah, ketika Prabu Salya kali ini mengutus dirinya untuk memanggil kedua kakak perempuannya.

“Hari ini aku kepengin kamu memanggil kedua kakak perempuanmu, Surtikanti dan Banuwati. Segeralah panggil keduanya”.

“Baiklah, titah rama prabu akan putara laksanakan.“ Tanpa ada bantahan lagi, Rukmarata segera lengser dari hadapan ramandanya.

Demikianlah, tak lama kemudian Rukmarata telah kembali kehadapan Prabu Salya. Rukmarata telah datang dengan diiring oleh kedua kakaknya Surtikanti dan Banuwati. Surtikanti adalah putra kedua Prabu Salya, berwajah ruruh kalem. Wanita ayu, dan sosoknya sedang. Bila berbaur dengan wanita yang berbadan tinggi ia tidak kelihatan pendek, dan sebaliknya bila ada diantara wanita yang berbadan pendek, ia tidak kelihatan kelewat tinggi. Kulitnya kuning langsat bersih bening bagaikan emas yang baru saja disepuh. Dengan sedikit senyum, cenderung serius. Ia berjalan sebelah kanan mengiring adik lelakinya.

Disebelah kiri Rukmarata, Banuwati berjalan dengan langkah gemulai. Sebagaimana kakaknya, Banuwati juga mempunyai paras yang demikian cantik. Bahkan ada sedikit kelebihannya bila dibanding dengan Surtikanti. Gadis putri Prabu Salya yang satu ini memang begitu kenes dan periang. Senyumnya selalu merekah dan matanya yang bulat agak liar dan dinaungi bulu mata lentik, membuat pria siapapun yang terkena kerlingannya seakan runtuh jantungnya. Setiap ucapan yang keluar dari bibirnya terdengar begitu manja dan mengundang perhatian siapapun baik wanita apalagi pria. Memang, putri Prabu Salya yang satu ini memiliki daya tarik kewanitaan yang begitu menakjubkan. Demikian juga selera busananya yang tinggi, walau sebenarnya kulit beningnya dapat membuat semua warna masuk tertata dalam sosoknya yang sintal.

Dan ketika ketiga putranya telah duduk dihadapan ramandanya, dengan senyum bangga, kali ini sejenak melupakan kesedihan hatinya. Ia melihat anak-anak wanitanya seperti halnya memandang asrinya kembang-kembang warna warni penghias istana Mandaraka. Maka kemudian berkata Prabu Salya.

“Anakku Surtikanti, dan Banuwati. Hmmm . . . . . disamping kebahagiaan yang menggunung dalam dadaku ini melihat keberadaanmu berdua, bagimu sekalian juga aku melihat ada kebahagian yang terhampar dihadapanmu, seperti ujud dari turunnya wahyu sejati”.

Sejenak walau baru memulai pembicaraan, Salya berhenti berbicara memandang kedua putrinya bergantian. Surtikanti tetap menunduk sedang Banuwati dengan senyumnya memandang ayahandanya. Salya terseret ikut tersenyum melihat kemanjaan Banuwati.

“Itu tidak lain adalah, bahwa aku telah menerima datangnya saudaramu, Permadi. Permadi itu perlu aku jelaskan dulu. Ia adalah putra dari Raja Astina dahulu, mendiang pamanmu Prabu Pandu Dewanata. Terus apa sebab kamu berdua aku panggil ? Begini, orang itu tak akan tahu kapan kebahagiaan bakal datang. Hari ini kamu berdua satu demi satu akan aku utus untuk mengajak mampir Pamadi, yang hari ini sudah mengatakan kesanggupannya mencari dimana hilangnya kakakmu Herawati. Satu-satu dari kamu berdua hendaknya bisa merayunya dengan sikap mesra kalian Tariklah ia agar ia batal pergi mencari Herawati. Sebab menurut hitungan, masih banyak orang-orang yang kuat tenaganya dan awas mata hatinya, yang akan anggap dapat mencari keberadaan Herawati. Tapi aku tahu watak Permadi yang kuat seperti mendiang ayahnya. Pasti ia dengan teguh akan tetap berangkat mencari kakakmu. Maka gagalkan maksudnya, jangan sampai Pamadi kukuh kemauannya. Ya kalau ia berhasil, kalau tidak, ia pasti akan malu kembali ke Mandaraka. Dan ini berarti, Mandaraka bakal kehilangan perhiasan yang indahnya tiada terkira”.

Begitulah Salya telah menerangkan maksud hatinya dengan menguraikan kepada keduanya memakai bahasa yang menurutnya begitu jelas.

Namun Surtikanti, wanita yang mempunyai tata susila yang begitu genap, masih meragukan apa yang didengarnya. Maka ia dengan memberanikan diri menanyakan apa maksud dari perintah itu kembali.

“ Rama, jadi apa yang harus hamba perbuat?”

“Ajaklah Permadi mampir di keputrenmu.” Jawab Prabu Salya tegas.

“Duh Rama, nista apa yang akan hamba sandang. Yang sudah lumrah dan sampai saat ini masih berlaku, yang harus mendahului adalah pria. Bila ada seorang wanita yang berani mengajak pria, walau ia adalah saudara sendiri, maka . . . . .

“Bagaimana? Bagaimana menurutmu . . . . ?!!” Belum lagi selesai Surtikanti menjelaskan, namun Prabu Salya sudah tahu arah pembicaraan Surtikanti. Surtikanti hendak menolak. Maka kata kata Surtikanti dipotongnya, kali ini lebih tegas.

Tetapi Surtikanti melanjutkan, “ . . . .bila ini terlihat oleh umum, apakah tidak jatuh martabat hamba dan wanita umumnya. Apakah hal ini malah akan menjatuhkan nama baik kami terlebih nama baik paduka rama Prabu. Terlebih Rama Prabu adalah . . . “

“Hayoh ajari aku . . . teruskan . . . . Salya kembali memotong. Ia mulai tidak senang, tetapi kemudian ia diam dan memberikan waktu untuk Surtikanti agar terus mengeluarkan unek-uneknya.

. . .terlebih hamba adalah putra raja, dan ajaran perbuatan yang sering Paduka katakan, langkah walau sejangkah, dan ucapan walaupun sekalimat, akan haruslah pantas diteladani oleh para kawula. Ya kalaulah hamba sendiri yang melakukan, bila kemudian melebar kepada kelakuan wanita-wanita lain di Mandaraka, artinya hamba telah menyebar racun.”

“Mmmm tidak seperti anakku. . . . . . . “ Salya berkata dengan nada dalam

“Memang benar yang kamu ucap. Aku tidak pernah lupa bahwa aku pernah juga mengajari tata cara seperti itu. Tetapi haruslah dilihat, bagaimana menggunakan dan bagaimana menerapkannya. Artinya, tidaklah aku menyuruhmu menjual diri menawar-nawarkankan. Tetapi semua ada waktunya dan ada tempatnya, dan sekarang waktunya untuk mengalah. Merendahkan derajat, yang pada akhirnya perbuatan ini dikemudian hari akan menambahi nama baik Negara Mandaraka.” Prabu Salya mencoba berkilah, walau tahu ia berkilah sekenanya.

“Mohon maaf rama, adakah cara lain bagaimana cara menaikkan nama baik Negara Mandaraka?”

“Misalnya? “

“Rama, akan lebih bertambah nama baik Negara Mandaraka bila sewaktu waktu paduka berkenan turun melihat keseharian para kawula, tidak hanya didalam negara dan kotanya saja, tapi haruslah sampai ke desa desa terpencil, melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi dengan lingkungan orang pinggiran. Dari situ rama bisa menjadikan yang keruh menjadi bening, yang ganjil menjadi genap, yang kurang ditambahkan. Itulah seharusnya yang dapat menaikkan martabat Negara Mandaraka . . . “

“Cukup!! . . . Cukup. . . .” kali ini kesabaran Prabu Salya sudah tak dapat dibendung lagi. Dengan muka merah ia berkata ketus kepada Surtikanti

“Terlalu menggurui kata-katamu. Semua yang kamu ucapkan itu benar. Tetapi, sorga bagi orang tuamu itu adalah, bila mempunyai anak perempuan, haruslah anak itu patuh kepada kedua orang tua. Tetapi sebaliknya, bila kamu kepengin melihat pendek umur orang tuamu, cobalah untuk membantah perintah. Disitulah kamu akan kehilangan kedua orang tuamu! “

“Baiklah bila demikian . . . . . .” jawab Surtikanti yang menunduk semakin dalam.

Bila ayahnya sudah marah, maka apapun alasan dan bantahan walau itu benar, akan ditampiknya. Maka kemudian ia memanggil nama adiknya, pelan.

“Banuwati . .”

“Apa kanda? “

“Bagaimana ini . . . ? “

“Aku ini lebih muda darimu kanda, jadi hanyalah menurut apa saja kehendak kanda. Aku hanya takut kepada rama prabu. Aku takut membantah perintah Rama Prabu. Lagipula dimana kewibawaan Rama Prabu bila kita sebagai anak selalu menyangkal apa yang diperintahkan orang tua.” Jawab Banuwati enteng.

Mendengar jawaban anak perempuan yang ia sayangi ini, Prabu Salya menggeremang. “Yang lebih muda saja nalarnya matang…. padahal itu adikmu, yang lebih muda”.

Namun kemudian suaranya kembali jelas berkata,“Bagaimana Surtikanti?!”

“Baiklah, bila demikian . . . “ Pelan jawaban Surtikanti hampir berbisik, hingga Prabu Salya kembali bertanya

“Bagaimana?!”

Namun kembali Surtikanti diam, dan kemudian malah memanggil nama adik lelakinya

“Rukmarata . . .”

“Ya kanda . . “ jawab Rukmarata.

“Bagaimana?”

“Silakan kanda untuk menurut semua kehendak Rama Prabu”. Jawab Rukmarata memotong masalah.

“Baiklah Rama Prabu, hamba akan menuruti apa yang diperintahkan. Walau dengan berat hati, semua pasti akan menjadi ringan bila mengingat bahwa ini adalah perintah dari rama dan ibu.” Akhirnya Surtikanti-pun pasrah.

“Nah . . harusnya begitu. Ha ha ha . tidak urung juga kamu menurut.” Tertawa dipaksakan Salya mendengar jawaban Surtikanti. Kemudian sambungnya kepada Banuwati,

“Banowati dari awal sampai akhir semua pembicaraan ini sudah kamu ketahui tak satupun yang terlewat”.

“Begitulah rama Prabu”.

“Nah sekarang pergilah, mumpung Pamadi belum begitu jauh. Lakukan menurut apa yang menjadi kata hatimu, aku percaya kepada kamu berdua”.

Maka kedua putri-putri itupun segera menghaturkan sembah dan undur diri dari hadapan Prabu Salya. Sesuai dengan perintah, maka satu demi satu dimulai dari Surtikanti, mencoba untuk menggagalkan kepergian Arjuna.

<<< ooo >>>

“Ehm … nDara Janaka, menurut nDara menarik mana nDara Surtikanti sama nDara Banuwati.”
“Menarik apanya Gong ?”

“Ya menarik orangnya nDara, masak menarik kolornya !”
“He he he … Bagong ngomong jorok ih !”

“Nggak jorok-lah nDara, kalau ngomong jorok tuh kita ngomongin tentang sampah, selokan, septi tank, kotoran gitu”
“Halah … kalau ngomong sama kamu tuh nggak ada menangnya”

“Jangan membelokan pembicaraan nDara. Menarik mana nDara Surtikanti dan Banuwati ?”
“Dua duanya menarik. Masing masing mempunyai daya tarik. Yang jelas keduanya memang cantik menarik, jarang ada padanannya”

“Kalau disuruh milih, milih mana nDara ?”
“Kalau boleh ya dua duanya Gong”

“Halah … balik maning balik maning ! Lanjutin ceritanya nDara !”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s